KisSin [Chapter 3]

wp-1468430165537.jpeg

KisSin

|JeongIn|

starring:

BTS Jungkook, Lovelyz Yein,

and other mr.chu squad

Romance, Fluff, School life, Hurt/Comfort, a little bit Family | Chaptered | PG-15 (for kissing)

previous :

1 | 2

Soundtrack :

Lee Hi – Love (Keyshia Cole cover)

Disclaimer : Terinspirasi dari manga

Summary :

“If you want me to stay quiet, then have an affair with me too.”

.

.

.

Chapter 3

Ya, Jung Yein! Bisa-bisanya kau pulang dalam keadaan mabuk!!”

Telinga Yein pengang, dan pening mulai merambati tempurung kepalanya. Seberkas cahaya baru saja masuk ke retinanya saat suara bernada tinggi Chanwoo memborbardir kokleanya. Tolong beri Yein yang merasa dunianya berputar 180 derajat beberapa sekon untuk mencerna perkataan Chanwoo—yang sebenarnya tidak ia butuhkan saat ini, tolong Yein pusing.

“Mabuk?” Akhirnya Chanwoo yang dengan sabar menahan amarahnya mendapat sahutan.

“Kau sudah berani minum alkohol, eoh?!” Atau mungkin juga tidak, Chanwoo akan meledak sebentar lagi.

“Hm? Alko—”

“Kau itu masih di bawah umur, Jung Yein! Lagipula, kenapa kau pergi kumpul-kumpul tanpa—hmphhh…” Ayolah, kepala Yein terlalu sakit untuk mendengar omelan Chanwoo di pagi hari. Maka jangan salahkan Yein jika akhirnya ia bergerak membekap mulut saudara kembarnya itu.

“Diam dulu, Chanwoo-ya! Aku akan menjelaskannya, oke?” Ekspresi serius tergambar di paras Yein sehingga mau-tidak mau Chanwoo mengangguk meski mulutnya masih ditangkup tangan Yein.

“Jadi semalam itu sepertinya kesalahanku,” pernyataan Yein setelah mengendalikan rasa peningnya.

“Hmphhhmphhh?!””

“Diam dulu kenapa!”

Chanwoo kembali tenang lantaran diberi delikan tajam oleh saudari kembarnya.

“Iya, itu kesalahanku. Aku salah mengira soju sebagai jus jeruk.” Namun kali ini ia tidak bisa bersabar sehingga dengan cepat menangkal tangan Yein dengan kuat.

“Bodoh! Soju itu bening, jus jeruk itu oranye. Kau tidak bisa membedakan warnanya, eoh?” amarahnya dengan telunjuk menuding-nuding pada Yein.

“Aku bahkan tidak tahu bagaimana warna soju—eh, tunggu. Kok, kau tahu?!” Detik berikutnya malah Yein yang balik menuding. Dwimanik karamelnya memincing pada Chanwoo atas kejanggalan dari ucapannya dan asumsi yang mulai tercipta di benak Yein.  “Jangan-jangan kau sudah pernah minum so—”

“Jangan mengalihkan!”

“Cih.”

“Apa? Sejak kapan kau berani berdecih begitu?!”

Yein membuang muka alih-alih menjawab. Terlampau kesal dan keki karena Chanwoo mengganggapnya seakan-akan ia adalah anak kecil. Terlalu lugu atau mungkin nyaris bodoh untuk dapat bergaul dengan dunia luar. Melihat perubahan ekspresi Yein membuat Chanwoo tidak enak hati. Ia sadar kalau tingkahnya terlalu berlebihan untuk kasus ini.

“Lagipula kalau memang itu kesalahanmu,” ucap Chanwoo mulai melunak. “Berarti kau harus meminta maaf pada pemuda yang mengantarmu pulang semalam.”

Serta-merta menarik atensi Yein berbalik padanya.“Eh? Siapa yang mengantarku?”

“Mana kutahu. Aku sudah tidur dan kau pulang pukul sebelas malam, Nona.” Chanwoo menunjuk lengannya seakan tengah menunjukkan jam sebelum akhirnya melipat tangan di depan dada. “Appa marah besar. Bahkan Appa memukul pemuda itu karena ia mengakui telah membuatmu mabuk.” Manik Yein membelalak. “Hah?! Dipukul??!” Yein tahu betul bagaimana keras Appa-nya terlebih kalau sudah menyangkut anak gadisnya. Ia meringis membayangkan bagaimana tampang pemuda yang Chanwoo maksud karena nekat mengaku telah membuatnya mabuk. Berarti Yein benar-benar harus meminta maaf karena kenyataannya ‘kan dia mabuk karena perbuatannya sendiri.

