Posted in Friendship, LFI FANFICTION, Phynz20, Slice of Life, Teenager / Teen, Vignette

[Vignette] Friendship? Or Friendzone?

Moodboard JeongKook 001

Friendship? Or Friendzone?

[Side Story from Persimpangan]

A short-fiction by Phynz20 (@putriines)

.

Starring: Lovelyz‘ Sujeong  BTS Jungkook || Rated: Teen || Genre: FriendshipSlice of Life,  and many more || Length:  Vignette with 1525 word(s)

.

Notes: Bisa dibaca lepas tanpa membaca Persimpangan

.

Jeon Jungkook dan Ryu Sujeong itu sudah ditakdirkan bersahabat, bukan menjalin kisah roman picisan yang menjijikan itu. Dari dulu juga kedua insan itu sudah tahu arah takdirnya.

.

 

Dimasa-masa seperti ini, Ryu Sujeong gerah. Bukan karena panas terik matahari atau suhu udara yang menaik karena efek globalisasi. Bukan itu. Tapi ia gerah dengan semua respon temannya terhadap hubungannya dengan cowok yang hampir setiap detik disampingnya.

Namanya Jeon Jungkook. Dulu saat mereka masih sekolah dasar, bocah itu selalu berada di belakang Sujeong. Bukan karena penakut, tapi lebih kepada malas berurusan dengan orang lain. Ia pikir dengan menjadikan Sujeong sebagai tameng, ia tak perlu repot-repot senyum kepada guru, ramah terhadap teman dan sebangsanya.

Sesungguhnya dua orang itu bagai kutub utara dan kutub selatan. Sama, tapi bertolak belakang. Mereka berdua sama-sama populer. Hanya saja Jungkook populer karena ketampanan dan keminiman bicaranya, sedangkan Sujeong karena otak encer dan boros kata.

Bagaimana caranya mereka bisa dekat? Simpel, karena mulai kelas satu sekolah dasar saja mereka sudah dipasangkan terus menerus. Alibi guru-guru sih karena Sujeong mudah bergaul dan pintar, ia bisa membantu Jungkook yang pendiam dan kurang bersemangat sekolah.

Orang lain mungkin akan muak di pasangkan terus menerus. Tapi keduanya sepakat merasa bahwa kedekatan mereka adalah simbiosis mutualisme. Bagi Jungkook, ia hanya perlu satu orang, punya banyak teman itu pemborosan menurutnya. Sedangkan prinsip Sujeong, pertemanan itu harus dibangun dengan semua orang.

Lihat kan? Dua orang itu memang berbeda.

Pernah suatu kali, ketika mereka duduk di bangku kelas empat sekolah dasar, Jungkook menanyakan hal yang terlalu dini untuk dipikirkan anak seumurannya. Tapi Sujeong pun menjawab dengan jawaban yang spektakuler.

“Sujeong-ah, kalau lulus dari sekolah ini, kamu akan melanjutkan kemana?”

Sujeong terdiam sebentar, dendrit-dendrit-nya berusaha menyatu, matanya mencoba menerawang kemudian menjawab, “Hanlim sepertinya bagus. Lagipula alumni sana banyak yang diterima di Seoul Science High School. Kalau sudah masuk Seoul Science High School, katanya masuk universitas pun mudah Kook-ah. Tapi sepertinya aku belum memutuskan ingin kuliah apa. Tahu nggak, sepertinya aku harus cepat-cepat memikirkannya, kalau aku telat sedikit saja, nanti rencana masa depanku akan rusak,” bernapas sebentar dan mengalihkan pandangannya ke lelaki di kirinya, “Kalau kamu?”

Jungkook hanya bisa terkekeh. Ryu Sujeong itu anaknya sangat sangat terorganisir, hampir perfeksionis malah. Makanya ia tidak kaget, cuma sedikit minder saja.

“Sebenarnya aku belum tahu, tapi sepertinya aku juga ingin masuk Hanlim.”

