Posted in 3rd : Graduation Party, Crime, Detective Story, Oneshot, Teenager / Teen

[Graduation Party] Who is the Murderer?

Who is the murderer

Who is the Murderer ?

Author: imeirianp // Cast:  Yein LOVELYZ and another casts , // Genre: Detective, Criminal // Rating: T // Length: Oneshoot

Cerita ini 100% ide Author yes. Please don’t be a plagiat and silent reader.

“Siapakah pelaku sebenarnya?”

            Wajahnya masih belum berubah, sama seperti 7 tahun terakhir aku menyambanginya di tempat ini. Sebenarnya setelah kejadian itu, aku berjanji kepada diriku sendiri untuk menjenguknya paling tidak seminggu sekali. Tetapi karena ketidaksengajaanku menemukan kembali diary kelam yang sudah kukucilkan di gudang, membuatku merasa bersalah jika tidak menyapanya dalam kurung waktu 7 tahun. Bukan karena aku takut untuk menyambangi rumah tahanan, tapi kejadian kelam itu nyaris membuatku tidak diterima di perguruan tinggi negeri manapun karena terlibat peristiwa keejahatan. Itulah yang membuatku hampir gila–bahkan keluarga besarku meminta kedua orangtuaku untuk dirawat di rumah sakit jiwa.

“Hai, lama tak bertemu. Kurasa kau tidak merasa sulit tinggal lama-lama di tahanan. Kau malah awet muda.” Candaan macam apa yang aku lontarkan barusan.

“Benarkah? Mungkin karena para tahanan disini hampir sebaya denganku, jadi aku merasa punya banyak teman.” Bahkan senyum khasnya masih tetap sama.

Ditengah-tengah mencoba membuka kembali percakapan, tiba-tiba….

“Yein, hari ini ulang tahunmu kan? tanyanya sambil berusaha menggenggam tanganku. Dia melingkarkan sesuatu di pergelangan tanganku. Sebuah gelang buatan yang terdapat namaku disana. ”Maaf, aku baru memberikannya sekarang, Yein-a…”

“Ya! Kenapa tidak kau berikan gelang ini dari dulu. Kau malah menghadiahkanku peristiwa pembunuhan disaat pesta kelulusan. Dasar kau!” kekehan kecilku mengakhiri perjumpaan kami hari ini. Aku sudah berjanji padanya untuk sering menjenguknya. Anggap saja sebagai imbalan dari hadiah istimewa darinya di ulang tahunku yang ke-27 ini.

            Setelah sampai di rumah, langkahku bergerak mengambil diary yang mengungkapkan curhatanku akan kejadian pada saat pesta kelulusan SMA 7 tahun yang lalu. Apa salahnya kalau mencoba bernostalgia dengan kenangan yang bisa dianggap paling buruk selama hidupku. Setelah mencari tempat dan posisi yang enak, mulailah aku membuka diary ini dengan napas panjang.

~Diary Yein~

Lembar 1 : Peristiwa di pesta kelulusan

Hai, diary. Kau tahu tidak, tanganku bergetar hebat saat ini karena aku baru saja melihat orang sekarat di depan mataku. Walaupun rasanya sudah tak sanggup lagi untuk menulis, harus aku paksakan karena pasti polisi mencurigaiku sebagai pembunuhnya. Kau tahu kan, kalau aku orangnya pelupa. Jadi aku bertekad akan menuliskan semua kejadian hari ini sampai detail.

Ayah dan ibu masih belum tahu apa yang terjadi. Memang sengaja belum kuberitahu. Kalau aku terburu-buru menceritakannya, bisa-bisa pintu rumahku tak akan pernah terbuka untukku lagi.

Tapi sumpah demi apapun, bukan aku pelaku pembunuhan yang menewaskan teman seangkatanku, Nayeon, pada acara pesta kelulusan hari ini. Aku berani jamin! Kalau kau tak percaya, akan kujelaskan fakta-fakta yang terjadi malam ini. kau siap ‘kan untuk menjadi barang buktiku, kalau-kalau polisi menyeretku ke penjara?

