[Vignette] Loventure

loventure1

Loventure

Stalkim98 || Jeong Yein, Jeon Jungkook || fluff, romance || G || vignette (1635w) || Summary: Kita akan pergi ke tempat lain. Kita tidak bisa mengelilingi Busan hanya dalam satu hari. Percaya saja, kau akan menyukainya.

Meet Up

“Apa ini?” tanya Jungkook pada Yein yang berjalan di sampingnya.

“Aku sudah mendata semua tempat yang akan kita kujungi.”

Kedua netra Jungkook masih menatap barisan aksara yang ditulis Yein. Ada sepuluh tempat yang Yein tulis. Dan kebanyakan bukan tempat yang wajar dikunjungi saat musim dingin, mengingat barang yang dibawa keduanya juga tidak mendukung.

“Kita hapus pantai Gwangalli, pantai Haeundae, candi Beomeosa, Heosimcheong, Dadaepo, Jembatan Gwangan, Busan Cinema Center, dan–“

Ucapan Jungkook langsung mendapat pandangan tidak menyenangkan dari Yein. Gadis itu sudah semalaman membuat daftar, ah, bahkan Yein sudah memikirkannya matang-matang dan optimis bahwa Jungkook akan menerima dan mengajaknya pergi ke tempat yang ingin dikunjunginya. Tapi nyatanya, laki-laki yang memakai kopiah hitam sampai setengah telinganya malah menghapus lebih dari separuh keinginan Yein. Yang benar saja?

Yein mengutuk dirinya sendiri karena sudah kelewat senang akan pergi bersama Jungkook yang nyatanya menjadi laki-laki tampan dengan sejuta pesona mautnya, sampai-sampai sudah membelikan hadiah untuk Jungkook karena katanya Jungkook akan memberinya kumpulan kaset Super Junior dari toko kaset Paman Sung Jin. Dan sekarang, benar-benar jauh dari ekspektasi seorang Jung Yein yang mendambakan perjalanan dengan destinasi impiannya. Jangan tinggalkan bunga-bunga khas musim semi yang akan menghiasi perjalanan keduanya di tengah musim dingin juga masuk ke dalam harapan Yein.

“Kau mau apa pergi ke pantai saat musim dingin seperti ini? Berenang? Berselancar dengan menggunakan mantel? Kita juga tidak bisa pergi ke Beomeosa. Kita tidak membawa persediaan air minum dan barang lainnya untuk naik ke gunung. Ah, dan Busan Cinema Center? Kita tidak bisa menghabiskan waktu hanya untuk menonton film, Yein-ah.”

Yein hanya diam saat mendengar ucapan Jungkook. Menurutnya alasan-alasan Jungkook sungguh tidak penting. Masalah peralatan mendaki, bukankah mereka bisa kembali dan mengambilnya sebentar. Lalu apa tadi? Hanya untuk menonton film? Tidak tahukah Jungkook bahwa Yein tidak pernah pergi ke bioskop hanya karena belajar dan belajar? Jadi apa salahnya membuatnya sedikit senang?

Ini bukan hari perpisahan yang baik untuk Yein. Itulah simpulan Yein saat duduk di bangku paling belakang bus dengan Jungkook.

“Kita akan pergi ke tempat lain selain sepuluh daftarmu ini.”

Dengan cepat Yein menoleh. “Apa? Bukankah masih ada dua tempat yang tidak kau hapus?”

Jungkook mengangguk. “Memang. Tapi, kita akan pergi ke tempat lain. Kita tidak bisa mengelilingi Busan hanya dalam satu hari.” Jungkook menghela napas. “Percaya saja, kau akan menyukainya,” lanjut Jungkook sambil membubuhkan senyuman kecil di akhir ucapannya.

“Aku akan menyesal, Jeon. Kau tahu, pilihanmu tidak pernah bagus.” Yein mengalihkan pandangannya. Ditatapnya jalanan dari balik kaca jendela bus. Ah, benar-benar jauh dari perkiraannya.

