[Graduation Party] Reticent

Standard

1465025685637

[Graduation Party] Reticent – Nightskies

is made as part of Graduation Party with Yein and JIN

Myungeun bukan orang dewasa, dan juga bukan anak kecil, tapi ia baru tahu bahwa jatuh cinta ternyata bisa sesalah ini.

JIN [Myungeun] (Lovelyz) with Jimin (BTS)

Oneshot

Angst, Friendship

G

Disclaimer: The entire event that happens in this story is all pure fictional, none of them are true. Any same events, same persons, same places, are pure coincidences. All the characters in this story belong to wherever they are, while the poster and story also the love for JIN is mine.
Plagiarism is a bad thing, you know, and it will bite back someday 😉

***

Myungeun masih menjadi siswi tahun kedua di SMA-nya saat Jooeun, kakaknya, berangkat ke Jepang untuk memenuhi lamaran pekerjaan dari sebuah perusahaan teknologi ternama. Meski Jooeun hanya pergi selama kurang-lebih tiga tahun, bagi Myungeun waktu tersebut terasa lama. Apalagi kakaknya itu berkemungkinan untuk tidak pulang terlalu sering karena berbagai alasan (yang salah satunya Myungeun yakin tak jauh-jauh dari ”pekerjaan kantor”).

Karena itu, Myungeun menyimak baik-baik setiap kata yang diucapkan kakak tersayangnya, karena gadis itu tahu ini terakhir kalinya ia bertatap muka dengan Jooeun.

“Ada saat dimana hal-hal yang tidak pernah kau ucapkan pada seseorang, sebaiknya tetap tersimpan di belakang tenggorokanmu. Kalian mungkin sudah berjanji untuk tak menyimpan rahasia sekecil apapun, tetapi isi hatimu selamanya adalah milikmu. Ia tak berhak tahu kecuali kau izinkan. Hanya saja, kau tahu dimana posisimu, bukan? Kau tahu perasaan kalian tidak sama, dan kuyakin kau tahu bahwa dalam cinta yang bertepuk sebelah tangan, hanya ada satu pihak yang tersakiti. Jadi Myungeun, selama aku pergi, jaga dirimu baik-baik dari patah hati. Aku tak mau kau terpuruk hanya karena dia.”

Gadis itu mengira Jooeun akan memintanya untuk tekun belajar agar setelah lulus sekolah, Myungeun bisa menyusulnya ke Jepang. Atau untuk mematuhi segala ucapan Ayah dan Ibu. Atau setidaknya, untuk tidak mengulangi segala ulah jahilnya di masa kecil.

Di antara semua hal yang harus dipesankan Jooeun padanya, kenapa harus tentang “itu”?

Myungeun bukan orang dewasa, dan juga bukan anak kecil, tapi ia baru tahu bahwa jatuh cinta ternyata bisa sesalah ini.

“Myungeun!”

“Apa?”

“Kita jadi berangkat bersama untuk gladiresik wisudamu?”

“Tentu saja jadi.”

“Omong-omong, ada apa denganmu? Ketus sekali. Pantas tak ada yang mau denganmu.”

“Mau kupinjamkan kaca? Kau pikir ada yang mau denganmu?”

“Aku yakin Jiyeon mau denganku.”

‘Lalu bagaimana denganku yang sudah pasti mau denganmu?’

“Myungeun?”

“Jiyeon-unnie? Denganmu? Hah. Pasti hanya dalam mimpi siang bolongmu, Jimin.”

“Hei!”

Sudah hampir setahun Jooeun berada jauh dari rumah, dan entah bagaimana, perasaan Myungeun pada lelaki itu tidak berubah. Padahal ia hapal luar kepala dengan pesan kakaknya, seperti baru disampaikan beberapa jam lalu. Ia juga tahu betul alasan kakaknya berpesan demikian. Dan ia sadar sepenuhnya apa akibat yang akan timbul jika ia bertahan.

Namun, hatinya tak dianugrahi telinga. Meski otaknya sudah berulang kali memerintah Myungeun untuk tidak lagi bertahan, tapi hatinya bersikeras untuk tetap tinggal, menunggu lelaki itu melihat ke arahnya. Padahal, kucing yang sedang termangu menatapnya—mungkin kucing itu berpikir ‘kenapa manusia ini duduk di atap sepertiku’—pun tahu bahwa penantiannya akan berakhir sia-sia.

Myungeun sudah lelah menanti, sungguh. Tapi ia tak bisa berpaling. Kemana pun ia pergi, hanya sosok lelaki itu yang dapat Myungeun lihat. Hatinya tak siap meninggalkan lelaki itu, meski pada akhirnya ia memang harus pergi.

“Kau sudah siap? Atau masih ada yang tertinggal?”

“Sudah beres. Maaf membuatmu menunggu.”

“Tidak masalah, ayo naik.”

“Jimin?”

“Ya, Myungeun?”

“Terima kasih sudah mau menjadi pendamping untuk wisudaku lusa.”

“Hei, tentu saja aku mau. Kau ‘kan temanku, dan aku akan membantumu, kapanpun itu. Lagipula, tak ada yang bisa menyalahkan orangtuamu yang harus ke Jepang karena Jooeun-noona kecelakaan, bukan?”