Merasa saudari kembarnya sudah cukup paham—dan kenyang dihujani omelan—Chanwoo melangkah mundur menuju pintu kamar Yein. “Pokoknya lain kali kau harus mengajakku kalau kumpul-kumpul sampai malam,” ia menegaskan sekali lagi sambil menunjuk pada Yein.

“Iya, cerewet.”

Tangannya sudah menngapai kenop pintu saat Chanwoo kembali menoleh. “Apa semalam Shannon juga ada?”

“Tentu saja.”

Ya! Kenapa tidak mengajakku?!”

***

Yein paham sekali kenapa ia merasa khawatir sepagian ini. Saat Chanwoo menyebutkan seorang pemuda mengantarnya pulang semalam, secara refleks benak Yein merujuk pada sosok Jeon Jungkook. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana kalau Appa-nya benar-benar memukul Jungkook? Bagaimana keadaan pemuda Jeon itu sekarang?

Maka di sinilah Yein sekarang, berdiri bertopang dagu di kusen jendela kelasnya, intens memerhatikan tempat parkir yang leluasa terjangkau netranya dari sini. Ia mencari-cari sosok Jungkook. Dan setelah mengobservasi seluruh motor yang terparkir, tidak ditemuinya Ducati milik Jungkook. Mengindikasikan kalau pemuda itu belum sampai di sekolah. Atau jangan-jangan pemuda itu tidak masuk? Sebegitu parahkah Appa-nya menghajar Jungkook? Ah, sial Yein jadi tambah khawatir sekarang.

Tenanglah, Jung Yein. Bagaimana kalau ternyata orang itu bukan Jungkook sunbae? Mungkin saja ‘kan? Iya, positive thingking saja, Jung Yein!!’

Sejurus dengan suara hati Yein yang mencoba menenangkan diri, sebuah motor yang familiar memasuki area parkir. Kontan saja dada Yein bergemuruh.

i…itu motor Jungkook sunbae…

Yein bersedekap di balik tirai putih yang menutupi sebagian kaca jendela kelasnya. Berusaha agar Jungkook tidak mendapati dirinya yang tengah memperhatikan pemuda itu. Difokuskannya perhatian pada Jungkook yang sudah memarkirkan motornya. Dilihatnya Jungkook yang akan membuka helm dengan was-was.

semoga saja…semoga saja…’ Yein berdoa dalam hati agar tak menemui luka di wajah tampan Jeon Jungkook. Namun sepersekian sekon berikutnya hati Yein mencelos. Meski ia berada di lantai dua, kendati jaraknya tidak cukup dekat, ia masih dapat melihat beberapa noda kebiruan menghiasi pipi Jungkook. Bahkan pemuda itu meringis saat membuka helm dan mengusap lamat memar di sudut bibirnya.

Kontan Yein meraih ponselnya yang ia letakkan di dalam saku, dan mengetik sebuah pesan singkat pada Sujeong.

to : Sujeong eonni

Eonni siapa yang mengantarku pulang semalam?

.

Tak berselang lama, sebuah balasan mampir di notifikasi ponsel pintarnya.

from : Sujeong eonni

Kau tidak apa-apa yein-a?

 Jungkook yang mengantarmu pulang semalam

Kau sampai rumah dengan selamat kan?

Jungkook tidak membawamu ke tempat yang aneh-aneh kan?

‘Jungkook sunbae … yang mengantarku pulang semalam adalah Jungkook sunbae. Yang dipukul Appa semalam … adalah Jungkook sunbae’.

Sekarang yang harus Yein lakukan adalah mencari tahu keberadaan Jungkook. Berhubung mereka sekelas, ia akan menanyakannya pada Sujeong tanpa membuat gadis Ryu itu curiga.

.

to : Sujeong eonni

Aku tidak apa-apa eonni. Iya jungkook sunbae mengantarku ke rumah. Tenang saja. Di mana jungkook sunbae? Aku ingin berterima kasih padanya

 

from : Sujeong eonni

Dia bilang akan ke ruang kesehatan

Kepalanya pusing dan kulihat wajahnya memar

Apa terjadi sesuatu tadi malam yein-a?

to : Sujeong eonni

Hanya kesalahpahaman eonni. Makanya aku ingin meminta maaf juga pada jungkook sunbae. Tolong jangan bilang pada chanwoo ya eonni

 

from : Sujeong eonni

Tenang saja yein-a

Bagaimanapun Chanwoo dan Jungkook saling mengenal. Saudara kembarnya itu tidak boleh tahu kalau Jungkook yang mengantarnya semalam atau statusnya sebagai selingkuhan akan ketahuan. Yein pun bergegas pergi ke ruang kesehatan sebelum bel pejaran berbunyi. Ia merasa tidak tenang kalau belum melihat keadaan Jungkook. Dengan napas terengah Yein sampai di depan pintu ruang kesehatan. Yein baru saja akan masuk saat didapatinya Jungkook tidak sendirian. Lee Halla juga berada di sana. Yein merutukki kebodohannya yang tidak lebih dulu memastikan Halla ada di kelas atau tidak.

