[Freelance] After The Ramen

1468404360545

by nightskies

After The Ramen

Jisoo, Mijoo (Lovelyz) with Hoseok [J-Hope], Namjoon [Rap Monster] (BTS)

Ficlet-Mix

Friendship, Fluff, Romance

General / G

Disclaimer: The entire event that happens in this story is all pure fictional, none of them are true. Any same events, same persons, same places, are pure coincidences. All the characters in this story belong to wherever they are, while the story is mine.
Plagiarism is a bad thing, you know, and it will bite back someday 😉

***

Okay

Jisoo with Hoseok

*-*

Lee Mijoo tahu betul bagaimana karakter Jung Hoseok, meski mereka tidak dekat saat masih SMA dulu.

Lelaki itu tak kenal kata menyerah sebelum ia mendapatkan apa yang diinginkannya. Kedengarannya bagus, memang. Tapi hal itu menjadikan Hoseok sebagai orang yang tebal muka.

Seperti sekarang ini contohnya.

mijoo_liet: Kenapa tidak kau tanyakan soal itu ke orang lain? Coba kau tanya Namjoon. Jisoo bilang mereka satu fakultas saat kuliah, kuyakin dia lebih tahu. Aku lelah kau tanyai terus!
hope_seok: Karena kau teman sekolahku dulu dan Namjoon tidak tahu kalau aku sedang mendekati Jisoo. Aku tidak mungkin cerita padanya

Mijoo menekan garpunya ke ramennya keras-keras, kesal.

mijoo_liet: Itu salahmu! Kau bilang Namjoon temanmu, tapi yang seperti itu saja masa dirahasiakan?
hope_seok: Sudah deh, bantu saja aku!
mijoo_liet: Tapi aku sudah banyak membantumu! Drama favoritnya, siapa sesungguhnya Tuan Seo yang kau kira ayah kandungnya, dan jangan lupakan rincian tingkah lakunya yang selalu kubeberkan padamu di setiap chat yang kau kirim. Kau mau minta bantuan apalagi, hah?
hope_seok: Bantu aku membuat Jisoo berkata ‘okay’

Mijoo tersenyum jahil.

mijoo_liet: Beri saja dia kertas bertuliskan ‘okay’ besar-besar dan suruh ia membacanya
hope_seok: Hei, kau harus bersyukur aku sedang bicara denganmu via chatting. Jika kau ada di hadapanku, aku sudah menjambak rambutmu
mijoo_liet: Dan aku akan mencabik-cabikmu terlebih dahulu
mijoo_liet: Hei, kau tahu, kalimat barusan terasa familiar
hope_seok: Terserah kau. Jawab pertanyaanku, cepat!
mijoo_liet: Mana kutahu dia suka olahraga atau seni. Dia tertarik pada semua hal, bahkan juga ilmu biologi yang jelas-jelas tidak dibahas di fakultas sosial-humaniora. Sudah kubilang padamu berulang kali, tanyakan pada Namjoon. Dia pasti lebih tahu!
hope_seok: Tanyakan padanya, dong

Mijoo mengernyit sebal.

mijoo_liet: Ih, enak saja. Memangnya aku yang sedang mendekati jisoo? Usaha sendiri, sana! Jangan mentang-mentang kau sedang liburan di Amerika, kau bisa berdalih sulit menghubunginya. Kau pakai sebagai apa kontak Jisoo yang kuberikan? Pajangan?
hope_seok: Ih, dasar tidak berguna
mijoo_liet: Ih, dasar kurang ajar
hope_seok: Ya sudah, akan kutanyakan pada Namjoon. Ingat baik-baik, aku tak akan menolongmu jika kau ingin bertanya soal Namjoon
mijoo_liet: Tidak takut 😛 Aku bisa tanya pada Jisoo, kok

Hoseok berhenti membalas selama hampir lima belas menit, membuat Mijoo nyaris tersedak kuah ramen karena berusaha menahan tertawa.

“Jangan tertawa saat makan, Mijoo!” seru Jiae dari ruang tengah, membuat Mijoo melirihkan, “Ups,” sambil kembali menyantap ramennya dalam diam.

*

“Namjoon,” panggil Hoseok.

Ya?

“Aku sedang mendekati seseorang.”

Maksudmu, Lee Mijoo?” Namjoon yang sedang fokus dengan ponselnya tiba-tiba menoleh dan menatap Hoseok tajam. “Aku mungkin temanmu, tapi jika kau berani dekati dia, aku tak akan biarkan kau berbuat satu hal pun, bahkan bernapas.”

“Ih, apaan.” Hoseok menyentil layar laptopnya, ke arah wajah Namjoon. “Kau bisa bawa Lee Mijoo-mu itu kemana pun kau mau, terserah kau. Aku lebih baik makan mi dengan lubang hidungku daripada mengejar-ngejar dia.”

Baguslah jika bukan Mijoo-ssi. Jadi, siapa?

“Seo Jisoo.”

Hoseok mengira Namjoon akan kaget, tapi lelaki itu justru mengangguk tenang.

“Hei, kau dengar aku ‘kan?”

Ya, aku dengar. Kau sedang mendekati Jisoo, kan?

“Lalu kenapa kau tidak kaget?”

Jisoo memang gadis idaman. Anggun, pintar, ramah, dan santun. Tipikal wanita yang pasti akan digilai para pria, bahkan juga temanku yang gila ini.”

Hoseok menyentil lagi layar laptopnya. “Siapa yang mengajarimu untuk mengata-ngataiku? Mijoo, huh?”

Namjoon tertawa lebar. “Aku tidak diajari siapa-siapa. Tapi aku menyesal tidak melakukannya sejak dulu.

“Kau tidak akan dapat informasi apapun lagi soal Mijoo,” ancam Hoseok, dengan harapan semoga kali ini ancamannya berhasil.

Tidak masalah. Aku punya kontak Jisoo dan aku bisa tanyakan padanya.

Sayangnya, gagal total.

“Kau dan Mijoo sama saja. Suka melihatku menderita.”

Itu tugas seorang teman, Hoseok.” Namjoon meraih jaketnya yang tersampir di kepala kasurnya. “Sekarang, aku ada urusan dengan pamanmu. Ayo bicarakan rencanamu untuk mendekati Jisoo begitu kau kembali dari Amerika. Kumatikan video call-nya.

*

Jisoo menggigit bibirnya resah. Kenapa Mijoo selalu sulit dihubungi jika Hoseok sedang menghubunginya?

Firasat Jisoo selalu mengatakan bahwa hal itu terjadi atas suruhan Hoseok, tapi ia benar-benar berharap Mijoo akan mengangkat teleponnya sekali saja.

Berhenti menelponku, Soo, demi es krim stroberi dan vanila favoritmu!

Untung saja harapannya dikabulkan.

“Baiklah, tapi kau sungguh-sungguh akan membelikanku es krim itu untukku?”

Asal kau berhenti menelpon!” Mijoo menghela napas kasar. “Kau selalu muncul saat wajah Kim Woobin yang tampan sedang memenuhi layar ponselku!

Jisoo terkekeh. “Kau mengabaikan teleponku karena dia? Berani-beraninya kau mengajak Kim Woobin selingkuh denganmu!”

