[Vignette] Mercusuar

Mercusuar

mercusuar

Stalkim98 || Jeong Yein as Yein and Eun HeeJeon Jungkook as Jungkook and Ji Seok || AU, romance, sad || G || Vignette (2504w) || Summary: “Seonbae, kurasa kita tetap akan bertemu. Bukankah ini yang dinamakan takdir?”

Terinspirasi dari film The Classic (2003) dengan banyak sekali perubahan. Di bagian akhir, ada percakapan Jungkook-Yein yang maksudnya hampir sama seperti kalimat percakapan di akhir drama I Miss You (2012).

Happy Reading!^^

Eonni, sekali saja, setelah ini aku janji tidak akan terlambat mengembalikannya.” Kedua telapak tangan Yein saling tertempel. Sebuah senyuman yang dibuat-buat mengembang, membuat perempuan di balik meja panjang mendengus dan mendorong wajah Yein yang terlalu condong dengan telunjuk.

“Baiklah baiklah! Cepat pergi, ada yang mengantri,” ucapnya kemudian. Ia tidak mau berlama-lama memandangi wajah Yein yang hampir setiap hari selalu muncul di hadapannya.

Yein tersenyum lebar. “Gomawo Eonni.” Yein berbalik dan terlonjak kaget saat mendapati seorang laki-laki berbadan tegap berdiri tepat di hadapannya. Kepalanya sedikit mendongak. Sedetik kemudian mengangguk memberi salam kepada senior yang satu tingkat di atasnya. “Maafkan aku, Seonbaenim.” Setelah mengatakan itu, Yein segera menjauh dengan wajah yang merah. Bagaimana bisa ia menahan laju semburat sialan itu saat berhadapan seperti tadi dengan-orang-yang-ia-suka.

Sudah sejak pertemuan pertamanya dengan seniornya–Jeon Jungkook– di perpustakaan beberapa hari yang lalu. Saat itu Yein sedang menyelesaikan tugas-tugasnya, dan tiba-tiba Jungkook datang menghampirinya dan menanyakan apakah ia membawa buku tebal yang sebelumnya ada di meja Eonni penjaga. Dan setelah Yein sadari, ia tanpa sengaja mengambil buku yang masih terselip kartu anggota milik Jeon Jungkook. Yein terus mengatakan maaf pada laki-laki itu, dan dijawab dengan anggukan kepala juga senyuman yang sangat menggemaskan.

Yein mengubah posisi ponselnya dari telinga kiri ke kanan dengan tangan kirinya. Tangan kanannya masih memegang sebuah kertas yang ditemukannya dari dalam kotak kayu yang tersimpan di lemari tua di kamar neneknya dulu–di mana ada nama Yein di kertas usang yang tertempel di tutup kotak kayu milik neneknya–.

“Benar-benar ada namaku, Eomma.”

Yein menjatuhkan dirinya di atas sofa. Ia membaca satu kalimat paling atas dalam hati.

“Apa Halmeoni tidak pernah bercerita sesuatu pada Eomma? Sebenarnya aku sedikit–ah tidak, sangat terkejut saat melihat namaku tertera sangat besar di atas kotak itu.”

Terdengar desahan kecil dari seberang. “Mungkin itu untukmu, coba saja kau buka isinya, siapa tahu ada hal penting.”

Yein menggeleng–meski tidak diketahui ibunya–. “Kurasa tidak terlalu penting, hanya surat lama milik Halmeoni, tapi akan tetap aku baca,” ujar Yein sambil menjelajah tiap kata yang ada di kertas yang sudah berganti warna–lebih kusam–. Matanya tiba-tiba melebar. “Eomma!” seru Yein sebelum ibunya mengakhiri panggilan. “Apa sejak kecil Halmeoni tinggal di rumah ini?… Jepang?!… Itu artinya saat kembali dari Jepang kapal yang Halmeoni naiki berlabuh di dermaga dekat rumah ini? Jelaskan padaku sebentar, Eomma.”

