[Freelance] In The Fourth Season

d995ecb7ebe283cddf243b8f849c4624

IN THE FOURTH SEASON

Author                        : Raissa Pearl

Cast                 : Yoo Jiae (Lovelyz), Min Yoongi (BTS)

Genre              : Romance

Length                        : Vignette (1939 words)

Rating             : T

Disclaimer       : The characters are owned by their agencies. The story-line and the poster are mine. Plagiarizing is no no no~ Better read previous stories before read this (Feeling – Let’s Be Friends – Cold Farewell)

 

“ Our first meeting was in summer, my first ‘different’ feeling toward you was developed in autumn, and our farewell was happened in winter.

Then what will be happened in this spring?”

21 Mei 2016

Ne, Eomma. Aku akan kembali nanti sore.” terdengar suara Yoo Jiae yang sedang menelepon ibunya sambil menyetir mobil. Gadis berkulit putih merona yang telah tumbuh dewasa tersebut sudah beberapa hari berada di Korea setelah 4 tahun tinggal dan kuliah di Kanada.

Dan dia sangat ingin bertemu seseorang saat ini.

Jiae memarkir mobilnya di depan sebuah kedai yang dulu sering didatanginya, kedai tteokbokki bibi Min Yoongi. Dari jendela mobil, dia bisa melihat bahwa tidak banyak yang berubah dari bangunan kedai tersebut, kecuali cat yang diganti karena mungkin warna cat yang lama sudah terlihat kusam.

Yoo Jiae turun dari mobil, memandangi kedai di hadapannya dengan senyum mengembang.

“ Aku sangat merindukanmu..”

*  *   *

“ Yoongi-ya, daripada kau hanya sibuk dengan kuah itu, lebih baik kau sapu bagian depan kedai. Sedang tidak ada orang saat ini.” seru bibi Yoongi pada keponakannya yang sedari tadi hanya sibuk mengaduk-aduk kuah pedas dalam panci berukuran sedang.

Min Yoongi yang kini berumur 23 tahun hanya menoleh ke arah bibinya dengan wajah tidak suka. Dari semua pekerjaan yang dia lakukan di kedai ini, dia paling tidak suka disuruh menyapu halaman depan kedai. Menurutnya, kenapa dia harus menyapu tempat yang nanti akan kotor lagi dalam beberapa menit?

“ Kau tidak mau?”

“ Tidak.” Yoongi masih sibuk mengaduk-aduk kuah yang ada di hadapannya. Sebenarnya dia sedang memikirkan sesuatu, yaitu tentang hari ini. Hari yang menurutnya spesial setelah ulang tahun ibunya – Yoongi tidak terlalu memikirkan tentang ulang tahunnya sendiri.

Bibi Yoongi hanya bisa mengeluh. Dia tidak bisa memarahi keponakan kesayangannya itu setelah semua yang terjadi padanya. Memilih mengalah, beliau mengambil sapu yang ada di pojok dapur dan berjalan menuju halaman depan kedai.

Tapi beberapa menit kemudian, bibi Yoongi kembali lagi. Dan Yoongi menatap beliau heran.

“ Sebaiknya kau saja yang menyapu.” kali ini ada senyum di wajah perempuan paruh baya tersebut. Tangannya mengulurkan sapu ke arah Yoongi.

“ Tidak mau.”

“ Kau harus, atau kau menyesal nanti.”

“ Apa maksud Bibi?”

“ Sudah keluar sana!” dengan paksa, bibi Yoongi menyerahkan sapu pada laki-laki tersebut, lalu mendorongnya keluar dari dapur.

“ Kuah ini sudah terlalu lama kau aduk, Min Yoongi!”

Yoongi menoleh ke arah bibinya dengan kening berkerut. Dia berniat membuang sapu yang ada di tangannya dan berjalan keluar, tapi seseorang yang sedang berdiri di dekat pintu kedai membuat langkahnya terhenti.

Dan Yoongi bisa merasakan bahwa waktu juga terhenti untuknya saat ini.

“ Yoongi-ya…”

*  *   *

“ Yoo Jiae…”

Jiae tersenyum ketika mendengar laki-laki berkemeja putih kusam dan rambut cokelat tua acak-acakan di hadapannya memanggilnya. Akhirnya dia bisa mendengar suara laki-laki itu lagi secara langsung.

“ Kau tidak banyak berubah, Yoongi-ya…” Jiae berjalan mendekati laki-laki yang ternyata adalah Yoongi tersebut. Bibirnya tidak bisa berhenti membentuk senyuman.

“ Kau… kapan kau pulang?”

“ Sekitar 4 hari yang lalu. Maaf aku baru bisa mengunjungimu sekarang.”

Yoongi yang sedari tadi tampak kebingungan kini mulai tersenyum.

