F4 Season 2 [Chapter 4]

F4 Seaason 2 (2)

F4
Season 2

By Fanita

Main Cast : Lovelyz Yein – Ikon Chanwoo

Casts : Golden Child Youngtaek – Astro Moon Bin – Myteen Yuvin – WG Soyoon – WJSN Cheng Xiao – ETC..

Genre : School Life – Romance – Friendship – Fluff || Type : Chapter || Rating : PG-15

“Kemarin aku melihatmu.” Baru saja Jung Yein menempatkan bokongnya di kursi, pria yang tempat duduknya tepat di depannya tiba-tiba saja bersuara. Jung Chanwoo, pria itu memutar posisi tubuhnya ke belakang lalu melihat Yein yang tampak bingung karena Chanwoo begitu terburu-buru membuka topik pembicaraan.

“Apa katamu?” heran Yein.

“Selamat bertunangan dengan Song Yuvin, anak baru.” celetuk Chanwoo.

“Kau tahu?!”

Chanwoo tersenyum miring, “Apa sih yang tidak aku ketahui di dunia ini?”

“Sial. Aku tidak ada hubungan dengan orang itu!” bantah Yein.

“Kalau Yuvin dengar kau bisa melukai perasaannya.” balas Chanwoo.

Whatever.”

Demi menghindari pembicaraan dengan Jung Chanwoo, Yein pun mengambil earphonenya dari dalam tas dan memasang earphone itu ke telinganya.

Silly girl.” celetuk Chanwoo.

Ya aku dengar apa yang kau katakan!” hardik Yein.

“Haha.. kau memang menyebalkan.” kekeh Chanwoo yang langsung menghadap kembali ke depan.

.

Yuvin terlihat bahagia sampai-sampai sejak tadi senyum yang terukir di bibirnya tak kunjung redup. Ia sangat suka dengan fakta bahwa dia bisa mendekati Yein sesuka hatinya karena mereka ‘bertunangan’. Moon Bin yang melihat keganjalan dari temannya langsung menegur Yuvin dan menanyakan apa yang terjadi pada dirinya.

“Kau baru dapat lotre ya? Dari tadi senyum terus.” tegur Moon Bin.

“Ini bukan lotre! Tapi ini sungguh sungguh daebak, Bin-ah!” seru Yuvin.

“Suji bakalan pulang ke Korea?” tebak Youngtaek.

“Bukan, dia masih sibuk di sana kan? Pokoknya ini sesuatu yang membuat kalian heboh deh kalau dengar!”

“Apa? Apa?” tanya Bin.

Krek..

Pintu ruangan F4 terbuka dan masuklah Jung Chanwoo ke dalam ruangan tersebut. Ketiga temannya spontan menoleh kepada laki-laki itu sehingga Chanwoo sendiri menjadi keheranan.

“Kenapa? Ada yang aneh dariku?” tanya Chanwoo.

Ia berjalan menghampiri teman-temannya dan duduk di sebelah Son Youngtaek.

“Yuvin bilang dia mendapatkan sesuatu yang lebih besar dibandingkan lotre. Kau bisa menebaknya tidak?” tanya balik Youngtaek.

“Ah…” Chanwoo melirik Yuvin yang saat ini sedang tersenyum seperti orang idiot. Jelas saja Chanwoo tahu apa yang membuat pria itu mati kegirangan sejak semalam, “Dia baru saja tunangan.” celetuk Chanwoo.

“Huh? Tunangan dengan Suji? Kenapa tidak cerita?” pekik Moon Bin.

“Siapa bilang dia tunangan dengan Suji? Dia tunangan dengan anak baru itu kok.” kata Chanwoo.

“Ye?!”

Moon Bin dan Youngtaek saling pandang satu sama lain karena tak mengerti dengan apa yang Chanwoo katakan barusan. Sementara Yuvin tertawa terbahak-bahak karena sudah menebak bahwa Bin dan Youngtaek tidak akan percaya dengan apa yang dia dengar.

“Iya. Aku dan Yein bertunangan.” aku Yuvin.

“Heol… bagaimana bisa?” bingung Youngtaek.

“Youngtaek-ah… kau hidup di dunia seperti apa sih? Hal begini lumrah tau untuk kita.” tegur Jung Chanwoo.

“Y..ya iya tahu tapi mendadak sekali. Apa ini alasan kenapa dia pindah ke sekolah ini?” tanya Youngtaek.