Kepala Yein mengangguk setelah mendengar penjelasan ibunya di seberang. “Arasseo EommaNe, gomawo.” Tanpa menunggu ibunya memutus sambungan, ibu jari Yein sudah terlebih dahulu memencet tombol merah pada ponselnya. Netranya kembali menatap kertas berusia lebih dari setengah abad yang ada di tangannya.

3 September 1963

Eun Hee-ya apa kau baik-baik saja? Aku selalu memikirkan bagaimana keadaanmu saat ini.

Sejak pertemuan itu, aku selalu berpikir untuk menemuimu, mengajakmu berkeliling di dermaga yang pernah menjadi persinggahan terakhir kapal perjalanan kita malam itu. Kau masih ingat bagaimana rupaku, kan?

Aku menulis ini saat angin malam menyentuh lembut kulitku, dan saat aku menulis ini aku menitip pesan rindu padamu lewat angin malam ini. Apa sudah kau terima? Belum? Ah, dasar, kalau begitu aku titipkan surat rinduku pada lewat pos yang lebih menjanjikan saja, ya?

Eun Hee, apa kau merasakannya? Merasakan do’a yang kupanjatkan pada Tuhan setiap malam? Aku selalu berdo’a untuk kesehatanmu, agar aku dapat bertemu denganmu lagi. Apa kau ingin bertemu denganku?

Ini surat pertamaku untukmu, aku selalu menunggu balasan darimu.

 

Ji Seok

“Surat pertama?”

Tangan Yein mulai membuka setiap lipatan kertas yang ada di dalam kotak. Ia mengurutkan tanggal pembuatan surat-surat yang ada. Ada lima surat ditambah satu buku catatan bersampul cokelat yang Yein yakini milik neneknya yang sudah meninggal lima bulan yang lalu, sebulan sebelum Yein memutuskan untuk pindah ke rumah tua neneknya itu.

Yein membuka lembar pertama buku tua milik neneknya.

Sebuah foto bergambar mercusuar yang diambil dari jarak cukup jauh jatuh. Yein memungutnya. Foto kuno. Dibaliknya foto tersebut dan di belakang tertulis, Aku mencuri foto ini dari laci meja kerja ayahku. Semoga kita dapat kemari, ya. 18/9/1963.

 “Delapan belas September?”

Tangan Yein membuka lembar selanjutnya. Hanya ada dua kalimat dalam lembar kedua.

12 Agustus 1963

Hari ini aku bertemu dengannya. Seorang pria dengan tatapan teduh saat menatapku dari seberang melewati celah-celah penumpang yang tengah menari. Ternyata ia kemenakan Paman Yong yang bekerja di Jepang; Ji Seok.

Jepang, 12 Agustus 1963

“Paman, kumohon izinkan aku.”

Kedua tangan Paman Yong mengusap kasar wajah legam penuh keriputnya. Matanya menatap mata di hadapannya. Mata penuh harapan. Melihat seberkas pengharapan dari mata gadis di hadapannya, Paman Yong mengembuskan napas panjang.

“Baiklah. Jangan menyesal, sudah banyak orang yang ada di dalam, jadi kau mungkin hanya bisa duduk di pojokan,” ujar Paman Yong. “Satu lagi Eun Hee-ya, aku tidak menyiapkan makanan untuk orang yang menumpang. Kau tahu sendiri, kan, aku berlayar sampai Jepang untuk menangkap ikan, itu pun secara ilegal.”

Senyuman Eun Hee–gadis di hadapan Paman Yong–mengembang–. Kepalanya mengangguk cepat. “Aku sudah membawa roti gandum yang dibuatkan ibu angkatku. Kurasa cukup untuk perjalanan sampai Korea. Terima kasih Paman, terima kasih.” Air mata Eun Hee hampir jatuh sebelum Paman Yong mengibaskan sebelah tangannya. Setelah mendapat isyarat dari Paman Yong, Eun Hee segera menjinjing tas kotak besar dan masuk ke dalam kapal.

Ya! Apa yang kau lakukan? Mengapa baru sampai? Bisa-bisa kita terlambat sampai Korea!”

