[Freelance] Love(lyz) Story?

 picsart_09-12-08-40-40

Lobelijeu’s drabble shot-;

-a northecian’s property

Lovelyz’s member –other idols;c

romance –humor –school life

rated G; for all ages.

“Kisah yang diimpikan semua gadis adalah kisah cinta yang romantis.

Bukankah begitu?”

 

Babysoul – dimples

Soojung benar-benar muak mendengar gombalan receh milik Namjoon yang sangat old-school. Sejak istirahat tadi, Namjoon tak henti-hentinya menggombali Soojung dengan sejuta rayuan yang ia punya.

“Hei, Soojung ayahmu seorang pilot ya?”

Soojung memutar matanya sebal, “Bukan,”

“Benarkah? Lalu, kenapa kau bisa menerbangkan hatiku setiap kali aku melihatmu?”

Ugh, lihatkan? Receh. Sangat receh. Perlu diketahui, Soojung mulai agak ilfeel sama Namjoon gara-gara gombalannya itu. Sebenarnya sih, Soojung menaruh sedikit rasa pada Namjoon. Tapi, rasa itu sirna karena Namjoon yang membuatnya muak dan gombalannya yang tidak sesuai fakta.

“Hei, Soojung. Lesung pipimu dalam ya,”

Soojung menoleh kearah Namjoon, mungkin ia akan berkata sesuatu yang waras atau logis kali ini. Mengingat Soojung memang memiliki lesung pipi yang dalam.

“Sedalam cintaku padamu,”

“Ew, Namjoon. Ewh.”

Yoo Jiae – band

“Yoongi­-ya, apa kau haus? Kau mau aku belikan minum?”

“Apa kau lapar? Aku bisa menyuruh Jiae untuk pergi ke kantin dan membelikanmu makanan.”

Jiae tersentak, hell, apa maksudnya tadi? Katakan bahwa dia memang tidak salah dengar, Lee Hanna baru saja mengatakan kalau dia akan menyuruh Jiae untuk membelikan si Yoongi makanan. Hell, no. never in my life.

 

Jiae memutar bola matanya sebal, gadis-gadis manja ini selalu berbuat seenaknya. Ia menumpu wajahnya dengan kedua tangan. Lalu, menatap Min Yoongi yang dikelilingi gadis-gadis.

“Lihatlah gadis-gadis genit itu, Jiae-ya. Memangnya apasih gantengnya si poker-face-guy itu? Lagipula, menurutku masih gantengan Kyungsoo.”cibir Minah sambil melemparkan bola kertas ke kerumunan gadis-gadis itu.

Jiae tertawa mendengar cibiran sekaligus nama panggilan yang Minah berikan untuk Yoongi, “Entahlah, aku tak tahu bagian mana dari dirinya yang bisa dibilang tampan.”

“Yah, teruslah berkata seperti itu. Padahal kau menyukai Yoongi juga ‘kan?”ujar Minah yang membuat Jiae melotot.

Ups, I’m sorry, Jiae-ya.

Huh, Minah memang tidak bisa dipercaya untuk jaga rahasia. Benar sih, ia menyukai Yoongi tapi ia memiliki banyak saingan, jadi Jiae tidak berharap terlalu tinggi supaya bisa pergi kencan dengan cowok bermarga Min itu.

‘pluk’

Sebuah bola kertas kecil mendarat tepat di mejanya. Huft, siapa sih yang buang sampah sembarangan? Ia berniat untuk membuangnya, tapi Yoongi yang ada disamping kanannya terus memberikan isyarat. Sepertinya, untuk membuka bola kertas tersebut.

Jiae membuka remasan kertas itu dan menemukan beberapa kalimat tertera disana dan itu membuat hatinya berpacu lebih kencang dari biasanya.

‘Jiae-ssi, kau mau ikut aku pergi ke konsernya Drug Restaurant pada hari Minggu? Oh, apa band favoritmu? Kuharap, itu adalah Drug Restaurant.’

 

Jiae menatap Yoongi yang tampak sibuk mencatat apapun yang ia catat saat itu. Rasanya Jiae ingin berteriak sekarang, ia yakin pipinya sudah memerah bak kepiting rebus. Ugh, ia jadi lapar.

Ia tak tahu apa itu Drug Restaurant, tapi yah, kalau Yoongi suka, mungkin Jiae bisa mencoba untuk menyukainya. Ia mengambil pena dan menulis jawaban untuk Yoongi.

