Posted in Chaptered, Drama, Family, Fanita, LFI FANFICTION, Marriage-life, PG-17, Romance

Treasure [Chapter 3]

Art by IRISH posterfanfictiondesign wordpress com
Art by IRISH posterfanfictiondesign.wordpress.com

Treasure

By Fanita

Main Cast : Lovelyz’ Mijoo & Infinite Woohyun – OC’s Lee Goseul

Cast : Bestie’s Haeryung – Lovelyz’ Jisoo – etc

Genre : Family – Sad – Hurt/Comfort || Rating : PG-15 || Type : Chapter

“Where your treasure is, there will your heart be also”

.

..

.

          Mobil Woohyun berhenti di sebuah rumah yang Goseul bilang adalah rumahnya. Walaupun sudah mendapatkan alamat lengkapnya Woohyun masih belum sempat melihat rumah itu secara nyata. Beruntunglah hari ini dia bisa melihatnya karena mengantar pulang Lee Goseul. Dilihatnya rumah Mijoo yang sederhana tetapi begitu bersih. Di samping rumah itu ada toko yang semulanya adalah bagasi mobil.

“Paman terima kasih sudah mengantarkan aku pulang. Apa paman mau mampir dan bertemu dengan ibumu?”

Aku mau tapi tak bisa, Goseul-ah.

“Tidak paman harus pulang sekarang,” balas Woohyun.

“Kalau begitu sampai jumpa lagi paman,”

Goseul melepaskan sabuk pengamannya lalu keluar dari mobil. Setelah itu barulah Woohyun kembali menjalankan mobilnya untuk segera kembali ke kantor.

.

          Mijoo melipat kedua tangannya di dada lalu menatap tajam Lee Goseul yang baru saja kembali. Dia pikir ada sesuatu yang terjadi pada Goseul tapi kenyataannya Goseul pulang dengan raut wajah yang gembira. Dia mengkhawatirkan hal yang sia-sia.

“Kenapa teleponnya mendadak mati Goseul?” tanya Mijoo.

“Ah itu.. Habis baterai bu,” jawab Goseul. Dia sudah memikirkan sebuah selama perjalanan pulang.

“Oh ya? Kenapa pulang tidak tepat waktu?” tanya Mijoo lagi.

“Maaf bu waktu aku mau pulang temanku menghentikanku karena aku harus membersihkan kelas,” dusta Goseul.

“Ya sudah kalau begitu. Makan sana apa yang sudah ibu siapkan,”

Goseul mengangguk lalu berlari dengan cepat agar ibunya tidak curiga kalau dia telah berbohong. Huft sebenarnya dia menyesal telah membohongi orangtua tapi mau bagaimana lagi dia takut kejujuran akan membawa malapetaka baginya selama 7 hari 7 malam.

.

          Woohyun lagi bekerja di kantornya tetapi ketika alarm ponsel yang telah tersetel di ponselnya berdering dia menghentikan segala aktivitasnya. Alarm itu menandakan kalau Woohyun harus segera pergi ke suatu tempat. Urusan pekerjaan bisa dia selesaikan nanti atau bahkan lembur karena hal ini lebih penting untuknya.

.

          Mobil keren Woohyun terparkir rapi di parkiran sementara sang pemilik pergi meninggalkannya karena ingin menemui seseorang. Kini Nam Woohyun dengan gagahnya telah berdiri di depan gerbang sekolahan Goseul untuk menemuinya secara sengaja.

.

          Usaha Woohyun tidak sia-sia karena dia bisa melihat Lee Goseul berjalan seorang diri menghampirinya. Goseul berlari terburu-buru dan ketika dia sudah ada di hadapan Woohyun ia menyapanya.

“Paman Woohyun kemari lagi? Apa paman mau menemui seseorang?” tanya Goseul.

“Iya memang mau menemui seseorang,” jawab Woohyun.

“Siapa paman?”

“Lee Goseul..”

“Ye?!”

.

          Woohyun membawa Goseul ke sebuah kedai es krim karena hari ini cuaca begitu panas. Goseul disuruh duduk oleh Woohyun karena dialah yang akan memesankan es krim. Tak lama kemudian Woohyun telah kembali dengan sebuah mangkuk es krim berukuran jumbo dan satunya lagi ukuran biasa. Tentunya yang jumbo untuk Goseul dan yang biasa untuk dirinya.

“Es krim vanila untuk Goseul yang manis,” seru Woohyun.

