F4 Season 2 [Chapter 3]

F4 Seaason 2 (2)

F4
Season 2

By Fanita

Main Cast : Lovelyz Yein – Ikon Chanwoo

Casts : WB Youngtaek – Astro Moon Bin – Myteen Yuvin – WG Soyoon – WJSN Cheng Xiao – ETC..

Genre : School Life – Romance – Friendship – Fluff || Type : Chapter || Rating : PG-15

F4 memiliki waktu 20 menit untuk bersantai di ruangan mereka sebelum masuk ke kelas masing-masing. Tak banyak yang bisa dilakukan oleh empat remaja ganteng ini selain menonton televisi, memainkan game di ponselnya, menyemil jajanan ringan, atau memejamkan mata mereka sejenak. Itulah kegiatan yang tengah dilakukan oleh Chanwoo dan kawan-kawan.

Ya nanti malam hangout yuk!” celetuk Yuvin yang hendak mengajak teman-temannya untuk menghabiskan waktu bersama.

“Hm… Pass.” balas Chanwoo.

“Kenapa?” heran Yuvin.

“Nanti malam aku harus ikut orangtuaku ke acara makan malam.” jawab Chanwoo yang masih fokus pada game yang tengah ia mainkan.

“Yah… Kalau kalian bagaimana?” tanya Yuvin lagi kepada Moon Bin dan Youngtaek.

“Aku mau kencan dengan Hyunjoo. So sorry.” balas Moon Bin.

Muka Yuvin semakin tertekuk karena Chanwoo dan Moon Bin menolak ajakannya. Yang tersisa hanyalah jawaban dari Son Youngtaek. Yuvin harap Youngtaek mau menemaninya bermain malam nanti—

“Maaf. Malam ini ada acara amal yang diselenggarakan kakekku, jadi aku harus hadir.” sesal Youngtaek.

Oh, shit. Yuvin mengumpat dalam hatinya karena ketiga orang temannya sama sekali tak ada yang bisa menemaninya untuk bermain malam ini. Dia tidak punya alasan untuk menghindar jadinya.

“Sial.. Aku terpaksa ikut jadinya.” rutuk Yuvin.

Chanwoo yang tak sengaja mendengar umpatan Yuvin barusan langsung menegok ke arahnya dan bertanya, “Kau ada masalah?” tanyanya.

Yuvin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum palsu kepada Jung Chanwoo.

“Tidak kok. Jangan khawatir.” balas Yuvin.

“Cih.. untuk apa juga khawatir denganmu.” ucap Chanwoo yang membuat Yuvin langsung memasang tampang datar.

“Dasar tidak ada rasa simpatinya sama sekali kepada teman.” rutuk Song Yuvin dalam hatinya.

.

          “Ck! Tersenyumlah sedikit! Kau terlihat sangat seram.” Jaehyun melirik sang adik yang sejak tadi tidak henti-hentinya menekuk muka setelah mendengar keputusan kakeknya untuk menjodohkannya dengan seseorang. Memang benar, mood Yein di pagi hari jadi berantakan karena kakeknya. Harusnya dia sadar kalau sejak awal dari udang dibalik batu atas keputusan kakeknya untuk pindah ke negara ini.

“Jeffrey.. Berapa uang yang ada di tabunganmu?” tanya Yein tiba-tiba.

Ditanya mengenai uang yang ada di rekeningnya membuat Jung Jaehyun bingung. Dia meminta Yein untuk tersenyum tetapi sang adik malah menanyakan jumlah tabungannya.

“Sekitar $16000. Kenapa memangnya?” tanya balik Jaehyun.

“Berikan semua tabunganmu untukku.” jawab Yein.

“Hah? Enak saja!” tolak Jung Jaehyun.

Ya kali dia mau memberikan uang sebanyak itu kepada adiknya. Walaupun kelak dia akan mendapatkan lebih banyak dari itu karena harta warisan tapi tetap saja uang segitu banyak masih berharga untuknya.

“Aku harus kabur dari tempat ini, aku mau kembali ke Hartford. Nanti aku bisa menyewa apartemen atau mungkin menumpang di rumah Vernon atau Shannon. Aish intinya aku mau kabur dari Seoul, Jae!!!!” pekik Yein frustasi.

Jung Jaehyun menutup telinganya saat sang adik berteriak layaknya orang gila. Pak Kwon yang sedang menyetir juga terkejut karena nyonya mudanya begitu murka karena keputusan sang kakek. Untung saja di depan tidak ada orang yang melintas. Kalau tidak, mungkin saja terjadi kecelakaan lalu lintas detik ini juga karena Pak Jinyoung sempat kehilangan fokus untuk mengemudi.

