[Graduation Party] Corridors

Corridors

School-Hallway

Jung Yein; Park Jiyul (OC); Lee Hwanhee;

Horor;School-life;(Bit)Gore

15+

Vignette

[2016] ©Midyyu
Storyline

Sorry Of Typo’s

Jangan melewati koridor itu, Yein!

 

Gelapnya malam ditambah dengan suasana angin yang berhembus kencang. Lampu – lampu beberapa detik mati beberapa detik nyala. Suasana sekolah yang mencekam kemudian disusul oleh suara burung hantu hingga membuat nyalinya semakin ciut. Kakinya seakan kaku tidak dapat digerakkan. Dadanya naik turun, merasa benar – benar khawatir dengan keadaan yang terjadi.

Tiba – tiba ia merasa bahwa bulu – bulu halus ditangannya berdiri, seakan bahaya tengah mengancam dan tak lama suara – suara aneh mulai terdengar dari ujung lorong. Suara itu perlahan semakin mendekat, sebisa mungkin ia membawa kakinya untuk berlari –jarak beberapa meter adalah gerbang, dan ia bisa segera bebas. Namun, sesuatu yang mengganjal sepatunya membuat ia terjatuh. Air matanya mulai mengalir deras, ketakutan yang berlebihan melanda, suara – suara aneh itu semakin mendekat sampai merusak pendengarannya.

Yang dapat ia tangkap adalah suara teriakkan, jeritan nan memilukan, serta suara tangis. Namun, perkataan yang terdengar jelas dipendengarannya adalah…

‘Kau, yang selanjutnya…’  

 

BRAK!

“Hei, Yein-ah!”

Dia adalah Park Jiyul, teman sebangku Yein yang baru saja membangunkan Yein dari tidurnya diatas meja tempatnya belajar disekolah.
Menurut Jiyul, menggebrak meja dengan keras adalah cara ampuh untuk membangunkan Yein yang tertidur disekolah.

“Aish, kau menggangguku!”

Yein sedikit merapikan penampilannya. Mengambil kaca dan sisir yang ia letakkan pada kolom meja. Sepertinya ia berangkat sekolah terlalu pagi hari ini ketika ia mengedarkan pandangannya pada ruang kelas; suasana kelas masih begitu sepi.

“Kau bermalam disekolah lagi, ya?” suara Jiyul memecah keheningan.

Yein terdiam.
Sejujurnya, dirinya sendiri secara tidak sadar berpakaian seragam sekolah dengan rapi, menaiki bus dan berjalan pelan memasuki gedung sekolah. Seakan ada seseorang yang menuntunnya berjalan menuju sekolah. Ia sempat mendengar suara ibunya yang bertanya mengapa ia berangkat sekolah bahkan ketika keadaan langit masih begitu gelap dan Yein pun hanya terdiam dan tetap melanjutkan jalannya tanpa menghiraukan perkataan sang ibu.

‘Ada yang aneh dengan diriku akhir – akhir ini’ Pikirnya.

Jiyul menatap Yein yang tengah melamun. Jiyul sendiri merasa bahwa teman sebangkunya ini sedikit aneh dari biasanya. Yein yang ia kenal dulu adalah seorang gadis yang ceria; begitu jauh dari kata melamun dan menyendiri. Namun akhir – akhir ini sikapnya berbeda; ia menjadi tidak suka dengan keramaian dan sering melamun walau dalam pelajaran. Yein sering mendapatkan teguran dari para guru, namun ia masih tetap mempertahankan sikapnya yang aneh itu, ada apa dengannya?

“Yein-ah, Gwenchana?” Jiyul sedikit menggoyangkan tubuh Yein. Apakah Yein memiliki masalah yang belum terselsaikan sehingga membuatnya menjadi seperti ini?

Yein sepertinya kembali sadar dari lamunanya. Ia menunjukkan senyumnya dan menganggukkan kepala. Namun, Jiyul merasa bahwa Yein tidaklah sama seperti Yein yang pertama kali bertemu dengannya.

***

“Hwanhee, merasa tidak bahwa akhir – akhir ini Yein sedikit aneh?”