Sepulangnya, Jungkook menceritakan keinginannya memasuki Hanlim kepada kedua orang tuanya. Miris, mereka hanya tertawa mendengar tekad Jungkook. Ibunya bahkan mencibir (walau sesungguhnya bercanda) padanya, “Bagaimana mau masuk Hanlim kalau nilai harianmu saja masih ada yang dua.

Teman-temannya (terlebih lelaki) pun mencibir itikad Jungkook. Katanya, “Nggak mungkin,” lah, “Mustahil,” lah, “Kamu mimpi ya?” dan sebangsanya. Yang perempuan? Pasti didepan Jungkook memuji tapi di belakang terkikik menertawakan mimpi Jungkook.

Mulai dari situ, jika anak-anak sebaya mereka akan menghabiskan waktu dengan main, tidur dan lain-lain, Jungkook malah mencegat Sujeong sebelum cewek itu bisa melangkahkan kaki keluar kelas. Tangan cewek itu pasti setengah diseret menuju rumah Sujeong sendiri dan ia baru akan pulang kalau matahari sudah terbenam.

Mereka ngapain? Jungkook hanya memaksa Sujeong mangajarinya materi guna ujian masuk Hanlim nanti.

Spektakuler bukan masa kecil mereka?

Tapi karena bersusah-susah sampai entah berapa kali Sujeong memukul Jungkook karena kelemotannya dan tak terhitung jumlah cibiran Jungkook karena Sujeong menjelaskan secara bertele-tele, mereka toh berhasil masuk Hanlim.

Di Hanlim pun, ujung-ujungnya mereka duduk satu bangku lagi. Entah takdir itu kejam atau sengaja mempermainkan mereka, tapi mereka selalu satu kelas sampai di tingkat akhir.

Awal-awal memang Jungkook yang meminta Sujeong untuk duduk bersamanya. Alasannya masih sama, Jungkook tidak mau bergantung pada lebih dari satu orang. Tapi anehnya, di tahun-tahun selanjutnya, tanpa ada janjian pun, mereka selalu duduk bersama.

Bingung kan?

Di Hanlim lah, Sujeong menemukan sosok gadis cantik dan hits macam Ahn Solbin dan anak kurang ajar tapi seru macam Kunpimook Bhuwakul. Mereka sama-sama dipertemukan di kelas satu. Bahkan kedekatan Sujeong dengan Solbin hampir menyamai kuantitas kedekatannya dengan Jungkook. Sedang Kunpimook Bhuwakul atau Bambam adalah satu-satunya cowok yang sepemikiran dengan Sujeong: seru, asyik, boros kata, dan berprinsip pertemanan itu harus dibangun dengan semua orang.

Di Hanlim pula Jungkook akhirnya bisa melepaskan diri dari bayang-bayang Sujeong. Ia ikut ekstrakurikuler basket (yang sesungguhnya dipaksa Sujeong hingga cewek itu mendaftarkan juga menyeret Jungkook pada pertemuan pertama), sudah mau tersenyum kalau disapa (ini juga akibat cubitan Sujeong jika Jungkook tidak mau merespon) juga berteman dengan Bambam dan seniornya yang bernama Kim Taehyung (dan merasa kenal dengan teman-teman sekelasnya).

Dari kedua cowok kurang ajar itu Jungkook tahu yang namanya majalah playboy  hingga bagaimana caranya jadi playboy. Adakah penyesalan dari Sujeong?

Jawabannya tidak-tidak-iya, karena Sujeong cukup senang Jungkook bukan lagi pribadi dingin yang keras kepala dan tolol, tapi ingin memaki Jungkook habis-habisan karena berpikir bahwa cewek adalah objek dan mengubah diri jadi playboy.

Selebihnya ia tidak menyesal. Untuk majalah playboy dan sejenisnya, dengan campur tangan Solbin, Sujeong sudah berpikir bahwa wajar kalau lelaki berpikiran seperti itu. Asal tidak dipraktekkan, kalau sampai Jungkook melakukan yang tidak-tidak, Sujeong-lah orang pertama yang akan menghabisi cowok itu.

