Posted in Angst, AU, Author, LFI FANFICTION, Lovelyz Fanfiction Indonesia, Oneshot, PG-15, Romance

[Oneshot] Written in the Sky

1491713399339

by yournightskies

Written In the Sky

Lovelyz’s Jiae with BTS’ Suga

Oneshot (WC: 4,100+)

Romance, Angst, War!AU, Soulmate!AU

PG-15

Kini, Jiae tidak bisa lagi memandang langit yang sama dengan Yoongi, setelah seluruh janji dan kisah mereka terukir di atas sana.

Disclaimer: Only the poster and story line are mine. The casts belong to their selves. The story is pure fictional, none based on true story.

Note: Listen to Morning Star by Babysoul, Kei, JIN of Lovelyz, and Shooting Star by Lovelyz for more feels~


Prologue

“Apa yang sebenarnya kaulakukan saat usiamu 10, hah?” tanya Jiae sambil mengobati luka di siku Yoongi. “Sampai tidak sempat melihat ke langit, bahkan meski sebentar.”

“Sepertinya saat itu aku sedang berlatih menembak. Eh, atau memanah?”

“Ih, tetap saja! Mana mungkin dalam setahun, kau sama sekali tidak melihat ke langit?”

“Ih, tapi tidak mungkin, ‘kan, aku mengawasi langit setahun penuh hanya demi nama jodohku? Bisa-bisa kita semua keburu mati tertembak!”

“Ih!” Jiae kehabisan kata-kata untuk membantah bantahan Yoongi, meski pertikaian itu dimulai tak sampai semenit yang lalu. Ia yang gondok setengah mati, lalu melempar kapasnya yang berlumuran obat merah ke luka Yoongi, kuat-kuat.

“A-aw!” seru Yoongi, kesakitan. “Apa, sih?”

“Kau yang apa! Aku tidak mau merebutmu dari orang yang sudah ditakdirkan bersamamu, tahu! Jadi sekarang katakan, siapa nama yang kaulihat di langit?”

“Aku sudah bilang jutaan kali, Jiae! Kenapa kau keras kepala betul?”

“Iya, betul aku keras kepala! Makanya, cepat bilang supaya aku tidak lagi keras kepala!”

“Astaga, kau ini benar-benar,” keluh Yoongi sambil meraih kapas baru di kotak P3K dan membubuhinya dengan obat merah, memilih untuk mengobati lukanya sendiri. “Terserah, kau mau sekeras kepala apapun juga. Aku sudah bilang kalau aku tidak pernah melihat ke langit. Kalau pun lihat, aku sudah lupa. Latihan militer menyibukkanku.”

“Kau begitu ambisius ya, untuk mengambil alih jabatan ayahmu?”

“Demi keamanan kota kita, Jiae, tentu saja. Apa yang tidak akan kulakukan?”

“Melihat ke langit, tentu saja.”

“Yoo Jiae, ampun! Kenapa kau amat ambisius tentang nama di langit, sih? Belum tentu hal itu benar adanya!”

“Enak saja! Ibu bisa menikah dengan Ayah karena menemukan namanya di langit.”

Yoongi mencibir. “Kau bahkan belum lahir saat ibumu melihat nama ayahmu. Bisa saja cerita itu dikarang.”

“Hei, mau mati?!”


Main Event

Hidup di perbatasan dua kota yang sedang berperang memang tidak mudah. Terlebih jika kekasihmu adalah seorang komandan. Atau, lebih tepatnya, calon komandan. Karena usia Yoongi hari ini masih sembilan belas tahun. Lelaki berkulit putih yang kini lusuh akibat terus berjibaku di medan perang itu harus menunggu sampai berusia dua puluh, baru bisa resmi diangkat menjadi komandan.

Hubungan Jiae dan Yoongi dimulai tanpa awalan yang romantis. Kira-kira, seperti ini ceritanya.

Jiae awalnya tidak tahu sama sekali tentang siapa Min Yoongi, sampai ia melihat nama lelaki itu saat ia menginjak usia sepuluh. Jiae yang begitu terkesima karena kesempatan langka ini—akhirnya!—datang, terus memandangi nama itu tanpa bosan sampai ia tidak sadar ia telah jatuh tertidur. Pagi harinya, ia harus menelan pahitnya kecewa karena bintang yang semalam mengukir nama Min Yoongi harus tergantikan oleh sinar matahari yang hangat.

Asal tahu saja, Jiae amat memercayai kisah dari Ayah-Ibunya tentang nama di langit. Konon, nama pasangan jiwamu akan diukir oleh bintang saat usiamu sepuluh tahun, juga saat kau akan mati.

Kemudian, untuk mencari tahu siapa Min Yoongi, Jiae memulai pencariannya ke area barak tentara di perbatasan kota. Kakaknya, Miae, bekerja sebagai salah satu petugas medis di sana. Unnie pasti tahu siapa Min Yoongi, pikirnya saat itu. Dengan dalih ingin membawakan bekal untuk kakaknya, Jiae berangkat ke area barak tentara. Hanya saja, karena ia belum pernah ke sana sekali pun, ia jadi tersesat. Ia melihat banyak tenda besar berdiri, namun tidak tahu yang mana tenda tempat kakaknya berada.

“Hei,” tegur seseorang, membuat Jiae menoleh dan menemukan anak lelaki seusianya yang berkulit pucat dan matanya terlalu sipit. “Kau sedang apa disini? Perempuan seharusnya tidak disini, bukan?”

Jiae tersinggung mendengar ucapan seperti itu, tapi ia tahan emosinya karena ia merasa tidak punya urusan dengan bocah itu, sekaligus sedang butuh bantuan.

“Aku ingin mencari kakakku, Yoo Miae. Kautahu dimana dia?”

“Apa tugasnya disini? Kau siapanya?”

“Petugas medis, dan aku adiknya. Namaku Yoo Jiae.”

Hening sejenak.

“Oh.” Bocah itu memecah hening yang ia ciptakan tanpa sadar, lalu menunjuk ke tenggara sembari menunduk, tak mau melihat ke arah Jiae. “Barak pengobatan ada di sana. Atau kalau ia tidak disana, mungkin ada di barak dapur.”

