[Oneshot] We’ve Always Been Apart

Standard

by yournightskies

We’ve Always Been Apart

Lovelyz’s Mijoo with Seventeen’s Mingyu

Oneshot

Romance, Angst

PG-15

“Pulanglah, Mingyu. Kuharap, kaukena amnesia.”

Disclaimer: Only the poster and story line are mine. The casts belong to their selves. The story is pure fictional, none based on true story.
(note: lapslock, sorry ._.v)


“bagaimana kabarmu?”

mijoo menoleh kaget. “apa yang kaulakukan disini?”

“menjenguk noona terbaik-ku sepanjang masa!” serunya. “memang kau tidak rindu aku?”

“tidak juga, aku bahkan baru sadar kau tidak ada. memangnya kau dari mana?” mijoo melipat tangan di dada, meledek mingyu.

“ih, noona jahat!” seru mingyu sembari menduduki kursi yang, mijoo yakin, terasa dingin karena pendingin ruangan yang terus berhembus namun tidak ada yang mendudukinya selama beberapa minggu belakangan.

maklum, ia tidak punya penjenguk rutin seperti mingyu. bahkan bisa dibilang, ia tidak pernah dijenguk orang lain selain mingyu.

“lebih jahat mana, aku yang sekadar meledekmu, atau kau yang mengaku sebagai dongsaeng terbaikku namun malah menghilang selama dua minggu tanpa kabar dan tanpa pamit?”

noona jahaaat!” rengek mingyu.

shuush, shuush. kau akan mengganggu pasien yang lain. dasar bayi besar.”

noona, umurku 20 tahun, aku sudah legal untuk minum bir! aku bukan bayi!”

“kau mengaku sudah legal, tapi yang kautahu tentang usia 20 hanya tentang bir. kim ‘bayi’ mingyu~

mingyu memilih untuk tidak melanjutkan percakapan tadi. lagipula, mengalah untuk mijoo sudah terlalu sering ia lakukan, hingga tak ada lagi ledekan “huuu, aku menang!” dari gadis itu.

“omong-omong, kenapa kau sendirian? dimana sujeong?”

“ia sedang bersama seokmin,” jawab mingyu datar.

“dan kaubiarkan?! mingyu, kau bodoh sekali. bagaimana jika seokmin merebut sujeong darimu? kau mau pertunanganmu dengannya batal?”

noona, seokmin tidak sejahat itu, dia bukan kau,” ujar mingyu.

mijoo tertohok saat mendengar itu, tapi ia sudah biasa dituduh sebagai orang jahat, jadi ia hanya merajuk. tak ada lagi amarah atau kata-kata kasar tanda penolakan yang keluar dari mulut mijoo. lagipula, itu adalah fakta.

“ih, itu ‘kan hanya supaya kau memutuskanku,” gumam mijoo, keki. “lagipula kau sudah punya sujeong saat itu.”

“tetap saja kau pernah menduakanku setelah aku memilihmu daripada dia,” balas mingyu sambil memeletkan lidahnya.

“kau bilang kau kesal terhadap sikapku, tapi nyatanya kau disini. dasar bayi tidak konsisten.”

“kalau bukan karena kau habis kecelakaan, noona, aku tidak akan datang.”

seharusnya kau memang tidak pernah datang ke dalam hidupku, mingyu, batin mijoo sambil mendenguskan tawanya.

“anggap saja aku sedang numpang tidur disini, lalu tinggalkan aku. tak pernah sekali pun aku membutuhkan dongsaeng yang tidak konsisten juga kekanakan macam dirimu.”

“akan kuadukan kau pada sujeong. dasar noona jahaaat~”

“adukan sana, aku tidak takut, wlee~”

“sudahlah, debat denganmu tidak akan ada habisnya. aku tak bisa lama-lama, aku sibuk.”

mijoo ingin meledek lagi, tapi ia tak boleh. ia dan mingyu adalah masa lalu, bahaya jika ia sampai merasakan perasaan itu lagi. ingat, mijoo. mingyu sudah bahagia bersama sujeong, jangan ganggu mereka.

“kau mau kemana?” tanya mijoo akhirnya.

gadis itu kurang-lebih dapat menebak apa jawaban mingyu. dan apapun itu, ia pasti akan merasakan—

“aku akan menemui sujeong untuk melamarnya secara personal. kautahu, noona, pertunangan kami dilakukan oleh kedua orangtua kami, bukan atas permintaanku. agar ia tahu aku sungguh mencintainya, aku akan melamarnya.”

