[Freelance] Paper Heart (Chapter 1)

paper-heart

Written by ANi

Cast of Lovelyz’s Seo Jisoo and BTS’s Kim Namjoon

Romance, Sad, Mystery, Crime, and Friendship

PG-15 rated on Threeshoot

Cover by Aikwan_Daegi @ Story Poster Zone

TeaserProlog

||Paper Heart: Pt. 1-Meet||

Dalam hening, Jisoo menatap kesal keluar jendela. Sembari menusuk berkali-kali satu roti. Malam ini bahkan tampak seperti malam-malam sebelumnya, hanya ditemani keheningan, sunyi yang menyelimuti, lagi, Jisoo terkurung dalam kamarnya sendiri.

Ketika detik terus berjalan, jam berdenting, dan jantungnya berdetak, Jisoo masih merasakan kehidupannya. Terkecuali rasa bahagia, kini bahkan ia lupa bagaimana atau apa itu bahagia. Semuanya terasa datar dan hambar baginya.

Pun ketika satu kesalahan kecil menggiringnya untuk terus berada disini. Hei, itu bukan kesalahannya! Tapi, itu kesalahan keluarganya. Keluarganya terlalu banyak mencampuri urusan orang lain. Jadi apakah itu masih termasuk kesalahannya juga?

Hanya ketika Ayahnya begitu menjejakkan kaki di dunia luar, semua masalah datang bertubi-tubi. Orang itu bilang, semua keluarganya terlalu ingin tau dan banyak tau segala hal. Tapi Jisoo juga tak ingin masalah ini terus berjalan seiring waktu, bahkan orang itu yang terus mengintimidasinya menjadi tau banyak hal tentang keluarganya. Bukankah itu sama saja?

“Argh…!” pekik Jisoo tertahan, sedangkan kedua tangannya kini mengisi sela-sela rambut yang terjuntai panjang dan mengacaknya kasar.

||Paper Heart||

Namjoon menutupi sebagian penampakan wajahnya dengan topi. Tak cukup dengan itu, Namjoon juga memakai hoodie hitam. Lalu pandangan matanya sekarang tertuju pada pria tinggi dengan senyum merekah sambil memegang balon merah muda di tengah-tengah taman kota.

Tak pula Namjoon melepas satu gerakan dari si pria yang diketahui olehnya bernama Jung Jikyung itu. Dan matanya kembali menatap keanehan dari Jikyung yang menyampirkan tas hitam di bahunya dan mengacak pucuk kepala anak kecil lalu pergi.

Segera Namjoon berlari kecil untuk menyusul banyak langkah Jikyung. Hingga dalam radius dekat, Namjoon menepuk kecil Jikyung dan pria itu memutar tubuhnya untuk memandang pria Kim tersebut..

“Halo, Mr. Jung. Bagaimana kabarmu?”

“K-kau?!”

||Paper Heart||

Jisoo mempercepat langkahnya untuk mencapai stasiun kereta. Ia menuruni sepuluh anak tangga kemudian setelah sampai di pintu masuk stasiun dan berbelok ke arah kanan menuju deretan mesin sebatas pinggang. Wajahnya berlumuran peluh bahkan begitu tampak cemas dari ujung kepala hingga kaki. Juga deru nafas yang tak terdengar beraturan terus menggebu.

Sekarang langkahnya terhenti dan bersandar pada sebuah pilar penyangga dekat eskalator. Memejamkan mata sejenak hingga sesaat kemudian terdengar dentuman rel kereta dan roda-rodanya menyambangi pendengaran Jisoo. Secepat mungkin ia masuk ke dalam sana. Tak peduli pada segaris tulisan kuning yang ia injak barusan, mengarah pada kemana kereta akan menuju.

Lalu ia duduk ketika sudah berada di dalam sana.

Setelah sebelumnya Jisoo nyaris tertangkap saat kabur, kini ia bisa tenang setelah memasuki gerbong kereta bawah tanah yang dinaikinya. Jisoo sama sekali takkan peduli ia akan di bawa kemana nantinya.

“Nona, kau baik-baik saja?” suara di sebelahnya membuat Jisoo membuka mata dan menoleh. Seorang gadis dengan surai panjang kecoklatan dan poni, ia menyodorkan tisu padanya.

“Ah, maaf ya. Sepertinya aku mengganggumu barusan,”

“Tidak, kok. Sepertinya kau buru-buru,” tapi tangan gadis itu masih tetap di udara untuk memberikan tisu pada Jisoo. “Ambilah,”

“Terima kasih,” dan Jisoo mengambil satu tisu dari dalam kotak lalu menempelkannya pada kening.