‘Mereka ke Jepang bukan karena itu, Jimin. Tak pernah ada kecelakaan. Kenapa kau mudah sekali percaya?’

“Myungeun?”

“Sungguh tidak apa-apa?”

“Ya, lagipula aku bisa bertemu Jiyeon disana. Aku senang sekali ternyata ia juga menjadi pendamping untuk Momo!”

“Jimin, bisakah untuk sehari saja kau tidak membicarakan Jiyeon-unnie?”

“Memangnya kenapa?”

‘Aku sakit mendengarnya.’

“Eun, kenapa kau selalu diam saat kutanya?”

‘Aku tak akan pernah siap untuk mengatakannya padamu.’

“Eh, sejak kapan kau tidur? Hei, kalau kau mengantuk, harusnya kau tak usah memaksa ikut gladiresik. Hmm, tapi aneh. Ini ‘kan masih siang, jangan-jangan kau terjaga semalaman?”

Langit senja kali ini terlihat bersih. Tak ada sinar matahari atau warna biru langit yang terlihat, seluruhnya tertutup awan, membuat Myungeun hanya dapat melihat warna putih sejauh mata memandang. Gadis itu tersenyum kecil, untuk pertama kalinya ia dapat melihat langit sebersih ini, sekaligus untuk yang terakhir kali.

Myungeun menghirup udara dalam-dalam. Bukannya merasa lega, ia justru merasakan sesuatu yang aneh dalam batinnya. Ada rasa perih, sesak, sekaligus kesedihan yang bercampur aduk. Gadis itu tidak pernah merasakan perasaan yang seperti ini sebelumnya, dan ia benci memilikinya.

Ini semua karena lelaki itu.

Park Jimin namanya. Lelaki dengan mata sayu dan bibir tebal itu berteman dengan Myungeun sejak sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu, Myungeun menjahili anak tetangganya seperti biasa, dan sepertinya Jimin sedang tidak beruntung. Baju baru dan tas kesayangannya terkena lumpur akibat ulah Myungeun yang menyandung langkah Jimin agar terjatuh ke kubangan.

Seperti biasa, Myungeun tertawa karena ulahnya berhasil. Namun, beberapa saat setelah gadis itu menjahilinya, Jimin menangis dan untuk pertama kalinya dalam “Sejarah Kejahilan Myungeun”, gadis itu merasa bersalah pada “korban”-nya sendiri dan meminta maaf.  Gadis itu bahkan rela dimarahi ibu Jimin, namun semua kemarahan itu terlupakan saat Jimin yang tiba-tiba datang membelanya, dengan berkata bahwa Myungeun sudah meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya di masa depan.

Pada detik itulah, Myungeun dan Jimin resmi bersahabat.

Namun, momen dimana Myungeun jatuh cinta pada Jimin memiliki cerita yang berbeda.

Tidak. Myungeun menggelengkan kepalanya berulang kali, lalu melempar tatap ke langit. Ia menolak untuk melihat kilas balik yang menyimpan kisah saat hatinya jatuh pada Jimin.

“Myungeun? Kenapa buru-buru pulang?”

“Aku tidak enak badan dari semalam, Jimin. Kau ‘kan lihat sendiri, tadi aku tertidur di mobilmu.”

“Gladiresik wisudanya ‘kan belum selesai?”

“Kalau kau masih ingin disini, tidak masalah. Aku bisa pulang sendiri.”

“Ini sudah malam, Myungeun. Bahaya, apalagi kondisimu sedang tidak baik. Tunggu sebentar, aku akan pamit pada Jiyeon setelah itu kuantar kau pulang.”

“Aku berencana menumpang motor Wonwoo, sebenarnya.”

“Oh.”

‘Cegah aku, Jimin.’

“Baiklah, pastikan ia mengantarmu sampai pintu rumahmu.”

“Tentu, aku pulang dulu.”

“Ya, hati-hati.”

“Ih, kemana dia? Lama sekali.”

Myungeun meraih ponsel yang ia letakkan tepat di sisinya, berniat mengirim pesan ke lelaki itu.

Myungeun96: dimana kau?

JiminGotJaem: aku sudah di depan rumahmu

Myungeun96: di depan rumahku? kenapa tidak langsung ke atap?

Myungeun96: tunggu, jangan katakan padaku kau takut memanjat tangga?

JiminGotJaem: aku berani!

Myungeun96: ya sudah, cepat kesini!

JiminGotJaem: …atau tidak juga

JiminGotJaem: bukakan pintunya! aku mau masuk lewat rumahmu saja!

Myungeun96: ih, dasar penakut!

Gadis itu terkekeh pelan sambil turun dari atap rumahnya. Diam-diam, ia lega masih diberi kesempatan melihat sisi ini dari Jimin sebelum ia pergi.

“Kukira tadi kau datang dengan Jimin-hyung?”

“Ya, tapi ia masih ingin disini.”

“Eh, kukira ia kesini untuk menemanimu?”