Tapi dengan keberadaan Bambam dan Solbin sekali pun, kedua orang itu masih saja layak disebut prangko dan amplop. Duduk berdua, ke kantin berdua (plus Bambam dan Solbin), kalau ada tugas kelompok yang terdiri dari dua orang pasti mereka sekelompok, ritual pemaksaan mengajar Sujeong untuk Jungkook pun masih dilakukan, untung saja kalau ke toilet tidak berdua.

Sampai Sujeong, Jungkook, Bambam dan Solbin benar-benar melanjutkan sekolah mereka ke Seoul Science High School. Bertemu dengan Yuju si pendiam, murah senyum namun punya pemikiran sinting juga, dan Kim Mingyu.

Berbekal pelajaran non akademik yang Jungkook terima sewaktu di Hanlim, ia jadi tersohor lantaran julukan playboy-bajingan-namun-sayang-untuk-dilewatkan. Entah sudah berapa mantan pacarnya. Mulai dari Jung Eunha, Myoui Mina, dan beberapa yang Sujeong lupa diangkatannya, kakak kelas seperti Im Nayeon, Oh Hayoung, Minatozaki Sana dan beberapa lagi sampai ke adik kelas yang bahkan belum masuk Seoul Science High School seperti Cheon Jaein, Jung Eunbi, Chou Tzuyu, Choi Yewon dan astaga, yang diingat Sujeong saja sudah begitu banyak.

Tapi yang membuat Sujeong risih, selain Jungkook yang gonta-ganti dan merecoki acara belajar mereka lantaran membawa pacar adalah ucapan-ucapan pedas mantan yang baru saja diputuskan Jungkook.

Alasan Jungkook putus dengan cewek-cewek itu, dua puluh persen karena Jungkook bosan dan delapan puluh persen adalah Ryu Sujeong.

“Jeon Jungkook, kamu pilih aku apa Ryu Sujeong?!”

Dan dengan enteng Jungkook menjawab, “Sujeong lah! Kamu dibanding dia mah nggak ada apa-apanya!”

Makanya Sujeong sebal.

Sujeong saja yang kini sudah menginjak tahun akhir masa-masa sekolah tak pernah yang namanya berpacaran. Okelah, banyak yang mendekati dia mulai dari kakak tingkat hingga seangkatan tapi respon Sujeong akan pendekatan itu juga minim. Yang cewek itu pikirkan, akan sangat buang waktu kalau memikirkan cinta-cintaan sedangkan sekolahnya saja belum becus.

Oh lupakan belum becus itu Ryu Sujeong, kalau piagam olimpiade, tanda bakti sebagai pengurus OSIS juga peringkat atas di angkatan masih bertengger di rumahmu harusnya kamu sadar kalau kamu itu bukannya belum becus, tapi rakus!

Lagi pula respon Jungkook dengan orang-orang yang mendekati Sujeong kelewat sadis (dalam artian tatapan membunuh dan senyum merendahkan ) makanya kebanyakan cowok-cowok mundur teratur.

Itu yang membuat gosip antara hubungan Sujeong dan Jungkook kian menyebar.

Pernah suatu kali di awal tahun ajaran kelas tiga, Sujeong terpikir untuk bertanya tentang respon Jungkook terhadap gosip-gosip yang beredar.

“Jungkook-ah.”

“Hmm?”

“Kamu nggak risih apa dengan omongan yang lain?”

Jungkook masih terfokus pada bukunya dan menjawab seadanya, “Apa?”

“Itu, gosip antara kamu dan aku?”

“Yang pacaran?”

Sujeong mendengus. Sebal karena Jungkook terlalu terang-terangan.

“Memang kenapa?”

“Kok tanya kenapa? Memangnya kamu nggak risih?”

“Risih. Siapa juga yang mau pacaran dengan penyihir kayak kamu.”

“Sialan,” dengus Sujeong. Sahabatnya memang tidak pernah tahu etika.

Ya, Sujeong juga sih.

Mereka berdua diam lagi.

“Eh, tapi kamu nggak pernah suka sama aku kan?”

