[Graduation Party] Android’s Problems

Android's Problems.png

Special dedicate fanficition to Lovelyz Fanfiction Indonesia’s Jin Birthday Event

[Graduation Party — What Happened at Your Graduation Party?]

— ANDROID’S PROBLEMS —

©2016, BaekMinJi93

 

Starring with

Lovelyz’s Park Myungeun as Jin and BTS’ Kim Seokjin as Jin

 

| AU! – Angst – Hurt – Romance – School Life – Sci-fi – Surrealism | Ficlet | PG – 13 |

Disclaimer

This story purely from my precious mind. DON’T BASHING AND DON’T PLAGIARISM!

Happy reading…

“Hei! Aku tidak percaya jika aku masih bisa menangis lagi.”

 

Baru saja tungkai kananku menginjak ubin pertama di ruang tamu, tetapi aku sudah menerima sambutan hangat darinya. Ya, tentu saja dari pemuda itu.

Hi, Jin! You’re coming,” ujarnya riang seraya berjalan menghampiriku.

“Apakah ini sudah waktunya?” Alih-alih menjawab, aku malah mengajukan satu pertanyaan lain padanya.

Satu ukiran asimetris itu pun muncul tepat di bibir plumnya dan segiat apapun aku mengelaknya, tetap saja hati kecilku mengatakan jika aku percaya dengannya. Lihatlah, bahkan tanpa menjawabnya dan hanya memberiku dengan senyum manis—tapi memuakan—itu, aku sudah bisa menebak akhir dari semua ini.

Pemuda itu menggiringku menuju ke kamar. Err… ralat! Bukan kamar sepertinya, bisa dikatakan ruangan berukuran 10m x 10m ini adalah ruangan laboratorium. Kau pasti bertanya-tanya apa maksud di balik semua perkataanku kan? Sudahlah. Tunggu saja tanggal mainnya.

“Jin,” panggilnya yang hanya kubalas dengan gumaman kecil. Jujur, aku sangat malas untuk membuat percakapan dengannya. “Jika kau merasa sakit, katakan padaku ya?

 

Soft and warmly. As always…

 

Aku memutar bola mataku malas dan mengarahkan pandanganku pada jarum suntik yang sedang ia tujukan pada lengan kiriku. “Jin, apakah kau tidak bosan mendengar jawaban yang sama atas rentetan pertanyaanmu yang sama pula?”

 

Hell… kau pikir aku bicara sendiri? Pemuda ini juga bernama Jin asal kau tahu?!

 

Jin tertawa kecil mendengarnya. Seraya memberikan kasa dan plester luka sebagai sentuhan akhir, pemuda itu kembali membuka suara. “Kau tahu kan jika aku mengkhawatirkanmu karena ini?” sedangkan aku hanya menanggapinya dengan decihan pelan yang anehnya malah membuatnya kembali tertawa dan mengacak rambutku gemas. Sialan! Ia pikir aku ini sedang melawak?!

Yak! Kau pikir aku sedang mencoba melontarkan humor picisan padamu?”

Jin mengangkat bahunya acuh, “Yah, mungkin saja.”

Cih! Berhenti bermimpi, Tuan Kim.”

Pemuda itu mengulurkan tangannya dan mencoba merapikan rambutku yang ia acak sebelumnya. “Tidak seharusnya kau keluar di cuaca yang sedang terik seperti ini, karena kau tahu kan jika itu sangat berbahaya untukmu?”

“Kenapa? Memang cuaca terik bisa membuatku meledak?”

Seakan aku sudah menyulut api emosi, Jin mengepalkan tangannya kuat dan dapat kulihat pula jika rahangnya juga mengeras yang di detik selanjutnya ia benar-benar meledak. “JIN!”

“Apa? Namaku bukan Jin. Panggil aku Park Myungeun. Itu nama asliku.”

 

Satu detik…

 

Dua detik…

 

Tiga detik…

 

Tidak ada balasan darinya. Sepertinya ia benar-benar marah.

 

“Sudahlah. Lebih baik kau pergi dari kamar-… err maksudku laboratorium ini. Aku mau istirahat.”