“Iya kurang lebih itu alasan dia pindah ke sini. Karena kakeknya menjodohkan aku dengan dia.” balas Yuvin.

Ddrrttt…

Tiba-tiba saja ponsel Chanwoo berdering. Chanwoo mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan melihat siapa yang menghubunginya. Ketika tahu si penelpon adalah orang yang harus dirahasiakan, Chanwoo langsung berdiri dari tempatnya dan berjalan keluar dari ruangan F4.

“Sok penting sekali sampai keluar segala.” heran Yuvin.

“Seperti tidak tahu Chanwoo saja.” balas Youngtaek.

Ya lanjutkan ceritamu saat dijodohkan dengan Yein.” desak Moon Bin.

“Ah iya jadi begini ceritanya….”

.

“Yein ayo ke kantin bareng!”

“Yein! Kau mau ikut aku ke ruang musik tidak?”

Satu kata yang menggambarkan perasaan Yein saat ini. Geram. Ia sangat pusing mendengar Soyoon dan Cheng Xiao yang sibuk mengajaknya pergi ke kantin atau pun ruang musik padahal saat ini dia tidak ingin diganggu. Yein juga heran dengan kedua orang ini yang malah menempel padanya padahal Yein sama sekali tidak tertarik untuk berteman dengan mereka.

“Aku mau ke toilet.” celetuk Yein.

“Aku temanin deh!” seru Soyoon, “Udah itu kita ke ruang musik ya!” lanjutnya lain.

Yein menggelengkan kepalanya—tanda menolak tawaran Yoon Soyoon barusan.

“Maksudku… bisakah kalian memberikan aku space sebentar saja? Aku tidak suka diikuti begini.” kata Yein.

Why not? Kau tidak suka dengan kami?” tanya Cheng Xiao.

“Ya.. tidak…” jawab Yein kikuk. Dia memang tidak suka sama mereka tapi ya gitu…, “Maksudku bukan aku tidak suka sama kalian. Hanya saja aku sedang ingin sendiri. Aku mau memikirkan jalan keluar dari permasalahanku seorang diri tanpa ada orang lain di sampingku. Kalian mengerti?”

Cheng Xiao dan Soyoon saling pandang satu sama lain dan akhirnya mereka mengerti bahwa Yein sedang tidak ingin diganggu.

“Iya deh, kami berdua ke kantin kalau begitu.” pasrah Soyoon.

“Kalau begitu aku pergi duluan. Bye!” pamit Yein yang langsung berlari meninggalkan Soyoon dan Seongso di koridor sekolah.

.

“Jangan sampai bertemu dengan tunangan sialan itu. Jangan sampai!” rutuk Yein sepanjang jalan menuju taman sekolahannya. Sejak semalam dia tidak bisa tidur setelah mengetahui kenyataan bahwa dia akan ditunangkan dengan salah satu anggota F4 yang bernama Song Yuvin. Jung Jaehyun juga menyebalkan. Yein meminta saran kepadanya agar mencari jalan untuk menghindari perjodohan konyol ini, akan tetapi pria itu malah meledek Yein dan tak henti-hentinya mengejek Yein kalau dia akan menikah setelah lulus SMA nanti. Lalu semalam Yein sudah merengek kepada kakeknya untuk membatalkan acara perjodohan ini tapi beliau malah mengatakan ‘tidak’ karena keputusannya sudah bulat.

“Aku mau mati saja deh kalau begini caranya—”

“Aku tidak menutupi apapun darimu, Suji-ya.”

.

Mulut Yein langsung tertutup rapat saat dia melihat seorang pria yang duduk membelakanginya tengah berbicara dengan seseorang melalui telepon genggam. Pria itu berbicara dengan lembut kepada orang yang tengah dihubungi olehnya. Orang itu terlihat tidak asing di mata Jung Yein dan ternyata dia adalah…

“Suji-ya.. kapan seorang Jung Chanwoo berbohong padamu?”

Ya, dia Chanwoo. Tanpa menimbulkan bunyi dari langkah kakinya, Jung Yein menghampiri Chanwoo dan berdiri di belakangnya. Dia penasaran dengan siapa pria cocky ini berbicara.

“Sudah aku bilang Yuvin lagi tidur di ruangan. Nanti aku sampaikan padamu kalau dia sudah bangun. Kau mau dia menghubungimu kan?”

“…”

“Aku tahu. Bukankah di LA sudah malam? Lebih baik kau tidur.”

“…”

“Ya.. uhm.. ya.. good night Lee Suji.”

.

