[A Ship] Never Ending

Standard

neverending

Author: azeleza

Cast : Kim Jiyeon (Kei) [Lovelyz] || Park Jimin  [BTS]

Genre : Romance – Married life

Length : ~ 2120 words

Rating : G

◊◊◊ Day-30 ◊ Day-5839C A War?  ◊ Interlude ◊◊◊

◊◊◊ NE ◊◊◊

Jiyeon sedang gregetan. Akhir-akhir ini Jimin pulang lebih malam dari biasanya, namun, laki-laki itu tetap bersikeras makan malam di rumah. Tentu saja hal itu membuat Jiyeon senang, kendati agak cemas karena itu berarti perut Jimin akan kosong terlalu lama. Setelah makan malam yang telat itu, Jimin akan langsung masuk ke kamarnya usai memastikan Jiyeon telah selesai mencuci piring dan merapikan meja makan. Kadang Jimin masih mencoba untuk mengambil alih tugas mencuci, yang selalu berakhir dengan satu atau dua piring pecah, atau paling beruntung, hampir pecah. Hanya retak. Seperti yang baru saja terjadi.

Tapi bukan itu. Bukan. Bukan piring dan gelas yang terancam punah karena terlalu banyak yang pecah itu yang membuat Jiyeon gregetan.

“Sepertinya aku memang tidak berbakat mencuci piring,” kata Jimin ketika mereka menaiki tangga.

“Jimin, mungkin bakatmu lebih di… di merapikan kamar?” tanya Jiyeon penuh pertimbangan. Mereka sudah sampai di depan kamar masing-masing yang terletak berhadapan ketika Jimin masih belum memberikan jawaban.

“Em, mungkin…,” perlahan laki-laki itu membuka pintu kamar.

“Mungkin tidak,” lanjut Jiyeon yang mengernyit ketika ia berhasil mengintip ke dalam kamar Jimin.

Nah, itu dia.

Kamar Jimin yang berantakan itu yang membuat Jiyeon gregetan dengan tangan gatal-gatal. “Bagaimana kalau aku masuk ke kamarmu?” Ia bisa merasakan wajahnya merona karena pertanyaan yang baru saja keluar dari tenggorokan, tapi ia tidak boleh mundur. “Maksudku, aku akan membersihkan kamarmu, bagaimana?”

Jiyeon pernah satu kali masuk ke kamar Jimin, ketika laki-laki itu demam dan membatu di sofa ruang tengah. Dan pemandangan kamar laki-laki itu pernah membuat Jiyeon mimpi buruk. Kertas dan plastik di mana-mana, bagaikan di tempat pengumpulan sampah non-organik. Baju bersih yang telah Jiyeon gosok diletakkan begitu saja menumpuk di atas kasur. Beberapa tumpukannya berubah miring, sebagian lagi jatuh ke lantai, kemungkinan besar karena Jimin tidak sengaja menendangnya atau apa ketika ia tidur. Belum lagi beberapa baju yang tidak jadi dipakai dibiarkan menggulung di dekat lemari kaca.

Oh, satu hal lain yang membuat Jiyeon bersyukur karena Jimin selalu mengajaknya makan bersama adalah keduanya akan selalu makan di meja makan. Jiyeon bergidik mual membayangkan berapa banyak piring kotor yang bisa disimpan Jimin dalam kamarnya jika sampai sekarang keduanya masih saling tak bicara.

Sekarang, perasaan Jiyeon benar-benar tidak enak. Dalam artian sebenarnya. Ia yakin lantai kamar Jimin saat ini telah tertutup oleh segala macam barang. Atau Jimin tidak mungkin bisa berjalan di dalam sana tanpa menabrak sesuatu. Hei! Pantas saja Jiyeon merasa akhir-akhir ini persediaan snack mereka berkurang tanpa ada jejak sama sekali. Tidak ada bekas plastik snack di tong sampah!

“Park Jimin,” ulang Jiyeon, mulai serius. Setengah jiwanya mulai menguap ke udara membayangkan kondisi kamar Jimin yang mengerikan -bagaimana kalau ada kecoa dan tikus mati di sana?

“Oh? Iya. Eh, engga! Maksudku, aku bisa membereskannya sendiri,” jawab Jimin, menutup kembali pintu di belakangnya.