 

***

 

Di ujung sanalah semua suara itu berasal—baik itu suara canda tawa, tangisan pilu, hingga ucapan selamat tinggal pun tak luput dari tangkapan sang gendang telinga. Jika aku boleh jujur padamu, semua terasa begitu merdu dan mengalun bagaikan symphony indah milik Beethoven. Tetapi yang terpenting dari semua ungkapan ini ialah…

 

Aku merindukannya.

 

Tanpa bisa aku kendalikan semuanya, kedua tungkaiku mulai melangkah pelan menyusuri area yang jauh dari kerumunan pasangan muda-mudi itu. Pemandangan yang netraku tangkap pun tak berbeda jauh dengan apa yang kutangkap hari itu.

 

Semua terasa sama, meskipun aku tidak dalam wujud yang sama seperti dulu.

 

Sama-sama tidak ada yang menyadari ketidakhadiranku.

 

Selama beberapa menit selanjutnya, fokusku masih terpaku pada acara yang di selenggarakan di aula serbaguna dan tanpa terasa satu bulir kristal pun luruh yang berakibat membasahi pipiku.

 

Hei! Aku tidak percaya jika aku masih bisa menangis lagi.

 

***

 

Kim Seokjin—atau yang lebih akrab disapa dengan nama panggilan Jin adalah pemuda yang berhasil menyelesaikan sekolah menengah atasnya dengan rata-rata seluruh nilai hampir mendekati sempurna.

 

Mengagumkan kan?

 

Itulah yang kupikirkan saat pertama kali aku bertemu dengannya. Jin adalah sosok pemuda tampan, baik dan pintar. Sepertinya alasan itu cukup membuat para gadis di luar sana—sepertiku—jatuh akan pesonanya yang mematikan. Jika kau bertanya apakah aku menyukainya? Tentu saja aku menyukainya, hanya orang bodoh yang tak menyukai pria yang ‘cukup mendekati’ kata sempurna itu.

 

Ingat. ‘Cukup mendekati’ bukan benar-benar sempurna, karena aku—atau bahkan dirimu yakin jika setiap orang di dunia ini percaya akan sisi baik dan sisi buruk yang dimiliki seseorang dan semua akan berawal dengan hiasan topeng di sana.

 

Awalnya aku terus saja menganggap Jin adalah anugerah terindah dalam hidupku, hingga hari itu semuanya mulai terbongkar secara serentak.

 

***

 

Hari itu berbeda dengan biasanya. Dibanding pergi ke tempat yang ingin ku kunjungi sekarang—sebut saja aula serbaguna yang sedang sibuk dengan acara upacara kelulusan—,aku lebih memilih pergi ke perpustakaan dan membuka album kenangan lulusan tahun ini. Untung saja penjaga perpustakaan sedang pergi.

 

Kau tanya apakah aku sedang sendirian? Maka jawabannya adalah, iya. Jin meninggalkanku disini dan memilih untuk bergabung bersama teman-teman yang lain di bawah. Seharusnya aku ada disana, tapi sial! Hanya karena rumor tentang aku yang sudah meninggal dan postur tubuh menjijikanku sekarang, tidak mungkin kan aku mempermalukan diriku sendiri?—aku hanya mengutip ucapan Jin beberapa saat yang lalu—.

 

Pasti saat ini pemuda itu sedang bersenang-senang dengan hasil yang diterimanya. Semua nilai itu, mayoritas ditunjang oleh nilai kegiatan penelitian berkelompok bulan lalu. Seperti yang kau duga, aku bersama Jin sepakat membuat kelompok berdua. Satu hal lagi yang tak boleh dilupakan, kami berdua juga sepakat jika AKU yang akan menjadi objek penelitiannya. Menjadikan diriku sebagai android.

 

Aish… aku akan benar-benar menyalahkanmu jika aku berhasil menangis hebat seperti tempo hari lalu.

 

Bukan. Tentu saja aku bukan ponsel dan tablet canggih yang sedang booming pada abad ini. Aku benar-benar android—tapi pemuda itu sering menyebutku dengan sebutan human android. Sebagai percobaan, aku memiliki masa berlaku selama satu bulan dan setelah itu ingatan plus perasaan manusiawiku perlahan akan kembali sebelum professor muda dan gila itu memperbaruiku—bahkan sebelum waktu satu bulan itu hampir berakhir, aku tidak bisa menangis seperti manusia normal yang lainnya.