Hei, jangan lupa, kau juga pernah berselingkuh dengan Lee Minho di belakangku, Soo.

“Baiklah, Joo. Aku menelponmu bukan untuk mempermasalahkan kekasih kita, tapi karena Hoseok!”

Ada apa dengan Hoseok?

“Kenapa ia selalu menanyakan pertanyaan yang aneh?” Jisoo menghela napas. “Kemarin ia bertanya apakah aku suka Olahraga atau Seni. Dan tadi, ia bertanya apakah aku lebih suka perpustakaan atau taman.”

Biar kutebak, kau suka semuanya?” jawab Mijoo dengan nada malas.

“Kau benar!” jawab Jisoo sambil berseru gemas. “Kenapa ia harus memberiku pilihan? Aku tidak bisa melakukannya!”

Jika kuminta kau memilih antara Hoseok dan Lee Minho, siapa yang kau pilih?

“Tuh, kenapa kau ikut-ikutan membuatku memilih?”

Tapi kau bisa menjawabnya, ‘kan?

“Tentu, aku memilih Kim Soohyun!”

*

“Ia lebih memilih Kim Soohyun dibanding aku?!”

Mijoo menghela napas kesal. Kenapa Hoseok selalu menyebalkan, baik saat di Amerika maupun saat sudah kembali ke Korea?

“Ih.” Mijoo meraih kertas menu dan mengetuknya ke kepala Hoseok. “Kau jelas tak ada bandingannya dengan dia! Jangan protes.”

“Dasar tidak berguna,” gumam Hoseok kesal.

“Ih, dasar kurang ajar,” ujar Mijoo, tak kalah kesal. “Kau tidak sadar, aku sudah memberimu petunjuk untuk membuat Jisoo menjawab pilihan yang kau ajukan!”

“Sungguh?!” Hoseok kini menatap Mijoo penuh binar. “Apa itu?”

“Buat pilihannya tidak seimbang. Seperti pilihan kau dan Lee Minho. Ia akan menjawab dengan jawaban di luar pilihanmu.”

“Lalu untuk apa aku membuat pilihan jika ia menjawab dengan jawaban yang tidak kuajukan?” tanya Hoseok heran.

“Kau mau mengetesnya?” tantang Mijoo sambil mengeluarkan ponselnya, membuka ruang obrolannya dengan Jisoo.

mijoo_liet: Soo, lebih suka patbingsoo tanpa topping atau banana float dengan es krim enam rasa?
jisoo_seo: Aku lebih suka es krim mint dengan choco chips, kau lupa? Oh, dan kau belum membelikan es krim stroberi dan vanila yang kau janjikan kemarin! Aku akan terus menagih janjimu, Joo. Ingat baik-baik.

“Aduh, ini gara-gara kau, Hoseok. Aku jadi harus menebus hutangku padanya,” gumam Mijoo sambil buru-buru menyimpan ponselnya. “Omong-omong, aku benar, ‘kan?” lanjut gadis itu.

“Gadis ini ternyata penuh kejutan,” ucap Hoseok, penuh kekaguman. “Baiklah, bagaimana jika kutawari jalan-jalan di parit dengan makan malam di atap gedung?”

“Yang seperti itu juga aku tahu jawabannya,” ujar Mijoo sambil mengetukkan lagi kertas menunya. “Dia jelas lebih memilih jalan-jalan di parit. Aku sudah pernah bilang padamu dia takut ketinggian, kau lupa?”

“Lalu aku harus bertanya apa?”

Mijoo mengulum bibir, lalu tersenyum penuh arti.

*

Jisoo menatap layar ponselnya, resah.

Kenapa baik Joo maupun Namjoon tidak ada yang memberi tahu lelaki ini kalau aku tidak suka diganggu setiap saat?

hope_seok: Pilihlah; warna putih atau pelangi?
jisoo_seo: Warna merah muda

Lelaki ini baik, sungguh. Tapi jika ia terus-terusan seperti ini, aku lebih baik menghindar darinya sebelum terlambat.

Jisoo baru saja akan mem-block akun Hoseok, ketika satu pesan masuk lagi.

hope_seok: Ayo kencan denganku?
hope_seok: Jawabannya hanya ‘okay’ dan ‘sorry’
hope_seok: Jangan coba-coba berpikiran untuk menjawab ‘okay, dengan kim soohyun’ atau ‘okay, dengan lee minho’

Jisoo tersenyum kecil. Ini dia pertanyaan yang sudah kutunggu-tunggu.

jisoo_seo: Sorry…
hope_seok: Woah, really? 😦
jisoo_seo: Well I haven’t finished yet
jisoo_seo: Sorry… I’d like to say we should do more than a date
jisoo_seo: Let’s make it official? 😉

Belum ada balasan, dan Jisoo mulai takut Hoseok berpikiran lain mengenai jawabannya.

jisoo_seo: It means, okay 🙂

Jisoo mengernyit bingung saat pesannya tak juga dibalas, meski Jisoo sempat meninggalkan ponselnya untuk mandi dan makan malam.

Apa lelaki ini sedang menyelamatkan dunia?

*

Sementara itu…

“HOSEOK, BERHENTIIII!”

Mijoo tidak bisa menghentikan teriakan Hoseok yang terus berngiang dari ponselnya.

“Mijoo, suara apa itu?” tanya Jiae, menyembulkan kepalanya dari dapur.

“Aku tidak mau tahu suara apa itu!” seru Mijoo kesal sambil terus memendam ponselnya dengan bantal ke tempat tidurnya.

Jiae mengedikkan bahunya, bingung. ‘Dasar remaja zaman sekarang,’ batinnya sambil kembali memasak di dapur.

Suara Hoseok masih tetap terdengar jelas.

“Hoseok, aku serius! Berhenti sekarang atau aku akan adukan pada Jisoo bahwa kau pernah menelponku jam satu pagi!”

“Memangnya ia akan berbuat apa?”

Mijoo menghela napas, kesal. Lalu niat jahil muncul dalam benaknya.

“Kau bilang kau tahu semua tentang Jisoo karena sudah mengejar-ngejarnya selama dua tahun, tapi bagaimana mungkin kau bisa tidak tahu bahwa Jisoo akan mengabaikanmu seperti butiran debu jika ia sedang kesal padamu, hah?! Kau pikir ia tak akan cemburu jika dia tahu kau pernah menelponku jam satu pagi?”

“Oh-uh, jangan adukan!” pinta Hoseok.

Mijoo tertawa tanpa suara. Ih, mau saja ditipu!

“Tapi aku tak bisa menahan diriku,” ucap Hoseok lagi. “Dia menerima ajakan kencanku! Dia bahkan ingin kami resmi berpacaran!”

“Kuucapkan selamat,” ucap Mijoo datar. “Sekarang, kusarankan kau tonton drama The Heirs dan pastikan kau memperlakukan gadis itu persis seperti Kim Tan memperlakukan Cha Eun Sang.”

“Ih, aku sudah bilang aku pasti akan mati kutu jika melakukan hal semacam itu!”

