[Graduation Party] Aparecium

Standard

aparecium.png

APARECIUM

(v.) reveals

aurora’s property

Park Myungeun (JIN) – Jeon Jungkook – Park Sooyoung – Jung Yein
a vignette (1.4k words only)
detective story ; crime ; school-life ; slight!romance
rated 15+

Poster © Aqueera via POSTER CHANNEL

This is just a fictional work and doesn’t mean any harm to anybody.
I do not hold grudge against the said person.

warning: language and sensitive topic


Prom night-ku tidak berjalan lancar.

Menyebalkan? Iya, tentu saja. Bayangkan kau sudah menghabiskan berjam-jam untuk berdandan dan mengecat kuku—oh! Belum lagi bolak-balik butik A dan butik B demi gaun yang pas. Kemudian, tiba-tiba saja whoosh, persiapanmu menjadi sia-sia seperti menuang garam ke lautan.

Namun, yang merusak malam menyenangkan ini bukanlah pasangan cowok yang berdandan zonk atau seorang cewek yang menumpahkan limun ke gaunku. Bukan. Tidak sesederhana itu.

Sesuatu yang mengejutkan terjadi dan mengacaukan acara yang telah diorganisir sejak berbulan-bulan ini. Park Sooyoung, murid kelas Social-II, ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di toilet hotel tempat prom berlangsung. Tubuhnya membeku, terbaring di lantai dekat wastafel, darah banjir di sekitar pergelangan tangannya dan sebuah pisau Swiss terkapar di sampingnya.

Yeah.

Konklusi yang diambil orang-orang awam (mendekati tumpul): Park Sooyoung memotong nadinya sendiri di pesta dansa kelulusan.

Konklusi yang diambil orang-orang kritis: Pasti ada sesuatu yang mendasari segmentasi di atas.

Konklusi yang kuambil: Bah, aku tidak bisa tidur dengan tenang malam ini.

Mengganggu, karena—perlu kuberitahukan—ayahku berprofesi sebagai kepala kantor polisi di kota kami dan menjadikan orang-orang dengan ikhlas hati menyerahkan acara penyelidikan masalah kepadaku. Kuulangi, semua orang, bahkan termasuk di dalamnya ayahku yang tak pernah lepas dari lencana yang ia banggakan selalu.

“Kuserahkan padamu, Myungie, berhubung kasus ini terjadi pada pestamu dan sekalian melatih bakat yang kuwariskan padamu!”

Bagi para murid yang melihat secara langsung bagaimana Ayah menyerahkan tugas sucinya padaku, kedengarannya pasti menyenangkan. Wah, disuruh ayah bermain detektif-detektifan untuk mencari tahu penyebab kematian teman seangkatan. Asyiknya!

Bagiku sih, ini seperti diberi makan salad isi buah simalakama. Kalau saja penyebab peristiwa bunuh diri Park Sooyoung ini bisa dicari di google, maka tak perlu aku berpusing-pusing ria.

Sialan, mestinya aku berdansa dengan Youngjae dan membuat kenangan-kenangan menyenangkan bersama teman-teman masa sekolah, bukannya diberi tanggung jawab untuk memecahkan kasus. Perlukah aku mengganti gaun biru pirusku ini dengan pakaian a la Conan Edogawa dan memakai spektakel?

.

.

Dari penyelidikan amatir yang kutempuh melalui teman-teman terdekat korban—berhubung aku pribadi tidak cukup akrab dengannya—aku mendapat beberapa cuil informasi mengenai kehidupannya terdahulu.

Park Sooyoung siswi yang baik meskipun frekuensinya didetensi ternyata lebih sering dariku, namun nilai-nilainya bagus, pun semua anak menyenanginya karena sifatnya periang dan mudah bergaul. Tipikal siswi SMA biasa yang tidak pernah diasumsikan akan mengakhiri hidupnya di pesta kelulusan, apalagi saat orang-orang sedang larut euforia mencoba sampanye—mentang-mentang sudah legal.

Ada dua orang yang kuperkirakan adalah penyebab Park Sooyoung melakukan hal bodoh tersebut.

Yang pertama, Jeon Jungkook. Aku tahu dia, meskipun tidak kenal-kenal amat, tetapi cowok ini populer—apalagi di kalangan cewek-cewek centil penggosip dan aku bukan salah satunya, trims. Korelasinya dengan kematian Park Sooyoung?

Nah, baru-baru ini Jungkook dirumorkan cukup dekat dengan korban. Aku sering mendengar teman-temanku bergosip di jam istirahat, tapi sebelumnya aku tak terlalu beratensi dengan topik tersebut, aku tak peduli. Mana kutahu kalau gosip mereka bisa jadi sesuatu yang sebegini krusial?

