Posted in Chaptered, Drama, Friendship, Hurt/Comfort, LFI FANFICTION, Phynz20, Romance, Slice of Life, Teenager / Teen

Persimpangan [Chapter 4]

 

Poster_Phynz20_Persimpangan_by_Phynz20[1]

Persimpangan

A long-fiction by Phynz20 (@putriines) spesial Challenge-Fic

.

Starring: [Lovelyz‘ SujeongBTS‘ V17‘s Mingyu] [Lovelyz‘ YeinBTS‘ JungkookiKon‘s Chanwoo] || Rated: Teen || Genre: Drama, Slice of Life, Hurt/Comfort, Romance, Friendship and many more || Length:  Multi-Chapter

.

Saya sarankan membaca Who, What, How – [1] – [2] – [3] terlebih dahulu

Kamu juga bisa membaca Another Stories: FallAndTaintFriendship? Or Friendzone?Tersesat

.

Notes: Saya tidak tahu kurikulum dan kehidupan sekolah di Korea, jadi harap maklum dengan keabsurdan cerita ini. Juga di cerita ini, tahun ajaran dimulai saat musim panas, berbeda dengan kurikulum Korea yang memulai tahun ajarannya pada awal tahun.

.

Kamu tahu? Cinta pertama itu seperti bajingan.

“Untuk apa kau bawa aku kesini, Jeon Jungkook?”

“Tentu saja untuk bertemu Kak Taehyung kan?”

Sujeong terdiam, saraf-sarafnya enggan mematuhi perintah otaknya. Padahal ia tahu kepala sudah mendidih, hati telah mengeras dan ia hendak berteriak. Tapi apa daya, yang dilakukan juga mengikuti arah tarik tangan Jungkook.

Sampai mereka berdua di hadapan lelaki yang benar-benar tak ingin dilihat Sujeong.

“Eh? Sujeong?”

Jungkook melepas tautan tangan mereka, “Kak, aku duluan ya? Berkas masih belum rapih hahaha.”

Kemudian berlari keluar dari gymnasium, meninggalkan kedua orang yang tak pernah bertemu setelah dua tahun.

“Sudah lama ya?”

Sujeong enggan menjawab. Tangannya sudah terkepal kuat-kuat, entah untuk meninju senior dihadapannya atau sekadar melampiaskan emosinya. Ia sendiri sadar jika ia bersuara, entah tangis atau teriakan yang akan keluar.

Tapi tetap saja dia tak berani menatap manik kehitaman itu.

Tiba-tiba saja ia berdiri dan memasang badan tepat dihadapan Sujeong. Kedua tangannya menghampiri bahu Sujeong. Sungguh, Taehyung hanya ingin melihat netra milik gadis kesayangannya. Ia benar-benar ingin melihat reaksi atas kedatangannya ini.

“Ryu Sujeong…,” Tetap tak digubris, “… Maaf.”

Satu kata itu mampu membuat keberanian Sujeong terpacu. Meski alasannya menatap manik itu bukan untuk mencari ketulusan apalagi memaafkan.

“Maaf kata senior?” Gemuruh dalam suaranya terdengar begitu jelas. Suara yang biasanya begitu jernih dan riang kini terdengar serak dan penuh emosi.

“Sujeong-ah….”

Plak.

Kedua lengan Sujeong menepis tangan senior yang berada di bahunya. Cuping hidungnya kembang-kempis, tapi ia tak ingin orang itu tahu kalau ia benar-benar emosi kali ini.

“Untuk apa senior minta maaf? Aku nggak merasa senior Kim Taehyung melakukan kesalahan,” ujarnya dengan penekanan pada setiap kata. Segera saja ia berbalik, hendak keluar dari ruangan itu. Rasa-rasanya paru-parunya tak bisa memasok oksigen dengan benar.

Ya, tetap saja alasannya ingin keluar dari tempat itu karena seorang Ryu Sujeong tak ingin memperlihatkan kelemahannya saat ini.

“Sujeong-ah, dengarkan dulu.” Kim Taehyung berseru seraya menarik lengan Sujeong yang sayangnya, sekali lagi ditarik oleh sang empunya.

Sujeong meneruskan langkahnya. Kalau bisa ia ingin berlari saja dari situ. Jauh-jauh dari lelaki penghancur hatinya.

“Aku sudah putus dengan Joy sebulan setelah kamu menghindariku!”

Langkahnya hampir saja terhenti kalau tak dikalahkan ego.

Lagipula, apa dengan pemberitahuan Taehyung yang sebenarnya sudah Sujeong ketahui sejak dua tahun silam, semuanya akan berubah? Apa Taehyung akan tiba-tiba mengatakan kalau dirinya mencintai Sujeong dan mereka bisa tersenyum bahagia?

Kenyataannya tidak begitu. Sekeras apa pun Sujeong berpikir positif, ia tetap tak tahu Taehyung punya perasaan atau tidak padanya. Taehyung tak pernah mengatakan sepatah kata pun padanya!

