Posted in Drama, LFI FREELANCE, Oneshot, PG-15, Sad

[Freelance] Broadminded

PhotoGrid_1470497754836

BROADMINDED

Author : Alvianit96

Main Cast : Lee Mijoo / Kim Namjoon

Other Cast : Seo Jisoo/Jung Hoseok/Mark Tuan

Genre : Drama/sad

Length : Oneshoot

Rating : PG-15

Disclaimer :plot and story are mine.the casts are their parent’s and agency’s.

(I write this after watching Sheila on7-Lapang Dada)

*Happy reading,sorry for typo anywhere*

 

Pesta kelulusan telah berakhir tapi  Mijoo, Namjoon, Hoseok pun Jisoo masih bertahan di atap sekolah. Tempat dimana awal kisah ke empatnya  dimulai. Menjadi sejarah yang takkan terlupakan dalam hidup mereka. Tak ada lagi seragam,tak ada lagi keributan harian di kelas. Kehidupan yang nyatalah yang ada di depan mereka.

    Seo Jisoo jelas akan masuk Seni Rupa karena kegilaannya menggambar. Bahkan isi pikiran ketiga sahabatnya pun bisa ia gambar. Hoseok tengah bersiap menjadi idol setelah berjuang sebagai trainee selama 4 tahun. Bersyukur pada Namjoon yang punya otak di atas rata-rata pula sabar mengajarkan ketertinggalan Hoseok yang semakin sering latihan beberapa bulan terakhir ini.

     Mijoo pun akan merealisasikan keinginan orangtuanya,meneruskan bisnis ayahnya sebagai anak tunggal,terlepas dari dia mau atau tidak.Meski harus ada perang dingin karena keinginan orang tua yang tak sesuai dengan kelebihan Mijoo dalam bidang dance.Akhirnya mufakat untuk Mijoo tetap bisa terus berlatih dance juga kuliah sesuai dengan ketentuan Presdir Lee,ayahnya.

      Oh! Bagaimana Namjoon?

“Besok aku berangkat ke Amerika?”3 kepala yang tadinya memandang langit lepas serentak berpaling kepada Namjoon.

“Aku tidak heran kau akan keluar negeri. Otakmu luar biasa Namjoon-ah. Chukhahae.”Hoseok menanggapi positiv dan menunjukkan kedua jempolnya.

Geunde,kau tidak pernah mengatakan apa-apa. Ku fikir kau hanya akan memilih SKY.”ujar Jisoo heran.

“Aku hanya akan memberitahu pada kalian sesuatu yang sudah pasti.”Namjoon menjawab keheranan Jisoo.

Geureom,chukhahae. Kau tidak boleh melupakan kami tentu saja. Ah,Hoseok-ah kau perlu memberinya tanda tanganmu sekarang sebelum besok-besok jadi susah untuk bertemu.”usul Jisoo diikuti tawa yang lainnya. Hoseok pun mengangguk setuju.

Eohkau benar. Hey Kim Namjoon,kau mau aku tanda tangan dimana? Atau jadi tato saja? Hahah.”

“Beri aku tanda tanganmu di atas album debutmu.”jawab Namjoon.

“Aku juga mau kalau begitu.”Jisoo pun mengacung bersemangat yang kemudian diiringi tawa Hoseok dan Namjoon.

      Sementara Mijoo terus memandang langit. Di antara mereka berempat, Mijoo dan Namjoonmemiliki hubungan lebih dari sekedar teman. Mijoo yang hanya diam sangat mencolok di mata Jisoo karena berbeda dengan Mijoo biasanya.

“Mijoo-ya? Kau sakit ya?”Jisoo membuyarkan lamunan Mijoo.

“Eo? Aniyo. Aku sehat kok.”Mijoo tersenyum kaku. Matanya bertemu dengan milik Namjoon namun segera dialihkannya.

        Mijoo tahu semuanya. Namjoon memilih kuliah di luar negeri karena tak ingin melihat ayah dan ibunya terus bertengkar.  Sebelum ia menyaksikan ayah ibunya bercerai,ia lebih memilih pergi menjauhkan diridari orangtuanya.

“Mijoo-ya”,Namjoon memanggilnya. Mijoo menoleh dan mendapati Jisoo dan Hoseok yang sudah pergi dari atap. Tertinggal ia dan Namjoon bernaung langit malam.

