[Freelance] Paper Heart (Chapter 2)

Standard

paper-heart

Written by ANi

Cast(s) of Lovelyz’s Seo Jisoo as Kim Jinsol and BTS’s Kim Namjoon

Romance, Sad, Crime, Mystery, and Friendship

PG-15 || Threeshoot

Thanks for amazing poster by Aikwan_Daegi via Story Poster Zone

||Paper Heart: Pt. 2 – Closer||

“Omong-omong, Kim Jinsol terdengar bagus untukmu,” celetuk Namjoon sembari melirik Jisoo yang masih setia dengan novel milik Mijoo.

“Maaf?” alis Jisoo berkerut-kerut.

“Aku dengar berita di TV itu, kok. Itupun kalau kau mau,” katanya dengan mengedikkan bahu acuh-tak-acuh. “Kau butuh pekerjaan, kan? Dan.. nama baru kurasa,”

“Berita yang mana, sih?”

“Serius mau kusebutkan siapa yang mencarimu?” tanya Namjoon dan mendekatan wajahnya.

“O-oh,” jawabnya singkat, bingung ingin membalas pertanyaan Namjoon dengan kalimat apa.

“Mau? Aku punya beberapa brosur kalau ingin lihat-lihat.”

||Paper Heart||

Jisoo berjalan gontai ke kasurnya. Ia tak kembali menemukan dirinya dalam tumpukan jerami. Jati diri Jisoo seakan hilang tertelan gravitasi dan tersapu begitu saja ketika ia melihat seorang pria berahang tegas muncul di kaca televisi.

Kapan dunia yang ditempatinya normal? Bahkan ia tau kalau si Kim Namjoon itu pembunuh.

Lalu nasib seluruh keluarga yang ia tinggalkan tanpa satu huruf atau kalimat tak tentu arahnya, seperti sebuah kapal di lautan yang terombang-ambing oleh ombak tak tau tujuan. Jisoo juga seperti manusia tanpa gairah hidup setelah pria itu muncul di televisi dan mengabarkan anak sulung Seo tidak dapat ditemukan.

Jadi, puluhan orang sedang mencarinya. Sekedar mengendus harum tubuhnya yang entah tanggal berapa bisa jadi menyisakkan tubuh tanpa nyawa. Belum lagi Mijoo dan Hoseok, mereka sudah terlalu banyak berpikir bagaimana dengan Seo Jisoo. Lalu Namjoon? Oh pria itu bahkan tak peduli.

Jikyung, mungkinkah karena pria itu? Pria yang juga punya hubungan dengan Kim Namjoon? Pria yang menggulingkan Ayahnya dari tahta kebenaran? Tentu saja bisa jadi. Tapi apa hubungan Jikyung dengan pria sialan itu? Uang sajakah? Atau kekuasaan?

Keduanya memungkinkan, begitu menggirukan. Atau ada hal lain lagi?

||Paper Heart||

Flashback

“Aku tak suka kau bermain sendirian, bocah ingusan!” gumam Namjoon sembari memainkan belati kecil milikinya.

“Hei! Aku bukan bocah-“

“Ya, kau sudah cukup tua, sih, menurutku. Lihat wajahmu, berkeriput begitu, perutmu buncit, apalagi? Oh, kau bodoh juga,” tawa Namjoon menggelegar, menggema di seluruh ruangan tanpa henti.

“Hentikan tawamu, Kim Namjoon!” pekik Jikyung kesal. Mendecih sebal.

“Apa? Bukankah lucu? Oke, selera humormu sangat buruk. Um, oke, Seo Jisoo?”

“Seo Jisoo? Nama macam apa itu, Namjoon? Huh,”

“Akan menjadi peringatan untukmu, ya, nama itu,” pria dengan lesung pipit itu mengangguk mengerti. Segera ia bangkit mendekati Jikyung yang terikat pada kursi, bersama cahaya temaram gudang. “Aku serius, bayi besar!”

“Omong-omong, selera humormu juga sangat buruk. Hei!”

Jikyung memekik nyaring ketika Namjoon terduduk di depannya dengan wajah jenaka, tersenyum seperti bocah kecil berumur 5 tahun. Bukan, Namjoon memainkan belatinya di sekeliling kaki Jikyung.

