Posted in Chaptered, Fluff, Hurt/Comfort, LFI FANFICTION, PG-17, Romance, School-Life, tyavi

KisSin [Chapter 4]

wp-1468430165537.jpeg

KisSin

|JeongIn|

starring:

BTS Jungkook, Lovelyz Yein,

and other mr.chu squad

Romance, Fluff, School life, Hurt/Comfort | Chaptered | PG-17 (for kissing)

previous :

1 | 2 | 3

Soundtrack :

Lee Hi – Love (Keyshia Cole cover)

Summary :

“If you want me to stay quiet, then have an affair with me too.”

.

.

.

Chapter 4

Jungkook meneguk cola kalengan di tangannya.. Sikutnya bertumpu pada pagar pembatas, atap sekolah. Pandangannya menerawang. Entah memikirkan apa. Apakah tentang nilai ujiannya, pertengkarannya dengan Lee Halla, atau malah perjumpaannya dengan Jung Yein. Yang jelas, Jungkook butuh teman untuk bercerita saat ini.

Suara langkah kaki yang mendekat, terdengar kala Jungkook meneguk colanya untuk yang kesekian kali. Tak perlu berboros energy untuk menoleh, Jungkook sudah tahu kalau sosok itu adalah…

“Ada apa memanggilku ke sini, Jung?”

…Jung Chanwoo. Yeah, karena Jungkook sendirilah yang memanggilnya ke sini.

Suara helaan napas berat terdengar alih-alih balasan. Buat Chanwoo mengernyitkan kening dan melangkah mendekat, bersandar pada pagar pembatas, dan menoleh pada Jungkook yang masih melempar pandang pada lukisan biru alam semesta.

“Apa terjadi sesuatu, Jung?” Chanwoo kembali menyuarakan rasa penasarannya. Pasalnya sudah beberapa hari ini sahabatnya itu bertingkah aneh. Dua hari belakangan ini Jeon Jungkook tak pernah absen menyambangi atap sekolah saat jam istirahat, dan menghabiskan seluruh waktunya untuk melamun ketimbang menyantap menu makan siangnya. Selama hampir dua tahun berteman dengannya, baru kali ini Chanwoo melihat Jungkook semurung ini. Seakan ada suatu beban yang memenuhi benaknya—yang butuh lebih dari 24 jam dalam sehari untuk dipikirkan. Yeah, padahal kalau mendekati ujian semester saja Jungkook tidak pernah seresah ini.

“Dibalik gadis yang kau permainkan, ada seorang Appa yang sangat menyayangi dan menjaganya,” Jungkook tiba-tiba bersuara.

“Hah?”

Pemuda Jeon itu menoleh. Dengan dahi berkerut tipis ia melanjutkan. “Aku baru menyadari hal itu,” ucapnya, lebih kepada dirinya sendiri.

Dan itu tidak membantu sama sekali karena kini Chanwoo semakin bingung. “Aku tidak mengerti, apa maksudmu…kau baru saja membuat pacarmu menangis, Jung?” simpul Chanwoo sekenanya.

“Tidak, lebih dari itu.” Jungkook meneguk colanya hingga tandas.

“Bertengkar?”

Jungkook menggeleng.

“Berselingkuh?”

Jungkook terdiam. Meneguk ludah sejenak sebelum akhirnya bersuara. “Menyesal.”

“Menyesal karena kau berselingkuh?” tanya Chanwoo hati-hati.

.

.

.

Jeon Jungkook menghentikan Ducatinya di halte tak jauh dari gerbang sekolah. Ia memang tidak berniat untuk mengajak Yein pulang bersama. Hanya saja…ia sangat ingin melihat Yein. Entah kenapa sebuah beban menelusup di hatinya, membuatnya merasa tidak enak hati karena telah mengacuhkan Jung Yein. Padahal Yein tidak bersalah. Padahal Yein tidak tahu apa pun. Jungkook hanya tidak mampu berhadapan dengannya, setidaknya untuk saat ini.

Jungkook memincingkan mata saat dilihatnya sosok Chanwoo berjalan tergesa sambil menarik tangan Yein.

‘Ah, iya. Ia pasti pulang dengan Chanwoo kalau tidak bersamaku’.

Namun yang terjadi selanjutnya membuat Jungkook mempertajam penglihatannya. Karena alih-alih mengantar Yein dengan motor, Chanwoo malah mengajaknya masuk ke sebuah mobil sedan yang terparkir tak jauh dari sana. Jungkook jadi bertanya-tanya, mobil siapa itu sebenarnya?

