[Graduation Party] Purple Dress

1465824334449

Title : PURPLE DRESS

Author : JHCM_

Cast(s) : Jung Yein of Lovelyz, Jeon Jungkook of BTS, Yeri of Red Velvet

Genre : Angst

Rating : G

Length : Oneshot

Summary

Kau benar-benar tidak bisa memilih siapa orang yang akan kau cintai, kau juga tidak bisa mengelak ketika cinta telah menghampirimu. Yang ada kau hanya akan menerima kenyataan jika kau mencintainya.

note : bold untuk pesan ponsel, italic untuk surat kertas

-8-

Beberapa hari ini Seoul terus diterpa hujan. Bukan dengan intensitas tinggi yang dengan sekejap dapat membuatmu basah kuyup, melainkan hanya tetes demi tetes yang jika tidak benar-benar jatuh pada kulitmu maka tidak akan terasa.

Musim panas di Seoul telah berakhir, berganti dengan hari-hari penuh awan gelap dan tiupan angin.Sudah enam hari sejak awan gelap menunjukkan dirinya, selama enam hari itu pula hanya gerimis yang turun.

“Sudah ku bilang agar selalu membawa payungmu, kau mau menantang hujan?”

Hanya sebuah lirikan.Jawaban dari kalimat tadi.Kalimat yang keluar dari bibir seorang laki-laki bernama Jungkook.

“Terlalu merepotkan.” lantas suara lembut terdengar setelah lirikan tadi berubah menjadi tatapan.

Keduanya lalu berjalan, diawali oleh Yein-pemilik suara lembut tadi- lalu Jungkook yang langsung mengikuti langkahnya.Sehingga kini mereka berjalan berdampingan. Tidak ada dialog diantara mereka, selama 8 menit mereka berjalan keduanya hanya saling diam. Sejujurnya dua insan tadi memang tidak terlalu dekat. Bisa dibilang mereka berjalan pulang bersama hanya karena rumah mereka satu arah, satu komplek, bahkan bersebelahan.

Bagaimana bisa mereka tidak dekat padahal rumah mereka bersebelahan? Itu karena Jungkook baru pindah, dan kebetulan mereka berada di tingkat sekolah yang sama.

Yein bukan tipe gadis yang dengan mudahnya bisa dekat dengan oranglain, terlebih dengan kenyataan bahwa Jungkook itu laki-laki.Tapi sejauh ini perkembangan hubungan mereka cukup signifikan.Yang awalnya hanya saling tatap untuk berkomunikasi, setidaknya kini sudah ada kalimat yang terucap.

-8-

“Berhenti melihat fotoku!” ucap Jungkook, tangannya meraih lengan Yein dan membawanya pergi dari deretan foto keluarga Jungkook yang tersusun rapi pada dinding ruang tamu.”Memangnya ada apa sih di foto keluargaku?” lanjutnya.

“Ada kenyataan kalau Jungkook itu dulu culun dan gendut.” balas Yein datar.

Jungkook melepaskan tangannya, membuat kedua manusia itu berhenti. Salah satunya mendekatkan diri, menunduk sedikit agar bibirnya dapat lebih dekat pada telinga satu yang lain.

“Sekarang?”

Pemilik telinga tidak menjawab, hanya sebuah tatapan yang ia layangkan.

“Baiklah lupakan, tidak perlu dijawab.”

Hari ini adalah saat bagi Jungkook untuk berkutat dengan buku pelajaran, dan kamar Jungkook adalah tempat mereka berdua belajar.Kenapa?Karena di rumah Jungkook selalu tersedia makanan, sedang di rumah Yein hanya ada kesunyian.Ibu Jungkook selalu di rumah, tidak seperti ibu Yein yang lebih sibuk bekerja.

Kau tahu tipe siswa yang tidak pernah belajar tapi nilainya tetap bagus?Bisa dibilang Yein adalah siswa yang seperti itu. Kalaupun ia belajar, hanya dengan membaca sekali maka ia sudah siap untuk menjawab soal ujian.

“Hei, apa yang kau lakukan?” ucap Jungkook di sela-sela ia membaca buku. “Cepat ajari aku!”