‘Ya, tentu, Yoongi-ssi. Ah, aku sangat suka Drug Restaurant! Mereka sangat hebat! Aku tidak sabar untuk menonton mereka bersamamu, hehe.’

 

Yah, berbohong sedikit, Tak apa ‘kan?

Seo Jisoo – bus

Jisoo terus mengutuk dirinya sendiri karena menghilangkan buku laporan kelasnya. Kalau buku itu tak ditemukan, maka ia harus mencatat ulang buku itu–dan itu membutuhkan waktu yang sangat lama dan Jisoo sangat malas.

Ia terus mengingat dimana terakhir kali ia menaruh buku itu. Terakhir kali yang dia ingat, ia masih memegang buku itu saat ia berada di bus menuju rumahnya. Ia juga ingat kalau ia tertidur –seperti yang biasa ia lakukan.

Oh my god, jangan-jangan Jisoo menghilangkannya saat ia tertidur di dalam bus? Jisoo menghela napas, ia harus mencatat ulang laporan keuangan kelasnya itu. Bahunya merosot, sebuah bus berhenti di depannya.

Ia masuk ke dalam bus tersebut dan duduk disebelah pemuda dengan seragam sekolah yang berbeda dengannya. Ah, ia sering satu bus dengan pemuda ini. Pemuda itu mengenakan kacamata besar dan ada lendir berwarna hijau disekitar hidungnya.

Jisoo bergidik melihat pemuda disebelahnya. Ia pun merenung meratapi nasibnya yang sial. Yah, sepertinya liburan musim panas tahun ini akan Jisoo habiskan di rumah mencatat laporan uang kas dan tidak hang-out bersama teman-temannya. Ugh, menyebalkan.

“Maaf, sepertinya kau meninggalkan ini kemarin.”

Sebuah buku panjang berwarna jingga yang berada tepat di depannya. Itu buku lapornya! Jisoo segera mengambil buku itu dan menatap orang baik hati yang menyodorkannya. Seorang pemuda tampan, mengenakan seragam yang sama dengan pemuda ingusan yang ada disebelahnya. Bedanya, pemuda ini lebih tampan dan –ugh, tidak menjijikkan?

“Terimakasih. Aku Seo Jisoo dari Hanlim.”ujar Jisoo memperkenalkan dirinya sambil tersenyum.

Pemuda itu menarik sudut bibirnya sedikit, simpul. “Joshua. Hong Joshua.”

Lee Mijoo – favourite

“Jung Hoseok! Kita harus mengikuti pertandingan sahabat itu, ya! Yang digantung di mading itu loh!”

Hoseok menghentikan kegiatan menulisnya –sebenarnya dia hanya nyoret-nyoret kertas, lalu beralih menatap gadis berambut hitam panjang didepannya dengan malas. Ia menumpu wajahnya dengan tangan kanannya sambil memainkan pensil.

“Pertandingan apaan?”tanya Hoseok tak terlalu tertarik.

“Pertandingan Sahabat! Disana kita akan ditanya hal-hal yang kita ketahui tentang sahabat kita!”jawab Mijoo heboh –maksudku, sejak kapan gadis ini tidak heboh.

Hoseok membulatkan bibirnya, lalu melanjutkan kegiatan mencoretnya yang tidak berguna itu. Mijoo memutar bola matanya, ia menduduki kursi kosong yang ada disebelah Hoseok.

“Jadi, apa makanan favoritmu? Kau alergi apa? Minuman favoritmu?”

Hoseok menatap Mijoo heran, tapi ia tetap menjawab dengan santai.

Jokbal. Tidak ada. Milkshake, entahlah.”

“Kau sudah berapa kali berpacaran? Siapa nama mantan terakhirmu? Kau lebih suka botak atau kumisan?”

“Dua kali. Lee Hyeri. Tidak dua-duanya,”

Mijoo mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mencatat jawaban Hoseok di sebuah note kecil. Sejak kapan ia menjadi rajin seperti ini? Huh, aneh. Sedangkan, Hoseok tengah mengetuk-ngetukkan pensil di dagunya.

“Hei, Mijoo-ya. Kau tahu apalagi hal favoritku?”

Mijoo menoleh kearah Hoseok sambil melempar tatapan ‘apa-cepat-jangan-buat-aku-kepo-beritahu-sekarang-juga-bego’.

 

“Kau.”

Kei – smile

“Kei, tolong panggil Joshua, dong! Dia ditunggu Seungcheol tuh di lapangan.”

