F4 Season 2 [Chapter 6]

F4 Seaason 2 (2)

F4
Season 2

By Fanita

Main Cast : Lovelyz Yein – Ikon Chanwoo

Casts : Golden Child Youngtaek – Astro Moon Bin – Myteen Yuvin – WG Soyoon – WJSN Cheng Xiao – ETC..

Genre : School Life – Romance – Friendship – Fluff || Type : Chapter || Rating : PG-17

          Pada akhirnya Yein tahu siapa orang yang membuat berita pertunangannya tersebar di seluruh penjuru sekolahan. Adalah Wooseok yang menjadi dalang di balik semuanya! Yein mengetahui Wooseok orang yang menyebarkan berita pertunangannya karena Cheng Xiao dan Soyoon terus mendesaknya untuk menceritakan masalah tersebut.

“Beritanya sudah beredar di sekolahan. Kau baik-baik saja?” tanya Jaehyun yang khawatir dengan kondisi Yein.

Yein hanya bergumam dan memejamkan matanya. Gadis itu kemudian menghembuskan napas secara perlahan. Ia lelah menghadapi kenyataan pahit dalam hidupnya.

I am okay tapi si sialan itu harus mati.” celetuk Yein.

“Wooseok? Jadi ulahnya?” tanya Jaehyun lagi yang langsung diberi anggukan oleh Yein, “Wow baru hari pertama saja dia sudah mengacaukan keadaan.”

Mata Yein kembali terbuka dan saat ini ia melihat Jaehyun yang sedang melihat ke arah jalan. Yein memanyunkan bibirnya kesal lalu memainkan tangan Jaehyun yang berada di atas pahanya.

Oppa tidak bisa kau bujuk kakek untuk mengusir dia dari rumah? Satu-satunya hal terbaik pindah dari Harford hanya menjauh dari Wooseok dan nenek lampir itu. Tapi sekarang semuanya kacau karena dia ikut kita ke Korea!”

“Sadarkan dirimu dulu. Jangan panggil aku oppa kalau ada maunya saja.” tegur Jaehyun.

Jung Jaehyun melepaskan tangan Yein yang tadi sempat memegang tangannya lalu melipat kedua tangannya di dada. Ia melihat ke arah depan dan tak sengaja bertukar pandang dengan Pak Kwon yang ternyata sedang melirik Jung sibling ini melalui spion tengah.

“Sebanyak apa yang Anda tahu paman? Paman pasti sudah tahu kalau anak itu akan tinggal bersama kami.” celetuk Jaehyun.

“Ehem..”

Pak Kwon berdehem sejenak karena tertangkap basah sedang mengamati kedua majikan kecilnya. Ia berusaha menjawab pertanyaan yang ditujukan Jaehyun kepadanya.

“Saya hanya tahu sedikit. Dan ya.. saya tahu kalau tuan muda Wooseok akan tinggal bersama kalian.” jawab pak Jinyoung.

Oh My God.. Aku mau mogok makan sajalah sampai anak itu kembali ke habitatnya!” gerutu Yein.

Something smells fishy.. Kenapa pula dia mau melanjutkan pendidikan ke Korea? Alasan yang tidak masuk akal.” heran Jaehyun.

Stupid.. Kau seperti tidak mengenal ibunya Wooseok saja, Jeff. Kau tahu kan wanita ular itu gila harta? Tentu saja dia menyuruh Wooseok ke sini agar anak pungutnya itu bisa merebut tahtamu.” cibir Jung Yein.

“Hmm mungkin kau benar.” gumam Jaehyun. Namun beberapa detik kemudian Jaehyun tersadar dengan kata-kata yang baru saja disebutkan oleh sang adik, “Ya jangan menyinggung masalah adopsi lagi di depan anak itu. Walaupun aku tidak menyukainya tapi tolong pikirkan perasaannya Jung Yein.” tegur Jung Jaehyun.

“Memang kenyataannya begitukan? Dia anak pungut, orangtua kandung dia membuangnya. Itu artinya dia anak yang tidak diinginkan, kan?” oceh Yein.

Tak!!