Sewajarnya Yein berbalik pergi kembali ke kelasnya kalau ia tidak mau kemungkinan buruk akan terjadi—seperti Halla yang curiga akan kehadirannya di sana—tapi kenapa Yein justru merasa sebaliknya. Kakinya begitu berat untuk meninggalkan ruang kesehatan. Rasa-rasanya ia tidak akan kembali ke kelas kalau belum memastikan keadaan Jungkook. Ya, sekhawatir itulah Yein sekarang. Maka akhirnya yang Yein lakukan adalah berdiam diri di balik pintu ruang kesehatan. Ini masih terlalu pagi dan jam pelajaran belum dimulai sehingga ruang kesehatan begitu sepi dan tidak dijaga petugas. Sehingga Yein dapat mendengar jelas percakapan Halla dan Jungkook di dalam.

“Kau baik-baik saja?” Yein sempat mengintip Halla yang tengah menyentuh wajah Jungkook. “Kenapa bisa seperti ini? Apa kau berkelahi lagi? Dengan siapa?”

Jungkook meraih tangan Halla diwajahnya dan meremasnya lembut. “Aku baik-baik saja, Halla. Sebaiknya kau kembali ke kelas.”

Alih-alih menuruti perkataan Jungkook, Halla justru menekuk wajahnya. “Aku ini pacarmu, Oppa. Aku khawatir padamu. Jangan suruh aku kembali ke kelas!”

Entah kenapa kata-kata Halla barusan terasa menyakitkan di telinga Yein. Yein menghela napas berat. ‘Pacar ya…’

***

Flashback

Malam sudah terlalu larut untuk pulang menggunakan bis. Terlebih dalam keadaan Yein mabuk. Sedangkan taksi tak kunjung lewat di depan hidung Jungkook. Tak mau membuat gadisnya pulang lebih larut, Jungkook putuskan untuk berjalan pulang menggendong Yein di punggungnya. Jalanan Seoul sudah sepi pejalan kaki namun angin sejuk yang berembus cukup membuat Jungkook menikmati. Tak terasa ia telah berjalan cukup jauh saat kesadaran Yein mulai terkumpul.

Sunbae,” suara serak Yein terdengar saat kedua mata sipitnya mulai terbuka lamat.

Oh! Kau sudah sadar, Yein-a?” sambut Jungkook riang.

“Kenapa Sunbae menggendongku?” Yein sudah cukup sadar untuk menyadari di mana posisinya saat ini.

“Tentu saja karena kau mabuk. Kau itu benar-benar lugu, ya? Bagaimana bisa kau salah mengira soju sebagai jus jeruk? Bisa bahaya kalau kau per—”

“Tapi aku ‘kan berat,” Yein menyela seraya membenamkan kembali wajahnya di pundak Jungkook. Buat sebuah kurva merekah di paras tampannya. “Tidak, Yein-a. Kau ringan sekali seperti bulu.”

“Kenapa Sunbae bernyanyi?”

Jungkook membenarnya posisi Yein sebelum menjawab, “Kenapa? Untuk apa kita ke karaoke kalau tidak bernyanyi, Yein-a?”

“Huh, kukira Sunbae bernyanyi untukku!” Jungkook terdiam sejemang kemudian tertawa.

Sunbae.”

“Hm?” Dapat Jungkook rasakan Yein mengeratkan pelukannya.

“Kenapa kau merindukanku?” Lagi-lagi Jungkook tersenyum meski Yein tidak dapat melihatnya.

“Tentu saja karena kita tidak bertemu seharian. Eiy, seperti inikah kalau siswi pintar sedang mabuk? Aku merasa seperti sedang diinterogasi.”

Yein mendengus. “Kenapa—“

“Yein-a, daripada kau menanyaiku terus, tidakkah kau melupakan sesuatu?” ucapan Jungkook memotong perkataan Yein. Buat gadis berkuncir dua itu sedikit mengangkat kepalanya guna menatap wajah Jungkook penasaran. Sekarang pemuda Jeon itu menolehkan wajahnya ke samping sehingga posisinya berhadapan dengan wajah Yein. “Aku belum mendapat satu ciuman pun darimu, bukankah sudah kubilang kalau aku merindukanmu?” Jungkook merajuk namun sorot matanya menatap sendu. Menilik pada iris Yein yang kini sempurna terkunci dalam tatapannya. Jungkook sangat tampan bila dilihat sedekat ini. Yein tahu kalau ia pernah mengatakannya sekali, dua kali, atau sering kali? Entahlah tapi ia tidak bosan untuk mengakuinya. Kalau Jungkook memang tampan, terlebih saat tengah mendekatkan wajahnya lantas menempelkan bibir kemerahan dan sedikit basah miliknya pada bibir Yein. Ia juga selalu memejamkan matanya rapat jika Jungkook menciumnya seperti ini. Dan kinerja jantungnya juga selalu tidak karuan ketika napas Jungkook menerpa wajahnya. Tapi untuk saat ini, Yein tidak tahu kalau ciuman Jungkook selembut ini.