Lembar 2 : Siang hari sebelum kejadian

            Sama seperti hari-hari sebelumnya, para panitia pesta kelulusan sedang sibuk. Termasuk salah satu orang yang sedari tadi berusaha menempelkan dekorasi di panggung. Nampaknya ia agak kesulitan, karena tulisan ia pasang di dinding panggung miring 300 kebawah.

“Jungkook-ah, mau kubantu?” tawarku.

“Tak perlu, kau istirahat saja. Kalian sudah latihan vokal selama 5 jam kan?” tolaknya baik-baik.

Tak berselang lama, Nayeon datang dari arah belakangku sambil berkata pelan “ Tak usah ganggu pacar orang, deh ! Urusi saja grup vokalmu itu. Terlebih Yeri yang masih awam tentang nada-nada.” Ucapan sinisnya bisa aku hiraukan. Tapi kalau sampai Yeri mendengar, panggung ini bisa porak-poranda olehnya.

Kau tahu, semua orang sudah hapal dengan peringai buruk Nayeon. Kau bisa menggunakan Nayeon untuk mendeskripsikan kata “Muka malaikat, tapi berhati iblis”. Senang rasanya sudah lulus dan tidak akan bertemu Nayeon lagi. Aku kembali ke ruang latihan lagi. Ada para member Beautyz (nama grup acapellaku) yang sedang beristirahat. Hampir semua memejamkan mata, kecuali Yeri. Wajahnya sekilas masam, mungkin karena terlalu letih. Tapi…..

“Nayeon bilang apalagi dibelakangku??” tanya Yeri tiba-tiba. Aku harus jawab apa?

“Pendam amarahmu Yeri, demi kelancaran pesta ini.” aku bilang padanya baik-baik. Tapi Yeri malah keluar ruangan dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan. “Kau mau kemana?” tanyaku heran.

Mataku terus mengikuti arah Yeri berjalan. Aku merasa lega karena Yeri melewati Nayeon –yang juga mengamati aneh Yeri– begitu saja.

Lembar 3: Persiapan menuju acara pesta kelulusan

            Aku, ShinB, Sujeong, Yuju dan Halla sedang mengantri untuk di make-up. Tiba-tiba Jungkook datang. “Kalian stand by 30 menit lagi. Oh.. kalian kurang 1 orang. Kemana Yeri?” tanya Jungkook sambil berlalu begitu saja. Astaga, Yeri menghilang!

            Tanpa membuat member lainnya panik, aku berinisiatif untu mencari keberadaan Yeri seorang diri. Setelah 10 menit mencari, akhirnya aku menemukan Yeri duduk di tribun atas di samping panggung. Astaga, apa aku harus menyusulnya kesana?

“Yeri, ayo siap-siap!” kataku tanpa basa-basi. Jujur, wajah Yeri kini pucat sekali. Tapi dia menggeleng saat aku bertanya apakah dia sakit. “Maafkan aku, Yein. Maaf.” Ucapnya sambil memelukku tanpa sebab.

            Setelah aku mengantar Yeri ke ruang make-up, tak sengaja aku melihat Nayeon mengeluh sakit perut kepada Jungkook, pacarnya. Tak lama, Nayeon muntah-muntah di samping samping stage. Karena penasaran, aku menghampiri mereka berdua. Sekilas, aku melihat wajah Jungkook yang khawatir. Sempat terbesit kalau Yeri menaburkan obat diare lagi ke makanan Nayeon. Kejadiannya sama seperti 1 tahun yang lalu, dimana Yeri sengaja menaburkan obat diare ke makanan Nayeon setelah Nayeon tanpa hati mengejek Yeri ‘peri bersuara ayam’.

            Pantas kalau aku marah. Aku membentak Yeri dan memintanya untuk tidak tampil di panggung nanti. Karena tahu kesalahannya, akhirnya Yeri menunggu kami di ruang latihan.

Lembar 3 : Peperangan antara Yeri dan Nayeon.

            Lega rasanya sudah tampil maksimal walau tanpa Yeri. Karena rasa tak enak hati, aku langsung meminta maaf kepada Yeri dan ia hanya membalas senyum tipis. Kau tahu, selain kejadian 1 tahun itu, alasan aku berpikir kalau itu semua adalah salah Yeri, karena di tribun atas tadi, dia meminta maaf padaku tanpa alasan yang jelas. Pastilah dia meminta maaf kepadaku karena telah membuat masalah.

