[Graduation Party] Missing

missing 2

Title: Missing

Pen-name: Skyushin

Cast: Jung Yein

Support Cast:   Jeon Jung Kook

                        Jannine Wiegel/Kim

Other Cast: Park In Jung (Kepala Sekolah Hansum)

                  Jung Yerim (Wali Kelas)

Genre: Horror

Rating: PG-15

Length: Oneshoot

Summary: Yein adalah seorang siswi yang memiliki catatan persahabatan yang amat baik. Suatu ketika, salah satu sahabatnya Jannine Kim tak pernah terlihat lagi di lingkungan sekolah. Meskipun, kelas mereka berbeda. Pihak sekolah mengatakan jika dia meminta izin untuk pergi ke tempat lahirnya berada. Thailand. Namun ini bukanlah kebiasaannya yang menghilang begitu saja. Dan keanehan terjadi ketika dirinya melihat setangkai mawar merah yang di genggam oleh sorang gadis yang begitu mirip dengan Jannie. Apakah itu benar-benar Jannie?

Cover FF: Skyushin

AN: Maaf jika kurang berkenan. Maaf jika ngegantung. Ini adalah sebuah partisipasi ku. Gomawo.

Disclaimer: Annyeonghaseyo! Lihat pen-name ku! Itu artinya, FF ini murni milik Skyushin ^_^  jika ada kesamaan dalam segala apapun, mungkin itu hanya kebetulan. :”) Bangapta!

Happy Reading

DRRTT DRRRTT!

Sebuah getaran ponsel baru saja terdengar dan di rasakan oleh seorang gadis dengan nafas yang terengah-engah. Di sebuah ruangan gelap tanpa cahaya, seperti seseorang yang tengah di kejar oleh sesuatu yang mengerikan. Keringat dingin terus mengucur deras dibalik dahi juga seluruh tubuhnya. Ia mencoba melihat ke adaan di sekitarnya, lalu melirik sekejap ke arah ponselnya yang kini ada dalam genggamannya.

“Jungkook-a!” lirihnya melihat sebuah pesan yang muncul di notifikasi ponselnya.

Perlahan ia membuka pesan itu dengan tangan yang bergemetar dan bulu kuduk yang meremang. Ia sendirian, entah bagaimana bisa ia berada di dalam ruangan yang gelap. Hanya ada beberapa cahaya minim yang masuk melalui pentilasi yang terbuka seadanya.

“Dimana kau? Cepat hampiri aku di perpustakaan!” itulah isi pesan yang baru saja di buka oleh gadis bernama Yein dan bermarga Jung.

“Bagaimana ini? Aku tidak bisa melakukan apapun. Dan sialnya, aku malah terkunci di dalam ruangan gelap ini. Dasar bodoh!” kini ia mendengus kesal dengan nada yang terdengar ketakutan.

Beberapa menit yang lalu, seusai pelajaran tambahan berlangsung dan beristirahat sejenak, sesuatu telah membuat Yein penasaran. Dia melihat ada seseorang yang melintas dan berjalan menyusuri koridor dengan membawa setangkai bunga mawar merah yang telah layu. Dia berpikir jika itu adalah Jannine Kim yang telah kembali tanpa memberi kabar pada sahabatnya ini.

Setelah dua minggu yang lalu ia tidak melihatnya di sekitar lingkungan sekolah, atau bisa di katakan menghilang dan kini ia melihatnya tiba-tiba dengan tatapan mengarah ke depan tanpa berkedip. Namun, pihak sekolah mengatakan jika Jannine Kim meminta izin untuk pergi ke tempat lahirnya untuk sementara waktu.

Yein sedikit menyayangkan hal itu karena ujian hanyalah menghitung hari. Setelah itu berakhir seluruh murid Hansum, akan melakukan tradisi yang telah berlangsung selama 12 tahun lamanya. Yaitu, merayakan kelulusan dengan sebuah pesta pesta perpisahan.

Namun apa yang ia lihat, membuatnya kembali mengerjapkan matanya secara berulang, ia tidak melihat siapa pun di sepanjang koridor ini sampai pada sebuah ruangan yang terbuka dengan loker di depannya. Ia berpikir bahwa ada yang masuk ke sana. Akhirnya, rasa penasaran Yein menjadi sebuah kesialan yang ia alami sendiri. Terjebak dalam ruangan gelap yang tiba-tiba tidak bisa terbuka lagi.

Yein mencoba membalas pesan Jungkook yang ia abaikan beberapa detik karena rasa remang di setiap sudutnya.