“Memang, tapi ia punya niat lain. Karena itu aku membiarkannya untuk tetap disini jika ia mau, dan berkata bahwa kau yang akan mengantarku pulang.”

“Tapi kau tahu aku tidak bisa, ‘kan? Aku harus langsung bekerja setelah dari sini.”

“Wonwoo, kau pikir aku serius? Aku bisa pulang sendiri, lagipula jarak antara gedung ini dan rumahku ‘kan tidak terlalu jauh.”

“Apa itu artinya kau baru saja berbohong pada Jimin-hyung?”

‘Ya, aku berbohong.’

“Kenapa kau berbohong?”

‘Karena aku tak bisa mengatakan yang sejujurnya pada Jimin.’

“Emm, tidak apa-apa jika kau tak mau menjawab. Maaf sudah bertanya.”

“Tidak biasanya kau memintaku menemuimu di atap, Eun,” ucap Jimin begitu keduanya sudah duduk bersisian. “Terlebih kau tahu aku fobia ketinggian.”

“Ih, lelaki macam apa sih, kau ini. Dengan ketinggian saja takut.”

Well, jika aku bisa memilih fobiaku, maka ketinggian tidak termasuk di antaranya. Dan kau sendiri, masa’ dengan udang saja alergi?”

Well, aku ‘kan, tidak bisa memilih alergiku.”

Jimin menatap Myungeun dengan tatapan kesal karena kalimatnya “dipinjam” untuk “ balas menyerangnya”. Namun gadis itu hanya tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Jimin, yang kemudian dibalas dengan tawa kecil.

“Omong-omong, kapan Jooeun-noona pulang? Setelah ia sembuh?”

Myungeun menegang mendengar pertanyaan itu. ‘Kau tidak tahu bahwa keluargaku punya rencana lain, Jimin.

“Aku dan orangtuaku yang akan kesana. Tapi, karena wisuda, aku harus menyusul sendiri. Jadi begitu acaranya, kau mau mengantarku ke bandara?”

“Kau akan ke Jepang? Kalau begitu, bawakan aku sesuatu!”

“Kau ingin apa?”

“Apapun pernak-pernik yang menarik di matamu selama kau disana.”

Hmm, aku harusnya tanya Jooeun-unnie tentang ongkos pengiriman barang antarnegeri saat ia menelpon kesini beberapa bulan lalu.

“Penampilan yang luar biasa, Myungeun! Kuyakin kau akan tampil luar biasa besok, saat wisuda.”

“Terima kasih, Jiyeon-unnie. Kenapa kau sendirian? Dimana Momo?”

“Sedang bersama Mina dan Sana.”

“Ah, itu mengingatkanku. Unnie, aku harus menemui mereka.”

“Ada apa?”

“Aku hanya ingin bertanya seputar Jepang pada mereka. Kau tahu kakakku sedang di sana, bukan?”

“Ah, begitu. Kalau tidak salah, mereka sedang duduk di dekat pintu masuk. Omong-omong, apa kau bertemu Jimin?”

‘Kenapa gadis ini sempat-sempatnya menanyai Jimin?’

“Kau tidak lihat dia?”

Unnie, aku tidak kesini bersamanya. Lagipula, ia sudah menemaniku kemarin untuk gladiresik wisuda. Aku tidak enak jika memintanya untuk menemaniku latihan untuk pertunjukkan besok.”

“Tapi aku baru saja melihatnya disini. Kukira ia datang bersamamu, tadi ia menyapaku sebentar lalu pamit untuk menemuimu. Kau benar-benar tidak melihatnya?”

“…Apa?”

Myungeun menghela napas saat ia mengingat kejadian tadi siang. Hatinya seperti teriris mengetahui bahwa Jimin lebih memilih untuk menemui Jiyeon daripada dirinya.

“Aku belum mendapat jawaban darimu saat tiba disini.”

Kumohon, jangan tanyakan.

“Tidak biasanya kau mengajakku bertemu di atap.”

Myungeun harusnya kalau bahwa Jimin tak mungkin melupakan pertanyaan sesederhana itu hanya dalam durasi sekian menit.

“Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin kukatakan. Tapi Jooeun-unnie sudah berpesan padaku untuk tidak pernah memberitahu siapapun soal itu.”

“Ia ‘kan tidak disini, maka tidak apa-apa.”

Myungeun tertawa. “Kau licik sekali jika sudah penasaran, Min.”

“Kita sudah lama tidak bertukar rahasia, Eun. Kurasa akhir-akhir ini kita tidak sedekat dulu lagi. Seperti, ada yang menjauhkan kita.”

Kau yang membuat jarak itu, Min. Kau selalu sibuk dengan Jiyeon hingga lupa padaku.

“Maaf jika akhir-akhir ini aku sering meninggalkanmu, Eun.”

Atau mungkin aku, yang menjauhkan diri darimu agar kau tak pernah tahu.

“Kita masih teman, ‘kan?”

“Kita selalu jadi teman, Min. Hanya saja, mungkin belakangan kita sedang sama-sama sibuk, sampai kita jarang menghabiskan waktu bersama.”

“Bagaimana jika kita pergi ke kedai es krim begitu kau kembali dari Jepang?”

