[Job Seeker] Cashier Daily

photogrid_1473641987858

Cashier Daily

By Cho Hana

[Lovelyz] Lee Mijoo and other

AU || Slice of Life || Absurd (?)

PG-15 (untuk kalimat-kalimat yang tidak pantas diucapkan) || Vignette

Disclaimer:

I just have idea of this story

Please don’t be a plagiator ^^

Summary:

“But one day feels like one month to me” -Destiny [Lovelyz]

.

.

Hanya sebuah kisah tentang si kasir cantik -Lee Mijoo-

#1. Behind the Story

Lee Mijoo mungkin takkan bekerja di caffee itu seandainya bukan karena satu alasan. Ia bukan bekerja karena uang. Hey, orang tua Mijoo memang tidak sekaya para chaebol yang ada di drama-drama TV itu, tapi kalian perlu tahu kalau kedua orang tua Mijoo memiliki pekerjaan tetap yang masih sanggup untuk menghidupi membiayai sekolah Mijoo dan saudara-saudaranya.

Mijoo bekerja di sana bukan karena ia tipikal orang yang mandiri. Jangankan mandiri, ke toilet malam-malam saja kadang ia sampai harus membangunkan adiknya -Lee Seokmin. Padahal adiknya itu adalah seorang laki-laki. Untung adiknya bukan seorang incest.

Mijoo juga bukan bekerja disana untuk mencari pengalaman. Kalian pikir pengalaman macam apa yang akan bisa seorang Mijoo dapat jika menjadi kasir di sebuah caffee? Mijoo saja sering meremehkan pekerjaan semacam itu sebelumnya, lalu untuk alasan apa ia jadi getol bekerja di sana? Jawabannya adalah karena seorang Kim Myungsoo.

“Myungsoo baru diangkat jadi manager sebuah caffee loh.”

Ucapan Lee Seungyeol -kakak tertua Mijoo- hampir saja membuat Mijoo tersedak cemilannya. Tatapan matanya yang semula fokus pada layar 32 inci yang ada di depannya, kini terfokus pada seorang pemuda yang sedarah dengannya itu.

“A.. Apa?! Manager caffee?!” Mijoo membulatkan matanya.

“Hey, santai saja. Kau ini. Remah-remah keripikmu itu sampai muncrat ke wajahku tahu,” Seungyeol menoyor kepala Mijoo dengan pelan.

“Aish, aku serius kak! Beneran kak Myungsoo jadi manager caffee? Caffee apa?” Mijoo masih getol memborbardir Seungyeol dengan pertanyaannya, tak peduli dengan remah-rekah kripik yang melayang ke wajah rupawan itu. Persetan dengan wajah kesal kakaknya.

“Iya aku serius!” nada bicara Seungyeol naik dua oktav, “Ibunya kan punya usaha caffee dan mereka baru membuka cabang di daerah Myeondong.”

Seketika itu juga mata Mijoo langsung berbinar, “Woah, Kak Myungsoo memang hebat! Sudah ganteng, pintar, baik, jadi managercaffee lagi. Akhh kak Myungsoo-ku memang tiada tandingannya.”

Diam-diam Seungyeol tersenyum tipis, sebuah senyum yang diikuti dengan selentingan ide jahil.

“Caffe-nya lagi nyari pegawai loh.”

“Benarkah?” ucapan Seungyeol itu disambut dengan senyum merekah di wajah Mijoo.

“Iya. Kenapa? kau berminat?” Seungyeol mendelik pada sang adik.

“Hmmm. Apapun pekerjaannya, asal bisa terus melihat kak Myungsoo, akan kujabani.”

“Kalau begitu cepat siap-siap. Kudengar mereka hanya menerima satu karyawan. Jika kau terlambat, kau bisa keduluan nanti.”

“Ah oke oke. Aku akan siap-siap. Kak Myungsoo, tunggu aku!”

Mijoo langsung berlari menuju kamarnya yang ada di lantai 2, meninggalkan Seungyeol yang masih terpingkal memegang perutnya.

