Persimpangan [Chapter 5]

Poster_Phynz20_Persimpangan_by_Phynz20[1]

Persimpangan

A long-fiction by Phynz20 (@putriines) spesial Challenge-Fic

.

Starring: [Lovelyz‘ Sujeong – BTS‘ V – 17‘s Mingyu] [Lovelyz‘ Yein – BTS‘ Jungkook – iKon‘s Chanwoo] || Rated: Teen || Genre: DramaSlice of LifeHurt/ComfortRomanceFriendship and many more || Length:  Multi-Chapter

.

Saya sarankan membaca Who, What, How – [1] – [2 [3– [4terlebih dahulu

Kamu juga bisa membaca Another Stories: FallAndTaint – Friendship? Or Friendzone? – Tersesat

.

Notes: Saya tidak tahu kurikulum dan kehidupan sekolah di Korea, jadi harap maklum dengan keabsurdan cerita ini. Juga di cerita ini, tahun ajaran dimulai saat musim panas, berbeda dengan kurikulum Korea yang memulai tahun ajarannya pada awal tahun.

.

Hati, atau Otak?

“Sujeong? Mingyu?”

“Ji… Jiho?!”

Jiho membulatkan mata melihat penampakan yang ada di hadapannya. Tak menyangka bahwa kejadian yang selama ini ia bayangkan akan terjadi juga. Padahal ia sudah hampir percaya dengan sumpah yang dilontarkan Sujeong.

“A-aku duluan ya….”

Dengan kata itu Jiho pergi meninggalkan mereka. Langkah kakinya besar-besar, berharap tak dicegat oleh salah satu diantara mereka. Padahal dengan suara langkah dibelakangnya saja dia harusnya sudah tahu kalau dirinya diikuti.

“Jiho, dengar dulu!”

Sujeong berhasil menyusul langkah panjang Jiho. Ia segera membalik tubuh gadis itu setengah paksa. Tak berniat kasar sebetulnya, tapi ia benar-benar tak mau ada kesalahpahaman antara dirinya dengan Jiho, terlebih hanya karena Mingyu.

“Aku buru-buru ada….”

“Aku dan Mingyu hanya bersahabat, oke? Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh, Jiho.”

Jiho tersenyum, meski dalam hati meringis. Ia sudah kelewat sering mendengar kalimat itu tapi tetap saja tak menentramkan jiwanya. Percuma, pikirnya. Toh, Mingyu pun tetap memberikan binar cerah itu hanya untuk Sujeong, kan?

“Kan kamu tahu sendiri aku tidak akan jatuh cinta pada sahabat sendiri….”

Ini juga sudah kelewat bosan didengar.

“Lagipula apa yang dilihat Mingyu memangnya dariku? Nggak ada yang spesial, Jiho.”

Bullshit.

Tangan Sujeong yang masih memegang tangan Jiho dilepas perlahan sembari menatap manik Sujeong, “Percuma. Meski kamu bilang nggak ada apa-apa tapi Mingyu menganggap lebih, Jeong. Aku bisa melihat caranya menatapmu sangat berbeda dengan cara dia menatap orang lain. Kamu pikir aku nggak tahu?!”

“Ji-Jiho….”

“Kamu pikir aku bodoh? Mingyu sendiri sudah bilang Sujeong-ah! Apa lagi yang harus ditutupi? Kamu juga yang menerimanya!”

Teriakan Jiho menggema, air matanya mengalir. Ia kecewa.

Membuat air muka Sujeong berubah. Tangan pun terhempas sendiri. Sujeong memang baik, tapi percuma kalau dia sampai berbohong seperti ini. Jiho tidak butuh belas kasihan kalau ternyata Sujeong sendiri yang menerima permintaan Mingyu itu.

Jiho meringis. Punggung tangan menghapus paksa jejak air mata. Seharusnya ia tak menunjukkan kerapuhannya pada Sujeong. Harusnya dia tak begitu saja percaya dengan segala macam janji Sujeong.

Seharusnya ia tak terlalu bodoh mencintai lelaki yang bahkan tak menyadari perasaannya setitik pun selama tiga tahun ini.

Tapi ia tahu, sesakit apapun hatinya, ia tetap tak bisa berpaling dari Kim Mingyu.

“Aku tak mau dibodohi olehmu lagi.”

