[Graduation Party] Bleeding Graduation Day

Standard

bleeding-graduation-day-for-kidokei-by-springsabila.png

Bleeding Graduation Day

By kidokei

Yein [Lovelyz] & Jimin [BTS] // Vignette // Horror, Romance // PG-13

.

Ini dimulai dari sebuah pesan tak dikenal yang masuk ke ponsel Yein.

.

Yein memutar otaknya, namun daya pikirnya sudah melesat hampir jatuh ke bawah tanah.

Penampakan itu sangat mengerikan. Dia tidak tahu harus bagaimana—rasanya ingin menangis, tapi akan terasa sangat percuma—tak ada kata-kata yang tepat untuk dapat menggambarkan perasaannya saat ini—kecuali segera bertindak cepat dan mengabaikan mayat sahabatnya yang tergeletak bersimbah darah dan tanpa tangan di hadapannya itu.

Yein segera melesat pergi menjauh dari sana. Entah apa yang harus dilakukannya sekarang, yang penting dia harus segera keluar dari gedung berdarah ini—setidaknya semenjak kedatangan seekor burung gagak hitam tiba-tiba mendarat ke lantaigedung lalumengeluarkan darah dari tubuhnyasaat pesta dansa sedang berlangsung; yangsekonyong-konyong menghebohkan seluruh orang di sana, Yein termasuk.

Yein masih ingat dengan jelas. Seseorang sempat mengiriminya pesan singkat lewat ponselnya, sesaat sebelum ia bergerak melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk membersihkan diri–hendak berangkat ke acara kelulusannya sore itu.

Yein pada awalnya tidak peduli sama sekali dengan pesan yang ia dapatkan itu, namun keadaan yang telah terjadi hingga kini memaksanya untuk segera memercayai semuanya; dan tentu saja pesan konyol nan tidak masuk akal yang masuk ke kotak masuk ponselnya itu termasuk ke daftar yang harusia percayai pada saat ini.

Kalian tentu penasaran mengapa gadis berperawakan cungkring itu menganggap pesan yang masuk ke ponselnya adalah pesan yang konyol dan tidak masuk akal, bukan? Ya,tetapi mau bagaimana lagi, sebab pesan itu memang benar terdengar konyol dan tak bisa dinalar dalam otak manusia yang tergolong normal dan ‘masih waras’.

Isi pesannya adalah,

‘Jangan lupa untuk hidup. Aku akan memusnahkan semua orang di dalam gedung itu ketika matahari mulai terbenam nanti. Jangan sampai kau termasuk ke dalamnya. Jangan khawatir, ada aku di sini. Kau adalah seorang puteri bagiku dan aku akan melindungimu segenap jiwaku.’

Nomor ponsel yang tertera di atas pesannya tentu tidak Yein kenal, tetapi sesuatu tiba-tiba menggelitik ingatannya.

Yein teringat—peristiwa ini sungguh menggali ingatannya yang mulai pudar dari kepalanya—dia pernah berkomunikasi lewat pesan singkat bersama nomor tak dikenal itu, namun hanya untuk beberapa waktu saja, jadi Yein tidak perlu repot-repot menyimpan nomornya dan memberi nama sebagai pengganti deretan angka tersebut.

Iatiba-tiba merasa sedikit familiar dengan nomor itu.

“Jangan bilang.”

Jantung Yein mencelus.

Langkah lari kecilnyaberhenti.

Aku lelah. Mungkin istirahat sebentar tidak masalah, pikirnya di tengah-tengah napasnya yang tersengal sangat tak beraturan.

Sekarang gadis itu sudah sampai di suatu gubuk yang terletak tak jauh dari gedung tempat di mana acara kelulusan dirinya bersama teman satu angkatan yang lain diadakan.

Yein mengatur detak jantungnya yang sempat hampir meledak untuk kembali ke normal.

Menyeramkan; gubuk itu gelap, namun seperti ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya, maka dengan sigap dia merajut langkah ke arah gubuknya—sebelum sebuah suara tanda pesan masuk di ponselnya tau-tau berbunyi.

“Benar-benar keparat,” umpat Yein selepasnya membaca pesan singkat tersebut.

Pesan yang ia dapat kali ini sungguh membuat Yein muak dengan apa yang dialaminya selama tiga perempat hari ini.

Padahal kemarin, ia ingat, ia masih bisa tertawa lepas bersama kedua sahabatnya yang lain, menggosip, dan tentu mengambil kesempatan mendekatkan diri secara diam-diam terhadap lelaki yang disukainya.