Tanpa ia sadari, Jungkook melajukan Ducatinya mengikuti Sedan berwarna silver itu. Mendapati bahwa kediaman Junglah destinasinya. Merasa lega karena sepertinya mereka berduaChanwoo dan Yeintidak naik mobil mencurigakan, Jungkook berniat untuk melajukan Ducatinya kembali sebelum ketahuan. Namun ia merasa ada yang ganjil karena meski sudah sampai, kenapa tidak ada satupun yang keluar dari sedan itu? Padahal lampu sennya juga sudah dimatikan. Menandakan kalau mobil itu tidak berencana untuk pergi kemanapun lagi.

Akhirnya mau-tak mau Jungkook pun mengurungkan niatnya untuk pergi. Beruntung ia memposisikan Ducatinya di belakang pohon besar yang berada tak jauh dari rumah Yein sehinggauntuk saat iniminim kemungkinan ia akan ketahuan. Kurang lebih lima menit Jungkook menunggu dengan was-was hingga akhirnya salah satu pintu penumpang (yang berada di samping kemudi) terbuka. Menampilkan Jung Yein yang sedang menyeka kasar wajahnya lantas menutup pintu dengan keras. Meski dari jauh, Jungkook tahu kalau Yein menangis. Gadis berkuncir dua itu berlari dengan amarah memasuki rumah.

Apa yang terjadi…?’.

Tak perlu menunggu lama, rasa penasaran Jungkook segera terjawab. Pintu kemudi terbuka dan terlihatnya sosok Jung Taekwoon berjalan keluar.

.

.

.

“Menyesal karena aku membuatnya menangis, membuat Appa-nya kecewa, aku…ck!” Jungkook mengusak rambutnya kasar.

Sial! Kenapa aku jadi seperti ini?!’

‘Kenapa aku cerita pada Chanwooyang notabenenya adalah kakak Yein??!’.

Aktivitas Jungkook baru berhenti saat lengan Chanwoo tersampir di pundaknya, menepuknya lembut sebagai bentuk dukungan.

“Aku tidak tahu apa yang telah kau perbuat pada gadis itu, tapi kurasa kau begitu peduli padanya.” Chanwoo menyambut tolehan kepala Jungkook dengan senyuman pemberi semangat. “Setidaknya kau menyesal melakukan itu, Jung!” Chanwoo menepuk lagi pundak Jungkook, lebih keras dari sebelumnya. “Semangat, Jung! Well, kadang kita terlalu peduli sampai tanpa sadar membuat orang yang kita sukai mende—”

“Menurutmu begitu? Menurutmu…aku suka padanya?”

Eiy, tentu saja, Bung! Rasa peduli berlebihan itu kan dasarnya rasa suka. Jadi menurutku sih kau suka padanya.”

Tak ada tanggapan. Jungkook hanya terdiam sambil menatap Chanwoo—seakan menyangsikan.

“Eh? Apa aku salah bicara?” gumam Chanwoo pada dirinya.

Sepersekian sekon berikutnya sebuah senyum terpatri di paras tampan Jungkook. Semakin lebar hingga akhirnya yang terdengar adalah suara tawa.

“Mulai sinting dia.”

Jungkook balas menepuk pundak Chanwoo keras dan memamerkan gigi kelincinya. “Ternyata walau tidak punya pacar, kau berguna juga ya, Chan.”

M-mwo?! Hei, aku bukannya tidak punya pacar, tahu! Aku hanya…aish, kalau begitu jangan tanyakan padaku!! Kau membuang waktu makan siangku dengan Yein!!!”

***

“Menunggu lama, Yein-a?”

Kepala Jung Yein berputar bersamaan mendaratnya tangan Chanwoo di pundaknya. Jung Chanwoo yang tak lain adalah saudara kembar Yein, mendudukkan diri tepat di sampingnya. Belum juga menyahut, Yein memincingkan mata pada Chanwoo lantaran membuatnya menunggu selama seperempat jam makan siangnya (dan juga membuatnya menahan diri untuk tidak melahap babi asam manis kesukaannya yang menjadi menu utama makan siang hari ini).

Chanwoo mengusap kedua tangannya seraya menatap hidangan yang tersaji di baki miliknya—yang diambilkan Yein omong-omong—sebelum lantas menoleh, menyadari tatapan tajam Yein.