Beberapa detik setelah Yein menyebutkan kata-kata tak pantas itu, Jung Jaehyun memukul kepala sang adik yang tidak bisa dinasehati.

Ya!!!” pekik Yein tak terima.

Yein mengusap kepalanya yang tadi dipukul oleh kakaknya. Pukulan Jaehyun sungguh menyakitkan! Apa Jaehyun tidak sadar kalau baru saja dia melakukan penyiksaan? Huft!

“Aku jadi ngerti kenapa pagi tadi Wooseok mau menghabisimu. Kalau aku jadi dia mungkin detik itu juga aku sudah menghilangkan nyawamu Yein.”

“Aish! Sepahit apapun kenyataan kau harus tetap menerimanya!” ucap Yein yang tetap ngotot pada pendiriannya.

“Hah.. anak ini. Terserah kau saja.” decak Jaehyun kesal.

.

          “Jaehyun panggil Yein dan ajak dia makan malam bersama kita!” Sepertinya Yein benar-benar teguh pada pendiriannya untuk melakukan aksi mogok makan. Ia tidak keluar dari kamarnya padahal jam telah menunjukan waktu untuk makan malam. Jaehyun jadi bingung harus melakukan apa. Yein sudah mengatakan padanya untuk tidak mengganggu aktivitas mogok makannya sementara sang kakek menyuruhnya untuk memanggil dan mengajak anak gadis itu makan malam bersama.

“Kek.. Dia lagi mogok makan.” ucap Jaehyun pada akhirnya.

“Mogok makan?” heran Jungyeop.

“Gara-gara aku ya?” celetuk Wooseok.

“Jadi aku tidak akan bisa memaksanya keluar. Kakek tahu sediri Yein orangnya seperti apa.” lanjut Jaehyun yang tak memperdulikan ucapan Wooseok barusan.

“Mogok makan? Paling juga nanti malam dia merangkak ke dapur dan meminta makanan.” ujar Jungyeop dengan santainya.

“Benar kek, mana mungkin Yein berani melakukan hal seperti itu. Iya tidak, hyung?” sambung Wooseok.

Tatap mata Jaehyun dan Wooseok saling beradu satu sama lain. Jaehyun mendadak kehilangan selera makannya. Ia pun menyudahi makan malamnya lalu permisi untuk kembali ke kamarnya.

“Aku selesai makannya kek. Ada beberapa hal penting yang harus aku urus.” alibi Jaehyun.

Ia beranjak meninggalkan ruang makan dan meninggalkan Jungyeop dan Wooseok berdua. Setelah Jung Jaehyun pergi, Wooseok pun mengajak Jungyeop untuk berbicara.

“Kek.. Kenapa sepupuku sangat tidak suka kalau aku berada di dekat mereka?” celetuk Wooseok.

Jung Jungyeop menoleh ke cucunya yang berwajah tampan itu lalu tersenyum lirih kepadanya, “Maafkan kakek Wooseok-ah. Kakek selalu memanjakan mereka sehingga mereka tumbuh menjadi pembangkang seperti itu.” sesal Jungyeop.

Wooseok langsung menggelengkan kepalanya, “Tidak kek, bukan salah kakek. Sepertinya mereka memang tidak bisa menerima kehadiran anak adopsi sepertiku. Mereka cucu kandung kakek sementara aku—”

“Jangan pernah berbicara seperti itu lagi, Jung Wooseok. Bagaimana pun kau cucuku, kau kebanggaan anakku. Kakek memperlakukanmu sama seperti kakek memperlakukan Jaehyun dan Yein.” potong Jungyeop.

Mendengar apa yang baru saja disebutkan oleh Jungyeop membuat Wooseok tersenyum lirih. Kata-kata kakek barusan sangat menyentuh hatinya tapi saat ia sadar bahwa tujuannya ke tempat ini demi melancarkan rencana dari ibu angkatnya Wooseok pun menghilangkan senyuman itu dari bibirnya dan berbicara pada Jung Jungyeop.

“Maaf kek, aku janji aku tidak akan berbicara seperti itu lagi.” janji Wooseok.

“Baguslah. Semoga kau menepati janjimu Wooseok-ah.” balas Jungyeop.