“Terima kasih.”

“Tapi kalau tidak ketemu juga…”

Jiae menunggu kelanjutan kalimat itu dengan sabar.

“Tandanya kau bodoh.”

Bocah itu lalu berlari kabur sebelum Jiae sempat merespon. Jiae buru-buru mengambil napas dalam dan membatin, Jangan hiraukan ia, Jiae. Yakini saja dalam hatimu kalau dia bukanlah Min Yoongi.

Akhirnya, Jiae menemukan Miae di barak pengobatan. Tanpa membuang waktu, ia bertanya pada kakaknya. “Unnie, apa kau mengenal Min Yoongi?”

“Oh, semua orang kenal dia. Dia anak dari Komandan Min. Nanti, setelah kau kembali dari sini, cobalah perhatikan sekeliling. Bila kau menemukan bocah berkulit pucat dan matanya terlalu sipit, dialah Min Yoongi. Kenapa? Apa namanya muncul di langit?”

Ah, sial.

Jiae tidak pernah kembali lagi ke barak pengobatan setelah hari itu, masih kesal setengah mati pada bocah tidak tahu sopan santun… yang ternyata jodohnya. Ia mencari kesibukan lain dengan membantu ayahnya di bengkel. Tapi entah bagaimana bisa, ia bisa bertemu Yoongi nyaris tiap kali ia ada di bengkel. Tuan Yoo berkata bahwa anak komandan itu sedang bekerja paruh waktu padanya, tapi Jiae tidak mau terima alasan semacam itu. Bagi Jiae, Yoongi tetap menyebalkan. Pernah sekali di usia tiga belas, lelaki itu “tidak sengaja” menodai pipi Jiae dengan noda oli.

Balasannya? Tang melayang. Target awal ke kepala, tapi ia alihkan ke punggung lelaki itu. Lumayan, membuat memar yang bertahan selama seminggu.

Selama lima tahun itu pula, Jiae harus menahan emosinya untuk tidak meledak. Bagaimana pun, ayah Yoongi telah berperan besar bagi kotanya. Tanpa pria itu, kotanya pasti sudah jatuh ke tangan musuh.

Tapi kenapa anaknya harus begitu menyebalkan?

Namun, sebuah keajaiban terjadi di tahun keenam Jiae mengenal Yoongi. Entah apa yang terjadi semalam, Yoongi tiba-tiba datang ke kediaman Yoo dan meminta restu dari orangtua Jiae untuk mengajak gadis itu pergi ke lembah—maklum, tidak ada tempat bagus untuk kencan di kota ini sejak perang mulai berkecamuk. Keputusan itu sepenuhnya diserahkan pada Jiae, sebab Tuan dan Nyonya Yoo sudah menerima dengan tangan terbuka. Alasannya? Seisi kota saja mampu dijaga Yoongi, apalagi Jiae?

Sementara satu-satunya alasan Jiae menerima Yoongi hanyalah karena nama lelaki itu telah terukir di langit untuknya, dan Jiae ingin hubungan mereka berhasil, tidak peduli betapa seringnya mereka bertengkar di usia belasan. Namun, setelah tahu sifat asli Yoongi—tekun, pekerja keras, penyayang, sabar, juga manis, Jiae lupa akan alasan kekanakannya itu. Bahkan, kesetiaan Jiae pada Yoongi terbeli lunas setelah lelaki itu mengungkapkan bahwa sebenarnya ia bekerja paruh waktu pada Tuan Yoo demi mendekati Jiae. Namun saat Yoongi sadari bahwa caranya tidak berhasil, ia akhirnya mengambil langkah nekat; langsung menemui Tuan dan Nyonya Yoo.

Yoongi sempat cerita juga apa akibat dari lemparan tang setahun yang lalu; lelaki itu tidak bisa latihan fisik sama sekali karena memarnya tepat mengenai tulang punggung. Jiae berusaha memperbaiki kesalahannya dengan membuatkan makanan khas Korea untuk Yoongi dan timnya. Tapi Yoongi malah marah, katanya; “Aku akan berikan mereka air garam supaya mereka lupa rasa masakanmu. Aku tidak mau berbagi makanan buatanmu dengan orang lain kecuali dengan keluarga kita.”

Oh, Jiae memerah hebat… selama seminggu tiap kali bertemu Yoongi.

Begitu berita jadian mereka tersebar, semua orang di area barak tentara heboh saat melihat calon komandan perang disuapi makan siangnya oleh gadis yang langka populasinya disana. Seolah seisi dunia hanya menumpang pada mereka.

Di usia tujuh belas, Jiae tahu ia tidak bisa berharap banyak saat berpacaran dengan Yoongi. Lelaki itu harus siap menjadi komandan di usia dua puluh, karena itu Jiae tidak mau bersikap egois dan meminta Yoongi meninggalkan latihan hanya demi kencan. Bahkan, saat Yoongi merasa tidak enak karena tidak pernah mengajak Jiae kencan, lalu ia berkata ia mendapat izin membolos dari ayahnya selama sehari, Jiae malah memukul kepalanya sambil mengomel.

“Kau tahu kenapa aku memukulmu? Supaya kau bangun dari mimpi siang bolongmu! Apa kaubilang, mau bolos latihan demi kencan? Tidak ada cerita! Cepat kauganti bajumu ini, lalu kembali latihan!”

Gagal sudah rencana Yoongi untuk dapat ciuman pertama dari Jiae. Malah dapat ciuman dari tanah kering nan panas.

Seiring berjalannya waktu, Jiae tahu apa peran yang harus dijalankannya tiap menunggui Yoongi berlatih, selain jadi pemasok makan siang dan malamnya. Yakni, sebagai perawat pribadi Yoongi. Yang mengobati lelaki itu tiap kali ia terluka. Yah, lagipula mau sampai kapan ia memandangi Yoongi yang mengobati dirinya sendiri tanpa berbuat apa-apa?

