[Graduation Party]-Kasatmata

JIN-Kasatmata

KASATMATA

Stalkim98 || Park Myungeun (JIN) || AU, angst, school life || pg-15 || ficlet (972w) || Sekarang hanya ada dua nasib yang akan kita terima saat pesta kelulusan besok; berhasil atau menjadi siswa kasatmata di sekolah ini.

Pesta kelulusan selalu diadakan di setiap penghujung musim. Ada empat kali dalam satu tahun, dan normalnya satu batang hidung hanya melewati empat sampai lima musim. Artinya, mereka akan berhasil pada musim keenam mereka berada di sekolah. Tapi, tidak menjamin bahwa semua orang akan lulus hanya dalam waktu satu setengah tahun. Ada juga beberapa siswa yang dianggap mampu dan dinyatakan lulus hanya dalam kurun satu musim. Tidak menutup kemungkinan untuk hal itu.

AH!

Dan satu lagi.

Tidak ada yang bertanggung jawab kecuali diri sendiri jika sudah melewati dua puluh musim namun belum juga berhasil. Sampai apa yang dipelajari di sekolah seni di tengah hutan dapat melekat dalam hati penimbanya, maka keberhasilan juga tidak akan menyentuh ujung rambut.

“Semalam aku terus berdoa agar dapat keluar dari sini.” Seorang gadis berambut sebahu mengeluh sambil menyisir rambutnya. “Sekarang hanya ada dua nasib yang akan kita terima saat pesta kelulusan besok; berhasil atau menjadi siswa kasatmata di sekolah ini.”

Suara tawa menyeruak ke penjuru ruangan. Segera setelah beberapa pasang mata–kecuali sepasang mata milik gadis di sudut ruangan–menatap tajam padanya, kedua tangannya membekap mulut dan berkata sedikit pelan, “kau baru delapan musim di sini. Kau tidak akan dianggap sebagai siswa kasatmata, kecuali kau sudah lebih dari sepuluh musim.”

Volume suara yang sangat pelan tidak menimbulkan reaksi apapun dari orang-orang yang ada di ruangan. Kecuali mata gadis di sudut yang kini sudah menatap tajam satu persatu penghuni di dalamnya.

Sebenarnya siapa yang ingin pergi ke sekolah seni tua di tengah hutan itu? Myungeun mengutuk orang-orang yang sudah berhasil membawanya ke tempat kumuh yang penuh dengan otak tolol yang hanya mementingkan diri sendiri. Bukankah di dunia tidak ada orang baik? Tidak juga orang yang tulus memuji orang lain. Semuanya hanya untuk mendapatkan apa yang mereka berikan sebelumnya. Sialan! rutuk Myungeun dalam hati ketika seorang laki-laki tua yang rambutnya sudah dapat menjadi penerang saat lampu padam membawanya ke dalam ruang melukis. Myungeun tidak bisa melukis. Tidak bisa sama sekali.

Musim pertamanya di sekolah tua itu berjalan biasa saja. Statis. Sampai pada saat pesta kelulusan, ia gagal karena tangan, kaki, dan suara bodohnya. Siapa sangka bahwa gadis itu tidak bisa membedakan do, re, dan mi.

Hingga pada pesta kelulusan ke enam, ia masih setia berada di sekolah tua itu. Ketika banyak teman-temannya sedang menyantap kaki sapi bersama, ia hanya diam di pojok aula sambil terus menyumpah-serapahi pria tua berkepala botak yang tengah menyantap hidangan sambil tertawa. Pria botak itu yang membawa Myungeun ke sekolah ini, omong-omong.

“Myungeun-ah, gwaenchanha. Kau akan segera lulus dari sini. Aku akan selalu berdoa untukmu.”

Ah, dasar sialan! Siapa juga yang akan percaya dengan mulut manis milik orang-orang di aula itu? Bohong! Siapa yang mau mendoakan orang lain dengan tulus? Tidak ada! Hidup tidak cukup murah untuk mendapat ketulusan.

“Siapa yang mengizinkan kalian membawaku ke sini? Apa aku yang minta? Apa aku pernah berlutut padamu? Atau kau? Atau kau?” Myungeun tidak pernah merencanakan untuk memberonta berkata kurang ajar pada pengurus sekolah setelah pesta kelulusan kesepuluh berakhir. “Apa aku yang memohon agar dimasukkan ke sekolah ini?” Myungeun masih berdiri di ambang pintu. Air mata yang lolos dari pelupuk ia biarkan menganak sungai.

Tidak ada jawaban.

Myungeun melangkah masuk.

Saem, mengapa kau membawaku kemari hanya untuk membuang-buang waktu berhargaku? Tak bisakah kau membiarkan aku pergi?” Suaranya parau. Kali ini ia sudah berlutut di depan meja seorang pria tua berkepala botak. “Bukankah dari awal aku sudah katakan bahwa aku tidak bisa melukis? Aku juga tidak pandai menyanyi. Tapi–“ Ucapan Myungeun berhenti ketika mendengar suara kursi kayu yang bergesekan dengan keramik. Setelah kepergian pria tua itu, Myungeun menangis sejadi-jadinya. Tetap saja tidak ada yang peduli.

Saat musim kesebelas, dua belas, sampai empat belas, Myungeun kembali menangis di sudut aula. Saat mengetahui dirinya belum juga lulus–dan tentu saja harus bertahan satu musim lagi menjadi siswa kasatmata–. Tidak ada yang berpura-pura melihatnya. Meski suara isakannya lebih keras daripada suara musik yang berasal dari penampilan salah satu siswa sekalipun.

