Treasure [Chapter 4]

Treasure

Art by Irish posterfanfictiondesign.wordpress.com

Treasure

By Fanita

Main Cast : Lovelyz’ Mijoo & Infinite Woohyun – OC’s Lee Goseul

Cast : Bestie’s Haeryung – Lovelyz’ Jisoo – etc

Genre : Family – Sad – Hurt/Comfort || Rating : PG-15 || Type : Chapter

“Where your treasure is, there will your heart be also”

.

..

.

Langkah kaki Goseul membawanya ke sebuah perusahaan bernama Namu Crop. Hari ini dia ingin menemui Woohyun sekaligus meminta maaf kepadanya karena kemarin dia pulang tanpa memberikan salam yang layak kepadanya. Karena tidak punya nomor handphone Woohyun akhirnya Goseul memutuskan untuk mendatangi saja perusahaan tempat Woohyun bekerja.

.

Goseul berdiri di depan meja resepsionis. Pegawai cantik itu menyapa Goseul dengan hangat lalu menanyakan apa maksud kedatangan Goseul ke tempat ini. Sempat ragu bagi Goseul untuk mengatakannya tapi mau tak mau ini yang bisa dia lakukan untuk menemui Nam Woohyun.

“Aku ingin bertemu dengan paman Woohyun,”

“Apa? Paman Woohyun? Maksudmu Presdir Nam?” tanya pegawai itu kaget.

Goseul menganggukan kepalanya, “Ya aku ingin bertemu dengan Paman Woohyun. Apa bisa?”

Pertanyaan Goseul dihadiahkan sebuah tawa oleh resepsionis tersebut. Goseul hanya bisa menundukan kepalanya karena malu. Apa dia salah berucap? Kenapa orang ini mentertawakannya?

Haksaeng yang benar saja. Presdir Nam bukan orang sembarang yang bisa ditemui seperti itu apalagi yang mencarinya anak kecil sepertimu,”

Hati Goseul jadi menciut. Orang ini memang benar, Woohyun pasti sangat sibuk jadi untuk apa dia menemuinya?

“Ta..tapi bisakah menelponnya sebentar saja? Tolong katakan kalau ada Lee Goseul di sini. Kalau Paman Woohyun tidak mau menemui aku, aku bakalan pulang. Suer!” mohon Goseul.

Ada perasaan tak enak juga di dalam diri resepsionis ini. Sebetulnya dia penasaran kenapa ada anak kecil yang mau mencari seorang CEO penting seperti Nam Woohyun. Alhasil iapun memegang gagang telepon lalu menghubungi ruangannya Woohyun.

.

Goseul harap-harap cemas saat mendengar percakapan resepsionis dengan Woohyun melalui telepon. Setelah selesai resepsionis itu meletakan kembali gagang telepon di tempatnya dan berbicara pada Lee Goseul.

“Mari saya antarkan ke ruangan Presdir Nam,” katanya.

“Paman Woohyun mau menemuiku?” tanya Goseul tak percaya.

Pegawai itu menganggukan kepala sembari tersenyum, “Ya Presdir ingin menemui Anda. Mari saya tunjukan jalan ke ruangannya,” katanya lagi.

Hati Goseul berbunga-bunga karena Woohyun ingin menemuinya. Dia pikir Woohyun tak akan mau bertemu lagi dengannya. Kini Goseul pun mengikuti sang resepsionis yang bersiap mengantarkannya ke ruangan Woohyun.

.

“Paman?” Perlahan Goseul membuka pintu ruangan Woohyun. Ia melihat pria itu sudah duduk di sofa sambil memberikan senyum hangat untuk menyambut kedatangan Lee Goseul.

“Goseul-ah duduklah..”

Dengan cepat Goseul menghampiri Woohyun lalu duduk sesuai perintahnya. Setelah merebahkan tubuhnya di sofa empuk itu Goseul langsung mengajak Woohyun untuk berbicara.

“Paman maaf kemarin aku pulang tanpa pamit. Ibuku tiba-tiba saja marah,”

“Apa kau dimarahi oleh ibumu karena pergi dengan paman?”