            Selang 30 menit, Nayeon datang kepadaku dengan membawakan sekotak cokelat. Katanya sih hadian ulang tahunku. Dia bilang kalau hadiah ini adalah hasil buatannya dan juga ibunya. Jadi, aku pikir apa salahnya menolak tawarannya. “Kau mau satu Nayeon, untuk meredakan sakit perutmu.” tawarku. Tanpa pikir panjang, ia mengambil 1 buah. Tak jauh di belakang Nayeon, Jungkook dan Yeri sama-sama memasang wajah khawatir. Mungkin Jungkook khawatir karena Nayeon belum sepenuhnya pulih dari sakit perut. Sedangkan Yeri khawatir kepadaku kalau Nayeon bisa saja meracuniku balik. Benar saja, dengan santainya Yeri menjungkir-balikkan kotak coklat yang ada ditanganku. “Jangan pernah memberi member Beautyz apapun. Dasar perempuan BUSUK!” sontak suasana di sekitar kami menjadi tegang. Jungkook berusaha menahan amarah diantara Yeri dan Nayeon. “Ini adalah acara pesta kelulusan kita, seharusnya kalian membuat kenangan yang baik, bukan malah saling tuduh.”

Lembar 4 : Detik-detik peristiwa

            Oke, diary. Ini adalah klimaksnya.

            Ada sebuah segmen acara dimana para murid yang telah mengukirkan prestasi akademik maupun non akademik selama di sekolah, akan mendapatkan piagam apresiasi dari para guru. Termasuk aku, yang pernah menjuarai olimpiade Kimia tahun lalu. Sebagai pembawa piagam apresiasi, Nayeon telah berdiri diatas panggung, disusul kami–para murid berprestasi, dan kemudian Kepala sekolah yang akan menyerahkan piagam apresiasi. Satu persatu dari kami dikalungi piagam berwarna perak dengan ukiran nama kami.

Setelah penyerahan piagam selesai, MC mempersilahkan kami untuk turun, tapi saat itu mataku menangkap gerak-gerik Nayeon yang seperti hilang kesadaran. Benar saja, tiba-tiba Nayeon ambruk dengan kepala membentur lantai panggung. Sebagai orang yang masih berdiri di atas panggung, jelas kalau aku harus menolongnya. Saat berusaha melihat jelas wajahnya yang tertutupi oleh surainya, seketika itu pula aku menjerit. Jungkook yang kini sudah berada di belakangku juga ikut kaget. Kau tahu, darah segar mengalir dari hidung Nayeon. Dengan sigap, Jungkook menggendongnya dan membawanya ke belakang panggung. Kepala sekolah yang posisinya masih didekat panggung, mengikuti Jungkook sambil berusaha memanggil ambulance.

Kau tahu diary, orang yang paling terkejut adalah aku…. Aku tak bisa bergerak dari posisi dudukku di atas panggung, dengan mulut menganga tak percaya dan air mata yang mengalir tanpa kuperintahkan. Aku juga masih tidak sadar bahwa Halla dan Yuju membopongku turun panggung. Kakiku lemas seperti jelly, tak mampu untuk berdiri. Karena keadaan darurat, semua siswa yang menghadiri pesta kelulusan dipulangkan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Setelah ambulance datang dan membawa Nayeon, 30 menit kemudian Kepala sekolah mengabari para panitia dan para pengisi acara–orang yang pastinya berinteraksi banyak dengan Nayeon terakhir kali, termasuk aku– kalau ternyata Nayeon mengalami koma. Kau pasti menebak kan, bagaimana reaksiku?? Ahahaha kau terlalu berlebihan! Aku cuma jatuh pingsan saja, kok. Setelah aku sadar, aku tak henti-hentinya menangis. Ditambah, aku mendapat serangan jantung saking kagetnya tatkala 5 orang polisi datang untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Salah seorang polisi memberitahu kami kalau Nayeon diracuni. Semua member Beautyz dan Jungkook yang mengetahui tepat kejadian beberapa jam yang lalu langsung menghadapkan pandangannya ke Yeri. Aku bisa lihat wajah pucat Yeri saat ini.

