F4 Season 2 [Chapter 5]

Standard

F4 Seaason 2 (2)

F4

Season 2

By Fanita

Main Cast : Lovelyz Yein – Ikon Chanwoo

Casts : WB Youngtaek – Astro Moon Bin – Myteen Yuvin – WG Soyoon – WJSN Cheng Xiao – ETC..

Genre : School Life – Romance – Friendship – Fluff || Type : Chapter || Rating : PG-17

Tak Yein sangka orang pertama yang akan dia lihat saat membuka pintu kamarnya adalah Jung Wooseok. Gadis itu menghela napas secara kasar dan berusaha untuk mengabaikan si sepupu. Berbeda dengan Yein yang tampak tak tertarik untuk berinteraksi dengan Wooseok, laki-laki itu malah tersenyum miring dan mengikuti langkah kaki Yein yang hendak turun ke lantai bawah.

“Kita satu sekolah. Aku harap kita bisa satu kelas juga.” ujar Wooseok.

“Ha… sialan ini.” gumam Yein.

“Bukankah kau sangat kejam? Kau seharian tidak keluar dari kamar hanya karena menghindariku. Ah, bukan kau saja, Jaehyun hyung juga begitu.” celoteh Wooseok.

Ya, memang Jung Yein tidak keluar dari kamar setelah pulang sekolah. Ia bahkan menolak untuk makan malam bersama karena tidak sudi satu meja dengan Jung Wooseok. Sama seperti Yein, Jaehyun juga tidak keluar dari kamarnya untuk makan malam karena dia masih berat hati menerima keputusan sang kakek yang menyuruh Wooseok untuk tinggal bersama mereka.

“Aku dengar kau memiliki tunangan di sekolah. Haruskah aku menjadi sahabat tunanganmu agar bisa mengawasi sepupuku yang manis ini? Mana tahu tunanganmu bukan anak baik-baik.” celetuk Wooseok lagi.

Tap!

Yein menghentikan langkah kakinya di anak tangga terakhir yang ia injak saat ini. Ia memutar balik badannya dan menatap datar Jung Wooseok yang terkejut karena pada akhirnya Yein mulai bereaksi atas provokasi darinya.

Shut your fucking mouth, Jung Wooseok! Kau pikir kau bisa berbicara sebebas itu di depan mukaku?”

Why not? Aku punya mulut untuk berbicara.” balas Wooseok.

“Kau tahu jawabannya, Wooseok-ah..” ucap Yein.

Jung Yein memperhatikan penampilan Jung Wooseok dari atas hingga ujung kakinya. Wooseok memakai tas punggung mewah yang ia yakin barang tersebut masih sangat baru dan juga sepatu mahal yang bahkan tidak dimiliki oleh Jung Jaehyun. Sepertinya Wooseok hidup dengan baik dengan segala kekayaan yang dimiliki oleh ia dan ibunya.

“Bagaimana bisa aku tahu kalau kau tidak pernah berbicara to the pointbitch?” ucap Wooseok yang sudah mulai geram.

“Karena bagiku berbicara dengan anak pungut sepertimu tidak ada gunanya. Membuang-buang waktuku saja!” hardik Yein lalu membalikan badannya agar segera sampai ke ruang tamu.

.

Namun baru saja Yein hendak menjalankan tungkainya, tiba-tiba saja seseorang menarik rambut Yein dari belakang—dan rasanya lebih menyakitkan dibandingkan insiden di toilet beberapa hari yang lalu. Sontak Yein berteriak kesakitan karena Jung Wooseok tiada ampun menjambak rambut Yein. Beberapa pembantu yang berada di dekat Yein dan Wooseok langsung berlari menghampiri sang majikan karena takut ada sesuatu terjadi pada nona muda mereka.

“SIALAN! LEPASKAN TANGAN KOTORMU BAJINGAN!” umpat Yein.

Yein berusaha keras melepaskan tangan Wooseok dari rambutnya tapi sayang bukannya lepas tangan itu malah semakin kasar menjambaknya.

“Minta maaf!” titah Wooseok.

“Brengsek! Untuk apa aku harus minta maaf padamu?” pekik Yein—masih mencoba untuk melepaskan jambakan dari Jung Wooseok.

“Kau lupa kau baru saja mengatakan apa? Kau memanggilku anak pungut! Kau pikir aku terima begitu saja kau panggil begitu?” bentaknya.

“Itu fakta! Kau memang anak pungut! Kau dan ibumu sama-sama menjijikan! Dosa apa pamanku ditakdirkan hidup dengan istrinya yang gila harta bersama anak pungut yang tidak jelas asal-usulnya!”

“Kau—”

“JUNG WOOSEOK!”