Saat prom, mereka berpasangan. Seorang saksi menyebutkan bahwa mereka sempat berdansa sebentar sebelum Sooyoung permisi ke toilet—tahu-tahu itu adalah dansa pertama dan terakhir mereka, sungguh tragis, silakan jadikan kisah mereka sebagai inspirasi menulis melodrama.

Yang membuatku menjatuhkan tuduhan pada Jungkook ialah fakta yang menyebut bahwa cowok ini suka main api. Bukan main api secara harfiah dengan buang-buang stok korek dan minyak tanah, tetapi main api yang itu—silakan tanya guru literaturmu. Temanku Hayoung, sumber terpercaya bilang, Jungkook bahkan masih suka main mata (tidak dalam arti harfiah) dengan cewek lain di prom night, salah satunya dengan Jung Yein—adik tingkat kami yang merupakan ketua klub ilmiah.

Spekulasiku: Sooyoung sakit hati dan cemburu dengan kelakuan Jungkook, kemudian terbawa emosi dan bunuh diri. Cukup rasional.

Orang kedua yang kuasumsikan adalah Myoui Mina, mantan pacar Jungkook sebelum cowok tukang main api itu tertarik pada korban. Aku juga tidak kenal-kenal amat dengannya; peduli eksistensinya pun tidak. Katakanlah aku kurang gaul, tapi cewek-cewek di kelas suka sekali bergosip dengan suara bervolume super, jadinya aku tak sengaja menangkap info bahwa Mina dan Jungkook pacaran.

Oh, ada juga beberapa tindak-tanduk afeksi mereka yang sempat tertangkap mataku. Dari pengamatanku sih, Mina dan Jungkook ini kepalang mesra sampai-sampai kaum single tidak berani mendekat dalam radius dua meter. Tidak ada yang mengira mereka bakal bertengkar suatu pagi di parkiran, dan coba tebak?

Siangnya, Jungkook langsung menggandeng Park Sooyoung ke kantin, makan bersama, suap-suapan—yeah, seperti itu. Berkat lingkaran gosip di kelas, aku tahu bahwa Park Sooyoung sempat menerima surat-surat kumal berisi coretan menggunakan spidol merah. Banyak yang berasumsi bahwa itu perbuatan Mina.

Deduksiku: Karena Sooyoung tidak kuat diteror Mina, dia bunuh diri.

Sekian. Terima kasih sudah menyempatkan diri menyimak deduksi-deduksiku.

(Sudah kubilang, Aku ini amatir. Jangan mengharapkan deduksi yang lebih kritis, deh.)

.

.

Aku menemui Dr. Soojung di laboratorium forensiknya saat pagi menyela, sehari setelah kematian Park Sooyoung. Dr. Soojung adalah rekan kerja Ayah yang cukup akrab denganku, beliau wanita muda bertubuh mungil namun isi kepalanya mampu membuat orang idiot menangis tak kuat.

Dr. Soojung tak suka basa-basi, setelah aku sukses duduk di sofa sambil meraih toples oreo, dia langsung mengatakan,

“Temanmu si Park, dia tidak mati bunuh diri. Dia dibunuh.”

Gigitanku pada biskuit terhenti seketika. Selamat tinggal deduksi-deduksi amatirku.

“Dibunuh? Bukannya ada sidik jari Sooyoung di pisau Swiss yang ada di dekatnya itu?” tanyaku heran dengan alis mengerut.

Dr. Soojung menghela napasnya dan memutar bola mata. Reaksinya kalau berhadapan dengan seorang idiot. Aku bukan idiot, tapi kalau berhadapan dengan Dr Soojung maka akulah si idiot.

“Lalu buat apa dia repot-repot memotong nadinya sendiri kalau sebelumnya sudah minum sampanye yang dicampuri racun brucine, hah? Supaya orang-orang percaya kalau dia bunuh diri dan melindungi pembunuhnya? Baik hati betul! Sekaligus tolol, karena melupakan eksistensi tim penyelidik!”

Dr. Soojung masih mengomel, entahlah, barangkali dia habis berdebat dengan suaminya perihal dasi apa yang harus dipakai hari ini sehingga suasana hatinya agak kurang baik. Yang pastinya aku tak mendengarkan celotehan cempreng Dr. Soojung, aku termenung sambil memikirkan berbagai hal dan mengunyah oreo.

Racun brucine… dalam sampanye, memotong nadinya supaya orang percaya kalau dia bunuh diri, melindungi si pembunuh…

Sial, rasanya seperti ada benang tak kasatmata yang saling menghubungkan. Seperti ada sesuatu yang berputar-putar dalam kepalaku dan membuatku kena gejala migrain.

