[Oneshoot] Kiss(noth)ing

Standard



Kiss(noth)ing

By Fanita


Main Cast : Lovelyz’ Sujeong – Seventeen’s Mingyu


Genre : Romance – Hurt/Comfort – School Life – Angst – Sad|| Type : Oneshoot || Rating : M


“Hubungan ini tidak lebih dari friend with benefit”


PS : TIDAK DISARANKAN BAGI KALIAN YANG DI BAWAH 17 TAHUN UNTUK MEMBACANYA. KALAU MASIH BACA SAYA TIDAK BERTANGGUNG JAWAB DENGAN KONTEN FANFIC INI.

.
.

Tubuh Sujeong bersandar di dinding belakang perpustaan dan di hadapannya sudah ada laki-laki tampan yang menatap lekat wajahnya. Tatapan Sujeong hanya memandangnya datar dan tak lama kemudian bibir seksi milik laki-laki itu telah mengunci rapat bibirnya. Sujeong berdiri dengan tenang sambil membalas ciumannya. Bahkan tangannya kini sudah melingkar di leher Kim Mingyu—nama laki-laki itu. Ciuman mereka terkesan panas dan keduanya tak peduli kalau mereka masih berada di area sekolah. Mingyu mencium Sujeong dengan sangat dalam. Ia melumat bibir Sujeong seakan-akan orang yang kelaparan. Panas dan penuh bergairah. Sujeong sendiri menyukainya dan membalas ciuman Mingyu untuk mengimbangkan permainannya.