Jiyeon sudah siap mendebat ketika Jimin kembali berucap, “Aku sungguh-sungguh. Selamat malam, Jiyeon-ah.” Lalu Jimin membuka pintu, masuk ke dalam, melambaikan tangan, dan menutup pintu tanpa sempat membiarkan Jiyeon mengeluarkan kalimat tambahan.

Dan selama akhir bulan itu pula Jiyeon habiskan dengan berusaha mendapatkan izin untuk masuk ke dalam kamar sang suami. Jimin mengunci kamarnya ketika ia tidak di condo. Sedangkan Jiyeon mulai menyesal karena selalu lupa membuat kunci duplikat ketika ia punya kesempatan.

Akhirnya setelah sekian banyak penolakkan, Jiyeon menyerah. Namun mereka baru pulang dari kediaman keluarga Park ketika Jimin bertanya, “Apa kau mau masuk ke kamarku?”

Jimin berkata lagi dengan nada bergetar, “Itu, agh, Eomma. Jangan pikirkan apa yang Eomma katakan tadi.”

Mengingat itu, pipi Jiyeon langsung berubah merah jambu sampai ke daun telinga. Tujuan awal dari kunjungan keduanya ke kediaman Park adalah untuk menjaga hubungan keluarga. Tidak pernah muncul di otak Jiyeon bahwa tiga puluh menit terakhir makan malam tadi akan berujung pada sang ibu mertua yang mengharapkan seorang cucu untuk dipamerkan ke sanak saudara.

“Maksudku, sudah lama kau ingin masuk…ke kamarku untuk membersihkannya. Nah, aku sudah membersihkannya,” ucap Jimin lagi. Ada nada bangga di ucapannya. Sedangkan kosakata ‘kamar’ masih terdengar salah di telinga dan memberikan pemahaman yang berbeda.

Ciuman sungguhan saja belum pernah…bagaimana bisa buat…cucu? pikir Jiyeon.

“O-oh, boleh,” kata Jiyeon akhirnya.

“Tapi,” Jimin mengacungkan telunjuknya di udara, “Jangan. Rapikan. Apapun,” katanya dengan mantap.

Jiyeon mengangguk.

Setelah melawan degup jantuk yang tidak karuan, Jiyeon berhasil masuk ke kamar Jimin dengan selamat. Berhasil tidak pingsan juga karena ucapan Jimin benar adanya. Kamar laki-laki itu sudah lebih bersih dari penampakan kecil yang setiap hari Jiyeon lihat dari sela pintu. Tidak ada gundukan kertas atau plastik bekas snack. Tidak ada baju di atas kasur atau di lantai. Tidak ada kecoa apalagi tikus mati.

“Bagaimana? Aku berhasil menemukan bakatku merapikan kamar,” kata Jimin, tangan merentang seakan sedang memamerkan sebuah mahakarya.

Tapi balasan Jiyeon justru sebuah tawa yang perlahan semakin besar. “Ini,” Jiyeon berjalan mendekati kasur, “alas kasurnya terbalik.”

“Ha? Serius?” Jimin langsung cemberut. “Jiyeon-ah!” pekik Jimin ketika Jiyeon membuka alas kasurnya.  “Jangan rapikan apapun. Kan-”

“Aku tidak janji,” potong Jiyeon, yang berhasil membuat Jimin mendengus kecil. Kebiasaannya ketika kalah berdebat.

“Lagipula, kenapa aku tidak boleh merapikan kamarmu?”

“Ya karena kau istriku,” Jimin mengambil semua bantal dari atas kasur, “bukan petugas kebersihan.”

Selama memasang ulang kembali alas kasur, Jiyeon hanya bisa diam dalam pikiran. Ada perasaan senang yang membuat kedua sudut bibirnya tidak bisa turun dari batas maksimal. Mereka memang belum pernah melakukan kontak fisik yang berarti -kecuali saat Jimin mabuk dan demam masuk ke dalam hitungan. Tapi Jiyeon yakin bahwa hal itu bukanlah yang terpenting saat ini.

Jimin memasang bagian dekat kepala kasur, sedangkan Jiyeon di bagian bawah. Setelah selesai, laki-laki itu langsung melempar tubuhnya ke atas kasur. Menggoyangkan kedua tangan dan kakinya seperti bintang laut berjalan di atas pasir. “Wah, sisi ini lebih halus,” katanya.

Kesempatan itu Jiyeon pergunakan untuk menelisik meja kerja Jimin –dan merapikan beberapa buku yang letaknya miring-. Ia berhenti ketika matanya menangkap sosok album foto warna coklat pucat. Di depannya tertulis, “Jiyeonnie 95~” Spontan jantungnya langsung bertingkah tak karuan. Ia melirik ke belakang, mendapati Jimin masih berguling di atas kasur.