Goseul mengangguk, “Bahkan ibu mengurungku di kamar. Ibu sangat aneh…”

Woohyun tersenyum kecut mendengarnya. Di satu sisi dia merasa bersalah dengan Goseul karena dirinya dia jadi dihukum oleh Mijoo dan di sisi lain dia merasa sedih mengetahui kenyataan bahwa Mijoo benar-benar tak suka untuk berjumpa lagi dengannya.

“Hmm Goseul.. Goseul mau pesan apa? Nanti paman minta sekretaris paman membelikan,”

Gwenchana paman! Tidak perlu repot kok!” tolak Goseul.

“Bagaimana dengan Caffe Latte dan blueberry cheese cake?” tanya Woohyun.

Call!” serunya.

Woohyun tertawa mendengar Lee Goseul yang begitu senang dengan sarannya. Hahahaha bisa-bisanya dia berubah pikiran padahal tadi mengatakan tidak perlu apa-apa.

.

Setelah sampai di rumah Mijoo menuangkan segelas air putih di dalam gelasn lalu meminum air mineral itu dalam sekali teguk. Hah.. Dia bingung dengan segala situasi yang ada. Mulai di mana Goseul bertemu dengan Woohyun sampai dirinya yang bisa mengenal istri Woohyun. Kenapa dunianya yang tenang kembali suram saat tahu bahwa orang itu masih ada?

.

Mijoo mengambil sebuah album foto yang selama ini dia simpan dengan baik agar Goseul tidak menemuinya. Ia membuka lembar foto yang telah usang itu satu persatu. Banyak sekali fotonya bersama Woohyun yang masih dia simpan selama ini.

Tsh..

Sebulir air mata jatuh membasahi foto-foto yang Mijoo lihat. Ia terbawa nostalgia bagaimana saat bahagianya bersama Woohyun saat itu. Di mana saat itu keduanya saling mencintai dan hanya ada kebahagiaan di dalam hubungan mereka.

“Ibu?!”

Mendengar Goseul memanggilnya Mijoo mengusap air matanya lalu menyimpan kembali album foto itu di dalam lemarinya. Ia menghampiri Goseul yang baru saja pulang ke rumah.

“Goseul-ah kamu sudah pulang?” tanya Mijoo.

“Ya bu…”

“Apa perlu ibu buatkan makan?”

“Tidak perlu bu aku mau istirahat saja,” tolak Goseul.

Setelah itu Goseul langsung masuk ke dalam kamarnya meninggakan Mijoo yang tengah menatap punggungnya dari belakang dengan tatapan lirih. Apa reaksi Goseul bila tahu orang bernama Woohyun itu adalah ayah kandungnya?

.

“Haeryung-ah apa yang kamu lakukan malam-malam seperti ini?” Woohyun yang baru saja pulang melihat istrinya berada di ruang televisi sambil memilah-milah tas yang dia pesan dari Lee Mijoo. Karena penasaran Woohyun pun menghampiri Haeryung lalu duduk di sebelahnya.

“Aku ingin memberikan tas ini ke orang-orang. Oppa bagaimana menurutmu? Tas ini cantik ‘kan?” tanya Haeryung.

Woohyun mengambil salah satu tas dan menilainya. Tas itu sangat cantik. Dia penasaran di mana Haeryung membelinya.

“Kamu membelinya online?” tanya Woohyun.

“Iya tapi tokonya di Seoul kok. Tadi sore pemiliknya datang ke rumah karena aku mau membeli lebih banyak barang,” jawab Haeryung.

“Oh ya? Toko apa?” iseng Woohyun bertanya.

“Lovely Shop. Pemiliknya sangat baik dan seusia denganku oppa,”

Lovely Shop. Kening Woohyun berkerut karena dia sedang berpikir di mana dirinya pernah mendengar nama itu. Lalu pada akhirnya Haeryung membuatnya teringat tentang toko itu.