Di usia delapan belas, Jiae mati-matian meminta Miae untuk mengajarinya cara mengobati tentara yang terluka. Yoongi jelas tidak tahu tentang ini, tapi ia terkejut saat melihat Jiae yang tiba-tiba begitu gesit mengobati kakinya yang memar dan lututnya yang berdarah pada suatu hari. Yoongi menghadiahi ketekunan Jiae dengan sebuah kecupan di pipi, dan Jiae merasa imbalannya sudah lebih dari cukup.

Sudah tiga, menjelang empat, tahun lamanya Jiae berada di sisi Yoongi, namun hanya satu hal yang masih menjanggal di pikiran gadis itu. Siapa nama pasangan jiwa Yoongi? Jika dipikir-pikir, hanya Jiae yang memberitahu Yoongi perihal nama di langit. Lelaki itu selalu berhasil membuat topik tersebut batal diperbincangkan karena dalih tugas yang dibebankan Komandan Min pada putranya.

Pertama kali Jiae mengungkitnya adalah saat keduanya berusia sembilan belas, namun Yoongi saat itu sedang sibuk menyusun strategi perang dan menggambar rancangannya di kertas A3, jadi tidak ada informasi berharga yang Jiae dapat. Bahkan, sebelum Jiae sempat bertanya pada lelaki itu, Yoongi sudah keburu pamit untuk segera mengumpulkan kertas tersebut pada Komandan Min. Lelaki itu hanya menghadiahi Jiae dengan kecupan di dahi, kemudian berlalu di kegelapan malam.

Jiae sebetulnya ingat, Yoongi pernah cerita bahwa Tuan Min tidak pernah terjaga di atas pukul sepuluh, kecuali saat ada peristiwa genting. Yoongi pergi dari kediaman Jiae pukul sebelas, dan Jiae tidak mendengar kabar apa-apa dari Yoongi akan datangnya serangan dalam waktu dekat.

Janggal memang, tapi Jiae tidak protes. Hanya sedikit mengamuk saat ditemuinya Yoongi dalam keadaan masih terlelap dengan tidak elegannya pada pukul dua belas siang, keesokan hari.

“Astaga, Yoongi! Kau ini calon komandan atau penguin yang hibernasi?! Hapus liurmu dan cepat latihan, sana!”

Sudah kubilang, bukan, kalau kisah mereka tidak romantis? Siapapun mungkin bertanya-tanya, bagaimana Jiae bisa bertahan begitu lama di sisi Yoongi. Tapi, kalau dipikir-pikir, namanya juga sudah jodoh, apa yang bisa dibantah?

*

Pagi itu, suasana mencekam. Mungkin karena hujan yang mengguyur sedari malam. Atau, datangnya berita tentang serangan dari kota tetangga yang akan tiba beberapa minggu lagi.

Semua orang panik, jelas. Namun, tindakan mereka menyembunyikan ketakutan yang bahkan dapat dirasa hanya dengan menghirup udara. Seluruh penduduk telah membereskan bawaan seperlunya, lalu menunggu giliran untuk menaiki kapal menuju pulau tanpa penghuni sejauh pelayaran selama tiga hari dua malam. Sementara remaja laki-laki di atas lima belas tahun dan pria dewasa yang belum berkeluarga, diminta untuk tetap tinggal dan menjadi pasukan cadangan.

Namun banyak yang membantah perintah tersebut. Dalam artian, remaja laki-laki dan perempuan usia sepuluh tahun ke atas dan pria dewasa yang sudah berkeluarga memilih untuk ikut berjuang, termasuk Tuan Yoo dan Jiae. Tuan Yoo yang dulunya bekerja sebagai montir, kini dipercaya sebagai salah satu teknisi senjata, sementara Jiae bersama dengan beberapa gadis lainnya menjadi tenaga medis.

Yoongi sempat panik saat mengetahui hal ini, ia bahkan memohon sembari berlutut pada Tuan Yoo agar mereka pergi mengungsi, menyusul Nyonya Yoo dan Miae. Namun, Tuan Yoo dengan tenang membujuk Yoongi.

“Aku tidak mungkin meninggalkan calon menantuku berjuang sendirian mempertahankan kota ini,” ucapnya. “Lagipula, aku tidak ikut berperang, bukan? Aku hanya memastikan agar senjata-senjata ini siap kaupakai. Jiae juga, ia hanya mengobati tentara yang terluka. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

“Tapi aku tidak ingin ada sesuatu yang terjadi pada kalian.”

“Aku janji semua akan baik-baik saja, Yoongi. Sekarang, pergilah. Bukankah kau harus bersiap?”

Dengan berat hati, Yoongi mengangguk dan kembali ke pos pusat untuk menemui ayahnya. Sementara Tuan Yoo masuk kembali ke ruang kerjanya, menemukan Jiae yang memucat kala mendengar percakapan tadi.

“Ayah, itu tadi Yoongi?”

“Ya, seperti yang bisa kautebak. Ia takut sesuatu terjadi padamu, tahu?”

“Aku lebih takut sesuatu terjadi padanya,” balas Jiae, hampir menangis.

“Jangan khawatir, Jiae. Yoongi akan baik-baik saja.”

“Bukan masalah itu,” bantahnya. “Yoongi tidak pernah bilang alasannya mengajakku berpacaran dulu. Ia juga tidak memberitahuku siapa nama yang dilihatnya saat berusia sepuluh tahun. Aku tidak mau ia pergi sebelum mengatakannya padaku.”

“Ia pasti akan bilang padamu, suatu hari nanti. Yang pasti tidak sekarang. Situasinya sedang genting. Doakan saja keselamatan Yoongi dan semua tentaranya, ya?”

Jiae mengangguk lemah.

*

“Makanmu makin hari makin sedikit,” keluh Jiae sambil menutup kotak bekalnya. “Sementara teman-temanmu malah makin banyak. Mana bisa kau berperang dengan amunisi sesedikit ini?”

“Aku tidak nafsu makan,” balas Yoongi lemas. “Bahkan aku tidak bisa tidur. Rasanya jika aku lengah sedetik saja, kota ini akan musnah.”

“Kau sudah menjaga kota ini sejak kecil, Yoongi. Aku percaya padamu.”