Sekali pun ternyata Taehyung punya perasaan padanya, tak akan ada gunanya. Semua orang berasumsi kalau Taehyung memutuskan Joy karena Sujeong dan jika ia menerimanya, maka tak akan ada lagi yang percaya pada Ryu Sujeong. Ia hanya di cap sebagai perusak hubungan orang lain.

Dan masih ada Kim Mingyu yang sudah menjadi pacarnya sejak seminggu silam. Ryu Sujeong tidak mungkin memutuskan Mingyu hanya karena lelaki pemilik hatinya telah kembali. Persetan, Ryu Sujeong sudah memilih jalan.

Dan harusnya Kim Taehyung tak kembali untuk mengacaukan semuanya.

.

Jungkook tak pernah seceria itu sebelumnya. Tungkai kaki terasa ringan dan rasa-rasanya bibirnya tak sanggup menutupi kurva melengkung tersebut.

Beruntunglah kalau koridor saat ini sepi, jadi Jungkook tak perlu merasa seperti orang gila yang tak bisa mengontrol barang bibirnya saja.

“Aku sudah bilang kalau aku nggak akan melakukan itu! Kenapa sih kamu mencurigaiku? Kamu takut aku jadi saingan atau apa?!”

“Siapa yang kamu bilang takut? Untuk apa aku takut dengan orang sepertimu?”

Netranya menangkap dua sosok manusia selain dirinya di koridor itu. Dia segera mempercepat langkah, gadis kucir satu itu tak terpikirkan sebelumnya. Harusnya gadis itu tak pulang bersama sahabatnya nanti.

“Ya kalau kamu nggak takut, bisa nggak berhenti bilang aku menggunakan koneksi? Memang kamu punya buktinya atau….”

“Kalau kamu nggak merasa seperti itu harusnya kamu nggak panik kan?”

“Jung Yein!” seru Jungkook ketika eksistensi gadis itu sudah lima meter dihadapannya. Sepertinya seruan itu juga menginterupsi adu mulut yang terjadi antara kedua manusia itu.

“Eh, Senior Jungkook?”

Lelaki selain Jungkook ikut melihat. Tapi tatapannya membuat Jungkook tak suka, seperti kecurigaan dicampur merendahkan. Sesaat kemudian lelaki itu segera saja masuk ke dalam kelas di belakangnya tanpa melihat dua kali atau berpamitan dengan Yein.

Walaupun sepertinya Yein tak masalah dengan perlakuan lelaki itu.

“Kamu nggak ada guru? Kok bisa ribut di depan kelas?”

“Eh… itu… aku nggak ribut kok….” Yein gelagapan menjawab pertanyaan tersebut. Pergelangan kaki kirinya diajak asik berputar pelan. Gugup.

Jungkook terkekeh sejenak. Yein selalu seperti itu kalau dihadapannya. Menunduk, gelagapan, dan sebangsanya. Padahal ia ingat sekali waktu pertama kali mereka bertemu, Yein bisa dibilang berani dengan perbuatannya. Kalau dengan sahabat-sahabatnya atau di sekolah juga dia bisa terlihat ceria dan kuat. Hanya didepan Jungkook Yein melakukan hal ini.

“Pulang bareng yuk nanti?”

“Eh?” Mata Yein membulat bersamaan dengan detak jantungnya yang berpacu kuat. Ada apa gerangan seniornya itu tiba-tiba meminta pulang bersama? Dari awal dia mengenal Jungkook, sampai satu sekolah dengan lelaki ini, tak pernah sekali pun mereka pulang bersama.

Apakah ini hari istimewa keenam sahabat itu makanya Jungkook mengajaknya? Atau Sujeong yang menyuruh Jungkook pulang bersama dirinya karena Sujeong ada kegiatan? Mungkin juga Yein akan diwawancara di perjalanan untuk penyaringan OSIS?

Bolehkah Yein gembira sekarang?

“Aku akan mengantarmu pulang, maksudnya,” jelas Jungkook masih dengan senyum di bibirnya. Yein hampir memaki dalam hati, kenapa juga ada makhluk setampan Jungkook yang ia kenal?!

Beruntung Yein masih bisa mengontrol diri, setidaknya respon yang ia lontarkan bukanlah sesuatu yang memalukan, “Senior punya acara dengan Kak Sujeong dan Senior-Senior yang lain ya?”

Sayang, senyum Jungkook malah makin lebar dan kini hampir seperti tawa. Padahal Yein tak tahu apa yang salah dengan jawabannya. Ia yakin seratus persen jawabannya bukanlah sesuatu yang memalukan atau seperti orang yang sangat percaya diri.

Lantas apa?

“Nggak ada acara apa-apa Yein. Aku hanya mau mengantarmu pulang. Memang tidak boleh?”

“Eh?” Keheranan untuk kesekian kali yang dilontarkan Yein. Logikanya, kalau tak ada apa-apa lantas apa urusan dengan mengantarnya pulang?