Saat ini Jiyul dan Hwanhee sedang berada dikantin sekolah. Perlu diketahui bahwa Hwanhee juga salah satu teman yang dekat dengan Yein.
Hwanhee yang tadinya asik mengunyah nasi pun terdiam. Ia menatap makan siang miliknya, kemudian ia merasa bahwa tubuhnya merasa kenyang ketika Jiyul membicarakan mengenai Yein.

Hwanhee mengangguk singkat, membenarkan apa yang dikatakan Jiyul. Biasanya Yein juga ikut makan siang dikantin bersama, namun sudah lebih dari tiga hari ini Yein lebih memilih untuk berdiam diri dalam kelas atau terkadang memilih untuk tidur sampai jam istirahat selesai.

“Biasanya dia yang paling bersemangat untuk pergi kekantin”

Hwanhee menyerup pelan cola miliknya kemudian kembali berbicara.

“Aku merasa bahwa ia mengalami sedikit masalah”

Keduanya pun terdiam. Mencoba merenungkan apa yang terjadi dengan perubahan drastis dari seorang Jung Yein. Memikirkan apa yang terjadi pada Yein sama seperti ketika bermain lotre, sangat sulit ditebak. Lama mereka terdiam sampai keduanya tidak sadar bahwa jam istirahat telah usai.

Keduanya berjalan beriringan menuju kelas.
Namun, tiga langkah Jiyul berjalan tiba – tiba ponselnya berdering. Jiyul sempai terdiam beberapa detik hingga membuat Hwanhee menyadari bahwa temanya sedikit tertinggal jauh dengannya.

“Jiyul, ada apa?”

Mendengar suara Hwanhee, Jiyul segera memasukkan ponsel miliknya kedalam saku dan berlari kecil untuk menyusul langkah Hwanhee.

Langit mulai sedikit gelap, beberapa detik yang lalu jam sekolah telah selesai dan para siswa mulai keluar dari dalam kelas. Begitu pun dengan Yein, Jiyul dan Hwanhee. Mereka bertiga berjalan beriringan. Jiyul yang menggandeng erat tangan Yein dan Hwanhee yang berada disamping Jiyul.
Ketiganya pun memilih diam sampai ketika tangan Yein melepaskan diri dari genggaman tangan Jiyul.

Hwanhee dan Jiyul memandang Yein yang perlahan berjalan diarah yang berbeda dengan kedua temannya.

“Jangan melewati koridor itu, Yein!” ujar Jiyul yang sedikit berteriak, membuat Yein tersadar bahwa hanya dirinya sendiri yang berjalan pada koridor yang berbeda dengan siswa yang lainnya. Yein sedikit tersenyum, kemudian kakinya melangkah untuk mendekati Jiyul dan Hwanhee yang memandangnya dengan tatapan bingung. Tanpa menunggu waktu yang lama, Yein menarik kedua tangan temannya dan segera meninggalkan koridor sekolah.

Sampai didepan gerbang sekolah, Jiyul menarik pelan tangannya dari gandengan Yein.

“Yein-ah!” Ujar Jiyul pelan sehingga membuat langkah Yein terhenti.

“Wae?” Yein mengalihkan pandangannya pada Jiyul. Tak hanya Yein, namun Hwanhee juga melakukan apa yang dilakukan oleh Yein.

“Aku melupakan ponselku dikelas, aku harus mengambilnya. Tunggu aku, ya!”

Yein pun mengangguk, Jiyul pun kembali memasuki wilayah sekolah dengan sedikit berlari kecil. Hwanhee pun hanya teridam, sedikit aneh melihat Jiyul hari ini setelah dirinya mendapatkan pesan diponselnya ketika akan memasuki kelas tadi. Lagi pula, Jiyul tidak pernah melupakan ponselnya ketika pelajaran telah selesai.

“Yein, ayo menunggu Jiyul dikedai bibi itu!”