Calm down, Yein-ah. Turuti saja apa kata kakek. Dia tahu yang terbaik untuk kita.” pesan Jaehyun.

“Kau bisa berkata seperti ini karena bukan kau yang merasakannya, Jung Jaehyun!” oceh Yein.

Fine aku memang tidak merasakannya tapi kau tahu sendiri pilihan kakek tidak pernah salah sejak kita kecil, Yein.” balas Jaehyun berusaha untuk sabar kepada sikap sang adik yang bisa dikatakan kurang ajar kepadanya, “Dari kecil kakek yang membesarkan serta mengarahkan jalan kita. Aku rasa selama ini tidak pernah salah jalan karena mengikuti kata beliau. Jadi kalau kau tidak setuju dengan kepindahan kita ke Korea dan pertunanganmu yang konyol itu, kau harus menyikapinya dengan dewasa agar kau bisa mencari jalan keluarnya sendiri, Mrs. Jung!” lanjutnya.

Mendengar kalimat terpanjang Jung Jaehyun yang pernah Yein dengar—seumur hidupnya—barusan membuat hati Yein menggebu-gebu karena emosi. Jaehyun memang benar, dan itu yang membuatnya kesal. Sejak dulu kakeknya lah yang menentukan apapun yang terbaik—menurutnya—untuk cucunya padahal bisa saja Jungyeop menitipkan Yein dan Jaehyun kepada bibi mereka dikarenakan beliau sibuk mengurusi pekerjaan. Namun Lee Jungyeop bersikeras merawat cucu kesayangan tanpa campur tangan orang lain.

“Kau diam berarti aku benar, kan?” tanya Jaehyun.

“Terserah apa kata kau saja.” gumam Yein.

.

          Sesampainya di dalam kelas, Jung Yein duduk di tempat duduknya lalu menghembuskan napas secara kasar. Cheng Xiao yang menyadari sesuatu terjadi pada Yein menarik kursinya lalu menempatkannya di tempat duduk Yein. Melihat kedatangan Seongso yang tak diundang membuat Yein menatapnya tajam.

“Kenapa kau tidak pernah tersenyum sekalipun?” tanya Cheng Xiao.

“Ye?” bingungnya.

“Kau selalu saja memasang tampang datar atau kalau tidak memasang tampang menyeramkan seperti ini.” balas Cheng Xiao sambil menarik pipi Jung Yein.

“Ya!” kesal Yein tak terima.

Yein menghempaskan tangan Cheng Xiao yang menyentuhnya lalu melirik gadis itu dengan pandangan sinis. Mood Yein sedang tidak baik pagi hari ini, ditambah pula Cheng Xiao mengganggunya. Siapapun yang berada di posisi Yein pasti akan merasa jengkel.

Ya.. Aku mencoba untuk bersikap baik denganmu.” kata Cheng Xiao datar.

“Oh teman-teman! Selamat pagi!”

.

          Seseorang datang menghampiri Jung Yein dan Cheng Xiao ketika ia melihat kedua orang ini berkumpul. Orang yang menyapa barusan adalah Yoon Soyoon. Tanpa mengetahui bahwa aura yang dipancarkan oleh Jung Yein begitu gelap, Yoon Soyoon dengan riangnya menawarkan stick cokelat yang dia bawa kepada Yein.

“Kau mau?” tanya Soyoon.

“No thanks.” balas Yein singkat lalu menghadap ke depan berusaha tak memperdulikan kehadiran Cheng Xiao dan Soyoon.

“Harusnya kau menawarannya kepadaku, bukan si anak jutek ini.” celetuk Cheng Xiao.

“Oh ya? Kau mau Seongso?” tanya Soyoon lagi.

Ya! Siapa yang kau bilang jutek?” kesal Yein tak terima atas ucapan Cheng Xiao barusan.

You lah, siapa lagi memangnya.” balas Cheng Xiao dengan santainya.

Ya—“

“Kenapa semua orang berkumpul di tempatku?” tanya seseorang.

.

          Yein, Cheng Xiao, serta Yoon Soyoon langsung menoleh ke sumber suara. Ternyata sumber suara barusan berasal dari Jung Chanwoo yang telah masuk ke dalam kelas. Tak mau ambil pusing dengan pertanyaan Chanwoo barusan Jung Yein hanya duduk manis di tempatnya sembari memainkan ponsel yang baru saja dia keluarkan dari sakunya. Cheng Xiao dan Soyoon masih tetap memperhatikan Jung Chanwoo.

