Posted in bangsvt, Comedy, LFI FANFICTION, School-Life, Slice of Life

[Vignette] Sepucuk Surat

ss

Sepucuk surat untuk Jisoo, bagaimana reaksinya?

bangsvt’s proudly present

Sepucuk Surat

Starring : Lovelyz’s Jisoo Seo, BTS’s Hoseok Jung and Namjoon Kim

PG13

School-life, Slice of Life, a little bit Comedy

1,206ws

Enjoy!

Jika aku ingin lebih dekat denganmu, apa itu akan membuatmu risih?

Jika aku ingin berbicara bersamamu, apa kau akan menanggapinya?

Jika…

Jika aku mencintaimu, apa kau akan membalasnya?

Lagi-lagi Jisoo mendapat sepucuk surat tergeletak manis di dalam lokernya. Ini sudah yang ketiga kalinya dia mendapatkan hal seperti ini. Jika ditanya senang atau tidak, jelas dirinya senang, tapi dia rada takut juga sih.

Jisoo itu adalah tipe gadis yang pendiam dan tidak terlalu banyak berinteraksi, semacam introvert gitu deh. Jadi, ya kalau dikasih hal semacem ini dia tidak bisa seratus persen senang.

“Surat baru lagi?”

“Iya, Seok. Kira-kira kamu tahu siapa yang naruh?” Hoseok hanya bisa menggeleng menjawab pertanyaan sahabat tercantiknya itu. Jelaslah tercantik, Jisoo adalah satu-satunya sahabat Hoseok yang berjenis kelamin berbeda dari dia. “Ya sudah, deh. Ayo ke kantin.” Jisoo menarik manja tangan Hoseok yang masih berdiam manis di dalam saku laki-laki berponi itu.

“Jalan berdua lagi, ya?” itu bukan suara Hoseok maupun Jisoo, itu suara misterius dari seseorang yang berdiri di balik tembok. Jangan tanya dia siapa, karena kalau dikasih tahu sekarang itu nggak seru.

“Tumben sekali kantin nyediain donkasu, biasanya hanya kimchi dan ayam saja.” Namjoon dengan santai menduduki tempatnya yang berada di depan Jisoo. Jisoo yang mendengar pernyataan Namjoon hanya bisa menggidikkan bahu tanda tak tahu.

“Namjoon-ah, tahu tidak, Jisoo mendapatkan sepucuk surat seperti kemarin lagi.” Seru Hoseok antusias seperti gadis-gadis penggosip.

EHEK

“Hei, kau tidak apa-apa?” Jisoo menyodorkan satu susu pisang ke arah Namjoon dengan wajah yang cemas. Namjoon mengambil tawaran itu dengan senang hati walaupun masih belum bisa lepas dari batuknya.

“Kok bisa tiba-tiba tersedak seperti itu, jangan-jangan…”

“Tadi aku tersedak ludahku sendiri Hoseok. Jangan mengada-ngada, deh.” Namjoon menatap datar sahabatnya yang sudah heboh dengan perkataanya sendiri. Hoseok hanya bisa membalas tatapan Namjoon dengan ekspresi yang menayatakan aku-tahu-kamu-dalangnya.

Masa iya Namjoon. Dekat saja tidak, bagaimana dia bisa suka denganku?  Sedari tadi Jisoo hanya mengoyak daging dokansunya saja. Pikirannya masih melayang-layang dengan berbagai pertanyaan yang mengarah kepada surat-surat dan Namjoon.

Lamunan Jisoo buyar karena suara bel yang bordering nyaring, hampir saja membuat telinga gadis itu berdarah.

“Aku belum makan!” Jisoo membuat mimik wajahnya semiris mungkin dengan rengekkan sembari mengutuk bel sekolah. Percuma saja dia mengantri capek-capek tetapi makanannya tidak ada yang maksud mulut sama sekali.

