[Freelance] Cold Farewell

04d6b8840a9687b8ba35fd104b782e70

COLD FAREWELL

Author                        : Raissa Pearl

Cast                 : Yoo Jiae, Lee Soojung (Lovelyz), Min Yoongi (BTS)

Genre              : Friendship, Angst

Length                        : Vignette (1726 words)

Rating             : G

Disclaimer       : The characters are owned by their agencies. The story-line is mine, but the picture isn’t. Plagiarizing is no no no~ Better read previous stories before read this (Feeling – Let’s Be Friends)

 

“ This coldness would not bother me as much as the sadness I have because of you now.”

 

“ Dingin…”

Yoo Jiae bergumam ketika melihat suasana kota Seoul di bulan Februari ini melalui kaca jendela mobilnya. Salju menutupi hampir sebagian besar jalan dan tempat yang dia lewati. Hembusan udara dingin di luar sana pun seperti mampu menembus kaca, membuat si gadis berkulit seputih salju tersebut merapatkan mantel merah mudanya.

Bulan depan, Jiae akan lulus dari bangku SMA. Semua murid kelas 3 sepertinya pasti sedang merencanakan tentang universitas yang akan mereka masuki. Tapi Jiae tidak perlu repot-repot memikirkannya. Ayahnya sudah merencanakan tentang kuliahnya dan Jiae hanya perlu mengurus berkas-berkas yang diperlukan, kemudian datang ke universitas pilihan ayahnya.

Walaupun universitas tersebut bukan tempat yang Jiae inginkan.

Itulah mengapa Jiae datang ke Seoul. Dia baru saja mengurus berkas-berkas untuk keperluan kuliahnya. Tapi selama perjalanan, Jiae tidak tahu apa dia harus menahan rasa dingin atau rasa sedih. Dadanya terasa sesak ketika melihat amplop besar berisi setumpuk kertas telah berada di pangkuannya saat ini.

Jiae kembali menatap ke arah kaca jendela. Mobil yang sedang dibawa oleh supir pribadi keluarganya ini melewati sebuah cafe kecil yang sepertinya tidak asing baginya, membuat mata cokelatnya membulat.

“ Tuan Shim, tolong berhenti dulu.” pinta Jiae pada supir pribadinya. Tuan Shim menghentikan mobil sambil menengok ke belakang. Jiae sendiri mengusap kaca jendela yang berembun, memastikan apa yang dilihatnya benar.

“ Tuan Shim, aku turun di sini saja. Ada teman yang ingin kutemui.”

“ Tapi bagaimana Anda pulang, Nona Yoo?”

“ Aku naik bus saja.”

Setelah mencoba meyakinkan Tuan Shim bahwa dia akan baik-baik saja, akhirnya Jiae turun dari mobil sambil membawa amplop besar yang tadi dipangkunya. Dia lalu berjalan menujucafe yang dilihatnya tadi.

Sebuah cafe bergaya vintage dengan papan nama ‘Happy Cafe’ di atasnya.

Jiae masuk ke cafe tersebutsambil menggigil kedinginan. Matanya tampak mencari-cari keberadaan seseorang di sana, hingga kemudian pandangannya tertuju pada perempuan bertubuh mungil yang berdiri di belakang meja kasir dengan mata kecil yang menerawang.

“ Soojung Eonni!”

Perempuan mungil itu menoleh pada Jiae. Mulutnya terbuka karena terkejut.

“ Yoo Jiae!” perempuan yang dipanggil Jiae sebagai Soojung tersebut cepat-cepat menghampirinya. Mereka berdua lalu berpelukan.

Eonni, aku merindukanmu.”

“ Aku juga. Bagaimana kau bisa ke sini?” Soojung lalu memperhatikan wajah Jiae yang memerah karena kedinginan. “ Uh, di luar sangat dingin. Kenapa kau keluar di saat seperti ini? Duduklah, aku akan membuatkanmu minuman hangat.”

Soojung menuntun Jiae untuk duduk di bangku terdekat, lalu berlari kecil menuju tempat pembuatan minuman. Sementara Jiae sendiri mencoba menggosok-gosok kedua telapak tangannya agar tidak kedinginan.

Kemudian matanya tertuju pada amplop besar yang diletakkannya di meja.

