[Freelance] Let’s Be Friends!

lbf

LET’S BE FRIENDS!

Author                        : Raissa Pearl

Cast                 : Yoo Jiae (Lovelyz), Min Yoongi (BTS), Bang Minsoo (Teen Top)

Genre              : Friendship, Childhood

Length                        : One-Shot (2629 words)

Rating             : PG-15 (there’s a slight of violence scene near the end of this story)

Disclaimer       : The characters are owned by their agencies. The story-line and the poster are mine. Plagiarizing is no no no~ Better read previous story (Feeling) before read this

 

Cheon-guk Elementary School, sekolah dasar terbaik di Daegu di mana orang-orang yang memiliki uang lebih akan mendaftarkan anaknya ke sana.

Termasuk Yoo Jiae.

Gadis kecil berumur 10 tahun ini harus ikut dengan kedua orangtuanya pindah ke Daegu karena urusan bisnis ayahnya yang seorang pemilik perusahaan furniture. Dia didaftarkan di sekolah tersebut karena orangtuanya ingin menjamin anaknya mendapat pendidikan terbaik, berapapun biaya yang dikeluarkan.

Jiae tidak datang ke sekolah ketika tahun ajaran baru di bulan Maret karena orangtuanya masih sibuk mengurus berbagai macam hal perihal kepindahan mereka. Dia dan ibunya baru mendatangi sekolah ketika musim panas tiba.

Jiae merasa senang bisa masuk sekolah lagi setelah beberapa bulan libur. Tetapi, dia juga merasa takut. Takut jika teman-teman yang dia temui sama seperti teman-temannya di Seoul. Tersenyum dan mengulurkan tangan hanya karena mereka tahu ayahnya mempunyai banyak uang.

Maka, di hari pertamanya bersekolah di Cheon-guk Elementary School, dia sibuk menyuruh jantungnya untuk tetap tenang selama dia berjalan bersama wali kelasnya, Guru Nam, menuju kelas 5-2.

Ketika masuk ke kelas, Jiae merasa gugup karena semua murid memperhatikannya, kecuali satu murid laki-laki berambut hitam acak-acakan, yang tertidur di meja paling belakang.

“ Apa Min Yoongi tidur lagi?” ucap Guru Nam, sambil meletakkan buku-bukunya di atas meja dan menatap tajam murid yang tertidur tersebut.

“ Biarkan saja, Ssaem. Kami sudah bosan membangunkannya.” ucap seorang murid yang duduk di bangku sebelah murid laki-laki tersebut.

Guru Nam lalu menoleh ke arah Jiae, mempersilakannya untuk memperkenalkan diri.

Annyeonghaseyo, namaku Yoo Jiae. Aku baru saja pindah dari Seoul. Salam kenal.” Jiae membungkuk pada teman-teman barunya. Rambut hitamnya yang dikuncir kuda bergoyang-goyang mengikuti pergerakan kepalanya. Ketika dia berdiri tegap lagi, wajah seputih saljunya merona dan senyumnya mengembang.

“ Salam kenal, Yoo Jiae!”

“ Kau bisa duduk di bangku kosong yang ada di depan murid yang sedang tertidur itu, Yoo Jiae.”

Jiae membungkuk pada wali kelasnya, kemudian berjalan menuju bangku yang dimaksud. Beberapa teman baru yang dia lewati menyapanya, membuatnya merasa cukup nyaman.

Ketika dia sudah duduk, murid yang ada di depan bangkunya berbalik dan tersenyum padanya. Murid tersebut berkacamata tebal, dengan rambut hitam lurus sebahu dan mata kecil.

Annyeong, Yoo Jiae. Aku Hwang Minjung. Salam kenal.” gadis bernama Minjung tersebut mengulurkan tangannya. Jiae membalasnya sambil tersenyum senang.

“ Akhirnya aku punya seseorang yang bisa diajak bicara di sini.”

Jiae mengerutkan keningnya, lalu berbalik ke arah murid laki-laki yang tertidur di belakangnya.

 “ Uh, dia akan bangun sendiri nanti. Jangan coba-coba membangunkannya. Dia mengerikan.” ujar Minjung dengan nada bergetar.

“ Mengerikan?”