Yeri saat ini sedang diinterogasi. Ia membenarkan bahwa ia meracuni Nayeon dengan menaburkan obat diare kedalam makanannya. Tapi, masa’ sih obat diare bisa menyebabkan koma?

Lembar 5 : Aku ketakutan sekarang

                Diary, sekarang sudah pukul 2 pagi. Bolehkah aku tidur dulu??

            Diary, aku tak bisa tidur TT. Baiklah, akan aku selesaikan hari ini. Ehmm sampai mana tadi? …………………………………………………..

Lembar 6: H+1 setelah kejadian

            Maaf ya diary, kemarin aku ketiduran hehe. Tadi siang, aku dan Yeri dipanggil ke kantor polisi. Pertamanya aku takut karena aku sama sekali tidak terlibat dalam aksi meracuni Nayeon. Tapi Yeri bilang, ada sesuatu yang ingin ditanyakan tentang cokelat pemberian Nayeon.

            Entah sejak mendengar keterangan dari polisi tadi, rasa empatiku kepada Nayeon habis sudah. Kau tahu, diary… semua cokelat yang ada dikotak itu berisi racun. Coba tebak, siapa yang memberi racun ke dalam cokelat?? Siapa lagi kalau bukan si malaikat berhati iblis, Nayeon. Polisi menanyakan asal cokelat itu dan aku tanpa ragu menjawab Nayeon yang memberikan cokelat itu sebagai hadiah ulang tahunku. Polisi bertanya lagi kenapa bisa Nayeon memakan cokelat beracun itu. Aku jawab kalau aku menawarinya satu sebagai pereda sakit karena saat itu dia sakit perut karena obat diare pemberian Yeri.

            Ternyata setelah di selidiki, racun yang ada di tubuh Nayeon adalah racun yang sama yang berasal dari cokelat itu. Dalam hatiku lumayan lega. Karena ia adalah korban “senjata makan tuan”. Belum selesai menjelaskan, Polisi mendapat kabar dari telepon bahwa ada satu jenis racun lagi yang ada di tubuh Nayeon walaupun kadarnya sangat rendah. Mekanisme racun itu seperti anastetik. Pertama-tama, racun itu membuat si korban tidak merasakan rasa sakit. Tapi, setelah beberapa hari, barulah racun tersebut merusak sistem saraf dan bisa menimbulkan kematian.

Lembar 7: (H+7 setelah kejadian) -Jadi, siapa lagi yang meracuni Nayeon ?

            Banyak anggapan dari orang awam bahwa akulah yang meracuni Nayeon karena orang yang terakhir bersama Nayeon adalah aku. Bagiku ini rasanya seperti permainan tuduh-menuduh. Seharusnya mereka berempati kepadaku karena Nayeon-lah yang berusaha meracuniku dengan cokelat dengan kedok sebagai “hadian ulang tahun”.

            Inilah yang membuatku gila. Tak berani keluar rumah karena takut walau sebenarnya bukan aku pejahatnya. Apalagi, tadi siang aku kedatangan seorang wanita yang ternyata dalah ibu Nayeon. Bertambah sudah bukti kalau akulah yang membunuh anaknya–padahal bukan. Ibu Nayeon justru meminta maaf kepadaku atas perilaku anaknya. Dia memohon kepadaku untuk memaafkan Nayeon agar Nayeon bisa tenang di alam baka. Tunggu…. alam baka. Iya, benar. Beberapa jam yang lalu Nayeon dinyatakan meninggal di rumah sakit akibat racun buatannya + racun dari orang yang tak dikenal.

Lembar 8 : (H+21 setelah kejadian) -Who is the murderer?

            Dalam suatu kejahatan pasti ada pelakunya. Walau kita sudah sama-sama tahu kalau Nayeon makan racunnya sendiri, tapi ada orang lain yang ternyata punya dendam kepada si malaikat berhati iblis itu. Sebagai orang yang menjadi korban salah sangka dari banyak orang awam, polisi menelponku hari ini. Kau tahu diary, aku berkesempatan bertemu dengan tersangka lain yang tak kupercaya, dia menyerahkan diri ke polisi. Siapa dia ?