“Sama-sama. Namaku Lee Mijoo. Kalau boleh tau, kau mau pergi kemana?”

Kemudian Jisoo tersentak, ia diam sesaat lalu kembali menoleh ke arah Mijoo.

“Kereta ini akan pergi kemana?”

Hongdae.”

||Paper Heart||

Lima menit yang lalu ia masih ada di dalam gerbong, tak ada yang salah. Setelah ia menaiki eskalator untuk keluar dari stasiun, ia malah tampak seperti orang buta arah. Bisa dibilang, Jisoo tau Hongdae. Tapi Jisoo sama sekali tak tau ia harus kemana sekarang.

Sembari menikmati air mineral, Jisoo duduk termenung di bawah atap halte bus. Gadis yang tadi ditemui olehnya dalam gerbong kereta menghampiri Jisoo dan menepuk pundaknya. “Kau sepertinya sedang bingung, Jisoo­-ssi?”

“Aku…tidak tau akan pergi kemana,”

“Memannya kenapa? Bukankah-“

“Aku sedang kabur. Aku tidak tau tempat baik apa yang bagus sebagai pelarianku,” Jisoo memotong cepat perkataan Mijoo.

“Kabur dari apa?”

“Seluruh keluargaku mengalami masalah. Dan aku kabur karena hanya aku yang tersisa. Aku tidak tau harus apa sekarang, bahkan aku tidak punya kerabat di Hongdae,”

“Begini saja, di apartemenku masih tersisa satu kamar. Kebetulan kamar itu tak pernah kupakai. Kau bisa tinggal di apartemenku untuk sementara waktu, mau?”

“Tidakkah aku merepotkanmu? Bahkan sudah sejak tadi,”

 Dan jawaban Mijoo adalah, “Tidak.” sembari menggeleng lalu seutas senyum mengembang membuat Jisoo sedikit lebih nyaman ketimbang sebelumnya.

“Baiklah, selagi aku mencari tempat aku juga akan bekerja. Terima kasih atas tawarannya, Mijoo­-ssi.”

||Paper Heart||

“Kau tau, Jikyung-ssi, aku tak pernah mengharapkan semua keluargaku mati. Apalagi kehilangan teman-temanku. Tapi aku lebih suka jika mereka mati dengan damai,”

Namjoon membuka botol minumnya dan melempar sembarang tutup botol, sembari menunggu Jung Jikyung mengerti maksud ucapannya. Tapi Jikyung hanya diam di kursi dengan terikat. Matanya menatap jauh pada iris Namjoon yang gelap dengan kerut di keningnya.

“Bisakkah kau berbicara padaku dengan sopan, huh?!”

“Untuk apa aku berbicara sopan padamu? Kau sudah menjatuhkan hukuman mati pada ibuku yang tak salah sama sekali. Kau juga membunuh ayahku dalam penjara itu, iya kan? Lalu sebarapa banyak uang yang mereka beri padamu agar mereka menang di pengadilan saat itu? Bukankah Hakim Seo mengatakan bahwa ibu dan ayahku tak bersalah?! Berapa puluh juta won yang kau punya?”

“Kau pikir anak-“

“Kau melakukan ini karena uang, kan?! Dan kau menyingkirkan Hakim Seo dari pengadilan saat itu agar kau bisa melakukan semua yang mereka katakan hanya karena jumlah won yang mereka miliki lebih banyak ketimbang penghasilanmu sebagai Hakim!”

“Aku tidak pernah menyingkirkan Hakim Seo dari pengadilan, bukan aku yang melakukan hal itu,”

Namjoon mendekati Jikyung dengan sebuah belati kecil ada pada tangan kanannya. Dan Namjoon berbalik menelisik isi kepala Jikyung lewat sepasang iris –yang nampak ketakutan- berbentuk bulan sempurna yang berusaha melepas pengaruh tatapan Namjoon.

“Kau tak bisa menghindar dariku, Jung Jikyung!” tegas Namjoon dan kembali mengintimidasi Jikyung.

“Dan kau tau itu, bukan? Siapapun yang berusaha menghancurkan keluarga Kim Namjoon, mereka akan berakhir sama seperti mereka menghancurkan keluarganya,”

“Kim Namjoon, kau jangan macam-macam denganku!”

“Cukup hari ini kau mengihirup oksigen di dunia! Bahkan kau tak pantas berada sebanding denganku. Sekarang kau harus merasakan apa yang ibu dan ayahku rasakan saat mereka harus mati hanya karena jumlah uang….tapi sebelum itu sebaiknya kau bermain-main saja dulu. Dua jam dari sekarang!”