“ Yang penting kau datang, Yoo Ssaem.” ucap Yoongi, membuat Jiae tertawa kecil karena dia kini adalah lulusan dari Fakultas Kedokteran.

Yoongi kemudian menatap kursi yang ada di dekatnya, “ Duduklah, aku akan mengambilkan makanan untukmu.”

Yoongi akan berbalik dan berjalan menuju dapur, tapi Jiae dengan cepat menarik tangannya.

“ Yoongi-ya, ayo pergi..” Jiae menatap Yoongi yang kebingungan. “ Ayo pergi ke suatu tempat yang bagus di musim semi ini…”

“ Kau mau ke mana?”

Jiae menggeleng pelan. Berada di Kanada selama 4 tahun membuatnya lupa akan segala tempat di Korea ini, kecuali rumahnya dan kedai ini tentu saja.

Yoongi menatap ke arah langit-langit kedai, mencoba berpikir.

“ Aku ingat. Ada tempat yang bagus untuk berjalan-jalan.” ucap Yoongi sambil tersenyum senang.

“ Kalau begitu, ayo ke sana!”

“ Tunggu!” Yoongi melihat ke arah pakaiannya sendiri. “ Aku akan merapikan ini, tunggu sebentar.” ucapnya sambil berjalan masuk ke dapur.

Sementara Jiae tetap berada di posisinya semula. Berdiri sambil terus menghela nafas.

“ Yoongi-ya, maafkan aku..” ucapnya sambil berusaha menahan air mata yang siap menetes kapan saja.

*  *   *

“ Di sini?”

Yoongi mengangguk ketika Jiae mengerem mobilnya dan menatapnya, memastikan jalan yang diarahkan Yoongi padanya sudah benar.

“ Kau bisa lihat ke depan sana.” tunjuk Yoongi yang kini berpakaian lebih rapi daripada saat di kedai tadi, walaupun masih dengan kemeja putih kusam yang sama. Pandangan Jiae mengikuti arah yang ditunjuk laki-laki tersebut. Mulutnya kemudian terbuka lebar karena takjub.

“ Yoongi-ya, darimana kau bisa menemukan tempat ini?”

Yoongi hanya tersenyum bangga sambil ikut menikmati pemandangan yang ada di depan mereka, hamparan tanah subur di mana berbagai macam bunga berwarna-warni tumbuh di sana. Di sampingnya ada lapangan rumput kosong yang sepertinya belum pernah dipijak oleh orang lain. Tempat itu terlalu indah untuk diabaikan orang-orang, menurut Jiae.

“ Inilah gunanya aku sering jalan-jalan sendirian.”

Jiae hanya bisa tertawa kecil sambil membuka pintu mobil. Dia keluar dan menghirup udara segar, sementara Yoongi menatapnya dari dalam mobil dengan senyuman yang entah kenapa tidak bisa dia hentikan sejak tadi.

Hampir 2 tahun Yoongi menunggu untuk bisa menunjukkan tempat ini secara langsung pada gadis tersebut.

“ Min Yoongi, keluarlah!”

Eo!” Yoongi membuka pintu mobil. Sinar matahari dan angin yang berhembus pelan menerpa wajahnya, membuat matanya susah terbuka. Yang bisa dilihatnya hanyalah kaki Jiae yang berlari menuju deretan pepohonan dengan bunga-bunga cantik yang berada beberapa meter di depannya. Sambil menutupi sebagian wajahnya dengan telapak tangannya, Yoongi berjalan menyusulnya.

Min Yoongi akhirnya berhasil berteduh di salah satu pohon besar yang ada di dekat pohon-pohon bunga tersebut. Dilihatnya Jiae yang sedang asyik melihat-lihat sekumpulan mawar.

“ Yoongi-ya, boleh aku memetiknya?” tanya Jiae tanpa menoleh untuk mencari keberadaan laki-laki yang dipanggilnya, karena dia sudah berdiri di sampingnya saat ini.

“ Entahlah, sepertinya kebun bunga ini tidak ada pemiliknya.” Yoongi menengok ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada orang lain di tempat itu. “ Petik saja.”

“ Kau pergi sendirian sejauh ini dan menemukan tempat seindah ini. Aku iri padamu.” ucap Jiae sambil mencoba memetik sekuntum mawar merah muda. Tapi dia tampak ragu karena duri-duri yang ada di batangnya terus menusuk tangannya.

“ Kau cari bunga yang lain saja.” Yoongi menarik tangan Jiae, khawatir tangan putih tersebut akan terluka karena duri mawar.

“ Aku mau mawar ini, Yoongi-ya.”

“ Biar kupetikkan.”