.
“Kau tahu apa yang membuatku menyukaimu?” Sujeong masih menutup rapat bibirnya namun kepalanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan dari Mingyu barusan. Melihat respon dari Sujeong barusan Mingyu pun tersenyum miring dan memberitahukan Sujeong apa yang membuatnya suka, “Kau dapat mengimbangi permainanku,” ucap Mingyu. Ryu Sujeong hanya menghela nafas lalu membuka suara, “Sudah sore. Aku harus pulang..” pamitnya. Tanpa menunggu jawaban dari Mingyu, Ryu Sujeong langsung pergi meninggalkannya seorang diri di tempat terkutuk itu. Dan Mingyu pun hanya bisa menatap kepergian Sujeong dengan tatapan datar.
.
Keesokan harinya Sujeong duduk melamun di tempatnya sambil memperhatikan teman-teman sekelasnya yang membuat kerusuhan. Seperti biasa ada yang ngerumpi di pinggir kelas, ada juga anak cowok yang bermain-main di belakang, dan tentu juga ada orang yang sibuk dengan buku mereka karena harus menyelesaikan PR yang tidak dikerjakan di rumah. Sujeong butuh sahabatnya Kim Jiho untuk segera sampai ke sekolah.
.
Daebak!! Kalian harus lihat lapangan!!” Seseorang yang baru saja masuk ke dalam kelas mereka berteriak histeris. Semua orang bertanya-tanya apa yang terjadi di lapangan. Begitu dia mengatakan jawabannya seseorang yang duduk di mejanya pun hanya dia mematung.
“Mingyu sedang menyiapkan acara untuk anniversary-nya yang pertama bersama Kang Minah!” serunya.
Sujeong lah yang mematung. Kalau hari ini satu tahun semenjak mereka berpacaran itu artinya sudah satu tahun juga Sujeong—ah sudahlah. Sujeong tak mau memperdulikannya, toh Mingyu bukan siapa-siapanya. Hubungan ini tidak lebih dari friend with benefit bahkan disebut teman saja tak pantas.
“Sujeong kamu baik-baik saja?” tanya Jiho mengkhawatirkan Sujeong yang dia mematung.
“Aku kenapa?” tanya balik Sujeong.
“Ke..kejadian tahun lalu—”
“Itukan hanya masa lalu dan tidak ada lagi sangkut pautnya dengan aku jadi ya sudahlah..” jawab Sujeong lalu pergi meninggalkan Kim Jiho.
Jiho sendiri hanya bisa menatap senduh Ryu Sujeong yang tiba-tiba saja pergi. Dia takut kalau Sujeong belum bisa move on dari laki-laki yang telah memiliki kekasih itu.
.
Jam pelajaran ke-empat adalah waktunya Guru Kang mengajarkan pelajaran sejarah nasional. Sujeong suka pelajaran ini karena membuatnya lebih menghargai bangsa dan negaranya. Perjuangan para tentara melawan penjajahan zaman Jepang begitu terkesan di hati Sujeong. Ya.. orang bisa mengatakan Sujeong ini boring karena di saat anak lain membenci sejarah, ada Sujeong yang mencintainya.
Drrttt..
Sujeong yang lagi mencatat materi yang diberikan oleh Guru Kang merasakan mejanya bergetar. Ponselnya sengaja dia berikan mode getar dan diletakan di dalam laci. Diam-diam Sujeong membaca sms yang masuk ke dalam inbox. Begitu membaca sms itu dan mengetahui pengirimnya, Sujeong mengerutkan keningnya heran. Ada apa..
Saem!”
Sujeong mengangkat tangannya dan Guru Kang yang sedang mencatat di papan tulis langsung melihat ke arah Sujeong.
“Ada apa Ryu Sujeong-ssi?” tanyanya.
“Aku izin ke UKS karena perutku terasa sakit,” izin Sujeong.
Guru Kang mengizinkannya dan Sujeong pun langsung pergi dari kelasnya.
.
Perlahan Sujeong membuka pintu akses ke sebuah tangga darurat yang tidak dipakai lagi di sekolahannya. Dapat Sujeong lihat laki-laki yang sangat dia kenal sedang duduk membelakanginya.
“Ada apa?” tanya Sujeong to the point.
Laki-laki itu membalikan badannya dan menyambut Sujeong penuh senyuman. Orang itu tak lain adalah Kim Mingyu.
“Duduklah di sebelahku,”
Sujeong mengikuti apa yang dia perintahkan. Begitu duduk di sebelahnya Mingyu langsung mengenggam tangan mulus miliknya.
“Ada apa?” tanya Sujeong dengan pertanyaan yang sama.
“Hari ini satu tahun,” jawab Mingyu.
“Bersama Kang Minah?” ucap Sujeong skeptis.
“Hahaha bersamamu juga,” kekehnya.
Ryu sungguh tak mengerti apa maksud Mingyu menyuruhnya datang ke tempat ini di jam pelajaran. Lagian untuk apa mengungkit kejadian yang terjadi pada satu tahun yang lalu?
Chu~
Mingyu mencium Sujeong tanpa memberikan aba-aba terlebih dahulu. Tangan Mingyu bahkan sudah menekan tengkuk Sujeong untuk memperdalam ciuman mereka. Ryu Sujeong hanya bisa pasrah dan mengikuti pergerakan Mingyu dan kini tangannya sudah melingkar di pinggang Mingyu. Serangan mendadak seperti ini sudah sangat biasa bagi Sujeong dan dia sendiri hanya mengikuti langkah Mingyu untuk menikmati satu-satunya hal yang bisa dia dapatkan dari laki-laki itu.
.
“Kapan kalian putus?” Seusai bercumbu Sujeong menanyakan hal itu kepada Mingyu. Terkesan gila memang apalagi hari ini hari jadi mereka yang pertama. Mingyu hanya tertawa mendengar pertanyaan konyol Sujeong. Untuk apa dia putus dengan Minah?
“Kenapa aku harus putus dengannya?” tanya Mingyu.
“Ye?”
“Kalau aku putus lalu aku harus berpacaran denganmu?” tanyanya lagi.
Sujeong diam tak bergeming. Ia memilih untuk berdiri dan menikmati pemandangan yang terlihat dari gedung lantai tiga sekolahannya. Tatapannya begitu lirih bahkan angin yang berhembus membuat air matanya ingin keluar saat ini juga.
“Kau tidak mau putus darinya?” tanya Sujeong.
“Tentu saja tidak. Dia berharga,” jawab Mingyu.
Ya, bagi Mingyu kekasihnya itu berharga sementara dirinya hanyalah perempuan kotor yang mau saja menjadi budak pelampiasan nafsu Kim Mingyu. Apa status Sujeong selingkuhan? Jawabannya tidak. Mereka hanya bertemu di kala situasi sepi seperti ini kemudian mereka akan berciuman seperti yang dilakukan oleh sepasang kekasih. Hubungan mereka terlalu sulit untuk dijelaskan. Sujeong mencintai Mingyu sementara Mingyu sendiri hanya menyukai ciuman Sujeong sehingga terjadilah hubungan gila yang tidak dapat dipercayai oleh orang-orang bila mereka mengatakannya.
“Satu tahun yang lalu.. Kalau saja kau tidak menangis,” celetuk Mingyu.
“Kalau aku tidak menangis kau tidak akan peduli dengan kehadiranku bukan?” balas Sujeong.
Mingyu terkekeh pelan lalu menganggukan kepala, “Ya bisa jadi seperti itu..”
.
“Aku sudah lama menyukaimu Minah-ya..”

“Ye?!”

“Aku bilang aku menyukaimu. Apa kau mau jadi pacarku?”

