F4 Season 2 [Chapter 2]

Standard

F4 Seaason 2 (2)

F4
Season 2

By Fanita

Main Cast : Lovelyz Yein – Ikon Chanwoo

Casts : Golden Child Youngtaek – Astro Moon Bin – Myteen Yuvin – WG Soyoon – WJSN Cheng Xiao – ETC..

Genre : School Life – Romance – Friendship – Fluff || Type : Chapter || Rating : PG-15

Saat Jam istirahat Jung Yein yang lapar memilih untuk pergi ke kantin seorang diri. Dia masih malas untuk berinteraksi sama orang-orang yang ada di kelasnya. Semuanya terlihat menyebalkan dan tidak patut untuk dijadikan teman. Ups! Teman? Bahkan tidak ada kamus ‘teman’ di sekolah ini, yang ada hanya koneksi untuk kepentingan pribadi.

.

Yein berusaha menghubungi Jung Jaehyun untuk mengajaknya makan bersama tapi nomor handphone kakaknya tidak aktif. Begitu Yein belok ke kanan—menuju arah ke kantin—tak sengaja dia berpapasan dengan Jung Jaehyun yang saat ini tengah tertawa bersama perempuan-perempuan yang tidak dikenal oleh Yein.

“Cih.. Dia menggoda perempuan lagi.” desisnya.

Sudah menjadi kebiasaan Jaehyun menggombali perempuan yang tertarik denganya. Dan Yein sangat yakin pasti saat ini perempuan yang menempel dengan kakak laki-lakinya sedang berusaha untuk menggandeng Jung Jaehyun. Siapa yang tidak suka dengan Jaehyun? Dia ganteng, pintar, dan tentunya calon penerus perusahaan milik kakek Yein setelah dia menyelesaikan studinya. Siapapun pasti akan tergila-gila padanya!

“Hey Jeffrey, finally I found you!” teriak Yein.

.

Jaehyun menghentikan langkah kakinya begitu juga dengan dua orang perempuan yang berjalan menemaninya. Yein datang menghampiri Jaehyun dan langsung memeluknya tanpa sungkan. Kedua gadis yang ada di dekat kakak—adik itu kaget karena aksi nekat Yein barusan, sementara Jung Jaehyun tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Jaehyun sangat clueless dengan tindakan Yein barusan yang sembarangan memeluknya di depan orang banyak, padahal biasanya Yein ogah untuk menyentuh Jaehyun walaupun cuma seujung kuku.

“Jeffrey! Let’s go to canteen together!”

“Huh? Why me?” heran Jaehyun.

“Jaehyunie.., siapa perempuan ini?” tanya salah satu gadis bernama Jung Chaeyeon.

“Iya, dia siapa?” tanya Kim Jiho.

Me? His girlfriend!” celetuk Yein sambil mengalungkan lengannya kepada Jaehyun.

Girlfriend, my ass!” rutuk Jaehyun. Dia menghempaskan tangan Yein yang lengket kepadanya lalu memperkenalkan sang adik kepada dua teman barunya ini, “Kenalkan dia adikku, namanya Jung Yein.” kata Jaehyun.

“Ah.. adiknya Jaehyun? Cantik ya! Sama seperti oppanya hehehe.” kekeh Chaeyeon.

“Oh? aku cantik?” kaget Jaehyun.

“Maksudnya kau itu ganteng dan Yein sangat cantik, Jaehyunie!” celetuk Jiho.

Ew.. Rasanya Yein ingin terjun dari lantai atas sekolah mendengar kedua perempuan ini mencoba untuk menggoda kakak laki-lakinya. Ternyata pribahasa yang mengatakan ‘Birds of a feather flock together’ memang benar adanya karena Jung Jaehyun sendiri memang type orang yang flirty dengan cewek cantik.

“Jadi kau tidak mau menemaniku makan di kantin?” tanya Yein tanpa memperdulikan omongan Jiho dan Chaeyeon.

I am sorry miss Jung. Seperti yang kau lihat, aku mau berkeliling sekolah dengan dua perempuan cantik ini. Kau bisa makan sendirikan, Yein?” tolak Jaehyun.

Jung Yein kesal karena sang oppa menolak ajakannya untuk pergi ke kantin karena lebih memilih dua orang perempuan yang baru dia kenal. Menyebalkan! Ini sebabnya Yein malas sekali satu sekolah dengan Jung Jaehyun yang tak ada gunanya. Kalau begini caranya Yein terpaksa harus makan sendirian di kantin. Sigh… Sekolah baru yang membuatnya muak!

.