“ Lihat tangannya. Banyak bekas luka. Dan dia sering membuat masalah dengan murid lain. Tidak ada yang mau mendekatinya.” Minjung menunjuk tangan murid laki-laki yang tadi disebut Guru Nam bernama Min Yoongi. Tangannya tampak kurus dan putih pucat, tetapi pergelangan tangannya memerah dan banyak bekas luka seperti dipukul sesuatu yang keras dan tergores sesuatu.

“ Mungkin… dia punya alasannya sendiri?” ucap Jiae, mencoba untuk tidak membuat pendapat terlalu cepat tentang murid yang baru dikenalnya.

“ Yoo Jiae, Hwang Minjung, jika kalian sudah selesai mengobrol bisakah kalian kembali memperhatikan ke depan? Dan Min Yoongi!”

Seruan Guru Nam sukses membangunkan Min Yoongi dari tidurnya. Dia mengangkat wajahnya. Kulitnya sangat putih untuk ukuran kulit laki-laki, matanya kecil dan ekspresi wajahnya sangat datar. Ini pertama kalinya Jiae melihat murid laki-laki sepertinya.

Tanpa merasa bersalah, Yoongi meregangkan tangannya dan menguap, mencoba mengembalikan kesadarannya. Sementara itu, Jiae masih mengamati laki-laki tersebut.

“ Siapa kau dan apa yang kau lihat?” ucap Yoongi ketika dia mulai menyadari bahwa ada wajah yang tidak dikenalnya sudah duduk di depannya dan kini mengamatinya seperti barang antik di museum.

“ Siapa lagi yang ku lihat kalau bukan kau?” jawab Jiae.

“ Murid baru. Tsk!” Yoongi melempar pandangannya ke jendela yang ada di sampingnya, mencoba untuk mengabaikan pandangan Jiae yang masih melekat padanya. Namun setelah Guru Nam memulai pelajarannya, Jiae kembali menghadap ke depan. Dia tidak tahu kalau Min Yoongi sekilas menatap ke arah rambut kuncir kudanya.

*   *   *

Sudah hampir seminggu Yoo Jiae bersekolah di Daegu. Semuanya berjalan baik-baik saja baginya. Hingga suatu hari ketika dia dan Minjung baru saja selesai makan siang di kantin dan pergi ke halaman belakang sekolah untuk belajar bersama, tiga murid laki-laki bertubuh besar menghadangnya.

Annyeong, Yoo Jiae.” seorang dari mereka menyapanya dengan senyum mencurigakan.

“ Siapa mereka?” bisik Jiae pada Minjung yang bersembunyi di belakangnya, ketakutan.

“ M-mereka adalah para sunbae dari kelas 6.. Yang menyapamu adalah Bang Minsoo , dia terkenal suka meminta uang dari para hoobae…”

“ Oh, kau mengenalku dengan baik, gadis bermata empat.” murid laki-laki bernama Bang Minsoo itu menyeringai.

“ Darimana kau tahu namaku?” tanya Jiae, mencoba untuk memberanikan dirinya.

“ Siapa yang tidak tahu kau di sini, huh? Yoo Jiae, anak pemilik Yoo Furniture, perusahaan furniture terbesar di Seoul.” Minsoo menunjukkan lembaran koran bisnis berisi berita tentang ayah Jiae yang membuka cabang di Daegu. Pupil mata Jiae melebar. Padahal dia sudah mencoba untuk merahasiakan bahwa dirinya berasal dari keluarga kaya agar dia diterima apa adanya di sini. Ternyata seniornya malah berhasil menemukan identitasnya.

“ Meminta uang sakumu mungkin tidak akan masalah bagimu kan?”

“ Aku tidak akan memberikannya padamu!”

“ Tidak perlu keras kepala seperti ini, Yoo Jiae. Tinggal berikan saja uangmu. Toh kau bisa memintanya lagi pada ayahmu.” Minsoo berjalan mendekati Jiae dan Minjung. Jiae mengambil langkah mundur perlahan. Menghadapi beberapa laki-laki bertubuh tinggi besar yang meminta uang padanya tidak pernah ada di pikirannya sebelumnya.

Jiae bersiap untuk berlari, tapi Minsoo menarik tangannya.