“Ini menyenangkan. Sulit membayangkan anak manja itu akan menjadi kasir,” Seungyeol terbahak di tempatnya duduk, “Lee Mijoo, selamat bekerja ya~”

#2. The Big Boss

Mijoo berjanji akan segera menyumpal lubang hidung Sungyeol dengan cabai rawit paling pedas se-antero Korea setelah pulang bekerja di hari pertamanya. Namun nyatanya nazar itu tak bisa dia lakukan. Sungyeol sudah duluan mengambil langkah seribu dengan menginap di rumah Hoya -teman sekampusnya. Alasannya sih menyelesaikan tugas besar dari dosen mereka. Alhasil, Mijoo harus mengurungkan niatnya sampai Sungyeol kembali ke rumah. Ya mungkin sekitar seminggu atau dua minggu.

Mijoo harus memendam kekesalannya. Ia akui Sungyeol telah berhasil memperdayanya. Jika tahu lowongan yang dibuka itu untuk jadi penjaga kasir, Mijootakkan mau susah-susah berdandan dan berlari ke caffee itu. Sialnya lagi, ia tak bisa mundur. Mau ditaruh dimana mukanya nanti?

Tapi seperti kata pepatah. Ada hikmah di balik sebuah musibah. Ya, setidaknya setiap hari ia bisa bertemu dengan Kim Myungsoo. Setiap pagi Myungsoo selalu datang dan menyapanya dengan ramah, tak lupa dengan senyumnya yang sangat menawan dan rupawan itu. Ahh mungkin Mijoo perlu berterimakasih juga pada Sungyeol, setidaknya ia jadi bisa lebih dekat dengan Myungsoo. Sebenarnya semuanya akan terasa lebih sempurna jika saja-

“Lee Mijoo! Cepat ambil persedianChocoPie di gudang. Stok di rak mau habis ini.” Suara itu membahan di rungu Mijoo.

-makhluk astral berwajah nenek sihir itu tak ada di sana.

“Baik, sunbae.” Mijoo langsung memburu langkahnya menuju gudang belakang.

15 menit kemudian ia kembali dengan sekotak ChocoPie lalu dengan telaten ia menyusun kue coklat itu ke rak kaca yang ada di depannya. Sekali lagi, seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak. Tak ada yang sempurna di dunia ini. Begitu juga dengan Mijoo. Dia memang merasa bahagia bisa melihat Myungsoo setiap hari, tapi kesialannya datang saat ia mengenal sosok itu. YooJaein. Gadis 24 tahun yang bersikap sok senior padanya. Padahal usianya dan Mijoo hanya beda setahun.

“Mijoo, cuci semua gelas di dapur!”

“Mijoo, lap semua kaca di depan!”

“Mijoo, pesanan meja nomor 5 belum diantar!”

“Mijoo, kau ini lelet sekali!”

Dan masih banyak lagi perintah-perintah gila yang Mijoo terima dari gadis itu. Mijoo tak mengerti, padahal mereka sama-sama baru bekerja -ya meskipun Jaein bekerja 3 hari lebih dulu daripada Mijoo, tapi kenapa ia bersikap sok senior pada Mijoo. Mijoo kesal. Ia dongkol, juga jengah. Ia khawatir jika suatu hari ia akan dijadikan budak oleh Jaein.

“Mijoo, tolong pijat kakiku!”

“Mijoo, tolong maskerkan wajahku!”

“Mijoo, aku pinjam jarimu. Aku mau ngupil!”

Mijoo bisa gila jika membayangkannya. Dari semua sikap sok senior Jaein, mungkin Mijoo masih bisa terima. Oh ayolah, Mijoo ini kan tipikal gadis manis yang penurut, apalagi jika di depan Myungsoo. Tapi ada satu sikap Jaein yang tak bisa diterima oleh Mijoo. Ternyata gadis itu juga tertarik pada Myungsoo.

“Hyung, hari ini aku membuatkanmu makanan.”

“Woah, terimakasih ya, Jaein. Kau baik sekali.”

Lalu adegan Myungsoo mengelus puncak kepala Jaein terpampang jelas di depan mata Mijoo, membuat kepalanya seperti mengeluarkan asap.