”Kookie-ya! Dowajuseyo! Aku terjebak di sebuah ruangan dekat toilet wanita.” Tulisnya dalam sebuah kolom berwarna pink ocean. Send!

BRRAAK!

“Oh, Yaampun!” pekik Yein yang terkejut.

            Suara itu bersumber dari sebuah jendela yang terbuka dengan keras. Cahaya yang masuk, akhirnya bertambah banyak dan memudahkan Yein untuk melihat apa saja yang ada di ruangan ini. Tidak ada! Ruangan ini terkesan seperti Unit Kesehatan yang sudah tak terpakai lagi karena ini adalah pertama kalinya Yein berada di sana.

            Ia mencoba melihat lebih dalam lagi. Melihat beberapa ranjang yang sudah terlihat karatan pada setiap sisinya bak ranjang rumah sakit sungguhan pada jaman dulu. Penyekatnya pun menggunakan tirai berwarna putih kusam. Yein berpikir jika ini tidak terlalu mengerika sekarang. Karena di dalamnya hanya beberapa ranjang dan penyekat, kemudian cermin usang.

DRRRT DRRRT!

            Kini ponsel Yein kembali bergetar di genggaman tangannya ketika ia lihat, itu adalah sebuah panggilan dari kontak bernama ‘Jannine Kim’ namun ketika ia akan mengangkatnya, panggilan itu berakhir. Jadilah satu panggilan tak terjawab.

“Eo? Kenapa mati begitu saja?” sebuah tanya heran bersarang di kepala Yein.

“Apa aku harus menghubunginya lagi?” tanyanya pada diri sendiri.

            Ia tak sadar. Sama sekali tak sadar. Ini adalah malam hari, dan bisa saja sesuatu terjadi apalagi dalam keadaan sendiri. Ia juga hanya membalas pesan Jungkook satu kali. Tidak ada rasa takut lagi. Angin yang datang melalui jendela yang terbuka itu membuat Yein merasakan kedinginan. Kedingingan yang berbeda. Decitan jendela membuatnya sedikit ngilu dan memutuskan untuk memasangkan sebuar earphone yang ia bawa dalam kantung almamaternya.

            Menyalakan sebuah alunan musik, mungkin akan membuatnya lebih baik. Ia mengutak-ngatik ponsel datarnya. Memasuki Home, lalu aplikasi pemutar musik, dan kemudian memilih sebuah lagu yang paling ia gemari saat ini. Rap Monster Feat Jungkook  So That I Love You. Benar, lagu itu dinyanyikan oleh Jungkook sahabatnya, karena dia mengikuti sebuah audisi sehingga dapat berduet dengan penyanyi dan rapper papan atas Namjoon.

            Saat musik itu telah bernada pada titiknya, tiba-tiba Yein terdiam menghadap pintu. Berharap ada yang datang dan membuka pintunya. Karena sejak tadi, Jungkook belum juga memberi balasan lagi padanya. Suara desisan angin terdengar mengerikan bersamaan dengan sebuah suara kotak musik yang mengalun misterius.

Teng Teng..

Teng Teng..

Yein masih acuh karena tidak mendengarnya, dan sampai pada saatnya ponsel Yein mati karena kehabisan baterai. Ia menatapnya jengah dan kesal. Ia mencabut eraphonenya dan memasukkannya kembali ke dalam kantung jasnya. Kepalanya sedikit terangkat karena suara kotak musik yang belum berhenti itu. Ia mengedarkan pandangannya, mencari asal suara itu. Karena yang ia dengar, suara itu berasal dari ruangan ini.

Kembalilah Yein yang merasa ketakutan lagi. Ia tidak menemukan dimana benda yang mengeluarkan suara itu. Yang ada hanya jejeran ranjang dan beberapa penyekat, dan juga cermin usang. Tak ada lagi karena lampu yang tak hidup. Ia berjalan mundur lalu mendekat pada pintu. Sedekat-dekatnya dengan pintu dan menggedor-gedornya tanpa perasaan.

“Seseorang, tolong aku!” teriaknya sekencang mungkin.

“Apa ada yang mendengar ku?” teriaknya lagi dengan urat leher yang telah menegang.

            Sial! Untuk apa dia berteriak? Itu akan menambah rasa mistis disini karena imajinasinya yang berlebihan. Suara desisan angin begitu jelas terdengar dan membuat beberapa penyekat ambruk. Mata Yein terlihat membulat dan semakin kuat menggedor-gedor pintu itu. Hingga pada akhirnya, pintu itu masih terkunci dan angin itu berhenti dengan sendirinya.