“Hmm kek… Aku harus menyalin beberapa catatan karena aku anak baru, jadi bolehkah aku menyudahi makan malam ini?” izinnya.

Jungyeop menganggukan kepalanya, “Ya tidak apa.”

Setelah mendapat izin dari sang kakek Wooseok pun pergi meninggalkan Jungyeop sendiri dan kembali ke kamarnya.

.

          Sudah hampir 2 hari Yein tidak makan dan keluar dari kamarnya. Akhir pekan Yein habiskan seorang diri di kamarnya sambil menonton video meokbang melalui laptopnya. Sial! Sepertinya aksi mogok makan Yein tidak akan berhasil karena sang kakek tidak memperdulikan dirinya yang tidak mau makan bersama mereka. Para pembantu membawakan Yein makanan ke kamarnya tapi gadis itu menolak mentah-mentah. Dia ingin Jungyeop yang menemuinya dan mereka membicarakan masalah aksi mogok makannya ini.

Kryukkk~

“Huhuhuhu aku lapar!” lirih Yein.

Yein meraba ponselnya yang ada di atas kasur lalu melihat beberapa kontak delivery yang sempat dia catat saat menonton video-video yang ada di internet.

“Aish kalau aku pesan makanan sama saja bohong! Mereka pasti bakalan tahu.” rutuk Yein.

Jung Yein dengan tubuh yang lemas akibat kekurangan energi mencari sebuah nomor yang dapat dia hubungi. Tapi saat melihat isi kontaknya merupakan kontak teman-temannya yang ada di tempat lama ia mendesah pelan.

“Vernon I need your help hiks..” rengeknya.

Seandainya saja Vernon di sini pasti dia bisa menolong Yein membelikannya makanan. Tapi sayang, jarak dan samudera memberikan batasan bagi mereka untuk bertemu.

“Aish ya sudahlah aku mau tidur sa…ja…”

.

          Ucapan Yein seketika langsung terhenti ketika ia melihat sebuah kontak yang setidaknya dapat diandalkan. Jung Chanwoo, nama itu tiba-tiba muncul di benak Yein. Ia pun langsung mencari kontak teman sekelasnya dan bersorak bahagia karena dia menyimpan kontak laki-laki itu. Tanpa pikir panjang Yein langsung menghubungi nomor Chanwoo dan pria itu langsung mengangkatnya!

“Kau mau mengerjakan tugas sekarang?”

“Cepat datang ke rumahku!”

“Ha?”

“Cepat datang sekarang juga!”

“Uhmm ya..”

“Cepat!!!!”

“Ya berhenti menghubungiku kalau kau mau aku cepat ke sana!”

“Ya ya, bye.”

Hufftt.. Untung saja Yein punya kontak Chanwoo jadi dia bisa terselamatkan dari tragedi kelaparannya ini!

.

          Yein telah masuk ke dalam mobil Jung Chanwoo. Ia memasang sabuk pengaman dengan santainya lalu menoleh ke Chanwoo yang sejak tadi menatap Yein heran.

“Apa?” tanya Yein.

“Kau menyuruhku ke sini untuk mengerjakan tugas kan?” tanya balik Chanwoo.

“Tugasnya nanti saja, aku harus makan.” celetuk Yein.

“Terus apa hubungannya dengan aku? Makan saja di rumahmu sana.” heran Chanwoo.

“Aish tidak ada waktu untuk berdebat. Tolong antar aku ke restauran atau apapun untuk mengisi perutku yang keroncongan ini!” omel Yein.

What? Kau memerintahku? Ya keluar dari mobilku sekarang!” usir Chanwoo.

“Kau mengusirku? Ya aku tidak mau tahu pokoknya antarin aku cari makan—”

Kryukk..

Sial. Yein mengumpat karena perutnya kembali berbunyi di keadaan seperti ini. Chanwoo yang mendengar suara perut Yein yang keroncongan tertawa kecil dan bertanya kepadanya.

“Ya sudah kau mau makan apa?” tanya Chanwoo.

“Heol.. Kau mau menemaniku makan?!” pekik Yein histeris.

