[Graduation Party] CASE-I

irish-case-i

   CASE-I  

  Lovelyz`s Myungeun & Mijoo  

   with Lovelyz Members  

  slight!crime, detective, friendship, school-life story rated by T served in vignette length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved


— could you find the truth? —

 Lovelyz’s Jin & Yein Birthday Project – Graduation Party

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

PROLOGUE

“Ayolah, Mijoo-ya, minum sedikit saja.”

Mijoo menyernyit kala Jiyeon mengulurkan segelas wine padanya. Ditatapnya likuid merah tersebut seolah ia tengah menghadapi sesuatu yang mengerikan, sekon selanjutnya, Mijoo berpindah dari kursinya.

“Kau tahu aku akan mati jika ketahuan minum alkohol malam ini, Kim Jiyeon.” tutur Mijoo menjelaskan bahwa sebenarnya ia ingin meneguk wine tersebut, tapi apa daya, ayahnya—yang berprofesi sebagai seorang inspektur kepolisian—tidak akan segan memberi hukuman jika putri semata wayangnya ketahuan mengkonsumsi alkohol.

Aish … Hanya segelas saja, ayahmu tidak akan tahu.” kali ini Yein menambahkan, Mijoo menyernyit, aroma alkohol begitu tajam masuk ke dalam penciumannya begitu Yein bicara.

Aigoo, Jung Yein, dimana kau tadi bersembunyi dan meneguk alkohol sebanyak itu huh?” gerutu Mijoo saat bekas kemerahan wine ada di bagian kerah dress yang Yein kenakan.

Belum lagi bercak kemerahan kentara yang ada di leher Yein dan sahabatnya, Sujeong. Mijoo sudah bisa menebak apa yang dua gadis itu tadi lakukan.

“Apa kalian tadi bercumbu di kamar mandi?” tanya Mijoo, mengedikkan bahunya pada dua orang tersebut.

Yang disindir malah tertawa, seolah ucapan Mijoo sangatlah menggelikan.

“Memangnya kenapa? Kalau tidak ada pria, sesama wanita pun bisa menyenangkan.” celetuk Sujeong membuat bulu kuduk Mijoo meremang.

“Menjijikkan. Memangnya kecantikan kalian sudah tidak bisa dipakai menggoda lelaki? Tsk, sudahlah, aku ke belakang dulu. Kau tahu sendiri seseorang akan mengomel tanpa ampun kalau aku tidak mengabarinya.”

██║│█║║▌ Graduation Party │█║║▌║██

  C A S E – I

Ugh, ini sudah keterlaluan …”

Mijoo menyernyit saat mendengar gumaman seseorang, ditatapnya sebuah bilik di belakangnya, seorang gadis tampaknya sedari tadi memuntahkan isi perutnya, sudah jelas ia adalah seorang yang tidak kuat minum alkohol.

Belum satu menit, pintu bilik tersebut akhirnya terbuka, menampakkan seorang gadis berambut sebatas bahu yang kini mengusap bibirnya dengan punggung tangan.

“Oh, apa kau sudah menunggu sejak tadi, Mijoo-ssi?” gadis itu bertanya pada Mijoo.

Tentu saja, ia jelas tahu siapa Mijoo. Ia kan dikenal sebagai gadis paling populer di sekolahnya karena kecantikan dan kepandaiannya. Sang gadis, Mijoo, menggeleng cepat.

“Aku hanya menoleh karena mendengarmu muntah di dalam sana.” tuturnya membuat gadis tersebut membuang muka, malu.

“Maaf, aku tidak begitu pandai minum.” ujarnya sambil melangkah ke wastafel di sebelah Mijoo.

“Aku tahu. Aku juga tidak suka minum. Kadangkala seseorang bisa bertindak di luar akal sehat karena mabuk.” ujar Mijoo, lengannya bertumpu pada keramik wastafel sementara gadis di hadapannya membasuh wajah.

“Siapa namamu?” tanya Mijoo sejurus kemudian.

“Park Myungeun, dari kelas 3-1.” ujar gadis itu, tidak perlu ia bertanya balik siapa nama Mijoo karena ia tadi sudah jelas memanggil namanya.