Mianhae.”lanjut Namjoon

“Tidak perlu minta maaf.”Mijoo hanya bisa memandang langit. Berharap segala onak yang bersemayam dalam hatinya lenyap ditelan kegelapan malam. Pertengkarannya dengan ayahnya,mimpinya,cintanya semua terasa berat bagi Mijoo. Menyesakkan seolah tak ada yang berpihak padanya. Seolah dia tak pantas meraih apa yang ia inginkan.

     Namjoon memegang kedua bahu Mijoo. Mengarahkan gadis itu agar menatapnya. Hanya saling tatap lalu Mijoo melepas emosinya. Airmata tumpah bersama perasaan kehilangannya. Mengapa ia merasa Namjoon takkan pernah kembali?

“Jangan menangis,Lee Mijoo! Kau bukan gadis lemah. Seberat apapun itu,percayalah aku selalu mengharapkan yang baik untukmu. Meski tidak di sampingmu.”Namjoon mengusap air mata Mijoo yang terus mengalir untuk kemudian mencium gadisnya. Menenangkan,menyatukan perasaan keduanya.

“Berjanjilah untuk kembali.”pinta Mijoo. Namjoon menyerahkan sebuah kalung berbandul cincin yang terukir nama ‘Kim NamJoon’ pada Mijoo.

“Ambil ini. Kembalikan padaku saat aku kembali. Jika aku tidak kembali kau boleh membuangnya.”terang Namjoon. Mijoo buru-buru menggeleng.

Aniyo. Kau kembali ataupun tidak kembali,kau hidup atau kau mati,aku akan menyimpannya.”ujar Mijoo yakin.

Saranghae Mijoo-ya”,

nadosaranghae”,

Malam itu,langit malam di penghujung musim dingin menjadi saksi janji Namjoon pada Mijoo,juga ciuman perpisahan keduanya.

ㅂㅁ

5 tahun kemudian

      Mijoo menyesap secangkir teh hijau. Akhir-akhir ini pikiran gadis itu cukup terganggu oleh keegoisan ayahnya lagi.

Lagi.

Setelah pemaksaan fakultas dan jurusan yang Mijoo ambil,lalu memegang kendali perusahaan,kini perjodohan. Mijoo sempat berfikir untuk bunuh diri jika saja ia tidak ingat,ia masih memilik Seo Jisoo,karibnya,juga Hoseok yang sekarang lebih sering muncul di televisi, pula Namjoon.

 Ooh! Namjoon!

    Hatinya seperti ditumbuhi durimenunggu Namjoon 5 tahun. Benar-benar menunggu karena tak ada satu manusia 2 setan di antara orang-orang yang mengenal Namjoon yang tahu kabar laki-laki itu. Jisoo maupun Hoseok hanya mengalihkan pembicaraan jika Mijoo bertanya tentang Namjoon. Salahkah Mijoo menanyakan kekasihnya? Bahkan Mijoo masih setia pada janjinya.

Mijoo tidak suka mengingkari janji sebagaimana yang dilakukan ayahnya. Menyakitkan memang dikhianati janji,maka dari itu Mijoo berusaha untuk menepati janji pada Namjoon.

“Kapan pun itu kau datang aku akan tetap menunggu” batin Mijoo dalam lamunannya di pagi itu. Hingga pintu kamarnya dibuka tanpa diketuk,membuat Mijoo terkesiap.

“Abeoji?”

“Bersiaplah,kita akan melakukan pertemuan dengan keluarga dari California.”senyum licik tuan Lee samar. Tapi,Mijoo adalah anaknya yang sudah bisa menebak isi kepala ayahnya.

Abeoji,aku menolaknya. Aku..aku punya Namjoon.”

“Aku tidak peduli dengan anak dokter yang telah hancur rumah tangganya!”ucapan tajam ayahnya membuat Mijoo merasa tertusuk panah.

Abeoji!! Apa belum cukup skenario hidupku ini? Sekali saja,bisakah kau membiarkanku memilih?”Mijoo sudah banjir airmata. Sementara ayahnya tidak menjawab dan meninggalkannya. Tak peduli rengekan pun tangisan Mijoo.

    Mijoo limbung. Membenamkan kepalanya pada pinggiran tempat tidur. Ia hanya bisa menangis. Ia kembali teringat janji ayahnya yang mengizinkannya tetap bisa mengembangkan bakat dancenya.