Jiho meninggalkan Sujeong yang masih dengan raut wajah terkejut. Kali ini ia telah bertekad, bagaimana pun caranya ia harus menggapai cintanya. Ia tak akan percaya lagi dengan Sujeong.

“Aku akan merebut Mingyu kembali.”

.

Mingyu segera mengejar Sujeong dan Jiho. Ia tak tahu ada masalah apa dengan kedua gadis itu, tapi satu yang ia tahu, hubungan mereka sedang tidak baik.

“Ryu Sujeong, kamu kemana?”

Netra itu tak dapat menemukan sosok yang diharapkan. Koridor sudah dilalui, waktu pun sudah menunjukkan bahwa lima menit lagi kelas akan dimulai. Mingyu menghembuskan napas menyerah. Mungkin Sujeong dan Jiho sudah pergi ke kelas.

Tapi setelah sampai di kelas, bangku di sebelah Jungkook masih kosong. Ia cukup lega melihat surai kehitaman di sebelah sana. Setidaknya Sujeong dan Jiho tak terlibat masalah serius. Tapi pemilik surai itu sedang merebahkan kepala di atas meja. Apa Jiho sedang punya masalah?

“Yo Mingyu, tumben kamu baru datang.”

“Eh?” Mingyu segera mengalihkan fokus matanya menuju Bambam. Ia baru sadar tujuan utamanya ke kelas.

Sambutan Bambam tak dihiraukan, ia malah beralih ke Jungkook, satu-satunya orang yang selalu mengetahui keberadaan Sujeong.

Meski harus ia akui fakta yang satu itu tak pernah ia sukai.

“Jungkook, kamu sudah lihat Sujeong?”

Jungkook yang sedari tadi memasang headset dan terfokus pada buku dihadapannya, menaikkan kepalanya, “Nggak. Ada apa?”

“Ah, nggak….”

Kepala itu segera tertunduk lagi. Tak tertarik dengan urusan Mingyu. Sedang Mingyu langsung duduk di tempatnya. Ia tak mau membeberkan kejadian tadi pada Jungkook.

Separah apapun masalah Sujeong dengan Jiho, ia rasa harusnya dia yang menjadi tempat penyelesaian masalah Sujeong. Ini bukan urusan Jungkook, toh Jungkook hanya sahabat Sujeong, bukan pacar. Yang menjadi pacar Sujeong kan Mingyu.

Tapi sampai bel berbunyi dan guru masuk, Sujeong tak menampakkan batang hidungnya.

“Apa ada masalah serius?”

.

Sujeong terus berjalan. Meski tubuh terasa lemas, ia tak berhenti. Pikirannya tak mungkin bisa terfokus sekarang. Kalau ia ada dikelas, ia hanya seperti mayat hidup. Lagipula, lebih baik tak seruangan dengan Jiho dan Mingyu dulu. Kepalanya bisa pecah saat itu juga.

Kakinya tak berhenti. Koridor-koridor terlewati, tangga-tangga dinaiki, sampai ia berada di hadapan pintu besi yang lantas didorongnya.

Ia pernah beberapa kali kesini, walau saat itu ia tak suka. Dulu pemikirannya, ia tak akan pernah kesini lagi, apalagi untuk membolos pelajaran. Tapi kata-kata itu tak bisa ia pertahankan. Kini dirinya sangat butuh pelarian.

Tungkainya memasuki tempat itu lebih dalam. Memanjat dinding kokoh dihadapannya dan meletakkan bokong di atasnya dengan tubuh menghadap lapangan. Ia tersenyum.

Dulu sekali, ia tak suka posisi ini. Bahkan dirinya pernah memarahi lelaki itu karena nekad melakukannya dan mengajaknya juga. Tapi kini ia sendiri tanpa paksaan duduk ditempat ini. Menentang angin, melihat pemandangan yang tak pernah ia bayangkan dulu, juga tertawa.

Sebegitu taatnya dia dulu.

Dan sebegitu tak jujurnya ia dengan perasaannya.

Pipinya memanas. Ia merasakan ada cairan yang melewati pipinya. Padahal kini ia tertawa begitu keras. Hanya untuk menertawakan dirinya.

Ia terlalu gengsi untuk mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu. Kalau saja saat itu bilang iya atas pertanyaan lelaki itu, ia pasti sudah menjadi pacarnya.