            Nafas yang memburu kini terdengar dari keberadaan Yein. Ia tidak pernah merasakan kedinginan dan seseuatu yang berbau mistis seperti sekarang ini. Ini baru terjadi dalam seumur hidupnya. Karena tahun sebelumnya, keadaan seperti ini tak pernah terjadi.

            Ia hampir menyerah dengan menyandarkan dirinya pada dinding yang terasa lembab. Ia membenamkan wajahnya di balik lutut yang ia peluknya. Ia tidak ingin melihat sesuatu itu. Pikirnya telah negatif dan menangis dengan isakannya. Seperti ada yang mengikuti kegiatannya kini, sudut mata Yein menangkap sesuatu di pojok ranjang itu.

            Saat menyadarinya, Yein tidak mengangkat kepalanya. Ia berhenti menangis dan berpikir keras tentang sesuatu yang ada di pojokan itu. Seperti sosok dengan suarainya yang terurai dengan kulit pucat putih serta isakan yang terdengar merintih mengerikan.

‘Oh, Tuhan! Ini gila! Sungguh gila! Jangan sampai sosok itu melihat ke arah ku. Bagaimana bisa ini terjadi? Buat sosok itu pergi, aku mohon.’ Batinnya meradang dengan tangisnya tanpa suara.

            Perlahan, Yein mengangkat sedikit kepalanya. Memastikan bahwa yang ia lihat itu tidak benar. Jika benar, ia berharap sosok itu telah hilang. Dan harapan itu, membuat Nafasnya tercekat ketika sosok itu tiba-tiba ada di hadapannya dengan wajah yang tak berbentuk. Darah anyir melumuri seluruh wajahnya.

“AAAAAAHHHHHHHHH!!!”

***

“Ada apa dengan mu? Membangunkan mu begitu sulit, jadi aku harus membopong mu untuk sampai ke halte bus kemarin. Sampai di rumah pun, kau tidak bangun-bangun. Jadi, bibi Jung mengijinkan ku untuk membawa mu ke kamar.” Kini sebuah tanya besar bersarang di kepala Yein yang baru saja mendengar ucapan Jungkook yang aneh. Atau bahkan.. Yein yang aneh!

“Pukul berapa?” tanyanya singkat dengan tatapan yang masih menyimpan tanya.

“Sejak istirahat pada jam pembelajaran tambahan!” pekiknya menatap malas.

“Apa kau yakin?” tanya Yein memastikan.

“Kau bilang pada saat itu.. ‘Aku mengantuk tolong bangunkan aku jika Yerim Saem kembali’. Tapi sampai Yerim Saem kembali, kau sulit di bangunkan. Jadi, aku terpaksa menutupi mu dengan buku agar Yerim Saem tak melihat mu.” Ujarnya memeraktekannya dengan suara wanita yang terkesan aneh dan menjijikan.

            ‘Tidak! Jelas-jelas aku mengikuti seseorang di sepanjang koridor itu hingga sampai pada ruangan….’ batinnya tak mau melanjutkan karena bergidik ngeri dengan apa yang ia lihat malam tadi.

            “Yak! Kau melamun, sebenarnya ada apa? katakan pada ku?” tanya Jungkook secara berkala dan menyadarkannya.

            “Mungkin aku bermimpi!” gumamnya menatap Jungkook.

“Memangnya apa yang kau mimpikan? Apa kau memimpikan ku sehingga tidak mau terbangun seperti itu, eoh?” tanyanya menggoda.

“Lupakan! Aku tidak mau mengingatnya lagi. Aku hanya memikirkan, dimana Jannie-a saat ini?” Tolaknya kemudian mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang dimaksud.

“Dia?.. bukankah dia belum pulang?” ujar Jungkook bernada tanya.

“Benarkah? Apa dia tidak akan mengikuti ujian kelulusan?” Yein dengan nada tanyanya mendengus kesal.

“Hubungi saja dia!” saran Jungkook terdengar baik. Kemudian, Yein melakukan itu tanpa mengiyakan.

Yein terlihat sedang mencari kontak Jannine Kim di ponselnya. Ia menemukan satu panggilan tak terjawab, dan itu dari sahabatnya Jannine Kim. Benarkah dia menghubungi Yein lalu dia tidak merasakannya? Tapi, jam yang tertera pada satu panggilan tak terjawab itu mengatakan pada hari sebelumnya pukul 20:09.