Jung Jaehyun yang tadi mendengar teriakan Jung Yein langsung berlari menghampiri sang adik. Melihat Wooseok menyiksa adiknya seperti itu membuat Jaehyun naik pitam. Setelah dia berada di antara Yein dan Wooseok, Jung Jaehyun langsung memaksa Wooseok untuk melepaskan tangannya dari rambut Yein. Begitu jambakan Wooseok terlepas Jaehyun langsung mendorong pria itu ke belakang sehingga si jangkung itu terjatuh di anak tangga.

Ya jaga etikamu di rumah ini!” maki Jaehyun.

“Hah.. kakak dan adik sama saja.” desis Wooseok.

“Aish rambutku!!!” rengek Yein yang menangisi helaian rambutnya yang terjatu di atas lantai.

Wooseok berdiri lalu membersihkan pakaiannya yang sedikit kusut karena ulah Jaehyun dan menatap sinis Jung Yein yang lagi sibuk membenahi rambut panjangnya.

“Kau beruntung karena kau perempuan, kalau kau laki-laki aku sudah menghajarmu babak belur Jung Yein!” ancam Wooseok.

Ya sebelum kau melakukannya aku duluan yang akan membunuhmu, bocah tengik!” umpat Jung Jaehyun.

Jaehyun yang muak melihat Wooseok terlalu lama langsung mengajak Yein untuk segera pergi dari sana, “Ayo Yein-ah..” ajak Jung Jaehyun. Setelah kedua kakak beradik itu pergi dari hadapannya Wooseok berteriak kesal karena ia sangat membenci kedua orang itu. Kalau bukan karena suatu hal dia juga tidak tinggal bersama bahkan bertatap muka dengan kakak beradik tersebut.

“Sialan! Tidak akan aku biarkan kalian menginjak-injak harga diriku lagi. Awas saja kalian, tunggu pembalasanku!” kesalnya.

.

“Kakek pikir kalian tidak akan ikut sarapan bersama.” Jungyeop yang merasakan hawa gelap diantara kedua cucunya berusaha mencairkan suasana. Tentu saja kata kalian dari Jungyeop barusan merujuk pada Jaehyun dan Jung Yein.

“Apa tujuan kakek membawa dia ke rumah ini?” tanya Yein yang tak memperdulikan ucapan basa-basi Jungyeop barusan.

“Oh.. ternyata kau mau menanyakannya juga Yein-ah. Baguslah.” ujar Jungyeop.

“Kek.. apa alasannya?” tanya Jaehyun yang kini tengah menatap sengit Wooseok yang makan di depannya.

Wooseok sendiri tidak memperdulikan kedua saudara ini dan fokus memakan santapan paginya. Tidak perlu dia yang buka mulut sang kakeklah yang akan menjelaskannya pada mereka.

“Ibu Wooseok yang meminta padaku untuk mengajak Wooseok ke Korea. Dia ingin Wooseok melanjutkan pendidikannya di sini bersama kalian.” terang Jung Jungyeop yang setelah itu langsung menoleh kepada Yein, “Dan juga Wooseok yang bertugas mengawasi kelakuanmu di sekolah Jung Yein.”

Uhuk!!

Baru saja Yein mau meminum segelas susu hangat kesukannya tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan penuturan Jungyeop barusan. Jung Wooseok akan mengawasi pergerakannya di sekolah? Yang benar saja!

“Untuk apa? Sudah ada Jaehyun oppa yang akan menjagaku!” tolak Yein.

“Manggil oppa di saat-saat tak terduga saja tsk.” rutuk Jaehyun.

“Kakek tidak percaya pada Jaehyun karena bisa saja dia berkoalisih denganmu Yein. Jadi Wooseok yang akan menjadi mata kakek saat kau berada di sekolah.”

Prang!!

Yein membanting sendok dan garpu yang sedang dia pegang ke piring makannya sehingga piring mahal tersebut menjadi pecah terbelah dua. Jaehyun sangat kaget karena perilaku Yein barusan. Ia menyikut tangan Yein dengan sikunya dan berbisik pada gadis itu agar menjaga sopan santunnya di hadapan Jungyeop.

“Jaga sikapmu!” bisik Jaehyun.

Berbeda dengan Jung Wooseok yang hanya bisa tersenyum sinis merasakan kemenangannya. Ia melirik Jung Yein yang tak terduga juga sedang melihatnya dengan tatapan sinis.

“Jung Yein.. Sekali lagi kau melakukan hal seperti ini kakek tidak akan tinggal diam. Tingkahmu sangat keterlaluan. Siapa yang mengajarkanmu begitu?” tegur Jungyeop.

Terlihat jelas kalau saat ini Jungyeop sedang menahan emosinya. Tak peduli dengan apa yang baru saja kakeknya katakan Yein langsung berdiri dari kursinya lalu membawa tasnya pergi dari ruang makan.

“Jeff cepat selesaikan makanmu!” pekik Yein sebelum meninggalkan ruangan.

Karena Jaehyun juga malas berada di tengah-tengah situasi panas ini ia memilih untuk mengikuti jejak Yein yang pergi dari ruang makan tanpa menyelesaikan sarapannya.

