[Graduation Party] Name

Name

By. Hoshimut

Main cast: Jung Yein | Other: Dahyun (Twice), Hansol (Seventeen), Jungkook (BTS)  | Genre: Horror | Rating: T+ mungkin

Summary: Tulis namaku dan temukan diriku!

.

“Bagaimana jika pesta kelulusan kita dirayakan agak berbeda? Seperti…, bermain? Aku jamin permainan ini akan menarik.”

.

Point of View: Yein

Aku memandang ke penjuru kelas, lalu tertahan pada yang berada di depan kelas. Seseorang yang baru saja mengumumkan ide yang (kelihatannya) menarik. Aku kembali menatap teman-teman; mereka menunjukkan berbagai reaksi.

Seperti Seungkwan yang kelihatan sangat tertarik, Hansol yang tidak peduli, dan Dahyun yang agak ragu. Aku sendiri masih kurang paham dengan apa yang Jungkook maksud. Jungkook kembali bersuara, “Permainannya sederhana saja. Seperti petak umpet, mungkin? Kita akan bermain disini.”

Seungkwan mengangkat sebelah tangannya, “Apakah ada peraturannya?” lalu Jungkook mengangguk, “Peraturannya sederhana. Hanya bermain dengan jujur dan tidak boleh ada yang keluar dari wilayah sekolah. Dan semua orang di kelas ini harus ikut.”

Aku mulai penasaran, tanganku terangkat dan aku memberi pertanyaan, “Kapan?” dan Jungkook langsung menyeringai, “Setelah pengumuman kelulusan, malam harinya. Pukul tujuh malam. Waktunya satu jam, yang selamat akan aku beri hadiah! Begitu juga yang mencari.”

.

Malam hari setelah pengumuman kelulusan.

Aku membatu diantara kerumunan teman-teman sekelasku yang ribut. Entahlah, aku merasa seperti tidak yakin dengan ini. Rasanya ada yang aneh. Aku menoleh pada Dahyun yang disampingku. Wajahnya pucat bukan main. Lalu di depanku ada Hansol, tangannya terkepal erat hingga bergetar. Tengkuknya berkeringat.

Aku semakin yakin bakal ada sesuatu yang buruk.

Jungkook datang, membawa plastik berisi kertas-kertas putih. Ia berdiri menghadap yang lainnya.

“Oke, teman-teman. Aku akan mengumumkan peraturannya. Kali ini lebih banyak dibanding dengan yang kubicarakan tempo hari.”

Semuanya terdiam. Di tengah lapangan sekolah, tanpa penerangan apapun –lampu di sekolah sangat redup, dan hening menguasai. Jungkook mengangkat plastik berisi kertas itu, “Ini adalah nama-nama kalian. Aku akan memberikannya pada kalian. Kalian hanya perlu menyimpannya. Yang kedapatan mencari harus menuliskan nama seseorang yang kalian ingin cari, dimanapun. Untuk yang mencari…, akan diundi. Ketua kelas yang akan mengambil satu kertas yang sudah aku gulung. Siapapun nama yang muncul, maka dia yang akan mencari.”

Mingyu mengernyit, “Aku?” Jungkook mengangguk. Mingyu maju, tangannya bergetar mengambil satu kertas gulungan itu. Jungkook menyuruhnya untuk membuka kertas itu dan membacakannya.

“Jadi, siapa?” Jungkook menaikkan sebelah alisnya, ia menyeringai.

“Hansol,”

Aku dapat melihat keringat yang mengalir lewat tengkuknya. Kepalan tangannya makin mengerat. Aku memalingkan wajahku kearah Mingyu. Matanya terpejam sejenak, kurasa tidak hanya satu orang yang bakal mencari.

“Dahyun,”

Suara Mingyu masih menggantung. Ia menghela napas, lalu kembali bersuara,

“dan Yein.”

Aku terkejut, begitu pula Dahyun yang sudah sangat lemas. Hansol menoleh kebelakang, kearahku dan Dahyun. Ekspresinya tidak begitu yakin, tetapi ia mencoba untuk meyakinkan kami, “Kita bisa, teman.”

Teman-teman yang lain maju satu-persatu, mengambil kertas nama mereka. Begitu pula Jungkook. Ia menyeringai kearah kami bertiga, “Semoga berhasil,” ucapnya. Jungkook menyuruh kami menutup mata hingga hitungan kami yang ketigabelas –aku tidak tahu kenapa, yang aku tahu tiga belas adalah angka sial.

“Pencar!” Sorakan Jungkook membuat teman-teman kembali ribut, mereka berlarian ke berbagai arah.