Dengan perlahan, Jiyeon meraih buku tersebut dan membukanya. Halaman pertamanya berupa halaman kosong yang bertuliskan “Hadiah Ulang Tahun Pernikahan. ” Dan halaman berikutnya berhasil membuat wajah Jiyeon kepanasan. Ada foto-fotonya saat masih bayi! Halaman berikutnya merupakan foto-foto seorang anak perempuan hanya menggunakan handuk dan menangis di dalam kolam karet. Di bawahnya ada tulisan “Jiyeonnie Tidak Suka Bebek Karet”

“Jimin…”

Tangan Jiyeon tetap membuka halaman berikutnya. Kali ini foto-foto saat ia masih sekolah dasar. Rambut Jiyeon dikepang dua, mengenakan gaun putih sederhana dengan kepala dihiasi bando dari lilitan bunga-bunga. Jiyeon kecil tersenyum sambil memegang piring kue ulang tahun bersama Kakek dan Nenek. Keriput di wajah keduanya masih belum banyak seperti yang Jiyeon ingat saat ini. “10 tahun! Jiyeonnie, Peri Bunga Kesayangan Kakek dan Nenek.”

“Apa yang kau lihat?”

Jiyeon membuka halaman-halaman berikutnya dengan cepat, sampai pada halaman terakhir. Foto pernikahannya dengan Park Jimin. “Apa Jiyeon Kami Bahagia?”

“Jiyeon?”

“Oh.” Ia berbalik, lalu menemukan Jimin sudah berada tepat di belakangnya dengan muka memerah.

“WAH! Itu, itu, itu,…” Jimin mengambil album tersebut, menyembunyikannya di balik punggung. “Ini sudah aku sembunyikan, Eh, hadiah dari Kakek. Iya!”

“Apa sih…ih,” Jiyeon sendiri sudah kehilangan kata-kata. Rasa malu bisa membuatnya meledak sekarang. “Sini kembalikan!”

“Eh? Ini…” Jimin berjalan mundur ketika Jiyeon mengulurkan tangannya.

“Kembalikan.”

“Ini kan punyaku! Apa yang harus aku kembalikan?” balas Jimin, lalu berlari ketika Jiyeon hendak menarik kemejanya.

“Foto-foto itu punyaku!” teriak Jiyeon, ia berhasil mengambil bantal dan melemparkannya tepat ke kepala Jimin.

“Bukan, ini punya Kakekmu.” Jimin berhasil menghindari lemparan bantal yang kedua. Lalu berlari menuju pintu kamar sampai ia dapati Jiyeon sudah lebih dulu berdiri di ambang pintu. Pipi Jiyeon menggembung, memerah.

Manis, sih, tapi Jimin bisa merasakan udara berubah berat. Istrinya itu tidak sedang main-main.

“Ini punya Kakekmu, kan?”

“Ya, jadi kem-”

“Kakekmu memberikannya kepadaku. Jadi, sekarang ini punyaku, kan?” tanya Jimin hati-hati. Yang malah dibalas dengan kerutan yang semakin menjadi di dahi sang istri.

Jimin paham bahwa Jiyeon adalah perempuan yang pemalu. Tapi baru sedetik yang lalu Jimin tahu bahwa perempuan bertubuh mungil itu bisa bergerak dengan cepat. Sedangkan sekuat apapun keinginan Jimin untuk menjaga album foto itu, segesit apapun ia menghindar, ia tidak akan enak hati menangkis tangan Jiyeon.

Dan kini, album fotonya telah berpindah tangan. Jimin masih tidak rela, tentu saja. Foto-foto di dalamnya itu merupakan Best of The Best Collection of Kim Jiyeon, lho! Lantas kali ini Jimin yang berhasil menarik pintu kamar ketika Jiyeon hendak keluar, mengunci pintunya, lalu mengambil kunci pintu dan berlari ke sebrang kamar.

“Jimin!”

“Kembalikan album fotonya padaku dan kau akan mendapatkan kuncinya,” ucap Jimin dengan napas yang memburu.

“Tidak mau,” balas Jiyeon tegas.

“Kalau begitu kau tidak akan mendapatkan kuncinya,” balas Jimin lalu memasukkan kunci ke dalam saku celana. Ia melipat tangan di depan dada.