“Kenapa kau dan ayahmu tidak ikut mengungsi?” tanya Yoongi seraya menatap Jiae penuh permohonan. “Ayahku meminta semua warga untuk mengungsi dan menyisakan yang kami syaratkan karena serangan kali ini tidak semudah yang telah lalu. Lawan kami terlalu kuat dan kemungkinan menang akan sangat kecil.”

“Kau belum turun ke medan perang tapi kamu sudah sebegini takutnya,” ujar Jiae sambil mengelap keringat di dahi dan sisi wajah Yoongi penuh perhatian. “Ini bukan perang pertamamu, bukan? Demi keamanan kota ini, kau akan melakukan semuanya. Ingat? Aku pun berprinsip sama, demikian pula keluargaku, juga semua orang. Jangan berjuang sendiri.”

Lelaki itu menghela napas dalam. “Kau… apa yang kaumiliki? Kau selalu berhasil membuatku menceritakan apa yang begitu kuresahkan. Bahkan aku tidak pernah menceritakan hal ini pada ayahku. Di samping itu, kau selalu bisa mengusir keresahanku. Apa yang sebenarnya kaumiliki, Jiae?”

“Sesekali kau memang perlu menceritakan keresahanmu, Yoongi. Tidak baik menyimpannya sendirian terlalu lama. Bisa-bisa kau tidak fokus latihan. Kautahu kenapa kau selalu merasa lega setelah menceritakannya? Karena dengan begitu, kau telah membagi bebanmu denganku, membiarkanku menanggungnya bersamamu.”

Yoongi meraih tangan Jiae dan mengecup punggungnya. “Aku berterima kasih tanpa henti sejak kau menerimaku tiga tahun lalu, Jiae, bahkan setelah pertemuan pertama kita yang amat kekanakan itu.”

Jiae tersenyum tipis seraya mengaitkan jemari mereka. “Aku pun berterima kasih tanpa henti pada langit yang telah mengukirkan namamu untukku,” balas Jiae. “Aku mungkin tidak akan pernah tahu siapa nama yang kaulihat. Tapi setelah sekian lama mengingkari, hanya untuk sekali ini saja, aku berharap nama itu adalah namaku. Aku terlalu mencintaimu untuk rela melepasmu, meski mungkin nama itu adalah yang lebih berhak atas dirimu.”

Yoongi menggeleng, lalu menarik Jiae ke dalam pelukannya. “Aku tidak peduli nama siapapun yang terukir untukku di atas sana, Jiae. Sedari dulu aku hanya mau dirimu. Aku memberanikan diri untuk meminta restu dari orangtuamu bukan untuk main-main, apalagi melepaskanmu demi nama di langit.”

Jiae balas memeluk Yoongi lebih erat. Batinnya meraung ketakutan. Ia takut pada kenyataan bahwa Yoongi bukan untuknya.

Bukan, maksud Jiae bukanlah kenyataan bahwa Yoongi ternyata milik gadis lain. Tapi Jiae takut jika ternyata Yoongi hanya diciptakan untuk bertemu dengannya, bukan untuk hidup bersamanya.

*

Malam itu, sesuatu terjadi di tanah kelahiran Jiae dan Yoongi. Sesuatu yang amat genting.

“Ayah, kenapa ramai di luar?” tanya Jiae yang menempati satu tenda kecil bersama ayahnya. Jiae belum melihat matahari, tanda hari mungkin masih dini.

“Sepertinya ada serangan mendadak. Jiae, kau harus tetap di dalam. Ayah akan—“

“Tidak! Aku sudah berpisah dengan Ibu dan Unnie, aku tidak akan berpisah lagi dengan Ayah. Aku akan ikut apapun yang terjadi.”

“Jiae, ikuti kata Ayah dan jangan membantah. Ayah janji akan kembali.”

Lalu pria itu berlalu dari tendanya, meninggalkan Jiae yang berharap-harap cemas.

Dimana Yoongi?

Jiae tidak tahan untuk tetap tinggal di tenda, akhirnya ia melangkah keluar. Ia menemukan banyak warna api di langit dan di lembah yang tidak jauh dari tempatnya berada saat ini. Keadaan riuh rendah, semua orang berlari kesana kemari.

“Jiae!” panggil seorang pria, dan Jiae mengenalinya sebagai salah satu rekan ayahnya. “Pergilah ke Barat, disini tidak aman.”

“Dimana Yoongi? Ayahku?” tanya gadis itu.

Suara hantaman terdengar nyaring di timur laut, sepertinya ada yang menembakkan batu ke lembah. Keadaan terasa semakin mencekam saja.

“Segeralah ke Barat, Jiae.” Pria itu kemudian berlalu menuju perbatasan kota.

Jiae tahu apa yang akan terjadi di Barat; di sana ada perahu pengungsi yang akan membawanya menyusul sebagian besar penduduk yang sudah berangkat terlebih dulu.

Tapi ia tidak akan pernah pergi. Tidak, jika tidak bersama ayahnya dan Yoongi.

Omong-omong, dimana bocah itu?

Jiae baru saja akan menyusul pria tadi ke perbatasan; semua pria pasti akan ke sana untuk menjadi pasukan cadangan, sampai tangannya dipegang kuat oleh gadis yang menjadi kepala medis.

“Jiae, apa yang kaulakukan disini? Ayo segera ke Barat, kita harus menyelamatkan diri!”

“Aku tidak akan kemana-mana, Soojung-Unnie,” balasnya. “Aku harus mencari Ayah dan Yoongi.”

“Mereka tidak disini,” ujar wanita itu. “Dan keadaan akan semakin berbahaya. Ayo!”

“Lalu bagaimana jika pasukan membutuhkan kita? Kita ada untuk mengobati mereka, bukan? Bila kita pergi, bagaimana nasib mereka?”

“Kita ke Barat hanya untuk berlindung, Jiae. Kita tidak akan mengungsi.”

Sebelum Jiae sempat melawan lagi, tangannya keburu ditarik kuat-kuat oleh Soojung menuju Barat. Benar, seluruh perempuan yang tinggal di kota ini sedang berlindung di sebuah tenda besar di dekat pantai.

