[Freelance] Evanescent (Chapter 1)

PicsArt_05-13-09.13.54

[CHAPTER 1]

Jeon Jungkook x Jeong Yein

Minatozaki Sana || Jeong Chanwoo || Kim Taehyung || Ryu Sujeong || Chwe Vernon || Myoui Mina

Written by :: Lightbts [Wattpad : light22_ ]

PG-17

Romance, Sad, School life

I’m owner this story.

[Evanescent]
Hilanglah dari ingatan!
.
.
Hujan tak mampu menghapus namamu. Salju tak dapat menutup rasa cinta yang masih ku rasa. Terik mentari tak bisa melunturkan kesedihanku dan jiwaku yang membeku.

HAPPY READING

***

Gadis itu masih termangu di ujung jalan sana. Ia tak yakin dengan apa yang ia lihat. Tapi, ini sudah kesekian kalinya terjadi. Jadi apa ia harus tak menyakini penglihatannya juga kali ini ?

Jeong Yein, gadis itu menatap lekat-lekat sepasang manusia yang berhenti di depan gerbang sebuah rumah.

Ia meremas rok seragamnya tatkala sang pemuda mengecup pipi gadis yang berdiri di depan pemuda itu.

Perlahan air matanya jatuh membasahi pipi putihnya. Entahlah, ia masih tak mengerti dengan semua ini. Kenapa? Dan apa yang kurang darinya selama ini?

‘BRESSSS!!!’

Hujan datang tanpa ia duga. Tapi Yein masih di sana. Ia tak bergeming. Apapun itu, Yein masih ingin menyaksikan kenyataan yang ia selalu pungkiri selama ini.

Tangan sang pemuda bergerak menyentuh lengan si gadis.
“Masuklah Noona, nanti kalau Noona sakit aku akan khwatir,” mau bagaimana lagi, meskipun hujan kian deras, tapi Yein masih dapat mendengar dengan jelas konfersesion antara sang pemuda-Jeon Jungkook- yang tak lain adalah kekasihnya, dengan si gadis-Minatozaki Sana- murid kelas 3-6 yang merupakan senior Yein, dan senior Jungkook pula.

“Tentu, hati-hati di jalan. Kookie,” gadis yang akrab dipanggil Sana itu berjijit.

-Cup-

Sana mengecup bibir Jungkook. Rasanya sungguh tak bisa ia definisikan, ini terlalu menyakitkan.

“Aku mencintaimu, Noona.”
“Dan aku sangat mencintaimu, Kookie. Ayo sana, cepat pulang.”

Yein tak tahu harus bagaimana lagi, yang jelas semua kenyataan yang ia pendam selama ini nyatanya benar. Ah tidak, lebih tepatnya sangat benar.

Kau harus tahu, tak selamanya kepercayaan pada pasanganmu akan berakhir dengan kenyataan yang indah. Dan Yein buktinya, dia terlalu percaya dan buta. Lalu ia menuai akibatnya sekarang.

Yein berlari dengan air mata bercucuran, menerobos hujan yang sudah semakin deras, serta tak ketinggalan petir-petir yang turut melengkapi mendung dengan kilatan-kilatannya.

“Tak ada yang bisa ku percaya!”

-EVANESCENT-

Jeong Yein masih enggan untuk berhenti menyedot susu strawberry kesukaannya. Bahkan ia tak terlalu menyimak apa yang diucapkan pemuda di depannya itu.

“Yein,” pemuda itu memanggil namanya.

“Hmm?” dan sekali lagi ia enggan untuk berhenti menyedot susu kemasannya. Lagipula pemuda di depannya ini tak cukup berharga ketimbang nutrisi yang terdapat dalam botol susu kemasan rasa strawberrynya itu.

“Kenapa kau tidak menanggapi apa yang aku bicarakan?” netra sang pemuda menatap bibir Yein yang terus-terusan menuyedot susu kesukaan si gadis. Sekian detik kemudia ia merampas dengan paksa susu kemasan milik Yein.