Chanwoo mematikan sambungan telepon antara dia dan Suji secara sepihak. Ia meletakan ponsel miliknya di kursi panjang yang dia duduki lalu menghela napas secara kasar dan bergumam seorang diri.

“Maaf karena sudah berbohong.” lirihnya.

“Wow… Kau bisa mengucapkan kata maaf juga ya, tuan?” celetuk Yein.

Jung Chanwoo kaget saat mendengar suara seseorang ada di belakangnya. Ia pun langsung menoleh ke belakang dan detak jantungnya berdegup sangat kencang karena tak menyadari bahwa sejak tadi ada orang yang menguping pembicaraannya. Apalagi orang itu adalah di anak baru yang menurutnya sungguh silly.

Ya sejak kapan kau di belakangku?” tanya Chanwoo.

“Saat kau mengatakan maaf?” dusta Yein.

“K..kau tidak mendengar apapun kan?” tanya Chanwoo lagi.

“Kenapa kau panik? Apa aku baru saja memergoki seseorang yang sedang selingkuh?” omel Yein.

“Selingkuh? Tsk! Jangan asal bicara.” rutuk Chanwoo.

“Kalau tidak benar ya kenapa kau harus marah? Santai saja!” cibirnya.

“Lagian kenapa pula kau ada di sini?” tanya Chanwoo.

“Suka-suka aku lah. Memangnya sekolah ini punyamu sehingga kau bisa mengatur aku mau di mana?”

Mendengar ucapan Yein barusan membuat Chanwoo menunjukkan seringainya, “Miss.. Sekolah ini memang punyaku, jadi aku bisa mengatur kau harus berada di mana sesuai yang aku mau kan?”

Shit. Yein mengumpat dalam hatinya. Ia lupa kalau semalam saat kakeknya dan orangtua Yuvin berbicara, mereka sempat mengatakan tentang siapa pemilik yayasan dari sekolah mewah ini. Tak bukan, pemilik sekolah ini adalah keluarganya Jung Chanwoo yang merupakan teman baik orangtuanya Yuvin.

“Ya sudah aku cari tempat lain saja.” ujar Yein.

Ketika ia hendak membalikan badan, tangan Chanwoo menyentuh tangan Jung Yein sehingga gadis itu kembali menoleh padanya.

Ya dont touch me!” hardik Yein.

“Cih..” Chanwoo langsung melepaskan tangannya yang memegang pergelangan tangan Yein tadi, “Siapa juga yang mau nyentuhmu.” lanjutnya.

“Barusan kau menyentuh tanganku. Itu pelecehan seksual tahu!” omel Yein.

“Pe..pelecehan seksual?” ulang Chanwoo.

“Ya, dasar predator!”

“Seenak jidatmu saja! Diletakan di ruangan yang sama selama sepuluh hari denganmu tidak akan pernah membuatku tertarik untuk melihat tubuhmu apalagi melakukan pelecehan seksual. Jangan sembarangan bicara!” rutuk Chanwoo.

What the fuck?!”

Jung Chanwoo berdiri dari kursi yang ia duduki lalu berjalan meninggalkan Jung Yein. Karena sejak awal niat Chanwoo memang membiarkan Yein tetap sendiri dan ia yang pergi meninggalkannya. Toh urusannya di tempat ini sudah selesai.

“Duduk sepuasmu di situ! Kalau bisa jangan masuk lagi ke kelas. Bye mrs. silly!” pamit Chanwoo.

“Dih! Menyebalkan!” umpat Yein sembari melihat punggung Chanwoo yang mulai menjauh dari pandangannya.

.

Walaupun kesal dengan cara Chanwoo menyampaikan padanya untuk menempati tempat ini seorang diri, Yein pada akhirnya duduk di tempat yang tadi ditempati oleh Jung Chanwoo. Saat ia menempatkan bokongnya di kursi taman yang dicat putih tersebut, tak sengaja Yein merasa ada yang ganjal di tempatnya. Ia merabah ke bawah untuk mengetahui apa yang membuat tempat duduknya tak nyaman dan ternyata itu adalah ponsel Jung Chanwoo yang tertinggal.

“Heol.. Ponsel bajingan itu?” heran Yein pada dirinya sendiri.

Yein menyalakan ponsel bermerk Iphone 7 tersebut dan melihat locksreen yang terpajang. Terpampanglah foto Jung Chanwoo dengan seorang gadis yang tak pernah Yein sebelumnya.

“Pacarnya ya?” gumam Yein.