“Ya sudah!” Jiyeon tidak mau kalah, mengunci album foto dalam pelukannya.

Keduanya saling bertatapan kesal, bersikukuh agar lawan bicara mengaku kalah duluan. Sampai semenit kemudian sosok Lee Jihyoon -ibu Park Jimin- seakan muncul dalam ruangan, duduk anggun di atas tempat tidur, tepat di tengah-tengah keduanya tanpa berusaha merelai namun berucap, “Kapan kalian berencana memiliki momongan?” Ucapan yang sama seperti yang beliau lontarkan saat makan malam.

Jimin hanya meringis, bisa-bisanya perkataan sang ibu menyambangi otaknya pada situasi seperti ini. Begitu juga dengan Jiyeon, rona di wajahnya sudah persis seperti remaja perempuan yang baru belajar dandan. Kebanyakan blush on merah muda!

“Oke…jadi, kembalikan album fotonya…” kata Jimin pelan.

Jiyeon hanya menggeleng.

Jimin tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Jiyeon. Namun, rasa geli menelisiknya. Jiyeon menempel pintu, memeluk album foto begitu erat, defensif, ditambah pipi menggembung semerah tomat. Tawanya pecah ketika ia menyadari kemungkinan bahwa Jiyeon juga memikirkan apa yang ia pikirkan.

“A-apa? Ke-kenapa kau tertawa?”

“Tidak ada. Kita ini aneh sekali,” jawab Jimin di sela-sela tawa.

Jimin akhirnya mampu mengontrol diri dengan duduk di atas tempat tidur, “Sini, biarkan aku melihat isinya untuk terakhir kali sebelum kau ambil, Jiyeon-ah.

“Serius? Kuncinya?”

“Iya, iya, nih kuncinya,” Jimin mengeluarkannya dari saku celana, lalu meletakkannya di meja kecil dekat tempat tidur. ”Aku benar-benar akan memberikan album fotonya untukmu. Serius!”

Jiyeon belum juga membalas. Dalam hati masih belum rela membiarkan Jimin melihat foto-foto masa kecilnya, namun di sisi lain juga tidak kuat apabila harus mendengar ucapan ibu mertua terkenang terus-menerus dan ia harus berada di kamar Jimin sepanjang malam.

Perlahan Jiyeon mendekati tempat tidur. “Ini,” ucapnya sambil mengulurkan album foto.

“Sini,” balas Jimin, menepuk tempat tidur di sebelah laki-laki itu.

Jiyeon mengambil napas panjang, meredakan jantungnya yang bertalu-talu ketika ia menempatkan diri di sebelah Jimin. Bukan bermaksud untuk tidak sopan, tapi Jiyeon akhirnya berhasil mengusir sosok fana Lee Jihyoon dan melupakan ucapan beliau.

“Aku tidak tahu kalau kau sekretaris OSIS di SMA,” ucap Jimin, membuka satu halaman yang banyak ditempeli foto Jiyeon dan teman-teman OSISnya.

“Bagaimana denganmu?”

“Aku cuma anggota di bidang kesenian,” balas Jimin. Yang dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya pada halaman yang lain.

Di sela-sela penyataan dan gurauan, di dalam hati, keduanya paham bahwa hubungan mereka masih membutuhkan banyak waktu.

Iya, walaupun sudah 15 bulan mereka tinggal di satu tempat yang sama. Apakah itu bulan depan, atau malah 15 bulan lagi? Jiyeon tidak tahu, ia tidak tahu kapan dinding kasat mata yang membuatnya selalu mempertanyakan status rumah tangga mereka akan runtuh dan menghilang. Jimin juga tidak tahu kapan. Entah besok, minggu depan, bulan depan, atau 15 bulan lagi ia butuhkan untuk mengenal Jiyeon.

Prioritas utamanya adalah menjadi seorang music director. Jimin ingat menjalani masa sekolahnya dengan aktif mencari tahu apa impiannya. Sering sekali ia membangkang ucapan orang tua ketika ia diharuskan mengikuti pertemuan sosialita dan masuk ke jurusan bisnis agar bisa meneruskan usaha keluarga. Lalu ketika ia akhirnya tahu apa yang benar-benar ingin ia lakukan, Jimin tidak punya pilihan apapun kecuali mengikat dirinya dengan seorang perempuan dalam janji pernikahan.