“Ih, kau mengaku cinta padanya tapi melakukan yang seperti itu saja tidak mau! Kau mau Jisoo lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menonton Lee Minho daripada kencan denganmu, hah?”

“Argh, kenapa kau selalu membuat Jisoo terlihat merepotkan?”

“Jisoo memang merepotkan, kaunya saja yang tidak mau menyalahkan pacarmu dan balik menyalahkanku. Dasar licik.”

“Ya sudah, intinya begitu kau melihatku di bandara nanti, aku akan membuatmu iri dengan hubunganku dan Jisoo!”

“Terserah kau. Kututup teleponnya.”

Telepon terputus, membuat Mijoo menghela napas lega.

Akhirnya aku bebas dari Hoseok! Mijoo mengepalkan kedua tangannya tinggi-tinggi.

Eh, tapi jika Jisoo dan Hoseok mengajakku pergi dengan mereka, aku bisa jadi obat nyamuk! Mijoo meletakkan dua kepalan tangannya ke pelipisnya, mengetuk-ngetuk kepalanya.

Pokoknya, aku harus punya pacar saat pulang dari Jeju!

My Days with You

Mijoo with Namjoon

*-*

“Bagaimana cutimu kemarin, Joo? Kudengar dari Hoseok, kau pulang ke Okcheon dan bertemu keluargamu.”

Mijoo mendongak dan menemukan Jisoo tengah menatapnya sambil tersenyum penasaran.

“Menyenangkan sekali, Soo! Ibuku memasakkan banyak makanan, Hyejoo-unnie mengajakku hunting foto, dan ayahku memberiku banyak uang saku!” Mijoo mengulum bibirnya sejenak, lalu menatap Jisoo dengan kesal. “Oh, dan aku juga sempat jadi biro jodoh untukmu dan Hoseok.”

Jisoo tertawa. “Maaf ya, merepotkanmu.”

“Ih, hanya bercanda,” balas Mijoo sambil mencubit pipi Jisoo. “Aku senang saat temanku senang.”

“Omong-omong, mendengar ceritamu yang pulang ke rumah, aku jadi ingin pulang juga,” balas Jisoo sambil tersenyum sedih. “Sudah dua tahun aku tidak ke Incheon. Aku rindu Yeosoo dan ayah.”

“Kalau begitu, kau harus jenguk mereka saat kita diberi cuti lagi. Kau tahu, bertemu keluarga merupakan penyuntik semangat terbaik dan, percaya padaku, kinerjamu akan meningkat drastis karena motivasi dari mereka. Bahkan kalau perlu, kau harus ajak ibu dan ayah tirimu.”

Jisoo lalu mengangguk sambil tersenyum lebar. “Baiklah, aku akan pulang begitu ada kesempatan. Oh iya, kau jadi ke Jeju besok?”

“Yap!”

“Hoseok bilang padaku bahwa kau akan dikenalkan pada seseorang. Siapa dia?”

“Kim Namjoon dari divisi audio, teman kuliahmu.”

“Eh, sungguh?” Jisoo membelalak. Ada sesuatu yang seperti menyikut diafragma Jisoo ketika nama itu masuk ke telinganya.

Mijoo mengangguk. “Aku pernah bertemu dia saat menemani Hoseok untuk recording. Mereka ber-high five ala pria dan setelah itu Hoseok memperkenalkan kami. Tapi aku dan dia tidak pernah bicara lagi setelahnya. Ia tak menatapku saat aku hendak menyapanya, jadi kuanggap ia tak ingin berteman denganku.”

“Mungkin ia sebenarnya malu?”

Mijoo tersenyum gemas sambil mengedikkan bahu. “Aku akan temukan jawabannya segera.”

“Baiklah. Terima kasih untuk makan malamnya, Joo.” Jisoo lalu menoleh ke arah dapur. “Masakanmu yang terbaik, Jiae-unnie!”

“Oh, terima kasih, Jisoo!” balas Jiae dari dapur. “Maaf aku tak bisa bergabung, aku sibuk di dapur. Mijoo, antar Jisoo sampai ke mobilnya!”

“Dia itu,” lirih Mijoo sebal sambil menumpuk piring kotor dan meletakkannya di tengah meja makan. “Selalu menyuruhku mengantar semua tamu yang datang ke apartemen untuk kembali ke kendaraannya, sementara dia sibuk dengan eksperimennya.”

“Yang selalu lezat,” sambung Jisoo. “Kau tahu, jika saja Jiae-unnie mau bekerja di restoran sepupuku, masakannya akan jadi favorit dan ia akan jadi koki utama.”

“Sayangnya, ia menolak. Katanya resep itu turunan dari keluarganya dan hanya orang-orang tertentu yang bisa merasakannya. Untung, kita berdua termasuk dalam daftar.”

Baru saja keduanya akan masuk ke lift, telepon masuk ke ponsel Jisoo dan keduanya memutuskan untuk duduk di kursi tunggu. Setelah teleponnya selesai, gadis itu tersenyum kecil pada Mijoo.

“Kau tak perlu mengantarku ke bawah, Joo. Aku akan dijemput ayah tiriku kira-kira setengah jam lagi. Katanya ada masalah di perusahaan, dan aku harus ikut membantu menyelesaikannya.”

“Lalu mobilmu?”

“Kutitip dulu di sini, ya? Atau kau mau pakai dulu? Tidak masalah, akan kuberikan kuncinya.”

Mijoo meraih leher Jisoo dan merangkulnya erat. “Jika kau bersikap seroyal ini pada semua orang, bisa-bisa kau dimanfaatkan, Soo!”

“Tapi kau tak akan memanfaatkanku, Joo. Aku tahu itu.”

“Kau tidak tahu kapan aku akan khilaf, bukan?”

Jisoo tergelak. “Apa itu artinya kau tidak mau pinjam?”

Mijoo menggeleng sambil tersenyum. “Tapi sebagai gantinya, aku mau kau mengantarku ke bandara besok.”

“Tapi Hoseok ingin aku mengantarnya ke bandara.”

“Ih, Pria Gila itu,” gerutu Mijoo. “Ya sudah, aku akan minta Soojung-unnie mengantarku.”

“Kau tidak takut digunduli olehnya jika ketahuan mengambil proyek besar? Aku ingat kau pernah cerita bahwa Soojung-unnie selalu membawa gunting rambut di tasnya, agar bila bertemu denganmu saat kau bekerja, ia bisa langsung menggundulimu saat itu juga.”

Gadis itu melongo, lalu menepuk dahinya. “Oh iya, kau benar! Untung aku belum menghubunginya. Terima kasih sudah mengingatkanku soal ‘gunting maut’ itu. ” Mijoo mengulum bibirnya, bingung. “Apa aku pesan taksi saja?”

“Bagaimana jika kau pergi dengan Namjoon?”

“Eh, apa tidak aneh? Kami belum saling mengenal, tapi sudah pergi bersama.”

“Sebaliknya. Kalian akan saling mengenal sepanjang perjalanan. Dengan begitu, kalian tidak akan gugup jika sudah sampai di Jeju.”

Mijoo menghela napas pendek. “Aku akan minta Hoseok untuk memberitahu Namjoon bahwa aku butuh tumpangan. Karena, masa’ perempuan yang menemui duluan?”