Mijoo mengangguk-angguk pelan, ia kemudian mencuci kedua tangannya, memperhatikan dandanannya di cermin sebelum ia meraih tissue.

“Ayo kembali, kurasa kita sudah melewatkan banyak hal.” ujar Myungeun kemudian.

Mijoo mengangguk, ia baru saja akan melangkah mengikuti Myungeun jika saja pandangannya tidak terpaku pada sesuatu.

“Ada apa?” tanya Myungeun menyadari Mijoo baru saja berhenti mendadak.

“Tidakkah kau merasa aneh?” tanya Mijoo, jemari lentiknya bergerak menunjuk ke arah sebuah bilik di ujung.

“Kenapa?” tanya Myungeun tidak mengerti.

“Kuperhatikan sejak tadi ia tidak bergerak sama sekali.” bisik Mijoo membuat alis Myungeun bertaut bingung.

“Memangnya kenapa? Bisa saja dia sedang—” ucapan Myungeun terhenti, ia merasa janggal juga melihat sepasang kaki yang muncul dari bagian bawah kamar mandi.

Pasalnya, salah satu sepatu milik sosok tersebut terlepas.

Ragu, Mijoo melangkah mendekati bilik tersebut, di belakangnya, Myungeun mau tak mau mengikuti rapat-rapat.

“Bagaimana kalau dia pingsan di dalam sana?” tanya Myungeun khawatir.

“Jangan bercanda, mana ada orang yang pingsan sambil berdiri?” balas Mijoo.

Myungeun baru saja akan mengetuk pintu kamar mandi saat ia sadar akan sesuatu yang jauh lebih janggal. Dari celah kamar mandi yang tercipta, ia bisa melihat seutas tali tambang berwarna putih.

“Itu! Ada tali!” Myungeun mencicit terkejut.

Mijoo ikut mengintip ke arah yang Myungeun pandang, sekon selanjutnya ia menatap Myungeun lekat.

“Tunggu di sini. Lihat apa ada orang yang mungkin melihat kita.” ujar Mijoo, hati-hati, ia melangkah masuk melalui kamar mandi di sebelah tempat sosok tersebut, menaiki kloset meski ia tidak bisa mengintip ke bilik sebelah.

“Ini pembunuhan.” ujar Mijoo saat ia keluar, ditunjukkannya ikatan tali tambang yang berujung pada tubuh kloset bilik kamar mandi tempat ia tadi masuk.

“Astaga!” Myungeun terhuyung mundur, ditatapnya tak percaya tali tersebut sebelum jemarinya bergerak meraih ponsel di saku.

“Tidak, tunggu, kau tidak boleh menelepon polisi.” cegah Mijoo serta-merta.

“Kenapa? Kita bisa disalahkan kalau tidak melaporkannya.” ujar Myungeun ketakutan.

Mijoo terdiam sejenak. Memang, ia tahu ia akan terkena hukum jika ketahuan mengabaikan mayat. Tapi ada hal yang lebih penting daripada sekedar melapor ke polisi yang sekarang terbesit di benaknya.

“Bagaimana kalau pelakunya kabur saat polisi datang?” ujar Mijoo membuat Myungeun terdiam beberapa saat.

Benar juga, bagaimana jika pelakunya kabur?

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Myungeun menyerah.

Mijoo menatap jam tangannya sebelum ia akhirnya memutuskan. Jam sudah menunjukkan angka sepuluh lebih dua puluh menit.

“Sebelum pesta kelulusan ini berakhir jam sebelas, kita harus temukan pelakunya.”

██║♫♪│█║♪♫║▌♫♪│█║♪♫║▌♫♪║██

Myungeun tidak bisa tenang. Pasalnya, ia baru saja dengan tidak tahu diri melintangkan sebuah lakban merah—yang biasa digunakan cleaning service untuk menutup kamar mandi yang rusak—di depan dua kamar mandi paling sudut.

Belum lagi, karena paksaan si gadis nomer satu di sekolah, Myungeun harus ikut-ikutan memasang dua buah ember guna menutupi celah kecil yang memungkinkan orang lain melihat sepasang kaki di sana.