Eiy, kau marah, huh?” ujarnya sambil menyenggol lengan Yein. Sayangnya terlalu kuat sampai-sampai Yein hampir jatuh dari kursinya. “Aish!” pekik Yein kesal.

“Jangan marah-marah begitu, kau jadi semakin jel—”

“Kalau memang ada urusan, tidak perlu mengajakku makan bersama! Kau ini semakin merusak moodku!!”

Chanwoo meringis. Yein benar-benar sedang tidak bisa diajak bercanda dan Chanwoo tidak bisa melawan kalau Yein dalam mode pengen-marah-selalu.

“Baiklah, maaf, maaf, tadi seorang teman sedang cerita padaku jadi—”

“Teman yang mana!?”

“Jungkook. Jeon Jungkook, senior kelas 3.”

Kontan saja Yein terdiam. Nama barusan adalah tersangka atas hancurnya mood Yein hari ini. Tidak. Lebih tepatnya menghancurkan kinerja otaknya, memporak-porandakan hatinya dan menimbulkan sebuah percikan rasa rindu di benaknya. Setengah jam lalu, tepat sebelum jam pelajaran ketiga berakhir, Yein yang baru saja kembali dari ruang guru bertemu dengan Jungkook setelah dua hari lamanya mereka tidak berjumpa. Dan tepat pula ketika Jungkook sedang bertengkar dengan kekasihnya, Lee Halla.

“M-memangnya ia cerita apa?”

Sadar akan perkataannya barusan, Yein kembali melanjutkan agar Chanwoo tidak menaruh curiga. “Aku tidak tahu kalau kalau lelaki juga suka curhat.”

Chanwoo menyendokkan nasi putihnya sebelum lantas menoleh dan memincing pada Yein. “Memangnya kau pikir cuma gadis-gadis yang punya masalah? Kami kaum lelaki juga punya masalah.” Chanwoo memasukkan sesendok penuh nasi putih ke mulutnya. “Masalah hati misalnya.”

“Masalah perempuan maksudmu?”

Chanwoo menggumam mengiakan.

Apa jangan-jangan tentang…aku?’

“Sepertinya Jungkook sedang ada masalah dengan pacarnya,” lanjut Chanwoo dengan mulut yang masih penuh makanan.

Ah…ternyata tentang Halla…’

Seketika itu juga ekspresi Yein berubah murung. Hilang sudah minatnya untuk mendengar  cerita Chanwoo.

“Aku tidak tahu jelas permasalahannya, sih.” Chanwoo masih melanjutkan kendati Yein tidak bertanya. Meski overprotektif dan suka mengatai Yein, Chanwoo tidak pernah bisa berbohong pada kembarannya itu. Bahkan ia selalu cerita apapun pada Yein—makanya Yein merasa tidak enak hati karena merahasiakan hubungannya dengan Jungkook dari Chanwoo.

“Dia hanya bilang tentang membuat gadis itu menangis, membuat Appa gadis itu kecewa…”

Eh?’

Yein menoleh cepat pada Chanwoo. Pemuda Jung itu menelan kunyahannya dan memandang lurus ke depan, menerawang. “Sepertinya Jungkook sangat menyesal.” Kini manik hazelnya beralih pada mangkuk nasi dan mengaduknya asal, “Ia memang terlihat aneh sih akhir-akhir ini. Wajahnya murung dan ia selalu menghabiskan jam makan siang di atap sekolah sendirian.”

Bukan…ini bukan tentang Halla. Ini tentang…Appa-ku…’

Kalau benar begitu, bukankah ini adalah suatu kesalah pahaman? Tentang malam itu dan pengakuan Jungkook, itu semua tidak benar ‘kan? Yein harus bertemu dengan Jungkook sekarang. Yein harus meminta penjelasan.

Yein tidak mau situasi canggung yang menyelimutinya dan Jungkook bertahan lebih lama lagi.

“Chanwoo-ya.”

“Hm?” Chanwoo melempar pandang bingung saat Yein bangkit dari kursinya. Kemudian saudari kembarnya itu menepuk pundak Chanwoo seraya memajukan wajah. “Kau lanjutkan makan saja, ya. Aku mau ke toilet. Kalau jam istirahatnya berakhir dan aku belum kembali, kau langsung ke kelas saja, oke?” Yein menyengir sebelum lantas berlari meninggalkan kantin.

“Hah?”