“Aku pergi kek.” pamit Jaehyun.

Melihat kedua cucunya meninggalkan ruang makan sebelum menyelesaikan sarapannya membuat kepala Jungyeop berdenyut pusing. Dia harus meminum obatnya karena ulah Yein pagi ini!

“Kek…” panggil Wooseok.

“Selesaikan makanmu Wooseok-ah. Ikut sepupumu ke sekolah.” ucap kakek.

“I..iya kek.”

Wooseok menyandang tas sekolahnya lalu berpamitan dengan Jung Jungyeop. Tak lupa Wooseok menyalami sang kakek sebelum pergi—tidak seperti Jaehyun dan Yein barusan.

“Aku pergi kek.”

“Ya.. Semoga hari pertamamu di sekolah menyenangkan Wooseok-ah.” ujar Jungyeop.

“Tentu kek! Terima kasih!”

.

Wooseok baru saja keluar dari rumah akan tetapi mobil yang hendak mengantarnya ke sekolah telah melaju keluar dari gerbang. Jung Wooseok mengumpat di dalam hatinya karena ia sudah yakin semua ini karena ulah Jung Yein.

“Tu..tuan muda mobil yang akan mengantarkan tuan muda sedang dipanaskan. Mohon bersabar sebentar saja.” lapor satpam yang baru saja berlari menghampiri Wooseok.

“Hah… ya terserahlah.” ujar Wooseok yang telah terlampau emosi.

Setelah satpam itu memberikan laporan kepada Wooseok, ia kembali ke pos untuk berjaga. Wooseok hanya bisa menghela napas kasar dan tiba-tiba saja ponselnya berdering.

Drrrtttt.

Tanpa melihat siapa yang menghubunginya Wooseok langsung mengangkat panggilan dan menyapa si penelpon dengan ketus.

“Siapa!?”

“Omo! Anak ibu! Kenapa nada bicaranya terdengar seperti orang lagi kesal sih?”

“Ah.. ibu? Maaf bu. Pagi yang buruk.”

“Dua tuyul itu menganggumu ya sayang?”

“Ya bu. Hah.. sangat berat berhadapan dengan orang seperti mereka.”

“Tenang saja Wooseok. Bertahanlah demi harta kakekmu yang berlimpah.”

“Tapi bu… apa semuanya bisa berjalan dengan lancar seperti yang ibu rencanakan? Baru sehari saja di sini kepalaku sudah mau pecah rasanya!”

“Kita bisa Jung Wooseok. Percayalah!”

“Hmm kalau ibu berkata seperti itu aku mencoba bertahan di tempat ini.”

“Ibu akan mengunjungimu kalau ibu ada waktu. Ibu merindukanmu sayang.”

“Aku juga. Tapi sudah dulu ya bu, aku mau berangkat sekolah dulu.”

“Eoh.. belajar yang rajin.”

“Hm.”

Wooseok mematikan sambungan telepon internasional antara dia dan ibunya secara sepihak. Benar, Kalau bukan karena ibunya mana mau Jung Wooseok berada di tempat ini. Karena dia merasa berhutang budi kepada ibu yang telah mengangkatnya sebagai anak Wooseok bersedia untuk menjalankan rencana ibunya. Sebuah rencana untuk mendapatkan jatah warisan yang sebanding dengan Jaehyun dan Yein—atau kalau perlu Wooseok harus lebih mendapatkan banyak di bandingkan dengan mereka!

.

“Pak Shin tidak bisa masuk hari ini. Beliau memberikan tugas kelompok untuk kita menelitih salah satu objek wisata bersejarah di Korea.” Semua anak di kelas mendesah kesal ketika ketua kelas menyampaikan pesan yang ditutupkan oleh guru sejarah mereka. Mereka tidak suka memiliki tugas kelompok karena pekerjaan seperti itu membuang-buang waktu untuk berinteraksi dengan orang yang tak mereka dekat. Ketua kelas yang melihat anak-anak di kelasnya hanya bisa menggelengkan kepalanya dan kini ia sibuk mencatat nama-nama kelompok serta objek wisata yang harus dikerjakan oleh kelompok yang telah ditentukan di papan tulis.

.

Yein kaget saat ketua kelas menuliskan namaya di kelompok yang sama dengan Jung Chanwoo. Begitu juga dengan Chanwoo yang langsung menoleh ke belakang. Yein tidak mengerti dosa apa yang dia perbuat sehingga setiap hari dia selalu saja berurusan dengan orang seperti Chanwoo. Seakan tahu apa yang dipikirkan olehnya, Chanwoo langsung menegur gadis itu agar berhenti menjelek-jelekan dirinya di dalam pikirannya.

“Bukan kau saja yang tidak suka dengan ide kelompok ini. Aku juga!” celetuk Chanwoo.

“Dih.. aku tidak berkata seperti itu.” dumel Yein.