“Kau tahu kan kalau aku tidak bisa mengajar.”Yein berbaring diatas ranjang Jungkook, merebahkan tubuhnya sambil mendengarkan alunan lagu yang keluar melalui headsetnya.

“Lantas apa gunanya kau di sini?”

“Entahlah, bukannya kau yang mengajakku?” selesai dengan kalimatnya Yein mulai menutup kedua matanya.  Menikmati instrumen lagu yang ia dengarkan tiap detiknya. Semakin lama semakin terhanyut hingga hampir membuatnya terlelap, jika saja Jungkook tidak mengacau.

“Baiklah nona, kini saatnya untuk menemui pangeran,” Jungkook menarik kedua tangan Yein hingga tubuh gadis itu duduk.”Jung Yein, apa kau sadar jika kau hampir tidur di kamarku?”

Yein hanya mengangguk.

“Apa kau sadar kalau aku laki-laki?”

“Ya.”

“Kau tidak takut jika aku melakukan sesuatu padamu saat kau tidur?”

“Memang kau mau apa?”

“Entahlah, menurutmu?”Jungkook merebahkan tubuhnya disisi ranjang yang tersisa.

“Coba saja, aku hanya perlu memanggil ibumu dan kau akan menyesal selamanya.”Yein lalu bangkit, mengambil tasnya dan keluar dari kamar Jungkook.Berpamitan pada ibu Jungkook lantas melangkahkan kakinya menuju rumah.

Tanaman di halaman rumah Yein tidak terlihat baik-baik saja.Daunnya berguguran, bahkan tidak ada satupun daun berwarna hijau yang tersisa.Temperatur udara kali ini juga membuat orang malas berkegiatan di luar ruangan.Padahal sekarang masih pertengahan September.

Jangan berpikir karena rumah mereka bersebelahan maka kamar Yein dan Jungkook terhubung.Letak kamar mereka berbeda, Jungkook dibawah sedang milik Yein di lantai dua.

Jungkook masih enggan beranjak dari posisinya.Masih enggan kembali berkutat dengan buku-bukunya.Ia mengambil ponselnya dari saku celana dan mulai mengetik sesuatu.

Kau meninggalkanku.

Lalu ia menekan tombol kirim.

Akhir-akhir ini terasa sangat menyenangkan baginya mengganggu Yein. Mengambil makan siangnya, menyembunyikan ponselnya, mengganggunya saat ia sedang tidur. Entah bagaimana tapi Jungkook suka reaksi yang Yein tunjukkan.

Memangnya aku kemana? Sudah belajar sana!

Tak ingin ikut denganku?

Kemana?

Mencari semanggi berdaun lima.

Bukannya sekarang masih hari rabu?

Jumat nanti aku mau menemui seseorang.Mau tidak?

Belikan aku takoyaki.

Call.

Mencari daun semanggi berdaun lima adalah ritual yang selalu Jungkook lakukan di hari Jumat, untuk menjauhkan dari kesialan kata laki-laki itu.

“Tidak biasanya kau merubah jadwal ritualmu” tidak seperti Jungkook yang sibuk meneliti satu persatu mencari satu saja daun semanggi yang masih hidup, Yein sibuk mengunyah takoyakinya sambil sesekali melihat ke arah Jungkook yang dengan sia-sia mencari daun  semanggi di musim gugur.

“Kan aku sudah bilang ada pertemuan.” ucap Jungkook disela sela kesibukannya.

“Memang siapa yang mau kau temui?”

Jungkook berhenti dari kegiatannya.Menghampiri Yein yang masih asyik menikmati takoyaki pemberian laki-laki itu.

“Yakin mau tahu?” ucapnya menggoda, sembari duduk di samping gadis itu.”Ini masalah laki-laki.”Jungkook mencomot satu takoyaki Yein.

“Memang kau pernah menganggapku sebagai gadis?” ucap Yein sinis.

“Tentu saja aku menganggapmu seorang gadis,” mencomot satu lagi takoyaki “maksudku laki-laki dalam tubuh gadis.”

Pernyataan itu membawa Yein turun ke jurang yang paling dalam. Kenyataan jika ia tak pernah dilihat sebagai perempuan oleh Jungkook membuat perasaannya sakit.