.

Jung Yein berjalan menuju ruangan F4 untuk mengembalikan ponsel Chanwoo yang tertinggal. Ia tak sejahat itu untuk meninggalkan ponsel Chanwoo atau bahkan menjualnya. Ketika Yein sudah berada di depan pintu ruangan tersebut, dari dalam sana seseorang sudah membuka pintu terlebih dahulu. Yein pun syok saat ia tahu yang membuka pintu adalah Song Yuvin.

“Yein-ah kau mau bertemu dengan tunanganmu yang tampan ini ya?” tanya Yuvin menggoda.

You wish.” gumam Yein.

Yein melihat dari celah pintu yang belum tertutup. Ia hanya melihat Bin dan Youngtaek namun tidak dengan Jung Chanwoo.

“Kenapa? Kau mau masuk ke dalam? Mau bolos pelajaran denganku?” tanya Yuvin lagi.

“Sialan.. berisik sekali orang ini.” umpat Yein pelan.

“Kau bilang apa barusan?”

“Jangan banyak omong Song Yuvin-ssi!” ucap Yein lalu pergi meninggalkan laki-laki itu.

Tujuan untuk mencari Chanwoo malah membawa petaka untuknya. Hah.. Kenapa berbuat baik untuk mengembalikan ponsel Chanwoo malah terasa sulit bagi Yein? Ini semua karena Song Yuvin sih yang muncul di hadapannya secara tiba-tiba!

.

Jam pelajaran sudah di mulai sejak 30 menit yang lalu tapi tidak ada tanda-tanda Jung Chanwoo masuk ke dalam kelas. Yein sejak tadi menunggu kedatangan pria menyebalkan itu untuk mengembalikan ponselnya tapi Chanwoo sama sekali tak memunculkan batang hidungnya, “Apa dia lagi nyari ponselnya yang hilang ya?” batin Yein.

.

Di sisi lain, Jung Chanwoo sedang menikmati hembusan angin yang menerpa wajah tampannya di atap gedung sekolahnya. Ia sedang tidak mood untuk belajar makanya Chanwoo memilih untuk menyendiri di tempat ini. Sebetulnya bisa saja Chanwoo memilih untuk bolos ke ruangan F4, tapi saat ia tahu bahwa Yuvin menempati tempat itu Chanwoo pun mengurungkan niatnya. Saat ini satu-satnya orang yang ingin Chanwoo hindari adalah Song Yuvin.

.

Bukan tanpa alasan Chanwoo ingin menghindari Yuvin. Semenjak mendengar cerita Yuvin bahwa dia dijodohkan dengan si anak baru, Chanwoo agak malas untuk berhadapan dengan temannya. Ditambah pula ia mendapatkan telepon dari Suji yang mengadu padanya kalau Yuvin tidak menghubunginya sejak 6 hari belakangan ini, “Kenapa kau harus menyukai orang seperti Yuvin, Suji-ya?” lirih Chanwoo.

.

Berada di antara cinta segitiga dengan sahabat sendiri membuat Chanwoo jengah. Diam-diam dia menyukai Lee Suji—yang memang dekat dengan F4—sejak 4 tahun yang lalu. Tapi sayang, di antara keempat orang itu yang memikat hati Suji malah Song Yuvin, bukannya Chanwoo. Suji sangat menyukai Yuvin sehingga dia memberitahukannya kepada Chanwoo yang memang paling dia percaya dibandingkan Bin dan Youngtaek. Ketika tahu bahwa orang yang dia suka malah menyukai teman baiknya Chanwoo merasa patah hati. Ia masih ingat betapa memelasnya Suji memohon kepadanya untuk menjodohkan dia dengan Yuvin sampai akhirnya mereka berpacaran.

“Ayolah Chanwoo-ya please atur kencan buta untukku dan Yuvin. Please!”

“Kenapa aku harus melakukannya? Minta saja dengan Youngtaek atau Bin atau kalau perlu kau ajak langsung Yuvin pergi sana!”

“Huft.. Karena kau sahabatku, dan kau sahabatnya Yuvin. Bukannya bakalan lebih seru ya kalau di antara kita ada yang berpacaran nantinya? Aku lebih mempercayaimu daripada Taek dan Bin jadi please bantu aku.”

“Aku tidak mau. Itu merepotkan Suji-ya.”

“Huft oke kalau kau memang tidak mau melakukannya! Aku akan marah padamu dan tidak menegurmu lagi sebelum kau mengatur kencan buta untukku.”