“Sekali-kali gadis ini perlu dikerjai rupanya.” Mijoo mulai berambisi dalam hati.

Hari itu Mijoo datang dengan menenteng sekotak telur asin di tangannya.

“Sunbae,” Mijoo bergelayutan manja di pintu loker Jaein, membuatnya melirik tajam ke arah Mijoo.

“Kenapa?” tanyanya dengan gaya ketusnya yang khas.

“Aku membawakan sunbae ini,” Mijoo langsung menyodorkan kotak yang ia bawa pada Jaein, “Itu telur asin. Ibuku baru pulang dinas dari Busan. Dia membawa banyak jadi kubawa satu untuk sunbae.”

“Oh. Terimakasih.”

Jaein menyambut kotak itu. Diam-diam di balik surainya, Mijoo tersenyum puas.

“Kena kau!” ucapnya dalam hati, “Kau tidak tau saja jika telur asin itu sudah kusuntik dengan obat pencahar. Kau akan menginap semalaman di toilet, YooJaein.”

Mijoo pikir rencana jahilnya akan berhasil, namun ternyata tidak. Nyatanya dua hari berikutnya Jaein masih tampak segar bugar.

“Aku belun memakannya. Rencananya aku akan membuatnya jadi makanan,” Jaein menjawab saat Mijoo bertanya perihal telur asinnya.

Selang 5 hari setelah Mijoo memberikan telur asin pencahar perut itu, akhirnya Jaein izin kerja. Kata Myungsoo ia sedang tak enak badan. Mijoo hampir saja melompat kegirangan jika saja Myungsoo tak ada di depannya sekarang.

“Kau tidak apa-apa bekerja sendiri?” Myungsoo menatap Mijoo sedikit khawatir, “Aku takut kau kelelahan.”

“Tidak apa-apa, kak. Aku akan baik-baik saja,” Mijoo melemparkan senyumannya yang manis.

“Oh baiklah. Jika kau kerepotan, panggil saja aku di ruangan ya,” Myungsoo siap merajut langkahnya menuju ruangan, “oh ya. Ini untukmu. Tolong dihabiskan ya.”

Jantung Mijoo hampir saja melompat saking senangnya saat Myungsoo menyodorkan sebuah kotak bekal berwarna ungu. Ternyata Myungsoo punya perhatian lebih pada Mijoo. Saat jam istirahat, Mijoo menghabiskan bekal pemberian Myungsoo.

“Makanannya enak ya?” Myungsoo bertanya saat tanpa sengaja ia melintas di depan Mijoo.

“Hmm. Terimakasih, kak. Nasi gorengnya enak sekali.”

“Masakan Jaein memang selalu enak.”

Mijoo berhenti menyuapi mulutnya saat nama Jaein disebut, “Jaein?”

“Iya itu nasi goreng buatan Jaein. Dia bilang seorang teman memberinya oleh-oleh telur asin. Kareba terlalu banyak ia jadi membuatkan penganan serba telur asin, termasuk nasi goreng yang kau makan itu.”

“Apa?! Jadi in-” Mijoo tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya saat ia merasa isi perutnya bergejolak. Mijoo tak ingat apa-apa lagi, yang ia ingat hanya ia berlari terbirit-birit ke toilet sambil menahan suara kentut yang hampir meledak di depan Myungsoo.

“YooJaein memang taik!” Mijoo mengumpat dalam hatinya.

#3. Hipnotis

Hari itu sudah dua hari sejak Jaein sakit. Meskipun Mijoo juga merasa tak enak badan, namun ia tetap turun. Toh, rasanya perutnya pun sudah agak mendingan. Sore itu hujan sedang turun. Suasana caffee sepi dan Mijoo hanya sendirian. Biasanya Myungsoo ada tapi hari ini nampaknya pemuda itu takkan datang karena hujan.

Mijoo merasa bosan. Ia meraih remote lalu menyalakan televisi yang disediakan di caffee itu.

