Treasure [Chapter 2]

Art by IRISH posterfanfictiondesign wordpress com

Art by IRISH posterfanfictiondesign.wordpress.com

Treasure

By Fanita

Main Cast : Lovelyz’ Mijoo & Infinite Woohyun – OC’s Lee Goseul

Cast : Bestie’s Haeryung –

Genre : Family – Sad – Hurt/Comfort || Rating : PG-15 || Type : Chapter

“Where your treasure is, there will your heart be also”

[Author Note : Untuk lebih memahami alur ceritanya kalian disarankan untuk membaca oneshot ini terlebih dahulu]

          “Goseul-ah sudah—“ Ketika Mijoo membuka pintu kamar anaknya dilihatnya tidak ada Goseul di atas kasur melainkan sedang duduk di depan cermin. Ia melipat kedua tangan di dada karena Lee Goseul terlalu sibuk bermake-up setiap pergi ke sekolah. Dulu saat dia seumuran Goseul yang Mijoo tahu hanya menggunakan bedak tabur bayi dan parfum saja.

“Lee Goseul kamu dapat uang untuk beli make up itu dari siapa?” tanya Mijoo.

“Nabunglah,” jawab Goseul masih fokus menghias wajah cantiknya.

“Sudah ibu bilang jangan membeli hal-hal tidak penting. Mending kamu belikan hal yang lain daripada beli yang begituan,” pesan Mijoo.

“Bu semua anak cewek di kelasku bermakeup masa aku tidak sih?” rutuknya.

“Ya ya terserah tapi cepat sarapan nanti kamu terlambat lagi ke sekolah,”

“Iya bu..”

.

Tok..tok…tok…

          Woohyun yang tengah membaca berkas yang tadi pagi diserahkan oleh sekretarisnya tadi pagi langsung mengalihkan perhatiannya begitu mendengar suara ketukan pintu. Tak lama kemudian pintu terbuka dan orang yang Woohyun lihat adalah sekretarisnya dan juga Dektektif Kim yang dia tunggu dari tadi!

“Oh Dektektif Kim!” seru Woohyun.

Sekretaris Woohyun meninggalkan bos dan tamunya sendiri. Begitu Dektektif Kim berjalan ke arahnya Woohyun langsung bangkit dari kursi panas nya untuk duduk bersama Dektektif Kim di sofa.

.

“Ini hal yang kamu inginkan Woohyun-ssi,” Tanpa banyak basa-basi Dektektif Kim memberikan sebuah amplop besar berisikan informasi sesuai yang pinta oleh Woohyun. Ada rasa ketakutan tersendiri bagi Woohyun untuk mengeceknya. Di satu sisi dia merasa takut untuk mengetahui kembali tentang mereka tetapi di sisi lain dia ingin memahami kehidupan mereka sekarang.

Srakk..

Pada akhirnya Woohyun membuka amplop itu dan melihat isinya. Ada beberapa lembar foto seorang gadis kecil yang sedang memakai seragam sekolah. Serta beberapa lembar informasi yang telah dikumpulkan oleh Dektektif Kim.

“Cantiknya..” lirih Woohyun.

Mata Woohyun berkaca-kaca melihat anak sematawayangnya tumbuh besar menjadi perempuan yang cantik. Goseul sangat mirip dengan Mijoo tapi di satu sisi dia bisa merasakan kalau Goseul juga mewarisi gennya. Satu persatu foto Goseul Woohyun lihat sehingga dia tidak bisa menahan haru.

“Woohyun-ssi kamu sangat merindukan anak itu ya?” tanya Dektektif Kim.

Woohyun menganggukan kepala sambil tersenyum, masih dengan air mata yang membasahi pipinya.

“Tapi maaf kami masih belum bisa memantau nyonya Lee Mijoo. Sepertinya beliau tidak sering keluar dari tempatnya,” kata Dektektif Kim.

“Lain kali tolong berikan aku informasi tentang dia ya Dektektif Kim,” pinta Woohyun.