Jisoo mengangguk setuju. “Semoga lelaki yang kali ini berhasil, ya!”

Tak lama, pintu lift terbuka dan Jisoo pun pamit pulang. Beberapa saat kemudian, lorong itu diselimuti keheningan. Mijoo baru saja berbalik menuju kamarnya, saat ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk.

kim_joon: apa ini benar lee mijoo? aku kim namjoon, dari divisi audio. hoseok bilang padaku kau butuh tumpangan untuk ke bandara besok. aku akan menjemputmu jam tujuh pagi di depan apartemenmu, bagaimana?

Kenapa cepat sekali? Rasanya baru tadi Jisoo mengusulkan ide itu padaku.

mijoo_liet: ya, aku lee mijoo. tapi dari siapa kau tahu aku butuh tumpangan?

Beberapa saat kemudian, pesannya dibalas.

kim_joon: tadi siang, hoseok yang memintaku untuk pergi bersamamu ke bandara. katanya, kau butuh tumpangan.

Tadi siang? Tunggu, apa yang sudah kulewatkan?

Mijoo buru-buru menekan ikon kontak dan menekan tombol telepon di samping nama Jisoo.

“Soo?”

“Hm?”

“Namjoon bilang padaku bahwa tadi siang Hoseok memintanya untuk menjemputku. Tapi aku baru cerita padamu tadi, bukan?”

Hening sejenak, lalu kekehan terdengar. “Baiklah, aku tidak bisa menyembunyikannya lagi darimu. Hoseok sudah merencanakan semua itu dari awal, ia akan membuat kau dan Namjoon berangkat bersama dari Seoul. Itulah sebabnya aku menolak mengantarmu ke bandara. Maaf, Joo.”

Mijoo memutar bola matanya, kesal. “Katakan pada pacarmu bahwa aku akan menjambak rambutnya begitu ia terlihat oleh mata kepalaku.”

Jisoo tergelak. “Terserah kau mau melakukan apa. Semoga berhasil, Joo!”

Sambungan telepon terputus. Setelah berpikir beberapa saat, Mijoo kembali membuka pesan tadi dan membalas.

mijoo_liet: baiklah. aku akan menunggumu di depan gedung apartemenku jam tujuh tepat. sampai jumpa besok.

*

Jam masih menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit, tapi Mijoo sudah duduk manis di depan gedung apartemennya. Udara pagi musim semi terasa begitu menyenangkan, jadi ia tak keberatan jika harus menunggu setengah jam.

“Bukankah seharusnya kau belum menunggu di luar? Masih tiga puluh menit lagi sebelum jam tujuh.”

Mijoo menoleh, menemukan Jiae sedang berdiri di belakangnya. Tangannya masih terbalut sarung tangan plastik, tanda gadis itu baru saja membuang sampah.

“Aku tidak mau ia menghubungiku saat aku sedang bersiap-siap. Itu hal terakhir yang ingin kulakukan sebelum ke Jeju. Bisa jadi, aku melupakan sesuatu yang penting.”

“Atau kau sebenarnya tidak sabar untuk bertemu dengan lelaki itu, hm?” goda Jiae sambil tertawa kecil.

“Biasa saja, kok,” elak Mijoo sambil mengalihkan pandangan ke tempat lain, membuatnya semakin kentara bahwa gadis itu sedang berbohong.

“Aku tak akan meledekmu,” balas Jiae sambil terkekeh. “Lagipula, itu bukan hal yang aneh.”

“Apa yang harus kulakukan bila bertemu dia?” tanya Mijoo sambil mengulum bibirnya, bingung. “Aku selalu memukul Woohyun, atau menjewer Mark tiap kali bertemu mereka. Apa aku harus mencubitnya?”

“Ini sebabnya kau susah dapat pasangan, Joo,” ujar Jiae sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, heran. “Jika semua pria kau perlakukan begitu, bisa-bisa kau dikira sekaum dengan mereka.”

“Tapi aku gugup, itu sebabnya aku melakukan hal-hal tadi,” balas Mijoo, membela diri.

“Tidak bisa dijadikan alasan, Joo.”

“Iya, iya.” Mijoo kemudian menatap sekeliling dan melirik jam tangannya. Sudah pukul tujuh kurang lima menit. “Dimana Namjoon?” lirih Mijoo, bingung.

“Coba telepon dia,” usul Jiae.

“Tidak mau. Aku tidak mau terkesan tidak sabar dengan kehadirannya.”

“Lalu kau mau menunggu sampai jam delapan dan melewatkan jadwal pesawat?”

Mijoo akhirnya mengalah, lalu mengeluarkan ponselnya dan mencari nama Namjoon di aplikasi chatting, dan menekan ikon telepon. Setelah nada dering beberapa detik, teleponnya diangkat.

Mijoo-ssi?”

“Em, Namjoon-ssi. Kau dimana? Aku sudah menunggu di depan gedung apartemen.”

Maafkan aku, sepertinya lampu merah di perempatan dekat apartemenmu penuh.”

Mijoo berlari kecil ke tepi jalan, dan melihat perempatan yang berjarak sekitar 50 meter dari tempatnya berdiri sudah penuh kendaraan, padahal sekarang masih jam tujuh.

“Aku akan menyusulmu ke jalanan itu,” ucap Mijoo kemudian. “Supaya kita bisa langsung belok ke arah jalan raya utama dan kita cepat sampai di bandara.”

Jangan, Mijoo-ssi. Tidak perlu begitu, sebentar lagi mungkin akan lancar.

“Percaya padaku, lampu merah di daerah sana selalu penuh dan akan memakan waktu lama. Kau tunggu saja di sana, aku akan segera ke perempatan. Kirimi aku detail mobilmu lewat chatting.”

Baiklah, Mijoo-ssi. Aku akan menunggu.”

Setelah berpamitan pada Jiae, Mijoo berjalan menuju lampu merah dan ia dikirimi deskripsi mobil berwarna putih yang berada tepat di samping lampu merah. Mijoo berusaha mengintip pengemudinya, dan betapa leganya ia saat melihat lesung pipit yang khas itu.

Hanya Kim Namjoon yang punya, tentu saja.

*

“Aku akan pulang cepat,” ucap Hoseok sambil mengelus-elus kepala Jisoo sambil tersenyum penuh kasih sayang.

“Harusnya aku bawa kantong muntah,” lirih Mijoo sebal.

“Kau sakit, Mijoo-ssi?” tanya Namjoon, sambil menatap gadis itu khawatir.

“Ya, karena itu,” jawabnya sambil menunjuk ke arah Hoseok dan Jisoo yang tengah berpelukan. “Aduuuh,” lirihnya geli. “Terutama yang tadi itu.”

Namjoon justru menatap kejadian itu dengan tatapan jenaka. “Kurasa itu impas terhadap segala usahanya mendekati Jisoo selama hampir 2 tahun ini. Bukankah dengan begitu, kita terbebas dari pertanyaannya soal Jisoo?”

“Kau benar. Tapi rasa geliku tetap tidak hilang, dan lihat sudah jam berapa ini.” Mijoo melihat jam tangannya, lalu bangkit dan menarik Hoseok.