Sejauh ini hanya Jungkook laki-laki yang dekat dengannya, yang mampu membuat gadis itu nyaman. Yein terlalu diam saat bertemu dengan laki-laki lain. Padahal ia adalah salah satu gadis pujaan di sekolahnya. Dengan wajah cantik, tubuh proporsional, dan otak cemerlangnya.

“Kau tahu hoobae baru itu?” Jungkook merebahkan dirinya diatas tanah sebelah Yein duduk yang sama sekali tidak ada tanaman diatasnya. “Aku rasa aku menyukainya.”

Kalimat itu sukses merubah rasa takoyaki di mulutnya menjadi sangat pahit. Yein menoleh menatap Jungkook  berharap laki-laki itu sedang dalam mode bercanda. Berharap jika kalimat yang ia dengar tadi diralat oleh sang pemilik.

“Kenapa menatapku seperti itu?” risih dengan tatapan yang Yein layangkan Jungkook menutup irisnya.

“Kau yakin?” setelah sekuat tenaga menahan air matanya, akhirnya Yein meluncurkan satu kalimat. Berharap jawaban dari pertanyaan itu membawa ia kembali ke tanah setelah jatuh jauh sekali ke jurang.

Tapi jawaban yang Yein dapat hanya sebuah gumaman, dilanjutkan dengan kalimat yang semakin membawa Yein jauh dari tanah.

“Menurutmu apa dia juga akan menyukiaku?”Jungkook semakin antusias.

“Aku ingin pulang.”

Jelas sudah apa yang bisa membuat Jungkook merubah jadwal ritualnya, yang bahkan Yein tidak bisa mengganggu jadwal laki-laki itu.

-8-

Harusnya Yein merasa senang karena bisa pergi berdua dengan laki-laki yang ia sukai. Sayangnya alasan mereka pergi berdua adalah untuk membeli kado, lantas kado itu akan Jungkook berikan pada hoobea baru itu. Sejauh ini Yein belum pernah melihatnya.Tidak ingin. Takut jika ia mendapat kenyataan jika gadis itu lebih baik darinya.

“Ya!”

Kalimat itu menyadarkan Yein dari lamunannya. Lantas ia menoleh ke arah suara itu berasal.

“Apa sudah selesai?Jika sudah cepat pergi dari sini, aku mulai risih dengan segala tatapan yang mereka layangkan.”

Yein tidak menjawab, bibirnya terlalu terasa berat untuk digerakkan. Rasanya ia ingin pergi pulang dan mengurung diri di kamar seharian. Ia tak bisa mendeskripsikan perasaannya. Terlalu sakit hingga ia bahkan tak bisa mengeluarkan air matanya.

Yein selesai dengan urusannya-memilihkan kado untuk hoobae yang Jungkook sukai. Setelah membayar ia menuju Jungkook dan menyerahkan hadiah padanya. Hadiah yang ia berharap akan Jungkook berikan padanya.

Jungkook melangkahkan kakinya, terlalu bahagia bahkan ia tak merasa jika seseorang yang bersamanya tadi masih tertinggal dibelakang. Hingga langkah kaki ke tujuh ia membalikkan badan. Mencari seseorang yang tadi bersamanya. Sayang irisnya hanya menangkap lalu lalang orang lain, bukan sosok yang ia cari. Jungkook lantas mengambil ponselnya dan dengan cepat menelpon Yein.

Cukup lama nada tunggu ponsel Yein berbunyi.Bahkan ini sudah kali ke empat Jungkook menelpon gadis itu. Hingga ia mendengar suara parau Yein di seberang sana.

“Ya! Jung Yein! Kau dimana?”

“Aku di halte bus.”

“Ya Tuhan!Kau pulang sendirian malam-malam begini? Bahkan mantel hangat mu masih ada di tasku, apa kau tidak sadar betapa dingin suhu  udara di luar?”

“Aku baik-baik saja.” kalimat itu terdengar sangat parau.

“Apa kau menangis?Kenapa suaramu begitu parau? Tunggu di situ! Aku akan menjemputmu.”