Oksigen kembali hadir di sekeliling Yein saat Jungkook menyudahi perlakuannya. Yein mengerjap sejenak, sedangkan Jungkook memeta senyum mententramkan di paras tampannya. Sekon selanjutnya Jungkook berujar lembut, “Terlalu banyak kenapa di pikiranmu, Yein-a. Sebenarnya apa yang kau risaukan?”

“Aku.”

Jungkook mengernyit. “Ada apa denganmu?”

“Aku bingung.” Dapat Jungkook rasakan napas Yein yang berembus di tengkuknya, terasa berat dan sesak.

“Aku bingung kenapa darahku berdesir saat Sunbae memegang tanganku.”

“Yein…”

“Aku bingung kenapa aku senang saat Sunbae bilang rindu padaku.”

‘Sunbae, sebenarnya apa yang terjadi padaku?’

“Aku bingung kenapa jantungku berdetak cepat saat Sunbae bernyanyi.” Yein meremas kedua tangannya.

“Aku bingung apakah aku … menyukai Sunbae?”

Jungkook menghentikan langkahnya.

***

Sepeninggal Halla, yang Yein lihat adalah Jungkook yang menundukkan kepalanya. Entah kenapa hal itu membuat Yein mengurungkan niatnya untuk mendekat. Jungkook terlihat…depresi.

“Ugh, apa yang sudah kulakukan?!” ujar Jungkook seraya menangkupkan seluruh wajahnya.

Yein tercenung. Apakah Jungkook semenyesal itu? Ia telah mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya sama sekali. Yein tahu benar kalau Appa-nya pasti akan marah besar mengetahui anak perempuannya pulang larut malam dalam keadaan mabuk. Ugh, bahkan Yein tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Appa-nya saat itu. Tapi Jungkook malah mengatakan kalau ia yang membuatnya mabuk. Bisa-bisa Jungkook tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di rumah Yein lagi. Iya, se-protektif itulah Appa Yein. Kendati mereka tidak tinggal di atap yang sama lagi, Taekwoon rutin menanyakan kabar Yein dan Chanwoo bahkan sampai ke hal akademis mereka. Yein masih ingat bagaimana Taekwoon terus-terusan menghubunginya saat Yein pergi darmawisata sekolah atau bingung saat menentukan Sekolah Menengah di mana ia akan meneruskan. Taekwoon jelas-jelas tidak termasuk dalam golongan ayah yang tidak bertanggung jawab setelah bercerai.

Sadar kalau situasi saat ini tidak memungkinkan untuk bicara dengan Jungkook, Yein putuskan untuk mengirim pesan. Lebih baik ia menemui Jungkook saat makan siang, setelah pemuda itu merasa baikan. Jungkook pasti butuh istirahat sekarang.

.

to : Jungkook sunbae

Sunbae bisakah kita makan siang bersama hari ini?

.

Setelah menekan tanda kirim, Yein kembali melabuhkan fokusnya pada Jungkook dari celah pintu. Pemuda itu masih menangkup seluruh wajahnya dan menunduk. Yein sama sekali tidak bisa melihat ekspresinya saat ini. Berselang beberapa sekon, Jungkook akhirnya mengangkat kepala dan merogoh saku celananya. Sepertinya pesan Yein sudah sampai.

Jujur saja, ekspresi Jungkook sungguh tak terdefinisi. Yein jadi semakin was-was. Pemuda itu masih terdiam dengan tatapan kosong ke arah layar ponselnya. Kalau dihitung-hitung mungkin sudah tiga menit Jungkook mematung di tempatnya sebelum akhirnya jemarinya bergerak, mengetikkan balasan untuk Yein.

Perasaan Yein tidak enak, tidak ada antusiasme sama sekali dalam dirinya saat akhirnya pesan itu menyambangi ponselnya. Membaca serentetan kata yang bahkan tak sepanjang yang dikirimnya.

from : Jungkook sunbae

Maaf yein aku ada pertemuan klub

Karena Yein tahu, Jungkook tidak ingin menemuinya saat ini.