Senyum miring tercetak jelas di wajah Namjoon dan ia berbalik sepenuhnya meninggakan Jikyung di ruangan ini sendirian. Saat ia meraih gagang pintu, Jikyung masih sanggup membalikkan keadaan dengan mengintimidasi Namjoon.

“Kau tau siapa aku, Kim Namjoon. Kau hanya bocah ingusan yang baru berumur 12 tahun untuk melihat orangtuamu mati!Kau hanya bocah kecil yang tak tau diri menusukkan pisau pada pria berumur 40 tahun hingga sekarat! Kau tau apa artinya? Kau juga akan di penjara!”

Tapi keadaan itu sama sekali tak menguntungan bagi Jikyung.

“Aku tau siapa dirimu, Jung Jikyung. Dan sebelum kau mengetahui siapa diriku, sebaiknya kau berpikir. Siapa yang lebih dulu membunuh. Kau atau aku? Kau lebih pantas berada di penjara.”

Dengan santai, Namjoon menutup pintu besi gudang dan meninggalkan Jikyung sendirian di dalam sana. Dan setelah itu tak ada konversasi besar-besaran untuk saling menjatuhkan diantara Namjoon dan Jikyung. Yang ada hanyalah senyum tipis yang mengembang di bibir Namjoon dengan suara makian dari dalam gudang.

||Paper Heart||

Namjoon kembali pada kegiatannya sebelum ia harus mengurus Jikyunng untuk Jongwoon. Ia beristirahat sejenak ditemani secangkir kopi hitam pekat yang menguar sekali harusmnya dan menonton berita di televisi seperti biasa.

Tapi, suara ponselnya sedikit membuat konsentrasi Namjoon pecah ketika yang tampak dilayarnya ponsel tercantum nama Park Jongwoon. Setelah ini ia menjamin bahwa nomor itu takkan lagi ada di ponselnya. Mau-tak-mau ia harus mengangkat telepon. Dan yang terdengar pertama kali adalah suara Jongwoon menyapa begitu ceria tapi itu terdengar aneh sekali ditelinga Namjoon.

“Sebaiknya kau perbaiki sikapmu itu. Itu tidak terdengar seperti kau,”

Ayolah, Kim Namjoon, kita bersenang-senang sedikit. Terima kasih sudah menangkap Jikyung untukku, ya?

“Sebenarnya dia target utamaku sejak awal. Tak perlu kau suruh pun sudah pasti aku akan menangkapnya. Ada apa kau menghubungiku? Kau tau aku sedang sibuk, kan,”

Omong-omong soal menangkap, aku punya target baru. Jika kau ingin mengambilnya aku akan meberikan bonus tiga kali lipat,”

“Maaf ya, aku tidak tertarik dengan bonusmu yag tiga kali lipat itu. Aku bukan orang bermata uang. Lagipula aku sudah sangat puas untuk menangkap kelinci-kelinci kesayanganku itu, kecuali satu,”

Siapa? Mauku bantu?

“Tidak, kau tak perlu ikut. Ini urusanku sendiri. Kau akan tau siapa kelinciku selanjutnya.”

Lalu sambungan terputus tanpa mendengar ocehan berlanjut Jongwoon yang tak memiliki akhir itu. “Kau seharusnya bersenang-senang di waktu seperti ini, Park Jongwoon.”

||Paper Heart||

Begitu pintu menampakkan sang tamu, Mijoo membawa seorang pria dengan wajah berseri. Jisoo hanya memandangnya agar risih ketika sepasang iris yang tanpa henti memandangnya itu menarik lengan Mijoo pelan-pelan.

“Dia Jung Hoseok, kita berbagi apartemen bersama-“

“Halo, aku Jung Hoseok. Senang bertemu denganmu. Kami sudah berbagi apartemen sejak keluar panti asuhan sekitar tiga tahun lalu. Aku harap kau bisa nyaman disini. Dan yah aku memang seperti ini,” potong Hoseok dan satu tangan kanannya membekap mulut Mijoo yang tadi sedang bercuap-cuap.

“Dia agak sinting,” desis Mijoo dan  melirik sinis ke arah Hoseok. Tapi sedetik berlalu, tak ada raut kebingungan atau tak nyaman dari wajah Jisoo. Kini sudah terganti dengan sebuah kurva mini yang meregang indah, menghias wajahnya.