Setelah mengambil jatah makan siang mewahnya Jung Yein mencari tempat duduk yang kosong di kantin. Tapi sama sekali tidak ada bangku mewah yang tersisa untuknya karena sekelompok orang telah mengambil tempat mereka masing-masing. Lagi dan lagi, Yein mengutuk sekolah ini di dalam hatinya. Harusnya bila sekolah ini memang mewah pastikan kalau meja makan di kantin cukup untuk memuat siswa-siswi yang hendak mengisi perut mereka di tempat ini.

Shit, jadi tidak berselera makan.” rutuk Yein.

Yein membalikan badannya untuk mengembalikan nampan makanan yang dia bawa ke tempat di mana biasanya piring kotor di simpan. Akan tetapi mata monolid Yein tidak sengaja melihat sebuah tempat duduk kosong yang ada di ujung sana.

“Ada satu di sana.” gumam Yein dan ia langsung melangkahkan kaki ke tempat itu.

.

Setelah sampai ke tempat duduk berkursikan empat tersebut Yein langsung duduk dan memakan makanannya. Orang-orang yang melewati tempat duduk yang saat ini Yein tempati melihat gadis itu sambil berbisik-bisik. Orang-orang yang tengah berada di kantin dan melihat Yein ada di tempat itu juga membicarakannya sambil makan. Akan tetapi karena Yein tidak pernah memperdulikan lingkungan sekitarnya ia jadi tidak tahu kalau orang-orang sedang menggosipi dirinya. Sampai akhirnya ada suatu kejadian yang membuat Yein harus menghentikan aktivitas makan siangnya.

.

“Kau siapa?” Seseorang bertanya kepada Yein mengenai identitasnya. Ia adalah seorang pria berwajah tampan—namun juga terkesan imut—yang sedang membawa nampan makan siangnya sembari melihat Yein dengan pandangan heran.

“Uhm.. Apa pedulimu?” tanya balik Yein.

“Itu tempat dudukku.” jawabnya.

So? Aku duluan yang menempati tempat ini.” balasnya lagi.

Ya Son Youngtaek! Ada apa sih?”

Baik Yein maupun pria yang dipanggil Youngtaek tadi menoleh ke sumber suara. Seorang pria tergesah-gesah menghampiri tempat duduk tadi sambil membawa makan siangnya juga. Kehadiran orang tersebut juga disusul oleh dua pria yang berjalan santai di belakang.

.

Melihat kedatangan empat cowok yang tidak biasa di kantin membuat suasana jadi ricuh. Perempuan-perempuan mengggila karena kehadiran mereka. Sehingga Jung Yein yang tidak tahu apa-apa hanya bisa bengong memperhatikan orang-orang di sekitarnya.

“Nona, kau siapa?” tanya Moon Bin, pria yang memanggil Youngtaek barusan.

Heol kenapa semua orang bertanya siapa aku?” rutuk Yein.

“Maaf tapi kau menggambil tempat kami.” kata Youngtaek.

“Aku duluan yang duduk di sini. Kenapa pula kalian mengklaim ini tempat kalian?” omel Yein.

“Huh? Kau anak baru di kelasku kan?” celetuk Jung Chanwoo yang baru saja tiba.

“Ya, lalu?” jawab Yein.

“Hey aku tidak tahu kau siapa, tapi tetap saja tempat ini milik kita.” kesal seorang pria yang tersisa. Ia adalah Song Yuvin.

Ya!! Kalian tidak lihat aku lagi makan? Jangan ganggu aku!” kesal Yein yang terusik karena jadwal makan siangnya terganggu.

“Cewek ini!” desis Moon Bin.

Moon Bin tanpa memperdulikan omelan Yein langsung duduk di tempat kosong yang ada di depannya. Diikuti pula oleh Chanwoo yang duduk di sebelah Yein, dan Song Yuvin di samping Bin. Hanya Youngtaek yang masih berdiri sehingga dia kebingungan harus melakukan apa. Mana tangan dan kakinya sudah pegal karena kelamaan berdiri dan membawa baki stainless yang lumayan berat itu.

Ya lalu aku bagaimana duduknya?” oceh Youngtaek.

“Usir saja anak baru ini.” celetuk Chanwoo yang sudah memakan santap siangnya.

What????” desis Yein tak percaya. “Oh My God! Aku tidak tahu kalian siapa tapi kalian pria brengsek yang menyebalkan!” hardik Yein yang akhirnya menyerah untuk tetap duduk di sana.

Yein berdiri lalu membawa baki makan siangnya untuk segera menyingkir dari pria-pria asing yang menganggu quality time-nya. Kenapa ada saja hal menyebalkan yang terjadi di hari pertamanya sekolah di SMA ini, huh!?

 .