    Jangan bayangkan Mijoo bisa latihan setelah jam kuliahnya berakhir. Bahkan melihat studio pun tak pernah. Penguntit yang tak lain adalah anak buah ayahnya ada dimana-mana.

“Mijoo-ya…”suara seseorang membuat Mijoo berhenti menangis. Ia tahu itu Jisoo.

“Apa abeoji menghubungimu untuk membujukku?”

“Maafkan aku,Mijoo. Aku tahu ini berat bagimu. Tapi,Namjoon-“

“Apa? Apa kau mau bilang Namjoon sudah melupakanku? Apa kau mau bilang sebaiknya aku melupakan Namjoon dan menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak aku kenali?”Mijoo benar-benar geram. Kenapa sekarang Jisoo juga ikut-ikutan berpihak pada ayahnya.

“Mijoo-ya. Aku hanya tidak ingin kau terlalu tenggelam dalam janji. Aku,kau bahkan Hoseok tak tahu kabar apapun tentang Namjoon,pula-“

“Kau tidak tahu rasanya jadi aku,Seo Jisoo”Mijoo kembali menangis. Tapi kali ini dalam pelukan Jisoo. Jisoo mengelus rambut Mijoo,menenangkan sahabatnya. Jisoo mengenal Mijoo luar dalam. Bahkan tentang ayahnya yang egois,terlebih setelah ibunya meninggal. Tak ada lagi yang membela gadis itu.

“Jangan siksa dirimu dengan ketidak pastian Mijoo-ya. Aku hanya tidak ingin kau mati terkungkung harapan palsu.”

ㅂㅁ

3 bulan kemudian

     Hoseok berjalan terburu-buru. Ia baru saja selesai menghadiri acara fansign di Daegu dan saat ini ia sudah berada di restoran sebuah hotel bintang lima. Di hadapannya,karibnya yang selama 5 tahun ini seperti teroris yang bersembunyi di negeri antah berantah.

“Kau gila. Benar-benar gila,Namjoon”,Hoseok kembali membuka botol air mineralnya. Meminumnya terburu-buru. Menghela nafas. Tetap awas dengan sekitar kalau-kalau ada orang yang mengenalinya.

Dia ini idol yang sedang naik daun.

“Aku memulai semuanya dari nol lagi bersama ibuku. Aku hanya butuh waktu untuk bisa kembali bertemu kalian dalam keadaan yang lebih baik.” Bahkan di saat seperti ini,seorang Kim Namjoon masih bisa memberikan seulas senyum berlesung pipit yang semakin membuat Hoseok kesal.

Ya! Ku fikir kau sudah mati dan mayatmu mungkin tenggelam di Samudera Pasifik. Kau benar-benar mengkhawatirkan.”

“Aku menghadiri konsermu di New York beberapa waktu lalu.” Lagi. Tersenyum lagi. Sementara keadaan dia seharusnya menangis membanjiri kota Seoul,jika ia tahu apa yang akan terjadi esok hari.

“Lupakan itu. Kau punya janji apa dengan Mijoo?”,Hoseok yang periang terlihat sangat serius kali ini. Ia benar-benar kesal dengan Namjoon. Jika saja Namjoon bukan sahabatnya-dan jika saja ia bukanlah seorang idol-,Hoseok benar-benar ingin menghajar sampai babak belur wajah makhluk di hadapannya ini.

“Aku memintanya menunggu..”

“Besok dia akan menikah.” Biar bagaimanapun,Namjoon harus tahu kenyataan ini. Itulah yang membuat Hoseok sedari tadi ingin menghajar sahabatnya ini. Hoseok tahu seberapa besar rasa sayang Namjoon untuk Mijoo,sehingga ia pun tahu apa yang ia sendiri rasakan pada teman di hadapannya ini.

Kecewa? Tentu saja. Namjoon tanpa kabar. Berakhir gadis yang berarti dalam hidupnya menikah dengan orang lain. Hoseok juga sakit hati sebenarnya.

ne?” Namjoon hanya ingin memastikan kalau pendengarannya tak salah menangkap.

“Aku kecewa padamu,Namjoon. Kuharap kau tidak menghancurkan hari pernikahannya. Meskipun dia masih menunggumu. Aku hanya tidak ingin wajahmu babak belur oleh algojo ayahnya.”