Chanwoo menutup telinganya yang pegang akibat teriakan Yein. Ia menganggukan kepalanya lalu mempersiapkan mobilnya untuk segera melaju kencang.

“Ya. Kau mau makan apa?” tanya Chanwoo lagi.

“Hmmm.. Jjajangmyeon?!” usul Yein.

“Jjajangmyeon?” ulang Chanwoo.

Selera yang unik, batin Chanwoo. Dia pikir orang seperti Yein hanya menyukai makanan mahal di restauran mewah. Tapi kenyataannya si tuan putri mengajaknya untuk makan mie kacang hitam.

.

          Saat Chanwoo melihat Yein makan di hadapannya Chanwoo mendadak kehilagan selera untuk makan. Jjajangmyeon miliknya masih tersisa setengah porsi di mangkok dan saat ini Chanwoo hanya memperhatikan Jung Yein memakan porsi ketiga jjajangmyeon pesanannya.

“Apa kau gelandangan? Kenapa kau makan begitu banyak?” tanya Chanwoo.

“Aku… lapar…” jawab Yein sambil mengunyah mie kacang hitam itu.

“Tapi yang wajar saja! Masa cewek sepertimu makan mie 3 porsi? Memangnya kau tidak makan berhari-hari?” omel Chanwoo.

“Memang aku sudah dua hari tidak makan.”

“Ye?!”

Yein meletakan sumpit yang dia pegang lalu menatap jjajangmyeon yang dia makan dengan pandangan tak percaya. Tak pernah Yein segila ini dalam urusan makan tapi karena kelaparan dan faktor enaknya jjajangmyeon yang dia pesan Yein jadi makan seperti monster.

“Aku lapar, aku menonton acara meokbang di internet, dan melihat mie ini. Aku tergoda untuk mencipipinya dan ternyata ini enak. Dan—“

“Tidak usah dijelaskan lagi. Habisin makananmu!” potong Chanwoo.

Seperti yang Chanwoo katakan barusan, Yein pun melanjutkan lagi aktivitasnya menyantap mie lezat itu. Sementara Chanwoo hanya bisa menggelengkan kepalanya dan memperhatikan tingkah laku Yein sampai akhirnya laki-laki itu sadar akan suatu hal.

Ya..” panggil Chanwoo.

“Hm?” gumam Yein.

Chanwoo mengambil sehelai tisu yang ada di atas meja lalu mengarahkan tangannya ke dagu Yein. Ada noda kecap yang lengket di dagu gadis itu.

“Makan boleh banyak tapi jangan seperti anak kecil juga lah.” tegur Chanwoo.

Yein tak menjawab apa yang baru saja Chanwoo katakan kepadanya. Ia tertegut saat Chanwoo membantunya mengelap noda makanan yang lengket di dagunya. Tak pernah ada orang yang melakukan hal seperti itu kepadanya sebelumnya.

“Kenapa kau diam?” heran Chanwoo.

“Ti…tidak ada apa-apa.” ujar Yein lalu melanjutkan lagi menghabiskan jjajangmyeon-nya.

.

          “Huaaaaaa kenyang sekali!” Yein terus menerus mengeluh karena perutnya kepenuhan akibat menghabiskan 3 mangkok jjajangmyeon seorang diri. Chanwoo hanya bisa diam sambil mencari lahan kosong untuk memarkir kendaraannya.

Ya kita mau ngapain di sini?” tanya Yein yang baru sadar kalau Chanwoo malah mengajaknya ke tempat yang asing baginya.

“Kita harus mengerjakan tugas. Kau sudah kenyangkan? Sekarang waktunya untuk belajar!” kata Chanwoo.

Akhirnya setelah mengitari lahan parkir yang cukup luas ini Chanwoo berhasil menemukan satu tempat untuk memarkir mobilnya.

“Tempat ini namanya apa?” tanya Yein.

“Gwanghwamun.” jawab Chanwoo.

Setelah mobilnya terparkir dengan baik Chanwoo langsung melepaskan sabuk pengaman yang melindunginya dan mengajak Yein untuk segera keluar dari mobil.

Kajja!”

.