Walaupun terkejut dengan pengakuan cinta Mingyu barusan gadis bernama Kang Minah itu menganggukan kepalanya dengan semangat. Jujur saja dia juga memiliki rasa dengan lelaki dengan tinggi badan yang begitu menjulang ini. Siapa yang tidak kaget bila orang yang banyak digilai oleh perempuan di sekolahannya menyatakan perasaan kepadanya terlebih dahulu.

“Aku mau Mingyu!” seru Minah.

Mingyu langsung memeluk tubuh Minah yang terasa pas di dalam dekapannya. Dia merasa sangat bahagia saat ini.

Prang!!!

Pelukan sepasang kekasih yang baru saja meresmikan langsung terlepas begitu mendengar suara pecahan sesuatu.

“Mingyu ada apa?” tanya Minah kaget.

Untuk memastikan apa yang terjadi Mingyu mengikuti arah di mana suara itu tadinya berasal. Begitu dia lihat ke salah satu ruangan penyimpanan alat olahraga Mingyu bisa melihat sebuah pecahan kaca di sana.

.

“Mingyu apa yang terjadi?” tanya Minah untuk memastikan apa yang dilihat oleh Mingyu di sana. Tak ingin mengkhawatirkan pacar barunya Mingyu memasang senyuman lalu mengusap rambut Minah dengan lembut.

“Ada kucing yang memecahkan vas bunga di dalam ruangan itu,” jawabnya.

“Oh kupikir siapa..” gumam Minah.

“Kau pulanglah duluan!”

Minah pun menganggukan kepalanya dan pergi keluar seperti yang baru saja dikatakan oleh Minah. Berbeda dengan kekasihnya yang pergi dari ruang gym ini, Mingyu sendiri kembali ke tempat tadi untuk memastikan sesuatu.

.

Setelah Mingyu berada di dalam gudang penyimpanan alat olahraga dia kembali melihat pecahan benda yang ada. Itu bukan vas sebenarnya. Lebih tepatnya barang yang pecah itu adalah sebuah bola kristal. Di dalam kristal itu terdapat beberapa manik-manik dan juga sebuah foto Mingyu.

“Aku tahu ada seseorang di sana. Kau bisa keluar sekarang!”

Mingyu sengaja meninggikan nada suaranya agar orang itu takut dan segera menunjukan wujudnya. Tapi apa yang dilakukan Mingyu juga tidak mempan karena orang tersebut memilih untuk bersembunyi agar Mingyu tak menemuinya.

.

Mingyu tersenyum miring karena sudah 5 menit dia berdiri di sini tapi orang itu juga tak mau keluar. Tidak ada cara lain bagi Mingyu untuk melihat siapa orang tersebut selain dengan menghampirinya sendiri.

Tap..tap..tap..

Begitu suara langkah kaki Mingyu semakin mendekatinya gadis yang tidak lain adalah Ryu Sujeong itu menutup mulutnya agar tidak ketahuan. Tapi sayang orang itu sudah berada dihadapannya dengan tatapan yang begitu mengerikan di mata Sujeong.

“Jadi kau yang mengirimkan sms kepadaku untuk pergi ke tempat ini?”

Sujeong masih diam dengan badan yang bergetar hebat. Tamat riwayatnya! Dia sangat bodoh untuk mengajak Mingyu bertemu di tempat ini.

“Sayangnya aku juga bertemu dengan orang lain di sini,”

Air mata Sujeong mengalir dengan deras. Dia mendengar bahkan sempat mengintip saat Kim Mingyu menyatakan perasaannya kepada cewek yang dia kenal sebagai anak paling populer di angkatannya.

“Berdiri!”

Mingyu menyuruhnya berdiri tapi Sujeong masih tetap betah untuk duduk di tempatnya. Dia menundukan kepala agar wajah memalukannya ini terlihat oleh Mingyu. Tapi apa kalian tahu? Seorang Mingyu menghampirinya dan memaksanya untuk berdiri saat itu juga.

“Kenapa kau menangis?” tanya Mingyu.

Sujeong masih betah untuk diam. Dia tidak mau berkata apapun saat ini.

“Kau patah hati karenaku?” tanya Mingyu lagi.

Masih seperti tadi Sujeong diam tak berkutik. Lidahnya begitu keluh untuk mengucapkan sepatah katapun.

“Aku akan mengobatinya,”

Chu~

Mingyu tiba-tiba saja menciumnya lalu mendorong tubuhnya untuk merapat ke dinding. Sujeong ingin memberontak tetapi seluruh pergerakannya telah dipatahkan oleh Mingyu. Lelaki bermarga Kim ini juga sengaja mengunci kakinya agar tidak bisa berlari.

.