“Kutanya padamu, apa yang Seung Hyun inginkan dari gadis muda dan putri sulung keluarga Seo? Takkan aku bertanya padamu dua kali,” ujar Namjoon dan menunjukkan jari telunjuk serta jari tengah miliknya.

“Dia.”

Flashback

||Paper Heart||

“Aku tak percaya kau menyuruhku berganti nama,”

“Hm.. “

“Aku tak punya masalah padamu, loh. Tapi ini pemaksaan!”

“Ya,”

“Ugh, serius! Memangnya kalau Seung Hyun itu mencariku kenapa? Repot sekali mengurusku,”

“Hm.. “

“Aku tak pernah berteriak dan menuntut jawaban lalu mendapat jawaban ‘hm’ dan ya’ saja,”

“Lalu?”

“Kau tak mau cek telingamu ke THT?”

“Aku masih normal, sih, Jisoo. Mau pekerjaan?”

“Aku bertanya kenapa kau memaksa sekali membuatku untuk berganti nama,”

“…”

“Namjoon!”

“Aku akan cek ke THT kalau kau teriak terus. Dan kau bayar,”

“Ya, jawab,”

“Kim Jinsol, cocok, aku serius. Cocok untukmu,”

“Hm, pekerjaan?”

“Dua blok dari sini ada coffe shop, pemiliknya sedang butuh karyawan tambahan.”

||Paper Heart||

3 months later

Jinsol memakai pakaian kerjanya seperti biasa. Tapi ketukan pintu membuatnya berhenti membuka bungkusan pelembab baru. Tau persis juga kalau yang mengetuk itu bukan Mijoo dan Hoseok, buru-buru ia mendekati pintu.

Tapi yang dilihatnya hanya pintu kamar Mijoo yang berhadapan dengan miliknya. “Selamat pagi, Kim Jinsol. Mau bekerja?” suara itu menyambut keterkejutan Jinsol di ambang pintu. Dia, Kim Namjoon.

“O-oh kau. Ada apa?” tanya Jinsol dan melihat Namjoon yang bersandar pada dinding di samping pintu kamar. Lalu si pria mengangkat tinggi-tinggi kantung putih berisi kotak makanan.

“Setidaknya aku masih bisa masak. Kau lapar, kan? Dan jangan tanya kenapa sepagi ini aku datang. Hanya kau jawab pertanyaanku, mau bekerja?”

“Ya, sejujurnya aku cukup lapar. Dan aku memang mau bekerja hari ini. Terima kasih, Namjoon. Lalu-“

“Aku akan ke dapur, berdandan saja dulu.” potongnya cepat sambil membawa bungkusan itu ke dapur. Dia tau persis Jinsol seperti apa, bahkan tanpa ia sendiri yang mengucapkan satu katanya saja.

“Dan, Jinsol –aku tak menunggumu hanya untuk berada di depan pintu!” Jinsol melupakan satu hal, Namjoon tak begitu suka menunggunya.

||Paper Heart||

“Maaf, tapi dia mainanku sekarang,” ujar Namjoon tak mengindahkan eksistenti Jongwoon yang kini menatapnya penuh amarah. “Tunggu, tuan Park. Kau perlu tau satu hal, aku akan kembalikan dia setelah dia jadi mainanku. Aku takkan berbohong,” tambahnya dan kembali membolak-balikkan koran itu tanpa minat.

Ingat, Park Jongwoon penghancur mood baiknya setiap hari.

“Kapan?! Ini bahkan sudah sangat lama dari kau menangkapnya untukku!” bentak pria itu.

“Hanya beberapa hari lagi, kok. Tenang saja, lagi pula bukankah dia itu punyamu?” tanya Namjoon dan menekan kata ‘punyamu’ pada Jongwoon.

“Baiklah, aku tunggu sampai kau berikan dia padaku.”

Lalu pria itu beranjak pergi dari apartemen Namjoon dan dengan tanpa sopannya membanting pintu. “Bahkan kau tak memintaku membawanya mati atau hidup.” dengusnya dan melempar koran sembarangan.

||Paper Heart||

Sudah ada tiga bulan lebih dua minggu ia menumpang di apartemen Mijoo dan Hoseok. Dan selama dua bulan lebih ia begitu jauh dari kata Seo Jisoo dan juga kehidupannya yang kelam, meskipun kegelapan masih menghantuinya bagai wajah Seung Hyun yang selalu bergentayangan dalam mimpi Jinsol setiap malam.