“Hai.. Kau tahu siapa namaku?” tanya Cheng Xiao kepada Chanwoo.

“Apa?” heran Chanwoo.

“Kau tahu siapa aku dan dia, dan nyonya jutek ini?” tanya Seongso lagi sambil menunjuk Soyoon dan Yein bergantian.

“Kau bercanda?” tanya balik Chanwoo yang mendadak dapat test nama teman sekelas dari si gadis asal tiongkok di depannya ini.

“Aku hanya bertanya. Tak apa kalau tidak menjawabnya.” balas Cheng Xiao.

“Cheng Xiao, asal China. Yoon Soyoon, cewek yang pernah menolak Son Youngtaek mentah-mentah. Dan yang terakhir, Jung Yein anak baru yang menyebalkan.” jawab Chanwoo.

Ketiga perempuan ini terkejut setelah mendengar jawaban Chanwoo dengan alasan yang berbeda. Cheng Xiao kaget saat mengetahui Soyoon pernah menolak Youngtaek—yang merupakan satu dari empat pria idaman di sekolah ini. Sementara Soyoon terkejut karena tak menyangka bahwa orang lain akan tahu mengenai kisahnya dan Youngtaek di masa lalu. Dan yang terakhir, Jung Yein tercenggang saat mendengar Chanwoo menyebutnya ‘anak baru yang menyebalkan’.

“Siapa yang kau sebut menyebalkan?” tanya Yein tak terima.

“Kau.” jawab Chanwoo singkat.

“Kau yang menyebalkan—“

Ya ya ya! Youngtaek pernah menembak Soyoon?” tanya Cheng Xiao bersemangat.

Krik! Semua anak di dalam kelas yang mendengar pertanyaan Cheng Xiao barusan langsung menoleh ke tempat duduknya karena telinga mereka sangat sensitif bila mendengar nama F4 disebut. Jung Chanwoo hanya menganggukan kepalanya lalu duduk di kursinya karena lelah berdiri usai meladeni wawancara dari Cheng Xiao.

“Cieee Yoon Soyoon! Kenapa kau tidak pernah bicara kalau kau pernah jadian sama Youngtaek?” goda Cheng Xiao.

“Hah?” Heran Soyoon. Wajah gadis bermarga Yoon ini memerah karena godaan Cheng Xiao barusan, entah karena malu atau malah menahan kesal karenanya. “Tidak pernah! Jangan mengada-mengada kalau kau tidak tahu ceritanya!” ujar Soyoon lalu berlari dari kelas.

Ya kau mau ke mana? Ceritakan dong apa yang terjadi!” seru Cheng Xiao yang telah berlari menyusul Soyoon.

.

          Setelah Soyoon dan Cheng Xiao pergi dari area tempat duduknya, Jung Chanwoo bernapas legah. Dia tak habis pikir dengan pertanyaan Seongso tadi yang menanyakan namanya dan juga teman sekelas. Walaupun Chanwoo jarang berinteraksi dengan anak sekelasnya, dia tahu siapa-siapa saja orang-orang yang ada di kelas termasuk latar belakangnya. Chanwoo tak sesombong itu kok walaupun dia begitu tenar di sekolahnya.

“Hei tuan!” panggil seseorang dari belakang.

Yup, orang itu adalah Jung Yein. Ia berusaha memanggil Jung Chanwoo agar menoleh kepadanya. Tapi bukan Chanwoo namanya kalau dia menurut begitu saja. Memangnya siapa Jung Yein yang berani memerintahnya seperti itu?

“Kau punya telinga, kan?” celetuk Jung Yein.

Sure.” balas Chanwoo.

“Aku sedang berbicara denganmu. Lihat ke sini!” titah Yein.

“Kenapa bukan kau saja yang muncul di hadapanku?” tantang Chanwoo.

Brag! Yein menggebrak meja lalu berdiri dari tempat duduknya. Baru saja dia hendak melangkahkan kaki menghadap di depan muka Jung Chanwoo, guru yang mengajar telah masuk ke dalam kelas dan memerintah ketua kelas menyiapkan siswa-siswa.

“Mungkin lain kali kita bicara face to face-nya, Jung Yein-ssi.” ledek Chanwoo.

“Tsk! Sialan!” batinnya.

.