          Setelah meletakan sisa makanannya—yang sebenarnya baru dia makan beberapa suap saja—Jung Yein memilih untuk berkeliling sekolah seorang diri. Tidak ada banyak hal yang dia dapat lakukan di tempat ini. Yein hanya mengamati ruang demi ruang yang dia lewati di koridor dan menghapal letak tempat. Sampai akhirnya langkah kaki Yein berakhir di ujung koridor yang buntu.

.

          “Don’t enter the special room without permission…” Gumam Yein yang membaca tulisan di papan petunjuk yang tertempel di pintu. Jung Yein jadi heran, ruangan spesial apa ini sampai-sampai orang lain tidak boleh masuk tanpa permisi terlebih dahulu? Apa ini semacam ruang BK atau ruang privasi untuk guru? Karena rasa penasarannya tanpa Yein sadari tangannya pun telah memegang knop dan hendak membuka pintu ruang spesial tersebut.

“Ruangan apa sih ini—”

Ya! Kau siapa?”

.

          Mendengar seseorang berteriak di belakangnya membuat Yein spontan menoleh ke belakang. Saat melihat sosok orang yang menanyakan siapa dirinya tadi, Jung Yein pun membulatkan mata sipitnya. Ia salah satu pria yang Yein temui di kantin tadi. Ya, orang itu adalah Jung Chanwoo—si teman sekelasnya.

“Kau lagi?” tanya Chanwoo.

“Kenapa bertemu dengannya lagi sih?” rutuk Yein yang terdengar di telinga Chanwoo.

“Harusnya aku yang bertanya kenapa kau terus datang di tempat kami?” heran Chanwoo.

“Tempat kalian? Lucu sekali.” desis Yein lalu ia melanjutkan ucapannya. “Aku berada di kelas yang sama denganmu bukan karena kehendakku, aku makan di kantin lalu diintrupsi orang juga bukan salahku, dan sekarang aku berada di tempat ini memangnya ada urusan apa denganmu?” oceh Yein panjang lebar, sampai-sampai Jung Chanwoo lupa apa saja yang telah diucapkan olehnya.

“Uhm… Aku kau tidak bisa baca peringatan yang ada di pintu?” kata Chanwoo.

Yein kembali melihat tulisan yang ada di pintu. Dia bisa membaca tulisan yang ada di sana dibandingkan tulisan hangul yang ada di buku cetaknya. Kenapa pria ini meragukan kemampuan membacanya? Memangnya dia anak SD, batin Yein.

I know right.” balas Yein.

“Karena kau anak baru.., let me tell you one thing.” kata Chanwoo.

What?”

“Ruangan itu tempat privasiku dengan teman-temanku, jadi tidak sembarang orang yang boleh masuk. Sekarang lebih baik kau menyingkir dari sana dan pergi ke tempat lain yang jauh dari pandangan mataku.” usir Chanwoo.

.

Jung Yein memutar bola matanya karena kesal. Jangan bilang teman-teman yang dimaksud Chanwoo barusan adalah ketiga cowok yang ada di kantin tadi. Memikirkan mereka berempat membuat kepala Yein jadi berdenyut karena pusing. Ia terlalu banyak berinteraksi dengan orang asing yang seharusnya tidak perlu Yein pedulikan.

Ya aku bilang geser!” titah Chanwoo.

Ya!” panggil Yein yang masih berada di tempat dia berdiri tanpa bergeser seinchi pun.

Ya? Ya! Aku punya nama!” balas Chanwoo tak terima.

Ya! Kau juga memanggilku ‘Ya’!” celetuk Yein.

Fine! Aku memanggilmu ‘Ya’ karena aku tidak kenal kau siapa.” ucap Chanwoo mengalah.

“Yein, Jung Yein. Kau?” kata Yein—yang terpaksa—memperkenalkan dirinya.

Okay Yein, namaku Jung Chanwoo dan aku minta kau segera menyingkir dari depan pintu karena kau menghalangi jalanku masuk ke dalam.” pinta Chanwoo.

Ya—”  Yein tanpa sadar kembali menyebut Chanwoo dengan kata ‘Ya’ tapi begitu Yein sadar akan tatapan Chanwoo yang tak terima disebut ‘Ya’ ia pun buru-buru mengganti kata sapaan itu menjadi nama Chanwoo yang sebenarnya, “Jung Chanwoo. Kau itu… anggota F4?” tanya Jung Yein to the point.

.

          Tanpa berpikir panjang Jung Chanwoo mengganggukan kepalanya dengan mantap. Anggota F4—itulah yang dikatakan orang-orang tentangnya. Yang memulai kata F4 untuk pertama kali bukanlah dia maupun ketiga temannya yang lain, semua berawal dari anak-anak di sekolahan yang menjuluki mereka begitu. Flower Four atau yang disingkat dengan F4 menjadi julukan khusus dengan Jung Chanwoo, Moon Bin, Song Yuvin, dan Son Youngtaek. Selagi namanya berartikan bagus, Chanwoo dan teman-teman tidak keberatan untuk disebut sebagai F4 seperti yang dielu-elukan anak-anak di sekolahan.