“Itu ide bagus!” Sayang sekali aku tidak bisa melakukannya.

“Tentu saja, aku berencana untuk memberitahumu sesuatu begitu hari itu tiba.”

“Apa itu?”

“Eits, kau harus tunggu sampai kau kembali dari Jepang!” Jimin tertawa.

Min, kau tidak tahu. Besok adalah hari terakhir bagi kita untuk bertemu!

“Aku tahu raut wajah itu, Myungeun. Jika kau sepenasaran itu, kembalilah dari Jepang secepat mungkin.”

Min, kumohon jangan seperti ini.

“Tenang, aku janji aku akan katakan semuanya.”

“…Baiklah.”

Myungeun menantikan hari ini tiba selama dua tahun lalu. Hari kelulusannya.

Tapi untuk detik ini, ia tak ingin hari ini datang.

Ia sedang berdiri bersama teman-teman sekelasnya, bersiap untuk memasuki ruang wisuda. Kakinya melangkah seiring dengan langkah kawannya, tapi matanya tidak tertuju ke depan, melainkan pada Jimin yang ia temukan di antara keramaian, tanpa perlu mencari-cari. Lelaki itu sedang mengangkat kameranya ke arah Myungeun dengan senyum lebar. Myungeun tersenyum, berusaha sebisa mungkin untuk tidak memikirkan kejadian tadi malam.

Ia tak pernah merasakan penyesalan sebesar ini sebelumnya.

Myungeun menyadari bahwa ia melamun nyaris selama acara berlangsung. Ia melewatkan wejangan dari Kepala Sekolah, dari perwakilan orangtua murid, juga dari perwakilan alumni. Ia bahkan nyaris tidak berdiri saat medali untuk tiap siswa akan dibagikan di atas panggung.

Gadis itu dengan terpaksa mencubit lengannya tanpa henti agar ia tidak melamun begitu peserta wisuda dipersilakan duduk kembali. Untung saja, ia tak melewatkan panggilan dari panitia wisuda saat gilirannya untuk tampil tiba.

Meski gadis itu berhasil memukau hadirin yang ada di ruangan itu, juga membuat banyak orang menariknya untuk foto bersama, semua terasa seperti angin lalu karena pikirannya hanya tertuju pada satu hal.

Ia benar-benar benci hari ini.

“Myungeun, kau bilang penerbanganmu pukul lima, ‘kan? Sudah jam tiga, ayo berangkat sekarang.”

Dan itu adalah hal yang paling dibencinya; diingatkan bahwa sebentar lagi ia harus berpisah dengan lelaki pilihan hatinya, oleh orang yang akan menjadi orang terakhir yang ia temui sebelum ke Jepang.

Untuk selamanya.

Memang apalagi yang membuatnya begitu dilema saat mendengar janji yang disodorkan Jimin semalam?

“Aku tidak percaya kau akan naik pesawat untuk yang pertama kali.”

“Kau meledekku?”

“Ih, cepat sekali marahnya.”

“Iya, iya. Aku hanya bercanda.” Myungeun memegangi kopernya erat-erat, berusaha mengurangi sedikit kegugupannya.

“Kenapa, kau gugup?”

“Aku tidak gugup,” dustanya.

“Lalu?”

“Aku harus mengatakan sesuatu padamu sekarang.”

Jimin menggeleng. “Simpan saja sampai kau kembali—“

“Itu masalahnya, Jimin,” potong Myungeun. “Aku tak akan kembali. Perusahaan tempat kakakku bekerja menyediakan fasilitas yang salah satunya adalah rumah dan biaya hidup sampai pensiun. Jooeun-unnie meminta kami semua untuk pindah dan orangtuaku setuju, sementara aku akan melanjutkan studiku disana.”

Setiap orang yang berlalu lalang, keramaian bandara, juga langit sore yang mulai menggelap, semuanya berputar lambat di sekitar Myungeun. Seolah hanya ada dirinya dan Jimin saat ini.

“…Apa?”

“Kau dengar ucapanku tadi,” ujar Myungeun. “Aku tak akan mengulangnya.”

“Tapi, kenapa?” Jimin meraih tangan Myungeun, lalu berseru. “Kenapa kau tidak pernah bilang?! Kenapa baru sekarang?”

“Kau terlalu sibuk mengurusi Jiyeon-mu, Min, kau tidak ingat?!” balas Myungeun, tak terasa matanya mulai berair. “Dan, aku tidak yakin kau akan peduli.”

“Myungeun, kau temanku sejak kecil! Kau bodoh jika kau pikir aku tidak peduli.” Jimin yang sekarang di hadapan Myungeun seperti bukan Jimin Si Pabo yang takut ketinggian dan hobi bertengkar dengannya. Dia bukan Jimin yang dikenalnya. “Park Myungeun, apa sejauh itu jarak kita akhir-akhir ini? Sampai kau menyembunyikan hal ini dariku?”

“Tapi kita tak pernah jauh, Jimin. Kita selalu bersama nyaris sepanjang waktu. Seandainya saja hari itu tidak pernah datang, mungkin aku sudah mengatakannya sejak lama.”

“Apa maksudmu dengan hari itu?”