Dektektif Kim menganggukan kepalanya sementara Woohyun pun berulang kali melihat foto-foto Lee Goseul yang sudah lama tak dia jumpai.

.

          Goseul menunggu bus tumpangannya di halte seperti biasanya. Saat dia sedang berdiri sambil melihat jalan raya seseorang datang menghampirinya. Orang tersebut berewokan, menggunakan pakaian jas yang sedikit lecek serta tersenyum lebar kepadanya.

Annyeong haseyo haksaeng,” sapanya.

Goseul tak menjawab, ia hanya menganggukan kepalanya lalu memandang bapak itu penuh tanda tanya.

“Apa kamu tertarik menjadi selebritis? Kamu sangat cantik. Bagaimana mencoba audisi di tempat ini?”

Orang tua itu memberikan Goseul sebuah kartu nama. Begitu Goseul membaca nama perusahaannya Goseul begitu terkejut sampai-sampai dia sendiri merasa bola matanya bisa saja keluar.

“Wo..woollim entertainment?” tanya Goseul.

Yang Goseul tahu Woollim Entertainment adalah agensi dari grup INFINITE yang begitu dia sukai.

“Ya aku manager di sana. Kalau tertarik kamu bisa saja datang kapanpun. Kalau boleh tahu siapa namamu?” tanyanya.

“Goseul. Lee Goseul,” jawabnya.

“Goseul-yang kalau begitu aku pergi dulu ya. Kami menunggu kedatanganmu di agensi kami,” katanya.

Bapak itu pergi meninggalkan Goseul yang diam mematung di tempatnya. Orang-orang yang ada disekitar Goseul dan mendengar percakapannya dengan manager itu langsung mengelilingi Goseul.

“Heol Lee Goseul kamu dapat street casting?”

Daebak Goseul-ah!”

“Eh bukannya kamu sudah dicasting di tempat lain? Kudengar kamu dapat panggilan dari Dream T?”

“Beruntung sekali!”

Goseul bingung harus menjawab apa. Yang bisa dia lakukan hanya tersenyum kikuk lalu begitu bus tujuannya datang Goseul pun segera naik meninggalkan semua orang-orang itu.

.

          Dari kejauhan Woohyun memperhatikan Lee Goseul. Ia sengaja datang ke sekolahan Goseul karena penasaran bagaimana rupa anaknya secara langsung. Ternyata Goseul terlihat lebih menakjubkan secara nyata. Tapi sejak tadi membuntuti Goseul, Woohyun melihat seorang bapak tua datang menghampiri anaknya lalu memberikan sesuatu kepadanya. Woohyun penasaran, apa itu?

.

          Woohyun menghampiri bapak yang tadi berbicara dengan Goseul. Kebetulan sekali dia sedang beristirahat di sebuah mini market. Woohyun dengan santainya duduk dihadapan orang itu dan bertanya kepadanya tanpa basa-basi.

“Apa yang kamu lakukan dengan anak SMP tadi?” tanya Woohyun.

“Haha apa urusanmu?” tanyanya tak peduli. Dia menganggap Woohyun orang aneh yang tiba-tiba datang lalu bertanya tanpa berbasa-basi dulu.

“Anak itu.. Bapaknya seorang jendral. Kalau kamu tidak memberitahuku apa alasannya akan aku melaporkan kamu kepada ayahnya!” ancam Woohyun.

Glek. Si pak tua meneguk salivanya. Dia tidak melakukan kesalahan tapi tiba-tiba saja dia merinding diancam seperti ini.

“Aku hanya memberikannya kartu nama Woollim Entertainment. Aku ini seorang manager yang sedang mencari anak yang ingin menjadi idol,”

“Oh gitu. Kenapa kamu memilihnya?” tanya Woohyun.