“Kamu bisa kan?” tanya Jungkook memastikan, karena sudah hampir semenit sejak Yein mengeluarkan eh-nya.

“Bisa sih Senior….”

“Oke, nanti aku ke kelasmu ya? Tunggu, jangan kemana-mana, oke?”

Sepertinya ini hari keberuntungan Yein.

“Baiklah, Senior….”

Setelah mendengar kepastian dari Yein, Jungkook segera melangkahkan kembali tungkainya, yang beberapa detik kemudian berbalik lagi, ada kata yang tertinggal sepertinya.

“Maaf aku bawa motor hari ini Yein-ah, nggak apa kan?”

Semburat merah sudah menjalar ke pipi Yein. Mengapa pula Jungkook membawa motor? Bukannya jadi besar kemungkinan hal-hal yang tak pernah dibayangkan Yein akan terjadi?

Misalnya saja, mengalungkan lengannya di pinggang Jungkook?

Sepertinya Yein bisa mati muda jika memikirkan hal itu.

“I… iya nggak apa, Senior….”

Jungkook menaikkan sebelah alisnya. Bukan karena Yein mengiyakan transportasinya itu, “Kamu nggak bisa panggil aku Kak saja? Kita kan sudah kenal lama Yein-ah.”

“Eh? I… iya Kak… Jungkook….”

Jungkook menutupnya dengan senyuman dan segera berbalik, kembali melangkahkan tungkainya. Meninggalkan Yein di koridor bersama dengan semburat kemerahan dan degupan jantung yang bergemuruh….

“Kamu mau sampai kapan disitu?”

Yang diinterupsi oleh lelaki paling menyebalkan di dunia versi Jung Yein.

“Kamu nggak bisa ya lihat orang senang barang sebentar saja? Urus sendiri urusanmu!”

Hanya dengan satu kalimat tadi, pipi merona, degupan jantung langsung sirna. Tergantikan oleh kata-kata pedas dan langkah cepat. Yein tak mau menghabiskan emosinya dengan lelaki itu. Buang-buang waktu dan energi saja.

“Kamu tahu kan Jeon Jungkook itu playboy?” ucapan sinis dan cekalan tangan langsung diterima Yein. Tapi sayangnya Yein sudah terlanjur benci dengan lelaki ini.

Lagipula kata orang, kalau sudah cinta, mata bisa buta!

Yein segera melepas cekalan itu dan membalasnya dengan ucapan yang tak kalah sinis, “Kalau kamu nggak bisa melampaui dia, jangan menjatuhkan citranya dengan gosip murahan seperti itu, Jung Chanwoo!”

Dan segera saja melangkahkan kaki menuju mejanya.

“Semua orang juga tahu dia playboy, Jung Yein bodoh.”

.

Napasnya memburu, tapi langkahnya diiramakan sedemikian rupa. Tangannya terkepal, namun wajahnya berusaha untuk tetap datar. Netranya tak boleh mengkhianatinya kali ini. Kalau otaknya selalu berpikir untuk tak peduli, maka matanya seharusnya tak boleh mengeluarkan bulir-bulirnya.

“Katamu dia bukan siapa-siapamu.”

“Katamu kamu sudah nggak cinta padanya.”

“Katamu dia brengsek.”

“Katamu kamu sudah move on.”

“Katamu dia cuma masa lalu?!”

Seruan terakhir Sujeong tertahan. Langkahnya berhenti, tangannya meremas kuat-kuat seragamnya, bibirnya digigit, tapi matanya sukses untuk setia.

Grep.

Badan yang bergetar hebat itu jatuh dipelukan seseorang yang lebih tinggi. Tangannya mengelus punggung Sujeong, berharap dengan gestur itu mampu menyalurkan kekuatannya, “Aku sudah bilang kan, kamu boleh bersandar kepadaku kapan pun kamu mau.”

“Mi… Mingyu….”

Mingyu melepas pelukannya meski tangannya masih berada di pundak Sujeong. Maniknya tertumbuk pada netra cokelat gelap itu. Ia pikir Sujeong akan menangis atau setidaknya berkaca-kaca. Sebaliknya, yang didapat hanya sebuah kekosongan.

“Aku mencarimu kemana-mana! Kamu nggak kembali dengan yang lain, Jungkook juga nggak dikelas. Bel pulang sudah berbunyi lima belas menit yang lalu, Sujeong-ah.”

Tubuh itu sedikit demi sedikit menemukan kesadarannya. Juga tangan itu melepaskan pelan pegangan Mingyu pada pundaknya. Meski sulit, bibirnya menipis, “Aku pulang dulu Mingyu-ya.”

Jemari itu menahan lembut tangan Sujeong yang sudah lepas. Kembali mencari titik dimana mata mereka bisa bersirobok. Sepertinya dia tahu mengapa gadis kesayangannya itu berbuat sedemikian rupa. Mungkin gosip itu benar.