***

Seperti perkataan Chanwoo sebelumya, Yein segera menaiki tangga menuju atap sekolah. Beruntung Chanwoo—secara tidak sadar—memberitahunya di mana keberadaan Jungkook sehingga ia tidak perlu susah mencari (dan parahnya lagi sampai menanyakan Sujeong ke kelasnya). Yein menghentikan langkah tepat di depan pintu besi berkarat yang memisahkan tangga dengan atap. Sejenak ia menghirup oksigen, mengobati napasnya yang terengah karena berlari. Yein tidak tahu kenapa jantung jadi berdetak tidak karuan saat ini. Namun untuk saat ini Yein akan mengkambing hitamkan keputusannya untuk berlari ke sini.

Yein menghela napas lagi. Kali ini untuk memutuskan bahwa ia telah siap berhadapan dengan Jeon Jungkook. Kenop pintu diputarnya perlahan, meminimalisir kemungkinan terdengarnya derik besi yang mengusik si penghuni. Sedikit demi sedikit pintu mulai terbuka, menampilkan sosok pemuda jangkung yang berdiri jauh dari pintu, memunggunginya dan bersandar pada pagar pembatas. Yein merajut langkah mendekat. Memandangi punggung tegap—yang jujur sangat dirindukannya—itu lamat-lamat. Kalau saja nalarnya tidak memperingatkan, pasti Yein sudah berlari dan memeluk punggung itu erat.

Jeon Jungkook memejamkan kedua matanya. Masih belum menyadari presensi Yein di sana. Sebelum akhirnya suara lembut Yein yang terbawa angin mengalun di kedua telinganya.

Sunbae.”

Jungkook tahu ia tidak tuli. Pun bodoh untuk tidak mengenali suara itu sebagai suara Yein. Ah, sebesar itukah rasa rindunya sampai behalusinasi kalau Jung Yein sedang ada di sini?

 “Kenapa Sunbae melakukan itu?”

Seketika kelopak mata Jungkook terbuka. Tidak. Ia tidak sedang berhalusinasi. Jung Yein sedang ada di sini!?

Yein menggigit bagian bawah bibirnya. “K-kenapa Sunbae bilang pada Appa-ku kalau Sunbae yang membuatku mabuk?”

Yein tahu kalau napasnya sudah teratur. Kalau ia tidak habis berlari lagi. Tapi kenapa jantungnya tidak juga tenang?

‘Kenapa Sunbae tidak mau menoleh?’

‘Apa Sunbae masih marah?’

Yein meremas kedua kepal tangannya resah. “M-maaf…aku tahu Sunbae pasti tidak ingin melihatku saat ini tapi aku—”

“Kau tidak perlu meminta maaf, Yein-a,” ujar Jungkook akhirnya. Pemuda Jeon itu masih enggan membalikkan badan. Berbanding terbalik dengan Yein, Jungkook tidak siap untuk melihat wajahnya saat ini. Jungkook tidak mau melihat ekspresi sedih Yein lagi.

“Maafkan aku. Maaf aku mendiamkanmu beberapa hari ini.” Dan ia juga tidak mau Yein merasa bersalah atas sikap linglungnya.

“Apa Sunbae berbuat seperti itu karena Appa-ku memukulmu? Sunbae marah padaku?”

“Tidak, Yein-a. Kenapa aku harus marah? Wajar saja Appa-mu melakukan itu pada seorang pemuda yang mengatakan bahwa ia telah membuat anak perempuannya mabuk.”

“Tapi Sunbae tidak melakukan itu.”

“Aku tidak tahu, Yein-a.”

Yein terhenyak. Padahal ada beribu pertanyaan yang memenuhi otaknya saat ia melangkahkan kaki ke sini. Tapi tak ada satupun yang mampu keluar saat jarak yang terbentang antara ia dan Jungkook sudah sedekat ini. Saat Jungkook menjawabnya sesederhana ‘aku tidak tahu’. Semua tertahan di tenggorokan, membuat lidah Yein kelu.

 “Aku…aku tidak mengerti apa maksud Sunbae.” Yein tidak tahu lagi ke mana juntrungnya konversasi ini. Apakah menjawab rasa penasarannya atau malah memperkeruh keadaan di antara keduanya? Maka Yein putuskan untuk pergi. Berbalik dan tidak menghadap Jungkook lagi.

“Apa kau bahkan tahu apa yang kau katakan malam itu?” ujar Jungkook terdengar tegas namun jauh dari kesan sarkas.

Apa yang kukatakan malam itu?’

“Jung Yein.” Jungkook membalikkan tubuhnya menatap punggung Yein—sama seperti yang gadis Jung itu lakukan saat ia memunggunginya.