“Anak itu sangat cantik. Betapa hebatnya bila dia menjadi idol dan aku bisa menjamin kalau dia jadi intan yang berharga bila menjadi trainee di agensi kami,”

Setelah mendengarkan penjelasannya Woohyun mengangguk paham. Jadi ada orang yang mengincar Goseul untuk menjadi seorang bintang. Woohyun jadi penasaran apakah Goseul menerima tawaran itu atau tidak. Dia merasa hina menjadi seorang ayah yang bahkan tak tahu apa cita-cita anaknya kelak.

.

          Goseul pulang ke rumah seperti biasanya. Setelah mengganti pakaiannya ia menghampiri ibunya yang sedang berjaga di toko bersama Seo Jisoo. Goseul melihat ibunya sibuk dengan rajutan syal musim dingin yang dibuatkan ibunya. Ya, Goseul tahu itu karena tiap tahun ibunya akan membuatkannya syal. Sementara Jisoo kini sedang sibuk menghitung stok barang yang ada di toko.

“Bibi Jisoo masih jomblo?” celetuk Goseul sambil memasukan kartu nama yang dia dapat tadi kumpulan kartu nama yang sebelumnya dia dapatkan.

Sekedar informasi, Woollim Entertainment bukan yang pertama kali memberikan kartu nama untuknya karena street casting. Sudah puluhan agensi menawarkannya termasuk agensi besar seperti SM. Mulai dari dia masuk SD sampai SMP ini. Bahkan kalau disuruh menyebutkan jumlah yang ibunya dapat saat dia masih SD, Goseul tak dapat menghitungnya.

“Pertanyaanmu tidak sopan Lee Goseul!” oceh Mijoo.

“Hehe aku hanya iseng,” cengir Goseul.

Jisoo sendiri hanya tertawa mendengarnya. Goseul sudah dia anggap seperti keponakan sendiri.

“Sudah punya kok. Dia tampan. Bibi mencari pacar seperti yang kamu bilang Goseul-ah” jawab Jisoo.

“Tampan? Tinggi? Kaya? Daebak bi! Kapan ibuku bisa begitu!” teriak Goseul histeris.

Mijoo memasang tampang kusut mendengar teriakan anaknya. Bagaimana bisa dia dapat pacar kalau dia selalu sibuk mengurus rumah dan pekerjaannya? Lagi pula Mijoo tidak tertarik untuk berhubungan.

“Bibi harus membawa pacar bibi ke sini! Aku mau kenalan!” mohon Goseul.

Seo Jisoo mencubit pipi Goseul dengan penuh kegemasan, “Aigoo uri Goseul nanti bibi kenalkan pacar bibi ke Goseul. Puas?”

Goseul menganggukan kepalanya dengan semangat.

“A..aaw perutku,” rintih Mijoo.

Dia memegang perutnya lalu pergi untuk pergi ke toilet. Jisoo hanya bisa menggelengkan kepala, itu akibat Mijoo kebanyakan macam sambal sih.

.

“Bibi hari ini aku dapat tawaran casting dari Woollim Entertainment,” Goseul sengaja curhat kepada Jisoo saat ibunya tidak ada. Dia begitu bingung untuk mengekspresikan pemikirannya. Dia tidak memiliki teman dekat di sekolah, yang dia punya hanya Jisoo. Bukannya Goseul ingin menyembunyikan sesuatu di belakang ibunya, hanya saja Goseul takut dengan respon ibunya.

“Lalu kamu tertarik?” tanya Jisoo.

“Tentu saja. Dari semua agensi aku paling tertarik dengan Woollim tapi—“

“Ada tapinya. Memang kenapa?” tanya Jisoo penasaran.

“Bi kalau aku diterima audisi aku akan jadi trainee dan sibuk berlatih, bahkan ada yang diharuskan tinggal bersama. Lalu ibu bagaimana? Aku tidak mau meninggalkan ibu sendirian,” celetuk Goseul.

Jisoo mengusap rambut Goseul sambil tersenyum padanya. Ucapan Goseul yang begitu peduli dengan nasib Mijoo mau tak mau membuat senyumnya mengembang. Dia masih 14 tahun tapi memiliki pemikiran seperti itu. Apa ini dampak hidup dibesarkan seorang diri oleh ibunya?