Kak Taehyung datang ke sekolah!

Kalau bisa jujur dihadapan Sujeong, ia juga terluka. Lelaki mana pun akan sakit hati bila pacar sendiri masih memiliki rasa pada orang lain. Apa Mingyu salah jika ia membenci kakak kelasnya itu?

Kim Mingyu sudah berusaha keras mendapatkan hati Sujeong. Ia sudah berada disisinya selama dua tahun. Berbagi canda dan tawa. Menghapus jejak air mata Sujeong. Menyesuaikan diri dengan lingkungan gadis itu. Menekan perasaan ingin memiliki hingga selama itu.

Tapi ketulusan dan kerja kerasnya dipatahkan sehari oleh kakak kelasnya itu?

Bolehkah Mingyu mengatakan Sujeong bodoh sekarang?

Ada orang yang mencintainya didepan mata, tapi kenapa Sujeong hanya bisa melihat masa lalu? Kemana Sujeong yang tegar dan yang berkata kalau cinta pertama itu hanya kesia-siaan?

“Sujeong-ah….”

“Aku bilang kalau kamu boleh bersandar kepadaku kapan pun kamu mau.”

“Kalau kamu punya masalah, kamu bisa menceritakannya padaku.”

“Aku akan selalu ada disisimu, Sujeong-ah….”

Dan manik itu menyerah untuk setia.

“Maaf, Mingyu-ya….”

Tak butuh beberapa detik untuk Sujeong kembali di pelukan Mingyu. Menurut lelaki itu, kata maaf yang keluar dari bibirnya adalah kesalahan.

“Kamu nggak perlu bilang maaf Ryu Sujeong!”

Harusnya Sujeong tak mengeluarkan kata-kata itu dari bibirnya. Harusnya Ryu Sujeong cukup bilang terima kasih. Harusnya pacarnya itu tidak menyesal sekarang.

Karena kata maaf berarti kesalahan, dan Kim Mingyu tahu….

Ia tahu bahwa Sujeong merasa bersalah karena menerimanya disaat hatinya tak berada pada Mingyu.

“Aku minta maaf Mingyu-ya….”

Mingyu sadar seragamnya basah, ia juga tahu badan itu kembali bergetar. Seragamnya pun di cengkeram kuat oleh jemari mungil itu.

Sesungguhnya, pertanyaan yang kini menyambangi pikirannya adalah, Apakah ia harus menyerah sampai sini?

Cukup lama Kim Mingyu dan Ryu Sujeong seperti itu. Dengan pikiran dan hati masing-masing, mereka tenggelam tanpa bicara satu sama lain.

Kim Mingyu yang berharap Ryu Sujeong tak menyesali keputusannya saat itu.

Dan Ryu Sujeong yang menyesali bahwa hatinya terlalu lemah untuk orang itu.

Sungguh, harus ada salah satu yang mengalah jika mereka tak ingin semua merasakan sakit hati. Harusnya mereka juga tahu, kalau resiko jatuh cinta adalah patah hati!

.

Tangan itu mengetuk meja dengan irama tertentu. Ia terpaksa hampir sendirian di kelas. Tak ada yang melaksanakan piket, ia juga tak tahu kenapa teman-temannya meninggalkan kelas cepat sekali seperti dikejar hantu.

“Kamu masih menunggu orang itu?”

Yein memutar bola matanya. Diantara teman-temannya yang pulang secepat kilat, mengapa juga lelaki ini tak masuk dalam kelompok itu? Apa lelaki ini benar-benar ingin bertengkar dengan Yein?

“Kelas sudah kosong.”

Dengusan napas Yein terdengar jelas. Sudah pasti untuk lelaki itu. Sebegitu menyebalkan Jung Chanwoo, Yein tak ingin menguras emosinya dan meladeninya kali ini. Harusnya sore ini jadi sore istimewa, jadi jangan sampai hanya karena Chanwoo, sorenya berantakan.

“Kamu tuli?”

“Apa maumu sih?!”

Siapa juga yang tidak keki dibilang tuli.

“Dia juga paling pulang dengan pacarnya yang lain. Kamu itu nggak bisa membedakan basa-basi dengan janji sungguhan ya?” Kalimat itu sukses membuat Yein terdiam. Chanwoo benar juga, siapa tahu Jungkook ternyata hanya basa-basi. Tak ada yang tahu kan?

Tapi harusnya Yein bisa lebih bersabar. Ini semua karena teman-temannya yang ingin cepat pulang, bukan karena Jungkook yang terlambat atau mengingkari janjinya. Jam pun baru saja memberi tahu Yein kalau Seniornya itu hanya telat sepuluh menit. Lagipula, masuk akal kan, Jungkook harus membereskan perlengkapan sekolahnya, berjalan menuju kelasnya ke kelas Yein. Semua masuk akal.

Jung Chanwoo saja yang selalu berpikiran negatif.