Jiae diminta tetap tinggal secara paksa di sebuah tenda terjauh dari area perbatasan.

Unnie!” seru seorang gadis, yang ternyata Jisoo, salah satu temannya di barak pengobatan.

“Kau ada disini,” ucap Jiae, lega.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya. “Kenapa kau baru tiba? Dari mana saja?”

“Aku tadinya ingin menyusul Ayah dan mencari Yoongi, tapi aku tertangkap oleh Soojung-Unnie.”

“Sebaiknya kita tetap disini, Unnie. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika kau ke perbatasan.”

“Tapi Yoongi ada disana, Jisoo. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padanya.”

“Kita semua ingin seluruh penduduk yang tinggal disini tetap hidup, Unnie. Tapi sudah jadi risiko mereka untuk berperang. Berdoalah, semoga Yoongi-Oppa baik-baik saja.”

Jiae menatap ke cakrawala dengan resah. Ia tahu Yoongi-nya ada disana, sedang berperang, tapi ia malah disini, menyelamatkan diri.

Aku masih ingin melihatmu, Yoongi. Kumohon, kembalilah dengan selamat.

*

Kenyataan justru terjadi sebaliknya.

Di medan perang, Yoongi nyaris sekarat setelah ia diserang bertubi-tubi. Mengetahui keadaan putranya membuat Komandan Min langsung memberikan serangan balik tanpa ampun. Semua amunisi meriam dan panah racun dikeluarkannya, untuk melumpuhkan lawan dan membalaskan dendam atas kematian putranya.

Pada napas terakhirnya, Yoongi menengadah ke langit. Bintang-bintang di atas sana membentuk sebuah nama yang begitu familiar, sebab ia pun pernah melihat nama itu saat usianya sepuluh.

Rupanya dongeng itu benar adanya. Bahwa kau akan melihat bintang-bintang mengukit nama pasangan jiwamu di dua masa; saat usiamu sepuluh, dan saat kau akan mati.

Sementara ia membiarkan rasa sakit di tubuhnya berangsur-angsur menghilang, bersama dengan kesadarannya.

Jiae, sampai bertemu lagi.

*

“Ayah akan meninggalkanmu disini,” ujar Tuan Yoo sambil merangkul erat putrinya. “Jangan lakukan hal bodoh, dan segeralah ke pantai setelah kau selesai. Kita akan berangkat menyusul ibumu dan Miae.”

Jiae mengangguk pelan.

Gadis itu kemudian menebar abu jasad Yoongi dengan hati berat. Ia sudah tahu hal ini akan terjadi pada hari dimana ia menerima cinta Yoongi, tapi kenapa ia masih saja tidak rela?

Tunggu, ralat itu. Ia bahkan tidak mengerti kenapa ia dengan bodohnya menerima lelaki itu sejak awal, hanya karena namanya terukir di langit.

Jiae menatap tangannya yang tertutup sarung tangan. Dengan tangan ini, ia ingat betul telah merawat dan menjaga Yoongi. Memastikan lelaki itu makan dengan benar, mengobati lukanya sampai sembuh, juga memberikan kehangatan dan ketenangan agar Yoongi tidak lagi resah.

Rasanya baru kemarin ia memeluk Yoongi, tapi sekarang ia sudah melepasnya pergi.

Saat berita tentang kematian Yoongi tersebar, semua orang merasakan kesedihan yang sama seperti Jiae. Yoongi memang dikenal sebagai pria yang mengayomi bawahannya, dan kehilangan sosoknya terasa seperti kehilangan separuh diri.

Jiae meraba saku rompinya, menemukan surat yang dibuat Yoongi tepat semalam sebelum perang berkecamuk. Padahal perang itu datangnya mendadak, dan Yoongi seperti telah mendapat firasat akan hal itu. Komandan Min sendiri yang memberikan surat ini untuk Jiae, disertai pelukan terima kasih akan kehadirannya untuk Yoongi.

Gadis itu duduk di bebatuan yang tidak jauh dari tepi jurang tempatnya menebar abu. Tangannya membuka sarung tangan yang ia gunakan, barulah perlahan ia membuka surat tersebut dan membacanya.

Yoo Jiae-ku yang lebih cantik dari bintang di langit, ingatkah kau? Ini Min Yoongi.

Saat usiaku sepuluh, sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiranku untuk bertemu gadis sesempurna dirimu. Terlebih lagi memacarimu, menjadikanmu prioritas, dan menyusun masa depanku bersamamu. Namun, kau pasti sudah tahu sejak awal, Jiae, bahwa menjadi kekasih seorang calon komandan tidak akan mudah. Aku bisa mati kapan saja mendahuluimu, dan esok selalu jadi misteri bagiku di tengah kekacauan ini.

Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu hingga kau bisa menerima cintaku, padahal aku sudah memanggilmu bodoh di pertemuan pertama kita. Entah kau memang bodoh karena sudah menerimaku, atau aku yang bodoh ini begitu beruntung bisa memilikimu.

Aku hanya seorang calon komandan, Jiae, aku tidak bisa memberimu apapun selain cinta dan perlindungan. Aku telah bersumpah akan melindungi kota dengan nyawaku, sehingga aku tidak bisa memberikanmu yang lain lagi. Aku bahkan tidak bisa memberikanmu ragaku, karena aku tidak mau kau hanya sekadar memiliki diri yang fana ini. Kau terlalu berharga untuk memiliki itu. Aku ingin memberimu sebuah padang rumput dengan beberapa ekor domba dan anak yang lucu-lucu.

Namun, Jiae, ketiga hal itu hanya dimiliki oleh sesuatu yang mereka sebut “selamanya”. Aku harus bisa menjanjikanmu “selamanya” sebelum bisa mempersembahkan tiga hal tadi. Sayangnya, aku tidak bisa. Maafkan kelemahanku, Jiae. Padahal aku mampu menjaga sebuah kota, tapi kenapa aku tidak bisa menjaga nyawaku, dan juga kau?