          Saat jam istirahat sedang berlangsung Jung Yein berjalan seorang diri menuju kantin. Jangan tanyakan di mana keberadaan dua perempuan yang sejak kemarin terus mengusiknya, karena kedua orang itu sedang sibuk dengan urusan mereka yang belum selesai. Cheng Xiao masih sibuk mengejar Soyoon untuk meminta penjelasan masalah di antara gadis itu dan Son Youngtaek.

Ya anak baru! Urusan kita belum selesai!”

Tap! Langkah kaki Yein terhenti tatkala dia mendengar seseorang memanggilnya dengan sebutan anak baru. Ketiga siswi yang kemarin cari gara-gara dengan Yein tampaknya belum puas memberikan pelajaran kepada Yein karena kemarin sempat diganggu oleh kehadiran Cheng Xiao.

“Kalian lagi?” tanya Yein menantang.

“Ikut kita!” titahnya.

Yein tersenyum sinis lalu dengan santainya melangkah pergi meninggalkan ketiga orang itu. Dia lagi malas mencari gara-gara apalagi dengan orang yang sama. Pokoknya pulang sekolah nanti Yein harus pergi menemui pengacara pribadi keluarganya untuk segera menyelesaikan masalah ini.

“Kau tidak dengar ya apa yang kita katakan? Ya ikut kita!” pekik salah satu gadis itu.

Ya kau yang baru saja berteriak di koridor sekolah! Apa kau jawara SMA Woollim?” celetuk seseorang.

.

          Yein menoleh ke belakang saat mendengar seseorang baru saja memarahi perempuam-perempuan yang mencoba untuk menindasnya barusan. Kening Yein mengerut saat melihat sosok orang yang tak asing di matanya sedang merangkul salah satu gadis yang sekarang terlihat mati kutu dipelukan orang itu.

“Jung Yein apa orang ini mencari gara-gara denganmu?” tanya orang yang tak lain adalah Kim Jiho, teman baru oppa-nya Yein.

“Tungau-tungau itu mengusik ketenanganku, sunbae.” jawab Yein.

“Tungau?” pekik mereka.

Namun suara orang itu otomatis tak terdengar lagi ketika teman Jiho—yang tak bukan adalah Jung Chaeyeon merangkul gadis itu dan tersenyum pada Yein.

“Jangan khawatir Yein-ah. Kalau ada orang yang mencoba mengusik ketenanganmu boleh laporkan kepada eonnie, oke? Kita tidak akan tinggal diam kalau adiknya Jung Jaehyun dijahati oleh wanita-wanita ini.” ucap Chaeyeon.

Eonnie?” gumam Yein.

Namun karena ia merasa situasi ini menguntungkan untuknya Jung Yein tersenyum lebar kepada Chaeyeon dan Jiho dan memanggil mereka eonnie.

“Iya eonnie, sejak kemarin ketiga orang ini mengangguku padahal aku tidak punya salah apapun. Memangnya apa sih salahku sampai dijambak oleh mereka?” adu Yein.

MWO?! Kau dijambak oleh bocah-bocah ini?” pekik Jiho dan Chaeyeon.

Semua orang yang berada di koridor memperhatikan situasi di antara Yein, Jiho, Chaeyeon, dan ketiga orang yang membuli Jung Yein. Mereka penasaran ada drama apa di sekolah hari ini.

“Uhm.. Aku mendapatkan kekerasan dari mereka, maka dari itu nanti aku mau melaporkan kekerasan yang mereka lakukan kepadaku.” kata Yein.

Ya Kim Dahyun, Jang Yeeun, Jung Eunwoo! Cepat minta maaf ke Yein!” titah Jiho.

Sunbaenim.. Kami melakukannya karena.. karena—“

“Karena F4. Mereka menyebutku jalang karena F4 padahal aku tidak ada urusan apapun dengan keempat pria itu.” potong Yein.

“Jalang?!? Whoaaa kalian sungguh kelewatan! Jiho-ya ayo kita kasih pelajaran ke orang ini!” cerocos Chaeyeon.

“Kau benar Chaeyeon-ah! Tidak ada yang boleh memberikan kesulitan untuk uri Yein di sekolah ini!”

Su..sunbaenim!” rengek mereka.

Chaeyeon memegang Dahyun dan Eunwoo sementara Kim Jiho dengan posisi masih merangkul Yeeun menyeret mereka ke tempat sepi untuk menyelesaikan perkara mereka dengan Jung Yein.

.