Skenario itu bermula dari Namjoon yang mengetahui namanya begitu bermasalah, sangat bermasalah. Ketika Seung Hyun mencari-cari dimana keberadaan Jisoo berada. Alih-alih tak peduli, Namjoon membantunya hingga ia rela menjemput saat malam hari di kafe tempat Jinsol bekerja. Atau bahkan menghabiskan malam bersama di apartemen Mijoo dan Hoseok dengan secangkir teh terkadang.

Tak jarang, Namjoon membawa Jikyung yang berani bertemu dengannya. Walaupun dengan jelas Namjoon memaksa Jikyung. Sudah dua minggu ia sering bertemu dengan pria –hampir- tua itu, sekitar empat pertemuan.

Pun peningkatan yang terjadi dalam rangka Namjoon membantunya inilah yang mengurung Jinsol pada perasaan aneh yang hangat, menjalar bagai benalu di permukaan hatinya. Bahkan ia tidak punya perasaan rela begitu saja untuk meninggalkan Namjoon setelah semua ini berakhir dan tenggelam dalam kenangan.

Mengapa harus pria bernama Kim Namjoon itu yang tak ingin ia tinggalkan? Mengapa tak Hoseok saja atau Mijoo?

Dan ia sama sekali tak ketakutan untuk terus berada dalam radius terdekat dengan Namjoon sekalipun, pria itu seperti memberi perlindungan yang sangat kentara di depan matanya. Sekalipun Namjoon di cap sebagai Pembunuh Bayaran Paling Terkemuka Di Kalangan Yang Ingin Membalas Dendam, sudah jelas pria itu berbahaya seperti yang dikatakan padanya saat ia masih memegang identitas sebagai Seo Jisoo.

“Kau tidak mau tidur? Besok kau harus datang pagi ke kafe,”

Jinsol memutar tubuhnya, menghadap Namjoon yang sudah terbuai oleh aroma teh hijau. Memejamkan mata dan begitu damai.

“Kupikir tidak. Besok kafe diliburkan. Pemiliknya akan pergi selama tiga hari karena ada urusan di Incheon. Sementara waktu aku bebas. Boleh aku bertemu Jikyung lagi?” tanya Jinsol, memekarkan kurva kecil dibibirnya sebagai bentuk permohonan.

“Jikyung? Kupikir juga tidak nona Kim. Kau mau kucekik atau bagaimana? Jikyung sedang ada tugas,”

Seketika itu kurvanya terbalik.

Mengapa pria ini begitu senang menjungkar balikkan segalanya? Oh bisa jadi otaknya juga sudah jungkir balik, desisnya dalam hati.

“Aku pikir kau mau berjalan-jalan denganku, menghabiskan waktu berdua di luar setelah pulang dari kafe tentunya. Yah, aku pikir kau mau karena bosan hanya bisa duduk diam di apartemen ini dan bekerja saja,”

Helaan napas panjang terdengar beruntun bagai gerbong kereta api dari mulut Namjoon, sangat panjang. Tapi Jinsol kembali mengumbar senyumnya setelah dalam mode Cemberut.

“Ide yang bagus, Kim Namjoon!”

||Paper Heart||

“Aku tidak tau kau bisa menghabiskan Latte sebanyak itu, padahal kopi hitam yang sering kulihat,” gumam Jinsol sembari meminum Lattenya sendiri.

“Kurang banyak pengetahuan tentangku,” balas Namjoon asal, bingung juga harus membalasnya bagaimana. “Kurasa kau juga kurang pengetahuan. Ya, tak hanya aku saja, sih,”

“Kau saja yang tidak tau aku ini gadis pintar,” decih Jinsol dan mendendang kaki Namjoon dari bawah meja.

“Ya!”

“Oh, apakah ini semacam kencan atau apa?” tanya Jinsol lalu mendesah kesal setelah Namjoon memekik kesakitan.

“Memangnya aku bilang padamu ini adalah kencan? Aku tidak tau kalau otakmu sudah miring,” tukasnya pelan dan mendelik.