“Ah… Begitu rupanya.” gumam Yein.

Setelah mendapatkan jawaban atas pertanyaan barusan, Yein pun langsung pergi meninggalkan Chanwoo tanpa repot-repot mengucapkan selamat tinggal kepadanya.

.

          Chanwoo masuk ke dalam ruangan F4 untuk mengambil barangnya yang tertinggal di sana. Setelah menemukan barang yang dia cari Chanwoo melihat jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam menunjukan pukul 9.45 yang berartikan waktu istirahat masih tersisa 15 menit. Karena malas kembali ke kantin menyusul teman-temannya yang belum kembali Chanwoo pun memilih untuk bersantai di sofa sembari menonton televisi.

.

          Ruangan F4 bukanlah ruangan sembarang. Tempat khusus ini memang ada di SMA Woollim hanya untuk Chanwoo, Bin, Yuvin dan Youngtaek. Karena Jung Chanwoo merupakan cucu pemilik dari sekolah ini dia meminta secara khusus kepada kakeknya untuk diberikan sebuah tempat yang layak untuk beristirahat bersama teman-teman. Permintaan Chanwoo pun dengan gampang dikabulkan oleh sang kakek, dan tak lama kemudian terciptalah ruangan spesial F4 beserta fasilitas yang tiada tandingannya. Kurang lebih begitulah asal usul ruangan F4 di sekolah ini.

.

          “Jung Yein…” Entah kenapa tiba-tiba saja nama itu terlintas dalam benak Chanwoo. Ia tiba-tiba saja teringat dengan si anak baru yang ketus itu. Kejadian di kantin tadi membuat Chanwoo tak habis pikir karena ada orang yang berani-beraninya menduduki meja kantin khusus untuk F4—bahkan hampir saja masuk ke ruangan F4. Ya, meja yang sempat diributkan oleh F4 dan Yein tadi memang telah menjadi tempat khusus untuk F4 selama ini. Maka dari itu anak-anak di kantin yang melihat Yein duduk di sana berbisik-bisik menggosipi dirinya.

What a silly girl.” gumam Jung Chanwoo.

.

          “Oh my gosh kenapa lama sekali sekolah berakhir?” Yein mendumel di toilet wanita sembari membasuh tangannya dengan air bersih. Ia tidak betah berlama-lama di sekolah ini. Pulang ke rumah nanti Jung Yein akan berbicara kepada kakeknya untuk mengembalikannya ke Hartford, mau tak mau. Yein bisa gila bila terus berada di lingkungan asing yang sama sekali membuatnya tidak nyaman.

Ya.. Kau anak baru itu ya?”

.

          Tiba-tiba saja pintu toilet terbuka dan masuklah 3 orang perempuan ke dalam WC sambil memperhatikan Yein dari rambut hingga ujung kaki. Akan tetapi Yein tidak ingin memperdulikan eksistensi ketiga orang tersebut dan memilih untuk mengeringkan tangannya dengan hand dryer.

Ya kita berbicara denganmu! Apa kau tuli?” hardik seorang gadis.

Bodo amat. Mau bicara dengan dia atau dengan siapapun yang ada di toilet ini Jung Yein tidak akan memperdulikan orang asing. Setelah dirasa tangannya telah kering, Yein menghentikan aktivitasnya barusan lalu melangkahkan kaki keluar dari toilet. Akan tetapi jalan yang Yein tempu tidak semudah itu karena seorang gadis tiba-tiba saja menarik rambut Yein agar dia berhenti berjalan dan menjawab ajakan mereka untuk berbicara.

Ya lepaskan tangan kotor kalian dari rambutku, sialan!!!” hardik Jung Yein yang kesal karena rambut indahnya dipegang oleh orang asing tak bermoral.

Tapi sayang kata-kata Yein tak digubris oleh ketiga perempuan itu. Malahan mereka tertawa ketika melihat Jung Yein kesakitan akibat bully-an mereka barusan.

“Tidak akan! Ini karena aku sudah berani-beraninya mendekati F4, jalang!” hardik satu di antara ketiga gadis itu.

.

“Ya lepaskan tangan kotor kalian dari rambutku, sialan!!!” Seorang siswi yang baru saja melewati jalan di depan toilet wanita mendengar suara teriakan dari dalam. Awalnya dia pikir dirinya salah mendengar saja. Baru saja ia hendak melangkahkan kakinya kembali umpatan kasar dari suara yang sama kembali terdengar di telinganya.