“Goseul bisa bilang baik-baik dengan ibu,” saran Jisoo.

“Tapi bi aku tidak bisa. Seandainya ibu menikah pasti ibu tidak akan kesepian. Kalau begitu keadaannya aku bisa saja pergi melakukan hal itu,” balas Goseul.

“Goseul belum berbicara dengan ibu ‘kan jadi belum tahu pendapat ibu bagaimana. Percayalah Lee Goseul, ibumu akan mendukung apa yang kamu cita-citakan,”

.

Tanpa keduanya sadari sejak tadi Mijoo mendengar percakapannya dari balik pintu. Mijoo tersenyum lirih sekaligus bahagia mendengar Goseul peduli padanya. Tapi bila Goseul menginginkan hal itu Mijoo bisa saja menerima keputusan Goseul walaupun itu mengingatkannya pada masa lalu yang mana saat lulus SMA dia hampir debut menjadi seorang idol. Tapi semua itu sirna ketika ada Goseul di dalam kandungannya. Hal itu membuat kontrak Mijoo dibatalkan dan dia tidak jadi debut.

.

          “Oppa!” Haeryung menyambut Woohyun sepulang dari kerja. Woohyun pun menghampiri Haeryung lalu mencium keningnya seperti biasa. Oh Woohyun-nya sudah kembali, batin Haeryung. Berhubung jam sudah menunjukan pukul setengah 8 Haeryung mengajak Woohyun untuk makan.

.

          Sewaktu menikmati makan malamnya Woohyun terlihat begitu bersemangat. Haeryung jadi penasaran apa yang membuat suaminya menjadi berubah total. Kemarin dia terlihat murung dan sekarang sangat bahagia. Apa ada sesuatu yang dilewatkan olehnya?

Oppa kamu bahagia sekali,” celetuk Haeryung.

“Ye? Aku hanya menang tender,” dusta Woohyun.

“Selamat oppa aku suka kalau lihat kamu tersenyum seperti ini,” balas Haeryung.

Woohyun balik tersenyum pada Haeryung walaupun di dalam hati dia sangat menyesal telah membohonginya. Alasan Woohyun sangat bahagia hari ini dikarenakan dia bisa menemui Goseul walaupun hanya melihat dari kejauhan, “Maaf Haeryung-ah..” batin Woohyun.

.

          Mijoo mengeluarkan semua bahan masakan yang ada di dalam kulkas. Hari ini dia ingin membuatkan makanan kesukaannya Goseul. Sebagai seorang ibu Mijoo sangat khawatir anak seusianya sudah sibuk sekali berpikiran untuk diet. Daripada membiarkan Goseul tidak makan hanya karena ingin kurus lebih baik Mijoo membuatkan menu makanan khusus orang yang sedang menjalankan diet. Hitung-hitung dia juga ingin mengurangi sedikit berat badan.

.

“Goseul-ah kamu pulang jam berapa hari ini?”

“Ada apa bu tiba-tiba nanya? Ya seperti biasalah..”

“Hari ini ibu buatkan makanan untukmu, khusus menu diet!”

“Omo?! Sungguh bu? Daebak—“

Tit.. Panggilan terputus begitu ponsel Lee Goseul terjatuh di tanah. Seseorang tak sengaja menyenggolnya dan menyebabkan ponselnya terjatuh bahkan layarnya jadi retak. Nafas Goseul terasa begitu sesak melihat keadaan handphone yang mengenaskan itu. Ibunya baru membelikan ponsel itu sekitar 2 bulan yang lalu tapi karena orang gila sekarang jadi rusak. Hiks.

Haksaeng apa kamu baik-baik saja?” tanya seseorang.

Goseul berjongkok untuk mengambil ponselnya yang mengenaskan. Setelah itu dia tatap wajah pria asing yang ada dihadapannya ini. Matanya berair menahan tangis, apa itu disebut baik-baik saja?