“Jung, aku sedang lapar. Dan aku tidak mood untuk merebut susu itu darimu.” Yein menatap balik pemuda bernama Jeon Jungkook itu, “Sekarang berikan, atau aku akan makin kelaparan.” Sungguh, Yein sudah sangat kenyang karena sudah menghabiskan 3 botol susu kemasan rasa strawberry sejak ia bertemu Jungkook tadi, tapi apa mau dikata, ia benar-benar tak punya alasan yang lain.

“Dan satu lagi, kau membuat bibirku hampir berdarah karena sedotan tadi,” Yein meraba bibirnya yang memang terkena ujung sedotan yang menyatu dengan botol susunya tadi.

“Mana? Coba aku lihat?” Jungkook menyipitkan matanya, mencari kalau-kalau ada luka di bibir kekasihnya itu.

Jungkook hendak meraba bibir Yein, tapi gadis itu mencegahnya. “Kau tak perlu menyentuh bibirku,”

“Siapa tahu bibirmu berdarah.” Jungkook mengacak pelan rambut Hoonbaenya itu.

“Yak! Berhenti Jeon Sunbae!” Gadis cantik itu berteriak, “Mian. Aku hanya sedang tidak mood, tugasku sangat banyak dan menupuk dari minggu kemarin.” Ucap Yein dengan nadanya yang mulai menurun.

“Arasseo Yeinnie, kau boleh ke kelasmu. Dan belajarlah dengan baik ya.”

Bukankah ini sungguh keren? Ayolah Jeon, kenapa kau tidak jadi aktor saja kalau begini. Jangan kau sia-siakan bakat aktingmu.

Yein mengulum senyum palsunya. “Geure. Sebentar lagi bel masuk, aku ke kelas dulu.”

Jadi selama ini Yein sudah banyak tertipu. Sebelum kejadian kemarin terjadi, Jungkook juga selalu memperlakukannya seperti pagi ini.

Berangkat dijemput, sampai di sekolah berduaan di taman, dan perlakuan manis yang Jungkook berikan juga masih sama. Apa memang perselingkuhan itu sudah lama terjadi?

Yein tak tahu pasti, tapi Jungkook yang sekarang tak ada bedanya dengan Jungkook yang ia kenal sejak pertama kali. Mungkinkah kemarin itu hanya halusinasi? Tapi mana mungkin, Yein tak mengkonsumsi jenis obat-obatan penenang atau dia juga bukan orang gila yang tiba-tiba berhalusinasi tentang kekasihnya.

-PLUNG!-

Yein melempar botol susunya yang sudah kosong. Dia lalu mengeratkan pegangan tasnya.

“Secepatnya aku harus mengakhiri hubunganku dengan Jungkook sunbae, tak mungkin jika aku masih bersamanya di saat dia mencintai orang lain.” Yein memantapkan langkahnya, lalu menoleh ke arah Jungkook yang masih berdiri di tempat tadi samping menatapnya.

Gadis itu melambaikan tangannya ke arah Jungkook. Bukan apa-apa, hanya sebagai pemanis saja, agar Jungkook juga tidak curiga Yein sudah tahu semuanya tentunya.

***

“Iya Noona, aku sudah makan siang kok.”
“…”
“Hahaha! Iya, sampai jumpa.”
“…”

Jungkook melihat sekeliling lalu ia berbisik mesra ke arah microphone ponselnya, “Nado saranghae, Sana Noona.”

-KLAK-

Jungkook mematikan telponnya.

“Jungkook, kau tadi sedang telphone siapa?” gadis yang merupakan teman sekelas Jungkook itu datang dengan nampannya.

“Noonaku,” jawab Jungkook enteng.

“Oh,” gadis bernama Ryu Sujeong itu meletakan nampannya di meja Jungkook.