Tiga orang itu kini berada dalam sebuah cafe. Yein, Jungkook, dan Yeri-hoobae baru yang Jungkook sukai. Mereka bertiga duduk di bagian paling ujung cafe.Suasana yang tercipta begitu canggung, mungkin karena tatapan keduanya tertuju pada Yein yang terlihat sangat menyedihkan.Dengan wajah yang begitu pucat, dan tatapannya yang begitu sayu.

Jungkook memegang puncak kepalanya, lalu memegang puncak kepala Yein.Menyamakan suhu tubuhnya dan suhu tubuh Yein.Lantas ekspresi khawatir tergambar pada wajahnya.Irisnya terus berputar, otaknya mencoba mencari solusi. Bagaimana caranya agar ia bisa membawa Yein pulang tanpa merusak acara kencannya dengan Yeri.

“Jungkook sunbae, sepertinya kau harus membawa Yein sunbae pulang,” akhirnya Yeri memecah keheningan.”Tidak usah memikirkan aku, aku bisa pulang sendiri.Nanti aku bisa memesan taxi.”Yeri tersenyum meyakinkan.

-8 –

Hari ini adalah hari pertama salju turun. Pagi tadi saat Yein akan membersihkan kamarnya ia keluar sebentar untuk mengambil kaleng susu, dan saat itu salju jatuh.

Yein sedang duduk di salah satu bangku di taman dekat rumahnya. Ia sedang menunggu seseorang. Dengan sesekali menggesekkan kedua tangannya.Meski matahari begitu terang tapi tetap saja suhu udara sangat dingin.

“Unnie!” kalimat itu keluar dari bibir seorang gadis manis yang sedang berjalan menuju tempat Yein duduk.

“Maafkan aku, apa unnie sudah lama menungguku?”

Yein menggeleng.

“Tadi Jungkook oppa lapar jadi kita makan dulu.”Yeri mendudukkan tubuhnya di samping Yein.

“Ada apa mencariku?”

“Aku ingin menanyakan sesuatu.”

“Kau tidak merasa dingin?Mari kita ke rumahku saja.”Yein hendak berdiri, namun Yeri menahannya.

“Aku baik-baik saja, apa unnie kedinginan?”Yeri memegang tangan Yein.

Yein mengangguk

“Kalau begitu aku akan cepat.”Yeri lantas menundukkan kepalanya.”Sebenarnya aku hanya ingin memperjelas hubungan Yein unnie dan Jungkook oppa. Sajauh yang ku tahu unnie dan oppa sangat dekat, tapi oppa bilang ia menyukiaku. Maksudku, aku tahu oppa menyukiaku, tapi aku merasa aneh dengan hubungan kalian berdua.”

“Memangnya apa yang aneh?”

Yeri mengangkat kepalanya, menatap Yein.”Sejauh ini aku selalu kencan bertiga dengan unnie.Sebenarnya aku tidak masalah unnie ikut, hanya saja aku merasa aneh.”

“Aku hanya temannya.”Yein mengakhiri tatapan mereka.Ia lebih memilih melihat tanah dengan gumpalan salju di atasnya.

“Aku baik-baik saja jika unnie menyukai oppa. Aku akan menyerah. Aku tak sebanding denganmu.”

“Kita hanya berteman Yeri-ya.”Yein tersenyum.”Sudah sana pergi!Jungkook nanti membunuhku karena menculikmu.”

-8-

Pintu kamar Yein dibuka paksa oleh seseorang.Sedang Yein masih di dalam kamar mandi.Ia lalu keluar kamar mandi dengan tubuh hanya dibalut baju handuk. Tangannya sibuk mengusap rambutnya yang masih basah.Sesaat kemudian irisnya menangkap tubuh seorang laki-laki sedang berbaring di ranjangnya dengan mata tertutup.

“YA! JEON JUNGKOOK! APA YANG KAU LAKUKAN?!”Yein kembali masuk kamar mandi menyembunyikan tubuhnya, membiarkan hanya kepalanya yang dapat Jungkook lihat.

“Menunggumu.” jawab Jungkook santai.

“Pergi!Aku mau mengganti bajuku.” Yein yakin debaran jantungnya saat ini setara dengan kecepatan kereta api.