“Get off my back, bitches!”

Omo! Ada apa sih?” panik Cheng Xiao—siswi itu—yang langsung berlari ke toilet untuk melihat kejadian yang sebenarnya.

.

Ckrek..

Sesaat setelah membuka pintu toilet perempuan, Cheng Xiao langsung menyalakan kamera ponselnya dan mengambil gambar yang ada. Awalnya Cheng Xiao cukup kaget mengetahui bahwa ada seseorang yang sedang di bully di toilet. Apalagi yang menjadi adalah si anak baru. Tanpa berhenti mengklik layar ponselnya untuk mengabadikan peristiwa barusan, Cheng Xiao pun memerintahkan para bully melepaskan tangan mereka dari Jung Yein.

Ya kalian mencari masalah? Apa kalian mau aku laporkan pada guru, huh?” ancam Cheng Xiao.

Ketiga cewek itu melepaskan jambakan tangan mereka dari rambut Yein lalu menatap Cheng Xiao sewot.

“Eh anak China! Bukan urusanmu!”

“Kenapa bukan urusanku? Aku menjadi saksi mata kejadian kalau di sekolah ini ada bully. Aku tidak main-main untuk melaporkan kalian!” ancamnya lagi.

“Sial. Awas saja anak baru, urusan kita belum selesai! Kalau kau berani melaporkannya ke guru aku tidak akan segan menghabisimu selagi kau menunjukan batang hidungmu di sekolah ini!”

Pada akhirnya ketiga gadis itu memilih untuk keluar dari toilet karena misi mereka untuk memberi pelajaran kepada Yein gagal total karena kehadiran Cheng Xiao.

.

“Aish brengsek!” Yein mengumpat kasar karena kepalanya jadi sakit akibat ditarik oleh perempuan-perempuan gila itu. “Kau baik-baik saja, Yein?” tanya Cheng Xiao yang melihat rambut Yein jadi khusus karena dijambak perempuan-perempuan itu.

Hell no. Tapi thanks karena kau datang telat waktu, kalau tidak rambutku semakin banyak yang rontok, Seongso.” gerutu Yein yang masih sebal karena mendapatkan serangan mendadak.

Srag!!

Tiba-tiba saja sebuah bilik kamar mandi dibuka secara paksa. Keluarlah seorang gadis yang datang menghampiri Yein dengan penuh kekhawatiran. Jung Yein yang tak menyangka ada orang sejak tadi di dalam sana membulatkan mulutnya tak percaya.

Omo! Kau baik-baik saja anak baru?” tanyanya khawatir.

“Huh? Yoon Soyoon? Kau sejak tadi ada di dalam sana?” tanya Cheng Xiao tak percaya.

“Eoh.. Aku sengaja tetap berada di dalam tadi. Maaf ya.” sesal Soyoon.

Yoon Soyoon adalah gadis yang pertama kali menyapa Yein di kelas dengan penuh keramahan. Ia berada di balik pintu sejak tadi saat tahu ada geng gila yang datang menghampiri Jung Yein.

“Maaf aku bersembunyi. Aku malas berurusan dengan mereka lagi. Tapi untungnya aku sempat merekam pembicaraan kalian tadi.” kata Soyoon.

You did?” ulang Yein yang diberi anggukan oleh Soyoon, “Baguslah kalau begitu. Aku tidak terima dengan perilaku mereka barusan!” geramnya.

“Kau mau melaporkannya ke BK, ya?” tanya Cheng Xiao dan Soyoon serentak.

“BK? Hahaha lucu sekali. Apa gunanya BK yang hanya menyuruh siswa berdamai apabila ada masalah.” kekeh Yein saat mendengar kata BK.

“Lalu? Kau mau apa?” tanya Cheng Xiao.

“Aku akan menghubungi pengacaraku dan menuntut mereka karena sudah semena-mena menyentuhku lah!” cerocos Yein yang masih kesal karena orang asing berani-beraninya memperlakukannya seperti tadi.

“Hah?!?”

Kedua teman sekelas ini saling bertukar pandang lalu memandang Yein secara bergantian. Mereka tak percaya kalau seorang Jung Yein akan membawa permasalahan ini ke tingkat yang lebih tinggi hanya karena para bully tadi ‘menyentuhnya’.

.
Jung Yein dan anak-anak yang lain memiliki waktu kosong yang panjang usia beristirahat karena guru tengah mengadakan rapat. Saat ini Yein tengah berada di kantin untuk mengisi perutnya yang keroncongan akibat makan siangnya tadi sempat terganggu bersama dua orang perempuan yang sejak tadi terus membuntutinya. Orang itu adalah Cheng Xiao dan Yoon Soyoon yang tak membiarkan Yein pergi seorang diri setelah insiden di toilet tadi.