“Dr. Soojung?”

“Ya?”

“Kau punya aspirin?”

.

.

Alih-alih memberiku aspirin, Dr. Soojung malah menendang pantatku dari sofanya, dan menyuruhku melakukan penyelidikan lagi. Tidak ada waktu untuk sakit kepala! teriaknya sebelum membanting pintu di depan hidungku.

Namun sakit kepala ini ternyata melebur, dan ujung-ujungnya berkoalisi jadi rasa lapar yang menuntunku ke gerai McDonald’s terdekat, lalu memesan Big Mac dan McFlurry, duduk sendirian di dekat jendela sampai dua profil yang kukenal datang mendekat.

Jeon Jungkook, yang baru saja kehilangan pacarnya, dengan—barangkali—mainan barunya, Jung Yein. Ah, ternyata bukan cuma giginya saja yang diasosiasikan dengan kelinci, jiwanya pun menyerupai.

Mungkin saja Jungkook berniat pencitraan dengan menemuiku, membahas perkara mantan pacarnya yang mungkin sudah jadi malaikat berhalo di surga sana.

“Jadi, Jungkook, kaubilang kau ada di aula ketika Sooyoung permisi ke toilet?”

Aku bertanya, dengan alis terangkat sebelah, memegang gelas karton McFlurry.

“Iya. Lalu kira-kira lima belas menit kemudian…”

“Aku tahu, aku tahu,” potongku, tidak mau mendengar ratapan palsu Jungkook.  “Nah, apa kau tahu kalau sampanye yang diminum pacarmu itu ada racunnya?”

“Maksudmu? Ada orang yang memasukkan racun ke dalam gelas Sooyoung dan dia berpura-pura bunuh diri?”

“Jawab saja dulu.”

“Kau bercanda? Tentu saja tidak! Dia minum dalam satu tegukan, berdansa sebentar, kemudian permisi ke toilet.”

“Hm, dan Park Sooyoung tentu sadar kalau dia terminum racun, barangkali dia juga tahu siapa yang memasukkan racun ke dalam gelasnya. Lalu dia memotong nadinya supaya orang-orang mengira dia bunuh diri dan tidak mencurigai si pembunuh ini.”

Jungkook tidak menjawabku, dia mendadak lebih tertarik memandangi kentang gorengnya yang sisa seperempat.

“Dia terlalu baik hati, dan bodoh.” Aku berkata cepat sebelum melempar pandangan keluar jendela raksasa di samping kananku, mengamati pergerakan mobil-mobil yang membentuk diorama tersendiri, sesekali berfantasi memecahkan kaca ini ala-ala Tris Prior—oke, maaf, aku tidak fokus.

“Kau menuduhku membunuhnya?” sambar Jungkook, asal-asalan.

“Tidak, tentu saja tidak. Aku cuma mencari alibimu supaya deduksiku tidak mengarah padamu terus,” balasku sebelum menyeruput McFlurry.

“Sama saja.”

“Terserah,” dengkusku, kemudian menoleh ke sisi kanan Jungkook, “bagaimana menurutmu, Yein?”

“Aku?”

Gadis berambut panjang itu tampak kaget, bingung. Ekspresi mukanya inosen. Kenapa kakak detektif ini menanyaiku? begitulah kira-kira kalimat yang dibentuk pola pandangannya. Tetapi kuabaikan.

“Iya. Menurutmu kenapa Park Sooyoung ini sampai diracuni, kemudian memotong sendiri nadinya supaya orang-orang mengira dia bunuh diri?”

“Sooyoung-unni terlalu baik, aku tidak mengerti kenapa penjahat ini sampai memberikan racun brucine ke dalam minumannya,” jawab Yein.

Kedua sudut bibirku merangkak naik, membentuk kurva simetris dan berkoalisi jadi senyum tipis.

.

.

.

“Ayah? Aku sudah ketemu pelakunya,” ucapku singkat, kemudian memutus sambungan telepon.

finish.


notas:

1.) Yha… nanti dikasih penjelasannya deh asal kalian nggak malu bertanya.

2.) Detective story isn’t my comfort zone to write, nor my cup of tea of reading despite being a Sherlockian. And, I’m so lacking the skill of making crime riddle.

3.) Well maybe this is goddamn late but happy birthday, Park Myungeun. I hope your agency do some justice to your talent. Your voice is hella gold but your oh-so-little part in songs makes you underrated and it’s such a waste ;_______;

4.) Tbh aku rada mager ngerjain pertengahan sampe akhirnya HAHAHA.

*throw mic*

kisses,
aurora.