          Merasa urusannya dengan ketiga pengacau itu telah selesai, Jung Yein menghela napas legah lalu membalikan badannya. Namun begitu dia menghadap ke depan pandangan Yein terhadang karena seseorang berdiri di hadapannya.

“Oh anak baru. Senangnya berjumpa lagi!” seru seseorang yang tak lain adalah Yuvin.

“Oh anak lama, sayang sekali kita berjumpa lagi.” celetuk Yein yang langsung bergerak ke samping dan pergi meninggalkan Yuvin berserta tiga orang temannya.

.

          “Ya Song Yuvin kau serius tertarik dengan cewek itu?” Tanya Moon Bin yang tak habis pikir saat melihat sahabatnya menegur Jung Yein. Yuvin sendiri hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli mendengar jawaban cuek Yein kepadanya.

“Apa salahnya sekedar tertarik?” tanya balik Yuvin.

Ya kalau Suji dengar kau pasti akan dicincang habis-habisan dengannya.” celetuk Youngtaek.

“Dia tidak akan tahu kalau kalian tak memberitahukannya kok.” jawab Yuvin.

“Kalau begitu aku yang akan memberitahukan peringai busukmu kepada Lee Suji.” celetuk Chanwoo.

Ya!! Aku hanya bercanda. Apa salahnya menegur orang?” rutuk Yuvin.

Ia berjalan mendahulu ketiga orang temannya karena kesal disudutkan. Chanwoo yang melihat tingkah Yuvin hanya bisa menggelengkan kepalanya dan mengajak Bin dan Youngtaek untuk bergegas menghampirinya.

“Ayo susul dia! Kerjaannya marah melulu padahal sudah jelas dia yang memulai duluan.” cibir Chanwoo.

“Ya kau tahulah, kalau dia tidak begitu bukan Song Yuvin namanya.” celetuk Moon Bin.

“Ayo susul Yuvin!” ajak Youngtaek.

.

          Sepulang sekolah Jung Yein beristirahat di dalam kamarnya untuk menghilangkan rasa penat setelah berada di sekolah seharian. Di mobil tadi sama sekali dia dan Jaehyun tidak bertegur sapa karena kejadian pagi tadi. Yein terlalu gengsi untuk mengajak kakaknya bicara terlebih dahulu, sementara Jung Jaehyun ingin menguji sejauh mana adiknya bisa bertahan tanpa berbicara dengannya.

Tok..tok..tok..

“Permisi nona Yein?”

Terdengar suara seseorang dari balik pintu memanggil Jung Yein. Tampaknya yang memanggil barusan adalah pembantu rumah tangga yang memang disiapkan khusus untuk menyiapkan keperluan Yein di rumah.

“Masuk!” seru Yein yang malas berjalan membukakan pintu.

Krek..

Pintu terbuka dan masuklah pelayan yang sudah berkepala lima itu ke kamar Yein. Beliau membawa sesuatu di tangannya lalu berjalan menghampiri nyonya muda Jung.

“Tuan Lee memberikan perintah agar saya memberikan paketan ini kepada nona Yein.” pesannya.

Bibi Song—sapaan akrab Yein ketika memanggilnya—meletakan paketan yang dibungkus rapi itu di atas kasur Yein untuk mempersilakan nona mudanya mengecek isi paket itu.

“Ini apa?” tanya Yein.

“Saya juga tidak tahu nona.” jawab bibi Song.

Yein pun membuka kotak yang dibawakan oleh bibi Song untuk melihat isinya. Ternyata kotak itu berisikan gaun dengan sebuah note tercantum di dalamnya.

“Pakai gaun ini untuk malam nanti. Kakek.” eja Yein.

Selesai membaca catatan kecil yang ternyata diberikan oleh kakeknya, Jung Yein menghela napas secara perlahan. Ternyata sang kakek bersungguh-sungguh dengan acara makan malam bersama keluarga tunangannya nanti. Yein tidak tahu harus bagaimana untuk menghindari acara ini. Apa dia pura-pura sakit saja?

Ah, tidak bisa!

Yein ingat ketika mereka masih tinggal di Amerika dia pernah berpura-pura sakit karena tidak mau ikut ke acara perayaan ulang tahun perusahaan kakeknya. Karena berakting sakit, sang kakek langsung mendatangkan beberapa dokter pribadi untuk memeriksakan kesehatan Yein dan hasilnya Yein ketahuan berbohong. Dia trauma memakai cara seperti itu untuk mengelabuhi kakeknya.