Jiae membuka amplop tersebut. Beberapa kertas menyembul keluar, membuatnya mengeluarkan salah satu untuk dibaca, walaupun sebenarnya dia sudah membacanya berulang kali.

Rasa sesak itu kembali muncul, dan kini Jiae tidak bisa menahan bulir air mata yang mulai menetes perlahan ke pipinya. Membuatnya melupakan rasa dingin yang sedari tadi menyelimutinya.

“ Kalau kau tidak keberatan, aku membuat…” Soojung kembali dengan secangkir cokelat panas, namun dia terkejut melihat gadis di hadapannya menangis lirih dengan selembar kertas di genggamannya.

“ Yoo Jiae, kau kenapa?” Soojung buru-buru meletakkan cangkir yang dibawanya di meja, kemudian duduk di depan Jiae sambil menepuk pundaknya pelan. Matanya lalu terarah pada kertas-kertas yang berserakan di meja. “ Kertas apa ini?”

Jiae berusaha menghentikan tangisnya dengan menyeka air matanya. Dia menyodorkan kertas yang dipegangnya pada Soojung, membuat perempuan mungil tersebut mengambilnya dan membacanya dengan teliti.

“ Kau menangis karena ini?” Soojung mengacung-acungkan kertas tersebut di depan wajah Jiae yang mengangguk lemah. “ Kalau aku jadi kau, aku akan menangis bahagia.”

“ Kau tidak tahu, Eonni…”

“ Apa karena Min Yoongi?”

“ Huh?” Jiae menatap Soojung terkejut.

“ Benar kan? Yoo Jiae, kau harus memberitahunya tentang ini.” Soojung merapikan kertas-kertas lain yang ada di meja.

Jiae menggeleng kuat-kuat, “ Aku tidak mau, Eonni. Untuk melihat wajahnya sekarang saja aku tidak mau. Apalagi untuk bicara tentang ini.”

“ Kenapa kau sedih sekali? Apa kau menyukainya dan belum mengatakan apapun padanya? Lalu merasa menyesal?” tebak Soojung, dengan nada lemah lembut yang biasa dia gunakan. Tapi bagi Jiae, Soojung seperti sedang menambah deritanya dengan tebakan itu.

“ Apa maksudmu, Eonni?”

“ Temui dia. Katakan yang ingin kau katakan sebelum terlambat. Tapi sebelumnya…” Soojung menyodorkan secangkir cokelat panas yang tadi dibawakannya untuk Jiae.

Jiae sendiri hanya bisa termenung, menatap kepulan asap  di permukaan cokelat panas yang ada di hadapannya.

*  *   *

Jiae turun dari bus yang dinaikinya. Dia kembali ke Daegu setelah mengobrol selama satu jam dengan Lee Soojung, yang dulu adalah kakak kelasnya ketika bersekolah di Seoul.

Keadaan di Daegu tak ada bedanya dengan di Seoul. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan es putih di sekitar Jiae. Itu membuatnya semakin tersiksa oleh rasa dingin, dan juga rasa sedih.

“ Apa kau sedang sibuk? Aku ingin menemuimu.

Yoongi mengirimi Jiae pesan ketika dia baru saja naik bus dari Seoul. Jika dia ingin menemuinya, pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakannya.

Tapi apapun yang Yoongi ingin bicarakan nanti, Jiae yakin hal tersebut tidak lebih penting dari apa yang ingin dia katakan setelah ini.

Sambil bersusah payah menahan rasa dingin di sekujur tubuhnya, Jiae berjalan menuju bangku taman tempat dia dan Yoongi biasa mengobrol sepulang sekolah. Tangan kanannya memeluk tubuhnya sendiri untuk menghangatkan diri, sedangkan tangan kirinya masih setia memegang amplop yang sudah membuatnya menangis untuk setengah hari.

Dan ternyata dia tidak menemukan sosok Min Yoongi ketika tiba di depan bangku taman tersebut.

“ Baguslah, kau tidak perlu datang..” gumam Jiae, berniat untuk berbalik dan pergi dari sana sebelum Yoongi benar-benar datang.

Tapi dia terlambat.

Ketika Jiae berbalik, tubuhnya menabrak seseorang. Jiae memperhatikan pakaian yang digunakan orang tersebut. Mantel hitam dan… syal marun.

“ Min Yoongi…” Jiae menengadahkan kepalanya, menatap Yoongi yang ada di hadapannya dan melihat ke arahnya dengan dahi berkerut.