“ Kau mau ke mana, huh?!” Minsoo menatap Jiae tajam. Dia bersiap akan memukul Jiae. Sementara Minjung yang ketakutan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menutup matanya di belakang Jiae.

Tiba-tiba, sebuah pukulan menghantam wajah Bang Minsoo hingga dia jatuh tersungkur. Semuanya menoleh ke arah orang yang berani memukul senior paling mengerikan di Cheon-guk Elementary School tersebut.

Min Yoongi.

“ Tsk! Kau! Aku yakin kau sedang mencoba mengambil simpati gadis itu.” Minsoo mencoba berdiri dibantu oleh teman-temannya, sementara Yoongi sudah berada di depan Jiae dan Minjung yang tampak terkejut.

Yoongi mendengus dan tertawa kecil, menyindir Minsoo. Dia lalu berbalik dan menatap Jiae datar.

“ Aku bahkan tidak tahu gadis ini.” ucapnya, membuat Jiae mengerutkan keningnya.

“ Lalu kenapa kau ikut campur dalam urusan kami, huh?!” seru Minsoo sambil mendorong pundak Yoongi.

“ Aku memang tidak tahu siapa dia, tapi aku tidak suka melihat laki-laki yang main tangan dengan perempuan.”

“ Oh, apa kau trauma dengan hal itu, Min Yoongi? Apa itu mengingatkanmu pada orangtuamu?” salah satu teman Minsoo yang bertubuh kurus tinggi tertawa mengejek.

Yoongi yang mulai habis kesabarannya langsung melayangkan pukulan keduanya ke rahang orang yang baru saja mengejeknya itu. Jiae dan Minjung berteriak terkejut.

“ Jangan pernah membicarakan hal itu di depanku!” seru Yoongi marah. Sedetik kemudian, Minsoo membalas dengan menarik kerah seragamnya dan melemparnya hingga terhempas ke pagar kawat yang ada di belakang Jiae dan Minjung.

“ Min Yoongi!”

“ Sudah ku bilang tidak usah ikut campur, bocah miskin!”

“ Hentikan!” teriak Jiae. Dia tidak ingin membuat masalah di sekolah barunya, dan juga melihat teman sekelasnya terluka.

“ Tidak sampai kau memberikan uangmu pada kami!” Minsoo mencengkeram tangan Jiae lagi.

“ Lepaskan dia!” tiba-tiba saja Yoongi sudah berlari ke arah Minsoo yang memukulnya lagi hingga terjatuh untuk kedua kalinya.

“ Sebaiknya kita pergi saja!” bisik teman Minsoo yang lain.

“ Awas kau, Min Yoongi!” Minsoo dan teman-temannya kemudian berlari meninggalkan Jiae, Minjung, dan Yoongi.

Semuanya terdiam. Hanya suara nafas Yoongi yang terengah-engah yang terdengar. Dia tidak mengatakan apapun pada Jiae dan berjalan pergi.

“ Min Yoongi, terima …” Jiae baru saja ingin berterimakasih pada teman sekelasnya itu ketika kemudian dia melihat tetesan darah di setiap langkah Yoongi, “ … Ya! Tanganmu berdarah!”

Yoongi menoleh, masih dengan ekspresi dinginnya. Dia lalu melihat ke pergelangan tangan kirinya. Ada bekas goresan yang mengeluarkan darah di sana, mungkin karena terkena kawat ketika terhempas tadi.

Tanpa mengatakan apapun, dia kembali melanjutkan langkahnya.

“ Tanganmu harus diobati.” Jiae berusaha meraih tangan Yoongi, tapi dengan cepat laki-laki itu menghindar.

“ Tidak perlu.”

Ya, kau seperti ini karena aku.”

“ Kubilang tidak perlu!” bentak Yoongi. Dia menatap Jiae tajam, lalu berjalan lagi tanpa mempedulikan Jiae yang mematung.

Minjung yang sedari tadi terdiam karena ketakutan mulai membuka mulutnya, “ Jiae-ya… Sudah kubilang dia…”

“ Tidak, Minjung-ah. Aku yakin dia orang baik. Dia hanya punya temperamen yang buruk.” Jiae berbalik menatap Minjung, “ Kau kembalilah ke kelas lebih dulu. Kita belajar di kelas saja.”