Tiba-tiba saja pintu kelas berderit, terbuka lebih lebar sampai lelaki di seberang terlihat. Dengan pemandangan itu, Yein hampir saja memeletkan lidah untuk mengejek Chanwoo. Terbukti kan kalau Seniornya itu tak berbohong?

“Kamu sudah menunggu lama?”

Yein segera mengambil tasnya dan berjalan menuju Seniornya itu, “Ah, nggak kok Kak.”

Tapi senyum yang Seniornya keluarkan untuk merespon jawabannya tadi hampir-hampir membuatnya salah tingkah. Untung saja ia tak berhenti di tengah jalan dan menatap lekat-lekat kakak kelasnya itu.

Brak

Mata Yein membulat. Chanwoo menerjang pintu yang sebenarnya sudah lebar, “Apa sih maunya anak itu,” bisik Yein pelan. Ia masih heran dengan sikap Chanwoo padanya. Apa yang salah selama ini sampai mereka tak pernah berdamai sedetik pun?!

“Kenapa?” Suara Jungkook menyapa gendang pendengaran Yein dan segera saja memadamkan api kekesalan dirinya pada Chanwoo. Yein menggeleng dan melanjutkan langkahnya.

Kedua pasang kaki itu melangkah di lorong yang tak sepenuhnya kosong. Membuat beberapa pandangan siswa-siswi menuju Jungkook dan juga Yein. Yein sendiri sudah mengutuk kenapa Jungkook tak menyambangi kelasnya lebih lama agar tidak berhadapan dengan lorong yang seperti ini.

Tapi ya Jeon Jungkook hanya bisa cuek, malah asik mengajak Yein mengobrol.

“Kamu sudah bilang Sujeong kalau kamu pulang denganku?”

“Ah, aku sih udah sms kak, tapi Kak Sujeongnya belum balas. Telepon juga tak diangkat. Memang kak Jungkook belum bilang ke Kak Sujeong?”

“Sudah kok. Lagipula sepertinya dia pulang dengan Kak Taehyung.”

“Eh?” Otaknya mencari sekumpulan ingatan tentang seseorang yang bernama Taehyung itu. Sepertinya Sujeong tak pernah bilang pernah dekat dengan Taehyung. Mengapa pula Jungkook memanggil Taehyung dengan Kak? Memang Taehyung itu senior mereka?

“Oh iya, tadi itu teman sekelasmu ya?”

“Siapa kak?”

“Yang tadi, yang pas keluar kelas menabrak pintu. Kamu lihat kan? Dia memang orang yang ceroboh apa gimana?”

Hampir saja semburan tawa keluar dari mulut Yein. Pantas saja Jungkook tadi tak menampakkan rasa tak suka pada Chanwoo. Ternyata yang dipikirkan lelaki itu kalau Chanwoo tak sengaja membuat kegaduhan itu.

“Iya kak, dia teman sekelasku. Tapi itu dia bukan orang ceroboh kok, hehehe.”

“Masa sih? Dia juga balon OSIS kan?”

“Iya kak, di kelasku banyak kok yang balon OSIS.”

“Kalo orang yang ceroboh seperti temanmu tadi, nggak akan bisa jadi pengurus OSIS, paling berhenti di tengah jalan dia. Kamu jangan seperti itu ya?”

“Eh?”

“Kamu kan salah satu balon juga, jadi jangan sampai seperti temanmu tadi.”

Yein mencerna setiap perkataan Jungkook. Ada dua makna yang ia tangkap. Yang pertama, Jungkook berpikir untuk mendukungnya jadi pengurus OSIS, yang kedua Jungkook merendahkan Chanwoo.

Kok Yein jadi ingin menyanggah kata-kata Jungkook tadi ya?

“Ini.”

“Eh?”

Yein mendapatkan helm tiba-tiba sudah melindungi kepalanya. Bahkan penutup helmnya sudah ditarik kebawah oleh Jungkook.

“Dari tadi kamu ah eh ah eh saja. Makanya aku langsung pakaikan helmnya. Nggak apa kan?”

“Eh?”

Sepertinya dendrit-dendrit Yein banyak yang putus.

“Tuhkan,” Jungkook tersenyum lagi sebelum bersiap menghidupkan motornya, “Ayo naik.”

Yein segera naik tanpa kata. Setelah Jungkook menggas motornya pun tak ada yang bersuara baik Yein maupun Jungkook.

Karena otak Yein masih mencerna kata-kata Jungkook yang tadi.

“Kak…?”

Jungkook membuka penutup helm nya dan menjawab, “Ya?”

“Tadi temanku itu benar-benar nggak ceroboh kok. Lagipula dia layak jadi pengurus OSIS.”

Jungkook bergeming. Agak-agaknya Yein jadi takut respon Jungkook saat ini. Ia juga sebenarnya tak mengerti dengan dirinya sendiri. Kenapa dia sampai memikirkan kesalahpahaman Jungkook dengan Chanwoo. Harusnya kan ia biarkan saja asumsi Jungkook salah, agar Chanwoo tak bisa jadi pengurus OSIS. Tapi Yein tak bisa begitu. Ia jadi merasa tak enak jika kesalahpahaman tersebut berdampak Chanwoo tidak diterima.