“Kau menyukaiku ‘kan?” Jungkook berucap seakan menuntut Yein mengingat kembali perkataannya pada malam itu. Yang ironisnya tidak Yein ingat karena alkohol menguasai kesadarannya.

‘A-apa?!’

“Aku menyukaimu, Yein-a.”

Jungkook mendengus saat Yein membalikkan badan, membuat keduanya bertatapan. “Bagaimana? Apa kau mau kita berpisah? Bersamaku sudah tidak semenarik sebelumnya ‘kan?” lanjutnya dengan senyum dipaksakan.

“Apa maksud Sun—”

Ah iya…bukankah alasanmu menjadi selingkuhan Jungkook sunbae sebelumnya karena merasa bosan dengan hidupmu, Jung Yein? Lalu apa sekarang?’

Suara bel pertanda berakhirnya jam makan siang mengisi kesunyian yang tercipta. Yein dan Jungkook refleks menoleh pada speaker yang terpatri di atas pintu besi. Saat Yein mengalihkan pandangan, manik karamelnya terkunci pada milik Jungkook yang sudah lebih dulu memandangnya.

“Kutunggu jawabanmu sepulang sekolah di sini, Jung Yein. Apapun jawabanmu—entah kau ingin berpisah atau tetap bersamaku—aku akan menerimanya.”

***

Bel tanda berakhirnya kelas sebelumnya tidak pernah membuat jantung Yein berdetak abnormal seperti ini.  Yeah, itu karena bel berakhirnya kelas kali ini sebagai pertanda keputusan apa yang akan diberikannya pada Jungkook. Separuh harinya di sekolah Yein habiskan untuk melamun. Bahkan Park ssaem sempat menanyakan apa Yein sakit—bukannya menegur karena predikat Yein sebagai siswi teladan dan jarang melamun saat jam pelajaran. Ini semua karena pilihan yang Jungkook berikan selalu berputar-putar di benaknya. Terutama kalimat pernyataannya.

“Aku menyukaimu, Yein-a.

Yein menangkup kedua belah pipinya yang terasa panas.

Aku merasa senang karena Jungkook sunbae bilang ia menyukaiku.’

 “Yein­-a, kau punya ikat rambut?” Yein terkesiap saat seseorang menepuk pundaknya.

“Eh? T-tidak, Shannon-a. Memangnya untuk apa?”

Kecewa, Shannon mem-poutkan bibir peachnya. “Sehabis ini aku ada kegiatan klub tenis dan aku lupa bawa punyaku.”

“Um…kalau begitu kau pinjam yang kupakai saja.” Yein menunjuk pada kucir duanya.

“Eh? Serius? Um, boleh aku pinjam dua-duanya, Yein-a? Zhou Jieqiong dari kelas sebelah juga tidak bawa.”

“Boleh.” Lekas Yein menarik ikat rambut yang membelah dua rambutnya. “Ini.”

Alih-alih menyambut ikat rambut yang Yein julurkan, Shannon lebih tertarik pada penampilan Yein yang terlihat berbeda. Rambut hitamnya yang lurus, jatuh bebas di punggung dan kedua pundaknya.

“Wah, kau lebih cantik jika rambutmu digerai begini, Yein-a,” puji Shannon.

“Hah? M-masa sih?”

“Serius deh. Kau harus lebih sering menggerai rambutmu, ya? Biar dapat pacar.” Shannon mengedipkan sebelah matanya yang lantas dibalas cubitan di pinggang oleh Yein.

“Aish, dasar kau!”

Shannon tergelak. “Kalau begitu aku pergi dulu, Yein-a. Annyeong!

Annyeong!

Sepeninggal Shannon, Yein menjadi penghuni terakhir kelas 2-1. Meski tempat pertemuan mereka adalah atap sekolah, akan mencurigakan kalau Yein ke sana saat masih ramai murid yang berlalu-lalang saat jam pulang. Sehingga Yein sengaja menunggu di kelas—seperti yang biasa ia lakukan saat akan pulang bersama dengan Jungkook. Yein segera membereskan barang-barangnya ke dalam ransel. Ia takut membuat Jungkook menunggu terlalu lama, terlebih ia tidak bisa mengabari pemuda Jeon itu karena ponselnya masih disita.

Yein baru saja menyampirkan ranselnya saat Song ssaem membuka pintu.

“Ah! Untunglah masih ada orang di kelas. Jung Yein, bisa tolong antarkan kertas absen hari ini ke ruang BP?” Wanita berkepala empat itu berjalan mendekat dan menyerahkan beberapa lembar kertas pada Yein.