“Ih, kau menganggu momenku dengan Sang Putri!”

“Si Budak sepertimu hanya sedang mimpi karena bisa memiliki kekasih seorang putri,” balas Mijoo, tak peduli. “Sudah hampir jam delapan, kita semua bisa ketinggalan pesawat jika menunggumu!”

“Mijoo benar. Sudah, berangkatlah sana. Hati-hati di Jeju,” ujar Jisoo sambil merapikan sisi-sisi rambut Hoseok.

“Tentu saja, Sayang. Kau juga hati-hati di Seoul. Ingat, jangan nakal.”

“Harusnya kalimat terakhir tidak keluar dari mulutmu. Kau pikir Jisoo itu dirimu?”

“Ih, diam deh!” Hoseok meraih bagian kerah dan menggantungnya seperti anak kucing.

“Hei, hei,” tegur Namjoon sambil memegang lengan Mijoo dan menjauhkannya dari tangan Hoseok. “Kau tak perlu sejauh itu.”

Hoseok mengangkat kedua tangannya, lalu berpandangan penuh arti dengan Jisoo. Sementara Mijoo diam-diam menunduk dalam, menyembunyikan wajah tersipunya. Ia tak pernah berada dalam jarak sedekat ini dengan lawan jenis, bahkan juga Hoseok. Apalagi jika lawan jenis tersebut adalah Namjoon.

“Sudahlah, ayo kalian semua. Pesawatnya sudah hampir tiba,” ucap Jisoo, menengahi.

Namjoon melepas lengan Mijoo, lalu meraih kopernya dan koper Mijoo, membawanya masuk ke bandara.

“Wah, jantan sekali,” bisik Jisoo pada Mijoo. “Kau beruntung, Joo!”

“Aku juga bisa kalau yang seperti itu,” ucap Hoseok, tak mau kalah.

Jisoo justru tertawa renyah. “Kau jelas bisa. Tapi masalahnya, kau tidak punya intuisi seperti Namjoon.”

Hoseok memajukan bibirnya, merajuk.

“Tapi kau tetap yang terbaik dalam hidupku, Seok.” Jisoo mengecup singkat pipi Hoseok dan tersenyum tulus. “Aku akan merindukanmu.”

“Aku akan lebih merindukanmu,” ucap Hoseok sambil balas mengecup pipi Jisoo. “Aku pergi dulu.”

Hoseok kemudian mendorong-dorong Mijoo menuju bandara, dan ia bisa mendengar kekehan Jisoo mengudara.

*

Begitu kaki Mijoo menjejak di Jeju, hal pertama yang ia pikirkan adalah tentang konsep panggung yang ia sempat rapatkan bersama Direktur Yeo, paman Hoseok, sehari sebelum ia berangkat ke Jeju. Mijoo ingat betul pria itu ingin bentuk panggungnya meriah, tapi gadis itu tidak setuju dengan konsep panggung yang disukai Direktur Yeo karena akan mempersulit kru peralatan, juga segala pernak-perniknya mudah rusak, ditambah jumlah pengunjung yang melebihi dua ribu orang akan mempercepat kerusakannya.

Mijoo terus memegangi ponselnya setelah penumpang diperbolehkan menyalakan ponsel. Ia harus dengan kabar terbaru dari kru peralatan atau—

“Acaranya akan berlangsung dengan baik seperti sebelumnya, Mijoo-ssi,” ucap Namjoon sambil memegangi pundak gadis itu dengan tangan kirinya. “Lagipula, kau tidak bekerja sendiri, ingat?”

Mijoo tersenyum kecil sambil ikut memegang pundak Namjoon dengan tangan kirinya. “Kau juga harus bekerja keras, hm? Jika acara ini sukses, kita akan diberi kepercayaan untuk mengadakan acara di luar negri!”

“Apa arti kerja keras jika kau tidak menikmati prosesnya, hm?” Namjoon meletakkan tangannya yang satu lagi di pundak Mijoo. “Sabar dan biarkan semuanya berjalan sesuai jalurnya. Kita akan sukses bila saatnya tiba.”

Mijoo ikut menaruh tangannya di pundak Namjoon. “Sebelum kita mulai bekerja, bisakah kuminta sesuatu darimu?”

Namjoon mengangkat kedua alisnya, mempersilakan gadis itu bertanya.

“Bisakah kita menghilangkan panggilan formal? Maksudku, kau tak perlu memanggilku Mijoo-ssi.”

Lelaki itu tersenyum tipis, lalu mengangguk. “Tentu saja aku setuju, Mijoo. Ini yang kutunggu-tunggu sejak pertama aku mengenalmu.”

*

“Konfeti bersiap di barat daya, dan lightning dalam hitungan satu, dua, tiga… menyala, SEKARANG!”

Teriakan fans dari bintang tamu yang hadir, juga senyum lebar terukir di wajah para kru yang berdiri di dekatnya menandakan bahwa pengaturan panggung untuk sentuhan terakhir sukses.

“Kau hebat seperti biasa, Mijoo-ssi!” seru perwakilan Direktur Yeo sambil menepuk punggungnya. “Kau bisa alihkan tugasmu pada Hyojung sekarang. Kerja bagus!”

“Kau tidak memintaku mengarahkan acara sampai akhir?”

Pria itu mengibaskan tangannya. “Kau perlu beri sedikit ruang untuk Hyojung untuk membuktikan kemampuannya, Mijoo. Tidak boleh serakah, ingat?”

“Aku tahu Hyojung akan melaksanakan tugasnya dengan baik, tapi aku tak mau hal itu menjadikanku lalai akan pekerjaanku.”

“Lalai apanya, acara ini tidak akan berjalan sukses tanpamu. Sekarang, kembalilah ke hotel atau jalan-jalan di pantai. Besok adalah hari baru, tandanya akan ada proyek baru. Pergilah.”

Mijoo tersenyum simpul, lalu memberikan headset-nya pada Hyojung, koordinator lapangan yang akan menggantikan posisinya dua tahun lagi.

“Kita ini seumuran tapi aku merasa kau lebih tua dariku, Mijoo,” ucap Hyojung, kagum. “Aku harus belajar banyak darimu.”

“Jangan seperti itu, Hyojung,” ucap Mijoo sambil menepuk-nepuk bahu gadis itu, tersenyum lebar. “Kau pasti bisa melakukannya lebih baik dari aku. Semangat!”

Hyojung mengepalkan tangannya sambil tersenyum lebar, lalu mengenakan headset-nya dan mulai memberi arahan. Mijoo lalu berjalan meninggalkan lokasi acara, dan menapakkan kakinya di pantai.

Malam hari mungkin bukan waktu yang tepat untuk jalan-jalan di pantai karena ia tak bisa melihat apapun di kejauhan, hanya warna hitam pekat yang terlihat di cakrawala, dan lautnya pun seolah menjadi cermin bagi langit. Namun, momen ini terasa begitu menenangkan pikirannya yang sedari tadi hanya terisi tentang konser, konser, dan konser.

“Kerja bagus, Mijoo.”

Mijoo membelalak, lalu menoleh ke belakang dan menemukan Namjoon sedang berjalan ke arahnya.