—sakit.

tentu saja mingyu akan melakukannya. si bayi besar pernah bilangdan itu sudah lama sekalipada mijoo bahwa ia ingin melakukan sebuah lamaran.

mijoo kala itu menyuruh mingyu mencobanya, hanya sekadar pura-pura.

“lee mijoo, maukah kau menikah denganku?” mingyu bertumpu pada satu lututnya dan menunjukkan sebuah cincin padanya.

cincin permen berbentuk berlian, tapi.

“pft-bwahahahaha!” mijoo tak menjawab, ia berjongkok dan menunjuk cincin tersebut, menertawakannya. mingyu sebetulnya ingin merajuk, namun ia urungkan saat mijoo memakai cincin tersebut dan mengemut permennya.

tapi tidak pernah ada jawaban dari lamaran itu,

dan mijoo menyesal.

“aku senang kau bisa mewujudkan keinginan terbesarmu, mingyu. dan bahagiakanlah sujeong. jangan berhenti berusaha hanya sebatas di lamaran. jalan kalian masih panjang.”

“aku paham, noona. terima kasih atas nasehatnya,” balas mingyu. “dimana jisoo-noona?”

mijoo mengedikkan bahu. “kurasa ia sibuk. buat apa ia meluangkan waktu untukku? ia ‘kan, punya segalanya sekarang, termasuk impianku.”

noona, jangan bersikap seolah seisi dunia membencimu”

“mingyu, dunia ini memang membenciku. bahkan kekasihmu yang hatinya bak malaikat itu, kuyakin ia juga benci padaku. siapa manusia yang tidak benci pada lee mijoo?”

“ia adalah aku”

“pft-haha! kau bahkan menamparku saat memergokiku selingkuh. yakin kau tidak membenciku?”

mingyu diam. bukan karena mengiyakan, tapi karena ingin meredam emosi mijoo.

“kakiku diamputasi, aku dikeluarkan dari akademi seni, jisoo menjauhiku, aku merebutmu dari sujeong, lalu selingkuh di depan mata kepalamu,” ujar mijoo getir. “kau seharusnya tidak kemari, mingyu. aku sudah bukan bagian hidupmu lagi.”

noona, berhenti bicara seperti itu,” pinta mingyu. “kumohon. aku tidak ingin noona terbaikku merasa sedih.”

“kau tidak ingin aku merasa sedih? maka pulanglah, mingyu. kuharap, kau kena amnesia. hingga kau tidak tahu bagaimana cara kembali ke sini, juga tidak tahu bahwa kau pernah mengenalku.”

mijoo merebahkan badannya, lalu memunggungi mingyu. tak lama kemudian, ia mendengar pintu ruangannya terbuka lalu ditutup.

tanpa gadis itu ketahui, doanya kemudian menjadi kenyataan.

mingyu mengendarai mobilnya sembari berlinang air mata, hingga tidak menyadari ia berada di jalur yang salah, dan sebuah truk yang melaju ke arahnya.

klakson truk yang menggema itu tidak terdengar di telinga mingyu, sampai pada detik dimana mobilnya menghantam bemper truk tersebut. kepala mingyu terbentur dua kalipada stir dan pada rem tangan.

tiga jam kemudian, mingyu dibawa ke unit gawat darurat. darah di kepalanya tidak berhenti mengucur, dan kesadarannya mulai berada di ambang.

sementara mijoo terlalu sibuk menangis, hingga tidak mendengar ratapan sujeong yang memanggili mingyu saat mereka melintasi pintu ruangan mijoo.


“bagaimana kabarmu?”

mijoo menoleh kaget. “apa yang kaulakukan disini?”

“kau masih marah?” tanyanya sendu seraya duduk di sisi kasur mijoo. “maafkan aku.”

“tapi kau tidak salah apa-apa.”

“aku sudah egois, mijoo. aku temanmu sejak lima tahun lalu, tapi aku malah menjauhimu saat kau membutuhkanku. aku bahkan memakai impianmu sebagai kesibukanku hingga tak sempat mengunjungimu. maaf.

“padahal tadi aku bertanya ‘sedang apa kau disini?’, bukannya mengusirmu.”

“habis, kukira kau masih marah padaku.”

“awalnya. tapi sekarang tidak lagi.”

“sungguh? apa itu artinya, kita masih berteman?”

“tentu. kecuali kau berpikir persahabatan kita sudah putus saat kita bertengkar dulu…”

jisoo bangkit dari duduknya dan memeluk mijoo erat. “tidak, aku tidak akan pernah memutuskan persahabatan kita. aku senang kita masih berteman, mijoo.”