“ Kau mau ke mana, Jiae-ya?”

Jiae berjalan meninggalkan Minjung sambil berteriak, “ Aku akan menjinakkan tukang tidur itu!”

*   *   *

Min Yoongi sedang duduk di atap gedung sekolah sambil menatap luka goresan di pergelangan tangan kirinya yang masih mengeluarkan darah. Tangan kanannya mencoba membuka botol air mineral, kemudian dia menuangkan isinya ke luka tersebut sambil menahan sakit. Bulir air mata sudah berkumpul di sudut mata kecilnya.

“ Andai saja… aku bisa bersikap seperti tadi dulu…” gumamnya sambil mengusap darah yang ada di tangannya, “ … mungkin Eomma masih bersamaku…”

“ Sudah ku duga kau di sini.” suara seorang perempuan mengejutkan Yoongi. Beberapa detik kemudian, seorang gadis berambut hitam digerai dan berwajah putih merona mendekatinya dengan sebuah kotak P3K di tangannya.

“ Kau…”

Gadis itu adalah Yoo Jiae.

Jiae duduk di depan Yoongi yang menatapnya galak. Jiae tahu itu, tapi dia tidak peduli. Dibukanya kotak P3K yang dibawanya dan dikeluarkannya botol obat luka serta perban.

“ Tidak usah …”

“ Aku tidak peduli, tukang tidur!” Jiae menarik tangan Yoongi yang terluka. Yoongi mencoba untuk menarik tangannya, tapi kekuatan Jiae saat ini lebih besar darinya. Yoongi hanya bisa pasrah saat Jiae mulai membersihkan sisa darah di pergelangan tangannya dengan saputangannya dan mengoleskan obat di luka goresannya.

“ Kalau kau mau menangis silakan saja.” ucap Jiae ketika dia mendengar Yoongi yang terus mengeluh kesakitan setiap dia mengoleskan obat di lukanya. Dia lalu mengambil perban dan membalut pergelangan tangan Yoongi, “ Tanganmu bagus, tapi banyak luka.”

Yoongi hanya mendengus mendengarnya.

“ Apa yang terjadi padamu?” Jiae mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki yang ada di hadapannya, yang terus menatapnya dingin.

“ Kau tidak perlu tahu.”

Kali ini Jiae yang mendengus, “ Kalau bukan karena kau sudah menyelamatkanku, aku akan melemparmu dari sini.” ucapnya kesal sambil merekatkan perban Yoongi dengan plester.

“ Ayahku…” Jiae mengangkat wajahnya lagi ketika dia mendengar Yoongi berbicara.

“ … tidak… maksudku… laki-laki yang dulu suami ibuku… Dia sering memukulku saat kecil ketika dia mabuk…” ucap Yoongi dengan mata berair, entah menahan sakit dari lukanya atau menahan sakit dari ceritanya sendiri.

“ Ah, maaf membuatmu mengingat hal yang menyakitkan.” Jiae merasa bersalah.

“ Sudahlah.” Yoongi membuang muka, sementara Jiae akhirnya melepaskan genggamannya dari tangannya.

“ Terima kasih…” ucap Jiae, yang membuat Yoongi kembali melayangkan pandangannya ke arah gadis yang menurutnya berwajah mirip boneka itu, “ … untuk tadi.”

Yoongi tidak tahu harus membuang muka ke mana lagi. Baru kali ini ada seorang gadis seumurannya yang mengobatinya dan mengucap terima kasih padanya.

“ Kau juga… Terima kasih…” Laki-laki itu mengangkat tangan kurusnya yang sudah dibalut perban, membuat Jiae tersenyum senang.

“ Huh, akhirnya aku bisa menjinakkanmu.” Jiae merapikan isi kotak P3K yang dipinjamnya dari Ruang Kesehatan Sekolah dan berdiri sambil mengulurkan tangannya pada Yoongi yang mengerutkan keningnya.

“ Ayo kita mulai dari awal lagi. Hanya kau orang di kelas yang belum berkenalan denganku dengan baik.”

“ Aku bahkan sudah tahu namamu dari beberapa hari yang lalu.” Yoongi menganggap gadis di depannya itu konyol.