“ Kau mau ke mana? Bukankah aku sudah bilang kalau aku ingin menemuimu?” Yoongi berjalan melewati Jiae yang – tidak seperti biasanya – tidak bisa menjawab kata-kata laki-laki tersebut.

“ Aku ingin memberitahumu tentang rencana setelah lulus SMA.”

Jiae berbalik, kembali menatap Yoongi yang kini akan duduk di bangku, tanpa mengatakan apapun. Dia bisa merasakan matanya kembali terasa hangat, seperti ketika dia menatap kertas-kertas miliknya di cafe Soojung tadi.

Jiae teringat pembicaraannya dengan Yoongi minggu lalu, tentang apa yang akan mereka lakukan setelah lulus SMA nanti. Jiae mengatakan bahwa dia ingin kuliah kedokteran, karena dia suka mengobati orang lain. Dan Yoongi adalah ‘pasien’ pertamanya dulu ketika SD. Sedangkan Yoongi, dia belum tahu apa yang ingin dia lakukan. Dia tidak punya pikiran untuk melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya yang dia miliki.

Dan Jiae memintanya untuk berpikir ulang tentang masa depannya.

“ Jangan bilang tidak tahu. Kalau akhirnya kau hanya ingin membantu bibimu di kedai, aku akan tetap mendukungmu. Paling tidak, kau punya tujuan hidup yang jelas. Dan kau juga harus mendukungku.”

“ Eo, tentu saja.”

“ Aku akan membantu bibiku di kedai… dan mencari pekerjaan lain juga. Aku ingin kuliah dari uang yang kukumpulkan sendiri.” ucap Yoongi sambil menatap langit yang tampak putih.

“ Kau ini…” Jiae sudah tidak sanggup membendung kesedihannya. Dia menunduk agar Yoongi tidak melihat air mata yang sudah mengalir di pipinya.

Untuk pertama kalinya, dia tidak ingin Yoongi melihatnya menangis.

“ … Kuliah itu butuh biaya besar. Sampai berapa lama kau akan mengumpulkan uangmu sendiri, huh? Kau kira orang-orang akan menggaji lulusan SMA dengan upah yang besar?”

“ Apa maksudmu?”

Jiae berjalan mendekati Yoongi, dan tiba-tiba memukulinya dengan amplop besar di tangannya.

“ Apa kau tidak berpikir apa yang akan terjadi bila kau bekerja terlalu keras, Min Yoongi? Apa kau tidak memikirkan perasaan bibimu nanti jika melihatmu sakit, huh?!”

Ya, apa yang terjadi denganmu?” Yoongi berusaha menahan tangan kiri Jiae yang memukulinya. Ketika dia berhasil, kertas-kertas yang ada di dalam amplop keluar dan jatuh berserakan di kaki mereka. Bersamaan dengan itu, suara tangisan Jiae menjadi semakin jelas.

“ Kenapa kau menangis, huh? Apa kau punya masalah lagi?” Yoongi berjongkok untuk mengambil kertas-kertas milik Jiae. Dia mengambil salah satu kertas dan membacanya.

“ Kanada?” Yoongi mengambil kertas lainnya dan membacanya juga, “ Kau… akan kuliah di Kanada?” tanyanya sambil menengadahkan kepalanya ke arah Jiae, yang mengangguk kemudian jatuh terduduk di hadapannya.

“ Kau… tidak…”

“ Aku tidak bisa mengatakannya padamu, Yoongi-ya…” Jiae menyeka air matanya, berusaha mengatur nafasnya yang sesak karena menangis, “ … Aku… tidak mau berpisah denganmu… Aku ingin kuliah di Korea saja… Tapi Appa tiba-tiba memberiku ini… dan menyuruhku untuk berangkat besok…”

Yoongi tidak bertanya lagi. Dia merapikan kertas-kertas yang merupakan berkas-berkas pendaftaran kuliah dan kepindahan Jiae ke Kanada, kemudian memasukkannya ke amplop lagi. Beberapa detik kemudian, Yoongi tampak seperti sedang mengamati wajah Jiae. Jiae sendiri menyadari sesuatu, mata kecil laki-laki yang ada di hadapannya tersebut sedikit memerah, seperti orang yang akan menangis.