Ia terlalu bodoh sampai tak bisa melupakan lelaki itu. Kalau saja ia bisa melupakannya dengan mudah, ia tak akan menjadikan Mingyu sebagai pelampiasan agar ia melupakannya.

Ia terlalu ceroboh untuk berjanji pada Jiho. Kalau saja ia tak mengeluarkan janji itu, mungkin saja Jiho tak sekecewa ini padanya.

Semua salahnya kan?

Apalagi lelaki itu kembali, dan ia masih tetap tak bisa mengontrol detak jantungnya. Masih tak bisa membuang perasaan ingin memeluk bahkan memilikinya. Pikiran yang konyol menurutnya dulu.

Ia tak pernah tahu dampak jatuh cinta bisa sebesar ini, padahal dulu ia mencemooh teman-temannya yang pikirannya melulu tentang cinta. Ternyata ia juga salah satu orang bodoh.

Hatinya saja tak bisa dikendalikan.

“Sedang apa disini, Bocah?”

Mata Sujeong membulat. Merasakan ada sentuhan pada pundaknya, segera saja ia menengok ke belakang. Berharap suara itu hanyalah halusinasi. Tapi dirinya salah.

Sosok itu benar-benar ada disana. Dengan rambut merah menyala dan senyuman lebar yang sama. Refleks ia menggosok matanya dan melotot kemudian. Dia nyata.

Buru-buru ia turun dari tembok itu. Ingin melarikan diri dari situ….

“Aw!”

Grep.

Sayang, pijakannya tak mulus. Menjadikan dirinya kini berada di pelukkan lelaki itu. Dengan sama-sama memasang wajah terkejut, mereka berada dalam posisi tersebut dengan waktu yang cukup lama. Sungguh, dari pancaran mata masing-masing pun mereka harusnya sadar bahwa tatapan itu masih sama seperti dua tahun silam.

Sujeong yang sadar terlebih dahulu segera berdiri tegak. Ia berdeham. Dalam hati merutuki dirinya sendiri, mengapa perasaan itu masih ada setelah selama ini.

“Kamu nggak berubah.”

“Untuk apa Senior kesini? Memang Senior tidak kuliah? Memang Senior sangat-amat tidak punya kerjaan sampai-sampai sering sekali ke sekolah akhir-akhir ini?”

Sujeong sengaja mencecar Seniornya itu agar ia tak perlu merespons ucapan sebelumnya.

“Kamu masih mengabaikanku? Aku menghubungimu berkali-kali. Padahal kalau kamu memang nggak peduli padaku untuk apa masih menyimpan nomorku.”

Sujeong menelan salivanya. Ia kesal. Padahal dengan sengaja tak pernah dirinya mengangkat telepon Seniornya itu, takut ia terperangkap lagi. Tapi ia juga merutuk karena ia tak cukup hati untuk memblok nomor itu.

“Aku sudah berubah banyak, Senior. Buktinya aku kesini. Aku membolos. Aku lebih berani daripada dulu. Aku bukan bocah lagi. Aku bahkan…. Bahkan…. Bahkan telah melupakanmu….”

Sujeong buru-buru melangkahkan kakinya. Takut kalau-kalau mendengar kata-kata yang tak ingin ia dengar. Takut pertahannya runtuh lagi. Takut lelaki itu membuatnya jatuh lagi.

Taehyung menaikkan alisnya. Ia sepenuhnya tahu ada alasan kuat sampai Sujeong seperti ini.

“Kamu punya masalah?”

“Sebaiknya Senior mengurusi urusan Senior sendiri.”

Gadis itu sudah hampir sampai pada daun pintu. Sayang, langkanya kalah cepat dibanding suara lelaki itu.

“Aku minta maaf karena mengorbankan perasaanmu hanya demi gengsiku. Aku….”

“Aku merindukanmu, Ryu Sujeong….”

Blam!

Sujeong masih memegang kenop pintu. Dadanya naik turun cepat. Jemari tangan kirinya memegang bibirnya. Ketakutannya sudah terbukti.

“Aku juga merindukanmu, tapi kita memang nggak ditakdirkan bersama.”

Ia merutuki betapa bodohnya ia membuat kesalahan yang sama seperti Taehyung.

“Maafkan aku, Kak….”

.