“Lakukan saja.Aku tidak akan mengintip.”Jungkook masih menutup matanya.

“Aku tidak percaya.”

“Jangan banyak bicara dan cepat ganti pakaianmu, kita sudah telat.Setelah ini aku ada urusan.”

Yein lantas mengambil beberapa pakaian dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.Ia menggunakan celana jeans panjang dan kaos putih polos. Ia lalu kembali ke lemari dan mengambil mantel musim dinginnya.

“Apa kau sudah selesai?” ucap Jungkook yang masih menutup matanya.

“Em.”Yein menghampiri Jungkook dengan melayangkan tatapan sinisnya.

“Kau benar-benar laki-laki dalam tubuh perempuan.” kalimat pertama yang keluar saat mata Jungkook terbuka. Lantas ia berdiri dan menarik Yein keluar rumah.

“Kau membawaku kemari untuk melihatmu memilih pakain?”Yein menatap malas pada Jungkook. Memintanya bangun pagi hari saat liburan musim dingin membuatnya frustasi ditambah ia harus melihat laki-laki ini memilihkan pakain yang bahakan bukan untuk dirinya.

“Sudah diam dan cepat masuk.”

Deretan gaun indah dengan berbagai gaya dan ukuran menyapa Yein dan Jungkook saat dua orang itu pertama kali melangkahkan masuk kaki mereka ke dalam. Mata Yein langsung tertuju pada salah satu gaun berwarna putih dengan aksen pernik dibagian dadanya, untaian kain yang jatuh dari bagian pinggang kebawah menambah indah gaun tanpa lengan itu.Tanpa sadar Yein mengahmpiri gaun yang menarik perhatiannya, melihatnya lebih dekat membuat gaun itu terlihat semakin Indah.

“Jangan bilang kau jadi perempuan tulen saat kau masuk ke butik ini.” Jungkook berdiri di belakang Yein, kalimat yang baru saja ia utarakan membuat gadis itu langsung menoleh kebelakang lengkap dengan tatapan sinisnya.

“Jeon Jungkook. Tidak bisakah kau sehari saja tidak menganggapku sebagai seorang laki-laki dalam tubuh perempuan?”Yein lantas melangkah pergi.“Sebenarnya apa sih tujuanmu mengajakku ke sini?”

Jungkkok mengahmpiri Yein, menarik tangannya dan membawa gadis itu ke salah satu wanita dalam butik tersebut.

“Tolong buatkan gaun untuk gadis ini, pilihkan warna ungu sebagai warna dasar gaun itu. Buat gaunnya terlihat sangat manis dan dapat membuat gadis ini terlihat semakin cantik.”

Yein tak henti-henti menghujani Jungkook dengan tatapan tak percaya.Ia merasa ada yang salah dengan pendengarannya, atau ada masalah dengan laki-laki di sebelahnya ini. Jungkook lantas memilih duduk sambil memainkan game sembari menunggu Yein selesai di ukur. Ia sesekali tersenyum saat gadis itu melihat ke arahnya.

“Apa kau sedang sakit?”Yein membuka percakapan diantara mereka berdua setelah cukup lama suasana terasa canggung sejak pertama kali mereka menginjakkan kakai keluar butik.

“Maksudmu?”Jungkook berjalan pelan sambil sesekali menendang kerikil kacil yang mengahalangi jalannya.“Apa aku terlihat sakit?”

“Hanya saja kau terlalu diam sejak kita kaluar butik tadi.”

“Aku lapar.”

“Sepertinya aku terlalau mengkhawatirkan hal yang tidak perlu.”Yein tersenyum kecut.

“Yein dengarkan aku!”Jungkook menghela napasnya.“Gaun tadi adalah hadiah pertamaku untukmu.Ehm, bisa jadi hadiah terakhir juga. Aku ingin kau memakainya saat pesta kelulusan nanti, awas saja jika kau tidak memakainya, kau akan menyesal. Dan aku harus pergi sekarang, aku ada urusan lain.” Jungkook menagacak rambut Yein, lantas berlari kecil menjauhi gadis itu.Sedang Yein masih bingung mencerna satu persatu kalimat yang baru saja Jungkook keluarkan tadi.