***

Awalnya Yein berpikir akan menemui Jungkook sepulang sekolah. Kalau Jungkook tidak ingin menemuinya atau tidak mengirimkan satu pun pesan, Yein akan nekat mendatangi kelasnya. Hei, setidaknya kalau ada yang curiga padanya, Yein bisa beralasan ingin mengucap terima kasih pada Jungkook. Palingan hanya Sujeong yang penasaran karena kebetulan gadis Ryu itu sekelas dengan Jungkook. Tapi rencana Yein pupus begitu saja saat Chanwoo secara tiba-tiba mendatangi kelasnya tepat setelah bel tanda berakhirnya kelas berbunyi. Lantas menarik Yein tanpa alasan menuju gerbang sekolah. Ekspresi Chanwoo lebih serius dari pada biasanya, buat Yein yakin kalau Chanwoo tidak sedang bercanda padanya.

Rasa penasaran Yein terjawab saat ditemuinya sedan silver yang familiar terparkir tak jauh dari gerbang. Tanpa menoleh pada Chanwoo lagi—untuk menanyakan apa yang harus Yein lakukan—pun Yein sudah mengerti kalau ia harus segera masuk dan menghadapi Appa-nya.

Ada rasa takut di mata Yein saat ia dihadapkan dengan Taekwoon yang berwajah datar. Kendati Yein tahu Appa-nya bukan sosok yang ramah, tapi amarah nampak kentara di sorot matanya yang menatap kemudi. Kebisuan masih berlanjut bahkan setelah Chanwoo duduk di kursi penumpang dan Taekwoon menjalankan sedannya.

“Jung Yein.”

Baik Chanwoo dan Yein hampir tersedak saat Taekwoon akhirnya bersuara. Suaranya tenang namun penuh penekanan, mampu membuat Chanwoo dan Yein bergidik. Kendati manik kelamnya masih terfokus pada jalanan, Yein merasa terintimidasi oleh sikapnya. Setelah memutar kemudi, berbelok di perempatan menuju komplek rumah mereka, Taekwoon meneruskan.

“Tadi pagi aku buru-buru hingga belum sempat bicara padamu.”

Yein menelan ludah susah payah. Dapat ia lihat Chanwoo yang meliriknya khawatir dari spion.

“Siapa pemuda yang mengantarmu semalam?”

Mengkhawatirkan keadaan Jungkook seharian ini membuat Yein lupa kalau ia juga belum bertemu dengan Appa-nya, atau lebih tepatnya belum mendapat omelan dari tuan Jung.

“Dia hanya seorang teman, Appa,” jawab Yein setelah memutar otak selama beberapa sekon. Menimbang kalimat apa yang sekiranya tidak membuat Taekwoon curiga dan menanyainya lebih—

“Hanya teman?”

—oh, mungkin juga tidak. Karena mungkin sekarang Appa-nya akan berpikir…

“Teman seperti apa yang mengajakmu pergi malam-malam dan memulangkanmu dalam keadaan mabuk?”

Skakmat.

Yein tidak tahu lagi harus menjawab apa. Kalau ia katakan Jungkook adalah pacarnya, itu juga akan berdampak buruk karena Appa akan menganggap Yein berpacaran dengan pemuda yang tidak benar. Belum lagi Chanwoo akan memborbardirnya dengan pertanyaan tentang sosok pacar Yein itu. Padahal ‘kan Chanwoo kenal dengan Jungkook. Tidak, tidak, tidak. Yein tidak boleh mengatakan Jungkook adalah pacarnya. Tapi kalau jujur dan mengakui bahwa ia selingkuhan  Jungkook itu sama saja dengan bunuh diri. Bisa-bisa Appa-nya terkena serangan jantung mengetahui anak perempuannya yang teladan telah menjadi selingkuhan orang.

Appa tidak tahu dengan siapa kau bergaul belakangan ini—” Taekwoon mengendurkan dasinya, “—tapi ini jelas salah. Anak di bawah umur sepertimu tidak seharusnya minum alkohol.” Mobil berhenti, tanpa sadar mereka sudah sampai di halaman kediaman Bae. Namun tidak ada satu pun yang berniat keluar dari mobil. Taekwoon mendesah perlahan sebelum lantas berbalik menatap Yein. “Berikan ponselmu,” titahnya.

A-appa…”

Appa bilang berikan ponselmu.” Taekwoon menengadahkan telapak tangannya di depan wajah Yein.

Tak mampu melawan lagi, Yein merogoh saku rok seragamnya dan mengeluarkan ponsel pintarnya. Taekwoon cekatan mengambil alih ponselnya saat benda itu telah mengudara.