Satu ember ia pasang di dalam bilik nomer dua, satu lagi di luar bilik nomer satu, di sudutnya, sehingga sepasang kaki yang terlihat menggantung di sudut kamar mandi nomer satu tidak terlihat.

“Kita hanya punya tiga puluh menit.” ujar Mijoo, diliriknya dua bilik tertutup tersebut sebelum ia berucap.

“Pembunuhnya pasti tergesa-gesa, karena mengikat talinya ke bilik sebelah, dan kita tidak punya petunjuk apapun.” ujar Mijoo, tampak serius.

Myungeun awalnya berdiam, bingung juga harus bereaksi seperti apa, tapi kemudian netranya menangkap sebuah pin yang terjatuh tak jauh dari pintu kamar mandi.

“M-Mijoo-ssi, kurasa bross ini bisa jadi petunjuk.” ujar Myungeun, memungut bross tersebut dan menunjukkannya pada Mijoo.

Tak dapat Myungeun deskripsikan bagaimana ekspresi Mijoo sekarang. Gadis itu tampak mematung, seolah menyadari sesuatu.

Classy.” ucapnya sekon kemudian.

Classy? Myungeun menyernyit. Tapi tak sampai satu sekon ia segera tersadar.

“Oh, Classy? Apa maksudmu bross ini milik salah satu dari mereka?” tanya Myungeun, ingin mengumpat pada diri sendiri lantaran bisa dengan bodoh tidak mengenali bross berbentuk mawar berhias bingkai emas dan beberapa butir permata kecil di sekitarnya.

Sudah jelas, hanya ada satu kelompok yang bisa memakai bross semahal itu—ditambah, bross tersebut tidak dijual umum—dan kelompok tersebut sering menyebut diri sebagai Classy.

“Tapi bukankah kau juga anggota Classy?” tanya Myungeun kemudian.

Alis Mijoo kini bertaut, ditatapnya bross tersebut dengan berbagai macam ekspresi sebelum ia mendesah pelan.

“Ya, memang. Itu artinya pembunuhnya sudah jelas anggota Classy bukan?” tanya Mijoo membuat Myungeun terkejut.

Tidak perlu Myungeun berpikir dua kali untuk tidak mencurigai Mijoo sekarang. Mijoo juga seorang anggota Classy, dan tadi, Mijoo yang pertama kali menyadari keberadaan mayat tersebut.

Tapi, untuk apa pula Mijoo repot-repot memberitahu Myungeun tentang keberadaan mayat tersebut? Untuk menciptakan alibi? Pikiran Myungeun sekarang berdebat sendiri.

“Mungkinkah … bross ini milik pembunuhnya?” tebak Myungeun kemudian.

Mijoo mendesah, tampak tidak bisa—atau mungkin tidak ingin—menuduh salah seorang teman dekatnya sebagai tersangka pembunuhan.

“Aku akan mencari tahu. Bisa kau tunggu di sini dan pastikan tidak ada orang yang melihat mayatnya?” tanya Myungeun kemudian.

Ia tidak ingin menyerahkan pin tersebut pada Mijoo, karena bisa saja—sial.

Sekarang tatapan Myungeun membulat. Seharusnya, bross tersebut pasti disematkan anggota Classy di bagian pakaiannya yang bisa dilihat, tapi Myungeun tidak menemukan bross yang sama di pakaian Mijoo.

Bagaimana jika Mijoo adalah pelakunya? Kepanikan sekarang melanda Myungeun.

“Baiklah, aku akan menunggu di sini.” ujar Mijoo menyetujui.

Myungeun hanya tersenyum tipis. Ia lantas melangkah meninggalkan kamar mandi, masih dengan kecurigaan yang sama. Ingin rasanya Myungeun mengeluarkan ponsel sekarang juga dan menelepon polisi, tapi barang bukti ada di tangannya, dan bahkan, ia tadi sempat membantu Mijoo menyembunyikan mayat tersebut.

Bisa saja Myungeun nanti mendapat masalah juga bukan?

Sekarang, Myungeun hanya perlu memastikan apa ada anggota Classy lainnya yang tidak mengenakan bross di pakaian mereka.