Itu artinya pada malam tadi saat ia sedang terkurung di sebuah ruangan gelap. Ia berpikir kembali, mengenang saat ponselnya bergetar tanda suatu panggilan. Tapi, bisa saja jika panggilan itu adalah sebuah kenyataan yang masuk kedalam mimpi buruknya. Ia menggeleng pelan dan menekan tombol hijau tanda menghubungi.

TUUUUT! TUUUUUUT! TUUUUUT!….

 

            Satu menit telah berlalu, namun panggilan itupun belum ada jawaban.

‘Nomor yang anda tuju sedang sibuk! Cobalah beberapa saat lagi. The number your calling is busy! Please again leter.” Itulah suara yang menjawab, suara operator.

“Sibuk!” singkat Yein kesal kemudian meminum segelas juice orange sekali gus, yang kemudian membuat Jungkook menganga.

“Yak! Jjinja Daebak!” Jungkook memujinya dengan tawanya.

***

Test Day

 

Ini adalah hari ujian. Tapi Jannine Kim belum kembali juga dari Thailand. Ini sudah keluar batas. Jika ia tidak mengikuti ujian kelulusan, maka dia tidak akan lulus. Kecemasan terlihat di raut wajah Yein dan juga Jungkook. Apalagi, hal-hal mistis selalu saja datang di mimpi Yein, yang awalnya indah, tiba-tiba menjadi sesuatu yang menyeramkan dengan bercak darah, mawar merah layu itu, suara kotak musik, dan.. sosok gadis. Mungkin.

“Yerim Saem! Apa kau menerima kabar dari Jannie-a?” tanya Yein sebelum test berlangsung.

“Aku sudah menghubungi orang tuanya. Mereka mengatakan jika Jannie-a telah kembali tiga minggu yang lalu. Lagi pula, dia hanya berada di sana selama satu minggu kemudian kembali.” Jelas Yerim Saem yang tentu saja membuat Yein terbelalak tak percaya.

“Nomornya pun selalu saja sibuk.” Lanjutnya.

‘Bagaimana ini? Kemana dia sebenarnya?’ batin Yein terus bertanya-tanya.

***

Ujian pertama baru saja usai, tinggal dua ujian lagi yang belum terselesaikan. Pikir Yein terus saja pada sahabatnya Jannie. Karena ini adalah hari Ujian, maka pulang sekolahpun terasa lebih cepat dari biasanya. Setelah bell berbunyi, seluruh murid yang mengikuti ujian pun terlihat berlomba-lomba untuk kembali kerumahnya kecuali Yein yang sedari tadi hanya memainkan balpoin di atas menjanya.

“Kau tidak ingin pulang?” tanya Jungkook yang ternyata masih ada di sana.

“Sebentar lagi!” jawabnya singkat tanpa menoleh ke arah Jungkook yang berdiri di dekat jendela kelasnya.

“Sedari tadi, kau hanya memainkan balpoin itu. Kau masih memikirkan Jannie-a?” ujar Jungkook dengan tanya.

PTAK!

Hentakan balpoin itu membuat Jungkook menoleh sempurna. Yein baru saja menghentakkan balpoin itu sehingga menimbulkan suara dengungan di ruang kelasnya. Entah apa yang ia pikirkan, raut wajahnya seperti berpikir keras ingin memecahkan suatu teka-teki.

“Eo? Yaampun! Gadis lemah lembut, mengapa kau mejadi urakan seperti ini, eoh? Aku terkejut, kau tahu itu? Bisa kita bicarakan ini baik-baik, hum?” kini Jungkook memprotes Yein karena tindakannya yang terlihat berbeda dalam setiap waktunya.

“Apakah kau percaya jika di sekolah ini ada sosok hantu?” tanyanya sedikit ragu dengan menatapanya.

“Apa? jadi, kau bersikap aneh seperti ini karena memikirkan hal itu?” tanya Jungkook tak percaya.

“Aku merasa tidak enak hati sejak Jannie tidak ada.” Gumamnya yang masih bisa terdengar.

Heung! Apa kau menganggap jika Jannie sudah mati? Kau takut jika ia menjadi hantu?” kekehnya terdengar main-main dengan tanya.