“Aku di sini, boleh kan?” gadis itu bertanya. Jungkook mengangguk pelan tanda setuju.

“Dan Yein, dia juga akan kemari sebentar lagi.”

“MWO ?!”

Sujeong terkejut bukan main. Hei kenapa Jungkook berteriak ?

“A-itu maksudku, kenapa dia belum datang,” Jungkook pucat dan bicaranya pun terbata-bata.

“Oh iya-iya, dia sedang bersama kembarannya itu tadi.” Tapi sudahlah, toh yang Sujeong tahu Jungkook-Yein adalah The Sweetness couple di sekolahnya itu, lagipula mereka pasangan yang tidak pernah cek-cok, jadi ia tak perlu negative thinking tentang Jungkook.

“Awas hati-hati, nanti tersedak.” Jungkook mengomentari Sujeong sambil memasukan ponselnya itu ke saku seragamnya.
.
.
.
Saudara kembar itu saling beradu argumen sejak jam istirahat tadi. Dan apa kau kau tahu penyebabnya? The One and Olny, Jeon Jungkook adalah alasannya.

Pertama, saudara kembar Yein ini tidak menyukai Jeon Jungkook. Kedua, Chanwoo, si kemaran Yein itu sering memergoki Jungkook jalan bersama gadis lain. Dan ketiga, sejak 2 bulan lalu Yein masih mengabaikan perintah pemuda yang lahir 30 menit lebih cepat ketimbang dirinya itu untuk memutuskan hubungannya dengan Jungkook.

“Sekarang terserah kau sajalah. Kau pikir saja sendiri, itu juga untuk kebaikanmu.” Kalimat pemungkas dari Chanwoo begitu menyambar batin Yein.

‘Aku sudah percaya padamu Oppa, tapi untuk memutuskan Jungkook sunbae aku masih perlu waktu.’ Yein hanya mampu berbicara kenyataan dalam batin.

“Biarkan aku mempertahankannya dulu. Walau bagaimanapun aku mencintai Jungkook sunbae.” Yein pergi meninggalkan Chanwoo di ruang kelasnya seorang diri.

Gadis itu berlari menjauhi kelasnya. Dia berlari menuju kantin sekolah. Jam makan siang sebentar lagi akan berakhir, kalau ia tak bergegas mungkin ia akan menempuh pembelajaran dengan perut lapar.

Ia melihat ke seluruh penjuru kantin. Dan semua meja penuh, jadi Yein tidak akan makan siang lagi kali ini? Gadis itu perlu menyalahkan Jeong Chanwoo kalau begitu, sebab sejak 2 hari yang lalu ia selalu tidak bisa makan siang hanya karena bertengkar dengan kembarannua di waktu yang sama dan mengakibatkan akibat yang sama pula.

“Yein!” Yein mendengar sebuah suara melengking memanggilnya. Ia mencari sumber suara itu.

Assa! Itu Sujeong di sana. Tapi, ia bersama Jungkook. Tiba-tiba nafsu makannya hilang saat melihat pemuda itu.

“Kemari!” Sujeong mengisyaratkan Yein agar datang ke mejanya.

Yein berjalan mendekat. Namun, ia sudah memutuskan tak jadi makan siang beberapa detik yang lalu saat melihat Jungkook di sana.

“Makanlah! Kau terlihat puncat, apa kau lapar ?” Sujeong bertanya dengan mulut yang penuh dengan makanan.

“Telan dulu makananmu,” Jungkook mencibir Sujeong. Kemudia perhatiannya tertuju kepada Yein.

Pemuda itu memegang kening kekasihnya.
“Apa kau sakit? Kau panas,” Panas, ya kening Yein memang panas.

Yein terdiam. Sejujurnya ia memang sakit. Sakit hatinya tentu, tapi kalau sakit yang dimaksud Jungkook barusan adalah sakit yang sesungguhnya, maka Yein akan menjawab ‘Iya’ karena kemarin ia kan hujan-hujanan saat memergoki Jungkook dengan Sana, si kakak kelasnya itu.