“Ah, baik, Ssaem,” sambut Yein sopan. Song ssaem berjalan cepat keluar kelas dan Yein memandang sejenak jam tangannya.

‘Tolong menunggu sebentar lagi, Sunbae’.

Ia berjalan cepat keluar kelas dan menuruni tangga. Jarak Yein tinggal beberapa langkah lagi saat didapatinya pintu ruang BP sedikit terbuka. Tanpa menaruh curiga, Yein segera masuk ke dalamnya. Berjalan menuju rak tak jauh dari pintu, tempat di mana dokumen kelas dua berada. Selesai meletakkannya sesuai folder kelas, Yein berbalik hendak meninggalkan ruangan saat ia mendengar suara yang berasal dari rak bagian belakang. Yein memincingkan matanya, mendapati samar-samar sosok Vernon yang sedang berdiri memunggunginya.

“Ah! Ver—”

Yein tak melanjutkan ucapannya kala pemuda blasteran itu menyampingkan badan bersandar pada rak, buat Yein dapat melihat seorang gadis yang sebelumnya terhalang tubuh Vernon.

“Sampai kapan sih kau mau bersikap seperti itu padaku?” tak hanya wajahnya, suaranya yang cenderung manja juga terdengar familiar di telinga Yein. Tidak salah lagi, gadis itu adalah…

Lee Halla?’

Vernon tertawa dan mengusap lembut surai legam Halla. “Maafkan aku, okay?”

“Dasar! Aku benci kau!” Halla masih merajuk. Gadis itu melipat kedua tangan di depan dada dan mengalihkan wajah ke arah yang berlawanan dengan Yein.

Dan Vernon merendahkan tubuhnya dengan senyum miring terpatri di wajah. “Really? But I love you.

Buat Halla melirik kesal karena pemuda tampan itu sukses merusak pertahanannya. “Love you too,” Halla melingkarkan lengannya di leher Vernon dan mencium bibirnya mesra.

 

‘A-apa ini?’

 

‘Apa itu artinya Halla…berselingkuh dengan Vernon?’

‘Kenapa? Kenapa ia juga mengkhianati Jungkook sunbae?

***

Yein yang masih terkejut, berjalan dengan tatapan kosong. Beribu pertanyaan menyesaki benaknya. Bagaimana bisa?

Bagaimana bisa Halla menyelingkuhi Jungkook?

Jadi selama ini bukan hanya Jungkook, tapi Halla juga?

Sebenarnya di dunia semacam apa Yein hidup?

Kenapa semuanya penuh dengan kepalsuan? Kepura-puraan? Pengkhianatan?

‘Semuanya berbohong.’

Apakah cinta…

.

…memang seperti itu?

“Apakah aku juga?”

Tanpa sadar langkah Yein menuntunnya menuju atap. Yein menghentikan langkahnya dengan napas terengah. Lantas mendapati punggung tegap Jungkook berdiri membelakanginya saat wajahnya menengadah.

Ah, bodoh.

Tidakkah kau sadar juga, Jung Yein?

Sejak awal, sejak Jungkook dan Halla bergandengan dan mengobrol layaknya sepasang kekasih pada umumnya. Awalnya Yein melewati mereka berdua dengan tanpa peduli. Namun beberapa langkah kemudian, ia menoleh. Berharap kalau saja Jungkook juga akan melakukan hal yang sama, lantas memberinya senyuman agar Yein tidak cemburu. Tapi Jungkook tidak. Ia tidak menoleh ataupun melirik pada Yein sama sekali.

Jangan keliru. Sejak awal memang cinta ini…

.

…cinta palsu.

 .

Yein masih mematung di ambang pintu saat Jungkook tidak sengaja menoleh dan menyadari kehadirannya. Ia segera berbalik dan menyunggingkan senyum hangat.

“Ah, kau sudah datang.”

Sejurus sapaan itu terdengar, manik karamel Yein bergulir bersitatap dengan milik Jungkook. Mencari-cari jawaban atas keresahannya dari pancaran iris hazel milik si pemuda. Dan Yein menemukannya. Ia tidak seharusnya di sini. Maka akhirnya Yein putuskan untuk berbalik pergi.