“Senang bertemu denganmu. Aku Seo Jisoo. Dan kuharap kau tak merasa terganggu akibat kehadiranku disini untuk sementara waktu,”

“Ya, kau tak perlu khawatir. Aku senang Mijoo bawa orang lain sebetulnya. Setidaknya rumah kami ini tak lagi sepi penghuni. Benarkan adikku?” Kekeh Hoseok sambil tersenyum jahil pada Mjoo.

||Paper Heart||

Terdengar jelas bel apartemen Mijoo berbunyi, dengan segera ia melepas celemek lalu menyusul Hoseok yang berjalan ringan menuju pintu. Lalu saat Hoseok membuka pintu, si tamu hanya memandangnya sambil berkata, “Apakah aku bisa masuk?” tanpa senyum.

“Oh kau, tentu saja kau bisa masuk. Kebetulan, Mijoo sedang memasak Galbi,”

||Paper Heart||

Kini atensi Namjoon malah terpaku pada satu orang dari tiga orang yang bergerumul di meja makan. Kedua orang lainnya tak memiliki eksistensi besar ketika ia tau bahwa mereka sama saja. “Jadi dia orang baru?” tanya Namjoon pada pria yang di sebelahnya.

“Ya, baru hari ini. Kau tau, aku senang sekali Mijoo bawa dia kemari,” oceh Hoseok.

“Tadi siapa namamu?” tanya Namjoon pada wanita yang duduk di sebelah Mijoo.

“Seo Jisoo, Kim Namjoon. Baru lima menit dia mengatakan namanya kau sudah lupa? Jangan-jangan kau sudah lebih dulu menjadi tua,”

“Jadi kau kabur, begitu? Kau anak dari Hakim Seo itu kan?” Namjoon menghentikkan sendoknya, memasang ancang-ancang melempar sejumlah pertanyaan.

“Iya dan ya. Tebakanmu benar, Namjoon-ssi. Habis aku muak dikurung berhari-hari,” jawabnya sambil tertunduk lesu.

Baginya Seo Jisoo sangat familiar. Begitu familiar hingga entah mengapa rasanya Namjoon tau segala hal tentang Jisoo. Dan lagi-lagi, seisi otak Namjoon mencari tepat siapa Seo Jiso baginya hingga ia begitu merasa familiar bukan hanya ketika ia mendengar tapi ketika ia melihatnya.

“Namjoon, pekerjaanmu bagaimana?”

Seketika itu juga pikirannya teralihkan dengan cepat. Wajah Mijoo sudah lebih dulu menanti jawaban dari sang sumber. Sedangkan sang pendengar setia yang kini siap mengeluarkan ocehannya lagi setelah ia menjawab membulatkan mata antusias.

“Sebentar lagi selesai. Jikyung itu susah sekali,”

“Kau tidak mau berhenti? Bukankah orang-orang itu menawari tempat spesial untukmu juga?” kini suara Hoseok mengambil alih pembicaraan.

“Mau, setelah satu kelinci kudapatkan maka semuanya selesai. Aku juga tak terlalu peduli sekalipun mereka memaksaku untuk masuk ke akademi, aku sudah terlanjut tak peduli sejak awal.”

Kini pembicaraan terhenti, Hoseok sudah terlalu larut dalam sajian makanan Mijoo. Hanya ada dentingan-dentingan dari garpu, sendok, sumpit dengan piring masing-masing. Dan air yang berkali-kali dituangkan ke dalam gelas.

Hingga Namjoon sudah selesai menghabiskan setiap sajian yang ada di piringnya, matanya menatap jauh pada sosok Jisoo yang kini berdiri membelakanginya, sedang mencuci piring. Sedangkan Mijoo berdiri tepat di sebelah Jisoo guna membantu. Hanya Hoseok yang masih setia menemani Namjoon memandangi.

“Kau tidak tertarik atau kau sangat tertarik?” tanya Hoseok tiba-tiba.

Di wajahnya, sudah hilang sikap kekanak-kanakan dan cengiran lebar. Matanya menerobos jauh pada atensi Namjoon yang kini menatapnya balik. “Huh? Kau tidak mau menjawab?” Hoseok kali ini mengunci tatapan Namjoon padanya. “Maksudmu?” tanya balik Namjoon.

“Kau tidak mengerti atau kau pura-pura tak mengerti, Kim Namjoon-ssi?”

Lagi-lagi hanya ada tatapan Namjoon tanpa secuil jawaban berarti darinya. “Aku tau kau mengerti.” kini Hoseok beranjak pergi, mendatangi Mijoo yang masih membantu Jisoo.

“Aku tertarik? Padanya?”

||Paper Heart||

“Bagaimana bisa kau kenal Jikyung?”