TAEJONGDAE

Serius, Yein melupakan Taejongdae. Bagaimana bisa Taejongdae tidak masuk dalam daftar Yein padahal jelas-jelas ia sudah kembali ke Busan? Bahkan sejak kecil Yein sering merengek mengajak orang tuanya ke Taejongdae yang terkenal, dan tidak pernah terkabul. Sumpah demi apapun Yein menyesal sembilan tahun tinggal di Busan tidak pernah pergi ke Taejongdae, dan hanya mendengar cerita teman-temannya yang pergi saat libur musim panas berlangsung.

Sekarang di sinilah Yein berada. Mulutnya terbuka kelewat senang melihat hamparan laut biru di bawah sana. Benar-benar indah. Seperti yang ia lihat di drama.

“Di mana itu?”

Jungkook menaikkan alisnya. Bertanya lewat mata.

“Tempat yang dibuat shooting drama Pinocchio-nya Lee Jong Suk dan Park Shin Hye, tempat Lee Jong Suk kecil dan ibunya bunuh diri,” jelas Yein.

Yein bukan tipe remaja yang diizinkan menonton drama saat malam. Namun bukan berarti Yein tidak tahu, kan? Teman-temannya di sekolah banyak sekali yang membicarakan dan memperlihatkan tempat bagus di Busan yang menjadi tempat pengambilan drama itu. Teman-temannya di Seoul tidak banyak juga yang pernah ke Busan. Tapi setidaknya mereka lebih beruntung dalam hal pengalaman dari Yein, sih, ya.

Yein masih menatap Jungkook, menunggu jawaban–dengan ragu–. Ugh, dan benar saja Yein melihat wajah Jungkook berubah sedikit bingung. “Kau tidak tahu?” tanya Yein. “Kau tidak tahu.” Kalimat sama dengan nada berbeda terdengar.

Sedangkan pria kopiah hitam hanya menggaruk tengkuknya sambil menunggu Yein kembali sadar dan mengajaknya segera masuk.

“Ayo naik danubi train saja.”

Yein menoleh. Sedetik kemudian menggeleng. “Jalan kaki saja, aku tidak apa-apa.”

Kepala Jungkook mengangguk pelan tanpa diikuti ucapan apapun dari bibirnya. Biarlah terserah Yein saja, toh ia yang mengajak Yein kemari. Sudah syukur sekali Yein tidak merajuk seperti tadi.

Suasana di Taejongdae seperti biasa ramai. Banyak pengunjung dari luar negeri dan juga warga Korea asli. Di tengah musim dingin seperti ini, masih juga banyak orang yang benar-benar ingin menghabiskan waktu di Taejongdae. Tikar lipat, keranjang makanan, dan ransel besar entah berisi apa diletakkan di tempat yang sekiranya aman dan nyaman untuk menghabiskan waktu bersama keluarga atau berdua. Angin musim dingin yang berhembus sesekali cukup kuat tak mampu mengalahkan kehangatan yang tercipta. Sungguh manis.

Eoh!”

Jungkook menoleh pada Yein yang tengah menunjuk suatu objek. Akhirnya mata Jungkook mengikuti telunjuk Yein. Senyumnya mengembang. “Patung yang berjasa di sini. Secara langsung dimaksudkan untuk mengingatkan pada siapapun yang ingin bunuh diri di tebing bahwa mereka masih punya ibu yang mencintai mereka.”

Yein mengangguk tanpa melepas pandangan dari patung ‘The Statue of Mother’. “Dulu aku sering mendengarnya. Dan sekarang aku bisa melihatnya langsung. Benar-benar hebat.” Seketika Yein menoleh, menatap Jungkook. Matanya menyipit.

“Sebelumnya kau sudah pernah ke sini, ya?”

Jungkook sedikit terkejut namun tetap mengangguk. “Pernah. Liburan musim panas kemarin.”

Kedua mata Yein semakin menyipit. “Bersama pacarmu, kan?”