“Nama pemiliknya Lee Mijoo.. Besok dia akan kemari lagi mengirimkan barang lainnya,”

Deg! Mendengar Haeryung menyebut nama Mijoo tak salah lagi kalau Lovely Shop adalah toko milik Mijoo. Wajah Woohyun memucat karena takut kalau Haeryung tahu bahwa Mijoo adalah bagian dari masa lalunya.

Oppa kenapa kamu diam saja?” tegur Haeryung.

“Ah.. Aku.. aku mau istirahat dulu Haeryung-ah,” pamit Woohyun lalu dia berlari menuju tangga untuk sampai ke dalam kamarnya.

Ditinggal seorang diri oleh Woohyun membuat Haeryung sedikit kebingungan. Saat dia melihat ke samping ternyata Woohyun meninggalkan tas kerja miliknya.

“Hmm haruskah aku membelikan tas baru untuk oppa?” gumam Haeryung.

Dia mengambil tas Woohyun yang ada di lantai lalu mengecek isinya. Hanya ada berkas-berkas kerja milik Woohyun serta macbook miliknya. Saat Haeryung kembali mengacing tas itu ada sesuatu yang membuatnya terhalang. Mau tak mau Haeryung kembali membuka tas Woohyun dan melihat penyebab resliting tas Woohyun macet.

“Oh.. Ini apa?” gumamnya.

Haeryung pun membaca berkas-berkas tersebut dan menemukan data identitas serta beberapa foto remaja-yang tak lain adalah Lee Goseul. Dengan penuh rasa penasaran Haeryung membaca satu persatu informasi yang tertera di dokumen itu.

“Ibu : Lee Mijoo”

Bayangan Haeryung langsung tertuju pada Mijoo yang sore tadi dia temui. Apa benar bahwa Lee Mijoo yang dimaksud adalah orang itu?

.

Haeryung melewatkan beberapa identitas milik Goseul untuk membaca bagian yang lain. Kini data Mijoo lah yang dia baca walaupun tak ada gambar dirinya. Identitas itu menunjukan dengan jelas bahwa Lee Mijoo tinggal di alamat yang sama dengan toko tempat Haeryung memesan tas tersebut bahkan di sana juga tertulis nama toko yang dimiliki oleh Lee Mijoo.

“Apa ini?” pekik Haeryung tertahan.

Apa hubungan suaminya dengan Mijoo serta anaknya? Apa karena itu Woohyun mendadak diam saat dia menceritakan perihal Mijoo? Lalu sore tadi dia juga ingat bagaimana ekspresi wajah wanita itu saat ia menanyakan tentang suaminya-Nam Woohyun, “Apa maksud semua ini?” lirih Haeryung sambil menahan tangisnya.

.

Woohyun : Goseul-ah apa kamu sedang menyelesaikan pekerjaan rumahmu?

Goseul : Ya paman. Aku sendirian di rumah jadi lebih baik mengerjakan PR dibandingkan tidak melakukan apapun.

Woohyun : Memangnya ibumu ke mana?

Goseul : Ibu baru saja pergi ke supermarket dekat rumah. Beli keperluan bulanan kkkk

Woohyun : Ah begitu.. Kalau gitu semangat mengerjakan PR ya. Goseul fighting^^

Senyum di bibir Woohyun mengembang begitu tahu di mana lokasi Mijoo berada. Dia ingin berbicara kepada Mijoo mengenai Haeryung. Dia ingin meminta tolong kepada Mijoo agar dirinya tak terlalu terlibat dengan istrinya.

.

Woohyun menunggu di depan pintu masuk super market demi menunggu Lee Mijoo. Dia begitu yakin kalau Mijoo masih berada di tempat ini. Belanja bulanan biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama ‘kan? Setidaknya begitulah saat Woohyun menemani Haeryung pergi belanja.

.

Drrrttt.. Ponsel Woohyun yang ada di kantungnya bergetar. Dia melihat siapa yang memaggilnya. Saat tahu itu Haeryung, Woohyun langsung mengangkat panggilan tersebut.

“Oppa!”

“Ya Haeryung-ah?”

“Apa oppa mau kumasakan seafood untuk sarapan besok?”