“Tanpa kau bilang secara langsung aku sudah tahu kenyataannya seperti itu.” kata Chanwoo.

“Huft kenapa anak baru itu si yang bisa sekelompok dengan Chanwoo sih?”

Kuping Yein yang tajam mendengar ada anak di kelas yang saat ini sedang membicarakannya dan Chanwoo. Duh, Yein tidak perlu sekelompok dengan pria ini. Kalau perlu Yein berharap orang itu bisa membawa Chanwoo ke kelompok mereka dibandingkan dia satu kelompok dengan pria itu.

“Sepertinya dia sedang menggoda Jung Chanwoo. Menggelikan sekali! Memangnya dia siapa?”

“Ah sialan..” rutuk Yein.

Chanwoo yang ternyata juga mendengar apa yang digosipi oleh anak-anak perempuan itu melirik Yein yang menahan amarahnya. Chanwoo tahu dia memang menjadi pusat perhatian orang-orang, tapi dia sangat tidak suka apabila seseorang mengaitkan orang lain dengan dirinya apalagi membicarakan omong kosong seperti Yein yang sedang menggodanya.

“Apa yang mereka ucapkan itu bullshit. Abaikan saja omongan mereka.” ucap Chanwoo.

“Ya iyalah. Sejak kapan aku mencoba menggodamu? Jangan harap!” oceh Yein.

Malas berdebat dengan Jung Yein, Chanwoo pun mencoba menahan emosinya yang saat ini meledak-ledak. Dia berniat baik dengan apa yang dia katakan malah direspon seperti itu oleh Yein.

Ya!” panggil Chanwoo.

“Panggil namaku baik-baik!” ulang Yein.

“Jung Yein-ssi berikan aku nomor ponselmu!” ucap Chanwoo penuh penekanan.

Why? Are you try to hitting on me?” tanya Yein menyelidik.

You wish! Aku memintanya untuk mengerjakan tugas kelompok ini!” desis Chanwoo.

Chanwoo mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya. Ia menulis pola password ponselnya agar akses ponsel itu terbuka sepenuhnya. Setelah semuanya beres Chanwoo memberikan ponselnya kepada Yein agar gadis itu memberikan nomor teleponnya kepadanya.

“Cepat masukan nomormu!” titah Chanwoo.

Jung Yein langsung mengetik nomor ponselnya di handphone milik Chanwoo. Setelah semuanya beres ia mengembalikan ponsel Chanwoo kepada empunya. Ketika ponselnya telah berada kembali di tangannya, Chanwoo mengecek kontak baru yang tersimpan di ponselnya dan menghubungi nomor itu.

Drrrrtttt..

“Kau?” tanya Yein saat sebuah panggilan dari nomor tak dikenal masuk ke dalam ponselnya.

Jung Chanwoo langsung mematikan miscall itu lalu menganggukan kepalanya, “In a case agar kau tidak memalsukan nomor ponselmu. Mana tahu kau si pemalas yang suka lari dari tanggungjawab di kerja kelompok, kan?”

What the hell.. Lagi pula untuk apa aku melarikan diri hanya karena tugas.” rutuknya.

.

Jung Yein menyedot susu pisang yang ia dapat dari jatah makan siangnya di kantin. Yein tidak mengerti dengan kedua orang yang akhir-akhir ini selalu mengekorinya ke mana pun dia pergi. Ya, siapa lagi kedua orang itu kalau bukan Cheng Xiao dan Yoon Soyoon. Ke mana pun Yein pergi kedua orang itu pasti akan mengekori Yein.

“Yein-ah! Yein-ah! Lihat aku baru saja menemukan tempat hangout yang keren. Nanti kita mau ke sana, kau mau ikut?” tawar Soyoon.

“No.” tolak Yein tanpa pikir panjang.

“Ya ikutlah. Aku yakin kau belum pernah berkeliling Seoul setelah pindahkan? Kau menyesal kalau tidak mengitari Seoul sejak awal!” cerocos Cheng Xiao.

“Aku tidak peduli.” jawab Yein lagi.

“Tapi Yein—”

Hello girls.. Can I join?” celetuk seseorang.

..

Bulu kuduk Yein meremang saat mendengar suara yang tak asing datang dari belakangnya. Ia melirik ke belakang dan tepat—si pemilik suara itu makin merusak mood Yein karena kehadirannya di sini!

S..sure.. But who are you?” tanya Cheng Xiao yang mendadak gagap.

You can call me Wooseok. I am Yein’s cousin. A new transfer student.” ucap Wooseok memperkenalkan dirinya.

Yein menyudahi aktivitasnya meminum susu pisang yang sedang dia nikmati. Ia mendorong kursi yang dia duduki ke belakang setelah itu pergi meninggalkan Wooseok, Cheng Xiao dan tentunya Yoon Soyoon.

“Sepupunya di sini kok dia malah pergi?” tanya Soyoon heran.