“Sayang sekali kau pindah, padahal kalau kau masih tinggal di sana kau bisa masuk ke Universitas Hartford nantinya.” celetuk Cheng Xiao setelah mendengar cerita asal usul Jung Yein dari mana.

Yeah.. tapi sialnya aku terpaksa pindah ke sini.” gumam Yein sambil mengunyah kentang gorengnya.

“Mungkin awalnya akan sulit beradaptasi, tapi aku rasa kau akan terbiasa sebentar lagi.” balas Soyoon.

That’s right! Awalnya aku juga tidak suka pindah ke Korea tapi lama kelamaan aku malah senang berada di negara ini.” seru Cheng Xiao.

Why? Apa bagusnya negara ini?” heran Yein.

“Hmm hanya saja aku bebas bertemu dengan idol tampan manapun yang aku mau hahaha.” tawanya.

“Ah Jung Yein.. Cheng Xiao ini maniak K-pop dan dia kenal banyak idol ganteng karena pamannya koneksinya loh. Bahkan dia sempat mengencani beberapa dari mereka.” bisik Soyoon orang lain tidak mendengarnya.

Padahal tuh ya, tidak ada orang di sekitar mereka sehingga tak akan ada yang mendengar apapun yang dibicarakan ketiga orang ini. Dasar Soyoon saja yang terlalu berlebihan.

“Jadi kau bertahan di tempat ini hanya karena idol-idol itu?” tanya Yein kepada Cheng Xiao.

Seongso alias Cheng Xiao mengganggukan kepalanya mantap. Itu alasan Cheng Xiao bertahan di Korea. Kalau dia tidak memiliki penyemangat hidup seperti deretan idol-idol tampan yang mewarnai harinya, mungkin Cheng Xiao juga merasakan hal yang sama seperti Jung Yein.

“Oh ya Jung Yein memangnya apa yang membuat keluargamu pindah ke sini?” tanya Soyoon yang penasaran.

“Entahlah, kakekku tiba-tiba memutuskan untuk pindah. Aku tidak mengerti jalan pikirannya.” gumam Jung Yein.

Jung Yein sendiri sampai sekarang tidak tahu apa alasan kakeknya memilih untuk pindah ke Soeul setelah menetap di Hartford selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Bagi Yein kepindahan ini masih terasa seperti mimpi buruk yang menghantuinya. Sulit untuk dipercaya bahwa kepindahannya ke Korea memang lah nyata.

.

          “Chanwoo-ya anak baru tadi memang sekelas denganmu?” Chanwoo si maniak game yang hendak memulai permainannya di game online mengurungkan niatnya saat Moon Bin menanyakan perihal anak baru kepadanya. Anak baru yang dimaksud tentunya Jung Yein. Chanwoo jadi bingung kenapa tiba-tiba Moon Bin mengungkit masalah gadis itu.

“Ya. Kenapa?” tanya balik Chanwoo.

“Dia sangat menyebalkan. Berani sekali dia melawan ucapan kita tadi. Memangnya dia tidak tahu siapa kita?” omel Moon Bin yang emosinya kembali meledak karena mengingat betapa nyolotnya Yein di kantin tadi.

“Memang dia tidak tahu siapa kita.” jawab Chanwoo santai.

Jelas Yein tidak tahu siapa F4 karena dia tadi sempat bertanya tentang itu kepadanya, bukan?

“Eii masa sih di sekolah ini tidak ada yang tahu kita? Bahkan di sekolah ini banyak anak baru karena mereka ingin satu sekolah sama kita.” celetuk Youngtaek yang tak percaya.

“Kalian terlalu delusional. Memangnya kalian selebritis sampai-sampai orang harus tahu kita ini siapa?” balas Chanwoo.

Yuvin yang mendengar jawaban Chanwoo barusan hanya bisa menahan tawa sementara Moon Bin dan Son Youngtaek mencebikan bibirnya. Lagian Chanwoo heran sama Bin maupun Youngtaek yang mengharuskan anak baru tahu siapa mereka. Chanwoo sih tidak ambil pusing masalah Yein yang tahu siapa F4 atau tidak karena itu tidak mempengaruhi hidupnya.

“Ngomong-ngomong Jung Yein itu lumayan cantik.” celetuk Yuvin.

“Lalu? Kalau dia cantik kau mau mengencaninya?” tanya Chanwoo.

Why not?” balas Yuvin dengan santainya.

“Kau lupa Bin? kalau saat ini kau punya hubungan dengan Suji?” sambung Youngtaek.

“Ah Suji-ku! Aku lupa!” jawab Yuvin sambil menepuk jidatnya.