“Dia pacarmu? Atau kamu suka dengannya?”

“APA?! Ya jelas nggak lah kak!”

Yein jelas sekali mendengar tawa Jungkook. Yein mendengus. Sejak kapan ia suka dengan Chanwoo? Mimpi!

“Kadang yang dielak seperti itu bisa saja kenyataan loh.”

“Nggak, ya ampun kak. Kenapa mesti Chanwoo….”

“Oh namanya Chanwoo.” Tawa Jungkook terdengar lagi.

Yein diam. Dia jadi merasa tak seharusnya mengoreksi asumsi Jungkook. Harusnya ia biarkan saja daripada diledek sendiri oleh orang yang ia suka.

“Yein-ah, sebelum kamu mengelak lagi, harusnya kamu pegangan dulu. Nanti kamu jatuh.”

Matanya membulat. Apa yang ia imajinasikan selama ini bisa jadi kenyataan! Padahal tadi ia sudah memikirkan bagaimana cara yang tepat untuk modus, tapi yang ada dipikirannya hanya kalau motor Jungkook oleng baru dia punya alasan memegang pinggang Jungkook. Tapi ini Jungkook sendiri yang menyuruhnya. Astaga!

Tiba-tiba saja tangan kiri Yein sudah digenggam Jungkook dan disampirkan ke saku jaket Jungkook, “Pegangan ya Jung Yein. Nanti kalau kamu kenapa-kenapa sampai rumah bisa-bisa aku yang ditebas oleh Sujeong.”

Jungkook terkekeh, mau tak mau Yein juga tertawa. Meski saat ini alasan Jungkook agar Yein terjaga dan Jungkook takut diapa-apakan Sujeong, tapi tetap saja hatinya berbunga-bunga karena bisa memeluk Jungkook.

Tak begitu lama, mereka sudah sampai di depan rumah bercat putih. Yein jadi sedikit kecewa perjalanan rumahnya dengan sekolah ternyata begitu dekat. Di jalan tadi ia bahkan berharap perjalanannya bisa sampai satu atau dua jam!

Saat Jungkook telah menghentikan motornya, Yein dengan sigap turun dan segera melepas helmnya, menyerahkan pada Jungkook.

Senyum Jungkook sekali lagi menyapa, membuat kakinya hampir terasa seperti Jelly. Sore yang sangat indah juga mendebarkan!

“Jangan bilang ke Sujeong kalau aku yang mengantarmu ya.”

“Memang kenapa kak?”

“Sujeong akan membunuhku! Kamu kan tahu dia paling nggak suka kalau aku dekat-dekat dengan adiknya tersayang.”

Yein hanya bisa tertawa. Ia ingat kalau Sujeong melarang Jungkook dan Yein untuk dekat-dekat. Padahal teman-teman Sujeong yang lain justru akrab dengan Yein, misalnya Bambam.

Brum.

Muncul lagi motor di depan rumah bercat putih. Penumpangnya segera turun dari motor dan melepas helm.

“Kak Sujeong?”

“Sujeong?”

Sujeong melihat arah panggil namanya dan terbelalak, “Yein…. Jungkook?! Kenapa disini?”

Sedangkan pengendara motor yang Sujeong tumpangi membuka helmnya.

“Kim Mingyu?!”

Jungkook jadi kesal. Ia pikir Sujeong akan diantar pulang oleh seniornya, tapi kenapa malah Mingyu yang mengantar pulang.

“Kenapa kamu jadi pulang dengan Mingyu?” Jungkook bertanya kepada Sujeong, membuat Mingyu jadi terkekeh dengan jenis pertanyaan yang baru saja diajukan.

“Aku kan pacarnya. Apa ada alasan untuk mengantarnya pulang? Kamu sendiri yang bukan pacar Yein bisa mengantarnya pulang.”

“Itu lain soal!”

Tapi Sujeong tak mengubris pertengkaran Jungkook dan Mingyu. Ia lebih memilih menarik adiknya dan segera masuk ke rumah. Meninggalkan kedua lelaki itu dengan argumennya masing-masing.

Setelah pintu ditutup, Sujeong baru berani menatap Yein. Ia gusar dengan kehadiran Jungkook yang sudah berani mengantar Yein.

“Jangan dekar-dekat lagi dengan Jungkook. Kamu kan tahu bagaimana playboynya dia.”

“Tapi kak….”

Mata Yein menyipit. Penampilan Sujeong kali ini bisa dibilang sangat berantakan. Dasi merosot, rambut acak-acakan, dan yang memperparah, mata Sujeong yang sembab dan wajahnya yang memerah. Yein jadi melupakan argumennya, “Kak Sujeong kenapa?”