“Nona muda himnae!” ucap bibi Song yang tahu kalau Jung Yein sedang frustasi menghadapi permasalahannya.

“Terima kasih bi tapi tolong bibi segera keluar dari kamarku. Aku mau beristirahat dulu.” ujar Yein yang langsung berbaring di atas ranjangnya.

“Baiklah nona. Selamat beristirahat.” pamit bibi Song yang langsung keluar dari kamar Jung Yein.

.

          “Yein-ah! Kau sudah bersiap-siapkan?!” Jung Yein memenangkan perang dingin di antara dirinya dan Jung Jaehyun. Hal itu ditandai dengan Jaehyun yang terlebih dahulu memanggil nama dan menanyakan apakah dirinya sudah bersiap atau belum. Dari dalam kamarnya Jung Yein tersenyum penuh kemenangan lalu membuka pintu kamarnya dan kembali memasang tampang datar.

“Sudah.” jawab Yein singkat.

Jaehyun memperhatikan adiknya dari atas hingga bawah. Yein terlihat cantik dengan balutan dress punih yang dia kenakan sepanjang lutut itu. Jaehyun rasa siapapun calon tunangan Yein nanti tak akan menyangkal kecantikan yang dipancarkan oleh adiknya.

“Ya sudah ayo kita turun! Kakek sudah menunggu di bawah.”

“Aish.. Apa kau tidak punya rencana agar aku bisa terbebas dari rencana gila ini, Jeff?” tanya Yein.

“Kau mau mengungkit masalah ini lagi? Kau tidak ingat apa yang tadi aku katakan padamu?” tanya balik Jaehyun.

“Cih.. Ya sudah kalau tidak ada.” balas Yein lalu melangkahkan kakinya untuk segera turun ke bawah.

.

          Chanwoo membenahi letak dasi kupu-kupu yang dia kenakan sembari menunggu tamu jamuan makan malam tiba. Dia melihat ayah dan ibunya sibuk berbincang bersama untuk membahas perihal yang hendak dibicarakan nanti kepada tamu mereka. Sudah nasib pewaris tahta untuk terjebak di situasi seperti ini sejak mereka kecil. Padahal Chanwoo sangat ingin bermain dengan Song Yuvin yang pagi tadi mengajak mereka untuk hangout.

“Chanwoo-ya bajumu sedikit berantakan, benahi di toilet sana.” kata sang ibu yang menyadari baju anaknya tak rapi.

“Baik bu.” sahut Chanwoo yang langsung pergi meninggalkan tempatnya.

.

          Seperti perintah dari ibunya barusan, Jung Chanwoo langsung pergi menuju toilet untuk memperbaiki bajunya yang terlihat sedikit berantakan. Padahal Chanwoo merasa penampilannya baik-baik saja, tapi ya sudahlah, dia harus menuruti apa perkataan ibunya.

“Lewat sini tuan.”

Chanwoo sedikit menggeser posisinya ketika melihat ada rombongan orang yang berjalan berlawan arah dengannya. Ketika rombongan orang itu lewat tak sengaja pandangan Chanwoo tertuju pada sosok perempuan yang tak asing lagi di matanya. Chanwoo melihat Jung Yein yang saat ini sedang memasang tampang datar dengan seorang pria—yang tak lain adalah Jaehyun—berada di sampingnya. Sesekali Jung Jaehyun membisikan sesuatu ke telinga Yein sehingga gadis itu terlihat kesal atas apa yang diucapkannya, “Jadi dia memang selalu memasang tampang menyebalkan setiap harinya. Jung Yein..” gumam Chanwoo lalu kembali melanjutkan langkah kakinya menuju toilet pria.

.

          Setelah membenahi pakaiannya di toilet Jung Chanwoo langsung keluar dari tempat itu. Namun tak sengaja dia berpapasan dengan seseorang yang sangat ia kenal. Tampaknya orang yang berada di depan muka Chanwoo itu juga terkejut melihat kehadiran temannya di tempat yang sama dengannya.

Heol.. Kau ada acara makan malam di tempat ini, Chanwoo-ya?” tanya orang itu.

Eoh.. Kau ada urusan apa di sini?” tanya balik Chanwoo.

“Aku diseret ke tempat ini karena kau tidak mau menemaniku hangout malam ini, pabo-ya!” rutuknya.

Tsk, Song Yuvin! Kau tahu sendiri bagaimana orangtuaku mewajibkan aku menomor satukan urusan bisnis.” omel Chanwoo.