“Hahaha kenapa bertanya sekarang. Kan’ bisa nanti saat di rumah,”

“Ya biar aku bisa menyiapkan semuanya. Oppa mau?”

“Tentu saja..”

“Baiklah oppa sampai jumpa!”

Panggilan terputus dan Woohyun kembali memasukan ponselnya di saku celana dengan mata yang masih fokus mencari sosok Lee Mijoo.

.

Setelah 20 menit menunggu akhirnya Woohyun melihat cinta pertamanya sudah keluar dari super market sambil membawa belanjaan yang cukup banyak. Woohyun berjalan menghampiri Mijoo yang tampak kesusahan untuk berjalan karena bawaannya.

“Boleh aku bantu?” celetuk Woohyun.

Tungkai Mijoo berhenti berjalan. Dia terkejut saat tahu sosok yang menawarkan bantuan kepadanya adalah Nam Woohyun. Berusaha untuk tidak peduli Mijoo kembali berjalan tapi tetap saja Woohyun berjalan mengejarnya.

“Mijoo tunggu aku. Bagaimana kita bicara sebentar?” tanya Woohyun.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan,” jawab Mijoo dingin.

“Mijoo tenanglah aku berusaha untuk berbicara baik-baik,” katanya lagi.

Tap.. Mijoo berhenti berjalan. Bukan karena dia ingin berbicara dengan Woohyun melainkan karena dia ingin mengatakan sesuatu kepadanya.

“Aku dan Goseul bisa hidup dengan baik tanpa kehadiranmu jadi lebih baik oppa tidak usah muncul lagi dihadapaku,”

“Mijoo-“

Oppa sudah punya istri. Lebih baik bahagiakan istrimu dibandingkan sibuk mengurusi kehidupanku dan Goseul. Oppa tidak perlu sok peduli dengan anakku bahkan memberikannya barang. Aku mampu membelikannya!”

“Bicaramu sudah keterlaluan Mijoo. Goseul itu anakku juga!”

“Goseul tidak perlu ayah sepertimu!” pekik Mijoo.

Semua orang yang lewat memperhatikan perkelahian Mijoo dan Woohyun. Persetan dengan tatapan orang-orang Mijoo hanya ingin memperingati Woohyun agar tidak berani mendekati anaknya lagi.

“Jangan ikuti aku lagi!”

Mijoo berlari meninggalkan Nam Woohyun seorang diri. Sementara itu sedari tadi ada sepasang mata yang menangis karena menyaksikan pertikaian Mijoo dan Woohyun. Tak lain orang itu adalah Na Haeryung yang kebetulan juga mampir di super market yang sama dengan Mijoo dan tak sengaja melihat suaminya bersama Lee Mijoo berbicara.

“Jadi anak kecil itu darah dagingmu?” lirih Haeryung.

.

“Ibu.. Ada apa?” Sejak pulang ke rumah Mijoo terlihat begitu murung bahkan tak berselera untuk memasakan makan malam yang lezat untuk Goseul. Lee Goseul sendiri tidak terlalu mempedulikan makanan karena dia juga sedang menjalankan diet, yang dia khawatirkan ibunya terlihat begitu pucat bahkan matanya memerah seperti orang yang habis menangis.

“Ibu tidak kenapa-napa kok Goseul,” ujar Mijoo tak mau membuat anaknya khawatir.

“Bu kalau tidak enak badan sebaiknya ibu tidur saja,”

Mijoo mengangguk lemah, “Ya ibu akan tidur. Habiskan makananmu Goseul-ah setelah itu jangan lupa letakan piringnya di cucian biar ibu yang mencucinya besok pagi,”

Goseul hanya menuruti apa kata ibunya barusan. Dia pun menghabiskan nasi kari yang dibuat oleh ibunya walaupun tak berselera untuk makan. Goseul terpaksa memakannya karena tak ingin membuat ibunya tambah kecewa karena makanannya tak dihabiskan olehnya.

.