“Pokoknya jangan dekat-dekat Jungkook lagi.”

Kemudian Sujeong berjalan meninggalkan Yein menuju kamarnya.

.

Tepat pukul tujuh pagi bunyi klakson motor di luar rumah Sujeong sudah memekakkan telinga. Baik Sujeong dan Yein yang sudah bersiap berangkat sekolah saling memandang. Siapa yang pagi-pagi bertamu ke rumah mereka?

Sujeong segera saja berjalan menuju luar. Mencari tahu siapa yang mengusik ketenangan paginya. Segera saja setelah membuka pintu pagar, ia tahu pelakunya.

“Mingyu?”

“Mulai sekarang aku akan mengantarmu ke sekolah. Nggak ada penolakan ya, Sujeong.” Permintaan yang lebih seperti perintah itu membuat alis Sujeong mengernyit. Ada apa sekarang dengan Kim Mingyu? Dia sendiri tahu kalau Sujeong pergi bersama Yein setiap hari.

“Aku pergi dengan Yein.”

“Aku bisa sendiri Kak. Kak Sujeong pergi saja dengan Kak Mingyu. Aku pergi dulu!”

Yein berjalan setelah berpamitan-paksa itu. Meninggalkan Mingyu yang tersenyum senang dan Sujeong yang melongo. Sujeong baru sadar setelah Yein menghilang di belokan jalanan. Membuat Mingyu tertawa sebentar lalu dengan sigap memberi Sujeong helm.

“Kamu sudah ditinggalkan Yein tuh.”

Mingyu sudah kembali menghidupkan motornya.

“Ayo naik.”

Akhirnya Sujeong naik motor Mingyu juga. Meski dengan enggan, ia merasa ini juga saat yang tepat untuk membuka hatinya untuk Mingyu.

Sayangnya, sepanjang perjalanan, baik Sujeong maupun Mingyu tak ada yang memecah keheningan. Sampai mereka tiba di depan sekolah mereka dan melewati anak-anak menuju tempat parkir. Hingga Mingyu mematikan mesin motor dan Sujeong juga Mingyu turun dan melepas helm tak ada kata yang terucap.

“Sujeong? Mingyu?”

Yang ternyata dipecah oleh gadis berambut hitam lurus di belakang mereka.

“Ji… Jiho?!”

-To Be Continued-

Ketauan semua ketauaaaaaan huehuehue

Mohon maaf atas kelamaan updatenya. Aku belom dapet feel untuk nulis:”) Baru kemarin rasanya hati tergerak aja buat lanjutin persimpangan (ea). Tapi untuk Chapter 5, sepertinya bakal lebih lama lagi karena aku bakal sibuk ngurusin ospek, penampilan perdana dll dll dll (Dan terimakasih yang kemarin kemarin udah menyampirkan doa untuk masa depanku, akhirnya aku udah tau bakal ospek dimana hahaXD)

Dan untuk yang nanya kemarin, Sujeong sama Taehyung itu kenapa, kamu bisa cek di Fall-And-Taint (iya, tau banget aku males mikir cerita lain buat mereka jadinya aku ambil ffku yang udah post hahaXD). Buat yang nanya hubungan antara Jungkook dan Sujeong, jawabannya: cuma sahabat! Aku minta maaf banget kalo ada yang ngira aneh-aneh diantara mereka, apalagi pas baca Friendship? Or Friendzone? 😄 Juga aku udah selipin gimana Yein jatuh cinta sama Jungkook di Tersesat. Hehehehe.

Okedeh, aku pamit undur diri dulu yaaa! Semoga masih ada yang mau baca cerita abal-abal ini :”)

Dan jangan lupa untuk meninggalkan jejak (Komentar dan Likes diterima dengan senang hati)!

Phynz20’s signing off~

Advertisements

7 thoughts on “Persimpangan [Chapter 4]

  1. Aduhhh konfliknya nggak nguatiinnn,, uh i hate it when it comes to a conflict.. Sumpah ya kak,, aku itu sukanya epep yang manis manis gituhh tp karena penasaran jadi aku baca ff ini dan,, omg what is this.. Konflik nya ribet yaa,, dan uhh aku hardshippernya jeongin tp kok disini yein kayak ngebela chanwoo trus trus why maz jungkook kamu punya julukan playboy.. Nda suka aku sama kamu mazzz.. Ah lebay diriku

    Eh btw kak,, itu ada typo agak banyak di tulisan calon malah jadi balon.. Jadi waktu di hanya “balon osis” kkekeke

    Like

  2. Oalaahh..fall n taint tuh temennya persimpangan too..tadi aku ketawa sendiri gtu sih bacanya.😂😂

    Kalo boleh jujur,ini si sujeong ini kisahku banget. Bener deh waktunya juga pas. 2 tahun. Tp di sni sujeong 2 tahun itu gak berstatus sma tae. Klo aku berstatus. Lalu di tinggal. Beberapa bulan kmudian dateng lg minta maaf kaya tae gtu. Terus aku nya menangis kaya sujeong. Nanyain diri sendiri kaya sujeong. Lalu mengusap air mata lagi baca persimpangan ini. Feelnya dapet soalnya ngalami sendiri/haeeehh curhat😅😅😅😅