“omong-omong, kau belum menjawab pertanyaanku. apa yang kaulakukan disini?”

“menjenguk dan mengantarmu pulang,” balas jisoo. “tadi aku bertemu doktermu, dan beliau bilang kau sudah boleh pulang nanti siang.”

“akhirnyaaa!” seru mijoo sambil mengepalkan kedua tangan, meninju udara.

“oh iya. tadi pagi, ada seseorang yang menitipkan kaki palsu untukmu di pintu apartemen kita.”

“hm? dari siapa?”

“entahlah. tapi ini,” jisoo merogoh tasnya dan mengeluarkan secarik kertas. “surat dari orang itu.”

“apa menurutmu kaki itu dari mingyu?”

jisoo mengedikkan bahu. “kukira ia masih marah padamu karena, ya, kautahu ‘kan?”

“yah, tetap saja. semarah apapun dia, kuyakin ia masih tidak tega jika harus melihatku menderita, hehe. tapi itu ‘kan hanya dugaan. bisa jadi itu dari woohyun-oppa.”

“dari mantanmu yang kauajak pura-pura jadi selingkuhanmu supaya mingyu memutuskanmu itu? yang benar saja.”

“ah, sudahlah. kita hanya akan tahu saat sudah membacanya. apa ada petunjuk di surat ini?”

“aku belum membukanya.”

“ya, ya, tentu saja. seo jisoo mana mungkin berlaku lancang?”

“ih, apa sih!” jisoo tergelak.

mijoo ikut tergelak, lalu membuka surat itu. ekspresi cerianya perlahan memudar, digantikan senyum tipis yang terpaksa.

mijoo tidak menemukan petunjuk apapun yang menyebabkan mingyu menulis surat seperti ini, tapi satu hal yang pasti; doanya kemarin terkabul.

dan mijoo tidak tahu apakah ia harus merasa senang; sebab ia kini mingyu menjalani hidupnya tanpa merasa terganggu akan kehadirannya, atau sedih; karena ia telah ‘mati’ di ingatan mingyu.

“mijoo, kau baik-baik saja?”

“a-aku baik-baik saja. eum, jisoo, sekarang ‘kan sudah jam 11, bisakah kau bantu aku bersiap untuk berkemas?”

“baiklah.”

kepada, lee mijoo.
namaku kim mingyu. aku menemukan alamat ini di memo ponselku, juga ruang obrolan kita pada dua minggu terakhir tentang kecelakaan yang kaualami hingga kakimu harus diamputasi. saat kutanyakan hal ini pada tunanganku; ryu sujeong, ia membenarkan. ada dorongan dari dalam diriku untuk membantumu, jadi kuharap hadiah dariku berguna untukmu.
aku tidak ingat pernah mengenalmu, lee mijoo, tapi sepertinya kita pernah dekat. kuyakin nomorku tersimpan di ponselmu, jadi kau bisa hubungi aku kapanpun kau mau.


[author notes]

angst dulu, angst lagi, angst terus~

sumpah, nggak sengaja lho aku nulis angst ;-; tenang aja, ada kok, ff fluff-nya… tapi masih on-going. jangan bosan-bosan baca angst-ku 😦 demi memenuhi kewajiban setor pada dua owners imoet kita semua. pokoknya sampai jumpa di ff selanjutnya~

anyway, nggak kok, aku nggak terlalu nge-ship mingyu-mijoo, tapi bagiku mereka punya karakter yang pas dengan jalan cerita ff ini. dan teruntuk seseorang yang pernah request minjeong padaku via pc, mohon bersabar sedikit lagi 😦

terima kasih sudah mampir, lovelinus! jangan lupa jejaknya~

we’ve always been apart: completed. may 23th, 2017


“bersediakah kau, ryu sujeong, untuk menerima kim mingyu di segala suasana?”

“ya.”

“dengan ini kunyatakan kalian resmi menjadi pasangan suami-istri.”
tepuk tangan meriuh rendah di aula. sujeong menatap cincin di jarinya dengan haru, lalu berganti menatap mingyu dengan bahagia.

“terima kasih, mingyu,” ucap gadis itu.

“kuharap ini semua tidak terlalu cepat bagimu.”

“sejujurnya, aku masih tidak bisa percaya. bagaimana kau bisa melupakan semua masa lalumu, tapi kauingat bahwa kau akan menikah denganku?”

“hati mengingat apa yang dilupakan otak, bukan begitu?”