“Ah.. Yein memang begitu. Dia malu kalau sepupunya yang ganteng ini berada di dekatnya.” gurau Wooseok.

“Hahahaha kau bisa saja. Oh ya kenalkan aku Cheng Xiao!”

Chinese? Wow! You’re so beautiful!

Aigoo aku jadi malu.” kekeh Cheng Xiao.

I just tell you the truth.” balas Jung Wooseok. Setelah itu dia mengalihkan pandangannya ke Soyoon yang sejak tadi hanya bisa diam, “And how about you?”

Me? Ah… Namaku Yoon Soyoon.” balas gadis itu.

“Salam kenal ya, girls. Kalau kalian temannya Yein berarti kalian juga temanku. Mohon bantuannya!” ucap Wooseok sambil tersenyum manis—atau lebih tepatnya tersenyum palsu.

“Ya tentu saja Wooseok-ah!” seru Cheng Xiao.

“Uhmm ngomong-ngomong Yein mau ke mana ya?” tanya Wooseok kepo.

“Entahlah, dia aneh sih sukanya sendirian aja. Tidak pernah mau main dengan kita.” komplen Soyoon.

“Oh ya? Mungkin dia menemui tunangannya. Apa kalian tahu tunangan Yein yang mana? Kalau tidak salah namanya Song Yuvin.” tanya Wooseok penasaran.

Yap! Wooseok sangat ingin melihat siapa tunangan Yein yang satu sekolah dengannnya. Dia hanya tahu kalau Yuvin merupakan satu dari empat cowok paling populer di sekolahan Woollim. Tapi dia belum melihat wujud asli Yuvin itu seperti apa.

“Kau bilang apa? Yein? JUNG YEIN DAN SONG YUVIN BERTUNANGAN?!” pekik Cheng Xiao yang heboh karena pertanyaan Wooseok tadi.

Soyoon juga syok saat mendengar Wooseok berbicara. Dan sekarang karena mulut besar Cheng Xiao semua orang yang ada di kantin mengetahui fakta bahwa Yein dan Yuvin telah bertunangan.

“Ye? Kalian belum ada yang tahu ya?” tanya Wooseok lagi.

“Kami baru mendengarnya hari ini. Sejak kapan si mereka bertunangan? Daebak!” seru Cheng Xiao.

“Wow.. jadi tidak ada yang tahu sebelumnya? Menarik sekali.” gumam Wooseok sambil tersenyum licik.

.

“Chanwoo-ssi.. Apa benar Yuvin bertunangan dengan Yein? Please jawab kita!” Sepanjang jalan Chanwoo keluar dari ruangan F4 dia diserbu pertanyaan oleh gadis-gadis yang berdiri di koridor sekolahan. Seisi sekolah kini telah tahu mengenai isu pertunangan Yein dan Song Yuvin. Semua ini berkat si mulut besar Cheng Xiao dan tentunya si Jung Wooseok yang terlebih dahulu mengungkit perihal tunangannya Yuvin dan Yein.

“Jadi orang-orang sudah tahu? Hah.. Tidak lama lagi Suji akan mendengar kabar ini pastinya.” batin Jung Chanwoo yang mendadak dilanda kekalutan.

.

Brak!!

Pintu ruangan F4 tiba-tiba dibuka secara paksa oleh seseorang dari luar. Ketiga pria yang sedang menikmati waktu senggangnya di dalam ruangan terkejut dengan aksi gila seseorang yang berani-beraninya masuk ke dalam ruangan mereka tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Namun ketika tahu orang yang masuk tanpa permisi itu adalah Jung Yein mereka menahan emosi dan berusaha menanyakan apa maksud kedatangan Yein ke markas mereka.

“Tunanganku.. Kau mencariku?” tanya Yuvin yang telah berdiri untuk menyambut Yein.

Plak!

Sebuah tamparan mulus baru saja mendarat di pipi kanan Song Yuvin setelah ia menyelesaikan sapaannya kepada si tunangan. Pelaku yang tak lain adalah Yein itu meluapkan segala rasa emosinya kepada Song Yuvin.

Ya kenapa kau menamparku?!” tanya Yuvin yang tak terima dengan perlakuan Yein barusan.

“Kau bertanya kenapa? Jelas-jelas kau sudah tahu jawabannya!” jawab Yein.

“Kau pikir aku cenayang yang bisa membaca apa yang ada di dalam pikiranmu? Kenapa kau menamparku hah?”

“Kau kan yang mengumumkan ke orang-orang kalau kita bertunangan kan? Kenapa kau melakukannya? Aku tidak sudi bertunangan denganmu!” pekik Yein.

“Oh wait.. aku? orang-orang? Kau bilang aku mengumumkan ke orang kalau kita bertunangan?” tanya balik Yuvin yang diiringi dengan tawa.

“Siapa lagi kalau bukan kau!” jawab Yein.