“Untuk menghindari kemungkinan kau berkomunikasi dengan pemuda tidak baik itu, Appa menyita ponselmu sampai Eomma-mu pulang. Appa akan menjemputmu setiap hari dan kau juga tidak boleh keluar rumah setelah pulang sekolah. Akan Appa katakan pada Eomma kalau ia telah gagal mendidik—”

Appa tidak bisa seperti itu!” Yein memekik tidak percaya.

“Kalau bukan karena Appa sedang ada di rumah, tidak akan ada yang menjagamu kalau pemuda itu berbuat macam-macam!!” Tanpa sadar Taekwoon balas membentak Yein. Buat gadis itu tersentak dan sebulir air mata mulai mengembun di pelupuk matanya. Taekwoon mendesah keras dan mengalihkan pandangan. Ia memang selalu keras namun baru kali ini ia membentak Yein. Mau-tidak mau membuat Yein terkejut dan sedih. Suara tinggi Appa-nya hanya ia dengar saat bertengkar dengan Eomma-nya dulu. Iya, Taekwoon selalu membentak dan menyalahkan Eomma-nya seperti barusan. Membuat Eomma-nya muak lantas memutuskan berpisah lima tahun silam. Andai Taekwoon tidak seperti ini. Andai Taekwoon tidak menyalah-nyalahi Joohyun terus, Yein tidak akan merasa sakit.

“Bukankah sudah seharusnya seperti itu?” Yein menyeka kasar air matanya yang mulai luruh. Tak acuh pada tatapan Chanwoo di spion yang seakan mengatakan “sabarlah, Yein. Jangan melawan Appa”. Berbanding terbalik dengan air matanya yang mulai mengalir deras, tatapan Yein menyalak menantang pada Taekwoon.

“Bukankah memang sudah seharusnya Appa ada untuk menjagaku?!”

‘Seharusnya keluarga kita tidak pernah terpecah belah!!’.

Selanjutnya Yein bergegas keluar dengan gusar dan membanting pintu mobil keras. Taekwoon menjatuhkan kepalanya pada sandaran kursi. Tangannya mengurut pelipisnya yang mulai berdenyut sedang Chanwoo masih duduk, enggan undur diri.

“Jung Chanwoo, bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau akan menjaga Eomma dan saudari kembarmu?”

“Maafkan Chanwoo, Appa.”

***

Sudah dua hari Yein tidak bicara pada Jungkook. Ponselnya disita oleh Appa-nya sampai Eomma-nya pulang dan Appa-nya selalu menjemputnya guna memantau agar Yein tidak pergi dengan sembarang pemuda. Ia benar-benar tidak bisa bergerak leluasa sekarang. Terlebih Jungkook juga sepertinya tidak ada niatan menemuinya lebih dulu. Terbukti dari keabsenannya menunggu Yein di tangga atau surat-surat singkat yang dititipkannya pada teman sekelas Yein. Entah kenapa Yein merasa Jungkook sedang menjauhinya. Apa salah Yein? Tidak tahukah ia kalau Yein merasa resah—entah ia belum pernah merasa seperti ini sebelumnya tapi benar-benar bingung (dan juga takut). Takut kalau Jungkook tidak mau menemuinya lagi.

Apa ini semua karena Appa-nya? Apa Jungkook marah karena Appa-nya telah memukuli Jungkook? Ugh, sebenarnya apa yang sudah dilakukan Taekwoon sampai Jungkook kapok menemuinya begini.

“Kenapa Oppa tidak menjawab teleponku kemarin?!”

Yein yang berjalan menunduk ke kelasnya disambut oleh suara teriakan Halla di depan kelas. Buat ia mau-tak mau mengangkat wajah penasaran dan mendapati Jungkook berdiri menghadap Halla—dan juga dirinya.

“Aku ketiduran,” balas Jungkook enteng sambil mengusap tengkuk. Sorot matanya sendu dan wajahnya agak menunduk sehingga ia tidak menyadari kehadiran Yein.

“Bohong! Aku meneleponmu berkali-kali, tahu!” dan Halla malah semakin melancarkan aksi ‘ngambek’nya. Sejenak Yein tertegun karena rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat Jungkook. Namun sepersekian sekon berikutnya ia sadar kalau tidak seharusnya Yein menatap Jungkook seperti ini karena, ya, memang siapa sih Yein?

‘Aku…seharusnya aku tidak ikut campur’.

Yein meneruskan langkahnya menuju pintu kelas. Beberapa langkah lebih dekat dari tempat Jungkook dan Halla berdiri.

‘Iya, abaikan saja, Jeong Yein’.

“Jungkook sunbae!”

Tapi Yein tidak tahu sejak kapan hatinya tidak mau berkompromi dengan otaknya, sehingga tanpa sadar ia memanggil Jungkook. Kontan membuat Halla dan Jungkook menoleh. Netra hazel lelaki itu membelalak menatap Yein.

