Treasure [Chapter 1]

Art by IRISH posterfanfictiondesign wordpress com

Art by IRISH posterfanfictiondesign.wordpress.com

Treasure

By Fanita

Main Cast : Lovelyz’ Mijoo & Infinite Woohyun – OC’s Lee Goseul

Cast : Bestie’s Haeryung –

Genre : Family – Sad – Hurt/Comfort || Rating : PG-15 || Type : Chapter

“Where your treasure is, there will your heart be also”

[Author Note : Untuk lebih memahami alur ceritanya kalian disarankan untuk membaca oneshot ini terlebih dahulu]

.

..

.

“Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya untuk mengatakan hal ini,”

“Apa yang terjadi dok?”

“Istri Anda tidak bisa hamil,”

.

          Di dalam rumah megah nan mewah itu tinggal lah sepasang suami istri bersama beberapa pembantunya. Rumah tersebut dimiliki oleh Nam Woohyun bersama istrinya Na Haeryung. Selama 8 tahun mereka tinggal di tempat ini namun keadaan rumah selalu sepi, tenang dan sunyi. Tidak ada suara berisik yang disebabkan oleh anak-anak.

Oppa kau belum tidur?” gumam Haeryung.

Ia memandang punggung suaminya dari belakang. Tangannya kini bergerak untuk memeluk suaminya itu.

“Sebentar lagi,” balas Woohyun.

“Hmm kalau gitu selamat malam,”

Diam. Tidak ada jawaban dari Nam Woohyun. Haeryung hanya bisa menghembuskan nafasnya secara perlahan agar Woohyun tak menyadarinya. Woohyun pasti sangat terpukul hari ini saat dokter mengatakan kalau Na Haeryung divonis tidak bisa memiliki keturunan. Suaminya memang tidak mengatakan hal itu secara langsung tapi Haeryung bisa melihat dari tatapan mata Woohyun yang senduh setiap kali dia ajak bicara usai pergi mengecek ke dokter kandungan. Ini sudah tahun ke-delapan pernikahan mereka tetapi belum juga dikaruniahi anak. Haeryung tahu pasti itu berat untuk Woohyun, dan tentu juga terasa berat untuk dirinya sendiri.

.

Srak!

          Wanita berusia 34 tahun itu menatap bengis seorang anak gadis yang masih setia memeluk gulingnya dan berselimut dengan santainya. Lee Mijoo—wanita itu benar-benar tidak habis pikir kalau anak gadisnya sulit sekali untuk bangun di pagi hari.

“Lee Goseul ini sudah pagi. Cepat bangun dan pergi ke sekolah!” teriak Mijoo.

Goseul tidak terbangun juga walaupun Mijoo telah berteriak. Ia hanya sedikit menggerakan tubuhnya lalu kembali memeluk boneka kesayangannya. Lee Mijoo menggelengkan kepalnya karena Goseul sukar sekali untuk dibangunkan, “Goseul cepat bangun!” oceh Mijoo. Kini dia berada di sebelah Goseul tapi masih juga tidak ada reaksi yang diberikan oleh anaknya.

“Apa boleh buat,” cibir Mijoo dan—

Bukk!!

“Ibu!!!!!!”

Goseul berteriak dengan keras saat sang ibu memukul bokongnya sangat kencang. Mijoo tahu betul di mana letak kelemahan Goseul. Hanya itu senjata terakhirnya.

“Cepat mandi!” titah Mijoo.

Goseul bangkit dan pergi meninggalkan kamarnya untuk segera mandi. Semetara Mijoo hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah melihat sikap anaknya yang sedang mengalami pubertas. Punya anak satu saja terasa begitu merepotkan padahal dulu Goseul tidak memberontak seperti itu.

.