“ Tapi kau belum mendengar perkenalanku di hari pertamaku karena tidur!” Jiae menghentakkan kakinya kesal, kemudian kembali mengulurkan tangan. “ Aku Yoo Jiae. Dan aku ingin berteman denganmu, Min Yoongi.”

Mata kecil Yoongi melebar mendengar kata-kata Jiae, “ Kau hanya kasihan padaku.”

“ Tidak. Kalau kau tidak menerima permintaan bertemanku, aku benar-benar akan melemparmu dari sini.” Jiae mulai merasa kesal dengan tingkah teman sekelas yang duduk di belakangnya itu. “ Ya, Min Yoongi. Aku tidak mau bermusuhan dengan siapapun di sini. Jadi, tolong terima saja.”

Yoongi tersenyum tipis mendengar omelan Jiae.

“ Lihat, kau tersenyum sekarang. Sepertinya aku akan jadi teman yang baik untukmu. Kau akan tersenyum seperti itu terus dan berhenti membuat orang-orang di sekitarmu merasa kalau kau monster.”

“ Kau bicara terlalu banyak.” Yoongi akhirnya membalas uluran tangan Jiae. Dia bisa melihat gadis di hadapannya tersenyum lebar.

“ Bagus!” Jiae menarik tangannya kembali, lalu mengangkat kotak P3Knya. “ Aku harus kembali. Waktu istirahat hampir habis. Mau ikut?”

Yoongi menggelengkan kepalanya.

“ Baiklah, meskipun sekarang aku temanmu, aku tidak bertanggungjawab jika Nam Ssaem memarahimu lagi.” Jiae lalu berjalan pergi, tapi langkahnya terhenti ketika dia mendengar Yoongi memanggilnya.

Ya!

“ Aku punya nama!”

“ Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?” tanya Yoongi yang kini berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

“ Aku tahu orang-orang sepertimu sangat suka tempat ini. Aku dulu juga menyukainya.” Jiae tersenyum sambil membuka pintu atap sekolah. “ Sampai jumpa, Yoongi-ya, jika aku boleh memanggilmu seperti itu.”

Yoongi tersenyum dengan perasaan agak kesal. Setelah Jiae menghilang dari pandangannya, dia lalu melihat ke arah langit biru yang membentang di atasnya. Dia mengeluarkan tangan kirinya dari saku celana, kemudian meraih sesuatu yang ada di lehernya. Sebuah kalung, dengan cincin perak sebagai bandulnya. Dia mencium cincin tersebut, kemudian berjalan menuju pintu untuk kembali ke kelasnya.

*   *   *

“ Selamat datang di rumahku!” Jiae membuka pintu rumahnya yang cukup besar sambil tersenyum riang. Hari ini, dia dan Yoongi akan belajar bersama untuk ujian tengah semester.

Yoongi menengadahkan kepalanya, melihat ke segala arah dengan mulut terbuka. Baru kali ini dia melihat rumah yang sangat besar – jenis rumah seperti yang dimiliki para chaebol di drama yang ditonton bibinya.

“ Ayo masuk!” Jiae menarik tangan Yoongi menuju ruang tamu, membuat laki-laki bermata kecil itu terkejut. Dia sendiri pasrah ketika Jiae menyuruhnya duduk di sofa.

“ Aku akan minta pembantuku membuat minuman. Tunggu sebentar.”

“ Huh…” Yoongi tidak bisa bereaksi dengan cepat seperti biasanya. Melihat keadaan yang jauh berbeda dengan apa yang dilihatnya sehari-hari membuatnya agak pusing.

Jiae kembali setelah menemui pembantunya di dapur. Dia menemukan temannya duduk di sofa, terdiam menatap foto keluarganya yang terpajang di ruang tamu dalam ukuran besar.

“ Itu orangtuaku.” ucap Jiae sambil duduk di samping Yoongi.

“ Aku tahu.” suara Yoongi terdengar parau. Jiae terdiam, kemudian menyadari bahwa laki-laki di sampingnya menatap foto tersebut lebih dari semenit.

“ Kau tidak apa-apa?” tanya Jiae khawatir.

“ Kau pasti sangat bahagia. Punya rumah sebesar ini, dan keluarga…” ucap Yoongi sambil tersenyum. Tapi bagi Jiae, senyum Yoongi tampak menyedihkan.