-8-

Yein membuka matanya. Tubuhnya terlalu lelah untuk digerakkan setelah siang ia keluar bersama Jungkook dan Yeri. Seharaian menahan perasaannay membuat tubuh gadis itu mengeluarkan seluruh energinya.Padahal malam nanti adalah pesta kelulusannya. Kurang dari sepuluh menit gaun pemebrian Jungkook akan tiba.

Yein lantas menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Selepas itu ia menuju dapur dan makan beberapa kue dalam lemari es. Dan menuju pintu saat ia mendengar bel rumahnya berbunyi. Seorang laki-laki dengan seragam berwarna merah dan membawa sebuah kotak besar.Yain yakin itu adalah gaun miliknya.

Yein membawa kotak itu ke atas.Meletakkannya ke ranjang dan membukanya. Senyuman lantas mengembang pada wajahnya, gaun berwarna ungu pastel dengan area punggung hanya dittutupi oleh untaian berlian , serta bagian bawah gaun yang penuh dengan dereta hiasan bunga berwarna merah muda menambah manis gaun itu.

Yein meraih poselnya, mencoba menelpon seseorang yang telah memberinya gaun ini. Tapi yang ia dengar hanya pengalihan panggilan. Secara tiba-tibanomor ponsel laki-laki itu tidak terdaftar. Yein lalu mencoba menghubunginya lewat akun media social, tapi sama saja semua akun lmedia social aki-laki itu menghilang. Yein lalu turun ke bawah dan mencari keberadaan sang Ibu, mencoba mendapatkan penjelasan dari kejadian ini.

“Eomma.”

Sosok yang Yein cari sedang asyik duduk di ruang makan sambil membaca buku.Ia lantas mengalihkan pandangannya pada Yein, saat ia mendengar panggilan dari anak gadisnya itu.

“Apa Eomma tahu apa yang terjadi dengan keluarga Jungkook?”Yein menjatuhkan dirinya pada kursi di sebalah ibunya.

“Apa Jungkook tidak berpamitan denganmu?”

“Berpamitan? Memang dia ke mana?” suara Yein sedikit bergetar, berherap apa yang ia pikirkan tidak benar-benar terjadi.

“Tadi siang setelah mengantarmu Jungkook datang dan berpamitan.Katanya ia dan keluarganya harus pindah lagi.”

“Setelah mengantarku?Jadi Jungkook pergi saat aku tidur?”Bulir air mata Yein sudah menunggu gravitasi menjemputnya.Ia tak mampu menerima kenyataan bahwa laki-laki itu harus pergi dari hidupnya sesingkat ini. Ia tik bisa menerima kenyataan jika laki-laki yang ia cintai harus mencintai orang lain lantas mencampakkannya. Detik berikutnya air mata itu jatuh menelusuri pipinya. Kepergian laki-laki itu tanpa ia ketahui menyisakan kesakitan yang begitu dalam. Yein menyesali dirinya yang selama ini hanya diam tanpa pernah mengakui perasaannya.Ia menyesal harus mengalah tentang perasaannya. Ia menyesal membiarkan dirinya hanya menjadi sebatas teman bagi Jungkook.

“Astaga, ada apa denganmu?”Ibu Yein mengusap air mata Yein yang terus menerus jatuh.“Bukannya kau ada pesta kelulusan?”Ia memeluk erat putri kesayangannya itu, mengusap lembut kepalanya. “Sudah jangan menangis, mari kita jadikan putri kesayanganku in menjadi putri kerajaan.”

“Eomma aku tidak mau pergi.”Yein masih terus terisak.

“Tapi Jungkook bilang kau harus datang, ia menunggumu.”

Yein datang dengan setitik harapan jika Jungkook tidak benar-benar meninggalkannya.Kedatangannya menarik seluruh perhatian manusia yang ada disana. Dengan gaun pemberian Jungkook dan riasan tipis yang ia gunakan, ia mampu menyedot seluruh atensi manusia di sekitarnya. Ditambah dengan tatanan rambutnya yang ia biarkan tergerai dengan sedikit gelombang pada bagian bawah, membuat wajah cantiknya menjadikannya gadis impian seluruh laki-laki.