I am sorry.. tapi mengumumkan kalau aku sedang berada di dalam suatu hubungan dengan seseorang bukan style-ku, Miss Jung. Kau salah menampar orang yang tak berdosa!” ucap Yuvin membela dirinya, “Lagi pula aku di sini sejak awal. Aku bahkan tidak tahu orang-orang sedang membicarakan pertunangan kita. Tapi thanks sekali untuk orang yang mengumumkan hubungan kita, aku harus berterimakasih banyak kepadanya!” balas Yuvin sambil tersenyum penuh kemenangan kepada tunangannya.

Yein yang naik pitam memilih untuk keluar dari ruangan F4. Tinggal lah Yuvin, Moon Bin dan Youngtaek di ruangan tersebut. Terkejut karena teman mereka baru saja ditampar oleh seorang gadis, Youngtaek pun langsung heboh dan bertanya mengenai kondisi Song Yuvin.

Heol! Kau baik-baik saja Yuvin-ah? Daebak! Apa rasanya ditampar cewek?” seru Youngtaek.

“Ya sakitlah bego!” hardik Yuvin.

Ia menyentuh pipinya yang tadi ditampar oleh Yein. Ouch.. Dia bisa memastikan bahwa pipinya akan lebam akibat tamparan keras seorang Jung Yein.

“Ya sudahlah tidak usah berurusan dengan perempuan itu. Bilang ke orangtuamu kalau kau menolak perjodohan ini.” usul Moon Bin.

“Kenapa aku harus menolaknya?” tanya Yuvin.

“Kenapa? Kau tahu sendiri jawabannya apa. Kau mau berhubungan dengan cewek menyebalkan dan kasar seperti anak baru itu? Hell no, kalau aku sih tidak.”

“Tapi Suji juga begitu. Mungkin itu style-nya Yuvin.” celetuk Youngtaek.

Moon Bin dan Yuvin langsung melirik Son Youngtaek dengan tatapan penuh arti. Gleg.. Takut akan tatapa mengintimidasi temannya Youngtaek pun meminta maaf.

“Maaf.. maaf.. Aku hanya bercanda.” sesalnya.

“Hm.. Tapi Yein lebih menarik daripada Suji.” ucap Yuvin tiba-tiba.

“Menarik?” ulang Moon Bin.

“Ya.. sangat menarik. Aku penasaran perempuan seperti itu bagaimana kalau berhasil aku taklukan. Aku yakin dalam waktu dekat dia bisa jatuh pada pesonaku.” kata Yuvin bersungguh-sungguh.

Bin menghela napasnya secara perlahan. Kalau sisi playboy Yuvin sudah keluar, Moon Bin hanya bisa angkat tangan. Yang jelas dia sudah memperingatkan Yuvin agar tidak macam-macam. Ia tidak mau ikut campur kalau ada permasalahan yang terjadi akibat langkah yang diambil oleh sahabatnya.

“Ya Yuvin-ah jangan mempermainkan perempuan. Kau tidak ingat kalau Suji masih menjadi pacarmu? Sekarang kau malah mau membuat Yein bertekuk lutut padamu. Jangan seperti itu.” tegur Youngtaek.

“Kau tahu apa sih tentang urusan percintaan, Taek? Yoon Soyoon saja menolakmu mentah-mentah sampai-sampai kau trauma untuk dekat dengan perempuan lain!” oceh Yuvin.

Sigh.. Youngtaek hanya bisa diam karena apa yang dikatakan Yuvin memang benar. Ia hanya seorang pecundang yang ditolak oleh seorang gadis padahal ada begitu banyak orang yang ingin menjadi kekasihnya. Ya sudahlah, Youngtaek tidak mau ikut campur lagi dalam urusan percintaan Song Yuvin.

.

“1…2…3…” Setelah hitungan ketiga, Jung Chanwoo menggeser layar ponselnya untuk menjawab sebuah panggilan yang sejak tadi menerornya. Tanpa mendekatkan ponselnya ke telinga Jung Chanwoo mempersiapkan mentalnya untuk mendengarkan kata-kata yang akan diucapkan oleh si penelpon dari seberang sana—

“JUNG CHANWOO SIALAN! KENAPA KAU TIDAK CERITA? KENAPA KAU BERBOHONG? KENAPA KAU MEMBOHONGIKU, BAJINGAN? YA!!! KENAPA YUVIN BISA BERTUNANGAN DENGAN PEREMPUAN LAIN? KE MANA JUNG CHANWOO YANG KATANYA TIDAK PERNAH BERBOHONG! ITU SEMUA BULLSHIT! JUNG CHANWOO JAWAB AKU BRENGSEK!!!!”

Tuh. Chanwoo sudah menebak kalau seseorang akan murna dan memekakan gendang telinganya. Maka dari itu tanpa ia mendekatkan ponselnya ke telinga dan menekan tombol speaker Chanwoo pasti  dapat mendengar dengan jelas sumpah serapa yang hendak diucapkan Suji dari seberang sana.