Eun Hee melongokkan kepalanya dari kapal kayu yang cukup kokoh milik Paman Yong. Dilihatnya Paman Yong sedang mengacak rambut ikalnya. Di hadapannya berdiri seorang laki-laki berbadan tegap mengenakan kemeja lengkap dengan celana panjang hitam dan ikat pinggang yang melingkar.

Setelah laki-laki yang ternyata adalah keponakan Paman Yong masuk, Paman Yong beserta awak kapal lainnya segera meninggalkan pelabuhan. Bersama bintang-bintang yang bertabur di langit malam, kapal dengan muatan penuh menyeberangi batas negara. Bergoyang di atas ombak yang sedikit memberontak.

Mata Eun Hee tiba-tiba menyipit saat pandangannya menangkap sepasang mata teduh tengah menatapnya dari celah-celah para penumpang yang terngah berdansa. Senyumnya terukir tipis melihat sebelah tangan pemilik mata teduh itu melambai padanya. Tanpa menunggu lama, tempat duduk di samping Eun Hee sudah diisi pemilik mata teduh yang sebelumnya duduk berseberangan dengannya.

“Kau tidak berdansa?” tanya laki-laki itu dalam Bahasa Jepang, mengingat mereka sebelumnya berada di negeri sakura.

Eun Hee menggeleng kecil. “Aku masih lelah,” jawabnya menggunakan Bahasa Korea. “Aku orang Korea,” lanjutnya. Ia mengukir senyuman tipis.

“Ji Seok.” Tangan kanannya terulur.

Eun Hee menyambutnya. “Eun Hee,” ucapnya kemudian.

Eun Hee mengeluarkan sebuah buku bersampul cokelat yang baru dua hari yang lalu dibelinya saat masih di Tokyo. Di dalam kapal yang masih menyerukan suara musik-musik klasik, ia menggurat lembar kedua dengan penanya.

 

12 Agustus 1963

Hari ini aku bertemu dengannya, seorang pria dengan tatapan teduh saat menatapku dari seberang melewati celah-celah penumpang yang tengah menari. Ternyata ia kemenakan Paman Yong yang bekerja di Jepang; Ji Seok.

Laki-laki di sebelah Eun Hee menggeliat dan membuka matanya perlahan, membuat Eun Hee menutup dan segera menyimpan bukunya. Ia menatap sepasang mata Ji Seok–laki-laki itu–yang juga menatapnya sambil tersenyum.

“Apa sudah pagi?” tanya Ji Seok.

Eun Hee menggeleng. Sesaat ia melihat ke arah luar jendela bulat yang ada di sampingnya. “Sepertiga malam, sepertinya,” jawabnya pelan.

“Lalu mengapa kau sudah bangun?”

“Aku belum tidur. Hanya tidak bisa memejamkan mata.”

Ji Seok menegakkan badannya. Ditariknya kepala Eun Hee agar bersandar pada bahunya. “Tidurlah,” ucapnya kemudian.

Yein baru tahu jika malam begitu lambat. Yein sudah habis membaca isi buku tua yang hanya lima lembar terdapat rentetan aksara dan sisanya dibiarkan kosong.

Eomma, tapi siapa Ji Seok?”

Ibu Yein tidak tahu. Hanya itu yang dapat Yein simpulkan setelah mendengar jawaban dan asumsi yang ibu Yein berikan dari seberang.

“Lalu, apa Halmeoni pernah bercerita mengenai masa mudanya?”

Kali ini Yein juga berpendapat bahwa ibunya juga tidak tahu mengenai masa muda neneknya. Tetapi, setelah hening menyelimuti keduanya, Yein dapat menarik kesimpulan lain bahwa dulu neneknya pernah tinggal di Jepang untuk beberapa musim dan kembali ke Korea dengan kapal milik nelayan ilegal. Ibu Yein tahu itu saat bertanya mengenai luka di pipi kiri neneknya yang katanya berbekas karena dipukul kakek buyutnya setelah tahu akan hal itu.

“Dermaga– apa Halmeoni pernah bercerita sesuatu tentang dermaga?”

