[Graduation Party] Borders

Standard

borders

‘Cause mom said I’d be crossing borders

Never be afraid even when you’re cornered

Stand up straight, fight your way

Amber: Borders

Written by ANi

Special cast of Lovelyz’s Park Myung Eun or Jin

With CLC’s Choi Yoo Jin, Winner’s Nam Taehyun, and OCs

Detective, School Life, Mystery, Riddle, Tragedy, slight! Sad

Teen Rated on Vignette

Poster: Anonimjeon@ Story Poster Zone

Borders [Graduation Party]

||Borders||

Jin, tipikal gadis yang berbeda dengan gadis lain. Tidak suka bermain atau berbelanja, ia lebih suka duduk diam, mengamati hal sederhana hingga rumit. Pun menganalisis suatu permasalahan, Jin adalah orang yang dapat diandalkan.

“Ini pembunuhan,” ungkap Jin. Begitu sang gadis berdiri dan melepas kaca mata bulatnya, yang lain menatapnya kebingungan dan penuh tanda tanya.

Dan ia bertukar pandang dengan Choi Yoo Jin yang memapah Jungshin. Mengamati sepasang iris hampir tak terlihat milik Yoo Jin yang kini bengkak entah karena apa.

||Borders||

“Kau sudah mencari gaun atau pakaian untuk pesta kelulusan nanti?” tanya Jungshin pada Jin.

Tapi Jin malah diam, tak menjawab. Gadis Park itu hanya sibuk dengan lembaran kertas yang warnanya senada dengan merah darah di kursi putarnya.”Jangan terlalu sibuk karena kau diminta Mr. Joo untuk menyelesaikan kasus ini, Jin. Besok kelulusan,” tegus Jungshin sekali lagi.

“Kenapa kau santai saja? Lalu kenapa kau tak membantuku? Kau kan Ketua Organisasi Investigator Sekolah, aku hanya wakil. Dan Jiyoon itu teman dekatmu,” oceh Jin lalu menurunkan lembaran kertas semerah darah tersebut ke pangkuannya. Menyoroti sang pemuda penuh keingintahuan.

“Bukannya aku tak mau, Jin. Tapi….aku memang tak bisa karena ini tugasmu. Kau lebih ahli dalam kasus darah-berdarah, ingat?” ujar Jungshin lalu menarik kursi yang bentuknya sama ke samping Jin juga merebut lembaran kertas lusuh yang sedari tadi ditatap Jin.

“Lebih tepatnya kau tak ingin berhubungan dengan darah, Jungshin,” balas Jin setengah kesal melihat kelakuan sang Ketua yang terkadang kelewat -tak- sopan.

“Dan kalau aku boleh tau, sebelum dia terbunuh, Jiyoon dengan siapa?” tanya Jin tiba-tiba, berusaha mencairkan suasana mengingat mereka tak pernah bisa bicara dengan baik atau sekedar mengendalikkan diri, seperti tadi.

“Teman-teman. Aku juga melihat hal aneh padanya seminggu sebelum ini, dia jadi lebih sering murung dan melamun,”

“Tidak ada yang aneh bagiku, itu normal. Semacam pertanda sebelum kejadian, tapi pasti ada sesuatu yang aneh. Jungshin, kau pasti tau sesuatu,”

Jin menggoncangkan tubuhnya pelan, harap-harap ia bisa menelisik satu cahaya penerang di sepasang iris Jungshin. “Serius, tidak ada. Jangan buat aku menangis, Jin!” balasnya penuh penekanan yang kini malah digenangi air mata hampir jatuh dari pelupuk.

“Kau beli saja sekarang gaun itu ketimbang mengurus ini, tutup saja cepat-cepat kasusnya. Aku tidak mau mengingat bagaimana temanku terbunuh asal kau tau.” Tambah Jungshin dan beranjak pergi.

||Borders||

Pelan-pelan Jin datang ke gudang, padahal waktu pulang sudah ada sejak satu jam yang lalu untuknya tapi ia malah datang kemari. Dalam kesendirian dan hening, Jin mengamati setiap isi ruangan. Tak ada yang aneh, apalagi sesuatu yang tak biasa untuknya. Hanya ruangan kosong, satu ventilasi udara, dan bercak darah Jiyoon.

“Jin, pasti dari luar,” ujar seseorang.

“Aku tau, dia suruhan orang dalam,” timpal Jin sekenanya.

“Mana mungkin gadis tingkat sama sepertimu memegang pistol, paling pisau. Tapi-“

“Luka lebam dan tusuk itu ada. Aku yakin dia dikepung,” potong Jin dan berputar menghadap lawan bicaranya saat ini.

Terlihat jelas disana, segores wajah penuh kantuk dengan kantung mata. Bukan hal aneh lagi bagi Jin, dia sudah biasa melihat Taehyun seperti itu, atau bahkan hampir tiap hari dalam seminggu.