“Paman tidak lihat ya kalau ada orang lewat! Hapeku jadi rusak tahu!” rengek Goseul meratapi nasib ponselnya. Bisa mati kena marah kalau ibunya tahu ponselnya rusak, “Hiks ganti!!” pekik Goseul.

Sang pria tak dapat menahan senyumnya melihat tingkah Goseul begitu manja saat ini. Tak lain orang yang ada dihadapan Goseul saat ini adalah Nam Woohyun. Sengaja dia memilih pendekatan seperti ini karena Woohyun tidak tahu harus bagaimana caranya berinteraksi dengan anaknya.

“Kalau begitu ikut dulu sama paman untuk mengganti ponselmu,” jawab Woohyun.

Goseul berhenti menangis dan mengusap air matanya, “Paman kamu tidak akan menculikku ‘kan?” tanya Goseul was-was.

Tawa Woohyun meledak. Menculik? Ada-ada saja pikiran Goseul.

“Tidak kok. Di situ ada CCTV jadi kalau paman menculikmu wajah ini terlalu terlihat ‘kan? Paman tidak ada pemikiran seperti itu Go—“ Hampir saja Woohyun menyebut nama Goseul tanpa dia sadari, “Intinya paman hanya ingin mengganti ponselmu yang tidak sengaja paman rusak,” lanjutnya.

“Hmm baiklah. Soalnya kalau tidak diganti ibuku bakalan marah-marah. Ibu baru beliin hape ini 2 bulan yang lalu,” cerocos Goseul.

“Ya sudah kalau begitu ikut paman ke parkiran mobil,”

Goseul mengangguk dan mengikuti Woohyun seperti perkataannya barusan.

.

          Lee Goseul berdecak kagum saat dia melihat mobil Woohyun yang terparkir di pakiran mobil. Begitu dia masuk Goseul malah lebih terkejut sekali. Semua yang ada di mobil Woohyun tampak mahal. Rasa curiga Goseul kepada Woohyun jadi hilang begitu saja. Orang kaya apa yang ingin menculik anak sepertinya?

Daebak..” gumam Goseul.

“Kamu bilang apa barusan?” tanya Woohyun.

“Ah? Bu..bukan apa-apa. Mobil paman keren pasti paman orang kaya,” celetuk Goseul.

“Masa sih? Tidak kok..” jawab Woohyun.

“Paman.. nama paman siapa? Paman kerja apa?” tanya Goseul berturut-turut.

“Nama paman Nam Woohyun. Paman bekerja di sebuah perusahaan,” jawab Woohyun.

Ia mulai mengendarai mobilnya untuk pergi ke toko ponsel mengganti milik Goseul yang hancur karenanya. Ngomong-ngomong berdua dengan Goseul di dalam mobil membuat Woohyun merasa baru saja menjemput anak pulang sekolah. Hal sudah lama ingin dia lakukan.

“Paman pasti kaya,” gumam Goseul setelah mendengar jawabannya, “Oh ya paman namaku Lee Goseul. Maaf ya tadi marah-marah,”

“Tidak apa kok paman memang salah sudah merusak ponselmu,” balas Woohyun sambil tersenyum.

Tanpa diberitahu ayah sudah mengetahuinya, nak.

.

          Sementara itu Lee Mijoo terkejut mengetahui panggilannya dan Goseul terputus begitu saja. Dia pikir hanya karena jaringan tetapi saat Mijoo mencoba untuk menghubungi Goseul kembali panggilan sudah berada di luar jangkauan. Mijoo jadi panik sendiri apa yang terjadi apa pada anaknya sampai-sampai tidak bisa dihubungi, “Goseul-ah kamu di mana?” lirih Mijoo.

.

          Woohyun membukakan pintu untuk Goseul setelah mereka sampai di salah satu gerai resmi Samsung. Goseul pun langsung sambil dan langsung terkejut saat melihat sebuah handphone keluaran terbaru. Huaaaa dia ingin sekali ponsel itu dari dulu tapi karena terlalu mahal Goseul meminta model lain saja ke ibunya. Woohyun memperhatikan Goseul yang sedang memperhatikan ponsel itu.

