Posted in 3rd : Graduation Party, Angst, Family, magnaegihyun, Teenager / Teen, Vignette

[Graduation Party] I’ll Be Alright

Myung Eun tahu kok jika dia memang jenius penyendiri dengan latar belakang yang menyedihkan.

.

Title : I’ll Be Alright | Scriptwriter : magnaegihyun | Genre : Angst, Family | Duration : Vignette | Rating : T | Starring : Park Myung Eun, Choi Young Jae |

myungeun-ff

.

Disclaimer : This storyline is belong to magnaegihyun. The cast is belong to god and their parents. Don’t claim it’s as yours. Hate the cast? Hate the plot? Don’t read and don’t leave a bashing, PLEASE! | Warning for typo(s) and OOC>< |

*

“Myung Eun-ssi harus istirahat dari menyanyi dua minggu ini.”

 

Awalnya aku hanya membeku mendengar ucapan dokter Kim padaku. Aku pikir itu hanya sebuah lelucon, tapi sayangnya setahuku dokter Kim tidak pernah melucu jadi itulah kenyataannya. Ini mustahil untuk kupercaya dan kuturuti. Tentu saja, mana ada seorang murid jurusan musik yang akan mengikuti tes ujian masuk universitas seni ternama di dunia mau istirahat dari menyanyi.

 

“Ta—tapi itu tidak mungkin,” jawabku dengan suara yang hampir tidak terdengar.

 

Dokter Kim menatapku prihatin,”Myung Eun-ssi, kau harus melakukannya jika tidak ingin kehilangan suaramu selamanya. Mendengarmu berbicara sekarang ini saja sulit.”

 

Aku terdiam. Apa yang dikatakan dokter Kim memang benar, aku kehilangan suaraku. Yang membuatku merasa sangat menyesal adalah waktu dan tempat ketika aku kehilangan suara tidaklah bagus. Tentu saja, mana ada orang menganggap bagus ketika ia harus kehilangan suara di waktu ujian kelulusan. Memang, aku kehilangan suara setelah menyanyi tetapi saat aku menyentuh nada tinggi suaraku pecah dan tidak sempurna sesuai keinginanku.

 

“Kau bisa mengkonsumsi obat-obat ini untuk mengurangi rasa sakitnya dan kupikir suaramu akan kembali selama dua minggu.”

 

Dokter Kim meneruskan kembali ucapannya dan memberiku beberapa instruksi untuk pengobatanku. Aku mendengarnya tanpa berniat menjawab sama sekali. Akupun hanya membungkuk dan pamit dengan mengucapkan terima kasih tanpa suara. Aku hanya bisa pergi dengan pikiran kosong sekarang tak tahu apa yang harus dilakukan. Aku tahu karena itu aku tidak bisa menemui ibuku.

 

 

 

 

Aku berjalan melewati hingar bingar musik yang terdengar begitu bising di telingaku. Aku tidak menoleh sekalipun pada seorang pun yang ku lewati karena aku tahu mereka juga tidak akan mempedulikanku. Memangnya siapa yang mempedulikan atau lebih tepatnya mau berteman dengan anak seorang tahanan. Garis bawahi itu, anak seorang tahanan. Ya, ayahku sekarang berada di penjara karena ia dituduh menyalahgunakan uang perusahaan tempatnya bekerja.

 

Aku sejujurnya tidak terlalu begitu peduli dengan hal itu. Aku tahu aku bukanlah apa-apa yang bisa menjamin ayahku tidak bersalah. Lagipula, ayahku juga menderita alzheimer yang membuatnya tidak ingat apapun yang telah dilakukannya. Pengacara yang menangani kasusnya ini pun menyerah untuk menyelamatkannya karena memang sudah tidak ada lagi hal yang bisa dilakukannya.

 

“Kau pasti mau merokok ya?”

 

Aku mendengar ucapan iseng yang keluar dari mulut Chan Mi, salah satu teman sekelasku. Tunggu, aku kan tidak punya teman, bukankuah aku tidak bisa menyebutnya teman kalau begitu. Aku mengabaikannya dan berjalan keluar dari ruang olahraga yang dijadikan tempat pesta kelulusan diiringi tawa Chan Mi dan teman-temannya.

 

 

 

 

Aku berjalan lebih jauh dari pintu agar dapat melihat langit senja yang kini terlukiskan di langit sekaligus suasana sekolah untuk terakhir kalinya. Begitu tenang dan menyejukkan merasakan rambut pendekku bisa tertiup angin seperti ini. Meskipun aku sendirian tanpa teman sejak dua tahun lalu dapat merasakan hal ini membuatku bersyukur.