Tapi semua kesenangan itu seketikamelenyap pada hari kelulusan, ‘yang seharusnya’ akan membahagiakan seluruh orang di gedung  pada sore itu—digantikan situasi mendadak yang benar-benar kejam dan mengerikanini—untuk dihadapi oleh Yein, bahkan seorang diri.

Seingat Yein—ya, Yein mulai tidak bisa berpikir jernih—ia bukan gadis yang populer, ia juga bukan termasuk kalangan anak dari seorang bangsawan. Dia hanyalah seorang gadis biasa, bahkan bisa dibilang dirinya adalahwallflower dalam sebutan bahasa Inggrisnya.

Nah, lantas dengan fakta yang menyelekitkan seperti itu, apa yang membuat dirinya terasa istimewa di mata si ‘keparat’ satu tersebut? Yein sangat penasaran dan juga sangatjengkel. Rasa kesalnya sudah mencapai ubun-ubun sebelum sesuatu tiba-tiba mencapai mulutnya.

Pandangan Yein menggelap.

Yein dibekap hingga pingsan.

***

Yein terbangun, namun kedua matanya tertutupi oleh sehelai kain berwarna hitam—yang diikat dengan erat melingkar di kepalanya.

Samar-samar ia melihat siluet seorang lelaki di depan tempatnya setengah terbaring di sebuah ranjang saat ini.

“S-siapa kau?” tanyanyamemberanikan diri.

“Tidak penting, Yein-ah.”

Balasan orang itu membuat Yein semakin menambah banyak tanda tanya yang muncul di kepalanya sejak kejadian di gedung sore tadi. Namun Yein segera menepis peristiwa menjijikkan nan kejam itujauh-jauh dari pikiran keruhnyauntuk sekarang.

“Jadi kau yang melakukannya?”

Pertanyaan retoris. Yein tahu itu. Menurutnya, seorang penjahat tidak akan mungkin mau mengakui kesalahannya sendiri—bocah SMP ingusan sepertinya juga tahu itu.

Tetapi jawaban lelaki tersebut sungguh mengejutkan.

“Ya, kau benar. Aku pelakunya, dan aku bangga akan itu. Setidaknya, aku telah berhasil membuat kesayanganku ini menjadi tidak merasa dikucilkan di tempat para bedebah yangberpesta dengan rianya ketika sore tadi. Kau tahu, aku sudah lama ingin melindungimu, tetapi aku tidak punya pilihan selain berpura-pura ikut membencimu dan menjauhimu dari pergaulan populer kami. Lalu aku pikir, inilah balasan yang tepat untuk mereka setelah apa yang mereka lakukan padamu selama ini.”

Dia secara gamblang mengakui dirinya sebagai si pelaku; dia bahkan mengatakan bahwa Yein adalah kesayangannya.

Benar-benar sudah gila, batin Yein.

Tapi tunggu.

‘Berpura-pura ikut membencimu.’

‘Menjauhimu dari pergaulan populer kami.’

“Coba katakan sesuatu lagi.”

Yein mencengkeram seprai kasur yang ditempatinya erat-erat, seperti ingin melampiaskan kemurkaannya pada seprai tersebut.

Tapi bukan, bukan seperti itu. Ia sedang mencoba mengingat-ingat sesuatu.

“Iya, Sayangku. Ada apa?” ucap lelaki di depannya lembut;dan Yein bersumpah, pada saat itu juga rasanya ia ingin sekali membunuh lelaki itudengan cara sekeji mungkin.

Tapi tentu saja, ia tahan kuat-kuat emosinya, toh pergerakannya tidak memungkinkan untuk melawan.Yein kemudian beralih menyebutkan satu nama yang seketika terlintas di otaknyaketika suara itu masuk ke dalam rungunya.

“Kak Jimin?”

Lelaki itu terbahak. Tawanya sangat lepas, seperti merasa puas dengan tebakan gadis sanderaannya tersebut, sampai-sampai ia memegang perutnya yang terasa sakit akibat tawanyayang tak terkendali.

Yein menggeram marah. Ia tidak suka seniornya itu.

Ia sudah merasa ganjil sejak seniornya tersebut tiba-tiba menemuinya di atap sekolah; memberinya setangkai bunga mawar, juga sekotak cokelat bermerek—yang Yein ketahui sangat mahal harganya. Juga, Yein sangat benci yang satu ini—seniornya itu meminta nomor ponselnya, yang bodohnya langsung Yein beri tanpa aba-aba ke senior ‘psikopat’ tersebut.

“Apa untungnya memusnahkan mereka semua? Kau bisa berhubungan diam-diam denganku tanpa menyakiti siapa pun, Kak.”