“Maaf, tapi Sunbae dipanggil guru,” dustanya.

“Eh? Iya…” dan Jungkook menyahut terkejut.

“Pokoknya Oppa harus jawab teleponku! Jangan harap Oppa bisa kabur!” Rupanya kalimat Yein barusan ampuh untuk mengusir Halla. Karena detik selanjutnya gadis cantik itu berjalan gusar meninggalkan Jungkook di tempatnya. Meninggalkan Jungkook dan Yein berdua.

“Maaf sudah membuatmu melihat hal yang tidak menyenangkan—“ Jungkook mengusap tengkuknya lagi, “—Halla kalau marah memang menyeramkan. Oh, iya aku dipanggil guru siapa?”

Yein melirik pada Jungkook lalu menjatuhkan pandangan pada ujung sepatunya. Tangannya ia remas gugup. Rasanya juga sudah lama sekali ia tidak bicara pada Jungkook. “Eum…maaf…aku bohong.”

“Oh…bohong?”

Satu anggukkan Yein berikan.

“Kenapa?”

“Entah…kenapa…” Wajah Yein memerah. Jungkook terperangah.

“Tidak tahu! Ma-maaf.” Yein buru-buru pergi, bisa gawat kalau ia berlama-lama menghadapi Jungkook. Namun saat Yein akan melewatinya, Jungkook berbalik dan meraih sebelah kuncir duanya lembut.

“Terima kasih.”

TBC

tyavi‘s little note: Huwaaaa rasanya sulit sekali menyelesaikan chapter kali ini. Huhu rasanya semua kata yang aku susun tuh terasa hambar. Berbulan-bulan tenggelam dalam WB bikin aku sulit sekali untuk kembali nulis. Jadi maaf banget ya kalau chapter kali ini ga bagus, acakadul dan gak ngefeel. Tapi bersyukurlah gara2 ngeremake posternya aku jadi dapet suntikan semangat lagi ❤

Anime edit credit goes to oh claren

Mind to leave a comment?

 

Advertisements

25 thoughts on “KisSin [Chapter 3]

  1. huhu baper parah😭😭 gak bagus dri mananya coba. Sampe nyesek tau thor😢😳
    Kesian ya Yein sama Jungkook😢😢 bapaknya ngomong apa sih sampe Jungkook ngehindar gitu, atau Jungkook gak pengen Yein jatuh cinta sama dia terus ngejauhin Yein gitu?? Huaa misteri bnget😭

    Plisss aku nungguin ff ini bnget thor, plis jangan lama hiatusnya😢😢
    Ini keren bnget sumpah✌ pokoknya next chapter jangan lama ya thor *maksa😂😂

    Liked by 1 person

    • duhh bikin baper yaa maaf yaaa
      emang part kali ini hubungan jeong sama yein agak renggang, kan kemaren udh swit mulu tuhh jadi gantian /dibegal readers/
      duhh makasih banget dibilang bagus, aku terhura T^T
      iyaa maaf banget yaa kemarin hiatus ga bilang2, ini bakal kuusahain apdet cepet
      makasih juga udh baca dan komen yaaa ❤

      Like

  2. Kalau udah menyangkut dua maknae ini,gak bisa ngmong apa2 deh(BangLyz shipper Fever)😂😂

    Sejujurnya aku hampir lupa cerita chapter “kisSin” ini,jadilah aku ngulang bacanya / maaf ya authornim😉😉😂😂

    Sugohaseyo authornim,salam kenal dr Alvianit garis 96
    Chap lanjutannya soon ya.hehe /maksa 😊😊😊

    Like

  3. Kyaaaaaaa kakty!!!! Finaleee wkwkwk.. Jungkook galau kalu ya nentui perasaan wkwkw Yein atau Halla.. Haduh Chanwoo harusnya belain Yein dikit kek.. kasihan Yein dimarahi papi :(((
    Kelanjutannya kak jangan lama lagi :”””v

    Like

  4. ini udah ampe lumutan nungguin update-an.
    kata siapa kalo hambar, malah sukses bikin aku nangis sesenggukan. entah kenapa gak begitu terima aku sama sikap kook ke yein. kira2 apa ya yang bakal dilakuin mereka,, KEPOO MAXX niih!! hiihihihi
    pokoknya next nya jgn lama2 yaah??
    tetep semangaat!!!! ^^

    Like

  5. Lah,bapeeer emaaak 😣 aduh kesian yein-nya 😭 Kook masa mau gitu-gitu aja? putusin kek halla-nya 😂

    Next pliss thor jan lama lama klo bisa *maksa 😂. Eh,btw posternya ucul ih emezz 😁😁😁