Tidaklah sulit bagi Myungeun untuk menemukan keberadaan Classy. Ketiga anggota lainnya—selain Mijoo—tampak sibuk tertawa di pinggir kolam, bersama beberapa pemuda—yang Myungeun yakini berusaha mencuri kesempatan dari mereka.

Hati-hati, Myungeun melangkah mendekati mereka, memperhatikan pakaian yang mereka kenakan.

Lengkap.

Ketiganya mengenakan bross yang sama di pakaian mereka.

Myungeun tahu Classy hanya punya empat anggota—Mijoo, Yein, Sujeong, dan Jiyeon—jika ketiganya mengenakan bross di pakaian mereka, itu artinya, satu-satunya orang yang tidak mengenakan bross adalah Mijoo.

Pikiran Myungeun lagi-lagi berkecamuk.

Umm, chogi.” akhirnya, ia putuskan untuk bicara. Bisa saja ketiganya memberi Myungeun petunjuk lain yang mencurigakan tentang Mijoo bukan?

“Ya?” Yein—yang berdiri paling dekat dengan tempat Myungeun sekarang—menyahut.

Umm, apa aku boleh tahu kemana Mijoo pergi?” tanya Myungeun ragu-ragu.

Dua gadis di hadapannya—Yein dan Sujeong—saling melempar pandang, sementara Jiyeon sendiri tampak tak begitu mengindahkan keberadaan Myungeun di sana.

“Aku tidak melihatnya.” Sujeong angkat bicara.

“Ah, mungkin saja dia bilang pada kalian akan pergi kemana.” Myungeun menggumam, “kalau begitu terima kasih,” sambungnya.

Bulat sudah kecurigaannya pada Mijoo sekarang.

Meskipun Mijoo tadinya bersikap seolah ia adalah seorang yang menemukan mayat tersebut, tapi pin yang ada di tangan Myungeun sekarang dan kesaksian dari temannya—yang tak tahu kemana Mijoo pergi—sudah jadi bukti yang cukup bagi Myungeun untuk menelepon polisi.

Sekarang, ia hanya perlu memastikan bahwa Mijoo melarikan diri.

“Tunggu, memangnya ada apa kau mencari Mijoo?” Yein bertanya, menghentikan langkah Myungeun yang sudah akan beranjak pergi.

Nde?” Myungeun tergeragap juga.

“Ya, benar juga. Kurasa, aku tidak pernah tahu kau sebagai kenalannya.” imbuh Sujeong.

“Ah, ini …” Myungeun menunjukkan bross dalam genggamannya, “kurasa Mijoo menjatuhkan bross miliknya.”

Myungeun mendengar gumaman pelan dari dua orang di depannya. Tanpa menunggu jawaban apapun Myungeun lantas melangkah dengan cepat. Diraihnya ponsel di saku tanpa ragu-ragu.

“112, apa masalah daruratmu?”

Myungeun menatap koridor panjang yang berujung pada toilet wanita, dilihatnya bayangan Mijoo berdiri di ujung kamar mandi.

“Ah, chogi … Namaku Myungeun, aku sedang berada di pesta kelulusan sekolah Inyang yang diadakan di sekolah kami. Kurasa … seseorang mati di kamar mandi wanita, dan aku … aku bersama dengan pembunuhnya.”

 ██║♫♪│█║♪♫║▌♫♪│█║♪♫║▌♫♪║██

Hey!”

Myungeun mendongak saat didengarnya Mijoo berseru. Ditatapnya gadis—yang kini mengumbar senyum manis—itu dengan pandangan curiga.

Apa Mijoo sudah curiga padanya? Apa senyum itu Mijoo pamerkan karena ia sudah punya rencana untuk membungkam Myungeun juga?

“Kau menemukannya?” tanya Mijoo, cukup keras untuk bisa Myungeun dengar dari tempatnya memelankan langkah sekarang.

“Kau yang melakukannya.” ujar Myungeun, tidak perlu lagi merasa takut karena ia sudah mengulur cukup banyak waktu sesuai dengan arahan dari polisi yang menerima teleponnya.