“Tapi aku tidak suka cara mereka menyentuhmu, menghinamu, dan kekerasan lain yang mereka tujukan kepadamu. Sungguh aku benci semua itu, dan aku sudah tidak tahan lagi dengan mereka.”

Yein mengambil napas, lalu mengembuskannya perlahan. Ia bahkan hampir kehilangan oksigen dalam paru-parunya karena terlalu shockoleh hal ini.

“Kalau begitu,”

“Ya?”

“Bunuh aku sekalian.”

“A-Apa?!”

Yein menunjuk ke arah dada sebelah kirinya dengan kalem, “Tikam jantungku.”

“Jung Yein…”

“Kau menyayangiku, benar? Kalau begitu patuhi perintahku saat ini juga.”

Lelaki yang diketahui bernama Jimin itu Yein dengar tengah terisak pelan.

Sebesar  itukah rasanyaterhadapku? Hingga ia tega melakukan semua yang terjadi hari ini demi diriku?

Pikiran Yein sempat kemana-mana sebelum tau-tau suara tikamanmemekakkanindera pendengarannya.

Ia merabadadanya. Tidak ada pisau yang tertancap, atau darah seujung jari pun yang ia rasa sentuh. Itu berarti bukan dirinya. Ia bahkan tidak mati setelah mendengar suara tikamannya barusan.

Maka bisa disimpulkan tanpa menggaruk kepala kalau,

“Aku menyayangimu… Yein. Maafkan aku… yang berbuat bodoh seperti ini. Segera selamatkan dirimu dan menjauh dari wilayah ini… agar kau…tak dicurigai. Kuharap kau…selamat sampai di rumah nanti.”

Jimin bunuh diri, tenaganya mengempis. Jadi kalimat terakhir yang Jiminlontarkan dan menyambangi telinga Yeinmenjadi terdengar agak samar tadi.

Setelah beberapa detik Jiminmenikam jantungnya sendiri, hening menyelimuti gubuk remang-remang tersebut—hanya diterangi lampu teplok yang dinyalakan Jimin. Hingga akhirnya Yein memutuskan untuk melepaskan kain penutup matanya, melepas ikatan tali di kedua pergelangan kakinya dengan ujung penyangga kasur dan segera berlari menjauh dari daerah yang kini terasa sangat mencekam tersebut.

Beruntung gadis itu tidak dengan ceroboh meninggalkan ponselnya di gedung maupun di gubuk yang ia tinggalkan tadi. Maka sesampainya ia di perbatasan wilayah tersembunyidengan wilayah perkotaan, dengan cekatan gadis itu menelepon pihak polisi untuk segera menyelamatkan dirinya.

***

“Yein, bangunlah! Ini sudah pagi!”

Sang empu nama langsung terjaga dari tidurnya ketika merasa namanya dipanggil keras-keras dari luar sana.

Ia membuka kelopak matanya. Matahari sudah menampakkan diri, tanda hari sudahberganti.

Yein berada di kamarnya kesayangannya, melihat ke arah jam yang terpasang di dinding bercat merah muda—warna favoritnya, dan ia dapati saat ini sudah pukul tujuh lebih lima belas menit.

Ia kemudianbangkit dari posisinya, mengucek mata sebentar lalu mengecek ponselnya dengan agak semangat.

Terdapat satu pesan yang diterima oleh ponsel Yein, yang tanpa pikir panjang langsung ia buka pesan dari nomor tak dikenal itu.

‘Aku tidak akan pernah luput dari pikiranmu sekarang. Jangan lupa bahagia, Sayang!’

Awalnya Yein tersenyum tipis membaca pesan tersebut, namun beberapa jemang kemudian senyum itu dengan sangat—sangat terpaksa ia lenyapkan saat itu juga.

Pesan itu, dari seseorang yang dikenalnya.

Seseorang yang menyayanginya.

Hingga ia rela dan dengan tega membunuh semua orang di gedung tempat acarakelulusannya dilaksanakan.

Fin

 

Maaf, ini aku belum sempet ngedit-edit lagi, jadi kalo banyak kekurangan mohon dimaafkan ya hehehe.

xx, Ref.

Advertisements

3 thoughts on “[Graduation Party] Bleeding Graduation Day

  1. Itu Jimin idup lagi apa yaapa?
    Jadi itu semua temen Yein mati?
    Apa Yein semacam anak terbully gitu ya?
    Nah kenapa sahabatnya Yein dibunuh juga ya? Kan dia baik sama Yein.
    Maafkan daku, otak agak down. Susah mencerna sesuatu.

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s