Satu detik. Dua detik. Sepuluh detik. Jungkook baru membuka mulut. “Kau ingin melihat laut dari tebing?” Alih-alih menjawab, Jungkook ganti bertanya. Pertanyaan untuk mengalihkan pertanyaan.

Tubuh Yein mendadak tegap. “Tebing ya? Jangan-jangan tempat shooting itu.” Sudah lupa ternyata saking antusiasnya.

Jungkook tersenyum kaku dan segera menarik tangan Yein. “Ayo.”

 “Woaaah.” Lagi-lagi bibir Yein terbuka takjub. Ratusan anak tangga tepat di depan matanya. Senyumnya mengembang kecil saat Jungkook menarik tangannya kembali, mengajaknya meniti anak tangga satu persatu dengan hati-hati. Mengingat sedang musim dingin, angin benar-benar bertiup cukup kuat.

Tidak butuh waktu lama, Yein dan Jungkook sudah sampai di tebing yang terhubung langsung dengan laut luas.

“Ini tempat shooting-nya!” Yein memekik senang. “Akhirnya aku bisa pamer meski tidak pernah menonton dramanya!”

Senyuman di bibir Jungkook terkembang. Ia ikut senang melihat gadis ini tumbuh dengan senyuman yang menenangkan. Sama seperti dulu, sih. Itu juga yang membuat Jungkook kecil sering mengikuti Yein sampai gang rumahnya, meski harus mendengar ocehan tidak penting dan sedikit hinaan dari Yein.

“Hati-hati, aku tidak mau kau mati konyol karena jatuh,” ucap Jungkook masih dengan menatap Yein.

Yein menoleh dan memandang Jungkook kecut. “Hati-hati agar aku tidak mendorongmu,” sahutnya sinis.

“Wah! Benar-benar Jung Yein.”

Jungkook mengalihkan pandangan dan menatap jauh ke depan. “Kau sama sekali tidak berubah, ya. Masih sama seperti dulu. Galak. Tapi juga cantik. Seperti angin di musim dingin. Mengerikan tapi juga menenangkan.” Jungkook menghela napas pendek. Kepalanya menoleh ke kiri, tepat di mana Yein berdiri. “Apa aku pernah berkata kalau aku menyukaimu?”

Pertanyaan Jungkook sontak membuat Yein menoleh. Matanya menubruk tepat ke manik mata Jungkook. Apa sih yang dikatakan Jungkook? Yein menelan ludah susah payah. Aduh, kenapa kencang sekali? Mata Yein mengerjap. “Belum, tapi tingkahmu dulu jelas sekali mengatakan kalau kau menyukaiku.” Untung lancar.

Jungkook tertawa kecil. “Apa sekarang tidak?”

Apa lagi sih? “Huh?”

Jungkook membuka tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah tas jinjing berisi kaset. “Ini yang kujanjikan padamu, kan? Kaset Super Junior. Kapan-kapan kalau aku main ke Seoul, akan kuberi sesuatu yang lebih daripada ini.” Jungkook tersenyum. “Aku janji.”

Apa? Lebih-daripada-ini? Tunggu! Main ke Seoul? Apa Jungkook–

 

“Anginnya besar, ya.”

“Huh?”

Jungkook tertawa kecil. “Kenapa melamun?”

“Siapa?”

Kedua telapak tangan Jungkook naik ke pipi Yein. Menangkubnya cukup lama, membiarkan sang empunya mengejap berkali-kali tanpa menautkan kedua belah bibir. Sambil mengobservasi wajah damai yang cukup lama tak disambanginya. Tolong ingatkan Jungkook kalau mereka masih di atas tebing. Sungguh, itu tidak lagi jadi manis jika tiba-tiba Yein sadar dan mendorong kasar dada Jungkook sampai ia terlempar.

“Wajahmu merah. Kedinginan, kan?”

Kenapa jadi seperti ini, sih? Suara pemuda Jeon tidak seperti biasanya, yang kadang membuat Yein sebal. Dan wajahnya terlihat tidak baik-baik saja. Apa Jungkook sakit?