Ia meletakan es krim itu dihadapan Goseul yang matanya telah berbinar-binar.

Daebak! Paman kok tahu aku suka es krim vanila?” kata Goseul berdecak kagum.

Woohyun hanya tersenyum santai dan menikmati es krim miliknya. Ia memperhatikan Goseul yang saat ini sibuk mengabadikan es krim untuk dimasukan ke dalam instagram.

“Ngomong-ngomong kenapa paman mengajakku jalan-jalan?” tanya Goseul.

“Tidak boleh ya?” tanya balik Woohyun.

“Eh? Bukan apa-apa kok paman. Aku malah senang diajak jalan sama paman,” celetuk Goseul.

“Setelah ini Goseul mau ke mana?” tanyanya lagi.

“Apa boleh aku memilih mau ke mana paman?”

Woohyun mengangguk dengan semangat. Mau ke manapun anaknya Woohyun akan ikuti asalkan Goseul bahagia.

“Kalau gitu aku mau ke…..”

.

          Raut wajah Goseul betul-betul super bahagia saat memasuki toko yang dia kehendaki. Melihat betapa banyak make up serta berbagai macam model membuat Goseul jadi kegirangan dengan sendiri. Bagi Woohyun ini pertama kalinya dia masuk ke dalam toko kosmetik wanita yang bernuansa pink ini karena Goseul dia merasakannnya.

“Hua daebak! Lip tint yang ini benaran keren!” seru Goseul melihat lip tint keluaran produk Peripera.

Woohyun menghampiri Goseul untuk melihat apa yang tengah dilakukan oleh anak perempuannya.

“Apa itu?” tanya Woohyun.

“Ini lip tint paman. Semua anak di sekolah pakai ini,” jawab Goseul.

“Oh ya? Goseul mau?”

“Iya aku mau ini,”

“Kalau begitu ambil saja yang Goseul mau biar paman yang bayar,”

“Ye?!”

Goseul tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya mendengar apa yang dikatakan oleh Woohyun barusan. Dia memang ingin membeli produk ini tapi tentu saja menggunakan uang tabungnya.

“E..eh anu paman tidak perlu. A..aku bisa membeli sendiri—“

“Tidak apa kok kalau Goseul mau paman bisa membelinya,”

Di satu sisi Goseul benaran tidak enak hati dengan kebaikan Woohyun tetapi di sisi lain dia ingin sekali memiliki semua barang yang masih ada di daftar belanjanya. Haruskah dia menerima tawaran Woohyun?

.

          “Terima kasih banyak,” Woohyun dan Goseul keluar dari toko setelah membayar semua belanjaannya. Baru pertama kali bagi Goseul pulang dari toko tersebut dengan kantong belanjaan yang besar dan terkesan mewah ini.

Ddrrttt..

Langkah kaki Goseul terhenti saat ponselnya yang ada di saku berdering. Dia mengeluarkan ponsel baru pengganti yang rusak itu dan mengangkat panggilan telepon dari ibunya.

“Goseul-ah kamu bilang ada di pasar Myeongdeong ‘kan? Di mana?”

“Aku ada di toko kosmetik yang biasa bu,”

“Oh ya ibu ada di sini juga—“

Saat melihat ibunya Goseul langsung melambaikan tangan dengan raut wajah yang begitu gembira. Berbeda dengan Nam Woohyun yang seketika menegang setelah bertahun-tahun tidak melihat cinta pertamanya. Begitu juga dengan Lee Mijoo yang tertegun di tempatnya. Dia tidak salah lihat ‘kan kalau itu adalah Woohyun? Dan kenapa Goseul bersamanya? Itulah yang menjadi pikiran Mijoo saat ini.

“Paman itu ibuku,”

“A..ah Goseul paman—“

“Ayo paman aku kenali dengan ibuku,”

Tangan mungil Goseul menarik tangan Woohyun untuk mendekati ibunya. Woohyun ingin kabur dari tempat ini tetapi Goseul terlalu bersemangat untuk mengenalkannya pada Lee Mijoo.

.

          Mijoo dan Woohyun duduk berharapan dalam kekikukan. Goseul permisi ke toilet dan meninggalkan kedua insan ini tanpa menyadari bahwa keduanya memiliki kisah di masa lalu. Tentunya Goseul juga tak sadar bahwa sebenarnya dia sedang bersama dengan orangtua lengkapnya.

“Lama tidak bertemu Mijoo-ya,” sapa Woohyun dengan suara yang terkesan lirih.