‘Kasus kejahatan dengan media hipnotis kembali terjadi. Seorang wanita mengaku menjadi korban hipnotis dan mengalami kerugian hingga puluhan juta won…’

“Woah, mereka jahat sekali. Mereka menghipnotis orang lalu merampok. Benar-benar tak punya hati!” Mijoo mengumpat gemas saat menonton acara berita yang disiarkan sore itu.

Kring~

Suara lonceng yang terpasang di atas pintu masuk caffee berbunyi, menandakan ada pelanggan yang datang.

“Selamat datang di caffeeOlay. Ada yang bisa saya bantu,” Mijoo menyapa pelanggan itu dengan ramah.

Seorang bocah berseragam SMA nampak berdiri di depan Mijoo. Seragamnya tampak sedikit basah, mungkin ia kehujanan tadi. Wajahnya tampan dan tubuhnya jangkung.

“Ummmnoona, aku pesan Hot DarkChocolate-nya satu,” bocah itu berucap setelah 5 sekon maniknya menatap banner yang terpajang di sana.

“Oke. Tunggu sebentar.”

Mijoo langsung meracik minuman pesanan bocah itu. Dalam waktu 10 menit pesanan bocah itu telah selesai.

“Ini pesananmu,” Mijoo menyodorkan gelas pesanan bocah itu.

Bocah itu tak langsung mengambil pesanannya. Ia justru menatap manik Mijoo dengan intens, membuat gadis itu sedikit keki. Ya siapa yang tidak keki jika ada bocah tampan yang memandangmu?

“Kau kenapa?” Mijoo akhirnya bersuara, tak tahan dengan tingkah bocah itu. Mijoo melirik sekilas pada nametag yang terpasang di seragamnya, “Tuan Na Jaemin, ini pesanan anda.”

Bocah bernama Na Jaemin itu masih tetap menatap Mijoo dengan lekat. Mijoo kesal, namun tiba-tiba ia teringat dengan berita yang barusan ia tonton. Bukankah orang melakukan hipnotis lewat pandangan mata? Mijoo jadi bergidik ngeri. Siapa yang tahu jika bocah ini hanya menyamar jadi siswa SMA lalu ia berniat menggondol uang yang ada di mesin kasir.

“Noona.”

Mulut bocah itu akhirnya terbuka, diikuti dengan seringai yang tampak menakutkan di mata Mijoo.

“Ka… Kau mau apa? Kau orang jahat ya?” tungkai Mijoo mulai gemetaran.

“Orang jahat?” bocah itu mulai terkekeh, “aku bukan orang jahat, noona.”

“Lalu kenapa kau menatapku seperti itu? Kau mau menghipnotisku ya?”

Bocah itu kembali tekekeh, bahkan kali ini lebih nyaring dari sebelumnya, “Noona ini lucu sekali. Aku menatap noona seperti itu karena-“

Mijoo menatap bocah itu dengan lekat, penasaran dengan kalimat selanjutnya yang akan diucapkan bocah itu.

“-karena di mata noona ada belek.”

Mijoo buru-buru mengatup rahangnya lalu mengusap matanya. Sial! Bocah itu membuat Mijoo malu. Sepertinya mulai besok ia harus membawa cermin di sakunya.

#4. Move On

Hati Mijoo jadi sesak saat undangan berwarna merah marun itu sampai di tangannya.

“Itu undangan pertunanganku. Kalian harus datang. Oke?” Myungsoo mengedipkan sebelah matanya pada Mijoo dan Jaein. Sementara dua gadis itu masih cengo di tempat, terlalu kaget dengan undangan yang mereka terima.

“Se… Sejak kapan kak Myungsoo punya pacar?” Mijoo berusaha mengeluarkan suaranya.

“Entahlah. Kau sedih?” Jaein menatap Mijoo sebentar.

“Sedikit.”

“Ah sepertinya aku harus ke toilet dulu.”

Jaein pergi ke toilet, lalu tak lama suara isakanJaein terdengar.

“KAK MYUNGSOO!! AHH KAK MYUNGSOO!! KAU SEHARUSNYA MENIKAH DENGANKU. BUKAN DENGAN GADIS ITU!!”