“Kau mengancamku ya?”

“Aing.. Chanwoo-ya please? Bukannya kau mau melakukan apapun demi aku? Aku dulu bilang begitu ke aku loh!”

“Meskipun kau memohon padaku seperti itu—”

“Kumohon!”

“Kau dan Yuvin? Sulit bagiku Suji—”

“Please? ya? ya? ya?”

“Hm.. baiklah aku akan mengaturnya.”

“Assa! Kau yang terbaik Chanwoo!”

“Harusnya aku menolak permintaannya waktu itu. Kau bodoh sekali Jung Chanwoo.” gumamnya.

.

Tak ada satu orang pun yang berada di kelas ini untuk menemani Jung Yein. Sejak tadi kelas sudah dibubarkan karena bel pulang sekolah telah berbunyi. Hanya Yein yang masih berada di dalam ruangan karena dia menunggu Chanwoo untuk datang menghambil tasnya dan mengembalikan ponsel Chanwoo yang tertinggal.

“Jangan bilang dia sudah pulang.” rutuk Yein.

Tapi ketika Yein melihat tas serta beberapa buku Chanwoo yang masih ada di mejanya membuat gadis itu menggelengkan kepala. Tidak mungkin Chanwoo membiarkan barangnya ia tinggal seperti itu.

“Ke mana si anak itu?” gumamnya.

.

Chanwoo berjalan dengan langkah tertatih ke dalam kelas setelah menghabiskan waktunya di atap gedung. Ia sibuk meratapi nasib cintanya yang bertepuk sebelah tangan hingga akhirnya ketiduran. Chanwoo saja kaget saat tahu sekolahan sudah sepi. Maka dari itu sekarang ia mau kembali ke kelas untuk mengambil tasnya dan pulang ke rumah.

.

Saat Chanwoo melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas, ia dikagetkan dengan sosok Yein yang sedang duduk di kursinya sambil menatap ponsel yang dia pegang. Chanwoo berjalan menghampiri Yein lalu menegur gadis itu dan menanyakan kenapa dia belum pulang.

“Kenapa kau masih di sini?” tanya Chanwoo.

“Aku di sini karena menunggumu.” balas Yein menggerutu.

Jung Yein lalu menyerahkan ponsel yang dia pegang kepada Chanwoo dan mengomeli pria itu karena lelah menunggu.

“Aku sudah menunggu dan mencarimu dari tadi tapi kau tidak muncul. Aku tidak pulang gara-gara kau tau!” kesalnya.

“Ah iya… aku tadi melupakannya.” gumam Chanwoo yang sadar bahwa sejak tadi dia tak membawa handphone bersamanya, “Thanks, btw.” lanjutnya.

“Ya.. sama-sama.” jawab Yein kikuk.

Chanwoo kini sibuk memasukan segala barang bawaannya ke dalam tas. Begitu semuanya beres dia melihat Yein yang masih berdiri di tempatnya. Mengapa dia belum pulang juga?

“Kau kan sudah mengembalikan ponselku. Kenapa masih di situ?” tanya Chanwoo keheranan.

“Aku….”

Jung Chanwoo mengerutkan keningnya heran. Dilihatnya Jung Yein seperti seseorang yang sedang dilanda kebingungan. Chanwoo pun menegur Yein yang setengah-setengah menjawab pertanyaan darinya.

“Ada apa?” tanya Chanwoo.

“Aku tidak tahu caranya untuk pulang!” jawab Yein dengan cepat.

“Ye? Tidak tahu gimana caranya pulang?” ulang Chanwoo.

“Ini gara-gara kau tau! Aku menyuruh jemputanku pulang terlebih dahulu karena kau terlalu lama. Aish aku jadi tidak tahu gimana caranya pulangkan. Aku bahkan tidak tahu alamat rumahku!” rutuk Yein bertubi-tubi.

Mendengar ocehan Yein kepadanya membuat Chanwoo tertawa kecil. Anak SMA berusia 17 tahun tidak tahu caranya pulang ke rumah sendiri? Memangnya dia anak kecil, batin Chanwoo.

“Ya sudah, ayo!” seru Chanwoo.

“Ayo apa?” heran Yein.

“Ayo kita pulang!”

.

Tak pernah Yein sangka kalau Jung Chanwoo mengendarai Lamborghini Aventador seorang diri ke sekolah. Yein tahu kalau keluarga Chanwoo bisa saja memiliki lebih dari 10 mobil mewah itu tapi yang membuat Yein penasaran apakah Chanwoo punya surat izin mengemudi?