          “Wow! Itu patung apa?” Baru saja masuk ke kawasan Gwanghwamun square Yein sudah dibuat terkagum-kagum dengan patung besar yang teletak di tengah tersebut.

“Itu patung Raja Sejong. Kau bisa baca tulisannya kan?” tanya Chanwoo yang heran kenapa Yein masih menanyakan itu patung apa.

“Raja Sejong?” ulang Yein.

“Jangan bilang kau tidak tahu siapa Raja Sejong itu?” tanya Chanwoo menyelidik.

“Hmmmmm.”

Yein bergumam sambil menahan tawanya karena dia tidak tahu siapa Raja Sejong yang dimaksud oleh Chanwoo. Mengetahui kenyataan bahwa ada orang Korea yang tidak mengenal siapa Raja Sejong membuat Chanwoo terkena mental breakdown!

Oh my god. Aku tahu kau tinggal di luar sejak kecil tapi please kau tidak mengetahui sejarah negara ini?” tanya Chanwoo tak percaya.

“Sorry tapi aku tidak ada waktu untuk mempelajarinya. Maka dari itu ceritakan kepadaku mengenal tempat ini.” jawab Yein santai.

Jung Yein berjalan mendahulu Chanwoo untuk mengelilingi kawasan bersejarah ini. Chanwoo hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu berjalan menyusul Yein—yang mana tahu bisa saja tersesat bila hilang dari pandangannya!

.

          Persimpangan jalan Gwanghwamun tidak pernah sepi setiap harinya dikarenakan tempat ini memang objek wisata yang cukup populer karena luasnya Hallyu Wave. Yein terus menatap takjub segala hal yang ada di Gwanghwamun apalagi saat ia mendengar Chanwoo menceritakan mengenai sejarah apa saja yang terjadi di tempat ini. Ramainya suasana di tempat ini tidak menjadi pikiran bagi Yein yang bisanya lebih menyukai suasana yang sepi. Dia merasa senang karena mendatangi tempat ini di akhir pekan.

.

          Tidak lupa dengan tugas sejarah mereka, Chanwoo mengabaikan setiap objek yang ada di Gwanghwamun. Ia terus mengabadikan momen yang ada di tempat tersebut tanpa henti. Sampai akhirnya Chanwoo penasaran dengan hasilnya pun iseng untuk melihat hasil fotonya. Ternyata hasil fotonya barusan membuat pria itu tersenyum tipis.

“Ternyata dia fotogenik juga.” gumam Chanwoo saat melihat Yein di foto yang tadi dia ambil.

“Ya kenapa kau berhenti di sana?” seru Yein yang melihat Chanwoo mendadak berhenti berjalan.

Mau tak mau Yein kembali menghampiri Jung Chanwoo. Daripada dia terus berjalan dan nyasar? Duh, membayangkannya membuat Yein bergedik ngeri. Tidak lucu kalau dia nyasar di tempat ini.

“Kau lihat apa?” tanya Yein sambil melirik ponsel Jung Chanwoo.

Chanwoo menunjukan hasil foto yang dia ambil kepada Jung Yein, “Baguskan?” tanyanya.

“Eoh.. Kau mengambil foto patungnya sangat keren!” seru Yein sembari melihat-lihat foto yang lain.

Jung Chanwoo hanya bisa bergumam padahal maksudnya bukan foto pemandangan yang ada di sekeliling mereka saat ini. Dia menanyakan apakah Yein terlihat bagus atau tidak difoto yang dia ambil tadi.

“Sepertinya kita harus mengambil foto kelompok.” usul Chanwoo.

“Huh? Untuk apa?” heran Yein.

“Sebagai bukti kalau kita berada di tempat ini lah.” jawab Jung Chanwoo, “Tunggu di sini sebentar!”

.

          Chanwoo berlari menghampiri salah satu pengunjung Gwanghwamun yang lewat di depan mereka untuk meminta bantuan mengambilkan gambar kelompok mereka. Setelah wisatawan itu setuju untuk membantunya Chanwoo dan orang tersebut menghampiri Jung Yein. Chanwoo berdiri di sebelah Yein untuk mengambil foto kelompok mereka. Ketika mereka telah siap Chanwoo pun memberikan aba-aba kepada wisatawan tersebut, akan tetapi wisatawan itu menyuruh Jung Chanwoo untuk lebih mendekatkan jaraknya dengan Yein.