            Pelaku tersebut ingin bertemu denganku dan meminta maaf karena ulahnya, banyak orang yang menabur kebencian kepadaku. Kau tahu siapa orang ini, diary?? Kalau kau jadi aku, kau pasti tak akan pernah percaya. Mau kuberi clue?

Pacar Nayeon….

JEON JUNGKOOK..

JEON JUNGKOOK….

~DIARY END~

            Tak terasa matahari sudah mulai tenggelam, bersama diriku yang juga tenggelam dalam kisah masa lalu yang sulit untuk dilupakan. Jeon Jungkook, pemuda tampan berwajah malaikat yang bisa membunuh pacarnya sendiri. Sebenarnya, kematian Nayeon bukanlah salah Jungkook sepenuhnya. Kerusakan organ pada tubuh Nayeon hampir 90% berasal dari racun yang ada di cokelat tersebut. Efek racun dari Jungkook malah belum bereaksi sepenuhnya. Walaupun begitu, Jungkook terkena pasal percobaan pembunuhan dengan hukuman 9 tahun penjara.

            Hari ini, aku berencana menjenguk Jungkook dan membawa diary-ku ini karena masih banyak fakta-fakta yang belum aku tahu. Seperti biasanya, penjenguk hanya diberi waktu 20 menit. Dengan wajah yang tidak pernah merasa bersalah, Jungkook tersenyum ceria menyambutku.

“Aku senang kau kesini lagi, Yein.”

“Jangan ge-er dulu, aku kesini karena ingin bertanya banyak hal kepadamu. Kau tahu, sepulang dari sini kemarin, aku membaca diary ini.” kataku seraya menyodorkan diary usang milikku.

”Kau masih belum bosan ya? Silahkan, kau boleh bertanya apapun.” Katanya memperbolehkan.

“Kenapa kau bisa tahu kalau ada racun di cokelat itu?” tanyaku dengan serius.

“Mudah saja. Aku memergokinya menyusun cokelat beracun di kotak itu di rumahnya. Kemudian dia membuka cokelat bungkusan yang tidak beracun lalu diletakkan dalam kotak itu juga untuk jaga-jaga kalau ada sesuatu yang menghalangi niatnya.” Jawab Jungkook santai.

“Mengapa bentuk cokelatnya bisa sama dengan cokelat bungkusan?”

“Nayeon meminta ibunya untuk membuatkan cokelat yang bentuknya mirip dengan cokelat bungkusan.”

“Oh,, dia pintar juga. Tapi cukup bodoh untuk keliru memakan cokelat beracunnya sendiri. Oh iya, kemarin aku juga menghubungi Yeri. Dia bilang bahwa kau yang menyuruhnya untuk menumpahkan cokelat itu dari tanganku.”

“Aku tak mau kau mati konyol gara-gara makan cokelat pemberian Nayeon.” Cengiran khas Jungkook membuatku melupakan sesuatu.

“Jungkook, terima kasih………dan aku juga minta maaf karena 7 tahun yang lalu aku mengabaikanmu.” air mataku mudah saja mengalir.

“Sudah, tak apa. Aku juga minta maaf, karena aku terlalu takut untuk menyerahkan diri, kau jadi dikucilkan dari sosial dan memendam semuanya sendirian.” Timpalnya.

“Itu karena ibu Nayeon memintaku untuk bungkam kalau Nayeon-lah yang berniat membunuhku.” Jawabku sambil sesegukan.

“Bukan kau saja yang dikendalikan oleh ibu Nayeon. Sebenarnya tak pernah terbesit di pikiranku untuk menjadi pacar Nayon kalau saja ibu Nayeon memaksaku. Dia bilang, kalau cinta Nayeon kepadaku ditolak, Nayeon bisa mati muda.” Disaat seperti ini, dia masih bisa bercanda.

“Sebenarnya, apa alasan kuatmu  untuk meracuninya?”

“Hanya ingin melindungi orang yang kucinta. Itu saja.” Raut wajah Jungkook berubah serius.

“Siapa?” tanyaku tak paham.

“Kau, Yein.” Jawabnya santai.

“B-bbagaimana cara kau meracuninya?” berusaha mengubah topik.