Mingyu mencium Sujeong dengan ganas. Terasa asin karena air mata yang sempat mengalir di bibirnya tadi. Sujeong memberontak tapi tak bisa. Mingyu menciumnya, orang yang selama ini dia suka tengah mencumbunya. Walaupun dia ingin memberontak tapi ada bagian dalam dirinya yang menikmati hal ini. Pada akhirnya Sujeong melemaskan tubuhnya dan membalas ciuman Mingyu dengan panas walaupun ini pertama kalinya bagi Sujeong melakukan yang namanya ciuman.

.

“Wow..” Mingyu berdecak kagum setelah mencium Ryu Sujeong sementara gadis itu sendiri hanya bisa menundukan kepalanya karena malu. Melihat Sujeong yang tak mau menatapnya membuat tangan Mingyu bergerak untuk mengangkat dagunya.

“Namamu Ryu Sujeong ‘kan? Teman sekelasku saat kelas 1?” tanya Mingyu.

Sujeong hanya mampu untuk menganggukan kepalanya.

“Ciuman yang sangat hebat! Kau sangat berpengalaman, iya kan?”

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Mingyu setelah dia mengatakan hal seperti itu di depan mukanya. Mata Sujeong kembali berair dan juga deruh nafasnya sudah tidak beraturan. Dia merasa tersinggung dengan ucapan Mingyu yang begitu gampang menilainya ‘berpengalaman’.

“Kau menamparku? Kenapa? Kau barusan juga menyukainya bukan?” tanya Mingyu lagi sambil tersenyum licik.

“Brengsek!”

Untuk pertama kalinya Sujeong membuka mulut hanya untuk mengucapkan kata kotor tersebut. Kim Mingyu tidak merasa bersalah sama sekali bahkan dia tertawa menanggapi Sujeong yang mengatainya brengsek.

“Tapi kau menyukai laki-laki brengsek ini ‘kan?”

Tsh..

Sebulir air mata kembali jatuh ke pipi chubby miliknya. Sudahlah sakit karena laki-laki yang dia sukai telah menyatakan perasaannya ke perempuan lain, Kim Mingyu juga merendahkan harga dirinya.

“Aku tidak suka cewek cengeng jadi kau harus menahan air matamu itu,” celetuk Mingyu.

Ia membalikan badannya untuk pergi meninggalkan Sujeong. Namun baru beberapa langkah dia berjalan Kim Mingyu menghentikan tungkainya untuk mengatakan sesuatu kepada Ryu Sujeong.

“Aku akan menghubungimu malam ini. Tenang saja, aku tidak akan membuangmu dalam sekali pakai..”

Begitu Mingyu keluar dari gudang ini Sujeong meraung tak jelas. Dia menangis sekeras-kerasnya karena hatinya terluka.