Ya kau ke sekolah bawa mobil sendiri?” tanya Yein tak percaya.

“Ya, ada yang salah?” tanya balik Chanwoo.

“Kau punya SIM?”

“SIM? Untuk apa?”

Ya! Bagaimana kalau kau ditilang atau apa? Kita kan masih di bawah umur!” rutuk Yein.

Mendengar kekhawatiran Yein barusan membuat Chanwoo tertawa, “Hahaha.. Uang adalah kekuatan nomor 1 di negara ini, nona. Jangan diambil pusing soal SIM atau apa itu.”

Chanwoo membuka mobil dengan kunci yang dia pegang lalu masuk ke dalam mobil. Jung Yein juga tanpa basa-basi langsung masuk ke dalam mobilnya Chanwoo.

.

“Kau tahu jalan menuju rumahmu kan?” Chanwoo menyalakan mesin mobilnya lalu melihat Yein yang duduk sambil melihat ke depan. Gadis itu menganggukan kepala namun beberapa detik kemudian menggelengkan kepala. Sebenarnya Yein tidak terlalu memperhatikan jalanan Seoul karena memang dia tidak minat untuk menetap di tempat ini.

“Jadi kau tidak tahu?” tanya Chanwoo tak percaya.

“Aku tidak tahu jalan tapi aku tinggal di pyeongchang-dong.” rutuk Yein.

“Oh benarkah? Kebetulan sekali aku tinggal di sana juga.” balas Chanwoo.

“Kalau dari sana sepertinya aku tahu jalan menuju rumahku.” kata Yein.

“Ya sudah.”

Chanwoo masih memperhatikan Yein yang sedang sibuk dengan urusannya sendiri. Sampai akhirnya Yein sadar bahwa Chanwoo belum menjalankan mobilnya sejak tadi.

“Ada apa lagi?” tanya Yein.

Jung Chanwoo memajukan badannya mendekati Yein sehingga gadis itu secara spontan memundurkan wajahnya. Dengan suara yang bergetar karena kaget—atas tindakan Chanwoo barusan—Yein bertanya kepada Chanwoo.

“K…kau mau apa?” tanya Yein gugup.

Seltbelt.” jawab Chanwoo singkat.

“Ye?”

Seltbelt mu. Jangan berpikiran macam-macam!”

Laki-laki itu menarik sabuk pengaman Jung Yein lalu memasangkan agar mereka segera berangkat. Setelah semuanya beres Chanwoo kembali ke posisi semula dan mulai menjalankan mobilnya. Berbeda dengan Yein yang masih terdiam di tempatnya berusaha mengatur detak jantungnya yang berdegup sangat kencang.

.

Chanwoo menghentikan mobilnya di sebuah pelataran parkir di salah satu restauran Jepang. Yein melirik pria itu untuk meminta penjelasan mengapa mereka berhenti di tempat ini. Bukankah niat Chanwoo tadi mengantarkan dia pulang? Kenapa pula mereka berakhir di tempat ini?

“Kenapa kita ke sini?” tanya Yein.

“Ya untuk makanlah. Untuk apa lagi kalau bukan makan di sini?”

“Kau bilang mau mengantarkan aku pulang!” jawab Yein.

“Ya nanti setelah aku makan.”

“Ye?”

“Aku melewatkan makan siang tadi. Kalau kau tidak sabaran pulang ya pergi saja sendiri.” kata Chanwoo.

“Huh?”

Chanwoo melepas sabuk pengamannya lalu membuka pintu keluar untuk segera masuk ke dalam restauran. Yein yang tak ada pilihan lain terpaksa mengikuti Chanwoo keluar dari mobilnya. Daripada pulang sendiri tapi tidak tahu jalan, lebih baik dia ikut makan di restauran Jepang.

.

Selagi menunggu pesanan mereka datang, Yein dan Chanwoo sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Chanwoo sibuk mengecek notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya sementara Yein tengah sibuk memperhatikan Jung Chanwoo. Kalau dilihatin seperti ini, Yein jadi sadar kalau Chanwoo itu tergolong tampan. Apalagi saat di mobil tadi ia melihat Chanwoo dari jarak yang sangat dekat—shit! Kenapa Yein jadi memikirkan Chanwoo?

“Huft…” desis Yein sambil mengipas wajahnya yang panas.

“Aku rasa AC di sini sangat dingin. Kenapa kau malah kepanasan?” tanya Chanwoo.