 

Kau pasti menganggapku sedang mencoba untuk bercanda kan? Apa aku sudah gila? Aku tidak sedang mengajakmu bercanda. Hei… coba kau pikir. Apa sih barang yang tidak canggih di abad ini?

 

Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya sekarang.

 

Tepat sehari setelah pekan ujian semester berakhir , statusku masih sama seperti kalian. Manusia biasa. Manusia biasa yang sekolah di sekolah elit hanya dengan bermodalkan beasiswa . Selama hidupku berlangsung, yang kurasakan hanyalah perasaan datar yang lebih didominasi dengan rasa depresi yang amat sangat akibat omelan ibuku yang tiada tara. Bisa kau tebak bukan jika itu semua memiliki satu sebab yang sama? Yep, masalah ekonomi.

Hidupku terus saja berjalan seperti itu hingga akhirnya aku bertemu dengan pemuda tampan dan terkenal akan kecerdasannya, yang tak lain dan tak bukan ialah Jin sendiri. Dia datang padaku dan menawarkan akan mengubah kehidupanku sekarang. Karena pikiranku saat itu sedang benar-benar buntu, apalagi ia juga menawarkan beberapa juta dollar untuk memenuhi kebutuhan hidup kami, maka tak perlu pikir panjang aku pun menyetujuinya.

Namun keputusan yang kuambil saat ini patut kusesali. Semua itu berakhir dengan sadis di meja penelitian. Beberapa organ pada tubuhku diambil dan diganti dengan barang hasil penilitian bodohnya itu dan aku menerima sepuluh injeksi dari pemuda itu setiap harinya. Entah injeksi apa itu yang aku heran bisa membuatku kebal akan rasa sakit.

 

Inti dari semua ceritaku ini ialah…

 

AKU HANYALAH SEEKOR KELINCI PERCOBAAN YANG DIBUAT PERANTARA UNTUK PENELITIAN GILA.

 

— FIN —

Bebe’s Notes about “Android’s Problem” Behind The Scene :

  • Terinspirasi dari komik Android Love dengan beberapa modifikasi pribadi
  • Demi apa aku nulis FF gaje kaya gini. Waktu nulis ini, aku otw lagi terserang virus menyebalkan itu, kawan /lirik Webe/
  • Oke ini gila… Disuruh pake genre angst, malah nyebar kemana-mana. Pake sok-sok an nulis sci-fi lagi -_-. Tapi yang penting ini termasuk genre angst kan? *krik krik krik*. Dan hei! kumohon katakan padaku jika ini masih temasuk cerita kelulusan kan? Awalnya aku salah plot astagahhh :’(( /nggak ada yang tanya/
  • Ku lagi candu sama genre sereal, err… maksudku surreal. Jadi maafkan aku kalo jatuhnya GAJE kaya gini /ditendang berjamaah/
  • Dan buat kapelnya aku bingung mau pake mana. Huhu… makasih yang udah kasih saran di grup, tapi aku malah jatuhnya ke kapel ini karena diantara saran-saran itu aku cuma tau Jin doang :’((. Maaf buat Kak Ines yang udah saranin pake Youngjae, tapi nggak aku pake gegara aku nggak tau orangnya yang mana /PLAK/. Dan maaf juga buat Kak Fanny yang udah nyaranin pake abang Wonu kesayangan, tapi nggak aku pake karena udah kebayang tuh abang kesayangan buat orang lain /eak/. Pokoknya buat yang kemarin udah nyaranin kapel di grup, aku merasa makasih dan maaf banget. /Buat Mayla, sepertinya kapel ini ucul hehe :D/

Buat, semua yang udah baca ini kuharap—bahkan kalo bisa wajib beri review yak. Tenang aja, aku nggak bakal gigit kalian kok, semua saran aku terima—asalkan bukan bash—karena aku sadar aku juga masih butuh banyak belajar nulis pake genre kaya gini wkwkwk

See ya!