          Woohyun kembali terbayangkan dengan percakapannya bersama dokter waktu itu. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana untuk menghadapi situasi ini. Selama 8 tahun dia berharap memiliki seorang anak terutama laki-laki untuk meneruskan keturunannya dan juga menjadi pemimpin masa depan dari perusahaan yang dia pegang. Tapi kenyataannya istrinya divonis tak bisa memberikannya keturunan. Memikirkan hal ini membuat Mijoo teringat dengan buah hatinya Lee Goseul yang terakhir kali dia temui 8 tahun yang lalu. Woohyun tidak pernah mengetahui kabar Goseul semenjak hari itu.

.

          Ah.. Woohyun membayangkan betapa cantiknya Goseul sekarang. Usianya sudah 14 tahun dan ia yakin kalau kecantikan Goseul sama seperti Lee Mijoo. Dia jadi merindukannya. Bisakah Woohyun kembali bertemu Goseul yang bahkan tidak mengingatnya lagi?

.

          “Go..Goseul.. Wajahmu kok beda?” Baru saja masuk ke dalam kelasnya Lee Goseul sudah dibanjiri pertanyaan oleh teman sekelasnya. Wajahnya beda? Aish. Wajar saja kalau terlihat beda, itu dikarenakan dia tidak sempat memakai make up ke sekolah. Ibunya benar-benar gila menyeretnya untuk pergi ke sekolah padahal dia bisa saja menggunakan make up hanya dalam waktu 5 menit. Pasti sekarang dia diejek oleh teman sekelasnya.

“Tidak pakai make up ya? Ih Goseul kamu ternyata cantik dari sananya!” seru anak laki-laki.

Yang lain memperhatikan Goseul secara seksama dan berbisik-bisik. Anak perempuan iri dengan Goseul yang ternyata cantik natural. Tanpa make up saja dia cantik, semuanya jadi merasa dibohongi oleh Goseul. Harusnya kalau sudah cantik tidak usah mempercantik diri lagi pakai make up dan memberikan kesempatan untuk anak lainnya tampak menawan.

“Ih Goseul kamu cantik deh,” puji Jung Yewon.

Goseul tersenyum tipis pada Yewon. Dia jarang berinteraksi dengannya dan mendadak dipuji seperti ini membuat Goseul merasa canggung.

.

          Sambil menjaga toko miliknya Lee Mijoo berusaha menjahit syal untuk Goseul yang bisa dipakai di musim dingin nanti. Mijoo bekerja di rumahnya. Ia memiliki sebuah toko kecil di samping rumah dan juga mengembangkan bisnisnya di dunia maya. Inilah yang Mijoo lakukan untuk membesarkan Goseul, kurang lebih sudah 4 tahun usaha ini dilakukan olehnya. Dulu ketika Goseul sudah beranjak kelas 2 SD Mijoo memutuskan untuk berhenti dari tempat kerjanya dan membuka usaha sendiri. Dan dia menamakan tokonya ini dengan nama ‘Lovely Shop’.

.

          Mijoo membuka usahanya sambil dibantu oleh Seo Jisoo—seorang teman yang dia temui saat pertama kali merintis bisnisnya. Awalnya Jisoo hanyalah seorang reseller dari barang yang dia jual tapi lama kelamaan Jisoo dan Mijoo menjadi akrab. Jisoo pun memutuskan untuk membantu usahanya Mijoo.

“Pemasukan akhir-akhir ini cukup menurun,” celetuk Jisoo.

“Oh ya? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Mijoo. Ia masih serius dengan rajutannya.

“Buka sale seperti bulan Desember kemarin,”

“Ya..ya jika Seo Jisoo yang menyarankannya aku akan mengikutinya saja,” kata Mijoo.

“Kamu ini selalu saja mengikuti apa kataku. Mungkin kalau aku diam-diam menjebakmu untuk menghancurkan usaha ini kamu setuju saja,” cibir Jisoo.

Mijoo tertawa mendengarnya. Dia senang memiliki sahabat sekaligus rekan seperti Jisoo. Baginya Jisoo merupakan hal terpenting dihidupnya setelah Goseul tentunya.

.