Mijoo hanya bergidik. Ternyata masih ada orang yang lebih alaydaripadanya. Sejak saat itu, Mijoo menjalani pekerjaannya dengan sepi. Setelah bertunangan, Myungsoo menyerahkan posisi manager pada adik perempuannya, membuat Mijoo semakin sedih karena tak bisa lagi melihat pemuda itu. Sekarang waktu seharinya terasa seperti sebulan. Semuanya terasa begitu lamban.

“Halo, selamat siang.”

Mijoo hampir saja melonjak dari tempatnya berdiri saat seorang pelanggan tiba-tiba berdiri di depannya. Entah sejak kapan pelanggan itu masuk. Mijoo bahkan tak mendengar suara bel yang tergantung di atas pintu.

“Oh halo selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?” Mijoo langsung menyapa pelanggan itu dengan ramah.

“Aku mau pesan Hot Coffee dan sekotak strawberrycheesecake,” sahut pemuda bertubuh jangkung itu.

“Oh. Baiklah. Tunggu sebentar.”

Mijoo langsung menyiapkan pesanan pemuda itu.

“Ini pesanan anda. Totalnya 50 ribu won.”

Pemuda itu langsung menyambut pesanannya lalu merogoh sakunya, “Sebenarnya aku punya voucher untuk makan gratis di sini. Apakah ini masih berlaku?” Pemuda itu menyodorkan ponselnya pada Mijoo. Mijoo menatap sebentar layar ponsel itu.

“Ah maaf sekali. Kebetulan vouchernya hanya berlaku sampai jam 10 dan ini sudah jam 12. Mungkin anda bisa memakai voucher ini besok,” sahut Mijoo.

“Benarkah?” pemuda itu mengembangkan senyumnya, “Berarti aku boleh kemari lagi besok. Boleh aku berkenalan denganmu. Namaku Park Jimin dan usiaku 21 tahun.”

Mijoo terdiam sejenak sebelum akhirnya menyambut uluran tangan pemuda bermata sipit itu, “Aku Mijoo. Lee Mijoo. Umurku 23 tahun.”

“Woah, ternyata kau lebih tua dariku. Apa aku harus memanggilmu noona?” bocah itu terpingkal dan suara tawanya terdengar lucu di rungu Mijoo, “Btw, aku ini selalu pacaran dengan orang yang lebih tua loh. Noona, mau tidak jadi pacarku?”

Mijoo hampir saja menjatuhkan rahangnya. Bocah itu benar-benar gila. Mereka baru bertemu dan bocah itu sudah menembaknya. Ini gila. Dan yang lebih gila lagi, Mijoo merasa jantungnya berdegup kencang. Apa mungkin ini saatnya ia moveon dari Myungsoo? Hmm kelihatannya brondong ini cukup menggiurkan~

Fin

 

× Salam kenal semuanya^^ jujur ini ff pertama yang aku kirim ke Lovelyzfanfiction ini. Emang aku ini freelancegatau diri, gak pernah ngirimff tapi ikutan eventgini *ditabok pake bakiak* Tapi jujur aku pengen ikut memeriahkan event ini. Semoga ke depannya Lovelyzfanfiction lebih banyak lagi mengadakan event semacam ini ya😇

 

× Maaf kalo ff-nyagaje. Ngebuatff dari prompt dengan tema pekerjaan jadi tantangan tersendiri buat aku. Aku seneng waktu tahu bisa ngirim lebih dari satu ff. Rencananya mau ngirim dua ff sih. Satu genre-nya serius (angst/hurt) dan satunya lagi genre komedi (meskipun jatohnya lebih ke absurd), tapi gatau ini bakal terlaksa atau gak

 

× Maaf juga kalo sekiranya ada typo atau ejaan yang salah. Yah aku mah apa atuh, cuma authorfreelance kacangan yang belum punya banyak pengalaman😂

 

× Buat yang nge-biasin Mijoo maaf kalo Mijoo-unnie yang cantik ini aku bikin sengklek di ff-ku. Please jangan bashing aku😂

 

× Jangan lupa ninggalin jejak^^ kasih saran, kritik atau review ya

Advertisements

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s