Jiae mengangguk pelan, “ Eung… tidak juga… mereka sibuk bekerja dan aku sering sendirian di rumah.” Dia melihat mata Yoongi yang sedikit memerah, “ Apa… kau mau menceritakan sesuatu?”

Yoongi tetap tersenyum, lalu menunduk, “ Aku belum pernah menceritakan ini. Dan aku tidak tahu apa aku bisa mempercayaimu..”

Ya, Min Yoongi. Meskipun aku banyak bicara seperti yang kau bilang, aku tidak pernah memberitahu rahasia orang lain pada siapapun. Kau bisa mempercayaiku.”

Yoongi tersenyum lagi, kali ini bukan senyum menyedihkan seperti tadi. Dia lalu menceritakan tentang masa kecilnya. Ayahnya dulu adalah seorang pemabuk berat yang sering berjudi. Dia sering meminta uang dari ibunya yang susah payah bekerja siang-malam. Jika tidak diberi uang, ayah Yoongi tidak segan untuk memukul istrinya, bahkan Yoongi kecil pun tak luput dari amarahnya.

Hingga ketika berumur 7 tahun, Yoongi menemukan ibunya tergeletak di kamarnya dengan darah menggenang di dekat kepalanya. Saat itu, ibu Yoongi yang masih setengah sadar meminta Yoongi untuk pergi ke rumah bibinya – yang adalah adik dari ibunya – untuk  meminta pertolongan.

“ Polisi berhasil menangkap Appaku. Dia dipenjara dan aku tidak tahu lagi kabarnya..” Yoongi lalu mengambil kalung berbandul cincin di lehernya, “ .. dan hanya ini yang membuatku bisa merasa bahwa Eomma sedang menjagaku.”

Jiae menatap Yoongi sedih. Mata laki-laki itu memerah menahan tangis. Dan yang bisa dilakukan Jiae hanyalah menepuk pundaknya pelan.

“ Kau akan mendapat kebahagiaan suatu hari nanti, Yoongi-ya..”

“ Terima kasih, Yoo Jiae.”

Dan kemudian, suasana sedih pun perlahan menghilang ketika pembantu Jiae membawakan minuman dan makanan untuk mereka.

*   *   *   *

Sorry for the random plot for this part -_- Aku nulis bagian cerita ini pas libur minggu tenang UAS (yang sebenernya ‘bulan tenang’ karena liburannya gabung ama libur lebaran dan jadi sebulan) dan pas lagi banyak tugas paper yang harus diselesaiin sebelum saya mager -,- Mungkin kalian tau rasanya pas lagi banyak deadline tugas tiba-tiba ada ide buat bikin FF yang kudu segera ditulis sebelum idenya menghilang ._.

Dan seneng deh Lovelyz lagi banyak acara di mana-mana ^^ (walaupun aku rada telat nontonnya karena sinyal internet dan kuota terbatas) Cuma Jiae kayaknya belum dapet individual schedule T^T (ya ga tau kalo pas FFku yang ini dipost kali aja udah ada ._.) Tapi aku pingin mereka punya solo concert gara-gara liat hoobae-hoobae mereka udah banyak yang ngadain solo concert T^T Semoga bisa cepat terealisasi deh~ ^^

Advertisements

8 thoughts on “[Freelance] Let’s Be Friends!

  1. ayo kita temenan ka raissa’-‘v /heh, kok jadi modus/

    omong2, halo kak~😆 aku lagi iseng buka LFI eeh nemu ff kakak. pas banget karakter yoonae disini. satunya brutal /heh(2)/ satunya chaebol wkwk. dan, waw, jiae percaya bgt yaa sama yoongi sampe berani diajak pulang /heh(3)/ moga ke depannya ada cinta yang bermekaran~ /heh(999)/

    adu aku ko ngereceh disini;-; maapkan yaa kaa :’) semangat terus nulisnya, kak raissa adriana :3 /heh(999999)/

    Like

    • Halo nightskies~ ayok berteman :3 /termakan modus/ /?/
      Khekhe…itu diajak pulangnya beberapa bulan setelah berteman,jadi ya udah percaya banget jiaenya x’D /apasih ini/ ditunggu saja di part selanjutnya~ ^^ /promosi/
      khekhe…gpp kok~ komenku juga rada receh -_- /efek online dini hari/ makasih udah baca dan komen ya nightskies~ ^^