“Tidak, sih. Hei! Sudah kubilang kan kalau aku ini gadis pintar, jaga bicaramu!”

“Kalau ini kencan, tidak romantis,”

“Siapa juga yang mengharap ini kencan romantis ala drama-drama. Bisa jadi sampai di apartemen nanti aku kena serangan jantung,” kata Jinsol tajam.

“Ah, kau berharap.”

||To Be Continue||

Notes:

  1. Aku mau minta maaf karena ini sangatlah lama. Ternyata ‘dunia nyata’ itu agak menyebalkan/plak. Mengingat Real Life disibukkan dengan nugas dan nugas lagi, mana deadline mepet semua pula, jedukin kepala aja udah. Makin bikin menyebalkan saat tugas cuma jadi pajangan doang, kan ga lucu.
  2. Maaf kalo chapter 2 ini mengecewakan dan teramat sangat, aku sedang ga mood membuat Romance. Plotnya juga terlalu banyak yang ingin dipilih dan jatuhnya menjadi ‘maksa’.
  3. Clue: karena threeshoot kurang memuaskan buat aku, tetapi Paper Heart bakal selesai setelah ada epilognya karena ini diawali oleh teaser dan prolog/#ambigu/

Sekian, mind to review?^^

 

Advertisements

4 thoughts on “[Freelance] Paper Heart (Chapter 2)

  1. Alvianit96

    aku nungguin ini banget serius 😀 aku suka crime crime gtu yang ada bunuh-bunuhannya hahah/jangan berfikiran aku psycho ya hihihihi/
    aku selalu pengen nyoba nulis genre ini tapi selalu gagal,karena….hahhaah entahlah/menangis

    ini menonjolkan jisoo n namjoon ya? aku masih bertanya2 apa namjoon ini seorang psycho?
    jisoo ganti nama jadi jinsol? itu yang ada dibayanganku bukan mba jisoo tapi jinsol nya April 😀
    aku akan selalu menunggu paper heart ANi,..:D

    selamat berjuang RL nya ya ANi,tugas2 emang kejam. lebih kejam dari comeback bias 😀 😀 sehat selalu

    Like

    • ANi

      Halo kak alvi. Makasih banget udah nungguin padahal ini jelek banget /nangispojokkamar/. Kalo kataku sih crimenya ga berasa, cuman ya seperti yang aku kasih tau di Notes, aku merasa kurang puas dengan tulisan sendiri. Karena tugas dah keteteran, file ff kek gundukan sampah di netbook, pokoknya ga ada hari libur sekalipun sabtu-minggu ga sekolah

      ini emang nonjolkan Jisoo-Namjoon. Dan Namjoon itu ga psycho, cuman dia sakit hati aja. Keterangan kenapa Namjoon jadi kek begini bakal aku jelasin kok, tapi nanti/halah/. Soal nama Jisoo yang berubah, itu aku ga ada ide, kukasih Jinsol aja. Makasih udah mau nungguin kak^^

      Kak Alvi juga semangat RL nya, sehat juga ya kak>.<

      Like

  2. JiminKeiJisooJoon

    Huwaa,, akhirnya update jga setelah sekian lama,,, tau gak sih Thor, aku blog ini cuma mau ngeliat ini ff udh update apa belom. Gak ngecewain kok,, cuma karena factor agak lama, jadinya aku agak lupa. dan ini aku mau baca ulang wkkw. jadi Seunghyun itu siapa? Kenapa Jisoo ganti nama? Mainan yang tadi Namjoon bilang itu mksd nya siapa? banyak pertanyaan deh,,, cepet update yahh ^^

    Like

    • ANi

      Halo… Makasih ya udah nungguin dan maaf ini lama sangat T.T

      untuk pertanyaannya, mungkin bisa terjawab setelah chapter 3 atau di sebelumnya/spoiler apa ini?!/ dan kenapa Jisoo ganti nama soalnya dia diincar terus sama cowo yang kamu tanyain, dan untuk ‘mainan’ itu masih dirahasiakan kkk~ /ketawa sadis/

      aku usahakan bisa kirim yang selanjutnya ke LFI sebelum liburan. Makasih sebelumnya udah baca dan komen^^

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s