 

Ya, aku bersyukur bisa lulus dari sini tanpa hambatan apapun. Anggap saja begitu dengan mengabaikan sikap membully Chan Mi dan teman-temannya. Aku bukanlah tipe orang yang ingin menjadi pusat perhatian ataupun memiliki image di depan orang lain. Baik, setidaknya aku harus menerima julukan si jenius penyendiri dari teman sekolahku ini karena kemampuanku bernyanyi. Hal itulah yang membuatku lancar-lancar saja mendapat beasiswa di universitas.

 

Jujur, aku tidak masuk universitas sesuai keinginanku karena aku tidak bisa mengikuti tesnya dengan suaraku yang seperti ini. Aku harus menerima kenyataan aku bisa meneruskan pendidikanku di universitas nasional. Hal itu membuatku dicibir oleh bibi dan pamanku yang menaruh harapan terlalu tinggi atau lebih tepatnya ingin merendahkanku di depan kakek seperti yang dilakukannya pada ayah.

 

“Oh—Park Myung Eun?”

 

Aku berbalik mendengar namaku disebut. Aku mendapati lelaki tak terlalu tinggi dengan wajah mirip Jo Sung Mo sedang meniup permen karet. Aku tak kaget menemuinya di sini. Dia sama sepertiku salah satu jenius di sekolah ini. Sejak kami masuk di sekolah yang sama, kami selalu menjadi rival yang dapat disebut sepadan. Walaupun begitu, ada perbedaan antara kami, jelas dia bukan tipe penyendiri atau tepatnya punya teman, bukan sepertiku yang dikucilkan. Memang siapa yang mampu mengucilkan Choi Young Jae dari keluarga Choi yang kaya itu.

 

Aku menjawab malas dengan suaraku yang hampir kembali normal, “Oh—neo geunyang kka!

 

Ia mengabaikan jawabanku,”Kudengar kau tidak jadi mengikuti tes masuk Julliard, jadi karena suaramu?”

 

“Kau ingin mengejekku sama seperti yang lain?”

 

Ia memandangku dengan senyum mengejek,”Aku tidak mengejekmu, Park Myung Eun, lagipula aku juga tidak mengikutinya.”

 

Aku memandangnya heran,”Ke—kenapa?”

 

“Mungkin hampir sama denganmu? Oh ya, kudengar ayahku sudah memberikan surat dari ibumu?”

 

Aku menatapnya sedikit kaget, jadi pengacara ayahku selama ini adalah ayahnya. Dunia begitu sempit ternyata. Aku mencoba berbalik membelakanginya. Surat ibuku, bukanlah urusannya, bahkan aku saja belum membacanya, jangan sampai dia sudah tahu apa isinya. Itu semakin membuatku merasa berada di bawahnya.

 

“Kutinggalkan sapu tangan ini, siapa tahu kau akan membutuhkannya.”

 

Aku diam saja tidak berniat merespon apa yang dikatakannya. Menjadi orang yang sangat menyedihkan seperti saat ini adalah hal yang paling memalukan dalam hidupku. Terutama di depan Choi Young Jae, rivalku semenjak berada di sekolah ini adalah hal yang paling memalukan. Aku tahu hidupku menyedihkan tetapi menyedihkan di depan orang lain adalah hal paling buruk. Aku bukanlah tipe orang yang meminta belas kasih dari orang lain sehingga sikap Choi Young Jae ini begitu asing bagiku.

 

Surat dari ibuku adalah hal baru bagiku. Tentu saja, aku belum pernah melihat ibuku sekali saja sepanjang hidupku selama ini. Menyedihkan, tentu saja, tapi aku sudah terbiasa mendengar ejekan mengenai sikapku yang dianggap tidak sopan yang sering dikaitkan dengan kenyataan aku tak memiliki ibu. Tentu saja aku tidak terpengaruh sedikitpun karena ayahku mampu berlaku sebagai ayah maupun ibu bagiku. Semenjak ayah berada di penjara, barulah aku merasakan betapa menyedihkannya hidupku sejak dulu.

 

Aku menarik kotak hadiah dari dalam tasku. Ya, inilah yang diberikan ayah Youngjae untukku tadi pagi. Ia mengatakan bahwa ayahku menitipkannya padanya takut bahwa dirinya lupa memberikannya. Tentu saja dia lupa, mana mungkin seorang penderita Alzheimer bisa ingat, bukan? Aku tahu bahwa kotak ini memang sudah kusam dan jelas sudah diberikan sejak lama. Meski begitu, inilah satu-satunya hal yang kupunyai dari ibuku selain foto yang disimpan ayahku. Kenangan terakhir dari ibuku yang sekarang entah di mana. Hal yang membuatku masuk Julliard adalah karena ibuku pernah di sana dan sayangnya aku tidak bisa masuk ke sana.