Dikatakan, polisi akan tiba dengan diam-diam dalam waktu tujuh menit. Dan rasanya, Myungeun sudah membuang waktu hampir sepuluh menit sebelum ia putuskan untuk mengulur Mijoo dari usahanya untuk kabur.

“Apa? Kau bicara apa?” ekspresi Mijoo berubah terkejut.

“Aku sudah bertemu dengan Classy. Mereka semua mengenakan bross seperti ini, kecuali kau. Kau satu-satunya yang tidak mengenakan bross ini di pakaianmu.” ujar Myungeun.

Mijoo mengerjap cepat, terkejut. Dipandangnya dress mewah yang sekarang ia kenakan sebelum ia kembali menatap Myungeun.

“Tapi aku—oh, Myungeun-ah. Cepat kemari!” tiba-tiba saja Mijoo berucap panik.

“Kenapa? Kau terkejut karena aku tahu kau pelakunya?” ujar Myungeun tanpa ragu.

“Pembunuhnya … sedang berlari ke arahmu.” ujar Mijoo.

Lekas, Myungeun melempar pandang ke belakang. Tatapannya membulat saat ia sadari dua orang gadis tengah berlari ke arahnya.

“Gadis jalang!” Myungeun bisa mengenali Yein di sana, dengan Sujeong di sebelahnya.

“Cepat lari Myungeun-ah!” teriakan Mijoo menggema, memacu adrenalin Myungeun untuk berlari.

Tanpa pikir panjang, Myungeun berlari ke arah Mijoo—yang bersiap menutup pintu kamar mandi—sementara derap langkah di belakangnya memburu.

BRAK!

Pintu tertutup dengan kasar. Tanpa bisa dikunci.

“Buka pintunya! Kau gadis jalang!” teriakan di luar menggema, sementara sekuat tenaga, Myungeun dan Mijoo menahan pintu dari dalam.

“Apa yang sudah kau lakukan? Bagaimana bisa mereka mengejarmu?” tanya Mijoo di tengah usaha mereka menahan pintu.

Dobrakan-dobrakan keras di luar sempat membuat Myungeun mengabaikan pertanyaan Mijoo. Tapi toh, ia menjawab juga.

“Aku hanya menunjukkan bross ini pada mereka. Bagaimana bisa kau tahu kalau mereka pembunuhnya?” Myungeun balik bertanya.

“Kenapa polisi yang kau telepon belum datang juga?” pertanyaan Mijoo sekarang membuat Myungeun membeku.

Mijoo tahu?

Myungeun belum sempat menanyakan apapun karena tiba-tiba saja keributan lain terdengar di luar sana.

TOK! TOK!

“Myungeun-ssi! Myungeun-ssi! Ini polisi!”

Myungeun masih membeku. Ditatapnya Mijoo dari atas sampai bawah sebelum sang gadis sadar bahwa ia sedang diperhatikan.

“Jangan menatapku seperti itu, kau baru saja sukses menyelesaikan kasus pertamamu, Detektif Park.”

“Myungeun-ssi!”

Myungeun segera tersadar, dilepaskannya pegangan pada gagang pintu untuk melihat keadaan di luar. Dan ya, memang, beberapa orang polisi ada di sana, beserta dua orang yang kini terborgol.

“Aku tahu kau sengaja meledek kami! Gadis jalang!” Yein berteriak marah.

“Ya! Kau sama saja dengannya yang sudah meledek kami!” Sujeong juga berteriak.

“Tutup mulut kalian dan simpan semua ucapan itu untuk jaksa.” salah seorang polisi berucap.

“Dimana tubuh korban?” tanya petugas polisi lainnya.

“Di sana … kamar mandi paling sudut.” Myungeun berucap lirih.

“Kau sudah melakukan hal yang sangat baik, Myungeun-ssi.” Myungeun bisa merasakan seseorang menepuk bahunya pelan.

Sekon kemudian beberapa orang polisi masuk ke dalam kamar mandi, dengan dua petugas berpakaian serba tertutup yang Myungeun kenali sebagai petugas forensik.

“Sudah kukatakan kau menyelesaikan sebuah kasus bukan?” Mijoo yang sedari tadi berdiri di hadapan Myungeun berucap.