Jiae, lihatlah ke langit kapanpun kasempat. Meski kini, kita tidak lagi memandang langit yang sama. Kau menatap langit berbintang di atas kepalamu, sedangkan aku menatap langit penuh kehidupan di bawah kakiku. Namun, Jiae, kau mau tahu suatu rahasia? Saat kita masih menatap langit yang sama, tepatnya saat kita berusia sepuluh, aku melihat sebuah nama. Nama yang begitu familiar, begitu indah, hingga aku tidak bisa berhenti memikirkannya, terlebih setelah menemukan pemilik nama itu sedang mencari kakaknya di barak pengobatan.

Jadi, kau tidak perlu khawatir tentang siapa yang memilikiku. Bukankah nama-nama itu selalu berkaitan? Jika kau melihat namaku, maka aku sudah pasti akan melihat namamu. Tidak akan ada nama yang lain lagi.

Bila tiba saatku untuk berpamitan; baik secara langsung atau menitip salam pada angin, izinkan aku yang lemah dan bodoh ini meminta satu hal terakhir darimu. Tolong, jangan pernah lupakan aku, meski pada akhirnya hatimu akan diisi orang lain. Aku sudah mati tanpa pernah tahu apakah kota berhasil kujaga atau tidak, dan tidak dapat kubayangkan betapa menyedihkannya diriku bila aku harus mati sekali lagi dalam ingatanmu.

Dimana pun kita akan berjumpa lagi, Jiae, entah itu di kehidupan selanjutnya atau di tempatku berada saat ini, aku akan selalu menunggu sampai hari itu tiba. Kapanpun, bagaimanapun itu, Yoo Jiae, aku selalu menyediakan satu tempat untukmu di sisiku. Aku mencintaimu, Yoo Jiae, terima kasih atas hari-hari indah kita. Aku membawa serta mereka bersamaku, tidak apa-apa, ‘kan?


[author notes]

halo, bila kamu baru lihat aku untuk yang pertama kali. aku adalah yournightskies, author baru menetas di lapak LFI ini. aku di garis 98, sematkan saja panggilan yang sesuai^^

lovelyz udah kambek aja ya, padahal fic ini dibuat jauh sebelum itu. aku merasa seperti dibongkar keleletannya, uhuhu.

kritik saran sudah pasti kuterima, namun aku inginnya mereka disampaikan dengan cara yang baik. aku orangnya sensitif, jadi kalau kamu judes+galak menyampaikannya, aku bisa aja nangis :’) lagian, nggak ada salahnya ‘kan, ngomong baik-baik?

terima kasih sudah mampir, lovelinus!

written in the sky: completed. march 5, 2017

(oh, ada yang belum kusampaikan di cerita ini. aku menyerahkan pada kalian mengenai latar waktunya; sebelum kematian tokoh utama laki-laki, atau setelah kematian kedua tokoh utama. silakan lanjut ke bagian epilog, lovelinus~)


Epilogue

“Kenapa kau tidak memilih untuk kabur ke negara tetangga dengan dalih ingin melanjutkan pendidikan?” tanya Jiae, saat langit hari itu bersih dari warna biru dan hanya ada awan putih sejauh mata memandang. Membuat lembah yang damai itu terasa seperti tempat pelarian mereka dari kekacauan di sekitar.

“Dan membiarkan kota ini jatuh ke tangan lawan? Yang benar saja,” ujar Yoongi sambil menggeleng tidak setuju, sekaligus heran. Dari mana kekasihnya dapat pikiran semacam itu?

“Aku tidak sanggup melihatmu terus-terusan terluka karena latihan keras setiap hari, tahu,” ungkap Jiae sambil meraba rerumputan hijau di sisinya, angin meniup rambutnya lembut.

“Aku harus menjaga kota ini agar kita bisa menempatinya dengan nyaman,” balasnya. “Setelah tidak ada lagi perang, aku akan menjadikan tempat ini sebagai rumah baru kita.”

“Padang rumput ini?” Jiae memandang sekitar. “Kita bisa memelihara domba jika kita tinggal disini, Yoongi!” serunya bersemangat.

Yoongi tertawa kecil sambil mengusak pelan rambut Jiae. “Aku juga akan memberimu anak yang lucu-lucu.”

“Hei!” serunya sambil memukul kepala Yoongi, wajahnya memerah. “Apa-apaan kau ini, sudah bicara soal anak. Kau bahkan tidak bisa menggendong Hayul, anak tetanggaku, tanpa membuatnya menangis.”

“Aku akan membuat anak itu tunduk padaku, lihat saja,” balas Yoongi penuh percaya diri.

“Satu-satunya yang akan tunduk padamu di sini hanya pasukanmu. Hayul, atau anak-anakku, tidak akan masuk di antaranya.”

“Bahkan juga kau?” tanya Yoongi, nadanya pura-pura tersakiti. “Jika kau tidak tunduk, kau tidak akan menerima ajakan kencanku dulu.”

“Kenapa kausuka sekali mengungkit cerita lama?” Wajah gadis itu makin memerah. “Tapi, ya, kupastikan aku tidak akan pernah tunduk padamu.”

Yoongi, seperti ditarik magnet, lalu mendekat ke arah Jiae, membuat gadis itu memundurkan wajahnya hingga tanpa ia sadari, ia jatuh merebah. Namun ia dapat merasakan lengan Yoongi menjadi alas kepalanya. Tangan Yoongi yang satu lagi menggenggam tangan Jiae, perlahan mengecup punggungnya.

“Aku memang tidak butuh ketundukanmu. Sebab aku ingin kaucintai, bukan kaupatuhi,” lirihnya sambil tersenyum tipis.

Jiae tidak menjawab, terlalu sibuk menenangkan jantungnya yang berdebar tanpa kendali. Tubuhnya terkurung di bawah Yoongi, namun entah mengapa ia tidak merasa takut dan tidak ada keinginan untuk keluar dari sana. Mungkin, karena ia sedang bersama Yoongi. Bersama lelaki itu, semua akan baik-baik saja.

“Jiae,” lirihnya. “Aku mencintaimu.”