Hitungan kami yang ketigabelas. Tepat saat tempat kami berdiri kembali sunyi. Dadaku berdegup kencang. Hansol meraih tangan kananku dan tangan kiri Dahyun, “Alangkah baiknya kita berdoa untuk keselamatan kita. Aku punya firasat buruk soal ini.”

Selepas itu kami berlari kearah berlawanan. Kami telah membaginya tadi. Hansol menuju kantin, Dahyun menuju kelas sepuluh dan sebelas di lantai dua, sedang aku ke kelas dua belas di lantai satu.

Aku memperhatikan sekelilingku. Benar-benar sepi. Dari lima kelas, aku sudah mencari ke dalam tiga kelas. Aku mempercepat langkahku hingga ujung lorong kelas dua belas. Kurasa tidak ada orang. Aku hendak berbalik namun,

“Oh, tulis nama.”

Aku merogoh sakuku. Meraih pulpen dan menuliskan sebuah nama di telapak tanganku yang basah oleh keringat. Aku berpikir sebentar, apakah aku harus menulis Jeon Jungkook? Atau siapa?

“Kurasa Jungkook bakal kutulis terakhir.”

Aku menulis sebuah nama, dan nama itu adalah milik seseorang yang sangat baik padaku. Aku sangat mengenalnya, dia sosok yang selalu ada di saat aku butuh tanpa aku pinta.

Ryu Sujeong

Tanganku bergetar hebat, nyaris tidak sanggup menulisnya. Seusainya aku menulis nama itu, aku jadi khawatir dengannya. Aku berbalik arah dan berlari menuju lapangan. Namun, sebelum aku sampai lapangan, sebuah suara pekikan keras terdengar dari arah kelas 12-A.

“Sujeong!”

Aku masuk ke dalam kelasku. Tidak mendapati siapa pun disana, sebelum aku sampai belakang kelas. Menemukan Sujeong dengan leher yang nyaris terputus. Lehernya mengeluarkan busa kuning dan menjadi nanah. Seketika tubuh dan wajah Sujeong mengkerut dan menghitam.

Aku mundur, terus mundur sampai punggungku menabrak sesuatu –aku yakin itu tubuh seseorang. Aku menoleh, ada Jungkook disana. Tersenyum aneh padaku, “Jung Yein, satu korban, Ryu Sujeong. Kerja bagus. By the way, jangan tulis namaku karena aku hanya memantau kalian saja.”

Aku merasa ada kejanggalan. Jungkook aneh. Bagaimana bisa dia tahu semuanya? Dia memantau darimana? Dan bagaimana bisa Sujeong jadi seperti itu?

Kakiku melangkah cepat menuju tujuan awalku. Di lapangan bukan hanya aku, disana juga ada Hansol yang kelihatan syok. Ia ambruk, jatuh terduduk, dan terisak. Aku menghampirinya, mencoba untuk menenangkannya, dan bertanya ada apa.

Hansol menjawab bahwa ia telah membunuh Seungkwan, sahabatnya sendiri. Seungkwan yang serumah dengannya –karena Hansol sebelumnya tinggal di New York dan ia tidak memiliki tempat tinggal, maka ia tinggal dengan Seungkwan. Ia bukan hanya syok, ia takut dengan reaksi kedua orangtua Seungkwan.

“Bukan kau yang membunuhnya. Pasti ada dalangnya; aku mencurigai satu orang. Jadi, tenanglah.”

.

Sudah lima puluh menit. Aku dan Hansol kembali berpencar, walau masih berada dalam radius dekat. Sejak tadi kami berjaga-jaga untuk tidak menulis satu orang pun setelah kejadian tadi. Aku baru menyadari satu hal,

Kemana Dahyun?

Aku mencoba untuk menyusulnya, sesuai rute di sekitar lantai dua. Namun nihil, bahkan tak seorang pun yang aku temukan.

Menit ketigapuluh, aku sempat mendengar bisikan, tulis lagi nama seseorang atau kau akan mati. Maka sampai sekarang aku masih dilemma.

Haruskah aku menuliskan nama, atau aku yang harus mati?

Mengorbankan, atau dikorbankan?

Membunuh, atau di bunuh?

Belum sempat aku memikirkan jawaban yang tepat, kembali aku mendengarkan pekikan nyaring. Aku tidak yakin suara siapa dan berasal darimana, tetapi kakiku tetap berjalan. Menuju UKS, kakiku seolah diseret sesuatu untuk semakin mendekat.

Baru saja aku hendak masuk dan memastikan, bisikan itu kembali terdengar.

            Waktumu hampir habis, tuliskan sebuah nama!

Mataku terpejam. Aku berpikir keras, siapa orang yang patut kutulis.

Tulis nama seseorang yang kau pikirkan!