“Jadi apakah aku menyulitkanmu, Sir?” canda Jin disela keseriusan Taehyun mengamati lokasi pembunuhan –menurut Jin.

“Tidak-tidak. Dan…oke baiklan Jin, kau menyulitkanku,” ujar Taehyun ketika melihat kedua manik Jin yang menatapnya tajam.

Seperti candaan itu hanya sebuah makanan pembuka dan yah…tatapan itu jatuh ketika Jin tau bahwa seseorang telah berbohong. Dan lagi, pertanyaan sekaligus candaan itu tak pernah sekalipun terdengar baginya sebagai selaan saat sibuk. Lagi-lagi Jin selalu tersenyum ketika ada saja orang yang ketahuan berbohong.

“Dugaanku adalah Jiyoon memiliki masalah dengan pelaku, dan secara tak langsung mungkin ia bermaksud menantangnya tetapi tak ada satu pun tanda bahwa Jiyoon menantang pelaku. Perilaku menurut teman dekatnya pun mengataka bahwa ia menjadi murung dan lebih sering melamun ketika di sekolah seminggu sebelum ia terbunuh di sini,”

“Hei, kau takkan datang besok?”

Alih-alih menjawab, Taehyun malah memikirkan pesta kelulusan besok.

“Atau, Jiyoon ini tau sesuatu begitu?” tanya balik Taehyun yang sadar bahwa Jin mengamatinya sedari tadi, bahkan ia bisa merasakan tatapan menusuk itu di punggungnya.

“Yah, mungkin bisa jadi-“

“Tapi, nona. Dia tak mungkin memiliki masalah kalau dia tak tau apa-apa ingat? Seminggu berlangsung kau memecahkan kasus ini dan belum menemukan suatu titik penerang. Ingat tidak kau mengirimkan e-mail padaku dua hari lalu juga? Bukankah luka itu terlalu dalam untuk ukuran pisau biasa, si pelaku pasti dendam sekali padanya kalau begitu,” kali ini Taehyun memegang kendali pembicaraan.

“Tadinya aku mau mengatakan itu. Aku juga sudah curiga dari awal, kenapa tak ada yang sadar ini kasus pembunuhan. Jiyoon bagiku tidak kidal, tapi luka tusuk dan tembak itu di sebelah kiri badannya. Dia juga tak mungkin memegang dua senjata di satu tangan bukan? Hanya pisau itu, aku masih ragu karena bisa saja di tangan kiri. Tapi luka tembak ditempurung sebelah kiri menggunakna tangan kanannya? Itukan aneh,” cetus Jin panjang lebar, yang hanya disahuti anggukan tanpa suara Taehyun yang berkeliling di bekas bercak darah Jiyoon.

“Kau benar. Kesaksian palsu, ada tidak? Atau salah satu saksi tidak meyakinkan. Masalahnya karena ini permintaan pribadi dan secara tertutup orangtua siswa untuk mengusut tuntas kasus hingga pelaku ditemukan olehmu karena kau juga yang mengajukkan ini kasus pembunuhan, maka aku tak berani libatkan kepolisian. Tapi yah…aku masih berani kalau kau mau libatkan beberapa anak buahku untuk membantumu,” ungkap Taehyun secara terang-terangan.

“Aku curiga, anak tingkat dua itu beri kesaksian meragukan. Wajahnya tak menyiratkan bahwa ia tau hal ini. Namanya Jung Jikyung. Dua hari sebelum Jiyoon terbunuh, mereka sempat berinteraksi di kantin dan perpustakaan. Dalam kesaksiannya pun, Jikyung ini bilang bahwa dia mendengar suara samar dalam gudang bahwa Jiyoon merintih,”

Sekali lagi, Jin dibawa oleh Taehyun dalam keambiguan. Si pria dengan panggilan ‘Sir’ itu bahkan masih sempat-sempatnya mengecek ponsel ketika Jin berbicara panjang sekali, menghabiskan sisa tenaga mencari titik temu kasus yang bagai tak memiliki benang merah dengan siapapun atau mungkin tak tampak. Bahwa si ‘Sir’ inilah yang kini menjadi tumpuan Jin dalam mengusut tutas mati-matian kasus Jiyoon, demi apapun. Bahkan hanya sepotong gaun sekalipun.

“Kau pulang saja sekarang, aku bisa urus ini sendiri. Oke?”

“Aku tidak bisa begitu, aku memintamu kesini untuk membantuku bukan mengusir. Lagipula ini tugasku seperti yang kau bilang tadi,” tandas Jin sangat tegas.

Tapi dua sekon kemudian, satu pemantik kecil malah mengejutkannya. Pemantik berwarna abu hampir hitam itu ditemukan di sudut ruangan.