“Obat sakit perut. Aku memberinya obat itu untuk menahan rasa sakit. Aku membohonginya. Sebenarnya, obat itu aku curi dari laci Nayeon. Dia pengkoleksi racun, kau tahu?”

“Tapi kenapa kau meracuninya?”

“Kalau usaha Yeri gagal, setidaknya kau tidak mati sendirian. Nayeon juga akan mati.”

“Jadi itu alasannya?”

“Iya, Yein. Aku juga minta maaf karena selama SMA, Nayeon sering berkata kasar padamu karenaku. Dan aku tahu kalau sebenarnya kau juga menyukaiku. Anggap saja kalau aku dipenjara disini adalah hukuman karena telah menerima begitu saja perintah ibu Nayeon tanpa memikirkan bagaimana perasaanmu dan juga perasaanku sendiri.”

Tanpa ku sadari, Jungkook sudah kembali ke sel-nya. Sedangkan aku, menangis sejadi-jadinya.

~END~

Epilog

Nayeon : “Jungkook, obat peredanya manjur sekali. Rasa mulasnya sudah hilang.”

Jungkook : “Bagus kalau begitu.”

Nayeon : (masih tersenyum) “ok, aku naik ke atas panggung, ya….”

Jungkook : “Nayeon!” (langkah Nayeon terhenti).

Nayeon : “Kenapa??”

Jungkook : “Mulai sekarang jangan pernah ganggu Yein lagi!”

Nayeon : (wajah kesal) “oh jadi itu maumu?? Kalau kau berani mengatur, hidup keluargamu akan menderita. Masih tetap menyuruhku menjauh dari Yein??”

Jungkook : “Coba saja buat keluargaku menderita. Aku tak takut!”

Nayeon : “Terserah kau saja!” (naik ke panggung membawa piagam)

—o00o—

Minta maaf karena menistakan Nayeon yaa hehe

Kalau masih ada yang tidak jelas ttg ff amburadul ini, boleh bertanya.

Kritik saran ditunggu 😀

           

Advertisements

Author:

Halo Lovelinus!^^ Senang membaca fanfiksi atau membuat fanfiksi dengan karakter Lovelyz? Blog ini merupakan blog yang berisi fanfiksi-fanfiksi dengan karakter utama Lovelyz ^_^

5 thoughts on “[Graduation Party] Who is the Murderer?

  1. kak imei… aku nganga tau ga sepanjang baca cerita ini😮😮 aku kira yein yg dipenjara… eh taunya si abang kookie😀 btw kakak abis2an nih ngenistain nayeon-nya😂😂😂

    aku awam soal ff crime meski suka bacanya hehe😗 jadi mungkin aku nggak terlalu banyak ninggalin kritik. intinya aku mah suka lah, seperti biasa kak imei twistnya jempol👍

    semangat terus ka~~

    Like

  2. Kak imei, bikin yang ginian lagi dong/ini dateng rusuh aja-_-/ versi berdarah-darahnya lebih banyak. Ga masalah sih nayeon dinistakan, aku mah fine aja/ditabok/

    Aku suka banget kak sama ceritanya. Jarang kakak bikin thriller tapi pas bikin aku dikejutkan dengan plot twistnya kakak, aku kira yang bunuh itu Yeri loh soalnya semua bukti mengacu sama dia. Ni jungkook jago banget ya nutupin kesalahan dia pake Yeri. Udah degdegan saking stress mikir siapa pelakunya..

    Takut kepanjangan, semangat ya kak nulisnya^^ kali aja bisa bikin thriller lagi/eh >.<

    Like

  3. Hai ANi….
    makasih udh sempet baca dan komen

    aku mah apa dibanding ff punyamu itu yg berdarah2 pisan. Aku gak tegaan huhu…

    Oke aku coba deh bikin yg berdarah2 di lain waktu..

    Sekali lagi makasih ❤

    Like

  4. Ga tau kenapa aku udah ngerasa kalo pelakunya Jungkook dari bagian awal Yein bilang “Jungkook-ah,mau kubantu?” xD Soalnya biasanya yg jadi pelakunya justru bukan org yg sering ‘nyiksa’ korbannya pas masih hidup.
    Tapi bagus kok ceritanya,njelasin ttg kejadiannya lewat buku diary tokoh utamanya,suka~~ ^^

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s