“Untuk apa kamu menemui Goseul?” tanya Mijoo datar tak menghiraukan sapaan ayah dari anaknya.

“Aku merindukannya,” celetuk Woohyun.

“Rindu? Omong kosong yang menjijikan,” cibir Mijoo.

Woohyun menundukan kepalanya karena dia sungguh menyesal. Rasanya masih berat untuk berhadapan langsung dengan Lee Mijoo. Tapi pertemuan yang tidak disengaja ini membuatnya tak tahu harus berkata apa.

“Jangan temui anakku lagi!” bentaknya.

“Aku berhak untuk menemuinya Mijoo,” ucap Woohyun berusaha sabar.

“Goseul tumbuh sangat baik tanpa seorang ayah. Dia tidak membutuhkan orang sepertimu. Mungkin Goseul berbahagia sekarang tapi kalau dia tahu ayahnya mencampakannya hanya karena memilih harta warisan, apa oppa pikir dia masih bisa menghormatimu?”

Bibir Woohyun keluh untuk digerakan. Ucapan Mijoo benar menusuk lubuk hatinya yang paling daam. Dia juga bertanya apakah Goseul masih mau tersenyum untuknya bila tahu orang yang dia sebut baik itu ternyata meninggalkannya dan membuatnya hidup tanpa sosok seorang ayah?

“Ibu! Paman!” seru Goseul yang telah kembali.

Mijoo menatap sinis Nam Woohyun lalu berdiri sambil membawa tasnya dan Goseul. Dia berjalan lalu menarik tangan Goseul untuk segera pergi dari tempat ini meninggalkan sosok Nam Woohyun yang membuat hatinya teriris piluh.

“Ibu kenapa pulang?” heran Goseul.

“Kita pulang saja Goseul-ah!” ucap Mijoo datar.

“Paman sampai jumpa!” seru Goseul.

Tak lupa dia memberikan lambaian tangan kepada Nam Woohyun dengan tangan kirinya yang terbebas. Woohyun sendiri membalas lambaian tangan Goseul sambil tersenyum lirih, “Maafkan aku Mijoo, Goseul..” batinnya.

.

          Setelah sampai di rumah Mijoo mengurung Goseul di dalam kamarnya. Goseul berteriak sekencang-kencangnya karena tak mengerti kenapa ibunya melakukan hal ini kepadanya.

“Ibu kenapa aku di kunci?!” pekik Goseul.

Seo Jisoo sungguh tidak mengerti kenapa Mijoo melakukan ini kepada anaknya sendiri. Teriakan Goseul terdengar sampai toko, bukankah ini gila? Mijoo sendiri hanya diam sambil menatap monitor untuk mengurusi beberapa orang yang belanja online.

“Mijoo-ya kamu keterlaluan. Memang apa yang dilakukan Goseul sampai kamu menguncinya?” tanya Jisoo.

“Kamu tidak mengerti Jisoo-ya,” jawab Mijoo.

“Kamu belum bercerita bagaimana bisa mengatakan aku tidak mengertimu?”

Yang Jisoo katakan memang benar. Dia masih memendam semuanya seorang diri bagaimana bisa menyimpulkan bahwa Jisoo tidak bisa mengertinya?

“Jadi siang tadi Goseul bertemu dengan ayahnya,” aku Mijoo.

“Hah?!” teriak Jisoo. Untuk pertama kalinya dia mendengar kabar seperti ini keluar dari bibirnya, “Ba..bagaimana bisa? Lalu kenapa? Apa Goseul tahu dia ayahnya?”

Mijoo menggelengkan kepala, “Goseul tidak tahu. Aku juga heran kenapa dia bisa menemui Goseul bahkan mereka terlihat dekat. Apa yang harus aku lakukan Jisoo-ya?”

Hiks. Mijoo menyandarkan kepalanya di meja tak peduli kalau keyboard komputernya bisa rusak. Ia menangis sesegukan karena takut Goseul akan melupakannya. Dan juga dia tak bisa menahan air matanya karena dia rindu dengan Woohyun setelah sekian lama tak berjumpa.

“Mijoo-ya jangan menangis,”

Jisoo kini telah berada di samping Mijoo untuk menenangkan sahabatnya. Dia yakin bahwa hal ini sangat sulit untuk dihadapi oleh Mijoo seorang diri. Selama mengenal Mijoo sama sekali Jisoo tidak pernah melihatnya menangis. Untuk pertama kalinya dia melihat Mijoo menangis karena ayahnya Lee Goseul, “Jangan menangis Mijoo-ya! Kamu kuat untuk melalui ini,” bisik Jisoo.