“Bukankah seharusnya kau masih di lokasi? Kenapa kau kesini?”

“Oh, acaranya sudah sampai di penutupan. Kuyakin kru yang lain bisa mengatasinya, lagipula kurasa kau butuh teman, Mijoo. Pantai bukan tempat yang tepat untuk menyendiri.”

“Karena?”

“Karena, kau tak pernah sendirian di pantai,” ucapnya. “Kau selalu bisa mendengarkan nyanyian daun kelapa dan merasakan lambaian ombak di kakimu.”

Mijoo menatap Namjoon dengan heran sekaligus kagum. “Kau yakin kau tidak salah ambil pekerjaan? Kau seharusnya jadi penulis atau filosofer daripada jadi kru audio.”

Namjoon tertawa. “Sungguh? Aku tersanjung mendengarnya.”

“Juga, kalimatmu itu, yang kerap kali terdengar santun meski sedang bicara dengan teman,” ujar Mijoo sambil menggertakan giginya. “Kau tahu, kau bisa menaklukkan banyak hati jika kau terus seperti itu.”

“Boleh kutahu, jika hatimu termasuk salah satu di antaranya?”

Mijoo membelalak, namun sedetik kemudian ia mendelik curiga. “Apa maksudmu?”

“Emm, karena… jika jawabannya ‘ya’, maka tandanya aku telah berhasil.”

“Berhasil apa?”

“Menaklukkan hatimu. Itu target utamaku ikut ke Jeju.”

Mijoo tersenyum heran. “Jadi kau ke Jeju bukan untuk acara?”

“Kuberitahu padamu, seharusnya aku sekarang berada di Mokpo. Tapi aku sudah memohon pada Hoseok agar menukarku dengan salah satu kru agar aku bisa ke Jeju. Untuk tetap bersamamu.”

Mijoo menutupi senyumannya yang merekah dengan menunduk dalam, membiarkan rambutnya jatuh ke sisi-sisi wajahnya.

“Jadi, sebelum kita pulang dari Jeju, bisakah kau membantuku?” tanya Namjoon sambil mengangkat dagu Mijoo, pelan.

“Bantu apa?”

“Bantu aku mengisi ruang kosong di antara jemariku,” jawab Namjoon sambil mengangkat telapak tangannya dan membuka jemarinya lebar-lebar.

Mijoo tak dapat menahan ledakan tawanya. “Sungguh, Namjoon? Dari siapa kau belajar kalimat cheesy semacam itu?”

Namjoon menurunkan tangannya, lalu tertawa kecil. “Dari… Hoseok? Dan Jisoo?”

Wajah bahagia Mijoo langsung berubah tak senang begitu mendengar nama Hoseok disebut.

“Kau kenapa…?” tanya Namjoon, bingung.

“Bolehkah kuminta satu hal darimu, Namjoon?”

“Apa itu?”

“Jangan pernah dengarkan saran Hoseok. Dan ketika kubilang jangan pernah, maka kau tidak boleh sekali pun berpikiran untuk melakukannya.”

“Karena…?”

“Karena itu semua menjiplak dari novel-novel favorit Jisoo!” Mijoo menepuk dahinya. “Itu sebabnya aku tanya dari siapa kau belajar kalimat gombal.”

“Tapi… apa kau menyukainya?” tanya Namjoon, sedikit gugup.

“Tidak,” balas Mijoo singkat dan padat.

“Oh.” Namjoon menunduk dalam, mendadak merasa malu sekali.

Melihat reaksi Namjoon membuat Mijoo gemas. Ia mengepalkan kedua tangannya di depan mulut, lalu memeluk Namjoon.

“Mijoo…?”

“Aku tidak menyukai gombalanmu, tapi aku menyukaimu. Eh, ralat. Aku mencin—”

“T-tunggu!” Namjoon melepas pelukan Mijoo, namun ganti memegangi kedua lengan Mijoo. “Jangan katakan itu lebih dulu, biarkan aku.”

‘Wah, gentleman sekali!’ puji Mijoo. “Baiklah.”

Namjoon memegangi kedua tangan Mijoo, menatapnya lekat, lalu menciumnya. “Aku mencintaimu, Lee Mijoo,” ucapnya lembut sambil menatap Mijoo lekat, lesung pipitnya muncul seiring merekahnya senyum tipis lelaki itu.

“Aku juga mencintaimu, Kim Namjoon,” balas Mijoo sambil tersenyum lebar. “Sangat.”

“Ya, sangat.”

Mijoo langsung menarik Namjoon ke pelukannya, tak bisa menahan rasa malu lebih lama lagi. Ia yakin wajahnya sudah semerah kepiting rebus.

*

jisoo_seo invites kim_joon, hope_seok, mijoo_liet to the chatroom

mijoo_liet: Soo, kau tahu aku tidak suka di-invite ke grup chat yang tidak penting, kan?
mijoo_liet: Apalagi jika ada Hoseok di dalamnya
hope_seok: Aku baca itu, Lee Mijoo
mijoo_liet: Oh, kau bisa baca?
mijoo_liet: Kukira kau hanya bisa mengeja
hope_seok: HEI!!!
kim_joon: Jisoo, bisakah kita langsung membahas tujuanmu membentuk grup ini, Jisoo?
jisoo_seo: Aku ingin kita double date ke Cheonggyecheon!
hope_seok: Kenapa tidak hanya kita berdua saja, Sayang?
mijoo_liet: Hoseok, simpan sayangmu untuk Jisoo sendiri. Jangan mengumbar-umbarnya, aku geli
kim_joon: Ide bagus. Kau ikut, Joo?
mijoo_liet: Tentu, sampai jumpa di Cheonggyecheon sepulang kerja, hari Jumat
mijoo_liet: Bagaimana, Soo?
jisoo_seo: (y) u r da best, Joo
kim_joon: Well, sampai jumpa hari Jumat!

kim_joon left the group

mijoo_liet: Well, sampai jumpa hari Jumat!
hope_seok: Kau meng-copy chat Namjoon?
mijoo_liet: Couple tends to use identic things, Hoseok
mijoo_liet: Including the chats x)

mijoo_liet left the group

hope_seok: Tinggal kita berdua, Sayang! :*
jisoo_seo: Well, sampai jumpa hari Jumat!
jisoo_seo: Mihihi, luv u sayang! :*

jisoo_seo left the group

hope_seok: Really…?
hope_seok: Sudahlah
hope_seok: Well, sampai jumpa hari Jumat!

hope_seok left the group

Vanilla Latte

Jisoo with Namjoon

*-*

“Tapi aku ingin pulang denganmu, Joon,” pinta Mijoo sambil terus bergelayut di lengan Namjoon. “Siapa yang bisa menjamin aku akan selamat jika pulang dengan Hoseok?”

“Hei, aku dengar itu!”

“Oh, kau bisa mendengar? Kukira—”

“Hentikan omong kosong itu, Wanita Kurang Ajar.”

“Sayang, aku sudah bilang apa padamu kemarin tentang berkata kasar?” ujar Jisoo tegas sambil cemberut ke arah Hoseok.