“Tolong lebih mendekat. Fotonya akan terlihat jelek kalau kalian memberikan jarak seperti tadi.” kata orang itu.

Jung Chanwoo mengikuti saran orang itu. Ia makin mendekatkan posisinya dengan Yein dan kini mereka berdua telah siap untuk difoto.

“1…2…3… Kimchi!”

.

          “Wah kalian terlihat sangat serasi sekali di foto ini. Semoga hubungan kalian terus langgeng ya!” Ucap wisatawan tadi dalam bahasa Jepang saat mengembalikan ponsel Chanwoo ke empunya. Ya, Chanwoo meminta tolong kepada turis asing asal Jepang untuk membantunya mengambil foto mereka tapi dia tidak menyangka kalau orang itu akan mengira bahwa dia dan Yein adalah sepasang kekasih.

A..arigatou.” ucap Chanwoo kikuk.

Setelah semuanya selesai turis asal Jepang tadi melanjutkan wisatanya lagi di Gwanghwamun meninggalkan Yein dan Chanwoo di tempatnya.

“Dia bilang apa tadi?” tanya Yein penasaran.

“Bukan apa-apa.” elak Chanwoo.

“Cepat katakan apa yang orang tadi bilang!” titah Yein.

Learn Japanese and you will know the answer.” celetuk Chanwoo.

Malas ditanya  lebih dalam mengenai apa yang turis tadi ucapkan kepadanya Chanwoo pun berjalan meninggalkan Yein di belakangnya.

Ya wait for me!” rutuk Yein yang ditinggal oleh Jung Chanwoo.

.

          Tanpa diperkirakan hujan turun membasahi bumi di saat Yein dan Chanwoo masih fokus untuk melakukan penelitihan pada tugas sejarah mereka. Karena hujan begitu deras mereka pun memilih untuk berteduh di suatu tempat agar tidak kehujanan.

“Ah… Kenapa harus hujan? Aku masih mau berkeliling di tempat ini.” rutuk Yein.

Chanwoo tidak menjawab apa yang baru saja dikeluhkan oleh Yein. Tangannya sibuk menampung air hujan yang turun melalui genteng tua ini. Raut wajah Chanwoo juga berubah drastis dari yang semulanya bersemangat menjadi murung.

“Mukamu tidak usah ditekuk begitu ngapa? Kau sedih karena hujan?”

“Apa kau pernah mendengar lagu Gwanghwanumeseo?” tanya Chanwoo tiba-tiba.

Yein yang tidak pernah mendengar lagu Korea selama hidup di Hartford menggelengkan kepalanya, “Tidak. Kenapa memangnya?” tanya balik Yein.

Oneul babocheoreom geu jarie seo inneun geoya (Today, like a fool, I am standing at that spot)

Tiba-tiba saja Chanwoo menyanyikan sebait lagu At Ganghwanumeseo yang dipopulerkan oleh Kyuhyun. Mendnegar suara Chanwoo menyanyi membuat Yein tertegun.

biga naerimyeon heumppeok jeojeumyeo oji annneun neoreul gidaryeo (Getting wet in the rain, waiting for you, who won’t come)

Chanwoo tetap melanjutkan nyanyiannya dengan kepala tertunduk. Melihat Chanwoo sekarang membuat Yein yakin bahwa ada sebuah makna dari lagu yang sedang dinyanyikan oleh pria itu.

Naneun haengbokhaesseo. Geu son japgo geotdeon gieoge tto dwidora bwa nega seo isseulkka bwa (I was happy. At the memories of holding hands and walking together, I look back in case you are standing there)

Setelah selesai menyanyikan lagu tersebut Chanwoo melihat ke jalanan yang ada di depan matanya. Kalau saja beberapa tahun yang lalu dia tidak telat mengungkapkannya mungkin Chanwoo memiliki sebuah kenangan manis di tempat ini daripada kenangan yang meninggalkan penyesalan dalam hidupnya.

“Waaa.. Suaramu jelek.” celetuk Yein.