Ah! Kali ini Yein mendapat jawaban yang pasti, sangat pasti! Dermaga yang ada di dekat rumah neneknya. Saat Yein masih berumur lima tahun, ibunya pernah diminta neneknya untuk mengantar ke dermaga. Dan neneknya menangis. Saat ditanya ibu Yein, neneknya hanya berkata bahwa neneknya rindu akan dermaga itu. Itu saja yang Yein dapat.

Eomma gomawo.”

15 September 1963

 

Eun Hee, bagaimana jika malam Rabu besok kita pergi ke dermaga? Ada yang ingin aku bicarakan padamu. Datanglah.

Ji Seok

 

“Tanggal lima belas?”

Di tengah perpustakaan yang masih sepi, Yein kembali membuka buku tua milik neneknya.

AH!” Suara pekikan Yein menyeruak ke penjuru. Matanya melebar dan bibirnya merekah.

Ya! Jangan kaupikir ini masih sepi dan kau bisa berteriak sesukamu!”

Yein menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Setelah mengangguk dan meminta maaf pada eonni penjaga perpustakaan, Yein kembali menatap lembar ketiga di buku tua neneknya. Kepalanya dengan cepat terangkat saat mendengar tawa kecil seseorang di samping rak. Jeon Jungkook.

Seonbae-nim, apa yang kau tertawakan?”

“Kau.”

Yein segera menutup buku tua di hadapannya saat melihat Jungkook berjalan menuju ke arahnya dan menarik kursi di hadapannya. Tanpa disadari, semburat merah muda mewarnai kedua pipi Yein. Dan tentu saja, senyuman bodoh di wajah Yein kentara sekali di mata Jungkook. Yein bukan orang yang pandai menyembunyikan perasaannya. Catat jika perlu.

“Itu milikmu?”

Mata Yein langsung beralih pada buku tua, mengikuti arah pandang Jungkook.

“Milik nenekku. Semacam–buku harian,” jawab Yein.

Mendengar jawaban Yein, Jungkook hanya mengangguk. “Ah!”

Sebelah alis Yein terangkat melihat sikap tia-tiba seniornya itu.

“Apa di sini hanya punya satu dermaga?”

Berpikir. Ini waktunya mengasah sejauh mana otak seorang Jung Yein. “Sepertinya begitu.” Dan benar. Otaknya tidak jauh dari kata kurang memuaskan. Dasar. “Seonbae bukan orang–“

“–Ah, aku dari Seoul. Kakekku yang memintaku untuk tinggal di sini. Dan beberapa hari yang lalu ia baru saja meninggal.” Jungkook mengulum senyum tipis. “Kau sendiri?”

“Aku lahir di sini dan tinggal di sini sampai umur lima tahun. Setelah itu kami pindah ke Incheon,” kisah Yein. “Ah, dan rumah nenekku dekat dengan dermaga yang mungkin kau maksud tadi.”

Jungkook tampak membulatkan mata. “Benarkah? Jung Yein, besok Kamis sore, kau punya waktu luang?”

“Aku tidak pernah tidak punya waktu luang, Seonbae,” jawab Yein sambil terkekeh kecil. “Memang ada apa?”

“Kau bisa menemaniku pergi ke dermaga itu?”

“Tentu!” sahut Yein cepat. Cepat-cepat pula ia membekap mulutnya. Yein bukan orang yang pandai menyembunyikan perasaan, ingat itu. “Tentu saja Seonbae.” Kali ini Yein berkata lebih lembut.

Sebelum matahari pulang dari peradabannya, Yein sudah bertemu dengan Jungkook. Dan tidak seperti yang diduga gadis itu, ia yang menunggu Jungkook. Padahal, ia ingin seperti dalam film-film klasik-romantis di mana si lelaki akan datang lebih awal dan menunggu sambil membawa bunga.

“Sejak kapan pelabuhan ini beroperasi?”