Setelah 1 jam lebih berada di rumah Haeryung-atau lebih tepatnya kediaman keluarga Nam-Mijoo pamit pulang. Dia tidak betah berlama-lama di tempat ini apalagi berhadapan langsung dengan istri Nam Woohyun.

“Mijoo-ssi kamu mau pulang sekarang?” tanya Haeryung.

“Ya aku harus mengurus anakku,” jawab Mijoo.

“Aku ingin berbicara denganmu,” kata Haeryung serius.

“Bicara apa?”

“Mari kita bicarakan di luar saja,”

Walaupun heran dengan sikap Haeryung yang mendadak tegas dan bermuka datar Mijoo hanya bisa mengikuti apa maunya. Dia penasaran apa yang ingin dibicarakan oleh Haeryung padahal urusan bisnis sudah selesai.

.

Perasaan Goseul begitu resah saat mengetahui ibunya belum pulang ke rumah sejak tadi. Sekarang sudah pukul 11 malam tapi tidak ada tanda-tanda ibunya segera pulang. Dari Goseul pulang sekolah di rumah ini hanya ada dirinya. Dia khawatir kalau terjadi sesuatu pada Lee Mijoo.

.

Ponsel Mijoo tidak bisa dihubungi, begitu pula dengan Jisoo. Kenapa di saat-saat seperti ini malah tidak ada yang bisa dimintai bantuan? Goseul panik sekali. Walaupun ibunya orang dewasa tapi tetap saja pergi sampai malam tanpa ada kabar hanya terjadi kali ini. Biasanya kalau pulang malam ibunya akan memberikan sebuah catatan atau bahkan menyempatkan diri untuk menghubunginya.

“Aku harus minta tolong siapa?” rutuk Goseul.

Nam Woohyun. Seketika nama itu terlintas dibenak Goseul. Ia langsung mengakifkan ponselnya lalu menghubungi Woohyun untuk meminta bantuan. Goseul sadar bahwa dia tak pantas meminta bantuan Woohyun yang bukan siapa-siapa untuknya tapi mau bagaimana lagi hanya Woohyun orang dewasa yang dia kenal selain Goseul yang dapat membantunya saat ini.

“Ada apa menghubungi paman malam-malam Goseul-ah?”

“Paman tolong aku,”

“A..ada apa denganmu?”

“Paman ibuku belum pulang juga sampai sekarang. Aku tidak tahu harus bagaimana?”

“Lee Goseul tunggu paman di rumahmu. Paman akan ke sana!”

“Baik paman,”

Setelah selesai menghubungi Woohyun, Goseul bernafas legah. Untung saja Woohyun begitu baik untuk membantu mencarikan ibunya.

.

“Biasanya ibumu kalau pulang malam hari pergi ke maa Goseul-ah?” Woohyun bertanya pada Goseul sembari mengemudikan mobilnya. Begitu Goseul meminta bantuannya dia buru-buru pergi meninggalkan rumah. Untung saja Haeryung sudah tidur jadi dia tidak perlu membuat alasan untuk meminta izin kepadanya untuk pergi keluar rumah.

“Ibu jarang pulang malam, paman. Palingan juga pulang malam kalau minum bersama Bibi Jisoo,”

“Jisoo? Siapa?”

“Teman ibu,”

“Ah begitu.. Apa Goseul tahu di mana mereka biasanya minum?”

“Yang kuingat ibu pernah bercerita tentang warung tenda malam di persimpangan 4 dekat Bank BBCN,”

“Kalau begitu kita cari di sana ya..”

Woohyun membanting stir ke kanan sebagaimana arah jalan tempat yang dimaksud oleh Goseul. Semoga saja Lee Mijoo memang berada di sana.

.

“Bibi aku mau satu botol lagi!” Mijoo berteriak meminta satu botol soju lagi kepada bibi pemilik warung tenda ini. Sejak tadi dia sudah menghabiskan 7 botol soju. Setiap kali Mijoo memutuskan untuk mabuk itu karena dia punya alasan dibaliknya. Hari ini Mijoo memiliki rasa untuk minum karena ucapan Haeryung tadi menyiksa batinnya.