“Kau kenapa?” Yein malah balik bertanya. Pertanyaan yang mampu membuat alis Jungkook naik tidak sampai bersenti-senti. “Tiba-tiba melankolis sekali,” lanjutnya sambil mengusap tengkuk, kikuk.

“Hanya ingin memberikan kesan manis sebelum kau pergi.”

Nah, kan!

“Sebelumnya kau pergi dengan perasaan marah karena aku terus mengikutimu dengan penampilan yang tidak kau suka, kan? Sekarang aku ingin membuatnya beda.” Jungkook tersenyum. Lagi-lagi membuat kedua belah bibir Yein berjauhan.

Tapi tidak perlu semanis ini juga, kan?

“Ini–terlalu manis.” Demi Tuhan, Yein menyesal. Oh ayolah, ini bukan Jung Yein sama sekali. “Eh! Terima kasih,” ucapnya buru-buru sebelum Jungkook mulai menggodanya. “Dan omong-omong, aku akan pulang nanti malam, tidak jadi besok.”

“Apa?” Ada sedikit rasa kecewa di dalam pekikan Jungkook. Pagi tadi, ia tidak bermaksud mengecewakan Yein dengan menghapus daftar-daftar destinasi di kertas catatan Yein. Sungguh. Sebenarnya, setelah ke Taejongdae Jungkook ingin sekali mengajak Yein ke Haeundae. Tapi itu sore nanti. Untuk melihat matahari terbenam dari pinggiran pantai. Dan Yein pulang malam ini? Ya apa boleh buat, Jungkook terpaksa benar-benar menghapus semua yang ada di kertas catatan Yein, kan.

“Maaf baru memberitahumu.” Yein menunduk sebentar sebelum akhirnya membuka ransel dan mengeluarkan sebuah kotak tidak tebal bermotif garis-garis berwarna merah muda. “Terima kasih untuk hari ini dan kaset Super Junior. Senang bisa bertemu denganmu lagi, Jeon Jungkook.” Senyuman Yein mengembang sempurna.

“Terima kasih.” Tidak lupa Jungkook mengukir sebuah senyuman hangat di tengah musim dingin tahun ini. “Boleh kubuka?” Setelah melihat Yein mengangguk antusias, tangan Jungkook mulai membuka tutup kotak yang diberikan Yein.

Mata Jungkook membesar seiring dengan bibirnya berucap, “sandal hello kitty?”

.

.

.

FIN

.

.

“Jadi kau benar-benar mau ke Seoul?”

Jungkook mengangguk kecil. “Kuusahakan.”

Yein mengulum singkat bibirnya. Malam benar-benar lebih dingin dari biasanya. Ia rasa, wajahnya juga pasti sudah merah. Ugh, Yein ingin Jungkook menangkub kedua pipinya lagi seperti siang tadi.

Setelah mendengar teriakan dari ibunya, Yein buru-buru mematri senyum semanis mungkin untuk laki-laki di hadapannya itu. Tangannya terulur. “Baiklah, kalau begitu… Sampai jumpa lagi, Jeon Jungkook.”

Alih-alih mengucapkan kata perpisahan, kalimat lain tak terduga keluar dari mulut Jungkook, “tunggu sesuatu yang lebih dari kaset Super Junior, ya.”

.

.

.

2016/07/26 // 1:03 am

Halooo

Selama sebulan ke depan, mungkin bakalan lebih produktif nulisnya mengingat waktu menganggurnya lebih banyak weheee. Ini sequel Meet Up, yang belum baca, boleh kok baca dulu, sekalian komentar atau like juga boleh wkwk. Mungkin sebulan ke depan akan digunakan buat nulis kisah pas di Seoul juga. Masih mungkin hehe. Gitu aja deh, Stalkim ucapkan terima kasih buat yang sudah baca, dan berkenan meninggalkan jejak macam like atau komentar^^ mach laff ♡ ♡ ♡ ♡ ♡ ♡ ♡ ♡ ♡ ♡ ♡ ♡ ♡ ♡ ♡