“Nasi sudah menjadi bubur, aku sudah di sini jadi tidak ada gunanya lagi marah kepadanya.” balas Song Yuvin.

“Ya sudah, kalau begitu aku duluan. Sampai jumpa besok.” pamit Chanwoo.

“Bye…”

.

          Jung Yein sudah berada di ruangan VVIP yang dipesan oleh kakeknya bersama tamu yang kelak akan menjadi bagian dari keluarganya—itu yang tadi dikatakan sepanjang jalan menuju ruangan ini. Yein memaksakan diri untuk memasang senyum palsu dihadapan orangtua calon tunangannya. Karena apabila dia tidak tersenyum ketika berhadapan dengan tamu kakeknya, Jung Yein bisa habis diomeli oleh Jungyeop saat pulang ke rumah nanti. Dan juga kaki Jung Jaehyun yang ada di bawah meja sudah siap menendangnya apabila Yein membuat malu keluarga mereka.

“Maaf saya terlalu lama berada di luar.” celetuk seseorang.

.

          Seorang pria yang kelak menjadi tunangan Jung Yein baru saja masuk ke dalam ruangan VVIP ini. Semua orang memusatkan perhatian mereka kepada pria tersebut, termasuk seorang Jung Yein. Ketika menyadari calon tunangannya merupakan orang yang dia ketahui, mata sipit Yein langsung membulat lebar. Dia tak percaya dengan apa yang sedang terjadi dihadapannya!

“Oh sayang, ayo cepat duduk. Kau membuat Tuan Lee dan cucu-cucunya menunggu lama.” celetuk ibu si pria itu.

“Maaf bu tadi aku bertemu dengan—” Ucapan pria itu terhenti tatkala dia melihat kehadiran Yein yang juga tengah melihat ke arahnya, “Anak baru?!” pekiknya tak percaya.

“Oh.. jadi Yein dan Yuvin sudah saling mengenal satu sama lain ya? Wah baguslah! Ternyata pilihan yang tepat sekali memasukan kalian ke sekolah yang sama.” seru Jungyeop yang senang melihat cucunya telah mengenal Song Yuvin alias tunangannya.

Yein menggepalkan kedua tangannya yang berada di bawah meja sekeras-kerasnya. Tak menyangka bahwa si tunangan itu adalah pria yang tergolong sebagai F4 di sekolahnya. Kesialan apa yang sedang menimpa Jung Yein yang harus menerima kenyataan pahit ini.

Daebak! Tunanganmu adalah anggota F4, eh? Kau pasti tidak kecewa kan Jung Yein?” bisik Jaehyun menggoda adiknya.

“Sial. Diam kau Jung Jaehyun!” umpat Yein.

.

          Chanwoo menghabiskan makan malamnya yang membosankan dengan kolega orangtuanya. Kalau boleh memilih Jung Chanwoo lebih suka makan seorang diri di kamarnya dibandingkan makan beramai-ramai di tempat seperti ini namun tak paham tentang apa yang dibicarakan. Chanwoo sadar kalau suatu saat ia yang akan menggantikan posisi sang ayah untuk menghadiri makan malam bisnis seperti ini. Tapi tetap saja ia tidak suka berada di posisi membosankan seperti ini.

Dddrrrttt…

Ponsel Chanwoo yang ada di atas meja bergetar. Untung saja Chanwoo sempat mengganti ponselnya ke mode getar, kalau tidak bisa saja orangtuanya dan tamu mereka akan terganggu karena ponselnya.

.

          Chanwoo membuka pesan yang baru saja masuk ke dalam handphonenya. Ternyata pesan itu dikirimkan oleh Yuvin kepadanya. Tanpa banyak bertindak, Chanwoo langsung membaca pesan yang dikirimkan oleh temannya dan pesan itu berisikan nada—

Yuvin                   : Kau mau tahu cerita mengejutkan tidak?!

Chanwoo    : Tidak

Yuvin                   : Aku serius!!!

Chanwoo    : Aku juga serius. Bukannya kau sedang sibuk dengan acara makan malammu?

Yuvin                   : Uhmm aku izin keluar. Lagian mereka sedang membicarakan bisnis mereka.

Chanwoo    : Oh

Yuvin                   : Temui aku di rooftop! Aku mau memberitahu sesuatu kepadamu.

Chanwoo    : Ok. Beri aku waktu 5 menit.

Yuvin                   : Okeeeee!!!!