          Jam makan siang Woohyun manfaatkan untuk menemui seseorang. Kini dia sudah berada di rumah orang itu karena Woohyun memiliki urusan yang sangat penting dengan orang itu.

Tak..

Sang pemilik rumah meletakkan secangkir kopi untuk tamunya. Woohyun tersenyum kepadanya karena dibuatkan minuman padahal tidak perlu repot-repot untuk melakukan itu.

“Jadi apa urusanmu mengunjungiku Nam Woohyun-ssi?” tanyanya.

“Dektektif Kim aku membutuhkan bantuanmu untuk mencari informasi tentang seseorang—ah bukan maksudku dua orang,” jawab Woohyun.

“Informasi? Siapa?” tanya Dektektif Kim.

Woohyun meletakkan beberapa file yang sejak tadi telah dia persiapkan. Dektektif Kim menerima file itu lalu membaca secara singkat mengenai infomasi yang telah Woohyun siapkan untuknya.

“Lee Mijoo dan Lee Goseul? Kalau aku boleh tahu mereka ini siapanya kamu?” tanyanya penasaran.

Woohyun terdiam sambil membayangkan mereka. Bibir Woohyun mementuk sebuah senyuman indah, “Mereka orang terpentingku. Aku ingin menemui mereka lagi,” ucapnya.

.

          Goseul duduk diam di tempatnya. Dia sengaja tidak pergi ke kantin karena ingin diet dan juga Goseul lagi menabung untuk membeli alat kosmetik keluaran terbaru. Ibunya begitu pelit untuk membelikan barang seperti itu padahal di masa kini anak SMP sudah wajar menggunakannya.

“Goseul mau cicip bekalku?”

Mendengar seseorang mengajaknya bicara Goseul langsung menoleh ke samping. Ternyata yang menawarinya makanan adalah Yewon.

“Oh Yewon-ah tidak usah kamu makan aja sendiri,” jawab Goseul.

“Diet?” tanya Yewon. Goseul menganggukan kepalanya, “Kamu sudah terlalu cantik apalagi sih yang mengharuskan kamu diet? Tubuhmu saja sudah tinggi dan kurus begitu,” celoteh Yewon.

Kkkk Goseul terkekeh pelan mendengarnya. Dia pikir Yewon anak yang dingin dan sulit diajak berbicara, ternyata Yewon segitu cerewetnya.

“Tidak apa kok cuma mau menjaga berat tubuh,”

“Jadi kamu makan apa aja selama diet?”

“Salad? Yaa hanya salad yang bisa kumakan,”

“Ke rumahku yuk nanti aku minta pembantu di rumahku membuatkan salad untukmu. Dia pandai sekali membuat menu seperti itu untuk mamaku,”

Kedengarannya menarik. Goseul menganggukkan kepala tanda setuju. Melihat persetujuan dari Goseul membuat Yewon senang.

.

          Mijoo telah memasakan makan siang untuk Goseul tapi anak itu terlambat pulang tanpa memberikan kabar kepadanya lagi. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi mengajarkan Goseul tepat waktu bila pulang ke rumah. Haruskah dia menjemput Goseul? Tapi Mijoo cukup yakin kalau anaknya bisa pulang sendiri tanpa harus dijemput olehnya.

.

          Selagi menunggu Goseul pulang Lee Mijoo melihat pesanan yang baru saja masuk di pemberitahuannya. Ada pelanggan yang memesan tas dan tinggalnya masih di daerah Seoul. Bukannya apa sih, hanya saja bila pelanggan dari Seoul mereka mengusahakan untuk datang langsung ke tempatnya. Selain itu juga bakalan lebih enak bila melihat barangnya secara langsung. Kini yang dilakukan Mijoo adalah mengemas kedua tas itu di sebuah kotak untuk mengantarkannya ke rumah pelanggan. Alamatnya cukup dekat dari sini jadi lebih baik dia antar sendiri saja.

.