Sejak dulu, Jimin bahkan tidak pernah menjalin hubungan serius dengan lawan jenis. Lalu sekarang, ia malah memiliki seorang istri. Yang, yah, sebulan lebih tidak pernah mengatakan apapun kepadanya kecuali ‘jangan bicara denganku’.

Egois memang, tapi Jimin masih ingin mengejar banyak pencapaian. Setelah rapat dengan Yoongi akhir-akhir ini, Jimin tahu bahwa ia harus lebih serius. Yoongi adalah laki-laki yang visioner dan orang yang setengah-setengah bukanlah yang laki-laki itu butuhkan sebagai rekan kerja. Sedangkan Jimin paham betul bahwa hanya pernikahan ini yang bisa membuatnya tetap bisa meraih itu semua.

Apakah ia memang pantas bersama perempuan itu? Apakah perempuan itu tidak akan jengah dengan semua perlakuan setengah hati ini? Apakah semuanya akan baik-baik saja jika ia terus begini? Apakah perempuan itu benar-benar tidak akan pergi?

Apapun. Apapun yang  akan terjadi, Kim Jiyeon harus tetap menjadi istrinya.

“Sudah, kan?” Jiyeon menutup album foto dan membawa benda itu ke pelukan ketika mereka sudah mencapai halaman terakhir, membuat Jimin terbangun dari lamunan. Ia baru saja melewati banyak foto-foto langka Kim Jiyeon, tapi bukan itu yang benar-benar mengganggu benaknya.

Ia hanya bisa menatap Jiyeon beranjak dari tempat tidur, berjalan cepat meraih kunci dan keluar. Meninggalkannya begitu saja dengan kalimat tanya yang gagal menjadi nyata.

.

.

.

Apa kau bahagia, Kim Jiyeon? Apa kau akan bahagia? Aku akan sering melukaimu, Jiyeon-ah.

◊◊◊ a Ship ◊◊◊

.

.

◊◊◊ tentang Never Ending ◊◊◊

Jadi tuh, out of Bangtan’s solo songs, aku paling suka punya Jimin. Instrumentally dan lyrically /?/ wkwkwk. Di lagu itu -LIE- nyeritain Park Jimin yang dulu selalu nyalahin dirinya kalo something wrong happened dan kalo dia ngerasa he is merely not good enough (rlly bruh??) Kebohongan tentang rasa bersalah. Jadi ya gitu, ini 2100an kata masih menceritakan bagaimana Park Jimin ngerasa salah karena pernikahan mereka.

Udah, gitu aja terus mas…sampe Lovelyz comeback pake sexy concept juga /GA!/

never ending caught in a lie.

.

.

◊◊◊ curhatan azel ◊◊◊

Jadi, Interlude sama Never Ending ini draftnya udah jadi dari bulan Agustus. Tapi berenti soalnya, something is not making sense  gitu awal-awal. Nanti jd aneh gitu lanjutannya trus, ya real life jg kek gak punya hati gitu kan yah ihiks.

Selalu terima kasih untuk yang udah baca dan mampir di kolom komentar. Untuk semanganya jugaaaa huaaaa semangat kita~

Anw, itu anggep aja Jimin natep Jiyeon kek posternya. Feeling so guilty gitu somehow /APASIH!/

Advertisements

6 thoughts on “[A Ship] Never Ending

  1. Alvianit96

    Aku udh bersiap nugas sebenarnya tapi gak kuadh godaan.
    Jujur ka zel,aku lg sakit gigi dan baca ini bikin gigiku makin gak karuan…😆😆😆
    Haduuh pasangan ini membuatku terus berharap “Jodohkan saja mereka ya Allah”😂😂😂
    Tengah2 cerita feelnya bikin merinding sumpah kak..ibu mertua minta cucu pula😂😂 klo aku mah “hayukk cuss” /ngmong apa sih😁
    Ih ya aku baru sadar jd 15 bulan bersama gak pernah sekamar? Pantesan sekalinya sekamar semuanya jadi merah2 gtu pipinya. Aku juga ikutan merah😁😁
    Tapi endingnya..plis ka,hatiku tiba2 lari. 💔💔💔 kebohongan apa lagi ini. Kuatkan hamba ya Allah…hahha
    LIE LIE LIE gak akan keluar dr playlist…