.

          Sama sekali tak ada niatan bagi Woohyun untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Semua pikirannya terpusatkan pada Lee Mijoo dan juga Goseul. Dia takut kalau Mijoo akan memarahi anaknya dan melarangnya untuk bertemu lagi dengannya. Kalau itu terjadi apa yang harus dia lakukan?

Krek..

Oppa..”

Woohyun otomatis berdiri saat melihat Haeryung datang menemuinya. Ia memaksakan diri untuk tersenyum.

“Kenapa kamu datang ke kantor Haeryung-ah?” tanya Woohyun.

Haeryung memeluk Woohyun kemudian menjawab apa yang ditanyakan olehnya.

Oppa sepertinya terlalu banyak bekerja sehingga lupa kalau hari ini perayaan pernikahan kita yang ke-8,”

Nam Woohyun langsung memukul kepalanya sendiri karena melupakan hari penting seperti itu. Pikirannya begitu penuh dengan Goseul dan Mijoo sehingga dia tak sadar kalau sekarang adalah hari pernikahannya yang ke-8.

“Sayang maaf aku lupa.. aku—“

“Tidak masalah oppa. Malam nanti kita dinner bersama ya? Aku akan tunggu oppa di kafe kantor,”

“Tinggal di sini saja dengan aku,” celetuk Woohyun.

Haeryung menggeleng, “Tidak usah nanti aku mengganggu konsentrasi oppa. Bye..”

Setelah mengatakan hal tersebut Haeryung langsung membalikan badan dan keluar dari ruangan Woohyun. Begitu dia keluar dari ruangan suaminya Haeryung menghela nafas. Woohyun melupakan hari pernikahan mereka. Wanita mana yang tak sedih bila merasakannya?

.

          Goseul merenungkan nasibnya di atas kasur sambil memeluk lututnya. Ibunya begitu tega menguncinya di kamar sejak tadi padahal dia ingin ke kamar mandi. Sejujurnya sampai saat ini Goseul tidak mengerti kenapa ibunya tiba-tiba mengajaknya pulang bahkan setelah sampai rumah dia menguncinya seperti ini. Apa salahnya? Atau ibu tidak suka dengan paman Woohyun?

“Huft paman Woohyun ‘kan baik sekali,” rutuk Goseul.

Dia jadi tidak enak hati meninggalkan Woohyun tanpa berpamitan dengan jelas. Ingin sekali Goseul meminta maaf tetapi dia lupa meminta nomor handphonenya Woohyun.

“Nam Woohyun…”

Tangan Goseul dengan isengnya mencari nama laki-laki itu di internet. Dan apa kalian tahu hasilnya—

Omo daebak! Ceo? Daebak! Pantas saja paman itu baik sekali!” ucap Goseul berdecak kagum saat melihat sebuah profil dengan foto Nam Woohyun.

Satu persatu artikel Woohyun yang melakukan interview dibaca oleh Lee Goseul.

“Oh.. Paman sudah punya istri? Apa dia sudah punya anak ya?” tanya Goseul pada dirinya sendiri.

.

Krek..

“Goseul-ah..” Mijoo membuka pintu kamar Goseul lalu memanggil namanya. Buru-buru Goseul menyembunyikan ponselnya di bawah selimut dan Lee Mijoo pun datang menghampirinya. Baru saja Goseul mau menjawab Mijoo sudah memeluknya duluan dengan sangat erat.

“Maafkan ibu,” sesal Mijoo.

“A..ah tidak apa bu,” balas Goseul.

Mijoo melepaskan pelukannya lalu mengusap rambut hitam milik Goseul-nya.

“Apa kamu mau makan? Ibu akan masakan apa yang kamu inginkan,”

Goseul menggeleng dengan cepat, “Tidak usah. Aku tidak lapar kok bu,”

“Kalau begitu istirahatlah. Ibu tidak akan menganggumu,”

Diusapnya pipi lembut Goseul setelah itu barulah Mijoo keluar dan tak lupa menutup pintu kamarnya. Setelah Mijoo benar-benar pergi Goseul kembali mengeluarkan ponselnya dan membaca artikel-artikel lain tentang Woohyun.

.

Goseul        : Ibu aku ada kerja kelompok jadi pulangnya lama.

Mijoo          : Hati-hati ya. Pulang jangan terlalu sore.

Goseul        : Oke bu.