“Tidak! Bukan itu maksud ku. Malam itu, aku bermimpi melihat seseorang yang menurutku adalah Jannine Kim. Dia menggenggam mawar merah layu di tangannya. Tatapannya kosong dan berjalan di sepanjang koridor, sampai aku mengikutinya dan dia menghilang. Tibalah aku di depan sebuah ruangan yang terbuka dan di depannya ada sebuah loker. Aku memasuki ruangan gelap itu dan tiba-tiba, ruangan itu terkunci. Aku ada di dalamnya, sendirian, dan….. aku melihat sosok yang menyeramkan.” Jelasnya tentang mimpinya beberapa hari yang lalu.

“Yein-a! Tolong jangan membuat ku merinding!” pinta Jungkook yang mendekat sedekat-dekatnya dengan Yein. Padahal, ia adalah seorang lelaki -_-

“Aiisshh, ini masih siang hari. Maka dari itu, aku berani menceritakannya.” Ujar Yein yang menghindar dari Jungkook.

“Cha! Kita pulang saja!” lanjut Yein lalu berdiri dan berlalu pergi, di ikuti oleh Jungkook yang membawa tasnya terburu-buru.

Di sepanjang koridor, suasana begitu terlihat sepi. Hanya ada siulan angin bersama sebuah kertas yang di sapunya. Yein begitu penasaran dan ingin mengambilnya. Namun usahanya gagal karena kertas itu, semakin jauh melayang sampai berakhir pada ruangan kepala sekolah.

“Aku lelah!” seru Jungkook dengan nafasnya yang terengah karena mengejar Yein yang begitu fokus pada benda tak berguna itu. Karena setelah di cheknya, tidak ada apapun sama sekali. Mungkin hanya sebuah tanda seru yang berjejer tiga di bawah kertas kusam itu.

Emergency!” seru Jungkook yang mendekatkan wajahnya ke permukaan kertas itu. Karena tanda seru itu sangatlah kecil dan hampir tak terlihat.

“Kau benar!” timpa Yein segera.

“Tapi, keadaan darurat siapa?” lanjutnya dengan tanya.

“Aku tidak bermaksud apa-apa, dia malah membenarkan.” Gumam Jungkook malas.

“Jika ini sesuatu yang berhubungan dengan kita, kau mau apa?” tanya Yein mendengus kesal.

“Eoh, Yaampun! Baiklah-baiklah.” Ujarnya terdengar menyerah.

Saat keadaan tengah sepi, sangat sepi. Yein dan Jungkook mendengar sebuah isakan tangis dari dalam ruangan kepala sekolah. Isakan itu terdengar seperti seorang gadis. Apakah kepala sekolah Park menangis? Sebenarnya, itu sah sah saja. Tapi apakah dia masih berada di sekolah setelah keadaan sepi ini benar-benar terjaga.

“Apa kepala sekolah Park menangis?” bisiknya. Namun, Yein hanya mengangkat bahunya tak tahu. Tidak masuk akal jika isakan Tuan Park seperti seorang gadis atau wanita.

Setelah terdengar sebuah langkah kaki yang mengarah kepada mereka, Yein dan Jungkook mulai bersembunyi di balik tembok. Memerhatikan apakah kepala sekolah Park akan keluar dari sarangnya. Dan benar saja, dia keluar bersama…..

“Jannine Kim!” seru Yein menganga tak habis pikir. Namun, disana Jannine terlihat pucat, sangat pucat.

“Apa? tidak ada Jannie disana.” Pekik Jungkook dengan berbisik.

“..Itu, di belakang Tuan Park! Apa kau buta, eoh?” sinis Yein.

Apa artinya ini? Jungkook tak melihat sosok Jannie di sana. Namun Yein, dia melihat dengan jelas jika Jannie ada di sana, tepat di belakang Tuan Park selaku Kepala sekolah dan menangis.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Jungkook hati-hati.

“Kookie-a, apa firasatku itu benar?” lirih tanyanya dengan tatapan berkaca-kaca.

“Jungkook-a! Yein-a!” seru seseorang di belakang mereka. Dan itu semua, membuat mereka terhenyak berbalik.

“Eo? Yerim Saem!” seru Yein membungkuk bersama Jungkook.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanyanya terdengar dingin.

“Memerhatikan Tuan Park dengan penuh curiga.” Lanjutnya.

“Tidak! Itu bukan kami. Euu, maksud ku.. kami hanya kebetulan saja sedang melintas dan tak sengaja mendengar sebuah isakan tangis. Aku pikir, itu adalah kepala sekolah Park.” Elak Yein terdengar masuk akal. Mungkin.

“Apa itu benar?” tanyanya yang kemudian di balas anggukan oleh mereka.