“JUNG CHANWOO!!!!! SIALAN! KALAU KAU ADA DI DEPANKU SAAT INI SUDAH AKU CABIK-CABIK MUKAMU ITU!”

“Ehem…”

Saat Chanwoo sudah siap untuk berbicara dengan Suji, barulah ia mendekatkan ponselnya ke telinga dan meminta maaf.

“Maaf…”

“Maaf?!?!?! Aku berbicara panjang lebar dan kau hanya meresponku dengan satu kata? Ya!! Kau mau mati?!?!”

“Suji-ya.. Aku… aku belum menemukan waktu yang pas untuk jujur padamu.”

“Omong kosong! Kau bisa mengatakannya sejak awal! Kenapa kau tidak cerita? Kau senang Yuvin bertunangan dengan perempuan lain dan mendukungnya? Siapa juga perempuan yang berani-beraninya merebut Yuvin-ku hah? Apa ini alasan Yuvin tidak menghubungiku selama satu minggu terakhiran ini?!?!”

“Suji-ya bicaranya satu persatu, please? Aku bingung harus jawab yang mana.”

“Ah! Kau menyebalkan Chanwoo! Apa bedanya kau dengan Moon Bin dan Youngtaek? Aku pikir kau selalu berada dipihakku!”

“Suji-ya—”

“Suji-ya, Suji-ya.. Berhenti menyebut namaku!”

“Lee Suji maaf aku memang salah karena tidak jujur padamu sejak awal. Tapi sumpah pertunangan itu tidak begitu serius kok. Lagi pula tunangannya Yuvin tidak menyetujui pertunangan ini.”

“Whoaaa kau bahkan mengenal siapa tunangannya Yuvin, huh?! Siapa jalang itu, hah?”

“Jangan membicarakannya seperti itu, Suji. Aku jamin pertunangan ini tidak akan berjalan dengan mulus karena gadis keras kepala itu tidak akan menerima pertunangan mereka.”

“Whoaa kau membelanya? Kau mengenalnya? Lagian kalau dia tidak terima, bagaimana dengan Yuvin? Mana tahu saja dia menyukai ide pertunangan ini, kan?”

Chanwoo terdiam sejenak karena pertanyaan terakhir dari Suji. Jelas kalau Yuvin bersemangat dengan pertunangan mereka walaupun Yein sangat menentangnya.

“Kau bicarakan saja sendiri dengan Yuvin. Aku tidak mau ikut campur.”

“Apa katamu? Tidak mau ikut campur? Ya Jung Chanwoo aku akan kembali ke Korea sekarang juga! Tunggu sampai aku mengulitimu hidup-hidup!”

“HAH?!”

Kali ini Chanwoo yang berteriak tak jelas. Apa Suji serius dengan ucapannya untuk kembali ke Korea detik ini juga?

“Kau bercandakan? Mana mungkin kau kembali ke Korea hanya karena masalah ini?”

“Aku di airport sekarang. Tunggu aku 13 jam lagi Jung Chanwoo. Aku akan menghabisimu!”

“Lee Suji jangan—”

Tut..tut..

Suji mematikan sambungan telepon secara sepihak. Chanwoo menggerutu tak jelas karena Suji benar-benar nekat kembali ke Korea hanya pertunangan Yuvin. Sekarang semuanya menjadi semakin rumit. Chanwoo tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi apabila Suji telah menginjakan kakinya kembali ke Korea.

“Sial.. Ini semua gara-gara Yuvin!” umpat Jung Chanwoo.

.

Setelah menghampiri ruangan F4, Yein memilih untuk mampir sejenak ke toilet untuk menenangkan dirinya. Ia bercermin di kaca besar yang ada di hadapannya. Raut wajah Yein begitu seram saat ini karena dia dilanda emosi sebab orang-orang sudah pada tahu kalau dia dan Song Yuvin bertunangan. Semua orang di koridor sekolah tadi mencemooh Yein hanya karena berita yang Yein sendiri tidak menerimanya!

.

Krek..

Pintu toilet tiba-tiba saja terbuka. Seorang perempuan menghampiri wastafel yang ada di sebelah Yein lalu mencuci tangannya. Saat ia membasuh tangannya dengan air, sesekali dirinya melirik Yein yang terus menghembuskan napasnya secara kasar. Ia mengamati tingkah laku Jung Yein tanpa gadis itu ketahui. Setelah selesai mencuci tangannya ia pun mengeringkan tangannya yang basah di bawah mesin jet air hand dryer.

“Stres karena masalah pertunanganmu dengan Yuvin ya?” celetuk gadis itu.

Yein langsung menoleh ke gadis asing yang tak ia kenal. Ia kaget karena seseorang bisa menebak alasannya berada di tempat ini padahal Yein tidak mengenalnya.

“Kenalkan..”