“Aku membencimu Mingyu!!” teriak Sujeong.
.
Jika diingat kejadian satu tahun yang lalu betul-betul memalukan untuk Sujeong. Semua itu dia simpan rapat di memorinya sehingga tak ada satu orang pun yang mengetahuinya termasuk Kim Jiho. Maka dari itu yang Jiho tahu hanyalah Sujeong tak jadi mengungkapkan perasaannya karena Mingyu sudah menjadi milik orang lain sebelum dia menyatakan rasa sukanya kepada Kim Mingyu.
“Hubungan ini membuatku gila..” lirih Sujeong.
Tanpa Sujeong ketahui Mingyu bisa mendengar dengan jelas apa yang baru saja dia ucapkan. Mingyu tersenyum tipis kemudian berdiri dan langsung memeluk Sujeong dari belakang.
“Kau terlihat frustasi?” tanya Mingyu.
Dia mencium tengkuk Sujeong penuh nafsu. Sujeong hanya diam dan tetap fokus dengan pemandangan kota Seoul yang bisa dia lihat dari sekolahnya.
“Jalan-jalan yuk besok,” ajak Mingyu.
“Jalan?”
Untuk pertama kalinya Mingyu mengajak Sujeong pergi seperti ini. Tentu saja Sujeong sangat senang tapi bagaimana kalau ada yang melihat mereka pergi dan mengadukannya ke Kang Minah?
“Kau tidak mau?” tanya Mingyu.
“Memangnya mau ke mana?”
“Bioskop atau ke manapun yang enak,” jawabnya.
Call!”
.
Hujan turun membasahi bumi sehingga Mingyu dan Sujeong tidak jadi untuk pergi ke bioskop seperti yang mereka janjikan kemarin. Tak ada pilihan lain untuk pergi apalagi baju mereka telah basah kuyup. Mingyu pun memutuskan untuk mengajak Sujeong ke rumahnya yang lumayan dekat dari sekolahan.
.
Mingyu membuka pintu rumahnya lalu mempersilakan Sujeong untuk masuk. Udara dingin di luar membuat Sujeong mengigil. Mingyu pun menutup pintu rumahnya dan menyuruh Sujeong untuk duduk di ruang tamu.
“Tunggu saja di situ,” kata Mingyu.
Sujeong mengangguk dan menuruti apa katanya. Tapi Sujeong cukup heran kenapa di rumah ini begitu sepi.
.
Setelah mengganti bajunya dengan pakaian santai Mingyu kembali dan tak lupa membawakan Sujeong baju ganti. Dia tidak punya baju yang pas untuk Sujeong jadi ia hanya membawakan kemeja putih milihnya. Ya sekaligus hal itu untuk membuat khayalan liarnya menjadi nyata. Semua lelaki pasti pernah berfantasi kalau kekasihnya menggunakan kemejanya yang kebesaran lalu sang gadis akan terlihat begitu menggoda.
.
Dari jarak beberapa meter Mingyu dapat melihat kalau Ryu Sujeong sedang berusaha menghangatkan dirinya dengan cara menggosokan kedua telapak tangannya. Dari sini Mingyu bisa melihat dengan jelas blouse yang basah itu mencetak dada Sujeong. Glek. Mingyu meneguk salivanya lalu buru-buru menghampiri Sujeong dan berusaha menghilangkan pikiran kotornnya.
.
“Ganti pakaianmu!” Mingyu melemparkan baju miliknya kepada Sujeong. Gadis itu menatap Mingyu penuh tanda tanya. Ya ada beberapa pertanyaan di dalam pikiran Sujeong saat ini. Pertama, baju siapa ini? Kedua, di mana dia harus mengganti bajunya, “Itu bajuku. Ganti saja di kamarku,” ucap Mingyu sambil menunjuk kamarnya. Sujeong pun langsung pergi untuk mengganti bajunya seperti yang disuruh oleh Mingyu barusan.
.
“Bolehkah aku menyentuhmu?” Mata Sujeong langsung membulat saat Mingyu membisikan pertanyaan itu di telinganya. Dia sedikit menjauh dari Mingyu dan melihat laki-laki itu penuh ketakutan. Padahal sejak tadi mereka hanya duduk berdua di ruang tamu tetapi Mingyu merusak suasana itu dengan membisikkan pertanyaan aneh itu ke telinganya.
“K..kau ini kenapa sih?” tanya Sujeong takut.
“Jangan takut aku tidak akan melakukan hal yang lebih!” ujar Mingyu.
Buru-buru Sujeong berdiri untuk meninggalkan rumah Mingyu tapi laki-laki itu telah menahan tangannya terlebih dahulu. Sujeong memberontak agar Mingyu berhenti memegang tangannya.
“Hei tenanglah. Apa kau pernah melihatku melanggar ucapanku sendiri? Aku tak akan melakukan hal yang lebih,” ucap Mingyu.
“Tapi kita bukan siapa-siapa!” jawab Sujeong menahan segala rasa kesalnya.
“Kalau begitu mulai dari sekarang kau pacarku,”
“Tidak. Kalau aku setuju aku selingkuhan, bukan pacarmu..” kata Sujeong mengkoreksi ucapan Mingyu.
Rahang Mingyu mengeras. Dia jadi terbawa emosi sendiri karena ucapannya Sujeong. Mingyu pun memilih untuk melepaskan gadis itu.
“Pergilah kalau kau mau.. Tapi aku tak tahu bagaimana nantinya bila kau sakit akibat kehujanan,” ujarnya.
Seketika Sujeong merasa lunak kembali karena ucapan Mingyu barusan. Sujeong sangat benci bila Mingyu telah berbicara seperti ini, sok peduli dengannya. Tapi tetap saja hatinya akan luluh dengan buaiannya dan pada akhirnya Ryu Sujeong memilih untuk duduk kembali.
“Kau tidak jadi pergi?” tanya Mingyu.
Sujeong menggeleng dan langsung memeluk Mingyu dengan sangat erat, “Aku menunggu hujan redah saja. Di luar pasti dingin,” lirihnya.
Mingyu juga memeluk Ryu Sujeong dengan erat. Diapun tersenyum karena keputusan Sujeong untuk tetap di sini.
“Maafkan permintaan gilaku tadi. Sujeong-ah aku menyayangimu,” bisik Mingyu.
Gwenchana. Aku juga menyayangimu Min—”
Ucapan Sujeong terhenti begitu dia sadar kalau Mingyu mengatakan kalau dirinya menyayanginya. Untuk pertama kali Mingyu mengucapkan kata itu kepadanya. Sujeong ingin menangis tetapi dia coba untuk menahannya.
“Kau tidak menyelesaikan ucapanmu?” tanya Mingyu.
Aniya, aku menyayangimu Mingyu-ya..” lanjut Sujeong.
“Tunggu saja sampai semuanya berakhir,” celetuk Mingyu.
Ye?” herannya. Mingyu tak merespon Ryu Sujeong yang tampak bingung dengan ucapannya. Dia hanya tersenyum lalu membelai mesra rambut panjang Sujeong yang sedikit lembab karena terkena hujan tadi, “Pelukanmu terasa sangat hangat,” lirihnya.
.
Mingyu sedang berbaring di kamarnya sambil memejamkan mata. Tak ada yang bisa dilakukannya saat ini. Belajar? Dia terlalu lelah itu melakukan itu saat ini.
Drrrttt..
Tiba-tiba saja ponsel Mingyu berdering. Ternyata ada sebuah panggilan untuk melakukan video call yang berasal dari Kang Minah. Mingyu tanpa ragu langsung menerima panggilan itu dan menyapa pacarnya.
Annyeong Minah!” sapa Mingyu.
“Mingyu-ya coba tebak!” seru Minah dari seberang sana.
“Ada apa? Aku tidak bisa menebaknya?”
“Tadaaa!!”
Dari sana Minah menunjukan sebuah surat yang tak Mingyu ketahui apa isinya. Wajar saja tulisannya begitu kecil dan layar ponselnya juga tak selebar handphone keluaran terbaru.
“Apa itu?” tanya Mingyu.
“Aku diterima jadi trainee di agensi besar!”
Minah tertawa bahagia dari sana. Mau tak mau Mingyu pun tersenyum pada Minah dan memberikan ucapan selamat.
Aigoo baeu-nim aku harus minta tanda tanganmu sebelum kau debut,” godanya.