Jiae bertemu tatap dengan Yoongi, dan melihat semesta di mata lelaki itu.

Ia tersenyum lembut, merasakan hal yang sama.

“Aku mencintaimu, Yoongi.”

Kemudian, dengan lembut, Yoongi melanjutkan ungkapan cinta yang tidak mampu dijelaskan kata-kata melalui bibirnya. Untuk beberapa saat, Jiae hanya tahu Yoongi, Yoongi, dan Yoongi.

Advertisements

Author:

ubah niat baik menjadi aksi baik.

19 thoughts on “[Oneshot] Written in the Sky

  1. Alasannya? Seisi kota saja mampu dijaga Yoongi, apalagi Jiae?

    Azek, bahasanya meluluhkan hatiku 😍😍😍. Alurnya menenggelamkan jiwa absurd ke dalam titik terlemah terutama bagian ending dan epilog-nya. Daebak deh intinya!!👍

    p.s. Gak heran kak, dirimu sering amukan para readers yang ngarep happy ending 😂😂😂 tapi mereka setia menantikan karya yang bakal kakak posting

    Liked by 1 person

    1. sangking seringnya ampe kebal aku 🙂 tapi aku lg belajar nih untuk bikin ff yg unyu unyu alias fluff u,u

      fyuuuu aku ngarep banget karya2 aku bakal dinanti :3 kamu salah satunya kan? .g

      anyway makasih lho moi sudah komen, thebest lah kamu memang(y)

      Liked by 1 person

  2. Kak night, masih ingatkah denganku? Duh lama ga liat kak night.. ^^

    pertama, selamat udah jadi anggota lfi kak. Akhirnya resmi setelah sekian lama gitu ya /aku masih ketinggalan dibelakang loh ini/
    kedua, angst-nya dibawa selalu. Kangen banget baca ff kak night yang ada rasa sedih-sedihnya
    ketiga.. eh aku bingung mau komen apa, lupa.

    Kak night coba deh bikin fluff, aku pengen banget bacafluff versi kakak. Soalnya hampir semua /ralat, semuanya malah yang kubaca/ ff kak night itu angst semua. Atau paling mentok ‘Tutorial Cara Membuat Fanfiction Angst’ gitu, sampe sekarang aku ga pernah bisa bikin yang begituan

    pokoknya segitu aja dulu, sisa komennya kulanjut lagi kalo ada waktu:D
    (p.s: penname baru duh mengingatkanku pada sesuatu)

    Liked by 1 person

    1. NIIIFAAAAAAA my fav reader omg apakabaaaar? kangen lho baca-baca komenmu :’) sering2 yaa komeninn :3

      iyaa, melihat pendaftaran yg dibuka lg membuatku ingin bergerak cepat /apa/ anyway kenapa kamu ga join jugaa biar kita sama2 jd author :”

      sampe bosen yak baca ff aku yg sedih2 mulu :” aku sdg coba nih utk bikin fluff, doakan smg tidak fail~

      (unch, mengingatkan pada apa nih? atau jangan2, pada ‘siapa’?😁)

      Like

      1. Aku di sini baik aja kak. Kak night yang di sana apa kabar juga? Moga tugas kuliah gak setumpuk ya. Niat aku juga gitu kak, komen /ngerusung deng/ disetiap ff kakak. Tapi inget lagi, lapak orang ga boleh dirusuh

        Aku join? Masih gaptek, jadi belum berani. Paling kalau udah ga gaptek lagi 😀
        ga bosen sih, aku suka banget baca yang rasa sedih menyayat apalagi versi kak night. Ditunggu ya kak tutorial membuat angst-nya, biar aku bisa dan ff manis-manisnya /dilemparbatu/

        (iya, ituloh pada ‘siapa’. Pas liat penname aku langsung meratapi diri sendiri coba)

        Liked by 1 person

  3. Halo, Bintan 00line salam kenal 🙂

    First, aku tertarik dengan genre yang kakak usung. Yap, War tapi lebih ke Military no amunisi dan unsur ‘kekasihku komandan tentara lho’ ((abaikan yang terakhir xD)) well aku suka banget sama karya-karya macam ini karena ceritanya ngena. Apalagi bahasa yang kakak pakai ngalir banget plus well-written alias ga saltik aing ((fav banget deh)) two thumbs up 😀

    poin tambahannya sih karena kakak nulis cerita ini dengan cast mba jiae /ketahuan ngebias wkwkwk/

    Nice to know you kak and keep writing 🙂 🙂

    Liked by 1 person

    1. salam kenal kembali, bintan^^ bisa panggil aku night mulai skrg, dari garis 98><

      sebab, jujur aja, amunisiku utk nyeritain perang secara harfiah amat kurang 😦 aku cuma ngerti pistol yg dipake mafia, padahal mana ada tentara perang pake pistol model begitu 😦

      glad to know kamu nggak nge-oppose ff ini hanya karena genrenya angst :’) bc tbvvvvvh, aku nyaman bikin angst sampai sering diprotes (contohnya yang komen2 di atas😂😂)(abaikan)

      unch, glad that I could please another jiaestan~ :3 thank you bintannn! sering2 komen yaaa^^

      Like

  4. Kak night:”) lemah hatiku kaaakk baca ini huhuu:”””))

    I think you’ll be one of my fav writers bcs i love nyesek-ending😂😂😂
    Serius, ini kereeeennn to the max and i love it❤❤❤

    Kip writing!❤

    Liked by 1 person

    1. cheeeel~:3 glad to see you here~ kuatkanlah, karena masih ada banyak lg yang semacam ini :333

      AWYEAH another angst-lovers~ mantep niiiih, ditunggu lho ff kamuu :’)

      and thankyou to the maxxx:”””)

      Like

  5. Aku di sini baik aja kak. Kak night yang di sana apa kabar juga? Moga tugas kuliah gak setumpuk ya. Niat aku juga gitu kak, komen /ngerusung deng/ disetiap ff kakak. Tapi inget lagi, lapak orang ga boleh dirusuh