“Aku kenal karena ya aku sudah mengenalnya sejak lama. Kami bisa dikatakan musuh, begitu. Aku hanya ingin sebuah keadilan. Seandainya Ayahmu tak digulingkan Jikyung, Ibu dan Ayahku pasti melihatku tumbuh dengan besar. Aku juga tak mungkin terus mengejar Jikyung,”

“Sebenarnya kau siapa? Darimana kau mengenal Ayahku?”

“Semoa orang tau siapa Ayahmu, Jisoo. Bahkan orang tak penting sepertiku pun tau siapa Ayahmu. Dan sayangnya, orang sepertiku yang sudah berkali-kali menodai dirinya dengan puluhan liter darah ini harus tau tentang seluk-beluk Ayahmu. Aku…turut sedih saat tau itu,”

“Bisakkah kau bantu aku? Agar bisa memulihkan nama baik keluargaku dan Ayahku kembali pada pekerjaannya? Bisakkah?”

“Saat kau tau bahwa aku ini seorang pembunuh dan mengejar siapapun yang ingin kukejar? Kau yakin, Seo Jisoo? Bahkan aku tak bisa menjamin nyawamu jika kau membuat masalah denganku.”

||To Be Continue||

Aku ga tau ini apa/nangisdipojokkamar/, mohon reviewnya kalo ada yang salah dan keanehan atau yang ganjil di fanfict ini. dimohon komen ya, apapun itu aku terima kok^^

 

Advertisements

7 thoughts on “[Freelance] Paper Heart (Chapter 1)

  1. salam kenal dari Alvianit96 ~sudah pasti 96 line~ thor….dan cerita ini terima kasih telah menemani insomniaku yang biasa terjadi di malam takbiran / ga ada yang nanya 😐

    oke,cerita ini…kayaknya aku yang rada lola atau gimana ya? tapi misterius banget,iih aku suka baca sherlock holmes dan ini gak kalah MENARIK! terima kasih telah membuat cerita yang menarik,authornim 🙂 🙂

    aku penasaran sejak dirilis teaser-Prolog lalu bertanya-tanya kapan chap 1 nya? akhirnya nongol juga pas malam takbiran / yuhuu/ ada bang Ho dan mba Joo juga di situ,jadi kaya reuni anak 94/ 😉

    SUGOHASEYO AUTHORNIM,ditunggu chap lanjutannya 🙂 🙂 Semangat Nulisnya ya ☆BOW☆

    Like

  2. Halo kak Alvi, aku dari line 00. Panggil aja ani atau nifa boleh^^

    Ini ceritanya masih abal-abal kok, ga bagus. Eh kali aja ceritanya bisa menghilangkan insomnia /maunya/

    Cerita ini emang kurang jelas /nangisdipojokkamar/. Ini emang ga kaya Sherlock Holmes, bukan detektifan, tapi aku emang seneng genre mystery jadi aku buat rada mystery hehehe. Ini bakal full sama anak 94s, khususnya dari Banglyz /shipper garis keras mah gini/

    Ditunggu chap selanjutnya ya, kak. Makasih udah baca, komen, dan semangatnya. Kak Alvi yang disana juga semangat^^

    Like

  3. YA AMPUN .. IMAGIN MOMOB YG DINGIN DAN COOL JADI DELULU ..

    KUSUKA SEKALI DENGAN MEREKA DEK .. BTW SALAM KENAL, aku ada di garis 98 ..

    ini bakalan jadi threeshoot kan? kapan di next .. sudah terlanjur baper

    ..
    Kim Nam Joon – Seo Ji Soo 😀

    Like

    • Makasih kak udah suka sama….mereka. Salken juga, aku dari garis 00

      ini emang threeshoot kok. Kapan lanjutnya? Aku juga kurang tau /plak/, soalnya plot cerita yang dipilih buat di chap 2 terlalu banyak /malah curhat/. Heu, jangan baper kak /melipir seketika/

      makasih sebelumnya udah baca dan komen kak adel^^

      Like

  4. Hai, dek. Aku dari garis 00, kupanggil margareta ya/? kamu bisa panggil aku ani atau nifa. Maaf ya sebelumnya karena chap 2nya belum sempet kukirim, terlalu sibuk dengan real life mengingat udah kelas 2 sma dan koneksi dirumah aku tuh yah susah juga. Makasih loh udah nunggu sebelumnya, margareta. Aku seneng banget. Kalo gitu secepatnya bakal aku post, tapi maaf -lagi- kalo cerita di chap 2nya nanti kurang maksimal, terlalu banyak plot sih/curhat/. Dan makasih ya udah mau nunggu^^

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s