“Apa sih hahaha,”
“Ngomong-ngomong selamat ya! Aku ikut bahagia kalau kau senang, sayang..”
Dari layar ponselnya Mingyu dapat melihat Kang Minah sedang tersenyum tipis. Raut wajahnya yang tadi berbahagia karena tertawa mendadak berganti menjadi lebih serius.
“Besok pulang sekolah aku ingin jalan denganmu,”
Mingyu menganggukan kepalanya tanda setuju dengan permintaan Minah.
“Boleh saja. Mau ke mana?”
“Entahlah.. Ke tempat yang akan memberikan kenangan indah,” jawab Minah alakadarnya.
Mingyu hanya tersenyum sambil memperhatikan Kang Minah baik-baik dari sana, “Kalau begitu aku tidak sabar menunggu hari esok,”
Minah tersenyum kecut, “Ya aku juga..”
.
Sore itu Sujeong hanya duduk manis di depan televisi sambil menonton drama re-run di channel KBS3. Kalau sore seperti ini Sujeong tidak punya aktivitas yang memberatkannya. Palingan dia belajar di malam hari.
Ping!
Ponsel Sujeong berbunyi. Ada sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Sujeong mengalihkan pandangannya dari televisi menuju layar ponselnya.
Mingyu : Aku sakit dan sendirian di rumah. Bisa kau datang ke tempatku?
Mata Sujeong membulat. Mingyu sakit? Padahal di sekolah tadi dia terlihat biasa saja.
Sujeong : Bohong!
Mingyu : Tidak!
Mingyu : Mingyu sent a picture
Sujeong membuka sebuah gambar yang dikirimkan oleh Mingyu. Ternyata Mingyu memang sakit saat ini. Termometer yang baru saja difoto olehnya menunjukan angka 40 derajat Celcius.
Sujeong : Aku ke rumahmu sekarang!
.
Dengan penuh kepanikan Sujeong mengetuk pintu rumahnya Mingyu tapi tidak ada satupun orang yang membukakan pintu. Ketika Sujeong coba untuk membuka knop pintu ternyata sejak awal pintunya tidak terkunci sama sekali. Perlahan Sujeong pun masuk ke dalam rumah Mingyu dan memanggil namanya.
“Mingyu.. kau di mana?” tanya Sujeong dengan suara rendah.
Tidak ada sahutan dari sang pemilik rumah. Sujeong perlahan melangkah untuk lebih masuk ke dalam dan tetap menyerukan nama Kim Mingyu.
“Mingyu?”
Krek.. Sujeong membuka pintu kamar yang merupakan kamarnya Mingyu. Dia lihat ada Kim Mingyu yang terbaring di kasurnya sambil berselimut tebal. Karena begitu khawatir Sujeong pun berlari menghampiri Mingyu dan menanyakan keadaannya.
“Mingyu kau masih sakit?” tanya Sujeong. Mingyu menggelengkan kepalanya. “Apa kau sudah meminum obat?” tanyanya lagi.
Mingyu menggelengkan lagi kepalanya. Melihat respon Mingyu yang seperti itu membuat Sujeong langsung mengecek suhu badan Mingyu menggunakan punggung tangannya.
“Tidak panas..” heran Sujeong.
Mingyu memperhatikan wajah panik Ryu Sujeng karenanya. Tak tahan menahan gejolak untuk tertawa pada akhirnya Mingyu menghentikan akting sakitnya dan mentertawakan Sujeong sepuas hatinya.
“Hahahahahaha kau tertipu Sujeong-ah,” tawa Mingyu.
“Hah?!”
“Aku tidak sakit. Aku cuma bohongan biar kau datang ke rumahku,” ucap Mingyu lagi.
“Apa?!”
Sadar kalau dia dipermainkan oleh Mingyu, Ryu Sujeong pun memukul tubuh Mingyu menggunakan tangannya sendiri. Urgh! Sujeong kesal karena Mingyu berani menipunya. Dia sumpahi kalau Mingyu jadi sakit benaran.
“Jadi termometer itu?”
“Aku mencelupkan ke air panas haha,” kekeh Mingyu.
“Huft..”
Sujeong memasang muka cemberut. Mingyu selalu mempermainkannya. Entah itu hati ataupun perasaannya.
“Ya ampun jangan marah,” kata Mingyu.
Dia menarik tangan Sujeong dan menyuruh cewek itu untuk duduk di pinggir ranjangnya. Mingyu sendiri sudah duduk dan mengusap lembut tangan Sujeong.
“Kau benaran marah?” tanya Mingyu.
“Ya,” jawab Sujeong cuek.
“Apa kau masih marah bila aku beritahukan sesuatu?”
“Tergantung,” ujarnya. “Memang apa?”
“Aku putus sama Minah,”
“Oh…..”
Sujeong menganggukan kepala dengan mulut yang membentuk huruf O tapi ketika mencerna kembali apa yang baru saja dikatakan oleh Mingyu ekspresi wajahnya berubah 180 derajat.
“Su..sungguh?” tanya Sujeong tak percaya.
Mingyu menganggukan kepala sambil tersenyum, “Pulang sekolah tadi..”
“Akhirnya,” lirih Sujeong.
Sebut Sujeong wanita kejam yang bersyukur ketika orang lain baru saja mengakhiri hubungannya. Tapi itulah Sujeong. Dia sangat senang mengetahui kabar sehebat ini. Kalau mereka putus itu artinya dia punya peluang untuk menggantikan posisinya, bukan?
“Ya akhirnya..”
Mingyu membawa Sujeong untuk berbaring di atas kasurnya. Kini mereka berhadapan satu sama lain. Sujeong tersenyum lebar karena berbahagia. Air mata pun bisa saja jatuh detik ini juga bila dia tidak bisa menahannya.
.
Sujeong berada di dalam pelukan Mingyu dan mereka masih berada di atas kasur. Dia sungguh bahagia saat ini. Dia harap bahwa ini bukanlah mimpi seperti yang dia rasakan di dalam tidurnya.
“Kau masih tak percaya?” tanya Mingyu.
“Sedikit tidak,” jawab Sujeong.
“Mau kubuat percaya?” tanya Mingyu lagi.
Sujeong langsung menganggukan kepalanya dan—
Chu~
Mingyu mencium bibirnya seperti biasa. Walaupun ciuman ini sama tapi rasanya begitu beda. Apa karena Mingyu bukan laki-laki yang berkencan dengan perempuan lain? Ciuman Mingyu semakin mendalam. Dia melahap habis bibir ranum milik Sujeong seakan-akan tak ingin ada orang yang merebut bibir itu dari dirinya. Begitu pula Sujeong yang telah terbiasa itupun mengimbangi permainan yang dilakukan oleh Mingyu. Dia suka saat Mingyu memainkan lidah di dalam mulutnya.
.
“Mingyu-ya..” Panggil Sujeong setelah hampir 10 menit mereka bercumbu. Mingyu hanya bergumam lalu memainkan anak rambut Sujeong yang berantakan. Sujeong memeluk Mingyu dengan erat lalu mengusap pipi laki-laki yang dia cintai ini.
“Sekarang aku ini siapamu?” tanya Sujeong.
Mingyu pun menjawab, “Seseorang yang sangat berharga. Seseorang yang tidak akan pernah aku lepaskan walaupun kau sendiri sudah menyerah denganku,” jawab Mingyu.
Sebuah jawaban yang tidak pernah Sujeong duga akan dia dengar dari Kim Mingyu.
“Kenapa tidak dari dulu saja?”
“Apa?” tanya Mingyu heran.
“Putus dengannya,”
“Aku bukan laki-laki yang suka memutuskan hubungan secara sepihak. Aku yang memulai hubungan itu jadi aku tidak bisa untuk memutuskannya juga,”
“Kenapa??”
“Itu prinsipku,”
Prinsip yang selama ini menyebabkan rasa sakit hati di dalam diri Sujeong. Tapi tak apa bila Mingyu memiliki prinsip itu maka selamanya Sujeong bisa menggenggam Mingyu. Ya, kalian bisa mengatakan kalau Sujeong telah terobsesi untuk memiliki Mingyu seutuhnya.
“Ngomong-ngomong bagaimana kau putus dengannya?” tanya Sujeong penasaran.
“Ah.. itu…”
.