“Kalau begitu, pulanglah!” titah Yerim Saem.

“Baik! Kami permisi.” Ujar mereka membungkuk lalu bergegas pergi tanpa berbalik lagi.

Di depan sana, Yein benar-benar terkejut karena sosok Jannie telah lenyap? Bagaimana mungkin menghilang secepat itu? Tidak! Apa dia benar-benar menghilang. Namun, Tuan Park masih terlihat berjalan dengan tas jinjjingnya.

“Kertas tadi, mirip dengan yang di miliki Jannie-a!” seru Jungkook dengan polosnya yang menuturkan Yein yang ada di depannya. Karena mendengar ucapan itu, Yein terhenti seketika sehingga Jungkook tersandung.

“Eo? Yaampun! Neo Micheoseo! berhenti seketika.” Desis Jungkook.

“Dimana kau melihatnya?” tanya Yein was- was.

“Semacam diary yang nampak baru.” Jelasnya singkat.

“Kenapa aku tidak mengetahuinya?” tanyanya heran.

“Suatu ketika, aku pernah melihatnya dengan tidak sengaja. Tapi, ia terkesan menyembunyikannya dengan tiba-tiba. Dan aku, tidak perduli itu.” Ujarnya santai.

“Jannie menutupi sesuatu dari kita. Bagaimana bisa dia melakukannya dengan baik sehingga aku yang cerewet tidak mengetahui hal ini.” Yein mendengus kesal.

“Euu.. pasti ada di dalam lokernya.” Lanjut Yein berlari sehingga Jungkook terpaksa mengikutinya berlari lagi.

Dap Dap Dap!

“Terkunci!” pekik Yein yang sesampainya langsung membuka loker milik Jannie, namun tak berhasil.

“Aku membawa gunting! Tapi…”

“Keluarkan!” titah Yein memotong ucapan Jungkook.

Suaranya tidak begitu nyaring. Gunting itu mencoba membuka bahkan merusak loker itu dengan paksa oleh tenaga yang di miliki gadis bernama Yein ini. Hasilnya.. berhasil! Meskipun telapak tangannya terlihat memerah karena memegang kuat gunting itu.

“Itu dia….!” seru Yein yang mencoba mengambil buku diary itu.

“Ponselnya! Ponsel milik Jannie ada disini! Pantas saja selalu sibuk, tapi mengapa dia tidak membawanya?” timpa Jungkook dengan tanya yang heran.

“Aku sudah katakan, firasat ku mungkin benar. Pantas saja, persaaan ku tak enak semenjak dia pergi tanpa memberitahu ku.” Ujar Yein tertunduk sendu.

“Berpikirlah positif!” seru Jungkook memerhatikan ponselnya.

Seketika, bayangan sosok seram itu menggelayut di pundak Yein. Bulu kuduknya meremang, ketika buku itu mulai di bukanya. Pada halaman pertama, terukir sebuah anime dengan tiga wajah lucu. Seperti menggambarkan Jannie, Jungkook dan dirinya. Pada lemabaran ke dua, terukir juga sebuah anime bunga mawar dengan tangkai hijaunya yang segar.

Pada lembaran ke tiga, terukir tiga tanda seru beserta kotak musik dengan warna merah menyala. Pada lemabaran ke empat, terukir sebuah gambar dengan dua pasang anime, seperti sepasang gadis dan seseorang pria. Pada lembaran ke lima, tertera pada tanggal izinnya Jannie. 25 Apr. 16. Disana tertulis jika ‘Aku tidak bersalah jika ingin meminta pertanggung jawaban atas buah hati ini.’

Selanjutnya, ‘Aku menyesal telah terperangkap dalam rayuan busuk mu.’ Kemudian, ‘Maafkan aku ibu, ayah, mungkin aku akan bertahan hidup dengan diriku dan juga bayi yang ada di dalam perut ku ini. Semua karena dia, Park In Jung. Aku tahu ini adalah salah. Yein, Jungkook, aku tidak ingin kalian mengetahui ini. Lebih baik aku berhenti menjadi sahabat kalian. Aku malu dengan diriku. Dia mengancam ku untuk tidak mengatakan hal ini pada siapapun. Jika tidak, dia tidak akan bertanggung jawab dan mungkin… aku bisa saja mati.’

Tes!