Sejak awal, apa yang mereka lakukan memang salah. Bagaimanapun Yein menjelaskan cerita sesuai versinya, di mata orang-orang Yein tetaplah sebuah boomerang di dalam hubungan Jungkook. Terlepas dari hubungan itu tulus, bertepuk sebelah tangan, atau justru penuh kepura-puraan. Dan sejauh apapun Yein masuk ke dalam hubungan keduanya, sebuah boomerang akan menemukan jalannya kembali ke tempat semula. Begitu pula Yein ‘kan? Tidak seharusnya Yein berlarut pada hubungan terlarang ini. Tapi…

“Jung Yein?” sejurus suara Jungkook menyerukan namanya, Yein menghentikan langkahnya.

…apa Yein yakin ia adalah boomerang yang tidak tahu berasal dari mana? Bukannya justru boomerang yang Jungkook sendiri melemparnya? Karena sejauh apapun masalah pisahkan mereka, toh ia dan Jungkook bisa menemukan jalan untuk kembali ‘kan?

 “Yein-a.”

 

‘…kalau Halla memang mengkhianati Jungkook, berarti aku tidak perlu merasa tidak enak hati padanya. Aku dan Halla, kami berdua sama saja ‘kan?’

“Ada apa, Yein-a?”

Sekonyong-konyong perkataan Jungkook tadi siang kembali terngiang di telinganya.

“Jung Yein, kau suka padaku ‘kan?”

Jung Yein berbalik dan berlari ke arah Jungkook. Seketika ekspresi bingung yang tergambar di paras Jungkook berubah menjadi ekspresi kaget. Jeon Jungkook membelalak saat Yein menarik dasinya dan menyatukan kedua belah bibir mereka.

picsart_09-03-02.38.15.jpg

‘Suka.

Aku suka Jungkook sunbae’.

TBC

.

tyavi‘s little note :

untuk yang nggak ngerti, part init uh cuma kiasan…

Sejak awal, sejak Jungkook dan Halla bergandengan dan mengobrol layaknya sepasang kekasih pada umumnya.

(Jungkook dan Halla berpacaran)

Awalnya Yein melewati mereka berdua dengan tanpa peduli.

(Sebelumnya kan Yein hanya siswi biasa yang suka ngeliat mereka pacaran gitu tapi biasanya aja, masa bodo)

Namun beberapa langkah kemudian, ia menoleh.

(Ini waktu Yein mulai masuk ke dalam hidup Jungkook, jadi selingkuhannya)

Berharap kalau saja Jungkook juga akan melakukan hal yang sama, lantas memberinya senyuman agar Yein tidak cemburu.

(Yein mulai terlena sama hubungan terlarang mereka, mulai ada rasa)

Tapi Jungkook tidak. Ia tidak menoleh ataupun melirik pada Yein sama sekali.

(Ya itu, Yein sadar sama posisinya yang sebenarnya)

Huhuhu maaf ya kalo part ini ngebingunging+ ngebosenin (Gaya penulisannya juga aneh karena jujur aja sebulanan kemaren nggak nulis lagi heuuuu, kemampuan menulisku pergi kemanakah engkau????). Emang sengaja mau mainin (?) perasaan mereka di sini. Dan tuh si kookie ngaku setelah curhat sama calon kakak ipar. Kayanya dia emang bingung gitu sama perasaannya, belom sadar kalo suka juga sama Yein. Dan endingnya, iyesh, mereka emang cipokan /bah bahasanya/ dan kali ini Yein yang mulai duluan. Ya Yein udah nggak sepolos pas di chapter pertama sekarang wakakak.

Dan tyavi mau minta maaf atas updatenya yang terlambat banget huhu jujur aja sekarang semakin parah karena aku kuliah+kerja, dan sebenernya sempet galau banget chap ini mau diapain (jangankan diapain, sempet mau give up nulis dan tutup blog juga kok huhu T^T untungnya aku udah terlalu cinta sama series ini). Iya kok dari awal udah punya kerangka cerita tapi masih kurang greget aja. Pokoknya tyavi minta maaf sebanyak-banyaknya /sungkem/ dan berterima kasih juga sebanyak-banyaknya sama readers yang masih mau baca dan mengikuti series ini. Apalagi buat yang mau meluangkan waktunya buat komen huhu makasih banget maaf molor banget balesnya heu. Thankchu buat semuaaa~~~

(tumben tyavi bikin note panjang banget uhuq)

Perumpamaan boomerang berasal dari quotes ini:

“I’m boomerang, no matter how many times you throw me, I’ll find a reason to comeback to you.”