“tetap saja. kau baru keluar dari rumah sakit dua bulan yang lalu, kemudian langsung menikahiku.”

“entahlah. aku pasti sangat mencintaimu hingga punya dorongan untuk segera menikahimu meski aku amnesia, bukan begitu?”

“uh, dasar gombal,” balas sujeong malu-malu.

keduanya kemudian berbalik dan berjalan beriringan menelusuri aula, menuju kursi yang akan mereka tempati untuk menikmati pertunjukan hari ini.

begitu lagu pertama dinyanyikan, sujeong menyikut pelan suaminya seraya melirihkan tanya, “apa kau sudah memberikan kaki itu untuk mijoo-unnie?”

“ya, aku meninggalkannya di depan pintu apartemen.”

“kau mengundangnya ke sini?”

“entahlah, aku tak melihat kehadirannya disini. padahal aku sudah mengirimkan undangan melalui chat.”

“aku juga tidak melihat kehadirannya,” ujar sujeong sambil mencari-cari wajah mijoo. “mungkin ia masih beristirahat. kautahu, mijoo-unnie adalah seorang penari, dan pasti berat baginya untuk menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa menari lagi.”

“kurasa begitu. omong-omong, kau yakin lee mijoo hanya kakak kelas kita saat sekolah dulu? aku merasa… kami sedikit lebih dekat dari itu.”

“oh, jadi kau ingin bertemu mijoo-unnie dan kembali dekat dengannya?” sujeong merajuk. “ya sudah, sana cari gadis itu.”

“ih, istriku marah,” ledek mingyu sambil mengecup pelipis sujeong. “siapa yang lebih dulu mengajakku bicara tentang lee mijoo, coba?”

“aku ‘kan hanya bertanya tentang benda pemberianmu!”

“iya, iya. maaf, sujeong-ku yang cantik. kau paham ‘kan, kenapa aku begitu penasaran?”

“terserah.” sujeong memalingkan wajah ke arah lain. membuat mingyu tergelak bahagia.
semua yang hadir di aula tersebut merasakan bahagia tiada tara. seperti, hari itu sudah ditakdirkan sebagai hari bahagia untuk semua orang.

bahkan, kebahagiaan juga dirasakan oleh seorang gadis yang sibuk mengajar anak-anak usia dini, dalam radius 50 kilometer dari aula gedung yang ditempati oleh pasangan kim tersebut. bel istirahat dibunyikan secara manual, dan itu menjadi pertanda bagi anak-anak tersebut untuk kembali ke rumah masing-masing.

setelah seluruh murid dijemput orangtua masing-masing dan kelas menjadi senyap, mijoo terduduk di kursinya dan membuka ponselnya. ada satu pesan yang tidak pernah ia buka semenjak pesan itu sampai ke ponselnya.

karena, ada kata “undangan” di kolom preview-nya, dan mijoo tidak setegar itu untuk membukanya. lagipula, memang lebih baik ia tidak datang. sebab mingyu pernah melakukan kesalahan dengan datang ke kehidupan mijoo dan meluluhlantakkannya dalam sekejap, dan mijoo tidak boleh melakukan kesalahan yang sama persis.

ia tidak ingin hidup mingyu hancur seperti miliknya.

gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya demi mengusir kelabu yang hadir, lalu bangkit.

“dimana aku menaruh aku laporan harian itu?” gumamnya sambil berjalan meninggalkan kelas.

Advertisements

5 thoughts on “[Oneshot] We’ve Always Been Apart

  1. ANi

    Aku tau kakak jago angst, tapi aku pengen banget liat kakak bikin fluff. Tau banget kok ini kelewatan aku mintanya /buang ke laut aja gapapa atau digigitin gapapa, aku ikhlas/ tapi penasaran aja gitu fluff versi kak night astaga. Haruskah diri ini bertapa di kaki gunung dulu supaya kak night debut dengan ff fluff?

    Ih maafin ya ngerusuh di kolom komentar. Duh kangen nulis lagi jadinya, kangen kakak juga. Ditunggu kak debut ff fluffnya ^^

    Liked by 1 person

  2. Selamat kanightt:”) kanight berhasil membuat chel terenyuh untuk yang kesekian kali hahahaha /ketawa maksa /lalu dilindes

    Entah kenapa kalo udah masuk ke genre angst, chel suka banget sama ffnya kanightxD kerasa nyes gimana gituu:”) tapiii, ditungu juga ya ff fluff nyaa~^^

    Nice fic, keep writing kaak^^

    Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s