“Kau ingat saat kita masih kelas tujuh, hari dimana kau menyusulku, dan kita terjebak berjam-jam di sekolah karena badai?”

Jimin termangu, napasnya tercekat.

Ya, ia ingat hari itu.

“Kau yakin tidak apa-apa, Myungeun? Aku sebenarnya tak ingin meninggalkanmu, tapi ibuku sudah menunggu di depan.”

“Tenang saja, Seunghee. Aku hanya tinggal menata buku, setelah itu aku akan langsung pulang. Jangan buat Nyonya Hyun menunggu.”

“Kudengar akan ada badai malam ini. Pastikan kau pulang sebelum gelap.”

Myungeun tertawa. “Jangan khawatir. Aku janji akan langsung pulang begitu aku selesai.”

“Benar, ya?”

“Iya.” Myungeun mengangguk, berusaha meyakinkan.

Seunghee ikut mengangguk, namun lebih pelan karena ia masih tidak yakin. Myungeun akhirnya mendorong gadis itu pelan menuju pintu perpustakaan dan melambaikan tangannya.

“Buku Sains di lorong lima, rak tujuh…” gumam Myungeun sekembalinya ia dari melepas Seunghee pulang..

Gadis itu terus menata buku, hingga tak terasa seluruh buku akhirnya kembali ke tempatnya semula. Sudah jam lima, sebaiknya aku cepat-cepat, batin gadis itu.

Perpustakaan sekolahnya tidak memiliki jendela, jadi Myungeun tidak tahu apa yang terjadi di luar gedung. Ia membelalak kaget saat melihat jendela kelas di sebrang perpustakaan; langit sudah gelap, dan gemuruh pun terdengar.

‘Bagaimana ini…?’

Myungeun berlari menuruni tangga, berharap semoga ia bisa mencapai rumahnya sebelum terlambat. Sayangnya, begitu ia sampai di pintu masuk gedung, hujan lebat turun. Disertai gemuruh, pula.

Gadis itu kemudian duduk di dekat pintu masuk, menelepon Jimin. Ia tahu ia hanya bisa minta tolong pada lelaki itu. Saat ini, ia terlalu takut untuk mengabari orangtuanya.

“Myungeun? Ada apa?”

“Jimin, aku… masih di sekolah.”

“Apa?!” Jimin berseru. “Kau tidak tahu hari ini akan ada badai? Kenapa tidak pulang cepat?”

“Aku tahu, tapi—“

“Sekarang, kau jangan kemana-mana. Aku akan menyusulmu.”

“Tapi, Jimin—“

“Sudah, pokoknya kau jangan bergerak. Paham? Tunggu aku.”

Telepon terputus. Bersamaan dengan bunyi gemuruh yang membuat Myungeun meringkuk ketakutan.

‘Jimin, jika kau memang akan datang, kumohon berhati-hati. Dan cepatlah, aku takut.’

Tepat saat Myungeun nyaris menangis ketakutan, sepasang lengan memeluknya dengan napas memburu. Dan Myungeun tahu betul aroma siapa ini.

“Jimin?”

“Kau baik-baik saja?”

Myungeun mengangguk. “Kau kehujanan?”

“Tentu saja, bodoh!” Jimin melepas pelukannya, lalu memegangi pundak Myungeun. “Kenapa kau tidak pulang cepat? Kau bilang kau tahu akan ada badai tapi kenapa—“

“Jimin, aku minta maaf.” Myungeun menunduk. “Tapi kau tak perlu repot-repot menyusulku. Maksudku, aku tak mau kau sakit.”

“Aku lebih tidak mau meninggalkan sahabatku sendirian.” Jimin menyodorkan sekotak bekal. “Sekarang, makanlah.”

“Kau sempat menyiapkan bekal?”

“Itu bekalmu, Eun.” Jimin terkekeh. “Kau lupa? Kau membuatnya tadi pagi di rumahku tapi kau lupa membawanya. Untung tidak ada yang memakan.”

“Lalu kau sendiri?”

Jimin tersenyum. “Aku baru saja makan.”

“Aku tidak percaya. Dan kalau pun kau jujur, aku tidak mungkin makan ini sendirian.” Myungeun membuka tutup bekal lalu memindahkan separuh isinya. “Ini untukmu, Min. Kuharap kau bisa makan dengan garpu.”

“Eun, kau tak perlu—“

“Untuk saat ini, aku akan membayar jasamu dengan separuh bekalku,” ujar gadis itu. “Tapi suatu hari nanti, aku akan berikan bayaran yang pantas.”

“Apa itu?”

“Entahlah, kau maunya apa?”

Jimin menggeleng. “Aku tidak bisa memikirkan apapun saat ini. Aku lega mengetahui kau baik-baik saja. Ingatkan aku lagi.”

“Baiklah.”

Malam itu, badai tidak berhenti sampai pukul delapan malam. Dan saat itu pula, Myungeun merasakan sesuatu yang seperti sudah ditakdirkan untuknya.

Ia tahu hatinya telah memilih Jimin. Myungeun tak pernah seyakin ini sebelumnya.

“Tapi apa yang salah dengan hari itu, Eun?”