Kei menoleh kearah Yooa yang tengah berdiri di depannya. Ia mengangguk cepat, dan itu membuat Yooa tersenyum.

Thanks, Kei! Aku pulang dulu, ya!”ujar Yooa sambil melambaikan tangannya.

Kei membalas lambaian Yooa dan segera berjalan menuju kelas Joshua. Oke, kalian tahu? Rasanya, jantung Kei seperti sedang melaksanakan konser besar-besaran bersama organ dalamnya yang lain. Ah, itu terlalu hiperbola.

Pasti kalian sudah tahu kenapa. Yah, tentu saja karena ia akan bertemu dengan pemuda yang disukainya selama kurang lebih dua bulan terakhir ini. Ah, memikirkannya saja sudah membuat Kei senyam-senyum sendiri.

Kei menyembulkan kepalanya kedalam pintu kelas Joshua. Ia bisa melihat ada dua orang pemuda yang tengah berbincang-bincang. Ia pun langsung mendekati kedua pemuda tersebut.

“Hei, Jimin, kemarin aku bertemu gadis cantik di bus. Dia benar-benar cantik.”

“Benarkah? Kau dapat nomor teleponnya?”

“Sial, aku lupa menanyakannya.”

Kei bisa mendengar percakapan kedua pemuda itu dengan jelas dan sepertinya mereka belum sadar dengan kehadiran Kei. Ia mengurangi kegugupannya dengan mengambil nafas sebanyak-banyaknya, lalu ia tersenyum sambil berkata, “Joshua-ssi, kata Yooa, kau sudah ditunggu Seungcheol sedaritadi di lapangan.”

Joshua menoleh kearah Kei yang masih tersenyum. Ia membalas senyum Kei dengan tulus, “Ah, terimakasih, Kei.”

Joshua menoleh kearah pemuda yang masih duduk di belakangnya, “Hei, Jimin, kau ikut tidak?”

“Tentu,”

Jimin segera bangkit dari kursinya dan berjalan mengikuti Joshua yang sepertinya sudah keluar dari kelas ini. Ia berhenti sebentar saat berada di sebelah Kei. Kei bisa mencium bau parfum yang dipakai Jimin saat itu juga.

“Sebaiknya kau jangan pernah tersenyum seperti itu kepada pemuda lain. Aku jadi agak sakit hati, Kei.”

Kei menolehkan kepalanya dan menatap punggung Jimin yang perlahan menghilang ditelan pintu. Tuhan! Jimin begitu dekat dengannya sampai-sampai ia tidak bisa bernafas! Ah, bahkan ia sudah tak ingat apa yang Jimin ucapkan tadi. Seingatnya sih Jimin ada bilang tentang senyum-senyum begitu.

Tapi, tak apa sih! Yang penting tadi ia bisa berdiri bersebelahan dengan pemuda yang disukainya. Oh, Park Jimin, kapan kau akan balik menyukaiku?

Jin – pms

Ugh, Wonwoo sangat heran dengan sikap Myungeun yang seringkali berubah. Beberapa menit lalu, Myungeun tampak baik-baik saja. Bahkan, ia memuji Wonwoo karena sangat tampan –dan ya, ia sangat senang karena itu.

Tapi sekarang, lihatlah. Myungeun tengah menatap Wonwoo bak seekor singa siap menerkam rusa imut yang tak bersalah –ewh, lupakan.

“Myungeun-ah, kau kenapa sih? Kok tiba-tiba berubah seperti ini?”tanya Wonwoo sambil berusaha mendekati Myungeun.

‘bst’

Death glare maut milik Myungeun membuat tubuh Wonwoo membeku seketika, ia memutuskan untuk tidak melangkah lebih dekat lagi. Ia bisa melihat kalau Myungeun tengah menunjukkan smirk andalannya.

“Berubah?! Maksud kau apa, Wonwoo-ssi? Bukankah kau yang berubah, huh?!”seru Myungeun sambil terus menatap Wonwoo tajam.  Dan sejak kapan Myungeun bisa berbahasa formal?

Wonwoo mengernyitkan dahinya, berubah? Apa yang berubah darinya? Ia mengucapkan selamat pagi pada Myungeun seperti biasa, ia menjemput Myungeun dari les-nya seperti biasa juga. Semuanya berjalan seperti biasa, seperti hari-hari sebelumnya. Jadi, apa yang berubah darinya?

“Apa maksudmu, Myung-ya?”tanya Wonwoo tak mengerti, ia mengharapkan sebuah explanation yang jelas dari mulut manis pacarnya ini.