          Mijoo melihat rumah besar yang baru saja dia datangi ini. Tak salah lagi kalau alamat yang diberikan memang di sini tempatnya. Rumah ini sangatlah mewah seperti di drama-drama chaebol yang tayang akhir pekan. Saat Mijoo sedang memperhatikan rumah megah ini seorang satpam yang bertugas menjaga keamanan di rumah datang menghampiri Lee Mijoo.

“Permisi ada perlu apa ya?” tanya satpam.

Annyeong haseyo saya ke sini ingin memberikan paket dari Lovely Shop untuk nyonya Na Haeryung,” jawab Mijoo.

Satpam itu bergerak membuka pintu kabar lalu mengambil paket yang diberikan oleh Mijoo. Dia sudah mendengar perintah dari bosnya bila ada yang mengirimkan paket dari Lovely Shop harap diterima.

“Kalau begitu terima kasih banyak,”

Mijoo membalikan badannya. Tepat saat Mijoo melangkah pergi sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan gerbang dan menekan klakson—bertanda dia meminta dibukakan pintu gerbang. Mijoo menoleh sebentar ke belakang lalu kembali memfokuskan pandangannya ke depan. Setelah itu barulah Mijoo pergi untuk segera pulang.

.

          Di sisi lain Nam Woohyun turun dari mobil mewahnya. Baru saja Woohyun turun dari mobil dia sudah disambut oleh Na Haeryung yang berdiri di depan pintu. Woohyun membalas senyum Haeryung yang menyambutnya pulang.

Oppa sudah pulang? Kenapa cepat sekali?” tanya Haeryung.

“Ya aku sedikit tidak enak badan aku lebih baik pulang cepat,” jawab Woohyun.

Oppa sakit? Apa mau aku buatkan teh untukmu?”

Woohyun menggelengkan kepalanya. Setelah itu Woohyun masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Haeryung yang mengkhawatirkan. Haeryung menghela napas dan menahan rasa kekecewaan yang dirasakannya saat ini. Biasanya jika pulang dari kantor Woohyun aku mencium keningnya tapi hari ini tidak. Haeryung berusaha meyakinkan hatinya kalau Woohyun melakukan hal itu karena butuh untuk berpikir jenak.

“Nyonya ini paket pesanan Anda sudah datang,”

Satpam yang baru saja datang menghampiri Haeryung memberikan paket pesanannya. Haeryung menerima paket itu lalu tersenyum tipis kepada penjaga rumah.

“Terima kasih Pak Han,” kata Haeryung.

Pak Han—nama satpam itu menganggukan kepala lalu kembali ke pos jaganya sementara Haeryung masih tetap berdiri di sana untuk merenungkan masalah hidupnya.

.

Saat mengunjungi rumah Yewon, Goseul tidak dapat menyembunyikan perasaan kagumnya karena rumah Jung Yewon begitu besar. Dia membayangkan bagaimana rasanya tinggal di rumah seperti ini. Tapi begitu mengingat realita yang ada dan ibunya yang bekerja keras seorang diri untuk menghidupinya Goseul rasa itu semua mustahil.

“Goseul-ah mama dan papaku sudah pulang!” celetuk Yewon.

“Sungguh? Aku harus memberikan salam dengan orangtuamu,” kata Goseul.

Yewon tersenyum dan mengajak Goseul untuk menemui ibu dan ayahnya.

.

          Di ruang tamu telah berkumpul orangtuanya Yewon. Mereka tampak mesra dan hangat satu sama lain. Goseul sebenarnya cukup kikuk untuk menyapa mereka tapi Yewon terus saja mendesaknya agar bersikap normal diadapan ibu dan ayahnya.

Annyeong haseyo namaku Lee Goseul teman sekelasnya Yewon,” ucap Lee Goseul dengan sopan. Ia membungkukan badannya dihadapan orangtua Yewon tanda menghormati mereka.

“Wah teman Yewon cantik sekali ya. Lee Goseul jangan sungkan-sungkan ya main dengan Yewon,” kata ibunya Yewon.