“Karena sejak hari itu hingga saat ini, hatiku memilihmu. Bukan sebagai sahabat, tapi lebih dari itu.” Myungeun menghela napas dalam. “Jika aku tak pernah menyukaimu, mungkin aku akan memberitahumu tentang ini dari awal. Tapi aku tak pernah punya keberanian untuk melakukannya. Di satu sisi, aku tak ingin melihatmu sedih atas kepergianku. Di sisi lain, aku takut menyadari kenyataan bahwa kau tak akan kehilanganku, mengingat kau punya Jiyeon.”

“Jika aku harus melepas Jiyeon demi bersamamu, aku akan melakukannya, Eun. Aku tak ingin kehilanganmu,” ujar Jimin, memelas.

“Sudah terlambat, Min,” ujar Myungeun. “Begitu aku pergi, kuharap kau akan temukan kebahagiaanmu, Jimin, meski aku tidak bisa melihatnya secara langsung.”

Hening, sampai terdengar pengumuman bahwa pesawat menuju Tokyo akan take-off sepuluh menit lagi.

“Beritahu aku, apa yang ingin kau katakan padaku, Min.”

“Aku tadinya ingin memberitahumu bahwa aku akan pergi kencan dengan Jiyeon,” lirihnya.

“Aku senang mendengarnya,” dusta Myungeun sambil menepuk-nepuk bahu Jimin. “Jangan sampai gagal!”

Jimin tak menjawab. Tatapannya pada Myungeun begitu tajam, dan gadis itu merasa tak nyaman.

“Aku harus pergi. Jika aku kembali, aku akan balas kebaikanmu di hari itu.”

“Tapi aku hanya ingin kau tidak pergi, Myungeun,” pinta Jimin, nyaris menangis.

“Maafkan aku,” lirih Myungeun. “Selamat tinggal.”

Begitu Myungeun duduk di kursi pesawatnya, ia memejamkan mata. Tanpa izin, air matanya mengalir. Tidak, ia sama sekali tidak merencanakan hari kelulusannya berlangsung sesedih ini. Tapi Myungeun ingat apa yang diucapkan Jooeun padanya saat gadis itu menelepon ke kediaman Park beberapa bulan lalu.

Myungeun, aku harus meralat seluruh ucapanku padamu setahun yang lalu. Hapus, dan ganti dengan ucapan yang akan kukatakan padamu saat ini.

“Apa itu, unnie?”

Ingat prinsip ini: Jika kau kehilangan sesuatu, ia akan kembali, jika itu memang milikmu. Hal ini berlaku pada kasusmu. Hari ini kau mungkin kehilangan dirinya, tapi ia akan kembali padamu suatu hari jika ia memang milikmu.”

Unnie, kita sama-sama tahu bahwa Jimin bukan milikku.”

Tidak, Myungeun. Kau tidak tahu.”

“Kau sendiri tahu dari mana?

Tidak ada satu pun ciptaan di dunia ini yang tertukar keberadaannya. Ikan tak pernah diciptakan di darat, dan burung tak pernah diciptakan di air.  Jika ia sudah diciptakan untukmu, maka kalian akan bersama suatu hari. Jadi, Myungeun, kau tak akan menetap di Jepang selamanya. Lima tahun lagi, begitu kuliahmu selesai, kau akan kembali ke Korea. Kau akan memperjuangkannya. Paham?

“…Paham, unnie.”

Myungeun pegang ucapan itu kuat-kuat dalam benaknya. Sampai datang hari dimana ia diberi kesempatan untuk bertemu Jimin sekali lagi. Entah di Jepang, di Korea, atau bahkan di kehidupan selanjutnya.

Di mana pun itu, ia akan perjuangkan Jimin.

Tapi ia tahu, ia butuh istirahat untuk sementara waktu. Ia harus sembuhkan hatinya perlahan, membiarkan dirinya, Jimin, dan perasaannya bebas tak terbelenggu.

Myungeun tidak takut Jimin akan berpaling ke Jiyeon, atau ke siapapun itu nantinya. Karena jika Jimin memang untuknya, seperti kata Jooeun, maka lelaki itu tak akan kemana-mana.

-E N D-

author notes:

halo, dengan nightskies dan jutaan cinta untuk park myungeun disini.

tanpa berbasa-basi, aku mau menjelaskan alurnya yang kuyakin membingungkan reader sekalian~

barangkali ada yang udah bisa nebak, bagian cerita yang di-italic adalah flashback, sementara yang dicetak biasa adalah on-going situation. baik yang flashback maupun yang on-going situation, keduanya saling berurutan. yang italic berhubungan dengan yang italic, yang dicetak biasa berhubungan dengan yang dicetak biasa.

supaya memudahkan bagi yang belum paham, ringkasan alurnya adalah = flashback pertama, hari kesatu: sebelum berangkat ke gladiresik > flashback kedua, masih di hari kesatu: on the way gladiresik, myungeun berpura-pura tidur karena tidak mau ditanya-tanya oleh jimin > flashback ketiga, masih di hari kesatu: gladiresik belum selesai tapi myungeun ingin pulang karena “nggak enak badan” > flashback keempat, masih di hari kesatu: myungeun siap-siap pulang tapi tidak pulang bersama wonwoo karena dia sebenarnya berbohong pada jimin > flashback kelima, di hari kedua: di gladiresik khusus pengisi sesi hiburan, jiyeon bertemu jimin, tapi myungeun tidak tahu-menahu.