Yein berjalan pelan menyusuri taman belakang sekolahnya yang kini telah beralih fungsi. Ia terus mencari eksistensi sesosok laki-laki yang dari tadi mengacaukan pikirannya. Menagih janji laki-laki itu, jika ia benar-benar menunggunya.

“Setelah melalui pemilihan yang ketat, kini kita telah mendapatkan nama yang berhak menjadi ratu pesta kali ini. Dengan sangat hormat, saya memohon untuk Jung Yein naik keatas panggung dan menerima bunga.” Teriakan riuh dan gemuruh tepuk tangan tidak membuat gadis yang menjadi pusat perhatian itu meninggalkan fokusnya mencari seseorang. Hingga seorang gadis lain menggiringnya menuju atas panggung.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

“Apa yang sedang kulakukan?Aku sedang menarikmu keatas panggung Jung Yein.Apa kau tidak dengar kau terpilih menjadi ratu pesta?” kalimat berasal dari Ryu Sujeong, teman sekelas Yein.

Harusnya Yein merasa senang.Menjadi pusat perhtian seluruh teman kelasnya, bahkan terpilih menjadi ratu pesta.Tapi benaknya hanya membutuhkan seseorang unuk bahagia.Ia tak peduli apapun asalkan ia dapat bertemu dengan Jungkook.

Yein menerima bunganya dengan perasaan kosong, ia mengeluarkan senyum terpaksa pada semua orang. Lantas turun dan mencari tempat unutk duduk.Ia terlalu lelah berjalan menyusuri seluruh area pesta dengan sepatu heelsnya. Jari kakinya sudah berdarah, dan terasa sakit jika ia memaksa untuk berjalan.

Ia mencium bunga yang brada di tangannya itu, mencoba menghibur diri sendir. Berharap harum bunga itu bisa menghilangkan perasaan sakitnya.Meski hanya sedikit.Ia melihat sebuah amplop berwarna putih ada dalam rangkaian bunganya. Ia lantas membukanya dan secara perlahan membaca isi surat yang ada pada kertas dalam amplop tersebut.

Jadi jika tebakanku benar surat ini akan tiba pada Jung Yein.

Apa aku benar?

Aku yakin 100% jika kau sedang membaca suratku.Aku yakin kau akan menjadi ratu pesta. Dengan wajah cantikmu siapa yang tidak setuju.

Kau pasti tahu siapa penulis surat ini. Yah, aku laki-laki menyebalkan yang selalu mengejekmu ‘laki-laki dalam tubuh peempuan’.Aku Jeon Jungkook yang sering kau beri tatapan sinis.Tapi asal kau tahu, aku suka tatapan sinismu.Kau terlihat semakin cantik saat kau marah.

Saat aku bilang jika kau tidak datang ke pesta kelulusan kauakan menyesal adalah karena kau takkan pernah membaca surat ini. Baiklah, sebenarnya aku tak sanggup mengucapkan perpisahan.Hatiku terlalu sakit jika harus memikirkan kita tidak bisa bertemu lagi.Aku tidak ingin pertemuan terakhirku denganmu menjadi suatau kisah yang menyedihkan.Karena itu aku tak mengucapkan perpisahan secara langsung padamu.

Jung Yein, yakinlah jika aku sangat menyayangimu. Yakinlah jika kau akan selalu ada dalam hidupku. Aku tak sanggup melihatmu menangis saat aku pergi. Dengan menghilang dari kehidupanmu kurasa akan menjadi lebih baik. Aku akan menghilang dari kehidupanmu. Aku tidak ingin membebani pikiranmu.Aku tahu ini sedikit menyakitkan, tapi yakinlah ini adalah keputusan yang terbaik.

Jung Yein, Maaf karena aku bersikap kasar padamu. Maaf karena telah membohongimu.

Seomga kita bertemu kembali.Aku berharap saat aku bertemu denganmu aku telah menjadi Jeon Jungkook yang baru.Yang tidak menganggapmu teman lagi.

Finish

.