Hoseok pamit setelah memberikan Namjoon album debutnya plus bubuhan tanda tangannya yangbtelah ia janjikan dulu. Ia masih punya jadwal di salah satu stasiun televisi. Meninggalkan Namjoon dalam keheningan. Rasa sepi itu muncul lagi. Perceraian kedua orang tuanya yang menyakitkan sudah ia lupakan. Kini ia di hadapkan dengan pernikahan Mijoo. Gadis yang ia harapkan. Gadis yang menjadi tumpuan hidupnya. Gadis yang jika tidak karenanya,mungkin Namjoon benar-benar seperti kata Hoseok tadi,tenggelam di Samudera Pasifik.

ㅂㅁ

  Jisoo tengah mencuci piring ketika bel apartement-nya berbunyi. Sarung tangan ia lepas lalu bergegas menbuka pintu. Mungkin Kihyun,kekasihnya yang ingin mampir sebentar,pikirnya mengingat hari ini Kihyun belum menghubunginya sama sekali.

  Yang bisa dilakukan Jisoo hanyalah ternganga. Ia yakin baru selesai menyuci piring. Bukan bangun tidur.

Ini Namjoon.Si Anak Hilang.

“Apa kau akan terus menganga seperti itu,nona Seo?”Namjoon mengayunkan tangannya menyadarkan Jisoo. Seketika ekspresi Jisoo berubah panik. Bergegas menarik Namjoon masuk dan menutup pintu.

“Kau benar-benar gila,Kim Namjoon.”Jisoo mengelengkan kepalanya tak percaya.

“Ikatan batinmu dengan Hoseok sangat kuat rupanya. Respon kalian sama ketika melihatku. Aku memang gila.”jawab Namjoon. Sementara Jisoo tengah mengambilkan jus jeruk dan menuangkannya ke dalam gelas untuk Namjoon.

“Besok Mijoo menikah dan kau muncul ke permukaan bumi sehari sebelum pernikahannya. Sebenarnya apa yang ada dalam otak ber-IQ 149 milikmu itu,Kim Namjoon?”

“Aku berencana mengirimkan bom kue tart di acara besok.”

YA!!”

“Kau tidak benar-benar berpikir aku akan melakukannya,kan?”

“Kim Namjoon… apa kau tidak berfikir betapa beratnya hidup Mijoo selama 5 tahun ini. Ibunya yang meninggal,dia bahkan tidak pernah menyentuh studio untuk mengembangkan bakatnya. Ayahnya ingkar janji dan-“

“Aku tidak ingkar janji. Aku kembali.”potong Namjoon cepat.

“Kau ini. Aku belum selesai bicara. Setiap langkahnya selalu diikuti penguntit. Ditambah lagi dia harus menunggu,mengharap janji dari laki-laki tidak bertanggung jawab sepertimu. Apa kau baru bangkit dari mati suri,eoh?”,Jisoo benar-benar kesal. Tapi,ia juga lega bisa menumpahkan isi hatinya. Terlebih melihat Namjoon dalam keadaan utuh juga membuatnya tenang. Masalah keluarga Namjoon memang sudah menjadi rahasia umum. Mengingat itu,Jisoo jadi merasa bersalah karena telah membentak sahabatnya sendiri.

“Kau tentu tahu masalah keluargaku,nona Seo.”

“Aku tahu itu. Maafkan aku terlalu terbawa perasaan. Tapi,aku benar-benar ingin mendorongmu dari balkon apartement-ku,Namjoon-ah. Kau baik-baik saja bukan?”Jisoo menatap iba sahabatnya. Bahkan di saat sulit seperti ini,Namjoon masih bisa tersenyum. Jika saja Jisoo berada di posisi Namjoon,ia lebih memilih menghilang di Samudera Pasifik.

“Aku baik-baik saja.Tidak perlu meminta maaf. Aku memang salah. Harusnya aku tetap memberitahu kalian apakah aku masih hidup atau sudah dimakan hiu di lautan Pasifik. Hey,jangan menatapku iba. Aku sudah kenyang tatapan itu dari ibuku.”Namjoon menoyor pelan kening Jisoo. Jisoo hanya bisa manyun. Kembali menatap iba Namjoon.

“Apa kau akan datang besok?”