.

          Mendengar Yein memberikan komentar mengenai suaranya membuat Chanwoo tersentak. Ia langsung melirik tajam Jung Yein yang saat ini tengah memainkan air hujan yang jatuh di tampungan telapak tangannya.

“Jelek katamu? Ya suaraku ini bisa memikat hati ceo agensi Big 3 tahu!” oceh Chanwoo tak terima.

“Masa?” ledek Yein.

“Anak ini…” rutuk Chanwoo.

Yein menghela napas sejenak lalu menyipratkan air yang ada di tangannya kepada Chanwoo. Mendapatkan serangan mendadak dari Yein pun membuat Chanwoo kesal.

Ya!” kesal Chanwoo tak terima.

“Hahaha.. Rasakan itu!” kekeh Yein.

.

          “Cepat hubungi Chanwoo sekarang juga!” Ketiga pria yang mati kutu di hadapan seorang gadis yang tak main-main dengan amarahnya hanya bisa diam saat ia meminta mereka menghubungi Jung Chanwoo. Gadis yang tak lain adalah Lee Suji tersebut menggerutu kesal karena tidak ada satupun di antara Yuvin, Youngtaek, dan Moon Bin yang mau melaksanakan perintahnya.

“Ya!!! Kalian mau mencoba mengelak dariku? Terutama kau Yuvin! Puas kalian membohongi aku?!” pekik Suji.

Youngtaek hanya bisa berdoa agar dia pulang dengan selamat. Berusaha payah dia menghindari Suji selama 2 hari belakangan tapi perempuan itu bisa menemukan keberadaan mereka di rumah Moon Bin sore hari ini. Semua anggota F4 menghindari Suji setelah gadis itu lepas landas di Korea terutama Yuvin dan Chanwoo.

“Cepat suruh Chanwoo datang ke sini sekarang juga! Aku mau memberikan kalian pelajaran karena telah berbohong padaku!” titah Suji.

Honey tenang—“

Honey!? Jangan memanggilku seperti itu karena kau mengabaikan panggilanku lebih dari 1 minggu, Song Yuvin! Kau juga menolak untuk bertemu waktu aku datang ke rumahmu!” potong Suji.

“Aku sudah mencoba untuk menghubungi Chanwoo tadi. Niat kami juga untuk berkumpul bersama di sini.” sambung Bin.

“Hubungi lagi sekarang!” kata Suji.

“Kenapa bukan kau saja?” tanya Youngtaek.

“Karena dia tidak mengangkat panggilanku stupid! Cepat hubungi Chanwoo!”

Mau tak mau Moon Bin kembali mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Jung Chanwoo. Ia menunggu untuk beberapa saat sampai akhirnya Chanwoo mengangkat panggilannya dari seberang sana.

“Kenapa?”

“O..oh Chanwoo-ya!”

“Ada apa?”

“Aku menghubungimu dari tadi. Kenapa kau tidak angkat panggilanku?”

“Aku lagi di Gwanghwamun. Ada apa memangnya?”

“Datang ke rumahku sekarang, please?”

“Untuk apa? Aku capek habis jalan seharian.”

“Kau harus datang atau kalau tidak kami bertiga akan dieksekusi mati!”

“Hah?”

“Pokoknya kau harus datang. Bye!”

.

          Setelah mendapatkan panggilan dari sahabatnya Chanwoo tak paham apa yang dimaksud oleh Moon Bin barusan. Mereka bertiga akan dieksekusi mati?

“Ada apa?” tanya Yein.

Saat ini Chanwoo dan Yein berada di perjalanan pulang ke rumah mereka. Tapi sepertinya tujuan untuk pulang harus Chanwoo tunda karena dia harus menemui Moon Bin di rumahnya.

“Kau mau ikut aku atau pulang sendiri naik taksi?” tanya Chanwoo.

“Huh? Pulang sendiri? No way! Aku tidak berani!” tolak Yein mentah-mentah.

“Ya sudah kalau gitu ikut aku dulu.” ucap Chanwoo memutuskan.

Toh mau tak mau kalau Yein mau menumpang di mobilnya sampai pulang dia harus ikut ke rumah Moon Bin.