 

Di kafe Infinite, Mingyu dan Minah sudah duduk di salah satu tempat sambil memesan beberapa minuman dan makanan ringan. Cuaca di luar cukup terik jadi Minah agak malas untuk berjalan-jalan di bawah sinar matahari itu.
“Mingyu..” panggil Minah.
Mingyu memasukan kue yang baru saja dia comot di atas meja ke dalam mulutnya, “Apa?” tanya Mingyu.
“Ah.. anu.. bukan apa-apa sih,” balas Minah. Ada rasa gelisah yang tengah Kang Minah alami.
“Biar kutebak!” celetuk Mingyu setelah menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.
“Kau mau menebak apa?” heran Minah.
“Kau mau putus, iya ‘kan?”
“Ye?!”
Wajah Minah begitu kaget saat Mingyu mengatakan hal tersebut. Jelas saja dia kaget saat Mingyu sadar apa maksudnya mengajak untuk bertemu kali ini.
“Mingyu…”
“Minah-ya..” Mingyu memanggil lembut nama kekasihnya lalu dia menggenggam erat tangan Minah yang ada di atas meja, “Aku tahu menjadi seorang trainee maka kau harus merelakan kehidupan cintamu berakhir. Kalau kau memang mau melakukannya aku tidak apa kok,”
Tsh.. Minah tiba-tiba saja menangis dihadapan Mingyu. Dia menyayangi laki-laki ini tapi cita-citanya harus membuatnya berpisah.
“Gwenchana.. Kau tidak boleh menangis untuk menggapai mimpi,”
“Maafkan aku Mingyu,”
“Gwenchana Minah-ya..”
Ya.. Mingyu baik-baik saja mendengar kata putus dari Minah. Bahkan itu berarti dia bisa bersama Sujeong seutuhnya. Dia jadi tak sabar untuk memberitahukan kepada Sujeong walaupun di sisi lain Mingyu menyesal unuk berpikiran seperti ini dihadapan Kang Minah. Di dalam problematika rumit ini dialah bajingan brengsek yang telah membuat dua gadis tersakiti karenanya. Ya semua itu karena Kim Mingyu.