Guru Kwon sudah memasuki ruang kelas 2-A. Semuanya memberi salam, tak terkecuali Jung Yein yang terlihat dari wajahnya saja tidak antusias. Setelah memberi salam, Jung Yein memilih menelungkupkan kepalanya dibalik kedua lengannya. Dirinya pusing. Kemarin ia hampir tidur jam tiga pagi hanya untuk menyelesaikan laporan Kimia kelompoknya. Seharusnya laporan itu sudah dikerjakan jauh-jauh hari, tapi sayang saja teman-teman kelompok Yein tidak ada yang mau mengerjakan tugasnya, alhasil Yeinlah yang menyelesaikan.

Yein pikir dia hanya tertidur satu menit (karena Halla membangunkannya dengan menyenggol dirinya).

“Psst Yein-ah.”

“Yein-ah bangun!”

“Ya Jung Yein!”

Yein akhirnya membuka mata dan terlonjak kaget. Dalam hati dia mengaduh. Kaget ternyata Guru Kwon memergokinya sedang tertidur.

“Cepat ke toilet dan cuci mukamu!”

Cewek itu segera berlari ke luar menuju toilet. Tak lupa merutuki dirinya sendiri di sepanjang perjalanan. Beruntunglah dia tak ada orang lain yang berlalu-lalang di koridor. Namun ia masih menyayangkan karena sudah tertangkap basah oleh Guru Kwon. Entah mau ditaruh mana wajahnya sekarang.

Sesampainya di toilet, ia segera menghampiri wastafel, menyalakan keran dan membasuh wajahnya dengan air. Ia menatap pantulannya di cermin, ada sosok berkantung mata hitam dan terlihat loyo. Itu dia, tapi dia tetap saja kaget melihatnya. Mungkin pancaran wajahnya karena kejadian semalam.

Ia hampir mengomel di obrolan grup kelompok Kimianya, tapi tetap saja mereka hanya membaca, tak ada yang menjawab barang ya atau oke. Masalahnya semua data hasil praktikum mereka ada di Yein, dan mau tak mau Yein-lah yang menyelesaikan seluruh pekerjaan itu.

Belum lagi memikirkan wajah Sujeong yang sembab kemarin, dan perkataannya yang jelas sekali melarang Yein untuk dekat dengan Jungkook. Padahal kemarin adalah salah satu awal hubungannya dengan Jungkook semakin dekat.

Kriet

Pintu salah satu bilik toilet terbuka, dan penghuninya segera keluar dari toilet tersebut tanpa mampir dulu di wastafel. Yein melihat sekilas. Yang keluar ternyata anak kelas 1.

Yein pun ikut keluar. Ia rasa dengan basuhannya tadi rasa kantuknya sudah hilang, kalau memang kembali lagi di kelas, ia bisa meminta Halla untuk menyadarkannya agar tidak tertangkap basah lagi oleh Guru Kwon.

Baru saja keluar dari toilet, Yein segera membulatkan matanya. Pasalnya, seniornya ada dihadapannya saat itu juga, dengan sosok si adik kelas yang baru saja keluar tadi.

“Senior sedang apa?”

Melihat Jungkook ditanyai oleh Yein, sosok adik kelas itu langsung saja melesat pergi.

Jungkook juga terlihat kaget melihat Yein ada disana. Gantinya, ia hanya cengengesan dan bertanya balik, “Kamu sendiri kenapa?”

“Eh?” Yein jadi salah tingkah. Ia tak mungkin menjelaskan duduk perkaranya kenapa ia diusir dari kelas dan disuruh cuci muka. Bisa tamat image-nya saat itu juga.

“Kebelet…. Aku duluan ya senior!”

Lalu Yein segera berlari. Rasa-rasa pipinya memanas dan ia sungguh malu saat itu juga. Ia ingin segera masuk kelas dan bisa memusatkan perhatian sepenuhnya kepada pelajaran Biologi agar kejadian tadi tak ia pikirkan lagi.

Saat membuka pintu kelas, ternyata Yein mendapati betapa ricuhnya kelas itu. Guru Kwon sudah tidak ada dan beberapa teman kelasnya bahkan sudah keluar kelas. Apa ada free class atau apa Yein juga tidak tahu.

Ia segera saja menghampiri Halla yang saat itu sedang adu mulut dengan Vernon. Dengan lembut ia mencolek lengan Halla dan berbisik, “Sekarang free class?”

Sebelum menjawab pertanyaan Yein, terlebih dahulu Halla melayangkan perlototannya untuk Vernon dan menghadap ke Yein, “Nggak. Ada tugas cari daun perkelompok buat diteliti strukturnya, semua kelompok harus beda daunnya. Habis istirahat kita langsung praktikum.”