Setelah membawa pesan terakhir dari Yuvin, Chanwoo langsung berdiri dari tempatnya dan menghampiri sang ibu. Ia membisikan sesuatu ke telinga ibunya yang mana dia hendak meminta izin untuk pergi keluar sejenak. Ibu Chanwoo hanya menganggukan kepalanya lalu melanjutkan perbincangannya dengan istri rekan bisnis ayah Chanwoo. Setelah mendapatkan izin dari ibunya Chanwoo pun langsung berjalan menuju atap restauran ini untuk menemui Song Yuvin.

.

          “Whoaaa Jung Chanwoo! Kau tahu tidak apa yang terjadi padaku?” Baru saja Chanwoo berjalan menghampiri Yuvin yang tengah bersender di dinding pembatas langsung dihadiahkan pertanyaan dari sahabatnya. Tentu saja Chanwoo tidak tahu apa yang terjadi pada Yuvin. Memangnya dia seorang peramal?

“Mau aku tahu. Ada apa memangnya?” tanya Chanwoo.

Setelah Chanwoo berada di sebelahnya, Yuvin memberikan kopi kaleng yang sempat dia beli tadi kepada Chanwoo. Jung Chanwoo menerima kopi tersebut dengan senang hati lalu langsung membuka tutup kaleng tersebut dan meneguk kafe instan tersebut.

“Kau tahu tidak? Aku baru saja mendapatkan durian runtuh!” seru Yuvin.

“Ah… tapi aku tidak suka durian.” respon Chanwoo.

Ya itu hanya istilah! Pokoknya aku baru saja mendapatkan sesuatu yang bakalan membuat kalian syok! Berhubung kau ada di tempat yang sama denganku saat ini, maka kau orang pertama yang tahu.” kata Yuvin.

“Ya apa? Tidak bisakah kau langsung berbicara ke intinya? Aku tidak suka basa-basi!” balas Chanwoo.

Fine, Jung Chanwoo! Aku dijodohkan dengan Jung Yein, si anak baru itu loh!” seru Yuvin.

“Hah? Apa katamu? Dijodohkan dengan Jung Yein?” ulang Chanwoo.

Yuvin menganggukan kepalanya bersemangat. Tentu saja dia senang, awalnya dia hanya tertarik karen Yein menarik di matanya. Tak diduga kalau dirinya akan dijodohkan oleh orangtuanya kepada si anak baru itu. Beruntungnya Song Yuvin!

Eoh.. Aku dijodohkan dengannya. Yaaaa kau tahu ini sungguh daebak!” seru Yuvin.

Daebak katamu? Lalu Lee Suji?” tanya Chanwoo.

“Suji? Ah… Lee Suji…”

Song Yuvin mendadak diam karena memikirkan kekasihnya yang jauh di sana. Karena terlalu bersemangat dengan perjodohannya Yuvin jadi lupa kalau dia memiliki hubungan dengan Lee Suji. Melihat Yuvin yang mendadak bisu saat Chanwoo menyebut nama Suji membuat pria bermarga Jung itu tersenyum sinis.

“Tsk.. Sepertinya bertunangan dengan Jung Yein tidak semudah yang kau bayangkan, Yuvin-ah.” ucap Chanwoo.

“Selagi tidak ada yang memberitahu Suji, maka dia tidak akan mengetahui apa yang terjadi padaku di Korea. Jadi two timing tidak jadi masalah, kan?” celetuk Yuvin.

Mendengar jawaban sahabatnya barusan membuat Jung Chanwoo naik pitam. Ia mengepalkan tangannya dan berusaha keras untuk tidak terpancing emosi dengan jalan pikiran Yuvin yang tidak waras.

“Begitu? Terserah kau saja.” kata Chanwoo.

“Menurutmu apa ya reaksi yang akan ditunjukan Moon Bin dan Youngtaek kalau aku menceritakan hal ini?” celetuk Yuvin yang tak menyadari perubahan emosi sahabatnya.

“Entahlah, lihat saja besok bagaimana reaksi mereka. Mungkin merasa akan merasakan hal yang sama denganku.” celetuk Jung Chanwoo, “Ngomong-ngomong aku harus kembali ke ruanganku. Aku hanya izin sebentar untuk ke tempat ini.” pamitnya.

“Oh baiklah.” balas Yuvin.

“Terima kasih untuk kopinya. Sampai jumpa besok, cheater!” sindir Chanwoo.

“Hahahahaha sialan. Sampai jumpa besok Jung Chanwoo!” kekeh Yuvin.

Advertisements

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s