lalu pada malam di hari kedua, myungeun meminta jimin bertemu di atap rumahnya. on-going situation dimulai setelah gladiresik pengisi acara. alur on-going situation berurutan sejak awal paragraf sampai terakhir. satu-satunya flashback yang tidak berhubungan adalah pas myungeun mengingat momen romantisnya(?) bersama jimin di sekolah.

intinya: gladiresik, latihan pertunjukkan dan momen berdua di atap rumah, wisuda dan keberangkatan myungeun ke jepang, semuanya berlangsung dalam tiga hari berturut-turut.

iya, si nightskies emang suka aneh pemikirannya. bear with me yah, gaes;-;

dan, aku punya pengakuan: aku udah nge-ship jimin-myungeun sedari awal kenal banglyz, but a certain someone menularkan virus kei-jimin padaku ;;) ini juga sebab kenapa kujadikan kei sebagai cameo hehe~

as always, aku nggak bosan menagih komentar, kritik, atau bahkan curcol dari reader yang udah nyangkut di ff ini~ ^.^ maaf sekali lagi kalau alur ceritanya ngebingungin, boleh banget ditanyakan lebih lanjut, atau kalau mau ngomelin karena udah buat cerita dengan alur yang terlalu ribet pun… boleh TT.TT

sebelum lupa, happy birthday to our beautiful, short-haired, and golden voice park myungeun a.k.a JIN!

Advertisements

10 thoughts on “[Graduation Party] Reticent

  1. Ini…kenapa yang pada bikin cerita genre angst pada bikin galau semua ceritanya…eung… T^T *guling2
    Paling nyesek pas baca kata2nya Jooeun : “Jika kau kehilangan sesuatu, ia akan kembali, jika itu memang milikmu. Hal ini berlaku pada kasusmu. Hari ini kau mungkin kehilangan dirinya, tapi ia akan kembali padamu suatu hari jika ia memang milikmu.” Bikin keinget yang sudah2… x’D *curcol
    Sempet bingung baca bagian flashbacknya,tapi gpp kok,tetep keren ceritanya x’D (y) *langsung nyari tisu

    Liked by 1 person

    • karena yg namanya angst emg seharusnya bikin nyesek kak raissa😭 btw kalau ada yg mau ditanyakan, gapapa ka silakan. maaf lho sebelumnya kalau bikin gagal paham u,u

      makasih lhoo ka sudah mampir~😳

      Like

  2. ANi

    Apalah dayaku yang kelihatannya sangat bingung karena alur ini, setelah dijelasin kalo alurnya campuran. Tapi aku udah mengerti pake sangat gimana situasi Myungeun. Ini pengalaman/malah curcol/

    Makasih kak, udah membuat aku semangat lewat fict angstmu /selalu/ yang bikin hati ini terenyuh /halah/. Serius, baca fict ini tuh kaya baca cerita sendiri. Dan….kenapa angst kak night selalu dapet sedangkan aku mah ga bisa buat angst kalo ga lagi galau? Ini ya aku suka banget, angstnya menggetarkan hati dan bikin baper. Tapi aku salpok ke Jimin-Kei/eh….^^

    Liked by 1 person

    • boleh bgt nifa ditanyakan lebih lanjut kalo masih ada yg bingung u,u aku mah emg kadang2 suka aneh mikirnya

      yaampun aku yang harusnya makasih nif, udah dapet sepersekian waktumu buat baca ff beralur aneh ini😂 cerita sendiri…? kamu ngalamin yg semacam ini?? waaaa

      hayo fokus utamanya jin-jimin jgn sampe salfok~😂

      makasih sudah baca dan komentar (selalu!) yah nif😉😉😉

      Like

  3. azeleza

    AH KESAL.

    Jujur ya, aku sempet gak mau baca kata-kata selanjutnya karena aku tau pasti sedih! T______T Kamu mau komen apa? Mau apa setelah ngebuat aku baper?? Haaa?? haaaaa??? /GAK SANTAI, SALAH SENDIRI JUGA BACANYA SEKALIAN NGEDENGERIN PLAYLIST GALAU/

    Duh Jooeun agak telat sih tp ngasih ralatnya 😦 Ah…kzl aku tuuu /tunggu, jd kamu mihak Myungmin atau Keimin? hei?/ Oh, aku suka banget penjelasan2nya Jooeun tentang cinta bertepuk sebelah tangan. Sangat jelas sampe aku ngerasa ada yg kebakar gitu dalem hati ini /iyap, azel udah kena tp azel kuat…apasiii? curhat?/

    Oh, aku gak bingung sama alurnya yaay. otak ini sudah diset untuk baca malem ini wqwqwq. tapi aku lupa ngeset hati supaya masang mode anti baper HIKS!

    kamu + angst = 1000 lembar tisu untuk azel. bhay. sering2 kirim. ku menunggu. semangat kamu ❤ sukaaaa~