“Tentu saja. Aku ingin Mijoo tahu aku menepati janjiku. Meskipun aku tidak bisa memilikinya lagi.” Ada nada penyesalan di akhir kalimat itu yang bisa dirasakan Jisoo.

Sore itu,Jisoo kembali melihat derita anak manusia yang lainnya. Belum cukup derita Mijoo,ternyata Namjoon memiliki hidup yang tak jauh beda sulitnya. Jisoo bahkan merasa bersalah karena tak membiarkan Mijoo menunggu. Ia hanya bisa menepuk bahu Namjoon. Menyalurkan kekuatan.

“Ketulusanmu adalah hadiah terbesar untuk,Mijoo.”

ㅂㅁ

     Pesta yang meriah. Hampir semua kolega Tuan Lee diundang dalam pernikahan Mijoo. Teman-teman Mijoo pun tak luput dari daftar tamu acara pernikahan anak salah satu konglomerat terkenal. Lebih-lebih Jung Hoseok,sang idol yang juga sahabat karib Mijoo membawa teman segrupnya sebagai hiburan untuk acara mewah itu.

     Mark Tuan. Laki-laki blasteran Taiwan-Amerika yang telah lama tinggal di Korea itulah calon suami Lee Mijoo, yang hanya dalam waktu kurang dari 1 jam,akan sah sebagai suaminya.

    Ia baik. Tak seperti dugaan Mijoo-seorang chaebol manja dan licik- di awal pertemuan. Meski ia lebih tampan dari Namjoon,tapi pendekatan 3 bulan dengan Mark tak lantas membuat hati Mijoo tergetar untuk jatuh cinta. Kemanapun Mark mengajaknya pergi,hanya Namjoon yang memenuhi isi kepalanya.

Begitu pula hatinya.

     Mark lebih dari sekedar tahu tentang sejarah percintaan Mijoo. Siapa lagi kalau bukan Jisoo yang menceritakannya? Tapi,ia bisa apa jika keegoisan orang tua lebih mendominasi hubungannya dengan Mijoo? Mark sendiri sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia bisa terima jika Mijoo tak mencintainya. Karena cinta itu memilih,bukan memaksa.

    Mijoo sekali lagi menatap pantulan dirinya di cermin. Kalung pemberian Namjoon ia bawa. Rasa sesal menyeruak batinnya.

“Mijoo-ya,kau sudah siap?”,tanya Jisoo,menghampirinya. Mijoo mengangguk lalu menyimpan kembali kalung itu dalam tas.

*

*

    Namjoon baru tahu rasanya sesakit ini menyaksikan gadis yang paling dicintainya kini berdiri di altar dengan laki-laki selain dirinya. Mimpinya untuk berdiri di altar bersama Mijoo harus ia kubur dalam-dalam. Sebisa mungkin ia membuang mimpi itu ke planet lain. Ia tidak mungkin menyakiti Mijoo lagi. Baginya cukup untuk sekedar tahu bahwa Mijoo benar-benar menunggunya.

    Hoseok merangkulnya ketika sang mempelai pria mencium kening mempelai wanita. Namjoon sudah berjanji tak akan meneteskan airmata penyesalan setetes pun. Ini salahnya. Ia harus bisa menerima.

Flashback

    Angin di awal musim gugur membawa hawa dingin yang kering. Mijoo tetap menautkan jemarinya pada milik Namjoon meski pandangannya mengedar ke segala arah. Keduanya masih bersantai di atap sekolah sembari menanti Jisoo yang tengah mengikuti ekskul melukis. Hoseok bahkan tidak masuk karena waktu debutnya yang semakin dekat.

“Apa mimpimu, Namjoon?”tanya Mijoo tiba-tiba.

“Kenapa kau bertanya?”alih-alih jawaban,yang didapatkan Mijoo malah sebuah pertanyaan.

“Jawablah. Pertanyaan yang wajar bukan? Sebentar lagi kita akan lulus dari SMA dan aku tidak pernah sedikitpun  tahu tentang mimpi seorang yang jenius sepertimu.”Mijoo menatap kekasihnya yang kini tertawa pelan.