Tepat disana, di beberapa kalimat yang ada di atas permukaan diary itu. Yein bahkan tidak menyangka, ada apa dengannya dan juga Tuan Park. Kepala sekolah yang bernama asli Park In Jung ini memeliki ikatan tak semestinya dengan salah satu murid Hansum. Sekarang ia tahu, Jungkook pun masih dengan dirinya yang tak bisa mempercayai hal ini. Namun yang masih menjadi pertanyaan, dimana Jannie saat ini? Pikir Jungkook.

Namun tidak dengan Yein. Ia telah mengetahui beberapa petunjuk dari diary ini. Dengan bunga mawar layunya, tanda seru itu, curahan hati Jannie yang terkesan tertekan dan ancaman mati itu membuat Yein yakin bahwa mimpi itu adalah benar, dan Jannie yang meminta pertolongannya. Nyata atau tidak saat bertemu dengan sosok itu, kini Yein tak perduli.

Apakah sosok dengan lumuran darah itu, tanda bahwa Jannie tewas dengan cara yang mengenaskan. Apakah Jannie benar-benar telah tewas?

“AAAHHHH! Sungguh, dia bajingan.” Teriak Yein sekencang-kencangnya dengan air matanya yang terus mengalir.

“Lalu, kita harus melakukan apa? aku masih bingung dengan keberadaan Jannie saat ini.” Ujar Jungkook dengan tatapan pasrah.

***

Dua hari kemudian, ujian telah berakhir. Tinggalah menunggu pengumuman kelulusan yang sedang dinanti. Sejak kejadian itu, Yein bungkam terlebih dahulu. Sama seperti Jungkook yang merubah cara bicaranya dengan tidak asal bicara. Karena pesta kelulusan yang akan berlangsung tak lama lagi setelah pengumuman itu, maka seluruh murid Hansum di sibukkan dengan beberapa kegiatan, seperti bernyanyi, ucapan perpisahan, dan juga menata rias aula.

Yein terlihat sedang menatap jengah dan sinis pada sebuah bingkai foto yang lumayan besar di aula itu. Foto Tuan Park atau kepala sekolah Park In Jung yang terhormat. Yein menerka jika senyuman yang ia simpulkan adalah palsu. Dia sama seperti seorang pelaku pelecehan seksual. Pikirnya tidak begitu sadis. Mungkin.

Other Side

 

Tatapan seperti orang yang terganggu jiwanya itu terlihat sangat ketakutan di ruangnya yang megah dengan beberapa penghargaan yang terpampang jelas disana. Tuan Park, benar! Ini adalah ruangan Tuan Park. Dan tatapan itu adalah miliknya. Entah mengapa akhir-akhir ini selalu ada sesuatu yang tak terduga yang datang dalam mimpinya.

Di awali dengan suara tangis, sosok menyeramkan, tangis bayi, genangan darah yang membuatnya tenggelam sehingga nafasnya tercekak. Namun itu hanya mimpi. Mimpi buruk yang menerornya. Ini adalah kesalahannya. Tidak semestinya ia memiliki perasaan lebih pada muridnya. Tidak semestinya ia membuat gadis itu, Jannie! menjadi tewas ditangannya.

Benar! Kehilangan Jannie secara tidak masuk akal itu karena ulahnya. Ia membunuhnya secara sadis dengan memukul kepalanya dengan benda tumpul. Ia sangat takut jika perilaku bejatnya di ketahui seluruh murid Hansum, dan itu semua akan merusak popularitas atau jabatan yang ia emban saat ini.

Ia terus saja menjambak-jambak rambut hitam ke putihan itu dengan tarikan yang amat kuat. Sehingga beberapa dari rambut itu rontok karena ulahnya. Tiba-tiba, sesuatu datang dan mencekiknya. Kini, nafasnya tersekat. Siapa yang kini mencekiknya? Sosok halus bersurai panjang. Benarkah? Meja yang di penuhi oleh berkas-berkas itupun ambruk karenanya.

Dari luar ruangan, terdengar sebuah ketukan, tangan Tuan park yang kini terasa lemas, sulit untuk meraihnya karena terlalu jauh. Matanya mulai menegluarkan cairan dan memerah.

“Kepala sekolah Park, apa kau ada di dalam? Aku  Jung Yein!” serunya dari balik pintu yang tertutup rapat.

Tak ada jawaban, karena kini. Kedua tangan Tuan Park tengah bergelut dengan lehernya sendiri. Seakan-akan mencekik dirinya sendiri, padahal sosok itu tidak terlihat namun masih menyekal kuat lehernya itu.

“Tuan Park In Jung! Apa aku boleh masuk!” serunya lagi dengan nama lengkap yang Yein sebut.