Advertisements

14 thoughts on “[Vignette] Loventure

  1. Pantes kayak pernah baca cerita ‘Yein dan kaset Super Junior’ sebelumnya,tapi aku lupa authornya siapa…khekhekhe… -,-)v
    Jalan-jalannya so sweet sekali T.T Ditunggu sequelnya pas Jungkook ke Seoul,stalkim~ ^^

    Liked by 1 person

    • Hai kak raissaaaaaaa

      Iya ini yg daftar jadi istrinya siwon itu wehee aduh aku terlupakan T.T
      Iya itu terlalu manis karena juki sama yein, coba juki sama aku langsung didorong ke laut akunya/g. huhu

      Wah, semoga saya bisa buatnya ya kak, meski tanpa pengalaman pernah ke seoul ㅠㅠㅠ baperkan kalo udah ngomongin koriyah

      Makasih udah baca dan komentar kak^^ ❤❤❤❤❤

      Like

      • huhu…mian stalkim T.T itu soalnya bacanya pas jaman2 masih jadi silent reader ~..~ khekhekhe…gapapa,sekarang pake bantuan mbah gugel dulu x’D (sedih) ya siapa tau nanti bisa dapet pengalaman di korea,who knows xD
        sama-sama stalkim~ ^^

        Liked by 1 person

  2. Waahh, dibuat sequelnya ternyata 😊😀
    Saya pikir cuma sampai meet up nya aja. Hahhaaa
    .
    Maaf, tidak coment diff meet upnya. Baru login soalnya,
    .
    Ditunggu ya, cerita diseoulnya 😘😚😙
    Fighting!!

    Liked by 1 person

  3. Lah anjirr gue masih gak paham si jungkook kenapa mau ke seoul ya?
    Pertanda bakal ada lanjutannya nihh,, haha
    Btw ini sweet banget hhhh gak nahannn buat senyum sendiri
    Live it kakk

    Liked by 1 person

    • Halo sooin^^
      Juki mau ke seoul mau ambil ati aku biar bikin sequel nih/apasih/
      rencana sih memang mau ada lanjutannya doakan biar sempat nulis ya hehew

      Aduh, aselinya nggak ada manis2nya sama sekali, ya karena ada jungkook sama yein yg ikhlas senyum di loventure jadi manis deeeh 😁

      Makasih sooin udah mampir, suka, dan komentar, makasih udah cinta loventure, loventure juga cinta kamu/maksudmu ta?/ makasih pokoknya^^

      Kamu line berapa sih kok panggil aku kak? aku kan nggak mau keliatan tua 😭 panggil stalkim saja walaupun lebih muda, stalkim ikhlas kok^^

      Liked by 1 person

  4. Aku suka ini author.sederhana tapi ngena gtu. Nyampe mana2 perasaannya. Jadi bayangin klo jd Yein.hahha di kaaih sesuatu yang paling diinginkan oleh orang yang spesial kayak martabak.hhehe
    Tapi aku paling suka endingnya. Sendal hello kitty,aku langsung inget sarung bantal hello kitty punya oma😂😂😂😂

    Semangat n sehat selalu authornim,salam dari Alvianit96 yang telat baca 😧😧😧

    Liked by 1 person

    • Halo haiii

      Sampe mana emangnya? Sampai busan kah?/g.
      Apalagi yg kasih itu bias ya ughugh gatidur tujuh hari tujuh malam 😁
      oma kamu pecinta hello kitty ya? 😁😁😁

      duh terimakasih semangat dan doanya^^ semoga kamu jg sehat selalu yaaaaa

      Makasih udah mampir dan meninggalkan jejak^^

      Nggak terlambat sama sekali kok, kecuali kalo ngucapin selamat tahun baru hari ini baru telat/apasih ta/

      satu lagi, panggil stalkim saja yaaaa^^

      Like

      • Oke stalkim,oh habis ulang tahun ya? Sukses selalu deehh 😄😄😄

        Oma ku suka hello kitty gara2 sinetron kok😊😊

        Sukses selalu n sehat selalu ya stalkim😉😉

        Liked by 1 person

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s