“Apa gunanya mimpi jika keadaan keluargaku tak ada bedanya dengan Titanic yang baru saja menabrak gunung es? Aku takut untuk sekedar bermimpi di malam hari ketika yang kudapati hanyalah tangisan ibuku setiap malam ayahku pulang. Bahkan mengharap keluargaku kembali bahagia pun aku tidak berani.”Namjoon tersenyum pahit membayangkan apa saja yang telah disaksikannya 5 tahun terakhir ini. Ayahnya yang keluar masuk hotel dengan gadis-gadis berdandan menor pun,menjadi hal yang biasa baginya ketika ia pulang malam dari tempat kursusnya dan melewati pusat kota.

“Namjoon-ah,aku-aku tak menyangka selama ini kau dalam keadaan yang sulit. Kufikir kau baik-baik saja. Maaf jika pertanyaanku membuatmu bersedih.”Namjoon kini beralih menatap kekasihnya dan mengelus lembut rambut Mijoo. Membawa helai-helai yang menutupi mata gadis itu ke belakang telinga.

“Jangan menatapku seperti itu.”

Hening. Hanya deru nafas berat Namjoon yang terdengar mencolok. Seolah ia melepas sebagian bebannya.

Mijoo mempererat tautan jemarinya pada milik Namjoon.

“Kau harus tetap bermimpi,Namjoon-ah. Kau punya aku,Jisoo,juga Hoseok yang mendukungmu. Kau jangan khawatir.”kali ini tatapan Mijoo pada Namjoon berbinar-binar. Meyakinkan laki-laki itu untuk tetap berharap dan bermimpi setinggi mungkin.

Namjoon memeluk gadisnya. Mijoo membalas pelukan kekasihnya.

“Aku sudah tahu apa mimpiku.”ujar Namjoon masih memeluk Mijoo.

“Apa itu?”

“Memiliki keluarga bahagia…”Namjoon melepas pelukan beralih menatap Mijoo dalam.

“Bersamamu.”

Flashback end

Moment yang paling ditunggu pun tiba. Sesi lempar bunga pengantin wanita untuk menularkan kebahagiaan suatu pernikahan. Dalam harapan semoga si orang yang mendapatkan bunga itu pun segera menikah dengan kekasihnya,atau yang tak memiliki kekasih,segera menemukan pasangan lalu menikah.

    Sebagai idol papan atas, Hoseok dan teman-teman grupnya,Bangtan Boys ikut berpartisipasi berdiri di tengah aula menunggu si mempelai wanita melempar bunganya. Tak lupa ia menggeret Namjoon,juga Jisoo yang datang bersama Kihyun,kekasihnya. Beberapa teman SMA dan teman kampus Mijoo yang belum menikah pun ikut berpartisipasi.

HAP!!!

Satu tangan kanan dari seorang laki-laki tinggi yang berdiri di barisan depan berhasil menangkap bunga tepat setelah sang mempelai wanita melemparnya. Kedua mempelai pun berbalik untuk melihat siapa si beruntung yang menangkap bunga itu.

Langit seakan runtuk tepat di atas kepala Mijoo,si mempelai wanita. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Haruskah ia berlari memeluk laki-laki yang ditunggunya 5 tahun ini? Haruskah ia berpura-pura tidak tahu bahwa laki-laki yang menangkap bunganya itu adalah kekasihnya,Kim Namjoon yang menghilang selama 5 tahun?

Nafasnya tercekat mendapati Kim Namjoon berdiri menatapnya seakan memberitahu bahwa “Aku kembali”. Mijoo tak akan berhenti menatap laki-laki itu jika Mark tidak berbisik menyadarkannya.

“Kau mengenalnya?”tanya Mark berbisik.

“Dia Kim Namjoon,kekasihku.”

ㅂㅁ

Mijoo masih menangis dalam pelukan Jisoo. Mark memilih menunggu di luar sementara Jisoo menenangkan Mijoo. Acara telah berakhir 2 jam yang lalu menyisakan mempelai wanita yang terluka dalam perihnya ikatan pernikahan yang tak pernah diinginkannya.

Satu hal yang ia sesali. Ia tak pernah bisa mewujudkan mimpi Namjoon. Memiliki keluarga yang bahagia bersamanya. Padahal ialah gadis yang memaksa Namjoon untuk bermimpi.

“Kau harus bisa menerima ini,Mijoo-ya.”bujuk Jisoo. Lalu gadis itu menyerahkan surat dari Namjoon pada Mijoo.

“I-ni apa?”

“Surat dari Namjoon…”Jisoo sendiri mengusap air matanya. Mengingat Namjoon yang lebih dulu pamit padanya.