“Kamu mau yang itu?” tanya Woohyun.

“Ye?!” kagetnya.

“Kalau mau paman bisa gantiin hape yang itu,” kata Woohyun.

Goseul langsung mengibaskan tangannya dan menggelengkan kepala, “Ti..tidak usah paman. Ibuku nanti bisa curiga,” jawab Goseul kikuk.

“Kamu bisa bilang ke ibumu kalau ada orang yang merusak hapemu dan menggantinya,” ujar Woohyun.

Goseul kembali menolak, “Tidak usah paman ganti saja yang seperti ini,”

Oh ayolah Goseul ingin itu tapi dia harus memikirkan reaksi ibunya jika tahu ponselnya sudah berganti dengan tipe yang lebih wow lagi.

“Ya sudah kalau begitu kita bilang ke penjaganya,”

.

          Ketika Woohyun sedang membayar ponsel Goseul yang sesuai dengan miliknya yang lama dia melihat Goseul tengah memperhatikan sesuatu. Yang dilihat oleh Goseul adalah aksesoris handphone yang begitu lucu.

“Lee Goseul!” panggil Woohyun.

Goseul menoleh dan melayangkan pandangan yang mengartikan “ada apa?”.

“Ambil yang kamu suka lalu bawa ke sini!”

Raut wajah Goseul begitu kaget sekaligus senang saat Woohyun berkata seperti itu. Goseul langsung memilih apa yang dia sukai setelah itu memberikannya kepada Woohyun yang ada di kasir.

“Hanya 1? Tidak mau yang lain?” tanya Woohyun.

“Tidak satu saja cukup kok,” jawab Goseul.

“Wah.. Anaknya ya pak? Cantik,” puji penjaga kasir.

Nam Woohyun ingin menjawab iya tapi semua itu tertahan di ujung lidahnya. Makanya Woohyun hanya tersenyum kepada kasir itu.

“Bukan tapi paman ini paman baik hati yang begitu baik menggantikan ponselku yang rusak dengan hape baru eonnie,”

Deg! Mendengar kata ‘paman baik hati’ membuat hati Woohyun terasa nyeri. Masih dia ingat panggilan yang diberikan oleh Goseul untuknya saat pertemuan terakhir mereka. Woohyun tak tahu Goseul masih mengingatnya atau tidak tapi yang jelas sebutan itu tersimpan rapat di memorinya.

“Paman kenapa bengong?” tegur Goseul.

“A..ah.. Ini,”

Woohyun memberikan kartu kreditnya ke penjaga kasir. Ia mencoba tersenyum pada Goseul walaupun saat ini terasa sulit sekali baginya.

.

          “Paman terima kasih banyak sudah membelikan aku ponsel baru ini dan juga aksesorisnya,” Goseul bersungguh-sungguh berterimakasih kepada Woohyun setelah keluar dari toko. Ia membungkukan badannya 45 derajat sebagai rasa terima kasihnya kepada Nam Woohyun.

“Tidak kok ini semua salah paman jadi tidak perlu berterimakasih,” ujar Woohyun.

“Paman baik sekali. Kalau begitu aku pulang ya paman sekali lagi terima kasih,” pamit Goseul.

Goseul membalikan badannya setelah berpamitan dengan Woohyun tapi tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan Woohyun yang menahannya.

“Paman kenapa lagi?” tanya Goseul.

“Go..Goseul-ah biar paman antar pulang ya?” kata Woohyun menawarkan diri.

“Paman aku tidak mau merepotkanmu lagi,” jawab Goseul.

“Tidak apa kok. Mau ya?” pintanya.

Sebenarnya Goseul tidak enak untuk menerima tawaran Woohyun lagi. Tapi begitu melihat tatapan mata Woohyun dia merasa luluh dan menganggukan kepalanya begita, “Aku mau paman,” jawabnya.

.tbc.

Advertisements

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s