Pria Jung itu meletakan ponselnya di atas meja lalu melihat Yein yang kebetulan sedang melihat ke arahnya.

“Apa?” tanya Chanwoo yang merasa heran karena diperhatikan.

“Lockscreenmu itu… foto pacarmu?” tanya Yein.

Sebenarnya Yein tak ada niat untuk menanyakan masalah foto yang ada di lockscreen handphone Chanwoo tapi entah kenapa pertanyaan itu keluar sendiri dari mulutnya.

“Bukan.” jawab Chanwoo.

“Jadi foto siapa?”

“Kenapa kau kepo sekali sih?” tanya Chanwoo.

“Ya… cuma nanya. Kalau tidak mau jawab ya tidak usah marah.” rutuk Yein.

“Siapa yang marah?” gumam Chanwoo.

.

Chanwoo melihat ponselnya yang memaparkan lockscreen fotonya dan Suji yang mereka ambil sebelum gadis itu pergi meninggalkan Korea. Sudah hampir 2 tahun Chanwoo tidak pernah mengganti lockscreennya. Tak ada yang tahu mengenai lockscreen ponsel Chanwoo karena dia selalu menjaga ponselnya dan tak membiarkan orang lain menyentuhnya. Tapi kali ini ada orang yang menyadari foto itu dan orang itu adalah Jung Yein.

“Apa kau tahu kalau Yuvin punya pacar?” celetuk Chanwoo.

“Ye? Dia punya pacar?” tanya Yein kaget.

“Hm… perempuan yang di lockscreen itu pacarnya Yuvin.” jawab Chanwoo datar.

“Sial. Kalau dia punya pacar kenapa dia harus menerima pertunangan ini? Apa pacarnya tidak tahu kalau orang itu dijodohkan denganku?” umpat Yein yang kesal.

“Karena dia tidak pernah menyukai pacarnya. Dan Suji tidak pernah tahu mengenai pertunangan kalian.” ujar Chanwoo.

.

Mendengar nama Suji disebut oleh Jung Chanwoo mengingatkan Yein dengan kejadian siang tadi. Ia ingat Chanwoo berbicara dengan seseorang melalui telepon dan Chanwoo memanggilnya dengan nama itu. Ia juga ingat kalau Chanwoo berbohong pada gadis bernama Suji itu dan mengatakan kalau Yuvin sedang tidur di ruangan F4—padahal kenyataannya saat Yein ke sana Yuvin terlihat segar bugar.

“Memangnya Suji itu di mana sekarang?” tanya Yein yang penasaran.

“LA. Sudah 2 tahun belakangan ini dia pindah ke sana.” jawab Chanwoo.

“Oh… Kenapa kau tidak beritahu kepada dia kalau di sini Yuvin dijodohkan denganku?” ucap Yein.

“Karena aku tidak bisa mengatakan…nya.”

Kata-kata yang keluar dari mulut Chanwoo semakin lama semakin terdengar pelan. Ia juga terlihat tidak yakin untuk berbicara pada Yein—ditandai dengan Chanwoo yang kini melihat ke arah lain. Melalui pengamatan Jung Yein ia sadar kalau seorang Chanwoo pasti menyimpan rasa pada Lee Suji karena kepribadian seorang Chanwoo berubah drastis ketika mereka membicarakannya.

“Kau pasti menyukai perempuan itu ya? Kalau kau memang menyukainya kenapa kau tidak rebut dia dari tangan Yuvin? Toh si brengsek itu tidak menyukai gadis itu.” celetuk Yein.

“Permisi—“

Pembicaraan Yein dan Chanwoo diintrupsi oleh pelayan yang datang membawakan pesanan kedua anak SMA ini. Setelah pesanan dihidangkan di hadapan mereka Jung Chanwoo pun langsung mengambil sumpin untuk menyantap sushi pesanannya.

“Selamat makan.” ujar Chanwoo.

“Ya… selamat makan.” balasnya.

.

Akhirnya setelah perjalanan dari restauran Jung Yein sampai juga di rumah besar milik keluarganya.Untung saja Yein mengingat jalan, kalau tidak Chanwoo sudah bersiap-siap untuk mengusir Yein dari mobilnya karena merepotkan.

“Huft sampai jumpa. Thanks, chan.” ujar Yein.

Ia membuka seltbelt yang melindungi tubuhnya lalu melirik Chanwoo yang tengah memperhatikan dirinya.

“Apa?” tegur Yein.