Yein menoleh cepat. Ia tidak menyangka Jungkook akan menanyakan hal seperti itu. Benar-benar di luar dugaan. Mana Yein tahu mengenai hal itu? Tahun berapa universitasnya berdiri saja ia tidak tahu! Apa perlu Yein menelepon ibunya? Ah, atau membuka internet? Dasar Yein, ia tidak terpikir melakukan hal-hal itu saat seperti ini. Dan akhirnya ia hanya menjawab seadanya–

“Sudah lama, sepertinya.”

–dan berhasil membuat Jungkook mengangguk–memaklumi jawaban Yein yang benar-benar jauh dari harapan.

“Tapi yang kutahu sejak nenekku muda, dermaga ini sudah ada.”

Lagi-lagi Jungkook hanya mengangguk dan kali ini tersenyum kecil.

Ah, siapa yang menyuruh kepompong di perut Yein berubah menjadi jutaan kupu-kupu?

“Tapi, untuk apa Seonbae ingin ke dermaga ini?”

Jungkook menghentikan langkahnya. Duduk di atas bangku berwarna-warni dan menarik tangan Yein. Setelahnya membuka ransel hitamnya dan mengeluarkan sebuah kotak berisi banyak kertas usang. Mengambil salah satunya, dan menyerahkan pada Yein. Sesaat ia tersenyum tipis lalu menatap jauh ke laut.

“Sudah sejak lama aku berusaha mencari dermaga ini. Dan jika aku tidak bertemu denganmu, aku mungkin sudah menyerah. Aku mencari seseorang. Seseorang yang begitu spesial untuk kakekku. Apa kau pernah mengenal seseorang bernama Eun Hee, Yein-ah?” Jungkook menoleh. Ia terkejut saat melihat Yein mengusap pipinya, lalu juga menoleh menatapnya. “Kau–menangis? Ada apa?” Jungkook menangkup kedua pipi Yein.

Seonbae–“

Jungkook semakin tidak mengerti saat tangis Yein semakin keras. Suara gadis itu saat memanggilnya juga bergetar. Yang ia tahu, Yein berusaha mengatakan sesuatu tetapi susah untuk dilakukan.

Yein sendiri sadar ia sedang dalam keadaan sulit untuk berbicara. Ia hanya bisa menangis–lebih kencang–. Ia mengulurkan buku tua neneknya pada Jungkook, dan membiarkan Jungkook membukanya. Dilihatnya Jungkook membuka lembar pertama. Hanya beberapa detik, kemudian beralih pada lembar selanjutnya. Dan setelah itu, Yein mulai melihat Jungkook menatapnya. Mata laki-laki itu tampak berkaca-kaca. Senyumnya mengembang. Yein merasa tangisnya semakin kencang saat Jungkook meraih tubuhnya dan membawa ke dalam dekapan laki-laki itu.

“Bacalah, surat terakhir dari nenekmu.” Jungkook mengulurkan satu lembar kertas yang diambilnya dari kotak.

7 Oktober 1963

Ji Seok-ah, kau baik-baik saja? Maafkan aku tidak bisa menemuimu. Setelah pertemuan kita di dermaga malam itu, ayahku mengetahui hubungan kita. Dan ternyata ia tahu bahwa kau keponakan paman Yong, orang yang memberiku tumpangan untuk kembali ke Korea. Sebelumnya aku membohonginya dan berkata aku membeli tiket dan naik kapal penyeberangan saat pulang. Ia tahu aku menumpang kapal nelayan ilegal. Ia memukulku, dan ada sedikit luka di bagian pipi kiriku. Jangan khawatirkan aku.

Ji Seok, kau bisa melupakanku jika kau mau. Maafkan aku, aku tidak bisa menulis surat lagi untukmu. Aku akan menikah, dengan laki-laki yang tidak aku tahu.

Kau masih ingat pertanyaanmu malam itu? Aku sangat ingin pergi ke mercusuar bersamamu. Aku tidak yakin bahwa kita bisa bersama-sama pergi ke mercusuar, jadi, biarkan Ji Seok dan Eun Hee yang lain yang akan pergi ke mercusuar bersama. Percayalah, akan ada Ji Seok dan Eun Hee yang lain di masa selanjutnya.

Eun Hee

 

Yein segera teringat hal terakhir yang ditulis neneknya. Ia membuka buku tua neneknya dengan cepat.