“ Kau… kedinginan…” Yoongi melepas syal marunnya, melingkarkannya pada leher Jiae. Pipi Jiae tampak begitu merah, akibat dari suhu dingin dan tangisannya tadi.

“ Min Yoongi…”

“ Berhenti menangis seperti itu. Kita tidak hidup di zaman Joseon, kau bisa mengirimiku pesan atau meneleponku kapanpun.”

Mendengar kata-kata Yoongi tersebut, Jiae justru ingin menangis lebih keras lagi. Dia bergerak mendekat, memeluk sahabatnya selama 7 tahun tersebut.

“ Yoo Jiae…” Yoongi sedikit terkejut karena ini pertama kalinya Jiae memeluknya – tidak ada yang berani memeluknya sebelumnya kecuali ibu dan bibinya.

“ Maafkan aku…”

“ Untuk apa?”

“ Untuk tidak memberitahumu sejak awal tentang ini.”

Eo…” untuk beberapa menit, Yoongi seperti membiarkan Jiae menangis lirih di bahunya.

Hingga kemudian, dia kembali membuka mulutnya lagi.

“ Apa… aku perlu mengantarmu besok?”

“ Aku berangkat pagi, Yoongi-ya.. Kau harus membantu bibimu berjualan..”

“ Mengantarmu untuk beberapa menit bukan masalah.”

Jiae melepas pelukannya, kemudian menatap laki-laki di hadapannya dengan raut wajah kesal.

Ya! Apa kau mau melihatku menangis seperti ini di bandara?! Jangan mengantarku! Aku akan meneleponmu ketika transit!” seru Jiae.

Tapi justru Yoongi terkekeh pelan melihat ekspresi wajah Yoo Jiae saat ini.

“ Apa kau sangat kesal harus meninggalkanku?”

Eo!

Yoongi menarik sudut bibirnya, tersenyum. Tangannya lalu meraih hoodie mantel Jiae dan memasangnya di kepala gadis tersebut.

“ Jaga dirimu baik-baik di sana.” ucapnya sambil menatap Jiae lembut, tapi juga tatapannya tampak sedih.

Yoo Jiae tidak tahu, ekspresi wajah seperti apa lagi yang bisa dia tunjukkan pada Min Yoongi saat ini. Tidak ada teman yang memperhatikan dan mendengarkannya lebih dari laki-laki tersebut. Apa dia bisa bertemu teman sepertinya di Kanada?

Dan apakah Yoongi masih akan seperti ini walaupun mereka terpisah jarak yang sangat jauh?

*  *   *   *

Yee…. ada mbak Soojung lewat~ xD Biar rame gitu, dari kemarin ceritanya cuma berdua terus, kayak ga ada temen lain aja ;p

Kemarin abis diselingin dulu ama mbak Mijoo, mumpungada ide yang muncultiba-tiba. Khekhe… Please leave some comments, guys. Siapa tau adabagiandariceritaini yang gaje, bolehjugadikripik..ehdikritik.. ~..~

Advertisements

6 thoughts on “[Freelance] Cold Farewell

  1. Udh buka pas di kampus,ujung2nya dibaca sebelum tidur😂😂😂 apalah.

    Yawooohh mba…jauh bener kuli nya ampe kanada…kan kesian masnya berjuang mati hidup di koriyah sendiri. Aah, kalian berdua gambaran best friend yang paling best pkoknya..meski aku g rela klo kalian hanya berteman mba,mas.😢😢😢
    Tapi hidup kalian di sini tergantung ka raissa sih ya,bukan aku😂😂😂😂😂

    Lanjut ka raissa…kutunggu penutupnya😄😄😄😄

    Like

    • Gpp deh buat cerita pengantar tidur…khekhe… terus mimpi mas Yoon ama mbak Ji :3
      Kan ortunya Jiae holang kaya jadi kuliahnya harus yg jauh…wkwk…
      Khekhe…makasih udah baca dan nunggu part terakhir,Alvi~ ^^

      Like

  2. Halo, kak raisa. Ini tuh friendzone kah? Aku belum nangkep ceritanya kaya apa/ditimpuk seketika/
    Btw, sisain aku cowo kek Yoongi dong satu aja kak, aku juga mau gitu kalo temennya cem Yoongi gini…
    oh, TAPI AKU NANGKEPNYA FRIENDZONE GITU/maksa/
    pokoknya ditunggu kelanjutannya ya kak^^

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s