“Rumah kita hanya berbeda satu blok ternyata.” ujarnya.

“Oh? Sungguh? Baguslah itu artinya aku tidak terlalu merepotkanmu kan?” ucap Yein.

Chanwoo mengangguk, “Ya… sepertinya.”

“Sepertinya? Kau tidak iklas mengantarku pulang.”

“Bukan aku yang ngomong ya, kau sendiri yang menyimpulkannya seperti itu.” jawab Chanwoo.

“Menyebalkan!” gerutu Yein.

So kau tinggal dengan siapa di sini?” tanya Chanwoo penasaran.

“Aku, kakek, Jaehyun dan tentunya beberapa orang yang mengurus rumah.” jawab Yein.

Ia tidak ingat berapa orang yang tinggal bersamanya. Kakeknya memperkerjakan banyak orang di rumah untuk mengurus rumah, menjaga rumah, serta memasak untuk mereka. Ada juga beberapa pembantu khusus yang dipekerjakan untuk mengurusi keperluan pribadi Yein dan Jaehyun.

Who is Jaehyun?” tanya Chanwoo lagi.

My older bro. Oppa.” jawab Yein.

“Ah… kau tidak memanggilnya Oppa sih aku pikir adikmu.” gumam Chanwoo.

“Tidak terlalu penting memanggilnya oppa atau tidak karena aku sudah terbiasa memanggilnya Jeffrey sejak kecil.” oceh Yein yang menerangkan kenapa ia tak memanggil Jaehyun dengan sebutan oppa, “Kalau begitu aku masuk dulu. Sampai jumpa besok!” pamit Yein.

“Ya sampai jumpa.”

Setelah Yein keluar dari mobilnya Chanwoo pun langsung menjalankan mobilnya kembali untuk segera sampai ke rumah yang jaraknya cukup dekat dari tempat Jung Yein tinggal.

.

“Kau kembali dengan selamat? Aku pikir kau tersesat di jalan. Aku hampir saja menghubungi polisi.” Baru saja Yein masuk ke dalam rumah ia sudah dicecar pertanyaan oleh Jung Jaehyun yang kebetulan berada di ruang tamu. Yein hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Jaehyun yang sok peduli dengannya. Padahal sih dia tak pernah mengkhawatirkannya.

“Aku baik-baik saja. Kau sendiri kenapa di sini? Mengkhawatirkan aku ya Jeff?” goda Yein.

“Bukan. Aku di sini menunggumu bukan untuk mengkhawatirkan kau bakalan hilang atau apa. Aku di sini untuk memberitahumu kalau—“

OMG! Who is that? My beloved cousin, huh?”

Baik Yein maupun Jaehyun langsung menoleh ke sumber suara. Alangkah kagetnya Jung Yein saat melihat sesosok orang bertubuh jangkung tengah berjalan turun dari tangga menghampirinya.

What the hell.. Jeff kenapa dia ada di sini?” pekik Yein histeris.

Well.. I am not sure. Itulah yang ingin aku sampaikan padamu.” jawab Jaehyun kikuk.

Setelah berada di dekat Jaehyun dan Yein, orang tadi menyapa Jung Yein sehingga gadis itu dibikin kesal bukan kepalang.

Bitch.. Dont you miss me?” tanya orang itu.

MOTHERFUCKER HELL NO!” teriak gadis itu lalu pergi meninggalkan Jaehyun dan si penyapa tadi.

Setelah ditinggal oleh Yein si penyapa yang tak lain adalah sepupu Jung bersaudara ini melirik Jaehyun yang hanya bisa berdiri dengan kikuk karena keberadaannya.

“Hyung kau juga mau meninggalkan aku? Aku baru sampai loh kenapa tidak ada pesta menyambutan?” tanyanya.

“Minta kakek untuk melakukan pesta penyambutanmu, Wooseok-ah. Jangan ganggu aku dan Yein.” jawab Jaehyun lalu meninggalkan Jung Wooseok sendiri.

.

Ditinggal seorang diri oleh sepupu-sepupunya membuat Wooseok tersenyum sinis. Sial. Dia jauh-jauh datang dari Connectituc ke Korea, mereka malah menyambut dirinya sedingin es. Terutama Jung Yein, gadis itu benar-benar membuat Wooseok naik pitam, “Awas saja.. Kalian tidak bisa hidup dengan tenang selama aku tinggal di rumah ini!” ucap Jung Wooseok pada dirinya sendiri.

 

Advertisements

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s