Akhirnya Jungkook melepaskan pandangan pada bukunya dan beralih ke Sujeong, “Kok ada ya orang yang terlalu percaya diri seperti kamu, Jeong.”

Kalimat itu menghasilkan cubitan ringan di lengan Jungkook, “Tinggal jawab saja kenapa harus mengolok segala sih?!”

“Mana mungkin sih Jeon Jungkook yang keren ini bisa suka dengan penyihir kayak kamu.”

Sujeong melempar buku tulisnya ke arah Jungkook, “Makan nih buku!”

Tapi Jungkook terkekeh. Bukan, alasannya bukan karena apa yang diucapkan dia tadi, tapi ia tak mungkin bisa suka dengan Sujeong.

Jeon Jungkook dan Ryu Sujeong itu sudah ditakdirkan bersahabat, bukan menjalin kisah roman picisan yang menjijikan itu. Dari dulu juga kedua insan itu sudah tahu arah takdirnya.

Esoknya Sujeong tertawa hebat karena mengingat kejadian kemarin. Kalau diingat-ingat, ia bodoh betul menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya kepada Jungkook. Cowok tak punya hati itu mana mungkin berpikiran yang aneh-aneh tentang persahabatan mereka.

“Heh Jungkook-ah, kamu tahu nggak apa yang pengen aku lakukan sekarang?”

Jungkook masih tak melepas pandangannya pada layar ponselnya.

“Aku ingin bertemu dengan orang yang menyebarkan kata-kata, Persahabatan antara cewek dan cowok itu tidak ada, pasti ada salah satu yang bawa perasaan, atau, Hati-hati berteman dengan cowok nanti kena friendzone! dan menunjukkan pada dia didepan mukanya hubungan aku dan kamu! Gila ya membuat stereotype kayak gitu maksudnya apa coba?!”

Jungkook merotasikan bola matanya dan menutup ponselnya. Kini netranya tepat bersirobok pada manik si cewek, “Kalau aku cium kamu disini kamu masih nggak bakal bawa perasaan?”

Sujeong mendengus dan segera memiting leher cowok itu, “Ngomong sekali lagi mampus kamu Jeon Jungkook!”

“Yak hentikan dasar penyihir! Kalau begini jangankan aku yang sudah tau tabiatmu, cowok mana pun nggak akan punya perasaan denganmu Ryu Sujeong!”

“Mati kau Jeon Jungkook!”

Sepertinya adegan terakhir tidak perlu dipublikasikan.

-FIN-

Seriously bukannya ngelanjutin chapter 4 malah bikin yang beginian? YAAMPUN NES!

Btw itu moodboard yang buat covernya buatan aku yaampun garagara JeongKook semuanya buyar:”))))))

Maapin aku yang kayaknya terlalu ter-“obsesi” sama 97liners ini ya:”) yaampun plis banget kenapa JeongKook jadi kayak gini sih sebal. Gereget banget ya kalo punya temen kayak gini……… Capek akutu sama mereka berdua :”) Yah pokoknya ini akibat dimabok foto Jungkook, moodboard dan friendshipnya JeongKook di Persimpangan. Ah sudahlah kupusinggg :”))) 

Oiya, jangan lupa untuk meninggalkan jejak (Komentar dan Likes diterima dengan senang hati)!

Phynz20’s signing off~

Advertisements

5 thoughts on “[Vignette] Friendship? Or Friendzone?

  1. Aku mau dong punya sahabat cem Jungkook, yang ga harus bawa perasaan kalo kemana-mana. Eh punya sih tapi dah entah kemana orangnya, dia sibuk + nyaman sama cewe lain buat curhat /malah curcol/ /ditimpuk gagang sapu/

    Aku kok baper ya baca ceritanya kak. Tapi jujur aja, aku suka banget. Aku kirain bakal berkahir dengan label ‘Cinta Bertepuk Sebelah Tangan’ yang kedengarannya klise tapi WAW sejagat raya. Taunya engga, but i’m so very happy /ancur banget dah bahasa inggrisnya/. Tokoh Sujeong dalam cerita ini juga kaya merealisasikan tokoh cewe di dunia nyata yang punya sahabat cowo, rata-rata gini. Aku suka, karakter Sujeong yang sabodo teuing gitu dimata orang sifatnya kek anak begimana gitu…