“Ya, aku tak boleh mengatakannya pada ketiga orang paling berharga dalam hidupku. Aku ingat, Sayang.”

Mijoo pura-pura muntah mendengarnya. “Orang berharga apa,” lirihnya kemudian.

“Joo-liet, aku pernah bilang padamu untuk tidak memuntahkan rasa gelimu pada kalimat gombal Hoseok, ingat? Kau ‘kan mendengarnya setiap hari dariku.”

Gantian Hoseok yang pura-pura muntah.

“Iya, Nam-meo,” balas Mijoo sambil memanyunkan bibirnya, membuat tangan lelaki itu refleks mengacak rambut kekasihnya sambil tertawa kecil. “Jangan lupa, Hoseok. Aku menunggu proposal dari tim-mu,” tegur Mijoo pada lelaki di hadapannya.

“Huh, mentang-mentang kau sudah jadi produser,” ucap Hoseok. “Iya, iya. Aku akan suruh Jimin cepat-cepat menyelesaikannya.”

Mijoo tersenyum lebar. “Baiklah, sampai bertemu besok!”

Hoseok kemudian berpindah ke sisi Mijoo, mengajak gadis itu berjalan bersisian. Namun, mereka terus saja bertengkar sepanjang perjalanan menuju apartemen Mijoo.

“Aku bisa saja menonton perkelahian mereka sepanjang waktu dan tidak mempermasalahkannya,” ujar Namjoon sambil tertawa kecil.

“Aku setuju,” balas Jisoo. “Emm, kau mau minum kopi sebelum pulang?”

“Tentu.”

*

“Dua vanilla latte,” ujar Jisoo sambil tersenyum ramah pada pelayan yang menghampiri meja keduanya.

Begitu sang pelayan pergi, Namjoon bertanya. “Kukira kau sudah tidak minum vanilla latte lagi, Jisoo?”

Gadis itu menatap Namjoon sambil terkekeh. “Aku sedang tidak ingin minum kopi yang terlalu pahit. Vanilla latte mungkin bisa jadi pilihan. Lalu kau sendiri, kenapa tidak meminta kopi yang lain saat kupesankan latte?”

“Karena seseorang telah meracuniku untuk menyukai vanilla latte.”

Jisoo memukul bahu Namjoon pelan. “Orang itu ada di hadapanmu. Kau ini, benar-benar.”

Namjoon tertawa kecil. “Baiklah, maaf.”

Keduanya kemudian menoleh ke arah jalanan, dan kota Seoul masih saja ramai meski jarum jam mulai mengarah ke angka sepuluh.

“Bagaimana dua tahun bersama Joo?” tanya Jisoo kemudian.

“Berwarna,” ujar Namjoon. “Gadis itu seceria dan sesibuk pasar malam, terutama setelah Direktur Yeo mengangkatnya menjadi produser.”

“Kau bangga padanya?”

“Melebihi apapun,” balas Namjoon sambil tersenyum tipis. “Bagaimana dua tahunmu bersama Hoseok?”

“Berharga,” balas Jisoo. “Lelaki itu lebih lincah dan menggemaskan dari kelinci.”

Keduanya tertawa kecil mendengar perumpamaan tentang kekasih masing-masing. Begitu latte mereka sampai, Jisoo menggenggam gelasnya sedikit lebih erat, seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Aku mengajakmu kesini karena ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”

Namjoon yang baru saja menyeruput sedikit kopinya langsung meletakkan gelasnya dan menatap Jisoo penasaran.

“Apa menurutmu aku harus memberitahu Hoseok tentang kita?”

Namjoon menepuk dahinya. “Aduh, kenapa aku tidak pernah terpikirkan hal itu!”

Jisoo menatap Namjoon heran. “Kau belum mengatakannya pada Mijoo?”

Lelaki itu menggeleng. “Aku bahkan baru menyadarinya sekarang.”

“Kau ingin mengatakannya?”

Lelaki itu mengulum bibirnya, berpikir. “Sejujurnya, aku lebih ingin menyembunyikan ini. Sudah lima tahun berlalu, Jisoo. Mijoo pasti tak akan senang mendengarnya sekarang.”

Jisoo mengangguk. “Aku setuju. Lagipula, kita tidak selingkuh di belakang mereka atau semacamnya, bukan?”

“Benar.” Namjoon menghela napas singkat. “Kau tahu, aku senang kita masih berteman.”

“Tentu saja, Namjoon. Aku tidak pernah mengencani lelaki yang akan memusuhiku begitu hubungan kami kandas.”

“Kau yakin Hoseok tidak akan seperti itu?”

“Aku yakin. Hoseok kelihatannya memang seperti anak sepuluh tahun, tapi kuyakin ia sebenarnya dewasa.”

Namjoon mengangguk setuju. “Hoseok memang orang yang baik, Jisoo. Kalian pantas bersama.”

“Demikian pula kau dan Mijoo,” ucap Jisoo sambil menyeruput latte-nya. “Kalian pasangan idealku.”

Keduanya lagi-lagi terjerat dalam hening.

“Sudah hampir jam sebelas,” ucap Namjoon sambil mengecek jam tangannya. “Ayo pulang.”

Jisoo mengangguk pelan.

*

Jisoo baru saja akan pergi tidur saat ponselnya berdenting.

kim_joon: Aku lupa menanyakan satu hal
jisoo_seo: Apa itu?
kim_joon: Pernahkah kau berharap kita bersama lagi?
kim_joon: Jangan terlalu dipikirkan. Aku hanya bertanya
jisoo_seo: Pernah, sebelum aku bersama Hoseok
jisoo_seo: Kau sendiri?
kim_joon: Pernah, beberapa bulan setelah kita berakhir
kim_joon: Lalu Mijoo datang dan mengubah segalanya
kim_joon: Kuharap kau tidak tersinggung dengan pertanyaanku
jisoo_seo: Aku tidak tersinggung
jisoo_seo: Bahkan, aku rasa aku perlu pertanyaan semacam itu. Untuk memastikan apakah aku benar-benar sudah melupakanmu atau belum
jisoo_seo: Tapi ternyata sudah 🙂
kim_joon: Baiklah, kau harus istirahat. Maaf telah mengganggumu
kim_joon: Jangan lupa kosongkan ruang chat kita 😉
jisoo_seo: Tidak masalah
jisoo_seo: Argh, kau membuatku merasa seperti sedang selingkuh
kim_joon: Hehe, selamat malam

Jisoo tidak membalas, ia langsung meletakkan ponselnya di nakas dan menatap langit-langit kamar.

Inilah sebabnya ia benci bertemu Namjoon di malam hari. Semua memori yang sudah lama terkubur dalam otaknya selalu saja kembali.

-E N D-

A/N

Ada yang tahu kenapa inspirasi selalu datang tanpa peringatan?