“Terserah..” gumam Yein.

.

          “Ini rumah siapa?” Saat masuk ke dalam rumah Moon Bin, Yein tak henti-hentinya bertanya kepada Chanwoo ada di mana mereka saat ini. Chanwoo tak memperdulikan apa yang ditanyakan oleh Yein dan fokus berjalan menuju sebuah ruangan di mana ia dan anak-anak lainnya sering berkumpul.

“Chanwoo? Hello kau punya mulut kan?” oceh Yein.

“Stt! Diam..” tegur Chanwoo.

Setelah berada di depan pintu ruangan yang hendak ia masuki, perasaan Chanwoo cenat-cenut tidak karuan. Feeling-nya mengatakan hal buruk akan terjadi. Setelah meyakinkan hatinya untuk membuka pintu tersebut Chanwoo pun membuka knop pintu tersebut dan—

“JUNG CHANWOO!!!!!!!”

.

          Oh, shit. Ternyata perasaan buruk Chanwoo benar adanya karena baru saja dia membuka pintu si gadis cantik bernama Suji itu meneriakan namanya. Yein spontan menutup telinganya karena teriakan Suji begitu kencang sementara ketiga anggota F4 yang lain sudah melindungi telinga mereka sejak awal.

“Su..suji-ya..” panggil Chanwoo.

“Jadi dia yang namaya Suji?” tanya Yein.

Yuvin yang baru sadar kalau sang tunangan berada di tempat yang sama dengannya langsung membulatkan matanya tak percaya.

“Kau bawa tunanganku ke sini?” tanya Yuvin tanpa sadar.

What the fuck? Tunangan?! Jadi dia jalangnya?” pekik Suji.

“Ja..jalang? Ya! Jaga mulutmu!” kesal Yein tak terima.

“Aku harus menghabisimu! Berani-beraninya kau merebut Yuvin-ku!”

“Sini kalau kau berani!” tantang Yein.

Saat Suji berjalan menghampiri Yein untuk memberikan pelajaran kepadanya Jung Chanwoo spontan langsung berdiri di depan Yein untuk menghalangi niatan Suji. Yuvin sendiri berlari dari sofa yang dia duduki untuk mencegah Suji melakukan hal yang macam-macam kepada tunangannya.

Honey jangan marah please?” bujuk Yuvin.

Ya Jung Chanwoo kenapa kau mengajaknya ke sini? Kau sengaja mau membuatku marah?” tanya Suji penuh amarah.

“Aku bahkan tidak tahu kalau kau ada di sini. Kalau kau ada di sini aku lebih baik pulang daripada menemuimu.” jawab Chanwoo.

“Huh? Kau mau menghindariku?” kata Suji tak percaya.

Chanwoo menganggukan kepalanya karena memang dia berusaha menghindari Suji sejak gadis itu sampai ke Korea.

“Kau—”

Pria bermarga Jung itu menghela napas secara perlahan lalu melihat ke belakangnya. Dapat dia rasakan kalau saat ini seseorang sedang memegang ujung bajunya dengan erat. Siapa lagi orang tersebut kalau bukan Jung Yein.

“Suji-ya listen to me… Aku tidak pernah menyetujui pertunangan ini kok, dan dia juga begitu. Kami bahkan tidak mengenal satu sama lain.” kata Yuvin mencoba untuk membujuk  Suji yang terbakar amarah.

“Omong kosong Yuvin!” pekik Suji.

Air mata Suji yang sejak tadi dia tahan karena amarahnya tumpah membasahi pipi gadis itu. Sontak Yuvin langsung membawa Suji ke dalam pelukannya sementara Chanwoo hanya bisa mematung di tempat ia berdiri. Rasa cemburu kini menggerogoti perasaan Jung Chanwoo. Tak sanggup melihat Yuvin yang tengah memeluk erat Lee Suji, Chanwoo langsung menggenggam tangan Jung Yein dan mengajaknya untuk keluar dari tempat ini.

“Lebih baik kita pulang.” ajak Chanwoo.

“Mmm baiklah…” gumam Jung Yein.

 

Advertisements

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s