“Apa hanya aku yang sudah menghabiskan sampai empat belas musim di sini?” Myungeun tersenyum kecut sambil memandang pantulan wajahnya di cermin. Setiap pelajaran melukis, ia selalu berusaha mendapat nilai yang terbaik. Tetapi tetap saja, saat pelajaran menyanyi tidak ada yang memperhatikannya. Bahkan guru pengajar hanya menopang dagu sambil memejamkan kedua matanya.

Sudah lima belas musim.

“Sudah berapa musim kau di sini?”

“Empat, kurasa besok aku akan lulus.”

Myungeun menoleh. Kemudian pergi menjauh dari kamar asramanya.

Saem! Apapun yang terjadi, kumohon izinkan aku pergi. Tolong aku, Saem.”

Berhasil. Pria tua botak itu menatap Myungeun.

“Sudah berapa lama kau di sini?”

“Lima-belas.”

“Selama apapun itu, kau tidak akan pernah mati busuk di sini, Nak.”

“Apa?”

Setelah mengatakan itu, tidak ada ucapan apapun yang keluar dari lawan bicaranya.

Demi Pluto yang selalu hilang dari peradaban, Myungeun ingin membunuh semua orang di sekolah itu. Tidak, Myungeun hanya ingin melakukannya namun tidak benar-benar menepati ucapannya. Ia hanya bisa menangis saat ia harus menunggu lagi. Ia-masih menjadi siswa kasatmata.

Myungeun masih terjaga. Ia sudah tidak ingin berada lebih lama di sekolah itu. Myungeun sudah menyerah. Membuang waktu selama empat tahun hanya untuk melakukan hal yang tidak ia mengerti adalah hal terbodoh. Tapi malam ini, ia melakukan hal terbodoh–lebih bodoh dari melukis, menyanyi, dan melakukan kegiatan berbau seni lain.

Suara riuh tepuk tangan dari ratusan siswa memenuhi aula saat kepala sekolah menyebutkan nama lulusan terbaik musim ini, meski suara bisik-bisik terdengar di mana-mana.

“Siapa Park Myungeun?”

“Apa siswa kasatmata?”

“Aku tidak pernah tahu.”

“Seperti apa rupanya?”

“Sepertinya memang siswa kasatmata. Bukankah Kepala Sekolah berkata bahwa ia memiliki waktu sangat lama untuk melihat Park Myungeun?”

“Jadi selama ini ia bukannya tidak lulus tetapi memang disiapkan untuk menjadi maestro seni dunia? Hebat sekali! Sayang sekali terlalu lama di sini membuatnya menjadi siswa kasatmata.”

Dan masih ada banyak kalimat yang terlontar dari mulut ke kuping sampai pintu aula terbuka keras dan menampakkan seorang siswa perempuan.

“Park Myungeun–mati bunuh diri.”[]

.

.

.

FIN

.

.

SELAMAT ULANG TAHUN MBAK MYUNGEUN DAN DEK YEIN! ©

Awal dapet ‘angst’ sempet seneng. Tapi pas mau nulis tiba-tiba nggak kepikiran mau gimana dan jadi seperti ini. Ah maafkeun sangat mengecewakanㅠㅜㅜㅠㅠ

Stalkim ucapkan terima kasih untuk yang sudah baca. Maafkeun gakerasa angst nyaㅠㅠㅠ jangan lupa jejak ya^^©©©©©©©

Advertisements

6 thoughts on “[Graduation Party]-Kasatmata

  1. Ya ampun…jd dek Myungeunku akhirnya udah jd seniman kece tapi…akhirnya bunuh diri? :”””(

    Kasian bgt atuh :(( Karena dia bener2 gak dianggep gitu ya? Dia udh capek dan frustasi? T_T

    Liked by 1 person

    • hai kak azeeeelll
      iya seperti itu wkwk
      yap, semua orang pasti bakal gitu, nyerah kalau udah nggak dianggep :”'(

      makasih udah baca dan komentar kak^^ maafkeun baru sempat balas hehe

      Like

  2. sebelum komen lebih lanjut, aku mau kepo dulu: kasatmata maknanya apa?’-‘ tadinya kukira ini sekolah hantu, tapi yakali’—‘ soktau bgt heung maafkeun~😞

    sayang lho dia bunuh diri… padahal dia udah jadi maestro:((

    Liked by 1 person

    • haihaiii
      kasatmata artinya nggak terlihat mata gitu
      haha awalnya mau bikin kaya gitu/serius/ tapi gajadi gegara bukan genre horor :”D
      yap, gitulah, terlalu lama diabaikan sih :”’)

      makasih night udah mampir^^ maafkeun baru sempat balas hehe

      Liked by 1 person

  3. Satu musimnya berapa bulan? kayanya lama banget, aku ga ngeh soalnya. Dan kasian dia udah frustasi saking lamanya sekolah sampe bunuh diri padahal udah jadi ‘seseorang’…. T.T walaupun kasat mata

    Liked by 1 person

    • sebenernya ini pakai waktu korea sih, jadi satu musim=empat bulan, huhu maafkeun gadikasih penjelasan
      iyap banget, kamu jangan gitu ya, percaya deh semua akan indah pada waktunya wkwk :”’D

      makasih ANi udah mampir^^ maafkeun baru sempat balas hehe

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s