Gadis itu mengulurkan tangan kanannya kepada Yein lalu tersenyum kepadanya.

“Namaku Lee Hyunjoo. Akhir-akhir ini aku sering mendengar tentangmu tapi baru pertama kali aku bertatap muka denganmu.” ujarnya.

Yein menyentuh ujung tangan Lee Hyunjoo setelah itu ia menjauhkan tangannya dari gadis itu, “Jung Yein.” jawabnya singkat.

“Aku peringatkan ya!” celetuk Hyunjoo tiba-tiba.

Jung Yein mengerutkan keningnya heran dengan perkataan Lee Hyunjoo barusan. Apa yang mau diperingatkan olehnya?

“Kau akan berhadapan dengan Lee Suji sebentar lagi. Jadi aku harap kau bisa menyiapkan banyak mental untung menghadapi temanku itu.” lanjutnya.

Lee Suji? Ah… Yein jadi ingat dengan cerita Chanwoo kemarin. Suji adalah kekasihnya Yuvin dan orang yang disukai oleh Jung Chanwoo.

“Kenapa aku harus memperdulikannya?” tanya Yein.

“Karena Suji tidak akan pernah membiarkanmu merebut Yuvin darinya!” jawab Hyunjoo.

“Oh, ya?” ucap Yein malas, “Siapa juga yang mau merebut bajingan seperti itu. Aku akan sangat berterimakasih kalau dia bisa datang dan menjauhkan pacarnya dariku. Sampaikan salamku pada temanmu, aku menanti untuk bertemu dengannya!” lanjut Yein.

Selesai mengucapkan kalimat terakhirnya, Jung Yein langsung memilih untuk pergi dari toilet dan meninggalkan Lee Hyunjoo sendiri. Ditinggal oleh Jung Yein seperti itu membuat Hyunjoo berdecak kesal, “Betul  ya kata Moon Bin. Dia itu menyebalkan!” rutuknya.

.

Ya… Kita sudah diam di tempat ini selama 1 jam. Apa yang kau bicarakan sih?” Moon Bin kesal karena dia dan Chanwoo berada di sebuah kafe sejak 1 jam lalu tapi pria itu malah tak memberikan penjelasan apapun kepadanya. Yang dilakukan Chanwoo selama 1 jam terakhir adalah menikmati minumannya bercangkir-cangkir. Punya Moon Bin saja tidak ia sentuh sejak tadi, Jung Chanwoo malah telah menghabiskan 3 cangkir caffe latte kesukaannya seorang diri.

“Suji sedang berada diperjalanan menuju Korea, Bin.” kata Bin.

“Lalu? Kau menunggu selama 1 jam untuk mengatakan hal itu?” tanya Moon Bin yang tak peduli dengan masalah Suji.

“Apa yang akan terjadi?” tanya Chanwoo lagi tanpa memperdulikan cibiran Moon Bin.

“Ya perang dunia ketiga, kali?” jawab Moon Bin asal.

“Bisa kau bayangkan Bin-ah apabila seorang Lee Suji bertemu dengan Jung Yein?”

Moon Bin melihat ke langit-langit kafe untuk membayangkan apa yang terjadi apabila Lee Suji dan Yein bertemu. Urgh! Baru membayangkannya saja sudah membuat Moon Bin merinding disko!

Oh my god! Bakalan terjadi perang benaran!” pekik Bin histeris.

That’s right. Bahkan Suji memakiku habis-habisan di telepon.” balas Chanwoo. Ia menghela napasnya secara perlahan lalu melihat ke Moon Bin yang masih merindng membayangkan pertemuan Suji dan Yein nantinya, “Dan jangan belagak tidak tahu apa-apa Bin-ah!” celetuk Chanwoo.

Tak mengerti apa yang baru saja dikatakan oleh Jung Chanwoo, Bin hanya bisa mengerutkan keningnya sambil bergumam ‘apa?’.

“Mata-mata Suji di sekolah hanya Lee Hyunjoo. Pasti pacarmu yang mengadukannya kepada Suji. Kalau dia tidak besar mulut mana mungkin Suji tahu dan nekat kembali ke Korea!” kesal pria Jung.

“Ah… Hyunjoo? Mungkin dia yang membocorkannya hahaha. Aku tidak tahu apa-apa masalah itu.” kekeh Bin sambil menunjukan huruf V menggunakan jarinya di depan sang sahabat.

Chanwoo kembali menghela napas lalu meneguk habis kopi terakhirnya. Ia merindukan Suji dan ingin segera melihatnya tapi di satu sisi dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi apabila gadis itu kembali. Belum lagi ia harus menahan sakit hati karena melihat sepasang kekasih yang diam-diam ia tentang itu kembali berduaan di depan matanya. Memang serba salah menjadi pengagum rahasia seseorang yang sudah jadian dengan sahabat sediri. Itu semua menyakitkan!

Advertisements

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s