Ckckck. Chanwoo, Youngtaek, dan Moon Bin hanya bisa berdecak lidah karena kebodohan Song Yuvin. Sudah punya pacar tapi malah melupakannya mentang-mentang saat ini mereka sedang menjalini hubungan jarak jauh. Kesetiaan seorang pria memang patut dipertanyakan!

.

          “Bagaimana hari pertamamu, Yein?” Di dalam perjalanan pulang, Jung Jaehyun iseng bertanya kepada Yein mengenai hari pertamanya bersekolah di SMA Woollim. Padahal tanpa perlu Jaehyun menanyakannya ia sangat yakin kalau Yein mendapatkan hari yang buruk. Berbeda dengannya yang senang pindah ke sekolah baru dan bertemu gadis-gadis yang mencoba untuk mendekatinya. Jaehyun sangat suka hari pertamanya sekolah di Korea!

“What a shitty day!” jawab Yein.

Jackpot! Jaehyun benar kalau Jung Yein membenci hari pertamanya sekolah. Karena sejak awal Jaehyun sadar bahwa sang adik tidak menyukai alasan kakeknya yang memutuskan secara sepihak agar mereka pindah ke Korea. Bagi Jung Yein, hal baru adalah sesuatu yang harus dia hindari. Berbeda dengan Jaehyun yang menyukai hal baru yang menantang dirinya yaitu pindah ke negeri ‘asing’ yang sebenarnya kampung halaman mereka.

“Oh.. What happened?” tanya Jaehyun berusaha untuk simpatik.

“Jeff kau tahu tidak? Tadi ada orang yang berusaha membuliku di toilet! Sialan! Aku harus membawa masalah ini ke jalur hukum!” cerocos Jung Yein.

“Wow.. calm down! Hukum bukan hal yang main-main Jung Yein! Lagian kau punya bukti kalau ada orang yang membulimu?”

“Tentu saja aku punya. Ada bukti rekaman suara dan juga foto saat mereka menyiksaku.” balasnya.

“Kau serius kalau kau itu dibuli? Seperti telah direncanakan saja sampai ada video dan voice recording.” cibir Jaehyun.

 “Tau ah! Aish Jeff aku bisa gila bersekolah di SMA itu.” kesal Yein.

Aigoo.. si princess banyak tingkah sekali.” gumam Jaehyun.

.

          Keesokan harinya Yein yang telah bersiap untuk pergi ke sekolah langsung menuju ruang makan untuk sarapan bersama Jaehyun dan juga kakeknya. Sejak kecil Yein memang tinggal bersama kakeknya karena orangtuanya telah meninggal dunia beberapa tahun silam karena kecelakaan pesawat. Kejadian tersebut berlangsung ketika Jung Yein masih berusia 3 tahun sehingga dia tak mengingat apapun tentang orangtuanya selain foto mereka yang ditunjukan oleh kakeknya. Begitu juga dengan Jung Jaehyun yang saat itu juga masih sangat kecil. Sehingga bagi Yein dan Jaehyun, kakek menjadi pengganti orangtuanya yang merawat mereka sedari kecil walaupun dirinya juga disibukan dengan urusan bisnis yang dikelolahnya.

.

“Aku dengar kau meminta Pak Kwon memanggil pengacara untuk mengurusi urusanmu di sekolah. Apa yang telah kau perbuat di hari pertamamu bersekolah Jung Yein?” tanya Lee Jungyeop di sela-sela memakan santapan paginya yang khusus dibuat oleh koki terbaik yang dipekerjakan olehnya.

“Bukan aku kek, tapi orang lain yang mencari masalah denganku.” ralat Yein.

“Anggap saja angin lalu, jangan terlalu berlebihan menanggapinya.” kata Jungyeop.

“Kek, dari kecil tidak ada yang pernah menyiksaku seperti yang dilakukan cewek-cewek tidak jelas itu! Aku tidak terima dengan perlakuan mereka.” cerocos Yein.

“Kakek benar, Yein. Jangan cari masalahlah.” sambung Jaehyun.

“Ya Jeff kau bisa berbicara santai karena kau dikelilingi orang yang menurutmu menyenangkan. Lalu aku? Aku tidak ada salah apapun tadi orang itu malah menyerangku. Kau pikir aku bisa tinggal diam saja, huh?”

“Jung Yein sudah berapa kali kakek peringatkan! Jaehyun itu kakakmu, kau harus memanggilnya oppa.” tegur Jungyeop.

Whatever. Kalian semua menyebalkan.” desis Yein.

Jung Yein mendorong kursinya ke belakang karena dia hendak menyudahi sarapannya. Nafsu makannya mendadak hilang karena harus berdebat dengan kakek dan kakaknya di pagi hari. Tapi baru saja Jung Yein hendak berdiri dari tempat duduknya, Jungyeop memperingatkan Yein untuk tidak pergi meninggalkan ruang makan.