“Kemarin tapi aku sudah minum obat.” Oh tapi jangan lupa Jeong Yein, semalam kau begadang dan menangis semalaman, mungkin karena itu obat penurun panasmu tak bekerja.

“Jinja? Tapi kenapa masih panas? Kau belum makan siang?” Jungkook mencerca gadisnya dengan beberapa pertanyaan sekaligus.

“Belum,” jawab Yein singkat.

“Nah Sujeong, bawa Yein ke ruang kesehatan. Aku akan belikan bubur dulu untuknya.”

-SKIP-

Yein berjalan bersama Sujeong. Tadinya Sujeong memapahnya, tapi Yein tak mau. Ia tidak selemas itu, untuk berjalan ia tak perlu dipapah. Ia masih mampu berjalan.

“Yein, kau itu sangat beruntung. Jungkook itu sangat perhatian. Tidak seperti Taehyung. Ah dia itu idiot…aku benar-benar gila karena dia tidak peka sama sekali.” Sujeong meninju udara hampa di depannya sambil terus berjalan di samping Yein.

“Andai saja ini wajahnya! Sudah aku tonjok! Ugh!” Sujeong nampaknya sedang kesal dengan Kim Taehyung, senior kelas 3-7 yang merupakan kekasihnya.

“Eh tapi kok aku curhat ya.” Sujeong menutup mulutnya.

“Ah tapi sebentar boleh ya Yeinnie. Kau tahu kan, semenjak dia tingkat 3, anak-anak tingkat 3 dipindah gedung yang jauh dengan gedung anak-anak tingkat 2 dan 1. Semenjak itu aku dan Taehyung semakin jauh. Huaaaaa!”

Yein baru ingat, mungkin alasan mengapa Jungkook memperlakukannya masih sama seperti dulu adalah gedung. Ya gedung, memang benar kata Sujeong. Gedung tingkat 3 dan tingkat 1, 2 memang dipisahkan dengan jarak yang jauh. Jadi karena jarak yang jauh inilah, Jungkook masih bisa leluasa mempunyai dua kekasih sekaligus.

Dan setahu Yein, Sana itu murid pindahan dari Jepang dan belum lama di sekolah ini. Maklum saja kalau ia mau berpacaran dengan Jungkook, karena ia tidak tahu hubungan Yein dan Jungkook mungkin.

“Aku dan Jungkook juga tidak semanis yang Unnie kira kok.” Yein dan Jungkook mungkin lebih parah.

“Ah masa, bukankah kalian selalu manis setiap saat?”

“Hhahahaha,” mendengar itu Yein hanya bisa tertawa hambar.

“Tadinya sih gitu. Tapi ya lama-kelamaan udah nggak kok. Namanya juga manusia, kadang kan ada bosannya juga.” Yein meringis memamerkan deretan giginya yang putih nan rapi.

“Kau ini. Mana mungkin The Sweetness couple sekolah ini saling bosan. Mustahil Yeinnie.” Sujeong menepis ucapan Yein tentang hubungan manis si gadis dengan Jungkook yang dikatakan tidak semanis kelihatannya itu.

“Tapi it-“

“Ya! Kenapa kalian belum sampai juga?” Yein menutup mulutnya rapat setelah Jungkook datang dengan semangkuk buburnya.

“Lamban,” komentar pemuda itu.

Selang beberapa detik kemudia terbesit sebuat ide di otak pemuda Jeon itu.

“Bawakan ini.” Jungkook menaruh semangkuk bubur yang ia bawa ke tangan Sujeong.

Gadis itu mendelik, “Ya! Mwoya?”

“V Hyung benar-benar kacau nih tipenya. Gadis berisik dipacari,” setelah puas mencela teman sekelasnya itu Jungkook bersiap untuk menggedong Yein.