Jiae menatap Yoongi dengan ekspresi sedikit terkejut, dan Yoongi sendiri juga terkejut karena Jiae menatapnya seperti itu.

“ Baiklah..” Jiae berjalan menuju pohon bunga yang lain, sementara Yoongi mencoba untuk memetik mawar tadi. Untungnya duri mawar tersebut tidak melukai tangannya.

Setelah mendapatkan mawar tersebut, Yoongi berjalan mencari Jiae. Ternyata gadis tersebut sedang berjingkat di depan deretan bunga anyelir berwarna-warni.

Dan Yoongi kini berdiri lagi di samping Yoo Jiae secara tiba-tiba.

“ Kau sudah mendapatkannya?” gadis tersebut berdiri sambil menatap Yoongi ceria. Yoongi menyodorkan sekuntum mawar merah muda yang batangnya dibalut saputangan.

“ Huh, kenapa ada saputangan?”

“ Agar tanganmu tidak terluka.”

Jiae kembali terkejut mendengar kata-kata Yoongi. Perlahan diambilnya mawar tersebut, kemudian ditatapnya laki-laki berkulit pucat itu dengan mata berkaca-kaca.

“ Yoongi-ya…”

Yoongi menoleh, hanya melihat ke arah Jiae dengan tatapan bertanya. Tapi tiba-tiba saja Jiae mengambil beberapa langkah mendekatinya, dan mencium pipinya.

Mata kecil Min Yoongi melebar. Dilihatnya gadis yang ada di hadapannya. Gadis tersebut tersenyum kecil, tapi matanya tampak basah.

“ Apa… kau akan pergi lagi sehingga kau melakukan ini?” tanya Yoongi, dengan detak jantung yang terasa lebih cepat dari biasanya.

“ Kau selalu menebaknya dengan tepat..” suara Jiae tercekat, menahan tangis. “ Kali ini aku tidak akan pergi jauh… Hanya ke Jepang… untuk magang…”

Jiae menatap Yoongi yang tidak memberi respon apapun pada kata-katanya tadi. Dia kembali mencoba tersenyum, walaupun saat ini terasa sulit baginya untuk melakukannya.

“ Terima kasih, telah menjadi sahabatku selama 10 tahun lebih, Yoongi-ya. Bahkan ketika kita harus berpisah beberapa tahun karena kuliahku, kau masih selalu ada untukku. Tapi untuk kali ini, aku takut jika aku tidak mengatakannya, kau akan pergi.”

“ Aku… ingin mengatakan, bahwa aku menyukaimu, Min Yoongi.”

Yoongi masih tidak memberi tanggapan apapun atas apa yang Jiae katakan padanya. Dia seperti menunggu gadis tersebut untuk mengatakan semua yang ingin dia katakan.

“ Anggap saja aku egois atau kekanak-kanakan, tapi ketika dulu kau bilang bahwa kau menyukai perempuan lain, aku merasa ada yang aneh denganku. Seperti.. aku tidak mau kau bahagia dengan perempuan lain selainku. Dan aku takut, ketika aku pergi lagi nanti, kau akan menemukan orang lain lagi untuk menemanimu di sini selama aku tidak ada, dan kau akan menyukainya.”

Air mata Jiae menetes perlahan tepat setelah dia selesai bicara.

“ Kau sudah selesai bicara?” akhirnya Yoongi membuka mulutnya. Jiae hanya mengangguk sambil tetap memandang lurus ke arah laki-laki tersebut, walaupun bulir-bulir air mata kini terus mengalir di pipinya.

Yoongi mengambil satu langkah mendekat ke arah Jiae. Tangannya terulur untuk menyeka air mata di pipi putih merona gadis tersebut.

Untuk beberapa detik, Yoongi menatap wajah Jiae dengan perasaan tidak menentu. Yoo Jiae adalah sahabatnya selama hampir 13 tahun, tapi baru kali ini menatap wajah gadis tersebut sedekat ini membuat jantungnya berdetak sangat kencang.

Hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya sendiri pada Jiae, memejamkan mata dan mencium bibir merah muda gadis tersebut dengan lembut.

Yoo Jiae yang berpikir bahwa sahabatnya tersebut akan menganggap kata-katanya tadi konyol tidak menyangka Yoongi akan melakukan hal ini. Ingatan tentang semua hal yang mereka lakukan bersama selama 12 tahun lebih kembali muncul di pikirannya.

Apakah Min Yoongi juga merasakan hal yang sama dengannya?

Yoongi melepas ciumannya, lalu menatap Jiae sebentar sambil mengambil satu langkah mundur.

“ Aku… Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padamu. Aku hanya bisa berterima kasih padamu atas waktu-waktu menyenangkan bersamamu dan juga perhatianmu. Jujur saja, kau adalah orang yang paling berharga di hidupku setelah ibuku dan bibiku.”