Aku terus memikirkan dia. Jeon Jungkook. Tetapi rasanya aku tidak yakin. Aku menghembuskan napas, dengan segala keberanian yang aku miliki, aku mulai menulis nama kedua di telapak tanganku setelah Ryu Sujeong.

Setelah itu aku terkulai lemas, mataku terpejam. Terakhir yang aku dengar adalah suara riuh teriakan banyak orang. Dan yang paling dekat denganku adalah Jungkook.

.

Aku terbangun, di ranjangku, di kamarku, seorang diri. Aku hendak berdiri dan keluar dari kamar, namun ibuku lebih dulu masuk.

“Istirahat saja, Yein. Ibu tahu kamu masih sangat terpukul.”

Terpukul? Memangnya ada apa?

“Apa yang terjadi.”

Ibuku menjelaskannya dengan singkat. Bahwa aku ditemukan pingsan didepan UKS, dengan Jungkook di sampingku. Keadaan Jungkook sama dengan Sujeong dan Seungkwan. Lehernya hampir putus, berbusa, dan bernanah. Mungkin Jungkook lebih parah lagi, karena bola matanya hilang sebelah. Sedangkan Hansol duduk lemas sambil terengah-engah di depan gerbang sekolah. Dahyun yang paling mengenaskan; ia hampir saja bernasib sama dengan Sujeong dan Seungkwan, entah bagaimana bisa.

Aku mengangkat tangan kiriku, tulisan nama Sujeong mulai memudar disana, tetapi tidak dengan nama Jungkook yang masih sangat jelas –bahkan terlihat seperti baru saja ditulis.

“Ibunya Hansol juga cerita semalam, ditangannya ada satu nama yang marganya Jeon…, ibu lupa namanya.”

Dan aku seratus persen yakin kalau itu adalah Jungkook, dia satu-satunya yang bermarga Jeon di kelasku.

Aku kembali menaruh perhatianku pada tulisan di tanganku. Mendadak tanganku panas, rasanya seperti terbakar. Tangan kiriku memerah. Lalu hilang begitu saja. Rasa sakit itu dan nama Jungkook, semuanya hilang.

Apakah dalangnya Jungkook?

Ibuku keluar, meninggalkanku sendirian dengan pikiranku yang berkecamuk. Ponselku tiba-tiba berbunyi, ada notifikasi pesan dari Dahyun dan Hansol. Aku membukanya dan mataku membola.

Hai, aku Jungkook. Selamat, Jung Yein, kamu berhasil. Kamu juara tiga setelah Dahyun dan Hansol. Dahyun menemukan lima korban, Hansol tiga, dan kamu dua. Tunggu aku dirumah, ya! Aku bawakan kamu hadiah!

Bukankah Jungkook sudah mati? Lalu kenapa–

“Halo Yein!”

–Jungkook bisa sudah kemari?

end.

a/n: jadi…jungkook itu siapa?coba bayangkan sendiri, aku bingung, huehue.

Maaf ini mendadaaak sekali. Aku menyelesaikannya di jalan, aku sampai mual di mobil, huehue. Aku harus ke sekolah baruku /asek:v/ maksudku SMA, buat ambil seragam dan keperluan lain dan aku jadi harus begini.

Maaf ini aneh sekaliiii~

Advertisements

3 thoughts on “[Graduation Party] Name

  1. HAAAA AKU MERINDING😨😨😨

    keren bgt idemu! btw aku penasaran bgt motif jungkook ngelakuin itu semua. tp yang aku paling suka di ff ini adalah kamu nggak takut2 nulisin keadaan sujeong dan seungkwan;-; daku mah apa pasti lgsg tutup laptop kalo harus nulis gituan.

    dan… wah, aku ga bisa mikirin hadiah apa yang bakal ditawarin jungkook ke yein 😦

    Like

  2. Ini permainan yang ditawarin Jungkook apa namanya? Dan itu siapa yang ngebunuh Seungkwan sama Sujeong? Jungkook? Terus dia kan dah mati masih aja nawarin hadiah, cuman bingung ko bisa sih itu Jungkook hidup lagi.

    Aku penasaran itu gimana caranya mereka semua dibunuh, curiga pas abis nulis nama ditelapak tangan itu. Tapi aku suka^^

    Like

  3. Sadis, ngeri ih. Psyco sekali ini ff nya.
    Tapi btw masi bingung, siapa Jungkoo? kenapa dia mengusulkan acara itu? terus kenapa temen temen Yein udah pada ngeri duluan? terus itu yang mati dibunuh siapa? hadiahnya apaan? kok Jungkook bisa idup lagi?
    Duh, banyak tanya#maafkan
    Berhasil deh bikin efek horor-nya

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s