    Like

  6. wah akhirnya update juga setelah berapa bulan kak? sedih nunggu kisah selingkuhan yg maksa jd selingkuhan/? :’D

    DEK YEIN, KOK NASIBMU KASIAN AMAT SIH, jadi selingkuhan emang gak selalu nguntungin ya, jd sedih :”( aduhaduh tp bentar ini selingkuhan yg jaya, tiap hari ciuman gitu kok jd pengen ya/eh

    kak tyavi/maaf ih sok kenal gini/aku selalu nunggu kisah mereka, semoga gak kena wb biar cepet rilis chapter selanjutnya ya hehe

    semangat selalu^^

    Like

  7. Edisi baper yeayy. Jungkook baper, yein baper. Terciptalah suatu hubungan yang rumit diantara hubungan perselingkuhan ini wkwk

    Makasih kak taty, akhirnya update juga~ semoga tidak kena webe lagi dan bisa terus berkarya😊

    Like

  8. Jarang tau kak aku mau ngikutin ff yang bergenre hurt atau apalah yang berurusan sama nangis”an..
    Dan entah apa yg merasukiku,,aku mau aja gitu nuggu ff ini di lanjut hmmm..
    Dibikin happy endingnya kakk,,seenggaknya bisa menyembuhkan hatiku yang sedih waktu baca ff ini serta penantianku padamu selama berbulan”(?)
    Anyway kak,, bikin epep leorene dungss kangen beratttt 😍😍
    Semangat terus kakkk,,love youuuu

    Like

  9. Akhirnya ff ini muncul juga…
    Hampir lupa mereka ngelakuin ‘selingkuh’ tuh berawal dari Yein yang udah bosan jadi anak baik-baik
    Dan akhirnya di chapter ini kelihatan banget mereka udah baper
    Yein ngomong itu pasti waktu ngga sadar kan, makanya dia ngga ingat
    Jungkook pun udah jelas banget lagi kebingungan
    Udah terlanjur ‘selingkuh’ dan terlanjur baper
    Greget banget lah bacanya :3
    Hubungan mereka bakalan ribet banget ya kayanya karena berawal dari sesuatu yang ‘salah’ :”)

    Like

  10. Huu tetiba pengen baca ff JeongIn lalu nemu ff ini trs cari part 1 sama 2nya kl baca langsung pt 3 kan ntar gak mudeng hehe
    makin dibaca makin kyk pernah tau ceritanya * gabaca disclaimer nya sih maen baca aja sadar2 pas mau re-read lagi* trs keinget manga shoujo yg udah aku baca, lupa judulnyaaaaaa……… aaakh
    tapi ini agak beda dr cerita manganya dan aku syuka cara author-nim mempersembahkan ff ini dg cerita yg sedikit berbeda tp ngga jauh2 dr manganya hhehe lanjut terus aku tunggu part2 selanjutnya sampai final~♥♥♥♥♥♥

    Like

  11. Tyaviiiiiiiiiii akhirnya kamu kembali TT—-TT aku sempet khawatir kamu kenapa2 hueee sebenernya aku nungguin banget Free Spirit chapter 4 dan pas baca author fanfic ini itu kamu aku sampe teriak wkwk
    Btw saking lamanya kamu engga update aku sampe baca lagi chapter sebelumnya XDD
    Ini bagus kok, aku sukaaaa. Jungkook gentle sekali depan papahnya Yein uh apalagi pas Halla bilang ‘Kau berkelahi lagi?’ Eum suka cowok nakal yang suka berantem tapi alim didepan wkwkwk
    Ty, chapter selanjutnya jangan kelamaan lagi yaaa. Jangan menghilang lagi ;^;

    Like

  12. …rasa-rasa ingin cepat-cepat menghalalkan dua maknae ini tat 🙂
    Kasian mereka baper semua…duh, udah salah dari awal sih ya T.T Aku gak tau mau jungin bersama ato gimana, soalnya si dua maknae ini emang salah dari awal. Trus, walo halla keliatannya nyebelin jg …harusnya dia gak digituin /azel edisi sok bijak/

    Entahlah…ff ini sukses ngebuat baper sih tat…kutunggu akhirnya :”D Semoga…mereka…eum /masih galau mau jungin bareng ato engga…/

    Like

  13. hiks..😢😢
    apa yg dilakukan ayannya yein??
    kenpa kookie gitu..
    kookie jngan hindari yein dong..

    kak ini bikin sedih, tp lucu ttap ada…kayak si yein yg boongin kookie cuma bwt bicara..tp pada akhirny gk jadi..
    yein jangan putus asa..nde🙌

    ngomong2 part 4 ny diPw, bolehkah sy minta Pwnya?

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s