Ahjumma, ini dibungkus saja. Jisoo, ke kelas sana. Aku ada roti, siapa tahu bisa mencuri-curi waktu.” Namjoon yang peka dengan situasi langsung bergerak cepat, tidak seperti Hoseok yang langsung lari ke kelas dengan alasan guru matematikanya killer.

“Sejak kapan kamu membeli roti?”

“Sudah sana ke kelas, guru matematika killer.” Jisoo mengangguk paham kemudian berlari menuju kelasnya yang tak jauh dari kantin. Seulas senyum terpampang di wajah lelaki itu. “Semoga kamu suka.”

Jisoo sudah berada di rumahnya dari beberapa jam lalu. Sekarang gadis itu sedang menatap lekat-lekat buku biologi yang memuakkan mata. Besok itu ulangan, jelas saja Jisoo menjadi rajin secara tiba-tiba seperti ini. Jisoo tuh ibarat Nobita yang ada di kartun Doraemon, belajar sih iya tapi tetep aja dapet nol, eh, kalau Jisoo sih nggak sampai nol kok, paling 40. Bingung juga, kok bisa ya sudah belajar tetap dapat nilai segitu?

“Jisoo, ada temen kamu di bawah.” Jisoo yang lagi fokus dengan bukunya mendadak berlari ke bawah. Begitu sampai di lantai bawah, ibunya Jisoo langsung mengarahkan jari ke teras depan, mengisyaratkan temannya Jisoo lagi berdiri di sana. Mengerti kode dari ibunya, gadis Seo ini berjalan mendekati tempat temannya berada.

“Loh, Namjoon?”

“Jisoo, ini makanan kamu yang tadi siang dibungkus ketinggalan sama aku. Kamu bisa langsung makan kok, sudah aku hangatkan.” Jisoo cuma bisa melebarkan matanya kaget. Namjoon rela banget malam-malam begini nganterin makanan yang bahkan Jisoo aja lupa kalau dia bungkus.

“Aku hanya mau ngasih itu aja, kok. Aku pulang dulu, ya.”

“Hati-hati, Namjoon.” Untung malam, tapi lampu teras tidak bisa membuat Jisoo menutupi betapa merah wajahnya sekarang. Apalagi saat punggung Namjoon sudah menyapa dirinya, rasanya dia ingin teriak sekeras mungkin.

Hai!

Bagaimana makanannya, apa masih enak?

Ini sih positif  banget kalau Namjoon yang dari dulu memberikan surat. Siapa lagi coba yang tahu kalau Namjoon memberikan makanan semalam ke Jisoo?

Itulah kira-kira pikiran Jisoo saat dia membaca surat baru yang tergeletak manis di lokernya seperti biasa. Sembari menutup pintu lokernya, senyuman tak pernah lepas dari wajah Jisoo. Di pikirannya sudah tersusun rencana ajaib yang akan membuat dirinya dan Namjoon lebih dekat kemudian memiliki hubungan yang, ekhm, lebih dari sekedar teman.

“Senang banget kayaknya.” Hoseok yang baru dateng langsung merangkul sahabatnya itu.

“Hoseok! Aku tahu siapa yang memberikan surat ini!” Jisoo terlihat sangat antusias saat mengancungkan sepucuk surat ke depan sahabatnya itu. Mata Hoseok membulat lebar setelah Jisoo membisikkan apa yang ada di pikirannya.

“Sudah kuduga!”

“Tapi, jangan langsung bilang ke dia ya kalau aku sudah tahu, nanti dia geer lagi.” Jisoo terkekeh karena perkataannya sendiri. Percaya diri sekali dia ya…

Sepulang sekolah nanti temui aku di lapangan basket, ya.

Dari yang selama ini kau kirimi surat.

Namjoon mengernyitkan dahinya, bingung. Namun, sepersekian detik kemudian,  seulas senyum terpampang jelas di wajahnya.

Ini sudah waktunya pulang, tapi Jisoo masih setia duduk di bangku penonton. Di depannya hanya ada lapangan basket yang kosong. Alasan kenapa gadis itu ada di sini adalah, dia ingin bertemu dengan Namjoon.