    Semangat ka zel…ditunggu yg lain2. Sehat selaluh yaa😉😉😉

    Liked by 1 person

  2. Udah baca… kaget ada update lagi dr azel ? hihihi.. tapi senengnya lebih besar daripada kagetnya.. cerita yg ini keren, krn lebih panjang.. haha…. ga deng.. :-p
    dan.. interaksi antara mereka itu bikin greget deh..
    aku mah selalu menunggu kelanjutannya dr azel.. ^.^
    makasih azel udah bikin cerita yang keren-keren ini.. hihi..
    makasih juga udah disuguhin keimin yang ihh gemes abis.. ^o^

    Liked by 1 person

  3. yaelah ini kenapa pake segala berantem imut gini sih😭😭😭 bikin pgn cubit tau ugh…

    hai lagi kazel, aku lagi galauin hasil uts perdanaku di dunia kampus dan begitu baca ff ini… langsung lupa dah. ini gemes bgt asli, mereka kayak anak usia SD>< /eits bawa2 SD, night kamu tuh ya/

    aku mah gabisa ngomong banyak kak… fyi, bukan cuma penulis yg punya block alias writer’s block, tapi komentator pun punya block-nya tersendiri /apa/

    aku hanya bisa doain kazel supaya sehat selalu, tugas2nya selesai sblm deadline, juga supaya project awal tahunnya terselesaikan /lalu nightskies didepak… entah didepak darimana, pokoknya mah didepak aja/

    Liked by 1 person

  4. Azel nih update KeiMin lagi ga bilang2 /eh/ Mana bacanya 1 jam sebelum ujian,mana tadi tiba2 ada artikel Dek Kookie digosipin pacaran ama Dek Yein T.T (hilang sudah hafalan ujian selama seharian)
    Duh kasian Jimin ngerasa ga enak terus ama Jiyeon… T.T Aku mulai was2 ini cerita bakal rated gara2 ada kata ‘kamar’ ama ‘cucu’ –– nyahaha…
    Lie lagu solo member BTS favoritku juga~ >
    < Ntah kenapa selalu suka lagu dg musik2 misterius macem gitu…khekhe…
    Semangat nulis ya Zel~~ Ditunggu cerita selanjutnya ^^

    Liked by 1 person

  5. ANi

    Aku udah mengharapkan sesuatu di ff ini, apa? Soal Jimin yang ngasih kepastian jelas soal status mereka. Bukan cuma secara hukum, tapi dari hati mereka /ngomong apa sih!/

    aku udah terombang-ambing dilautan nyari BangLyz, akhirnya sibuk rl juga karena real life itu amatlah kejam dan keras. Apalagi menuju UAS, bentar lagi kelas 12 dan masuk kuliah. Semena-mena banget sih hidup tuh, ngasih peraturan aja engga/? tapi udah siap membunuh /apa sih?!/

    well, kakak ga pernah berenti buat yang manis soal BangLyz. Ini kakak inspirasi pabrik gulanya gitu. Selalu memberikan yang terbaik. Tapi saat aku baca Never Ending ini, gulanya mendadak hilang. Kakak ga punya niatan untuk bikin A Ship ini berubah haluan menjadi Angst dan sebangsanya, kan? Itu soal pemikiran Jimin membuat hati diacak-acak.

    Kebohongan apalagi yang Jimin lakuin ke Kei?

    Setelah sempat berpindah kapal dari Kei x D.O sejenak, kakak kasih sesuatu yang berbeda. Sebagai seorang pembaca dan yang bikin ff -nyatanya amatir- A Ship adalah gudangnya gula.

    Kakak jangan tersinggung, ini bukan protes sih apalagi nyampe demo nantinya /nyindir/. Bukan soal kecewanya aku. Tapi soal Jimin yang kapan ngasih kepastian sama Kei, kak? Kayanya aku ini shipper garis kerasnya mereka sampe gak nyadar kalo ini khayalan T.T

    ah maafkan aku yang sangat teramat menyebalkan sampe kek begini. Kakak berhasil membuat aku baper sama mereka, itu beneran loh ya, tiap baca kalimat yang bagian terakhir aku seolah jadi Jimin. Pokoknya kakak bikin gula lagi/maksa/ jangan yang sedih nanti aku baper/curhat/

    buat kak azel yang disana, aku mah di Bandung aja /apa?!/ doanya dari aku semoga sehat, dilancarkan inspirasi kapal BangLyz biar tetap berlayar di hati shipper garis keras, dan dilancarkan rl-nya yang kadang suka semena-mena ini.. Aamiin. Jangan sakit ya kak, sehat terus pokoknya… ❤

    Liked by 1 person

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s