Mijoo meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas lalu mengangkat kardus besar yang telah dia bawa. Hari ini ada lagi pesanan ke tempat yang Mijoo antar tempo hari bahkan yang dipesannya jauh lebih banyak.

Ting..tong..

Dengan bersusah payah Mijoo berusaha menekan  bell sampai akhirnya satpam yang berjaga datang menghampiri Mijoo.

“Oh nona yang kemarin. Silakan masuk nyonya Nam sudah menunggu Anda,” katanya.

Satpam itu mengambil alih kardus yang dibawa oleh Mijoo lalu memimpin Mijoo untuk masuk ke dalam rumahnya. Hari ini dia mendapatkan pesan tambahan dari orang bernama Haeryung itu untk berbicara sebentar dengannya.

.

“Nyonya tamu Anda sudah datang,” Ujar sang satpam begitu dia memasuki ruang tamu. Haeryung yang fokus membaca majalah langsung menutup buku tersebut untuk menyambut tamunya.

“Terima kasih Pak Jang,”

Kini Mijoo telah duduk bersamaan dengan Haeryung. Tak dia duga kalau Na Haeryung orangnya cantik dan juga masih muda.

“Lee Mijoo-ssi?”

“Ya aku Lee Mijoo,”

Haeryung tersenyum dan mulai menceritakan maksudnya mengajak berbicara, “Mijoo-ssi aku begitu menyukai produk yang kamu jual. Maksudku mengajakmu berbicara itu karena aku ingin memesan lebih banyak lagi,”

“Ye? U..untuk apa?!”

Mijoo terkejut mendengar rezeki datang kepadanya dalam waktu yang tak terduga. Tidak ada sama sekali Mijoo mendapatkan firasat kalau wanita yang ada di depannya ini akan memberikannya uang yang banyak.

“Ya aku ingin membagikannya ke orang-orang yang aku kenal. Tasmu sangat bagus,” puji Haeryung.

“Terima kasih banyak,” balas Mijoo.

“Aku sudah menentukannya  pilihanku, tunggu ya aku ambil ponselku dulu di kamar,” pamit Haeryung sebentar.

.

          Selagi Haeryung pergi Mijoo melihat-lihat rumah megah milik Haeryung. Betapa menakjubkannya tinggal di rumah sebenar ini padahal wanita itu masih muda. Mijoo juga melihat dinding rumah Haeryung dan tak sengaja melihat sebuah bingkai foto yang terpajang di sana.

Deg.

Jantung Mijoo terasa begitu sakit saat melihat foto pernikahan Haeryung bersama orang yang begitu dia kenal. Siapa lagi kalau bukan ayah dari anaknya, Nam Woohyun. Jadi yang tinggal di rumah ini Woohyun dan yang baru saja berbicara dengannya adalah istri Woohyun? Pikiran Mijoo jadi kalut dan tak tahu harus bagaimana sampai akhirnya Haeryung kembali dan menegurnya.

“Mijoo-ssi kau melamun melihat foto keluargaku?” tegur Haeryung.

Mijoo menggelengkan kepalanya lalu mencoba untuk tersenyum kepada Haeryung, “Ah.. bukan apa-apa aku hanya iseng melihat saja. I..itu suamimu?” tanya Mijoo pura-pura tak tahu.

Haeryung tersenyum manis, “Iya dia suamiku,”

Bibir Mijoo tertutup rapat karena tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Pokoknya setelah menyelesaikan urusan bisnisnya dia harus segera pulang.

“Aku di sini tinggal dengan suamiku dan beberapa pembantu,”

“Ye?”

“Aku tidak punya anak,” lirih Haeryung.

Lee Mijoo tak mengerti kenapa Haeryung tiba-tiba membicarakan hal ini kepadanya. Tapi kalau dia tidak punya anak berarti bayangan Mijoo selama ini tidak nyata. Terkadang dia memikirkan kehidupan Woohyun yang pastinya telah memiliki anak selain Goseul. Tapi pada kenyataannya mereka masih belum dikaruani anak.

“A..ah aku harap kalian segera memiliki anak,” kata Mijoo kikuk.

Na Haeryung memaksa untuk tersenyum, “Kenapa aku jadi terbawa suasana? Mari kita bicarakan bisnis..”

“Ya bisnis,” balas Mijoo.

Kedua wanita tersebut pun sibuk membicarakan urusan bisnis dan melupakan pembicaraan mereka yang sebelumnya.

.tbc.

Advertisements

Author:

wattpad @lovefinite87

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s