Tanpa aba-aba ia meletakan tangannya di bagian belakang lutut Yein. Dan mengangkat tubuh gadisnya yang sedang lemah. Menggendong Yein ala bridal style.

“Jungkook!” Yein terkejut bukan main.

“Agar lebih cepat sampai,”

.
.
.

“Jungkook kok ponselnya nggak aktif sih?”

Gadis cantik itu mengigit kukunya cemas. Pasalnya sudah puluhan kali ia menelpon kekasihnya itu, tapi bukan suara manly Jungkook yang ia dengar melainkan suara peringatan dari operator. Dan kenapa juga ponsel pemuda itu tidak aktif ?

Minatozaki Sana menopang wajahnya di mejanya. Ia bosan. Tak tahu kenapa tapi semenjak ia datang dari Jepang, Jungkook yang ia kenal sekarang berbeda dengan Jungkook yang ia pacari selama 2 tahun yang lalu.

“Kau berubah, apa kau sudah tidak peduli denganku lagi?” Sana menatap foto Jungkook yang ia jadikan sebagai lockscreen ponselnya.

Dulu itu Jungkook amat sangat perhatian dan menurut dengannya, tapi semenjak 4 bulan lalu ia pindah ke Korea lagi Jungkook seperti orang lain. Bahkan waktu awal-awal kedangannya Jungkook mencoba menghindarinya, walau sebenarnya tak ada bukti pasti kalau Jungkook menghindarinya, tapi Sana yakin Jungkook memang menghindarinya dulu.
.
.
.
“Kenapa lututmu?” Jungkook menatap lutut Yein yang membiru. Yein terdiam, ia tak menjawab dengan sepatah katapun.

“Kanapa Yeinie?” Jungkook mengulang pertanyaannya.

“Jatuh,” Yein hanya menjawabnya dengan singkat.

“Saat?” Namja itu memicingkan matanya.

“Memergoki kucingku tidak ada di rumah, aku berlarian mencarinya.” Mata bulat Yein menatap langit-langit ruang kesehatan.

“Maksudmu Kookie hilang? Itu ‘kan kucing dariku.” Jadi kemana arah pembicaran pasang muda ini sekarang?

“Sudah ketemu kok,”

“Oh iya, aku keluar dulu ya.”

Jungkook merogoh sakunya. Mengambil ponsel canggih miliknya lalu membuka knop pintu ruang kesehatan dan bergegas keluar.

Jika saja Yein tidak tahu kejadian kemarin, mungkin sekarang ia akan merasa bahwa tak ada yang aneh dari Jungkook.

Namun, sejak tadi pagi ia baru mengerti ternyata Jungkook banyak menyembunyikan sesuatu darinya, terutama tentang ponsel Jungkook yang selalu berdering itu.

Dan perlu Yein luruskan, kemarin itu hujan. Kucing mana yang akan berkeliaran keluar saat hujan turun? Kucing kan tak suka air.

Yang sebenarnya adalah ia terjatuh saat berlarian saat hujan kemarin.

[FLASHBACK]

Yein menangis sejadi-jadinya. Tak peduli dengan matanya yang sudah bengak, ia masih terus menangis sambil berlarian menuju rumahnya.

Ia hendak menyeberang jalan, tapi tiba-tiba motor dengan kecepatan extra lewat dan hampir menabraknya. Untung saja Yein masih di ambang jalan, dan ia hanya tekejut hingga ia harus terjatuh ke trotoar jalan.

Pengemudi motor itu berhenti tak jauh dari tempat Yein jatuh. Ia mundur sampai tepat di sebelah Yein bersimpuh.

“Yein? Kau tak apa-apa?” Pemuda yang mengendarai motor tersebut membuka helmnya. Ternyata dia Choi Vernon. Teman sekolah menengahnya di International School dulu.

“Vernon?”