Warm Regards,

 

— BaekMinJi93 —

Advertisements

11 thoughts on “[Graduation Party] Android’s Problems

  1. TEGANYA KAMU SEOKJIN!😭😭😭😭 yaelah om /heh kok/ itu ciptaan Tuhan itu… kenapa tega bgt diutak-atik sih😭 dan kenapa myungeun terima aja sih, padahal cuma dikasih duit–tidak sepadan!😭

    btw aku penasaran. myungeun sukakah pada seokjin, sampai rela begitu? uh, aku sih ngga mau suka sm ilmuwan gila semacam itu /heh emg kamu siapa night/

    segitu aja, maafin ya bee aku nyampah ehehehe~

    Like

    • Wow kepsloknya jebol ya kak? /salpok wkwkwk/
      Myeungeun nerima gegara keadaan juga kak, dan buat pertanyaan kakak tentang si myeungeun suka apa nggak sama jin udah aku jelasin di sini :
      “Jika kau bertanya apakah aku menyukainya? Tentu saja aku menyukainya, hanya orang bodoh yang tak menyukai pria yang ‘cukup mendekati’ kata sempurna itu.”
      Thanks kak night, udah nyampah disini😂

      Like

  2. Robot Android? Dari manusia? Wah parah banget itu Seokjin ngejadiin Myungeun boneka mainan penelitian. Dikira Seokjin, Myung-Myung itu ga hidup/ini maaf ya dateng tetiba rusuh gaje/….

    Aku suka dari cara nyeritainnya, Myung POV juga. Detail, ga membingungkan, suka aja pokoknya. Cocok kalo Myung-Myung dibuat karakter cewe brutal secara diam-diam. Abis aku terlalu membayangkan si Myungeun dengan jelas diotak nyampe kalimat terakhir/ambigu banget ini komenannya/ terus lepas deh emosi bagian capslocknya^^

    Like

    • Hehe iyep myungeun itu robot android dari manusia /maafkan ketidakjelasanku ini/ dan seokjin memanfaatkan keadaannya untuk kepentingan dirinya sendiri 😔
      Jujur aku jadi malu liat komen kakak yang manis hehehe
      Thans buat komen dan visitnya ^^

      Like

  3. KAK BEEEEEEEE~~

    MAAP KEPSLOK/?

    DEMI APAAN AKU SUKA EPEP INI T.T

    kebetulan aku juga pernah buat ff tentang android ‘-‘ tapi dengan genre yg agak lebih happy ‘-‘ (( promosi :v ))

    pertama kali aku ngeliat judulnya, tiba – tiba aku ngakak :V dalem ati aku bilang “pasti kak bee korban webtoon:v” dan akhirnya aku mulai baca :v

    pas aku scroll ke bawah, entah kenapa aku jadi kesal sendiri sama jin bities-nya. gak tau berterimakasih tu anak, kasihan banget si jin loplis di tinggal begitu cuman di jadiin kelinci percobaan. jadi orang gak ngerti perasaan cewek sih! walopun jin loplis android tapi dia juga cewek, mendingan jin bities sadar deh kalo dia telah menghancurkan perasaan seorang cewek (( maap lagi ke bawa emosi :v ))

    tapi plis, epep ini keren banget sumpah :v ini epep pertama yg buat aku emosi loh ‘-‘ (( kalo gak salah sih )) beneran dah, jin bities itu ya ampun :/ maap ya buat bang jin bities, tapi abang tetep ganteng kok :v

    keep writing kak bee~

    dan…semoga aja jin bities itu menyadari akan kesalahannya :/

    Like

    • CUPIDDDD ~
      /ikutan ketularan caps lock jebol/
      Aku terhura deh kamu suka sama epep buluk ini 😂
      DEMI APA KAMU JUGA BUAT SERUPA TAPI TAK SAMA???!!! Boleh ku minta linknya?
      Aku malah kenal konsep ini jauh sebelum ku kenal webtoon wkwkwk masih berupa komik buku biasa 😁
      Kenapa rata rata yang baca epep ini kena semua ya emosinya, jadi merasa bersalah /garuk garuk kepala sok innocent/
      Really? Ini pertama kalinya ff yang bikin emosimu ikutan? Ah, pasti ada lah ff para senpai di luar sana yang tambah bikin emosimu naik. Jangan membuatku malu oke 😏
      Thanks udah baca dan sebebas bebasnya orang ganteng semacem abang jin bertingkah, tapi kuharap dia cepat sembuh lah /PLAK/ 😁

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s