Yein menaikkan sebelah alisnya. Masa untuk mencari daun saja dibutuhkan waktu dua jam sih?

“Lalu kelompoknya bagaimana?”

Halla menunjuk papan tulis sebagai jawabannya. Segera saja Yein mencari namanya diantara nama teman sekelas. Ternyata pencarian itu dilibatkan dua orang. Dan Yein rasa….

Dia dapat yang terburuk.

“Halla-ya, ini siapa sih yang buat kelompoknya?”

Tahu tidak, kepala Yein ingin pecah rasanya.

“Guru Kwon.”

“Selamat bersenang-senang Yein-ah!”

“Urus saja daun kita sendiri Vernon!”

Sepertinya hari ini jadi hari tersial Yein.

Bagaimana pun Yein tetap menghampiri partnernya itu sembari membawa buku catatannya. Dia mendaratkan bokongnya di bangku depan partnernya tersebut dan menghadapnya, “Aku terpaksa bersamamu, tapi aku nggak mau tahu pokoknya tugas ini harus beres. Kamu nggak boleh lari dari tanggung jawab atau….”

“Daunnya sisa yang di taman belakang. Dari pada bawel lebih baik langsung kesana.”

Yein lagi-lagi terkaget. Kenapa tiba-tiba lelaki di hadapannya (yang langsung saja melangkahkan kakinya menuju taman belakang dan mau tak mau Yein juga harus mengikutinya) bersikap tak mencari perkara. Biasanya dia akan terlebih dahulu mengejek Yein, lalu melakukan tugasnya.

Tapi kok sekarang tidak?

Bahkan di perjalanan mencari daun yang belum diambil teman kelas saja orang itu tetap diam. Tak memulai percakapan terlebih dahulu atau memaki Yein terlebih dahulu. Dan karena ini terasa sekali atmosfir aneh yang membuat Yein jadi canggung.

“Chanwoo….”

“Ini.”

Jung Chanwoo menyerahkan dua lembar daun kepada Yein sebelum Yein sempat menyelesaikan kalimatnya. Sungguh, Chanwoo hari ini aneh sekali.

“Ayo kembali.”

Yein mengangguk kecil. Ia masih menganalisa mengapa seorang Jung Chanwoo yang selalu bertentangan dengan Jung Yein bisa tiba-tiba jadi pendiam dan seserius ini.

Sebelum bertanya lebih dalam kepada Chanwoo, sayup-sayup Yein menangkap suara seseorang yang sepertinya ia kenal.

“Jadi, kenapa kamu nggak bilang kalau sekolah disini?”

“Aku pikir aku nggak perlu bilang ke Senior. Kita kan bukan teman?”

“Tapi aku berteman dengan kakakmu kan?”

“Yang berteman itu Senior dan Kak Taehyung. Jadi aku nggak ada sangkut pautnya.”

“Okelah. Kalau sekarang aku bilang aku mau berteman denganmu. Bagaimana, Kim Yoojung?”

Yein mencoba mendengarkan dengan seksama, sayangnya tangannya terlebih dahulu di tarik oleh Chanwoo agar menjauh dari taman.

“Apa-apaan sih?”

“Kamu yang apa-apaan. Ngapain menguping pembicaraan orang? Nggak sopan, tahu!”

Drrt…. Drrt…. Drrt….

Ponsel Yein berbunyi sebelum Yein sempat membalas perkataan pedas Chanwoo. Segera saja ia menjawab panggilan dari Halla dan menempelkan ponselnya ke telinga, “Halo? Ada apa?”

“Yein-ah! Cepat lihat mading sekarang!”

Dendrit-dendrit Yein segera terhubung dan dengan bersemangat dia menjawab, “Oke!” Dan lantas menarik Chanwoo untuk segera menuju mading.

“Pengumuman pengurus OSIS sudah keluar!”

Keduanya segera berlari (atau lebih tepatnya Yein yang berlari sembari menarik Chanwoo). Ketika sampai di mading sekolah, disana sudah banyak teman seangkatannya berkerumun. Beberapa dari mereka yang menyadari keeksistensian Yein dan Chanwoo segera tersenyum, menyapa, bahkan ada juga yang berteriak.

“Wah semangat Chanwoo dan Yein.”