    Dan yein kookie?
    Abg banget ini mah. Yakinnya suka sama kookie tapi ya ngebelain musuh juga. Haduuh dek…kookie playboy harus tetep waspada lhoo walopun cinta buta. 😄😄😄 gal buta sih sebenernya,si pecintanya aja yang sok-sokan butain matanya gtu..hihi

    Wah aku juga MaBa lhoo/padahal 96 line/ akibat 2 tahun setelah sekolah ngajar dulu/ga ada yang nanya buu😒😒😛

    Selama apapun aku tetap menunggu persimpangan ini…semangat ya Ospeknya phynnz 20 ,sehat syelaluuuh salam dari Alvianit96😊😊😊

    Like

  3. BUTUH OKSIGEN!!

    AKU TUH BUTUH OKSIGEN. Aaaaaaahhhh… manisnya Yein dan Jungkook, ini tuh sukses bikin meleleh .. Mereka Candy Jelly Love !! Meski gatau Jungkook itu cuma sekedar akrab ke Yein atau lebih tapi ini positif MINISSSS ..

    Dan akhinyaaa!! Taehyung dan Sujeong ketemu. Ya, akhirnya terjawab sudah keganjalan selama ini ..

    Sepanjanh cerita ini .aki tuh bacanya pelan-pelan biar ga cepet habis, apalagi saat Jungkook Yein part huuuuu..

    Dan Author harus tau .. saat buka web dan nemu ff ini di update’an itu RASANYA BAHAGIA BANGET .. ini itu di tunggu .. hmm sedih karena kamu bakalan update lama lagi 😦 . Semoga aku sanggup menunggu ..

    Selamat yaaaa yg mau ospek, sukses kedepannya jangan lupa update persimangan .. Ditunggu lohh

    Like

  4. Pertama, mau bilang dulu…aku tuh gangerti kenapa tiap baca persimpangan malah ngarepnya Yein sama Chanu, dan Sujeong sama Jungkook atau Mingyu, padahal.aku Jungkook-Yein shipper garis keras dan taehyung-sujeong shipper. Atau nggak aku malah kepengen ada scene manismanis antara sujeong dgn bambam :3 aku juga ngeship sujeong sama bambam sih wkwk

    Di sini sejak kemarin dan yg lalu,Chanu kenapa suka bgt ngajak yein ribut sih? kalau suka ya bilang, nanti keburu diambil sama si playboy looooh 😔

    Resiko baca ff bertabur cogans gini ya, jadi shipper labil 😁

    Buat plot aku sukaaaaa, nggak kecepeten dan asik diikutin. Bahasanya juga dari awal santai enakkk nyamnyam/?

    Oh ya, aku sempet lupa kalau ada jiho wkwk btw jiho disini kayaknya bakal jadi orang penting yg bakal nambah konflik, tapi sayang jarang keluar, padahal pengen bayangin cecannya omg huhu gapapa!!! tetap kutunggu kambeknya kak!!!

    Semangat rl nya kak!!! kita sama2 pejuang ospek/? nih wkwk kuslalu menunggu persimpangan, semoga ada momen manis yein chanu ya #ChanInTeam 😁

    Like

  5. DUH MINGYU JANGAN NYERAH IHH!! geregetan ihhh.. Jangan mau jadi pihak yang mengalah :(((( biarin perlahan-tapi pasti-sujeong bakal cinta sama kamu :((

    DUH ELAH CANU~ Langsung to the point aja elah jangan ditahan xD Itu yein udah belain dirimu di depan mas jungkook lho

    Ini namanya episode baper/? dari part sujeong yang galau galauan terus diselingin yein yang baper baperan. pas banget, perfecto wkwk

    CIE MAU OSPEK! SEMANGAT BERJUANG DI KEHIDUPAN PERKULIAHAN 👍😁

    Like

  6. Finally terbaca…omg i miss LFI :”D
    Halo dedek ines yg lagi sibuk kuli-ah~ :3 Tetep semangat di mana-mana ❤

    TBH, ini bener2 manis layaknya kisah anak sekolah ugh bikin kangen /padahal mah gak pernah ngerasain yg kek gini…, loh curhat/ gemaaaaaaaaaaash

    Liat2 komen di atas2 pd ngarepin jodoh yg lain2 gituu ugh, meanwhile aku mah udah jelas maunya mrk sama siapa /DASAR BIASED KAMU! SUPER BIASED!!/ Anw, aku penasaran gimana kamu mengeksekusi akhir dari Persimpangan ini wkwkwk pake persimpangan jg kah ato pake jalan tol? /NGOMONG APA SIH MBA?/

    SEMANGAT KAMUU ❤

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s