 

Advertisements

Author:

Jung Hamji | 97Line | RNA

11 thoughts on “KisSin [Chapter 4]

  1. Ke mana kantukku? Hilang karena dapat notif kissin update lol..
    Rate 17 banget ni kak, perselingkuhan everywhere. Jangan ada yang niru ya teman-teman dan adik-adik wkwkwkw..
    Dari respon chanu kayaknya kalau jungkook ngaku dia suka Yein gapapa ni, tapi kalau tau adiknya jadi selingkuhan? Kakak mana yang gak ngamuk habis-habisan? Wkwkwkw.
    Next kak next next next nexttttttttt

    Like

  2. Ini kisah terlarang yang bikin baver iih😢😢
    Malam minggu ujan2 pula pas banget jadinya suasananya…. duh dek selingkuh. Diselingkuhi tuh sakit banget😭😭😭/experience/ tapi jadi selingkuhan? Dilemma emang…. mau seneng,karena trnyata cinta gak niatnya malah berujung cinta bneran. Tapi kok jahat ngambil hak orang lain…😂😂 tapi kok si pasangan benerannya(jk-halla) sama2 nikung,hadeeeh😖😖😖

    Bagus bagus👍👍👍
    Jjang!! Pkoknya sehat selalu authornim utk berkarya😄😄

    Like

  3. Huahhh. Udah lama banget gak baca ff ini, untunglah masih ada yang diinget dikit-dikit dan wow, akhirnya mereka bisa dikatakan bersatu dan hemm. Yein yang nyosor duluan loh. Ihhh wowww.

    Like

  4. waoooow..ternyata oh trnyta, vernon ma halla??
    jantung ni berpacu cepat baca chp ini…chanwoo gk nyadar ya abis dicurhatin si kookie..syukurlah
    kirain yein mau pisah ama kookie, tambah berpacu ni jantung baca di detik² terakhir..dan akhirnya mereka kisseu😱😍😍😍

    daebakk, ditunggu lanjutnanya..keep writing..
    sy bingung kak, ch ini diprotec tp pas buka link ch 4 kok bisa lngsung kebukak yak😮😮😮😮😮

    Like

  5. Terimakasih sudah menemani aku belajar biologi :”) serius deh kak, chapter ini itu bikin kaget :”) cuman bisa “OH! Okay kuki” sisanya bahasa kasar semua wkwkwk

    Pokoknya gatau lagi deh, bingung. Mana belum selesai ngerangkum dan ini udah mendekati jam 12 malam hzzzzz

    Ditunggu selalu update-annya dan semangat kak tat! Semoga gak kena webe lago yaaa 😁

    Like

  6. sebenernya udah baca dari awal ini keluar, dan baca malem2, dan aku nangis pas selesai baca :’D maafin baru sempet komentar hehe

    ini chapter ternista/? sepanjang perjalanan kissin, serius 😥 aku belum (janganjangan) pernah jd selingkuhan, tp baca ini ikutan nyeseknya 😦

    jungkook yg mendua ternyata jg diduakan halla, dan yg tau malah selingkuhannya jk sendiri. terus jungkook disini jg keliatan ngenesnya huhu hamdalah ada ma baby chanu wkwk

    selalu, aku suka bahasanya kissin, asik, nagih hehe semangat kak, semoga gakena wb egen wkwk aku menunggu kissin selalu mwa :*

    oh ya, yein akhirnya berani mulai dan buat juki terkejutkejut, kusuka!!!

    Like

  7. Pelan-pelan-pelan .. aku tuh bacanya gitu, biar ga cepet habis..

    Tapi kak jangan sampe tutup blog dan pensiun nulis, jangan plis..
    Cerita ini itu sudah ku tunggu-tunggu.

    Like

  8. Haaahhh lega rasany tau yein suka sma kookie, waktu bagiann yein bimbang tadi ampir aja di lewat bacanya, ekhhh ternyata ngga,piuhhhhhhh
    lanjut y thor SEMANGAT 🙌🙌

    Like

  9. kapan lanjutannya eonni…. duhh suka banget deh… berawal dari selingkuhan trus jadi cinta beneran…. huaaa 😭
    aku bahagia benget ketemu sesama JeongIn disini….. 😍

    ditunggu lanjutannya eonni….
    suka ceritannya…

    Like

  10. Kyaaaaa… tiap kali aku baca ff ini kok aku juga ikut melayang ya? Aku suka bahasa yg dipake d ff ini. Ringan tp nggak trkesan murahan(?)
    Tapi syang bgt update nya kayaknya bakal lama banget. Ditunggu lanjutannya

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s