CEKLEK!

 

DEG!

Suasana mencekam terjadi, Yein melihat Tuan Park yang tengah bergelut dengan kedua tangan di lehernya. Ia menjerit meminta tolong. Mencoba melepaskan, namun alhasil ia terkena hempasan kakinya yang mengarah pada Yein dan ia terlempar ke sudut ruangan. Tak berhenti sampai disini, tiba-tiba sosok itu terlihat dan menatapnya tajam.

“Jannie-a!..” lirihnya mengeluarkan air mata.

Sebuah kertas baru saja melayang ke hadapannya, disana tertulis dengan darah segar yang anyirnya menyengat ‘Hidupku telah hancur. Aku mati dengan sia-sia, meinggalkan ibu ku, ayahku, Jungkook, dan juga dirimu.’ Air mata itu tak bisa tertahankan, meskipun rasa takut itu benar-benar sangat besar karena bercampur aduk.

“AAAAHHHHH! TOLONG!” teriak Yein yang sudah tak tahan dengan semua ini. Hingga mendatangakan banyak orang kemudian berkerumun. Di sana, Jungkook mencoba masuk bersama Yerim Saem. Seakan-akan gerakan slow motion, semua nampak berjalan lambat ketika mereka menghampiri Yein dan bertanya, ada apa?

Di tatapnya Tuan Park yang sudah tergeletak dan membiru. Sosok itu hilang, ketika Yein berteriak. Kertas itu pun ikut lenyap dan hanya ada dirinya kemudian Tuan Park yang sepertinya telah tewas karena mencekik dirinya sendiri atau juga karena sosok Jannie yang merasauki dirinya.

***

Pesta kelulusan yang akhirnya tertunda karena peristiwa ini. Kini menjadi sebuah taburan bunga di antara sudut aula, lilin-lilin yang menyala di hadapan ke dua bingkai foto, yang di dalamnya adalah Tuan Park dan di sebelahnya adalah Jannine Kim. Bunga putih yang melingkar pun menghiasi jalannya doa bersama untuk mengenang para arwah agar tenang di sana.

Sedangkan Yein dan Jungkook tertunduk sendu, lalu sedikit mengangkat kepalanya. Pakaian serba hitam dengan pita di lengan atasnya, menandakan suatu kesedihan yang bercampur dengan rasa emosi. Terutama dengan Yein. Ia menatap tajam pada bingkai foto yang tak lain adalah Park In Jung.

Kemudian, ia meninggalkan aula tersebut dengan gontai. Jungkook yang melihat itu, mengikuti kemana arah Yein pergi, dan pada akhirnya langkah itu mengantarkan Yein pada sebuah pohon rindang besar dengan sebuah ayunan yang menggantung sunyi.

Mereka terlihat duduk dan membaringkan diri di atas permukaan rumputnya yang hijau. Sembari memeluk diary milik mendiang Jannie, cairan itu meluncur dari sudut mata Yein. sedangkan Jungkook, terlihat sedang memandang awan yang sejuk menutupi sebagian cahaya matahari.

“Aku berharap, dia ada. Bersama kau dan aku.” Gumam Yein tersenyum.

Seakan-akan mendengar, sosok itu berada di samping mereka tanpa di sadari. Sosok itu masih terlihat menyeramkan dengan sobekan di kepalanya, matanya yang terlihat merah pekat, dan kuku kukunya yang panjang, kemudian kulit putih pucat itu. Namun senyuman itu, sulit untuk di artikan.

-SELESAI-

Advertisements

6 thoughts on “[Graduation Party] Missing

    • Maaf terlambat ya respon nya. baru liat lagi WP ^^ Mian.. Gomawo sebelumnya 🙂 aku bukan Author sungguhan si, kadang suka pusing sendiri buat nyari imajinasi kaya gini. harus sering baca FF orang lain yang genrenya horror, tapi gak jiplak :D. Gomawo gomawo

      Like

    • Endingnya gantung gk ya? 😀 miris FF ku ini. Mian telat respon. Gomawo juga… Ending yang bener” Mainstream :v. Jadi ceritanya cuma senyum tanpa arti, atau bolehlah senyuman kebebasan. karena sahabatnnya itu kan gentayangan gitu.

      Like

    • Mian telat bgt respon ^^… Gomawo sebelumnya. FF pertama yang meluncur di WP 😀 gak berharap banyak. klw masih banyak kekurangan bisa di review? ya :v bahasa yang gak di mengerti oleh ku kekekeke

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s