    Liked by 1 person

    • jangan kesal2 kak azel, nggak baik lho😂

      spoiler: dijamin sedih kak, memang sebaiknya nggak melanjutkan (karena penulis nggak bertanggung jawab dgn kebaperan yg muncul😂) AMPUN ATUH KA SAYA GA MAU BERBUAT APA-APA SUMPAH;;;;;-;;;;;

      setidaknya mba jooeun ngeralat ka, daripada liat dedeknya sedih terus😞 /nah yg ini emm ehehehehe duh suddenly I can’t read ini apa ya kak-nyengir lebar-/ penjelasan mba jooeun itu… kuranglebih belajar dari pengalaman, jadi ampuhlah… paling nggak utk ngebakar sesuatu dlm hati kakzel :3 /dicubit/

      AAAAAH AKU LEGA SEKALI tadinya kukira ini bakal memusingkan reader tapi syukurlah kak azel tdk termasuk😂 sayang mode anti bapernya nggak ampuh😄😄 /lagi2 dicubit/

      komen kak azel + kalimat omelan = moodbooster terbaik. see you. I will! ayo kak temenin aku menunggu si dia /HEH SEMPAT2NYA KAMU/ semangat selalu kak azel❤ terima kasih sudah mampir selaluuuu~

      Liked by 1 person

  4. aurora

    KAK SKIES KYAAAAAAAAA aku lemah sama cerita2 friendzone yang ujung-ujungnya angst begini tulung ;______; ((karena aku juga mengalaminya)) ((aw)) ((duh)) tapi sebenernya aku lebih prefer friendzone diakhiri sama angst sih /lah. idk soalnya kalo mereka tau-tau saling suka terus pacaran gitu kurang realistis aja menurutku. yha meskipun aku juga sering nulis yang macem gitu ((HAJAR AJA AKU)). tapi kusuka sama positivity myungeun di sini. ceritanya juga nggak too menye kok.

    btw koreksi redaksional aja yha kak, excuse me:
    – apapun 👉 apa pun
    – dimana 👉 di mana
    – kau pikir 👉 kaupikir

    terus oknum yang nularin virus kei-min itu kak azel bukan sih? soalnya aku mulai melenceng ke jalur kei-min dari kei-josh nih HAHAHA. semangat terus nulisnya kak ❤ ❤

    Liked by 1 person

    • HAI AURORA AH SENANGNYA LIAT KAMU DISINI EHEHEHE😂😂 inilah ra yg buat aku suka bgtbgt bikin ff angst, karena kebnykan alur ceritanya realistis. nah soal friendzone berakhir angst, aku setuju nih. aku pun geleng2 kalo sampe liat cerita friendzone ujungnya pacaran. kalo emg segampang itu, harusnya skrg aku udah ngegandeng seseorg dong? /HEH JANGAN CURHAT, kebiasaan/ anyway, positivity-nya myungeun nurun dari kakaknya (yang jelita itu btw, mupeng deh kok keluarga idol gen-nya indah;-;) makasih yaa ra sudah berikan kritik yg membangun~😆😆

      siap! aku udah lama ga sekolah jd lupa soal ejaan😆 /oh, ngeledek kamu, night?/ thanks for pointing it out~!

      shuuush~ ntar orangnya muncul lho😂 dan jawabannya, iyap! huh ff kak azel tuh racun banget, aku lgsg pindah jalur abis2an karena plotnya bikin baper huh😞

      semangat juga buatmu, aurora!😆💕

      Like

  5. Jung Eunsi

    NIGHT KENAPA SIH UHUHU AKU LEMAH BANGET BACA INI, SUKSES BIKIN MATAKU BANJIR HUHU.
    KZL KENAPA JIMIN NGGAK BISA NGELIAT GADIS YG MENCINTAINYA, YG JELAS2 UDAH DI DEPAN MATA;-;
    Tapi aku suka banget sama kata-kata Jooeun, bijak sekali ughh benar2 kakak idaman!!
    Semoga mereka bisa bersatu, semoga Jimin bisa sadar akan perasaan Myungeun ke dia ;;;

    Btw aku ngerti kok alurnya! Nggak ngebingungin.
    As usual, FF kamu selalu bagus. Worth for reading heheee
    Semangat ya my fav author
    Looking forward to your next work, my aegi /eh
    Jangan bosen2 liat Jung Eunsi di kolom komentar /winks/

    Liked by 1 person

    • AKU GA KENAPA-NAPA EUNSI;–; SINI KU ELAP DULU:”” ITULAH EUNSI, KADANG COWOK SUKA SUSAH DIPAHAMI. HERAN.
      jooeun itu topbgt memang! udah bijak, cantik pula😭
      semoga kisah mereka ujungnya bahagia, nggak kayak ff ini :””)

      yes, sekali lagi lolos dari kerumitan alur😂😂
      ah jadi maluu😊 makasih sudah membaca, eunsi!😆
      please keep expecting~ hush jgn bawa2 panggilan, my baragi /eits
      tidak akan bosan!! sekali lagi, makasih~~😆😆😆

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s