Advertisements

14 thoughts on “[Graduation Party] Aparecium

  1. ANi

    Yang bunuh Yein? Aku ga terlalu yakin kalo itu Jungkook/alah/

    Tapi waktu liat judulnya ‘Aparecium’ kok aku jadi mikir ini bakal mirip Harry Potter. Pokoknya aku suka^^

    Like

  2. IMEL

    Yein yang bunuh yaaahhh? Soalnya dia tau racun apa yg ada di sampanye yg Sooyoung minum. Case closed

    Aku sukaaaaaakkkk sama pencitraan(?) tiap katanya. Gatau sih suka aja baca fanfict mcem gini. Berat tapi ringan(?) gitu /maunya apasi/

    Like

  3. yah yein mungilku, kamu nyaris selamat dari tuduhan myungeun kalo aja kamu nggak sebut nama racunnya😗

    dan keputusan bapaknya utk kasih kasus ini ke putrinya itu tepat banget. bayangin kalo sampe bapaknya yg harus nanya2 gosip ttg sooyoung-jungkook-(yein)-mina, ih ngga bgt deh😧

    Like

      • tapi justru faktor ini lho yg bikin para penjahat mudah ketangkap; lidah emg kadang susah dikontrol, apalagi kalo udah melibatkan emosi.

        …ra, yakali😐 bisa ilang respek masyarakat sama detektif yg hobi rumpi. sama anak sekolahan, pula😂

        aku sudah mampir btw, dan HA! ini kok jadi komedi jatohnya😂😂 tapi aku kok nggak percaya jungkook bakal merana. apalagi terungkap fakta bahwa jungkook itu bergigi (dan berjiwa) kelinci. ah, yein, mungkin kamu bakal berhasil lain waktu

        (lah kok jadi protes sih sama plotnya) intinya aku mah suka ra, mau blg apalagi? dan, lihat. komenku jadi lebih panjang dr reply-mu;-; kuakhiri dgn salam semangat, aurora💕 jangan bosan menulis!😆

        Like

      • aurora

        wkwk jadi pesan yang bisa dipetik dari sini adalah: kalo mau ngomong di-beta dulu biar ga ketauan (HAH APA). ih daripada detektif kecil yang tiap liburan sama dia selalu kedapetan kasus gimana… ((conan maaf)) ((tapi aku tetap sayang kamu)). aku kan gak bakat buat yang serius2 jadinya dilawakin aja :”D wkwk aku suka kok ngobrol yang panjang2 kak. sippo makasih banget udah main ke tumblr-ku yhaaa. semangat juga buat kakak 💙💙💙

        Like

  4. azeleza

    AKU SELALU SUKA DEK AIS…eh salah, KARYANYA DEK AIS YANG TOKOH2NYA SASSY INI.

    Myungeun kebayang kayak anak yg ogah-ogahan, tapi dilakuin jg. Obrolan sama Dr. Soojung jg lucu bgt, apalagi pas minta aspirin -maafin tingkat humor aku yg receh, tapi aku ketawa-ketawa pas bagian itu XD

    Anw, ada apa sama kamu dan kecenderungan kamu ngebuat Jungkook jadi cowo kurang ajar minta ditampar? wkwkwk Not hating it tho, karena Kookie di dunia nyata udh terlihat begitu sempurna. Di dunia fiksi si dedek ini harus merana… /eh, ini apa maksudnya…/ Penasaran jangan2 Yein udh ngebumbuin kentang goreng Jungkook pake racun jg gegara dia terlalu sering main mata :”] Gpp jg sih, jd keinginan aku u/ ngebuat Kookie merana jd terkabul /hei!/

    Konklusi dari aku: enjoy bgt bacanya :”D aku menunggu yg lain, dek Ais :*

    Like

    • aurora

      WKWK ALL HAIL SASSY CHARA! emang keknya kalo ditulis sama aurora tuh nggak lepas dari sassiness WKWKWKWK.

      lha kak azel ketawa? padahal itu dibikinnya nggak sengaja loh. terus… soal kuki yang kurang ajar… yha karena dia dalam pandanganku masih bocah yang suka sembarangan gitu loh. bocah yang egois, ngeselin, terus saking polosnya jadi ga peduli perasaan orang ((BUSET padahal aing lebih muda tiga taon)) tapi kalo mau membaca jungkook as sobat cowok menggemaskan, atau jungkook as abang gentlemen… bisalah mengunjungi blog adinda. (LAH PROMOSI SIANJAY). bisa tuh si yein diem2 psycho gegara capek dimainin. you go girl!

      kusenang kak azel enjoy mbacanyaa. ini hadiah dari qu h3h3h3 👉 http://p0nytale.tumblr.com/post/146652323876/why-yein

      Liked by 1 person

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s