KRIET

Suara decitan pintu membuat suasana hening yang sedari tadi menemani Jisoo hilang. Lekas gadis itu memalingkan kepalanya ke sumber suara.

“Lho… Kwon Soonyoung?” Lelaki bermata sipit itu tersenyum seraya tungkainya berjalan mendekati Jisoo yang masih bingung dengan kedatagannya. “Ke… kenapa kamu ada di sini?”

Sunbae, aku-“

“JISOO!” seruan seseorang menghentikan perkataan Soonyoung. Terlihat Namjoon yang tergesa-gesa berlari ke arah mereka berdua. “Ji… jisoo,” nafasnya yang terengah-engah membuat Jisoo terlihat khawatir. “Aku mau jelasin sesuatu, berdua dengan Soonyoung. Kita mau mengklarifikasi kesalah pahaman ini.”

“Maksudnya?”

“Jadi, Jisoo, yang sebenarnya memberikan kamu surat itu bukan aku, tapi sepupuku ini, Si Soonyoung. Dia itu sudah suka sama kamu dari lama banget, mungkin pas dia baru masuk kali. Nah, dia itu tidak berani dekatin kamu secara langsung, jadinya pakai surat. Sialnya dia bikin aku jadi perantara di antara kalian.” Jelas Namjoon panjang lebar.

“Iya… begitu, Sunbae. Roti yang waktu itu Kak Namjoon kasih sebenarnya dari aku, kebetulan sekali pas itu sunbae tidak jadi memakan makanan yang sudah sunbae beli, jadi aku tidak sia-sia deh membeli rotinya.” Soonyoung menggaruk tengkuknya kikuk. Kelihatan banget dia lagi gugup deket sama Jisoo.

“Jadi, sunbae, mau tidak jadi kekasihku?” Jisoo hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia bingung banget dengan semua hal yang tiba-tiba ini.

“Hh…” bukannya menjawab, gadis Seo ini cuma menghela napas, membuat dua laki-laki di depannya menahan napas. “Maafin aku, Dek Soonyoung, tapi aku sukanya sama Namjoon.” Jisoo berbicara seperti kekuatan sinyal 4G LTE, ya, cepet banget. Namun, Namjoon bisa denger apa yang Jisoo katakan. Jelas banget, padahal Si Gadis ngomong udah kayak orang kumur-kumur.

“Jadi… Sunbae, tidak nerima pernyataan cinta aku?” dengan polos dan jujurnya, Jisoo mengangguk. “Sunbae jahat! Aku nggak mau lihat Sunbae lagi.” Soonyoung berlari menjauh seperti gadis-gadis yang memergoki pacarnya selingkuh. Iya, larinya sambil nangis, untung aja tidak jatuh.

“Maafin aku ya, Joon. Aku bikin sepupu kamu sakit hati.”

“Aku yang seharusnya minta maaf. Maaf karena aku nggak bisa membalas perasaan kamu. Aku sudah punya kekasih.” Satu titik, dua titik, kini semua air mata Jisoo tumpah.

“Namjoon jahat!” Namjoon hanya bisa menatap miris Jisoo yang sudah ikutan beralari seperti Soonyoung tadi.

Kkeut

Ya, saya tahu ini alurnya kecepetan pake banget dududu.

Maafin saya /bow/

Dapet idenya juga nggak kalah cepet dari jaringan 4G.

Jangan lupa comment and like biar Author semangat.

Regards,

bangsvt

 

Advertisements

Author:

7+13=luv

5 thoughts on “[Vignette] Sepucuk Surat

  1. Hahhaha hoshi sama aku aja sini gak usah nangis sambil lari lari😂😂😂

    Yakin ini lucu banget endingnya. Gak dapet apa2😂😂😂

    Semangat authornim😊😊😊
    Salam hangat dari Alvianit96

    Like

  2. Kak- ceritanya aku izin pake buat tugas sinopsis yaa. Abisnya udh deket deadline dan bingung mau pake apa, maaf ya~ Thanks! Gbu kakk

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s