Sama seperti yang dilakukan Yoongi padanya tadi, Jiae terdiam dan membiarkan laki-laki di hadapannya mengatakan semua yang ingin dia katakan.

“ Kau memberiku banyak hal yang tidak bisa kubalas satu per satu. Kau juga selalu bersamaku walaupun aku sering mengatakan hal-hal yang mungkin menyakitimu. Aku hanya tidak terbiasa mengatakan hal-hal manis pada orang lain. Maafkan aku.”

“ Dan jika kau pikir aku akan mencari orang lain selama kau pergi…” kini Yoongi menatap Jiae tajam, “ … apa kau pikir aku akan semudah itu berpaling darimu, huh?”

Jiae terkekeh, walaupun air matanya masih mengalir. Dia lalu mengulurkan tangan kanannya, meraih tangan Yoongi dan menggenggamnya.

“ Terima kasih untuk selalu bersamaku apapun yang terjadi, Yoongi-ya…”

Yoongi tersenyum. Tangannya yang lain lalu mengusap lembut rambut cokelat muda Jiae.

“ Kau akan kembali secepatnya kan?”

Jiae mengangguk. Yoongi kemudian meraih sesuatu di lehernya, kalung dengan cincin milik ibunya sebagai bandul, yang masih dia pakai hingga saat ini. Dia melepas kalung tersebut, kemudian memasangkannya pada leher Jiae.

“ Yoongi-ya, ini milik ibumu.”

“ Hadiah ulang tahunmu.”

Jiae baru teringat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.

“ Tapi… ini benda paling berharga untukmu.”

“ Bukankah sudah ku bilang kalau kau juga berharga untukku?”

Jiae ingin menangis lagi karena terharu mendapat hadiah kalung tersebut, tapi dia sudah terlalu lelah untuk melakukannya.

“ Aku memang berencana memberikan kalung ini jika kau sudah jadi milikku, Yoo Jiae.”

“ Huh? Milikmu?”

Yoongi menarik sudut bibirnya, “ Aku tidak tahu pasti sejak kapan kau benar-benar menyukaiku. Tapi dari ceritamu tadi, sepertinya aku yang lebih lama menyukaimu.” ucapnya sambil menarik tangan Jiae dan berjalan menuju sisi kebun bunga yang lain.

Pipi Jiae memerah setelah mendengar kata-kata Yoongi. Laki-laki tersebut selalu mengucapkan segalanya secara langsung. Tapi justru itulah yang membuat Jiae merasa nyaman bersamanya, karena tidak ada hal yang dia tutup-tutupi hanya untuk membuatnya merasa lebih baik.

“ Yoongi-ya..”

Eo.”

“ Jadi, apa setelah ini kau akan memanggilku ‘Jiae-ya’?”

“ Tidak akan.”

*  *   *   *

Selesai juga akhirnya~~ \(^^)/ Jangan pada baper ya baca FFku. Hehe… -,- *kamu juga, mbaknya yang nulis cerita* Happy ending, tapi mbak Jiaenya pergi lagi buat magang. *tenang, mas Agus setia menanti ._.*

Niatnyapinginbikin FF dengan member Lovelyz yang lainnyajuga, tapiakhir-akhirinilagigasempetgara-garabanyakkegiatan T^T *ngalah-ngalahinjadwal bias*

See you next time, teman-temanLovelinus~ ^^

Advertisements

4 thoughts on “[Freelance] In The Fourth Season

  1. Tisu mana tisu😭😭😭😭😭
    Malming kok nangis2😭😭😭
    Seneng akhirnya mereka bahagia. Aku juga mau bahagia kak.

    Btw happy anniv uri lovelyz8 …huaa
    Ditunggu karya lainnya kak raissa..😉😉😉😉

    Like

    • Haha…jangan nangis~ x’D Kita semua pingin bahagia kok /?/
      Yee~~ pas banget sama annivnya uri Lovelyz~ ^^ Semoga abis ini ada kabar comeback mereka…kangen T^T
      Makasih udah mampir ya Alvi~ ;3

      Like

  2. Hiih ga taunya mereka itu… mreka itu, ah sudahlah. Waktu aku baca ff-nya ngalir aja, enak banget, manis-manisnya berasa /apasih?/. Tapi pas udah nyampe ending dan baca lagi ke bawahnya… Menjelang akhir tahun kayanya hampir semua orang disibukkan dengan kegiatan masing-masing, aku sendiri aja bingung. RL sangatlah kejam /curhatsalahtempat/

    ff keren, mengaduk-ngaduk perasaan aku. Udah kek wahana taman bermain aja ini.

    Kak Raisa semangat selalu, sehatnya jangan lupa biar bisa bikin ff manis lagi^^

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s