“M-Mijoo-ssi—”

Sst, ini rahasia kita berdua, Detektif Park. Jangan beritahu siapapun kalau ini aku ikut campur dalam kasus pertamamu, mengerti?”

Belum sempat Myungeun berucap, seruan polisi dari dalam kamar mandi sudah mengalihkan perhatian Myungeun. Hanya sepersekian sekon saja, namun ia sudah kehilangan bayangan Mijoo.

Yang ada, Myungeun mendapati tungkainya bergerak mendekati tempat kejadian.

“Wajahnya terlihat familiar, apa dia anak dari salah seorang anggota polisi?” seorang petugas bicara pada rekannya.

“Entahlah, kurasa aku juga pernah melihatnya.”

“A-Apa aku boleh melihat wajahnya?” tanya Myungeun kemudian.

“Oh, hanya sebentar saja, oke? Karena kau sudah sangat berani menelepon kami dan melaporkan kejadian ini.” ujar petugas tersebut.

Myungeun mengangguk pelan, diintipnya sosok yang tak bernyawa di dalam bilik tersebut hati-hati sebelum—

“Tidak …”

—Myungeun kembali membeku.

“Apa dia teman yang kau kenal?”

Myungeun menatap nanar dua polisi yang sekarang menatapnya penuh selidik.

“Y-Ya … Dia … Dia Mijoo, Lee Mijoo.”

██║♫♪│█║♪♫║▌♫♪│█║♪♫║▌♫♪║██

EPILOGUE

Tahun berganti, roda kehidupan juga terus bergulir.

Kini, Myungeun bukan hanya seorang gadis sekolah menengah yang tak berani mengambil keputusan. Dengan sebuah seragam ia berani memamerkan kebanggaan. Dan hari ini, tentu Myungeun tidak lupa untuk berterima kasih pada seseorang yang sudah mengubahnya jadi seperti ini.

“Mijoo-ssi, aku ditugaskan di reserse kriminalitas mulai hari ini.” ujar Myungeun, menatap lemari kaca berisi guci berwarna peach di hadapannya.

Beberapa foto ada di sana, foto keluarga, foto kelulusan—yang tak pernah dinikmati pemiliknya—dan sebuah foto sendirian.

“Aku tidak pernah menyangka jika Ayahmu akan membiayai pendidikanku di sekolah kepolisian, dan aku sangat berterima kasih akan hal itu. Aku juga berterima kasih padamu, Mijoo-ssi. Jika saja hari itu, aku jadi seorang pengecut yang berlari dan tidak membantumu … mungkin aku tak akan jadi diriku yang sekarang.”

Myungeun kemudian menatap sebuah bross berbentuk mawar yang tersemat di kerah kemejanya sebelum ia tersenyum.

“Maaf, seharusnya pin ini kukembalikan padamu, tapi kau tahu bukan? Malam itu aku bahkan tak bisa berkata apapun pada polisi. Kau bilang sendiri kalau tidak ada seorang pun yang boleh tahu kalau kau ikut membantuku. Bross ini jadi satu-satunya hal yang mengingatkanku padamu, sekaligus … jadi jimat keberuntunganku.”

“Aku tentu tidak lupa kalau malam itu sebenarnya kau lah yang begitu cerdas. Bersikap seolah tidak tahu apa-apa padahal kau—ah, kalau kau masih ada sampai sekarang, kau pasti akan jadi detektif yang sangat hebat.”

“Dan juga … meskipun kita tidak pernah saling mengenal, aku merasa sangat beruntung karena mengenalmu di saat yang begitu tidak masuk akal. Kurasa, kita bisa disebut sebagai teman bukan?”

Myungeun akhirnya menggaruk tengkuknya, merasa canggung juga karena sudah bicara tanpa henti, sendirian.

“Aku akan mengunjungimu tiap akhir bulan, Mijoo-yaoh, aku boleh memanggilmu seperti itu bukan?”

Akhirnya, Myungeun membuka lemari kaca tersebut, menyandarkan badge kepolisian miliknya di sebelah foto Mijoo yang tersenyum dirangkulan Ayahnya. Kemudian, Myungeun meletakkan sebuah bingkai lain berisikan foto dirinya yang dilipat dua, dan foto Mijoo yang juga dilipat serupa.