[FLASBACK END]

“Vernon, dulu aku kan menyukai dia.” Tak ada hujan, tak ada angin, Yein tiba-tiba mengingat saat di mana ia dulu menyukai Vernon, teman sekelasnya yang merupakan keturunan Inggris itu.

Tapi Yein segera mehapus bayang-bayang itu. Dia turun dari ranjangnya. Berjalan pelan menuju jendela ruang kesehatan itu.

Ia mengulum gorden yang menutupi jendela. Tak jauh dari ruang kesehatan ia melihat sosok Jungkook tengah berdiri dan nampak sedang bertelepon dengan seseorang.

“Pasti itu Sana sunbae.”

***

Jungkook dan Sana duduk di meja bernomer 70 yang sebelumnya sudah mereka pesan.

Jungkook nampak begitu tampan dengan setelan kaos putih dan celana jeans Denim hitamnya.

Tak lupa seorang Minatozaki Sana juga selalu tampil girly dengan potongan kemeja mini berwarna merah muda dan rok mini berwana senada yang serasi dengan headband yang gadis itu pakai pula.

“Noona, aku minta maaf soal yang di sekolah tadi. Kang ssaem sedang menghukumku karena buku pelajaranku tertinggak di rumah.”

Sana hanya memutar bola matanya malas.

“Jungkook-a, aku ingin agak risih dengan sebutan Noona yang selalu kau ucapkan padaku. Bisakah kau menggantinya dengan sebutan Chagi ? Atau Honey, atau apapun. Aku merasa hanya sebatas kakak perempuanmu saja selama ini.”

Jungkook terdiam. Jujur saja, ia sudah terbiasa dengan menyebut Sana dengan sebutan Noona. Tapi apa ia harus merubahnya sekarang?

“Arraseo, Chagi-a.” Jungkook teramat mencintai gadis di hadapannya itu. Jadi meskipun tak terlalu suka dengan embel-embel ‘Chagi’ untuk Sana Jungkook akan melakukan apapun.

Namun tanpa kedua pasangan itu sadari, gadis berpakaian serba hitam di ujung sana tengah memotret kebersamaan mereka itu.

‘2 hari lagi Jeon, dan saat perayaan 200 hari kita aku akan memutuskan, serta mengungkap semuanya.’

Itu Jeong Yein. Gadis itu sengaja mengikuti Jungkook. Ia akan membuat moment yang begitu special untuk Jungkook saat perayaan hari ke-200 mereka.

Eh tunggu? 200? Itu tandanya Yein dan Sana lebih duluan Sana kalau urusan pacar-pacaran dengan Jungkook. Bukankah Sana sudah 2 tahu menjalin hubungan dengan Jungkook ? Jadi apa maksudnya ini ?

Apa Yein hanya pelampiasan Jungkook saja?

.
.
.
.
.
.

TBC-?

Masih part-part awal belum terlalu panas ya hhahaha!! Nanti semakin ke inti Yein-Jungkook-Sana makin panas nih hubungannya ㅋㅋㅋㅋㅋ~~ Nih FF rutin dipost di Grup FB sama Wattpad ya ^^

 

Advertisements

6 thoughts on “[Freelance] Evanescent (Chapter 1)

  1. Lah kok aku nya pingin nampar kuki 😂 /maafkan dedek/
    Ntah sebel gitu masa iya yein cuman dijadiin pelampiasan 😭 /pukpukpuk sabar ya yein/
    Keliatan banget kalau kuki masih sayang sama sana 😭 trus ntar yein dikemanain 😭
    Dilanjut ya thor 😊
    Semangat 😊

    Like

    • Jika kau ingin menampar Kuki, sebagai istri sah kuki aku rela diriku yang kau tampar/sok ngdrama/

      Yein yg cantikss maximal aja dijadiin pelampiasan, apalagi aku yg sehitam dakinya Mingyu 😢😢😢

      Thanks dah baca ya ^^

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s