Mijoo membuka surat itu.

 

Untuk Lee Mijoo

    Terima kasih kau telah menjaga diri baik-baik selama 5 tahun ini. Aku sadar diri,Tuan Lee tentu saja tak menginginkan putri semata wayangnya tersentuh keluarga yang hancur sepertiku.

    Ayahku berprestasi itu dulu. Dan sempat dibanggakan Tuan Lee sebagai dokter paling hebat di seantero Korea,karena pernah menyelamatkan ibumu yang sekarat. Ya,dulu sebelum akhirnya ayahku menghancurkan sendiri nama baiknya dan keluarganya.

    Aku telah memulai hidup baru dengan ibuku. Juga mimpi baru….. jangan pikirkan mimpiku di atap sekolah dulu. Ingatlah! Dirimu adalah Nyonya Mark Tuan,bukan Nyonya Kim Namjoon. Terlepas dari kau suka atau tidak.

    Maaf aku tidak bisa membalas penantianmu. Aku kembali hanya untuk menepati janji bahwa aku kembali. Kembali untuk pergi lagi. Aku akan menetap di Amerika. Selamanya. Dengan ibuku. Membuka lembaran baru.

Mijoo-ya…

Tetaplah menjadi wanita yang kuat. Mark…ia bukanlah laki-laki yang buruk. Kalian bisa saling bersandar dan berbagi.

Kalung itu…tak lagi berarti. Kau bisa membuangnya karena aku telah menepati janji, akan sangat sulit untuk mengembalikannya padaku.

Aku pamit. Semoga kita masih bisa bertemu suatu hari nanti….

Semoga bahagia…

 

Old Story

Kim NamJoon

 

*NOTES*

Hai…Alvianit96 datang buat memperbaiki cerita2ku yang akan datang😊😊

Mungkin sedikit atau lumayan norak ceritanya/mian/ tapi apalah daya aku yang hanya bisa Membuat coretan seperti ini. Maafkan jika menodai LFI dengan cerita gak mutu macam ni.😂😂😂😂😂

Sesungguhnya aku hanyalah gadis biasa yang semata-mata ingin menyalurkan hobi yang tertunda.😇😇😇😇

Kenapa judulnya Broadminded? Ini adalah nasihat untuk diriku sendiri sebenarnya,harus lapang dada melepas sesuatu/seseorang yang bukan milikku😊/abaikan curhatan ini🔫🔫

Untuk yang sudah sempat membaca jangan lupa meninggalkan jejak berupa kritik dan saran agar aku semakin bisa memperbaiki cerita-ceritaku ke depannya.🙇🙇🙇🙇🙇🙇

*malu.banget sama yang lebih muda-tapi udah senior- yang punya plot cerita keren2😔😔😔 lebih lebih yang lebih dewasa umurnya dari aku,ceritanya pada cakep2 euy😉😉👍👍👍👍

Jigeum kkaji Alvianit96…. Terima kasih bantuan kalian. Saranghaeyo  *lempar hateu*❤❤❤❤❤

Advertisements

Author:

Halo Lovelinus!^^ Senang membaca fanfiksi atau membuat fanfiksi dengan karakter Lovelyz? Blog ini merupakan blog yang berisi fanfiksi-fanfiksi dengan karakter utama Lovelyz ^_^

3 thoughts on “[Freelance] Broadminded

  1. Kasian Mijoo ama Namjoon,hidupnya di cerita ini complicated banget 😥
    Tapi emang terkadang ngga semua apa yang kita pingin jadi kenyataan,jadi harus bisa lapang dada~ ~..~
    Saran dariku mungkin tanda bacanya lebih diperbaiki lagi,soalnya agak mempengaruhi ama jeda pas baca..hehe…
    Semangat nulis ya~ ^^ (o iya aku bingung mau manggil Alvi atau Ulfa,soalnya uname di twittermu nama depannya Ulfa x’D)

    Like

    1. Iya kak…. gak hanya dalam dunia ff. khidupan nyata pun bisa jauh lebih complicated.😧😧
      Oke kak,akan ku perbaiki tanda bacanya/ketahuan nilai bahasa indo nya jelek/😁😁

      Alvi/Ulfa semua namaku kak. Nyamannya ka raissa aja mau manggil apa. Gamsahamnida😊😊

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s