    Maafkan aku yang tetiba rusuh ditambah curcol ini saat tengah malam, gelapnya pekat lagi /iyalah lampunya aja dimatiin/. Aku suka^^

    Like

  2. semoga ff ini ga jadi diam2 curhat terselubungmu yah nes😂 /dicubit/

    aku gabisa bayangin kalo sampe mereka ternyata pernah saling baper. meski… jujur aku adalah salah satu penganut stereotype ‘laki-laki dan perempuan ga mungkin bersahabat tanpa pernah diam2 menyimpan rasa’ ;-; dan ff ini belum mematahkan itu😂😂 tapi di sisi lain, aku pun lega ternyata mereka nggak punya hubungan-yang-tak-terungkap di kisah utama. maafin diriku nes, kutahu aku nggak konsisten orangnya. tapi ffmu tetap keren nes^^

    semangat selalu neees~!😉😉

    Like

  3. YA AMPUN NAMA KAPALNYA JeongKook nih? 😄 kok kocak SuKook kek ato JeongJeong wkwkwkwk. Aku pendukung besar kapal persahabatan mereka huaaaa, selalu kebayang Kookie Sujeong cover lagunya Zion.T bareng sih duh pusing aku tu. Rasa-rasa sedih gegara Kookie sakit pas anak 97z bareng2 di tv itu muncul lagi kan huhuhu sediiiiiiiiiii

    Hm, aku…aku…gak pernah suka sama temen cowo aku karena temen cowo aku…tidak dapat disukai /APA SIH INI/ biasanya karena aku menarik teman cowo yg sifat dan tabiatnya sejenis…while aku sukanya cowo yg bertolak belakang sama aku (yg calm, intelek, passionate, hard working and so on bukan yg demennya haha hihi WQWQWQWQ) /WAH MALAH KEBALIK SAMA SUKOOK/ /sudah curhatnya sudah/ 😄

    Tapi suka deh Kookie di sini egob :”D /HEI!/ dan Sujeongnya jg pribadinya keliatan jelas :3 KU MENUNGGU BAGAIMANA DUA SAHABAT INI MERAIH ROMENS MEREKA MASING-MASING. AAAK SEMANGAT INES. SELALU, SEMOGA YANG TERBAIK!

    Like

  4. Wayoloh malah baper kan kak ines wkwk 😁😁😂
    Tapi selama aku hidup dan berteman dan bersosialisasi/? malah ada yang awalnya cewenya suka eh malah jadi sahabatan, tapi ada juga yang awalnya sahabat eh malah baper. dan sayangnya itu bukan aku 😦 padahal pengen tau rasanya dibaperin sahabat wkwk

    Like

  5. [Dan dengan enteng Jungkook menjawab, “Sujeong lah! Kamu dibanding dia mah nggak ada apa-apanya!”

    No komen aku mah no komen.. diem aja liat hubungan mereka berdua.. gk tau lagi mau ngomen apa..#itungomen ]

    Walopun aku rada setuju sama Stereotype “Persahabatan antara cewek dan cowok itu tidak ada, pasti ada salah satu yang bawa perasaan” tapi ya tetep aja pengen gitu punya temen cowok yang setipe2 Jungkook didunia nyata..
    Klo ada juga paling sedikit banget kli yah..

    Eh tapi emang bener juga ya kata Jungkook kalo Sujeong dicium sama dia pasti bakalan baper.. yakin da aku mah.. ngehahaha.. walopun gk baper tpi pasti canggung.. ahaha..

    Sukak lah sama mereka berdua.. Friendship nya menjurus jadi ke sodara gitu yah.. gk bakal suka..

    Ps : JADI JUNGKOOK JADI PLAYBOY ITU KARNA TEYUNG SAMA BAMBAM..????? OAJA..

    WASSALAM..

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s