Goseul tersenyum mendengar ucapan ibu Yewon. Sementara itu sejak tadi Jung Yewon sedang bermanja-manjaan dengan sang ayah.

“Ayah janji ayah mana mau memberikan aku tas itu? Ayah belikan juga ya untuk Goseul ‘kan dia temanku,” rengek Yewon.

Ayah Yewon hanya tertawa mendengarnya tapi pada akhirnya dia menganggukkan kepala tanpa memberi izin dengan permintaan Yewon barusan. Lee Goseul hanya memandangi pemandangan itu dengan raut wajah yang tak dapat diartikan. Melihat Yewon sangat dekat dengan ayahnya membuat Goseul memikirkan keluarganya. Sejak dulu dia tidak punya ayah, Goseul penasaran bagaimana rasanya bermanja ria dengan ayah sendiri seperti yang dilakukan oleh Yewon barusan.

“Goseul-ah kamu dengarkan? Ayahku janji loh beliin kita tas!”

Goseul tersenyum tipis lalu kembali membungkukan badannya, “Terima kasih banyak paman atas kebaikanmu,” ucap Goseul.

“Goseul sangat sopan ya.. Pasti orangtuamu mendidikmu dengan benar,”

Tak ada yang bisa dilakukan leh Goseul selain tersenyum. Bukan orangtua, lebih tepatnya ibunya merawatnya dengan sangat baik sampai sekarang. Ah.. Ngomong-ngomong ibu Goseul lupa menghubungi ibunya kalau dia mampir ke rumah Yewon.

“Hmm Yewon-ah, paman, dan juga bibi aku pamit pulang dulu ya. Ibuku pasti khawatir karena aku belum pulang juga,” pamit Goseul.

“Yewon aku suruh supirku mengantarkanmu ya?” tawar  Yewon.

Lee Goseul menggelengkan kepalanya. Dia tak mau merepotkan Jung Yewon lagi.

“Aku bisa pulang sendiri kok Yewon-ah. Makasih sudah ajak aku ke rumahmu dan juga terima kasih untuk saladnya tadi,”

Yewon mengangguk paham setelah mendengar ucapan Goseul. Kini Yewon pun pergi mengantarkan Goseul sampai ke depan pintu rumahnya.

.

          “Ibu aku pulang!” Goseul berusaha membuka pintu rumahnya tapi pintu tersebut benar-benar terkunci. Tidak mungkin bila ibunya ada di rumah tapi mengunci rumah serapat ini. Bahkan di pintu masuk toko kecil milik ibunya juga memasang tanda tutup. Urgh, Goseul merutuk karena dia benar-benar salah untuk pulang ke rumah secepat ini. Kalau dia tahu ibunya tidak ada di rumah Goseul tak akan pulang lebih cepat.

“Goseul-ah kamu baru pulang?”

Goseul membalikan badannya. Dilihat ibunya tengah berjalan ke arahnya sambil tergesah-gesah.

“Sudah 5 menit aku di sini bu. Ibu dari mana sih pakai dikunci segala,” oceh Goseul.

“Maaf ibu baru pulang ngantar pesanan sih,”

“Kenapa tidak bibi Jisoo saja yang mengantarnya?” cerocos Goseul.

Mijoo hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ocehan Goseul hanya karena dikunci dari luar selama 5 menit. Kini pintu rumah telah terbuka, Lee Goseul buru-buru masuk ke dalam rumah karena dia begitu merindukan kasurnya. Dia berpisah dengan cara tidak baik tadi pagi karena ibunya membangunkannya secara paksa.

“Goseul-ah makan dulu! Ibu sudah menyiapkan makanan untukmu,” seru Goseul.

“Aku diet bu. Ibu saja yang makan!” teriak balik Lee Goseul.

Ck. Mijoo sudah mati-matian memasak makanan yang enak untuk anaknya tapi malah ditolak mentah-mentah seperti itu. Harusnya dia berikan saja lebih banyak ke Jisoo dibandingkan basi sia-sia, “Lee Goseul itu,” rutuknya.