18 September 1963

Aku baru saja bertemu dengannya. Ji Seok menyatakan perasaannya padaku. Dan ia menanyakan satu hal yang membuatku tidak akan pernah lupa. Ia menanyakan, ke mana aku ingin pergi bersamanya? Aku tidak menjawab dan berpura-pura berpikir. Aku berkata padanya bahwa kami harus bertemu lagi untuk jawabanku yang sebenarnya. ‘Mercusuar’.

 

“Eun Hee-ya, ke mana kau ingin pergi bersamaku?”

 

Eun Hee diam. Pura-pura berpikir. “Entahlah. Berikan aku waktu untuk berpikir. Dan aku akan berikan jawaban saat kita bertemu lagi,” jawabnya sambil tersenyum.

 

“Itu alasanmu agar bisa bertemu denganku lagi?” Ji Seok mendengar suara tawa Eun Hee. Ia juga melihat bahwa gadis itu mengangguk. “Baiklah, kembalilah dua hari lagi. Aku tidak akan memberimu waktu terlalu lama untuk berpikir.”

 

Jungkook tersenyum sambil memandang Yein.

“Menurutmu bagaimana jika saat itu kakek buyutmu tidak tahu bahwa nenekmu menumpang kapal ilegal? Apa menurutmu mereka tetap akan bertemu dan pergi bersama malam itu? Dan apa menurutmu mereka akan menikah?”

Yein mengangguk.

“Lalu menurutmu apa kita tidak akan bertemu?”

Yein diam sebentar. “Kurasa kita tetap akan bertemu. Bukankah ini yang dinamakan takdir?”

Senyuman lebar terukir di wajah Jungkook. “Kau benar.” Tangan Jungkook menarik lembut kepala Yein, membawanya ke atas bahu. “Jung Yein, ke mana kau ingin pergi bersamaku?”

“Aku akan menjawab sebagai Eun Hee yang lain.” Yein tersenyum tipis. “Mercusuar,” jawabnya kemudian.

.

.

“Kau tahu bagian mana yang sangat kusesali?”

“Apa?”

“Aku terlambat menyadari bahwa wajahmu sebenarnya mirip dengan nenekmu dulu, cantik.”

.

.

FIN

.

.

26/03/2016

Advertisements

8 thoughts on “[Vignette] Mercusuar

  1. Ya ampun ini bagus bnget, aku sampe nangis terharu😢😢
    Ini baru namanya TAKDIR. Sumpah keren bnget thor😢 pengen punya cerita cinta kayak gini😢😍

    Btw, kalo Jungkook Yein main drama kayak gini kayaknya bakalan baper bnget hehe..

    Liked by 1 person

    • Haihaiii maaf baru sempat balas hehe
      Aduh sampai nangis? duh maafin kisahnya dek yein sama mas juki ya :3
      Semoga deh punya cerita macam yein yang berjodoh sama senior tampan di kampus :”)
      WAH! bener ituuu, semoga mereka bisa main drama ya wehehe

      Terima kasih sudah mampir dan komentar^^

      Like

  2. Hallo authornim..salam kenal dr Alvianit96..

    Terharu..iya walaupun rada pusing muter2 gtu atau emang aku yg lg ngeblank aja kali akhir2 ini/malah curhat/
    Pokoknya jjang lah😊

    Good Luck n semangat berkarya ya authornim. SUGOHASEYO 😉😉😉😉

    Liked by 1 person

    • Haihai salam kenal Alvianti 🙂 kamu garis 96 kah? kalau iya berarti saya harus panggil kak hehe. oh ya panggil stalkim saja ya, biar makin akrab 😀
      Aduh, emang stalkim sukanya bikin orang pusing sih, maafkan huhu. ini alurnya memang nggak ceto :’D

      Terima kasih sudah mampir dan kasih komentar^^

      Like

    • Halo kak raissa, iya nih beruntung banget, mana masa depannya nanti itu cowok setampan jeka huhu
      terima kasih sudah mampir dan kasih komentar^^

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s