32510-26

Hanya ada lima nomor tak beraturan di ujung pemantik. Tapi siapa yang berani bawabenda seperti itu ke sekolah?

“Murid di sekolah ini ada yang-“

“Tidak, setauku tidak. Mereka takkan berani kalau peraturannya cukup ketat,” sambar Jin dan melihat seluruh sisi benda tersebut tanpa mengalihkan pada sepasang bola mata yang kini melebar.

“Kalau bukan pria pasti wanita, Jin. Kalau wanita yang pakai, pasti ada banyak sekali dugaan,” ocehan Taehyun itu membuat si gadis membungkam, hilir mudik pemikiran tak masuk akal yang mulai merasuki benaknya bahkan hingga berdetik-detik berikutnya.

“Wanita? Ah, Jiyoon wanita. Sir, pasti yang membunuhnya wanita, kan?” tebak Jin, tapi pikirannya masih berkelit pada hal lain.

“Datangi keluarganya, pinta buku hariannya secara baik-baik maka semuanya selesai.”

Konversasi pun seketika itu ditutup, menggiring Jin yang masih memandangi jauh pada pemantik tua kecil. Pun tanpa sadar si gadis sudah diseret jauh dari gudang menuju parkiran.

||Borders||

03-01-2015

Sore itu, aku duduk di kafe seperti biasa. Menanti kedatangan Jungshin untuk sekedar berbincang-bincang ditengah kesibukkannya mengurus anggota investigasi sekolah. Lalu sesaat kemudian, yang datang hanyalah Yoo Jin dengan membawa box donat. Katanya, itu dari Jungshin yang tak bisa datang. Dan Yoo Jin adalah salah satu teman Jungshin di akademi sekaligus teman sekelasnya.

25-01-2015

Aku menunggu Jungshin lagi. Dan dia tak datang juga. Hingga dua orang siswi tingkat dua yang kebetulan cukup aku kenal tanpa kesadaran mereka bahwa aku mendengar, mereka berbicara bahwa Jungshin mulai berkencan sejak natal tahun kemarin. Tapi, dengan siapa?

10-02-2015

Pagi tadi, aku melihat Jungshin tanpa sengaja. Aku berusaha menegurnya namun tidak bisa. Seorang gadis lebih dulu datang dan yah…kulihat kedua mata mereka cukup saling memandang bukan layaknya teman biasa.

26-03-2015

Semakin dekat dengan hari kelulusan, aku berharap bisa menikmati hari itu. Hanya…si gadis berambut kecoklatan, kulit putih mulus porselennya, tubuh ramping kecil, otak super, dan yah dia menggantikan posisiku. Lagi-lagi aku harus bergulat dengan setumpuk berkas usang berlogo rumah sakit. Aku siap mati, omong-omong. Juga aku melewati batasku hari ini, cukup mungkin tapi aku belum puas juga. Kenapa? Gadis itu menggangguku, gadis tak tau malu itu. Dasar donat sialan! Sudah kuremukan wajah Jungshin sedari tadi kalau begini jadinya.

Tak ada yang menyadariku bahwa aku mulai berubah, mungkin ini sikap biasa bagi mereka. Gadis itu memang benar-benar pengacau! Akan kupukul matanya nanti sampai buta kalau bisa. Rapi, oke…maafkan aku. Aku tau ini keterlaluan. Hanya batasku sampai disini. Tapi aku tak takut saat batasku dilewati sendiri.

Hei gadis manis, kau tau kan apa yang akan kulakukan nanti dengan darah-darahku? Membuatmu terbujur kaku dibalik sel-sel itu bersama orang-orang yang ikut berdosa dengamu, dasar pembohong! Anxiety Disorder, kau cemas aku akan mengabilnya kan? Tidak akan, aku lebih dulu mati bukan ditanganmu? Ya, fakta itu mengejutkanku ketika mendengar fakta bahwa kau menyewa seorang penembak jitu dan menghamburkan jutaan won untuk membayarnya demi membunuhku.

Dasar gadis sinting, kubuat kau menderita nanti. Awas saja-

||Borders||

Jin menutup bukunya secepat yang ia bisa, tak tahan dengan tulisan yang tadi sempat dihiasi titik-titik darah atau tetesan tinta merah, mungkin. Disebelahnya sudah ada Taehyun, mengamati dengan seksama perubahan wajah Jin secepat halilintar menyambar. Rasanya seperti sinar gamma. Merusak kemampual sel otak Jin untuk mencerna setiap isi kalimat panjang Jiyoon.