.

          Makan malam di kediaman Nam memang begitu sepi. Hanya ada Woohyun dan Haeryung di meja makan bersama bermacam jenis masakan yang telah dibuatkan koki mereka. Woohyun menyantap makanannya dengan malas. Sebenarnya dia tidak ada nafsu makan tetapi Haeryung memaksanya untuk mengisi perutnya walaupun sedikit.

Oppa kamu benar baik-baik saja?” tanya Haeryung.

Woohyun menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Walaupun Woohyun memberikan senyumnya Haeryung masih tak yakin kalau suaminya baik-baik saja.

Oppa kalau kamu memang merasa tidak enak hati karena konsultasi kemarin—“

“Ini tidak ada hubungannya dengan itu Haeryung-ah,” potong Woohyun sebelum Haeryung menyelesaikan kalimatnya.

Lebih baik Woohyun pergi dibandingkan mengungkit masalah itu dengan Haeryung. Ia meninggalkan istrinya seorang diri di ruang makan. Haeryung menundukkan kepalanya dan diam-diam menangis. Sekarang dia benar-benar merasa gagal menjadi seorang istri karena tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya, “Oppa maafkan aku,” lirih Haeryung.

.

          Tok…tok…tok… Mijoo mengetuk pintu kamar Goseul untuk menyuruhnya makan malam. Begitu Goseul memberikan sahutan dari dalam Lee Mijoo pun masuk. Dilihatnya Lee Goseul sedang memainkan gadgetnya. Dasar anak muda yang telah terkontaminasi perkembangan zaman.

“Goseul-ah ayo makan malam. Ibu sudah panaskan makanan yang siang tadi ibu buat,”

“Bu aku tidak lapar dan aku sedang diet—“

Kryukkkk..

Sial, batin Goseul. Dia hanya bisa meneguk salivanya karena perutnya saat ini tidak bisa diajak berkompromi. Mendengar suara perut anaknya Mijoo pun tersenyum penuh arti lalu menarik tangan Goseul agar segera menyantap makan malam. Mau tak mau Goseul hanya bisa pasrah saat ibunya menariknya ke ruang makan.

.

“Su..sudah mendapatkan informasinya?”

“Ya kami sudah menemukan Lee Goseul tapi untuk nyonya Lee Mijoo kami belum bisa mencarinya,”

“Kalau begitu bisa antar semuanya ke kantorku besok?”

“Ya tentu saja Woohyun-ssi..”

“Dektektif Kim aku sangat berterimakasih,”

“Ini sudah tugasku..”

“Hmm Dektektif Kim apa kau mau memantaunya lagi? Maksudku.. aku ingin mengetahui kabarnya tapi aku belum siap untuk bertatap muka secara langsung,”

“Tentu saja aku bisa melakukannya,”

“Sekali lagi terima kasih Dektektif Kim,”

Sambungan telepon terputus. Raut wajah Woohyun kini berganti menjadi lebih ceria. Kabar yang baik baru saja dia terima. Whoa, Woohyun tak sabar lagi untuk melihat foto Goseul yang sekarang.

Krek..

Oppa kamu kenapa tersenyum sendirian?” tanya Haeryung heran. Baru saja masuk sudah disambut dengan suaminya yang tampak berbahagia.

“A..ah? Ada kabar bahagia dari kantor,” jawab Woohyun asal-asalan.

“Oh oppa tadi terlihat murung karena ada masalah di kantor?”

Woohyun asal-asalan menganggukan kepalanya, “Haeryung-ah besok pagi bangunkan aku lebih awal ya. Aku mau buru-buru ke kantor,”

Haeryung pun menganggukan kepalanya. Jika suaminya memintanya untuk membangunkannya lebih cepat, pasti akan dia lakukan. Toh memang biasanya Haeryung bangun 1 jam lebih cepat dibandingkan Nam Woohyun.

.tbc.

 

Advertisements

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s