.
“Apa aku jahat kalau berbahagia di atas penderitaan Kang Minah?” tanya Sujeong sambil menatap lekat Kim Mingyu. Merespon apa yang ditanyakan oleh Sujeong, Mingyu dengan cepat menggelengkan kepalanya dan mengecup pucuk kepala Sujeong.
“Tidak Sujeong-ah.. Akulah yang jahat jadi kau jangan mengkhawatirkan hal itu,”
Sujeong tersenyum lirih, “Gomawo..”
Walaupun butuh perjuangan panjang untuk bersatu pada akhirnya Sujeong dapat mengencani laki-laki yang sejak awal sekolah telah mencuri hatinya. Begitu pula Mingyu yang tak menyangka akan jatuh cinta kepada Ryu Sujeong disela-sela hubungan gelap mereka. Apakah salah bila Mingyu mengatakan bahwa dia jatuh cinta pada Sujeong saat melihat dia menangis? Hari itu, hari di mana dia menyatakan perasaannya kepada Kang Minah yang seharusnya menjadikan rasa cintanya kepada Minah berlipat ganda malah membuatnya harus memikirkan perempuan lain. Mingyu tak suka melihat seorang wanita menangis di depannya karena itu diam-diam dia luluh melihat Ryu Sujeong ditambah lagi perempuan ini selalu bertahan di belakangnya walaupun Mingyu bertingkah brengsek setiap berada di dekatnya.
.
Mulai hari ini Mingyu berjanji pada dirinya sendiri akan mencintai Ryu Sujeong seorang. Dia bersumpah tak akan bermain kotor di belakang Sujeong seperti yang dilakukan olehnya kepada Minah. Teruntuk Minah, maaf. Mingyu benar menyesal telah mengkhianatinya dari awal mereka berhubungan. Dan untuk Sujeong, maaf, karena dia harus membuat perempuan berharga sepertinya tercabik-cabik hanya karena laki-laki tolot seperti dirinya.

 

.fin.

Advertisements

One thought on “[Oneshoot] Kiss(noth)ing

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s