“A-aku tidak…”

“Ya, kau. Datanglah ke pesta malam ini. Aku akan memanggil pihak kepolisian untuk datang dan mencari si pelaku berikutnya. Mungkin penembak jitu itu sudah ada dalam sel dalam kurun waktu kurang dari 12 jam dari sekarang kalau kau cepat menghias diri, Jin,” cetus Taehyun lalu membawanya ke meja rias dan mendudukkan paksa Jin disana.

“Kau tidak sia-sia memanggilku, bukan?” canda Taehyun mencairkan suasana. Tapi hanya raut wajah cemas dan pucat Jin terpampang disana, sesekali ia melihat sepasang bola mata kosong menatap cermin.

“Dan kau tau siapa dia, Park Myung Eun. Datanglah sebelum pukul tujuh malam.”

||Borders||

Yang ia lihat hanya sepasang mata penuh kebecian sekaligus amarah. Dalam hati ia berdoa agar kejadian ini tak pernah lagi ada, atau jangan sampai ada. Ia tau alasannya sekarang. Hari itu, mata itu menyiratkan sebuah tantangan untuk Jin, penuh keangkuhan bahwa ia takkan berhasil, tapi satu hal yang tak diduganya, hanya sebuah pemantik kecil dan kelolosan Jiyoon untuk keluar dari batasnya membawa Jin berdiri tegak disini. Sebuah buku bersampul hitam menemani harinya pun bersama Taehyun.

“Beri aku satu alasan,” ujar Jin dengan nada gemetar. Ia tau, matanya takkan pernah berbohong selagi ia mengunci sang sepasang manik.

“Karena aku benci. Dia terlalu banyak ikut campur,” pekiknya tanpa peduli ratusan kepala manusia melihat aksinya hari ini, bersama beberapa teman yang mengikuti jalannya.

“Hanya karena kau Anxiety Disorder, serius?” Jin menyudutkan sang pelaku.”Atau kau punya kepribadian ganda juga? Dan psikis yang tak normal? Lagi, kau psikoapat? Kau membunuhnya dengan kejam. Satu tembakan dengan bayaran jutaan won dan kau menusuknya sebanyak empat kali dibagian kiri tubuh Jiyoon dan kau menyebabkan luka lebam serius, tau! Kau pikir itu perkara mudah?!” balas Jin jengah, ia sudah mati-matian mencari bukti hingga dapat amarah dari Mr. Joo, di damprat habis-habisan bahwa ia menipu oleh Jungshin, dan sekarang ia benci dalam situasi seperti ini. Terjebak ditengah lantai dansa bersama ratusan orang yang masih melihat mereka bermaksud merayakan kelulusan.

Tapi Jin dengan berani mengambl minuman dari salah seorang murid dan menumpahkannya di kepala sang pelaku. “Dasar gila! Bisa bawa dia pergi sekarang?! Kalau kau tak bawa dia pergi aku juga akan membunuhnya seperti dia membunuh Jiyoon!”

Dan berlalu secepat angin, punggung mungil itu diseret dua orang pria bertubuh tegap dengan tatapan nanar Jungshin. Meninggalkan Jin ditengah ruangan dengan tatapan mata yang kini jatuh padanya.

Well, dia benci untuk mengakuinya. Ini memang hari terburuk sepanjang ia ikut pesta kelulusan sekolah.

….

So, what happened at your graduation party?

Uh, maybe a bad things of thriller tragedy.

||Borders: END||

Aku tau ini ga nyambung sama judulnya -_-   tapi mau gimana lagi, terlanjur sih ya. Dan Selamat Ulang Tahun buat Yein dan Jin..^^

Aku mau minta maaf atas kesalahan/apapun itu, semuanya sih ya/ di fanfict ini. Dan harap komen ya..apapun itu aku terima kok ^_^

 

Advertisements

2 thoughts on “[Graduation Party] Borders

  1. cinta memang bikin gila ya nif😔 aku suka nih kalo kamu udah buat ff crime, “thrill”-nya dapet! meski… jujur, aku kurang paham dgn alur kejahatannya. dan siapa tersangkanya? yoojin kah?

    kritiknya itu doang kok😆 selebihnya, aku suka! jin ternyata cocok juga dapet karakter serius-berdarah dingin gitu(?)

    semangat terus nulisnya~😆😆

    Like

    • ANi

      Iya emang gitu sih ya, walaupun kedengarannya klise. Dan jujur, crime nya ini kurang berasa kalo kata aku. Dan thrillernya emang kubuat supaya menonjol tapi engga juga sih/lah?/

      Dan makasih kak buat kritiknya, dicerita selanjutnya akan aku perjelas atau aku pertegas alurnya biar ga membingungkan. Itu yang bunuh emang Yoojin/kejam dia, cantik-cantik pembunuh;(/. Makasih udah suka sama cerita ini/aku sampe terharu/ terus Jin emang cocok buat karakter cewe yang ga menye-menye:D

      makasih kak, semangat nulis juga^^

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s