***

Setelah berhasil menemukan ponselnya yang berada diatas meja, Jiyul segera keluar dari ruang kelas. Jam telah menunjukkan pukul 18.00 tepat. Langit pun telah gelap, suasana koridor yang sepi sedikit membuat nyali Jiyul menciut. Koridor ini masih begitu jauh dari gerbang sekolah hingga membuat Jiyul mempercepat langkahnya.

Tiba – tiba angin kencang berhembus, hingga membuat daun pada pohon berjatuhan. Lampu koridor mulai menunjukkan keanehan –beberapa detik menyala, beberapa detik mati. Jiyul semakin mempercepat jalannya, pendengarannya menangkap suara burung hantu dan seketika dirinya terjatuh.

Argh

Kakinya terluka, sehingga sedikit sakit untuk dipaksakan berjalan. Jiyul tidak bisa melakukan apa – apa. Dia hanya sanggup menangis dengan kencang dan beberapa kali menyebut nama seseorang.

“Yein-ah! Hwan-ah!” sesekali Jiyul menolehkan kepalanya ke belakang. Terdapat bayangan hitam yang perlahan seakin mendekat disusul dengan suara – suara aneh yang seakan memecah gendang telinganya.
Jiyul menjerit begitu keras dengan air mata yang berderai tanpa henti; berharap seseorang dapat menolongnya.

Secara tidak sadar, teliga Jiyul mengelurarkan darah. Rasa nyeri ditelinganya yang didapat akibat suara – suara mengerikan itu. Dan tak lama, iris matanya berubah menjadi warna merah. Air matanya berubah menjadi warna merah pekat yang tak lain adalah darah. Jiyul merasakan sakit yang teramat ketika ia merasa bahwa sesuatu yang mirip besi panas perlahan masuk dari ujung kakinya. Suaranya tercekat, tangannya seakan terikat dan secara tiba – tiba sebuah besi batangan kecil menusuk wajahnya.

Perlahan kesadaran Jiyul mengilang, dirinya tergeletak bersimbah darah dikoridor. Wajahnya rusak parah dan tubuhnya terbelah menjadi beberapa potong. Sesuatu cahaya berwarna putih menghilang seiring angin yang perlahan berhenti berembus kencang.

***

Sudah dua jam Yein dan Hwanhee menunggu Jiyul yang tak kunjung keluar dari dalam sekolah. Tiba – tiba saja perasaan Yein tidak nyaman. Ia harus segera bertemu dengan Jiyul dan cepat – cepat untuk pulang.

“Hwanhee, mengapa Jiyul belum menunjukkan batang hidungnya?” Yein menatap cemas layar ponselnya, mungkin saja Jiyul menghubunginya. Namun sedari tadi tak ada satupun notifikasi dari Jiyul diponsel Yein. Hatinya semakin was – was ketika dalam dua jam Jiyul tak kunjung keluar dari sekolah.

“Hwan-ah, kau tunggu disini ya? Aku akan menyusul Jiyul sebentar”

Hwanhee pun mengangguk. Yein segera membuka gerbang sekolah dan berjalan menyelusuri koridor sekolah untuk mencari Jiyul.
Ketika dirinya hendak berbelok, ponselnya berdering.

Sebuah pesan tanpa nomor yang ia dapatkan.

Setelah membaca sebentar, Yein merasa aneh dengan pesan tersebut. Menyadari hari semakin malam, Yein pun membiarkan pesan tersebut dan melangkan menuju koridor yang menghubungan pada ruang kelasnya.

Sebuah hal aneh perlahan dirasakan Yein. Kegelapan koridor membuat penglihatannya sedikit bermasalah sampai ia tidak menyadari bahwa kakinya tersandung oleh sesuatu.

Dan betapa terkejutnya ia ketika menyadari…

“Aaaaaaa…”

Bahwa dirinya melihat sosok mayat yang mirip dengan –Jiyul.

 

FIN~

 

P.S: fanfic ini melebihi deadline yang seharusnya karena perlu dirombak beberapa kali. Ini adalah fanfic horor pertama saya, rasanya masih perlu belajar lagi, Kali aja bisa ngundang hantu Valaknya The conjuring 2. Hahaha

Advertisements

One thought on “[Graduation Party] Corridors

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s