Omong-omong, perkenalkan, nama penaku nightskies dan aku sama sekali nggak nyangka kalau A Cup of Ramen bakal punya sequel 😡 Also, please excuse the title XD

Mengenai ‘Okay’: Sejujurnya konsep cerita ini udah salah (menurutku) karena ini ‘kan kisah untuk Hoseok-Jisoo, tapi kenapa malah banyakan pake POV Hoseok-Mijoo? Eh ternyata, karena mereka berdua asik banget dijadiin dua sekawan yang hobinya bickering :’)

Mengenai ‘My Days with You’: Ini ff paling cringy yang pernah kubuat :” Kalimat gombalnya, sikap Namjoon ke Mijoo, sampai lovey-dovey-nya Hoseok-Jisoo. Aku merinding btw pas nulis cerita ini, padahal nggak ada horornya sama sekali :’)

Omong-omong, Cheonggyecheon adalah sungai buatan di Seoul.

Mengenai ‘Vanilla Latte’:  Genre favoritku adalah sad/angst/tragedy, jadi cerita yang semacam ini haruslah ada :’)

Aku sudah berusaha semampuku untuk buat ceritanya bisa dibaca terpisah. Tapi, apalah diriku, masih banyak kurangnya :’) Jadi, untukmu yang belum baca dan masih agak nggak nyambung, A Cup of Ramen bisa ditemukan disini https://lovelyzfanfictionindo.wordpress.com/2016/01/31/freelance-a-cup-of-ramen

Semoga hari kalian berjalan baik, Lovelinus~ ^^

Advertisements

10 thoughts on “[Freelance] After The Ramen

  1. Oh ini Namjoon-Jisoo mantan? Kasian banget kandas di tengah jalan. Tapi gapapa deng, Jisoo-Hoseok boleh. Mijoo-Namjoon juga..

    Itu loh kak night, alurnya loncat-loncat ya? Terus aku penasaran sama Namjoon-Jisoo dulu….prequel ini mintanya^^

    Like

    • haloh nifa, akhirnya liat kamu lagi :3

      yap mereka mantan niy😁😁 tapi gapapa, skrg mereka udah dapet yang lebih baik wkwk /apa

      loncat sih… tapi ga jauh2 kok. dan kebanyakan alur maju, meski banyak flashback wkwk

      wadow prequel namsoo?😗 wadow wadow… kita lihat sama-sama ya, sanggup ga tuh aku buatnya😁 anyway makasih sudah mampir nif :33

      Like

  2. ASDFGHJKLASJDJFKHAKSJDHJAS THIS IS SO NIGHTSKIES!
    CALM, SOFT, PASTEL, GREY (?), AGH NYAMAN SEKALI BACANYA HUHUHU. DAN ROMANCENYA AS ALWAYS, DEWASA SEKALI DAN GAK NEKO2 XD

    DUH, DUH, DUH, SUKA! ❤ /maafin lagi minim comment/ SELALU DITUNGGU TULISAN2NYA YANG LAIN NIGHT :3

    ANW, NAMJOON DI SINI, UGH UUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUGH TOLOOOOOOOONG BIKIN PUSING. yeup yeup emang 94z banglyz berhasil bikin aku sllu galau nentuin pairingnya, apalagi setelah baca ini /meratapi cerita 94z banglyz sendiri/ kadang mau couple berantem HopeJoo, tapi pasangan HopeSoo jg gemay bc mrk beda banget gitu huhuhuhu pusing /pegangan atuh pegangan/

    ❤ PANGKAT SATU JUTA

    Liked by 1 person

    • HAY KAK AZEL~😁😁 sayangnya meski romansaku dewasa, yang nulis ga kunjung ‘dewasa’ /alias gaada gandengan/ /ga, jangan curhat/

      AHAHA terlalu speechless atau justru ada yg dibingungin niy ka😄😄

      enaknya 94liners tu… bisa diganti2 pairingnya wkwk. makanya ff ini “lahir” anyway makasih lho kak udah mampir selalu, aku mau ngomen dulu di ‘hanya satu kata’ euuy😆😆

      Liked by 1 person

  3. Memang inspirasi suka datang tanpa peringatan -,- kadang lagi di kelas ngeliatin dosen lagi ngajar juga bisa dateng itu inspirasi -,-
    Itu ga nyangka yang part terakhir ternyata Jisoo ama Namjoon dulu ada hubungan… ._. Dan setuju banget Mijoo-Hoseok cocok buat temen yang hobi berantem gaje x’D
    Setuju deh ama Nifa /ini apa dari tadi setuju-setuju aja/,pingin ada cerita pas Jisoo-Namjoon masih pacaran 😀

    Like

    • halo ka raissa :3 nah kan inspirasi tuh kalo dateng gapernah permisi dulu… padahal ff awalnya sama sekali ga direncanakan utk buat sequelnya 😦

      tadinya aku pun gamau buat ada baper2an HAHA tapi aku belom afdol kalo gaada sad meski cuma seiprit(?) jadilah kubuat mereka diem2 jadi mantan.

      waaa pada kepo mereka dulunya gimana ya :” akan kuusahakan kalau begitu. makasih banyak kak raissa dah mampir kesini :3

      Like

  4. Halo author semoga gak marah ditinggali jejak olehku yang telat banget😅😅

    Sebenarnya waktu baca judulnya,aku jd inget 6 cup ramen yang dimakan Jungkook,heheh jadi laper🍜🍜🍜🍜/lupakan.
    selesai baca bagian pertama kupikir udah selesai,ternyata masih ada bagian lain di bawahnya. Aku kurang ngeh sama judul n posternya / emg td pas baca belum sarapan thor hehe😊😊
    So so,aku suka cerita ini dewasa sekali,author umurnya berapa sih bisa bikin cerita sedewasa ini?/kepo/ tapi beneran deh thor aku sneng ama cerita ini walaupun kaget sma bagian terakhir,ternyata mantan. Aku udh mikir yang enggak-enggak,mungkin suami istri.heheh berlebihan emang.
    Bang Hoseok ya as expected dy kadang terlalu girang,dan muka panjangnya itu ngefek banget jadi tambah panjang apalagi bayangin perlakuan dia ke Teh Jisoo. 😂😂😂
    Kak Namjoon yaa no komen lah 😁

    Sekian thor,maaf n salam semangat dr Alvianit96. Jangan lelah berkarya n berbagi ilmu 😄😄😄😄

    Like

    • halo ka alvi^^ tenang aja ka, komen setelat apapu itu pasti kuhargai :’)

      padahal aku dibawah kaka dua tahun lho… aku line98 wkwk. makasih banget ka alvi, aku jadi makin semangat buat nulis terus ehehe😆😆😆 serem amat ka suami orang… ntaran lah ka masih lama masanya😂

      makasih lagi ka alvi dah mampir kesinii>< boleh juga tu ka mampir ke link yg tercantum di akhir cerita biar lebih paham ehehe /sempet2nya promosi/ semangat juga ka alvi! :3

      Like

  5. kenapa aku baru baca sekarang?? huhuhu nyesel 😦
    bagus, romance dewasa(?) gitu. maksudnya gak cinta cintaan yang kayak di drama drama gitu wkwkwk

    pokoknya keep writing ya kak💕

    Like

    • aku juga bertanya-tanya kenapa aku baru bales komenmu sekarang 😦

      wah senang dengernya :3 awalnya aku agak khawatir karena takutnya pembaca ga nikmatin plotnya… wkwk

      i want to keep writing too :” doakan yaa :3

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s