“Anggap saja ini foto kita bersama—karena kita tak akan pernah punya kesempatan untuk berfoto bersama. Jadi, kau bisa terus mengingatku, dan aku juga akan terus mengingatmu.”

Myungeun kemudian mengusap bross di kerah kemejanya, dan tersenyum tipis.

“Kau pernah bilang, hanya kita yang boleh tahu rahasia ini bukan? Tapi aku harap, meskipun aku tidak lagi bisa melihatmu, aku ingin, kau juga terus bersamaku, menemaniku menyelesaikan kasus-kasusku yang lain, dan bersenang-senang bersamaku ketika kasus tersebut selesai, Detektif Lee. Kita bisa menjadi rekan satu tim terus tanpa ada orang-orang yang tahu bukan?”

“Terima kasih … karena sudah menjadi kasus pertamaku, Lee Mijoo.”

FIN

.

.

.

Cuap-cuap by IRISH:

Happy birthday Jin dan Yein!

Pft, crime dan detective bukanlah genre yang biasa kutulis. Dan jadilah, aku pengen mengumpat sendiri ngeliat alur cerita yang melompat gak karuan ini. Malu sekali, pengen nyebur ke rawa-rawa tapi apa daya sudah kelanjur deadline, udah gak sempet edit-mengedit lagi dan ya … maaf sekali karena sudah menyuguhkan cerita tidak berkualitas ini. Semua kritik saran akan kuterima dengan lapang selapang jidat.

Catch Me On:

askfm facebook gmail instagram line soundcloud twitter wattpad wordpress

Advertisements

11 thoughts on “[Graduation Party] CASE-I

  1. Horor banget, masa iya Mijoo udah mati bisa hidup lagi. Arwahnya ga tenang tuh gara-gara Yein dan Sujeong. Cuma aku belum ngerti kenapa itu Mijoo dibunuh sama mereka berdua? Tapi aku suka^^

    Like

    • Buakakakakaka iya itu arwahnya gak tenang XD sebenernya sumber masalahnya ada di pembicaraan awal itu sih, yang Mijoo ngeledek Yein sama Sujeong ~

      Like

  2. aku nganga ih bacanya😮😮 keren bgt! tadinya kukira tokoh utama di cerita ini mijoo, eh ternyata myungeun😂

    oh iya, aku agak bingung deh. kok jiyeon, yein, dan sujeong bs ngmg sama mijoo, pas di awal cerita? bukannya pas yein dan sujeong balik dr kamar mandi, mijoo udh mereka bunuh?

    itu aja pertanyaanku. semangat terus nulisnya!^^

    Like

    • XD buakakakakakkaka ini cerita abnormal ya padahal ya XD wkwkwkwkwk itu sebenernya dijelasin di awal, yang mijoo ngeledek yein sama sujeong itu loh ~

      Like

  3. Selalu deg-degan tiap baca cerita detective karena pingin cepet2 tau siapa pelakunya…Pas baca cerita ini juga… ^^ keren~ dan ga nyangka kalo yg kebunuh Mijoo dan yang ngebunuh Yein sama Sujeong… ._. Iya penasaran juga kenapa Mijoo dibunuh?Apa karena ngatain mereka berdua ngelakuin hal aneh2 di prologue kah? ._.

    Like

    • XD buakakakakakaka aku sebenernya sama sekali engga ada bakat buat bikin cerita begini ini T.T jadi aku rasa cerita ini masih astral sekali …
      IYAP! KAMU BENER SEKALI, ITU KARENA MIJOO NGATAIN MEREKA XD XD XD kamu berbakat jadi detective XD

      Like

  4. Telat tau fic ini! ><
    Tapi bagus banget fic-nya, aku aja sampe ga nyangka kalo sebenernya yang matinya itu Mijoo. Dan ga ketauan juga sebelumnya kalo Myungeun itu detektif.
    Btw Yein sama Sujeong kejem amat, dikatain doang sampe dibunuh Mijoo-nya 😀
    Good fic, keep writing 😉

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s