 

Aku membuka kertas putih kusam dengan tulisan rapi khas yang mirip dengan tulisanku. Aku membacanya dengan tangan gemetar. Aku tersenyum pahit menyadari semua anggapanku salah mengenai ibuku. Meski begitu, aku bersyukur apa yang kudapat ini tepat di hari kelulusanku, setidaknya aku tidak salah memilih setelah membaca ini. Meski aku sudah tahu mengenai ibuku, bagaimanapun aku tetap menjadi si jenius penyendiri. Aku tetap yakin, meski ibuku sudah meninggal atau ayahku tak mengingatku lagi, aku akan baik-baik saja di universitas nanti.

 

Untuk Myung Eun, anakku tersayang,

Ibu berharap kau membaca surat ini ketika kau sudah mengerti betapa berharganya dirimu bagi ibu. Ibu tidak pernah berharap bahwa kau akan menjadikan ibu sebagai ibu impianmu karena ibu sendiri tahu bahwa itu penghargaan yang terlalu tinggi bagi ibu. Melihatmu tumbuh dewasa adalah salah satu keinginan terbesar ibu, tapi sayang ibu tahu itu sangat mustahil.

Myung Eun-ah, ibu harap kau tidak terlalu mendengarkan ayahmu yang membangga-banggakan ibu. Ayahmu adalah lelaki terhebat yang pernah Ibu kenal, ia begitu menyayangimu dan membuat ibu menjadi permata setiap hari, jangan pernah kau membecinya, hanya itu permintaan ibu. Karena dia mampu mengorbankan segalanya demi bersamamu dan ibu sekarang dan sampai nanti.

Ibu tahu, mendengar cerita ayahmu, kau pasti ingin masuk Julliard seperti ibu. Ibu tahu kau pasti menjadi anak yang lebih berbakat daripada ibu, ibu pasti mendoakanmu masuk di sana. Hal yang harus kau tahu adalah ibu tidak pernah lulus dari sana, ibu hanya masuk ke sana dan karena beberapa masalah keluarga ibu harus kembali ke Korea. Ibu memang pernah menjadi artis opera tapi ibu tidak begitu berhasil, nak. Suatu saat, kau pasti akan paham betapa kerasnya hidup ini. Hal itulah alasan mengapa paman dan bibimu begitu membenci ibu.

Terkadang ada rintangan yang merintang di hadapan kita, nak

Tapi pasti ada mentari yang bersinar di sana seperti ayahmu bagi ibu

Selamat ulang tahun kedua puluh!

Ibu harap kau kini mengerti kenapa ibu tidak di sampingmu, ibu hanya tidak ingin kau menyalahkan dirimu. Ibumu lebih memilih ayahmu dan dirimu menganggap ibu wanita jahat dibanding ibu melihat kalian sedih atas kepergian ibu.

16-04-1997

Park Bo Mi

 

-FIN-

Wednesday, June 15th 2016 – 9.24 pm

Happy birthday, Jin a.k.a Myung Eun eonni! Semoga suaranya tambah kece dan tambah cantik ya, best wishes juga tetep jadi 4D Jin yaa~ Jujur, sedari dulu di Lovelyz aku kurang srek sama Jin eonni ini, apalagi dia juga dipasangin seringnya sama Jin BTS yang jelasnya adalah biasku sejak BTS debut*maklumin, BTSLovelyz-hardshipper*. Hal yang nggak bisa kupungkiri adalah aku nggak bisa nggak suka begitu saja melihat kepribadian Jin eonni yang sama-sama 4D denganku xD Jadilah aku selalu pasangin dia sama Young Jae GOT7 yang suaranya nggak kalah kece. AH, aku juga mau terima kasih buat lagu Jin eonni yang Gone yang bikin aku bener-bener nangis bombay sampai sekarang, such a good ballad song. Untuk masalah ff ini, aku tahu agak kurang gimana gitu aku juga sebenarnya kurang puas tapi mau gimana lagi, jadi GIVE ME YOUR FEEDBACK>>>

Advertisements

Author:

HOPE DREAM FORWARD FORWARD inspirit.army.exol.starlight.pinkpanda.lovelinus doing messy thing like accounting cute like magnae~

One thought on “[Graduation Party] I’ll Be Alright

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s