      Like

  2. Hai kak raissa salam kenal-klo emang sebelumnya kita blom knalan,Atau udah?- heheh😄😄😄

    Sedih… aku susah nangis sih orangnya,tapi ini bisa bikin perasaanku tiba2 sedih. Kasihan Yoongi,alhamdulillah dapet temen baik kaya mba Jiae-jadi inget mba Jiae pnah ngasih snack ke lovelinus pas mau syuting Knowing Brother- emg mba jiae baek banget deh😁😁

    Semangat selalu kak… deadline kelar,ff juga tetap lancar idenya,sehat selalu deh😇😇😇😇

    Sekian dri Alvianit96🐻🐻🐻

    Like

    • Hai Alvi~ ^^ udah kenalan kok kayaknya,di komen FF JeongIn yang Sleepy kalo ga salah…mau kenalan lagi juga gapapa x’D
      Sama sih,kalo baca yg sedih2 kadang ga bisa nangis,tp kerasa banget sedihnya :’3 Iya dong,kakak Jiae emang the best lah ^^
      Makasih doanya Alvi~ ^^ kamu juga semangat nulis,segala urusan lancar dan sehat selalu ;3 dan makasih juga udah mampir di kolom komen~

      Like

  3. kak raissaaaaa katakan padaku dimana aku bisa dapet temen macem mas yoon sama mbak ji!!!

    disini jiae jadi anak kalem ya, bisa kok bayanginnya meski faktanya jiae galak cem preman perempatan :”v

    yoongi sejak esde sudah jadi nak nakal yg suka bobok pas pelajaran ih gemezzz

    awalnya ngarep walaupun jaman kecil tp ada kisseu nya/ditabok/ :’3

    oh kak! tenang saja ntar jiae dapet jadwal ngedrama jd gangster uluuluulu/ini sih ngaco/ kak aku jg sering ngerasain dapet ide pas tugas numpuk, dan itu pait banget u.u

    ya pokoknya semangat terus kak, semangat sama tugas2nya dan ff nya!!! kuslalu menunggu kisah si fakemaknaecouple ❤

    Like

    • Hai stalkim~ ^^
      Duh ga usah kamu,aku juga mau punya temen dari kecil yg sweet macem mereka T^T /padahal yg nulis/
      Eum,,, Jiae ceritanya ga sepenuhnya kalem sih.Kadang dia macem preman kalo Yoongi ngeselin x’D mas Yoongi harus ‘dijinakkan’ soalnya,biar temen2nya ga pada takut,jadi mbak Jiae kudu lebih galak.
      Duh masalah kisseu mah gampang~ masih ada 2 part lagi kok :3 /spoiler/
      Bisa yaa~ x’D ngebayangin Jiae malakin makanan anak2 x’D /itu aku kayaknya/
      Makasih stalkim~ ^^ ditunggu ya part selanjutnya…makasih udah baca dan komen…semangat juga buat kamu~ ;3

      Liked by 1 person

  4. Oah apalah aku yang ga bisa nulis lagi gegara tugas barantai tapi ga pernah di nilai /minta setor buku doang biar dikira ngerjain/. Ini tuh aku maunya Jiae dibuat kaya abang-abang kelas 6, semacam preman pasar yang bisa mengalahkan preman lampu merah cuman satu kedipan /maunya aja/ tapi udah kebayang kok Jiae kalo jadi preman kaya gimana wkwkwk. Yoongi aja sampe dimarahin mulu. Kak raisa semangat buat tugasnya dan fanfict -kelanjutan ini/?- 🙂

    Like

    • Duh itu aku sering banget pas SMA,mana tugas Fisika lagi -..- sia2 bgt ngejar2 temen lain buat minta diajarin..
      Ini kenapa pada minta Jiae jadi preman x’D khekhe…dia pas masih kecil kayak preman kan Yoongi yg galak aja diancem mau dilempar x’D
      Iyaw,semangat nugas juga buat kamu Nifa~ ^^ Semoga nanti ada waktu buat lanjut nulis lagi…

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s