“Aku tahu kamu mengenal suamiku,”

“Apa yang kamu katakan?”

“Lee Goseul.. Dia anak dari Woohyun oppa ‘kan?”

“Ka…kamu tahu dari mana tentang anakku?!”

“Kamu tidak perlu tahu dari mana aku mengetahui hal itu Mijoo-ssi yang jelas kalau Woohyun oppa masih sibuk memperhatikannya aku tidak akan tinggal diam,”

“Apa maksudmu?”

“Kamu tahu ‘kan kalau aku tidak bisa punya anak? Maka dari itu aku juga tidak ingin Woohyun oppa merasakan apa yang namanya memiliki anak,”

“Ka..kau…”

“Aku akan melakukan apapun untuk melenyapkannya,”

Hiks.. Mijoo menangis terisak saat mengingat kejadian itu. Walaupun dalam kondisi mabuk dia masih dapat mengingat semua percakapan antara dirinya dan Haeryung sore tadi. Sialan! Wanita itu mengancam keberadaan Goseul-nya yang malang. Mijoo tahu bahwa pertemuan ini menimbulkan sebuah bencana untuk kehidupannya. Kenapa dia harus terjerat lagi dengan bayang-bayang Nam Woohyun?

.

“Lee Mijoo apa yang kamu lakukan di sini? Goseul menunggumu!” Akhirnya Woohyun dan Goseul dapat menemukan Mijoo di tempat yang dimaksud oleh Goseul tadi. Goseul hanya bisa terdiam melihat ibunya yang terlihat mengenaskan. Apalagi saat dirinya melihat 8 botol soju yang ada di atas meja tempat Mijoo duduk saat ini.

“Goseul-ah langsung saja kembali ke mobil paman dan tolong bukakan pintu untuk ibumu,”

Goseul mengambil kunci mobil Woohyun dari tangannya lalu pergi sesuai perkataan Woohyun barusan. Sementara itu Woohyun membayar semua minuman dan makanan yang Mijoo pesan. Barulah setelah membayar semuanya Nam Woohyun menggendong Mijoo untuk membawanya pulang.

.

Goseul membuka pintu rumah dengan ligat agar Woohyun dapat membawa ibunya yang telah tidur ke dalam kamarnya. Dia menunjukan kamar ibunya dan langsung pergi mengambilkan minum untuk ibunya bila dia sadar.

.

Setelah membaringkan Mijoo di kasurnya Woohyun menatap wajah cantik Mijoo penuh seksama. Sudah lama dia tidak memandang kecantikan alami Mijoo. Dia rindu Mijoo, dia rindu cinta pertamanya.

“Woohyun oppa..” lirih Mijoo.

“Mi..mijoo kau butuh minum?” tanya Woohyun saat melihat Mijoo sadarkan diri.

Oppa aku merindukanmu,” lirihnya.

“Aku juga merindukanmu,” balas Woohyun.

Mijoo langsung memeluk Woohyun dengan sangat erat. Woohyun juga memeluk Mijoo penuh dengan kehangatan. Ia rindu Mijoo. Sangat.. sangat.. merindukan dirinya.

Oppa..” panggil Mijoo.

Masih dengan posisi berpelukan Mijoo menatap mata Woohyun lekat. Ia tersenyum lirih lalu tangannya bergerak menurunkan kepala Woohyun dan-

Chu~

Bibir Mijoo mencium Woohyun untuk menyalurkan kerinduannya yang amat sangat mendalam. Dibalik amarahnya kepada Woohyun diam-diam dia merindukan mantan kekasihnya. Woohyun kini membaringkan Mijoo di atas ranjang dan membalas ciumannya dengan panas. Woohyun sadar bahwa dia berdosa kepada Haeryung tapi sungguh dia tidak bisa menahan lagi perasaan ini. Sejak awal bertemu dengan Mijoo ingin sekali memeluk serta mencium Mijoo seperti saat ini. Dia harap waktu-waktu seperti ini dapat berjalan dengan lambat karena dia merindukan momen dirinya bersama Lee Mijoo.

..tbc..

Advertisements

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s