Maafkan daku atas ff ini. Dengan ending yang begitu gaje. Sebenernya gamau ending yang ini tapi aku terlalu males nuanginnya, diriku terlalu sumpek. Maaf atas karakter yang kurangkuat, dan maaf atas angst yang gagal. Pertama kali bikin genre angst. Ini terinspirasi dari kisah nyata dalam hidupku, cuman agak di dramatisir. Tapi inti ceritanya sama. Heng, ini aku ngirimnya mepet deadline. Sekali lagi, maafkan daku atas segala kekurangan diriku dan ffku. Itu posternya adalah gaun hadiah dari Jungkook buat mbak Yein.

Advertisements

11 thoughts on “[Graduation Party] Purple Dress

  1. heung aku nanges T.T diksimu kerenn… cuma tanda bacanya agak kurang rapih. tapi sedikit pun nggak ngurangin kekerenan(?) ceritanya

    btw, aku kepo apa peran yeri disini. dia pacaran sm jungkook? tapi kok nggak ada namanya di akhir cerita?

    maaf yah aku ngerusuh’–‘ intinya aku suka ffmu^^ semangat terus nulisnya!!

    Liked by 1 person

    • Aduh itu typo semua–” ngerjain di hp, dikejar deadline. Hem #mbatin #malu
      Yeri itu apa ya dia? Ngapain ya? Em, dia adek kelas yang disukai jungkook, tapi sayangnya dia memiliki sesuatu yang bikin Jungkook gak bisa jadiin dia pacar. Jadi Yein Jungkook Yeri itu cinta segitiga, Jungkook sebenernya juga suka yein cuman terlanjur sahabatan. Nah kurang lebih seperti itu

      Like

  2. Pas baca suratnya udh mulai nangis😭😭coba aja dilanjutin gak tau lgi deh sedihnya gimana😭😭

    Kesian Yein, psti skit bnget ditinggal orang dicinta😢😢 Jungkook kemana sih kok ninggalin Yein huaaa😭😭

    Aku suka thor sama ff ini huhu😍😍
    Ditunggu ff JeongIn yg lain ya hehe😀

    Liked by 1 person

    • Aduh terimakasih, padahal menurutku ini angstnya gak terlalu dapet. Banyak typo nya lagi#malu

      Iya Jungkook jahat ya, main ninggalin gitu aja. Dia pergi gegara ayahnya dipindah tugaskan.

      Ya ampun, makasih :)) makasih udah baca dan komen, maafkan ffku yang jauh dari kata bagus.

      Aku ada sih ff JeongIn lain tapi di wattpad, kalo kamu punya wattpad baca aja. Id ku yoelpn

      Like

    • Uwah, makasih udah baca karyaku yang sangat amat tidak sempurna ini. Maafkan diriku yang mbikin ini banyak typo nya.

      Iya ya, Jungkook labil. Kan kesian mbak Yein nya. Maklumin aja sih, kan masih dimasa pertumbuhan.

      Like

  3. Ngga kuat ama cerita-cerita cinta segitiga yang macem begini ;–; nyesek,apalagi yg bagian Yein suruh nemenin Jungkook beli kado…Milihin kado sambil nangis T,T Dan endingnya makin bikin mewek… T^T Dek Kookie pindah ga bilang-bilang…
    Nice story,authornim~ (y)

    Liked by 1 person

    • Ya Ampun makasih banyak, ini perasaan angst-nya agak gagal deh. Makasih udah baca, makasih udah komen, maafkan matanya rusak gegara banyak typo-nya.

      Itu endingnya harusnya gak gitu, itu terlalu menggantung. Tapi karena aku lagi sumpek dan udah mepet deadline jadi kepotong deh ceritanya.

      Makasih loh ya, udah baca :))

      Like

    • Aduh sequel ya, liat aja deh. Aku bingung sih ntar ceritanya jadi gimana, gak kebayang.

      Eh eh, jangan gulung gulung ntar jadi dadar gulung(?)

      Makasih ya udah baca, udah komen juga. Maafkan diriku yang bikin ff ini banyak typo-nya.

      Like

  4. mantapppp…
    aku kalo terharu pasti banyak berkata kasar. dan yeay…. tadi banyak berkata kasar yeay /tebar bunga/

    ini jungkook mau pisah ae ribet ya, harus bikin surat hmmm

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s