“Gausah pura-pura bego deh, Jeon! Kemarin kau mengucapkan selamat pagi padaku pukul 07.00, tapi hari ini kau terlambat! Kau mengucapkan selamat pagi padaku pukul 07.01! Kau berubah tau!”

Wonwoo tercengang mendengar penuturan pacarnya itu. Jadi, hanya itu?! Cuma karena ia terlambat satu menit, Myungeun berubah menjadi tsundere yang mengerikan?

Wonwoo menghela nafas pelan, ia menatap kalender. Ada lingkaran merah di tanggal 16, itu berarti hari ini, kan?. Ia mulai berpikir, semenit kemudian ia memijit keningnya –ntah, frustasi mungkin. Ugh, pantas saja daritadi Myungeun bertingkah seperti tsundere, rupanya dia sedang kedatangan tamu.

Ryu Sujeong – q&a

Oppa, kau lebih suka cewek tomboy seperti Halla, ya?”

Oppa, apa menurutmu beratku bertambah?”

Taehyung meringis mendengar rentetan pertanyaan dari kekasihnya – Ryu Sujeong. Jujur saja, kalau ia sampai salah menjawab sedikit saja, hidupnya akan berakhir ditangan pacarnya sendiri.

 

“T-tidak, aku lebih suka cewek feminim.”jawab Taehyung agak ragu, ia tidak berbohong. Hanya saja, ia takut kalau Sujeong akan berpikir kemana-mana dan menyangkal jawabannya

“Oh, jadi maksudmu kau suka cewek feminim seperti Joy sunbae, huh?”

 

Kan, ia salah. Taehyung berusaha menatap manik mata Sujeong, berharap Sujeong luluh dengan tatapannya dan melupakan pembicaraan ini. Tapi, sepertinya Sujeong sudah kebal dengan tatapan maut milik Taehyung.

“B-bukan begitu maksudku, Ryu-ya. Maksudku, aku lebih suka cewek feminim sepertimu,”jawab Taehyung hati-hati, takut Sujeong bisa menyangkalnya lagi.

“Sudahlah, jangan bahas ini lagi, oke?”

Sujeong memicingkan matanya kearah Taehyung. Beberapa detik kemudian, ia menghela nafas pelan, “Baiklah, oppa.”

 

Taehyung bersorak dalam hati, akhirnya ia berhasil menghentikan sangkalan-sangkalan Sujeong. Ia tersenyum lebar, lalu meraih tangan kiri Sujeong dan menggenggamnya erat.

Sujeong menatap Taehyung datar, ia memiringkan wajahnya. Lalu, menumpu wajah cantiknya dengan tangan kiri.

“Oppa, apa aku gemukan?”

 

Kim Taehyung, say hello to hell.

 

 

Jung Yein – blink

Jung Yein mulai bingung dengan tingkah pacarnya yang tiba-tiba menjadi aneh. Pasalnya, sedaritadi Jungkook sama sekali tidak berkedip –ah, maksudnya, Jungkook jarang berkedip. Jungkook juga terus-terusan menatapnya daritadi. Yein mulai curiga, ia menoleh kekanan dan kekiri, tak ada hal yang menarik. Lalu, ia menoleh kebelakang dan…

Oh, pantas saja sedaritadi pacarnya yang tampan itu tidak berkedip. Ternyata, ada cewek seksi dan cantik dibelakang Yein. Huh, mungkin yang ditatap Jungkook sedaritadi bukannya Yein,  tapi cewek seksi di belakang. Ugh, dasar Jeon Jungkook sialan!

Oppa, kenapa oppa tidak berkedip, eo?”tanya Yein sinis berusaha untuk menjebak Jungkook.

Jungkook hanya tersenyum sembari terus menatap Yein tanpa berkedip, “Tidak kenapa-napa, kok.”

Yein memutar bola matanya sebal ketika Jungkook mengeluarkan senyum bodohnya itu,

Yak, oppa. Hentikan senyum bodohmu itu dan jawab pertanyaanku. Kenapa oppa tidak berkedip, huh?”

“Karena kalau aku berkedip, aku akan melewatkan satu detik untuk melihat wajah cantikmu itu, Jung Yein.”

Siapapun saat ini, tolong Yein. Karena mendadak dia terkena diabetes setelah mendengar gombalan maut milik mantan playboy seperti Jungkook. Siapapun, help me juseyo!  T^T

 

Advertisements

3 thoughts on “[Freelance] Love(lyz) Story?

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s