Sit down, Jung Yein. Ada hal yang harus kakek bicarakan padamu!” titah Jungyeop.

Mwoya…, Apa lagi sih?” dumel Yein.

Ya kau tidak dengar kakek menyuruhmu duduk? Cepat duduk!” tegur Jaehyun.

Srag! Terpaksa Jung Yein menempatkan kembali bokongnya di atas kursi. Dia sudah kalah telak karena kakek dan Jung Jaehyun telah bersatu untuk menyudutkan dirinya. Sehingga saat ini Jung Yein hanya bisa pasrah untuk mendengarkan hal yang ingin dibicarakan oleh Lee Jungyeop.

“Kakek ingin membicarakan alasan kita pindah ke Korea.” ujar Jungyeop.

“Oh.. Kakek mau membicarakannya sekarang? Memangnya alasan apa yang membuat kita pindah ke mari?” tanya Jaehyun yang penasaran.

Kedua cucu Jungyeop ini memang tidak tahu alasan apa yang membuat kakeknya membuat keputusan untuk pindah ke Korea. Jaehyun hanya mengikuti saja kehendak dari kakeknya, berbeda dengan Jung Yein yang menentang habis-habisan ide dari kakeknya.

“Tidak bisakah kembalikan aku ke Hartford lagi? Aku bisa hidup mandiri kek.” rutuk Yein.

“Kau? Hidup mandiri? Jangan bercanda.” ledek Jaehyun.

“Tinggal sediakan pembantu rumah tangga untuk mengurus rumah, supir untuk mengantar jemputku dan juga koki untuk memasakan aku makanan. Aku bisa hidup mandiri kok!” omel Yein.

“Lucu sekali. Yang begitu kau sebut hidup mandiri? Dasar princess manja, kau harus cari tahu dahulu definisi mandiri sebelum mengucapkannya.” balas Jaehyun.

“Sudah, sudah!” tegur Jungyeop yang tak mau pertikaian kecil Jaehyun dan Yein berlanjut. Setelah itu dia kembali melanjutkan pembicaraannya mengenai alasannya pindah ke Korea setelah lama menetap di Connecticut, “Alasan kita pindah ke Korea itu karena kau, Jung Yein.” lanjutnya.

Why me? Naega wae, kek? Aku bahkan tidak pernah terpikir untuk menghirup udara di negara ini, kenapa pula aku yang menjadi alasannya?” heran Yein.

“Karena kau akan aku jodohkan dengan kenalan lama orangtuamu. Maka dari itu kita pindah ke Korea!” aku Jungyeop.

WHAT?!”

Yein dan Jaehyun saling memandang satu sama lain karena takut salah mendengar alasan yang dikatakan oleh kakek mereka. Tapi tampaknya melihat ekspresi Jaehyun yang sama terkejut sepertinya membuat Yein yakin bahwa dia tidak salah dengar bahwa dia hendak dijodohkan oleh kakeknya.

“Ka..kakek tidak bercanda, kan?” tanya Jaehyun.

“Ah jinjja! Apa kakek gila? Menjodohkanku?” tanya Yein yang tak habis pikir dengan segala keputusan yang dibuat oleh Lee Jungyeop, “No way, kek! Aku tidak akan mau dijodohkan dengan siapapun yang kakek tentukan. This is my life! Aku yang berhak menentukan dengan siapa aku berhubungan dan juga menikah! Kenapa pula aku harus dijodohkan?” tolak Yein mentah-mentah.

 “Tidak ada kata penolakan Jung Yein. Kau harus bersiap untuk menemui calon tunanganmu nanti malam dan—”

Jungyeop menghentikan ucapannya saat melihat raut wajah Yein yang saat ini begitu menyeramkan. Begitu kentara kalau saat ini Jung Yein menahan emosi yang sejak tadi dia pendam. Namun Lee Jungyeop tak ambil pusing dengan penolakan cucunya karena dia lah yang berhak untuk menentukan segala hal yang berhubungan dengan cucu-cucunya.

“Kau satu sekolah dengan calon tunanganmu. Maka dari itu aku sengaja memasukan kalian ke SMA tersebut agar Yein bisa dekat dengan tunangannya nanti.” lanjut Jungyeop.

Oh.. My.. God.. Yein harap seseorang menamparnya dengan keras saat ini untuk memastikan bahwa dirinya sedang berada di alam mimpi atau atau memang berada di alam nyata yang harus dia hadapi karena sang kakek terus menambah kesulitan usai kepindahan mereka ke negara ini.

 

Advertisements

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s