    Aku join? Masih gaptek, jadi belum berani. Paling kalau udah ga gaptek lagi 😀
    ga bosen sih, aku suka banget baca yang rasa sedih menyayat apalagi versi kak night. Ditunggu ya kak tutorial membuat angst-nya, biar aku bisa dan ff manis-manisnya /dilemparbatu/

    (iya, ituloh pada ‘siapa’. Pas liat penname aku langsung meratapi diri sendiri coba + plus inget cerita yang kakak bikin. Eh tapi penname-nya bagus kok, serius. Aku juga jadi senyum-senyum sendiri)

    Liked by 1 person

    1. kabarku baik, tapi tumpukan tugasku tidak baik 😦 makin berkurang, makin banyak juga tugas baru yg dikasih. jadi gaada abisnya, alias unlimited 🙂 nifaaaa gapapaa komen aja banyak2 aku pasti bales:’) atau kalau mau, komen2 di wordpress aku aja. aku ada rencana mau update lagi disituu hehe~

      sebetulnya aku gaptek sih, jadi kayaknya ff aku ga bakal pake hiasan aneh2 (kayak gif, trus ada hiasan lain entah apa namanya) yaa mentok2 juga judulnya yg digedein, but that’s all.
      gapapa kamu ga join, intinya tetep komen2 yaaah^^

      tutorial ff angst? heum, agak rumit inih 😦 gantinya, stok ff angst yg banyak aja yah :3 /heh/ /tulis dulu itu ff fluff/

      (‘siapa’pun dia, semoga bisa dijadikan inspirasi buatmu bikin ff angst yaa /ditendang)

      Like

  6. Uuuu ka Night~ ini pertama kalinya aku baca ffmu tapi kok udah hanyut gini T-T Pas banget kemaren aku lagi nonton film perang-perangan gitu dan sekarang baca ff ini, rasanya menusuk hati dan merujam sanubari, heu.
    Aku ngebayangin epilog-nya sebagai mereka di dimensi lain yang bisa punya domba dan anak lucu-lucu, uuu:3

    Liked by 1 person

    1. ini pertama kalinya juga aku ngirim ff sbg author di lfi wkwkwkwk tapi ini feel perangnya kurang dapet, sebab gaada jdor jdoran nya /apa/ hehehe senang kamu sukaa<3

      dimensi lain=kehidupan jiae&yoongi di alam sebrang? uuuuw gemash~😂

      Liked by 1 person

  7. Pertama-tama,selamaaat udah jadi author di LFI~~ ^^
    Duh lama ngga baca FF BangLyz…Ini ceritanya mati dua2nya? ._. Huhu maafkan otakku agak lemot 😂😂
    Duh padahal udah unyu banget mereka selalu bickering tiap ketemu sampe pas pacarannya juga tapi endingnya … 😭😭😭
    Ditunggu karya2mu yg lain~~ ^^

    Liked by 1 person

    1. kaaraissaaaa^^ makasihh banyak yaa kaaa>,,,<
      sibuk reallife yaa kak?:( aku jg nih, sibuk nugas:(((
      yg mati yoongi aja kak… yg epilog ituu, latar suasananya bebas ditentuin sama reader; mau pas yoongi-jiae masih di awal2 masa pacaran atau pas yoongi-jiae ketemu lg di afterlife hehehe
      sekali lagi… aku bikin patah hati readerku:’ wkwkwkwk
      sekali lagi makasih kaa raissa^^

      Like

      1. Iya sibuk skripsian ㅠㅠ /tp masih sempet fangirling-_-/ semangat nugas~~ 💪💪💪 huhu…
        Oalah…haha…kamu emang expertnya kalo bikin ff angst 😂😂😂👍👍
        Semangat nulis dan semangat menghadapi reallife ulfa~~ 😉😉😉

        Liked by 1 person

      2. semoga cepet sidang trus wisuda ya kakk😆😆 jgn lupa undang2 aku~ wkwk
        tujuan aku nambahin epilog itu cuma utk meneteskan cuka di atas luka kak, kan endingnya mereka ga bersama tuh, tp malah aku kasih fluff WKWKWK /ditendang
        kakak juga yaaaa>.< makasih sudah mampiiiir, seneng deh liat kakak komen2 lagi uuuuh^^

        Like

  8. Sudah lama sekali sejak terakhir mampir ke lfi (enggak juga deng ehe).

    Halohaaa night!^^ aku masih ingat kamu dulu sering juga kan ya kirim ff ke sini, saat reallife belum sekejam sekarang pasti kan ya:””’)

    sudah lama ga baca oneshoot, dan baca karya kamu tuh berasa sesuatu sekali. selalu suka sama bahasa yang kamu pakai, suka juga cara nulis kamu, cara kamu menyampaikan, dan pastinya ide cerita. manis sekali kaya mba jiae:””) diabetes huhu
    tapi sedih juga kenapa harus ada yg mati:””’) ya walaupun epilognya makin manis sebelum yoongi mati sih hehe

    ditunggu ff lainnya, bikin yg manis2 dong, jangan angst gini aku sedih:(
    oh ya…selamat sudah jadi author resmi di lfi yeiyyyyyyy^^

    semangat terus buat rl yang semakin berat:”’) semangat terus pokoknyaaa!^^

    Liked by 1 person

    1. haaaai, stalkim^^ aku ngga tau kita pernah kenalan atau belum, soalnya aku lupa panggilanmu tu apa:” tp kamu bs panggil aku night dan aku dari garis 98 yah^^

      HUHUHU aku juga masih ingat masa-masa indah dimana nulis bisa sesering napas :”)

      senang karyaku dibaca setelah sekian lama ga baca karya orang😂 /apa/ daaan terima kasih sudah suka^^

      kenapa ada sedihnya?:’) karena aku cinta angst :’) doakan semoga hati gula-gulaku kambuh trus bisa ngasih cerita yg bahagia buat para karakterku wkwkw :3

      yuuhuuuuu terima kasih sudah disambut~ kamu juga, selamat datang kembali di lfi^^ ditunggu ff-mu yah :’)

      reallife boleh berat, tapi nulis gaboleh berhenti<3 semangat untukmu juga, stalkim<3

      Liked by 1 person

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s