“Mantap! Anak kelas 2-A memang hebat!”

“Kelas 2-A memang terbaik.”

“Jadi tahun ini kita akan dikuasai oleh marga Jung, nih?”

“Chanwoo kami, semangat!”

“Jung Yein, pastilah.”

Yein yang bingung hanya tersenyum canggung, penasaran dengan apa yang dibicarakan teman-temannya. Dan saat ia tepat di depan mading dan bisa membaca dengan jelas sekali, ia terkejut.

Kandidat Calon Ketua OSIS… Jung Chanwoo dan Jung Yein… Apa-apaan ini?”

Yein tidak bisa lagi menyangkal karena telinganya sudah mendengar seruan Chanwoo.

Dan sungguh, bencana apa lagi ini?

– To Be Continued –

Post-an pertama di 2017!

Cukup lama ya ini kelanjutannya…….. Aku mohon maaf juga kalau ga sesuai ekspektasi :”)

Sebenernya aku pengen chapter ini lebih panjang lagi, tapi pengen cepet-cepet update juga haha XD Makanya chapter ini pendek syekali huhu. Trus trus konflik Sujeong sih, udah puncak, apa belom ya? Tapi kalo Yein konfliknya masih lama kok. Baru kubuka dikit dikit aja ehehehehe.

Okedeh, aku pamit undur diri dulu yaaa! Semoga masih ada yang mau baca cerita abal-abal ini :”)

Dan jangan lupa untuk meninggalkan jejak (Komentar dan Likes diterima dengan senang hati)!

Phynz20’s signing off~

Advertisements

6 thoughts on “Persimpangan [Chapter 5]

  1. UHH thor, sudah lama ku menantimu beserta persimpangan ini thoorr..

    Benar sekali, aku ingin yg puaannjjaaamg thor, wkwkwk
    cepet update yaaa ku tunggu lhooo

    See ya

    Like

  2. Jadi ketahuan, jiho sebenarnya suka mingyu dan dia juga tau kalau mingyu suka sama sujeong :”’ masalah laki2 memang bahaya buat persahabatan:’)

    itu yg keluar dari kamar mandi yoojung ya? dan jungkook sebenernya nunggu yoojung? terus yg ngobrol pas yein hampir nguping itu jk sama yoojung? mulai tercium bau2 playboy :3 yaudah deh, yein sama chanwoo sajaaaaa

    oh ya, tumben kok chanwoo diem:””(

    ditunggu lanjutannya kak, semangatttt

    Like

  3. Yaaayyy akhirnya update juga setelah sekian lama nunggu TT
    Jujur banget deh aku kasian sama mingyu soalnya sujeong gitu banget, tapi entah kenapa aku pingin sujeong sama taehyung aja.. Yah gak tau sih kalo nanti berubah lagi wkwkwk
    Terus buat yein, duuh lupain jungkook laaah! Ada chanwoo depan mata kok haha kenapa cari yang susah coba?
    Okee semangaatt. Ditunggu chapter 6 nyaaa😀

    Like

  4. KAK INESSSS KANGENNNN BANGET WEEEHH
    AKU GAK TAU PENGEN NGETIK APA
    KEPO SAMA KELANJUTAN HUBUNGAN JIHO-SUJEONG-MINGYU
    ITU GIMANA SUJEONG-TAEHYUNG, APAKAH SUJEONG GAGAL MUPON AGAIN?
    ADA APA ANTARA JUNGKOOK DENGAN KIM YOOJUNG? ADA MAKSUD TERTENTUKAH SI JUNGKOOK MENDEKATI YOOJUNG?
    DAN KENAPA ITU CHANWOO-YEIN ADUHHHH JADI RIVAL TERUS KAPAN JADI SOULMATE EAAAA

    DAH SEGINI AJA, TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA KOMEN BERCAPSLOCK INI. SARANG SARANG SARANG TAWON

    Like

  5. Keren ini ceritanya tapi banyak kata yg gak aku pahami :”) setiap dialog gak ada penjelasannya itu siapa yg ngomong.. Entah aku yg lemot atau apa.. Maaf thor aku komen gini 😭 semoga gak menyinggung perasaan author ya, maafin aku yg kalau memang lemot ini :” maafin jg karna baru komen d part ini. Ayo post lagi! Aku menunggu banget nih thor. Maaf ya sekali lagi :”

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s