Treasure [Chapter 5]

Standard
Treasure

Art by Irish posterfanfictiondesign.wordpress.com

Treasure

By Fanita

Main Cast : Lovelyz’ Mijoo & Infinite Woohyun – OC’s Lee Goseul

Cast : Bestie’s Haeryung – Lovelyz’ Jisoo – etc

Genre : Family – Sad – Hurt/Comfort || Rating : PG-15 || Type : Chapter

“Where your treasure is, there will your heart be also”

.

..

.

Tak disangka oleh Goseul bahwa dia akan melihat pemandangan aneh di depan matanya. Ibunya bersama dengan Woohyun tengah berciuman. Goseul yang semulanya ingin menghampiri mereka langsung pergi dari sana karena dia begitu kaget dengan adegan tersebut.

.

Bagaimana bisa mereka berciuman dengan sangat mesra? Apa ibunya dan Woohyun pernah kenal? Semua itu menjadi pertanyaan di dalam pikiran Goseul saat ini. Kembali dia mengingat bagaimana marahnya Mijoo saat mereka pulang setelah menemui Woohyun. Apa semua ini? Goseul tidak tahu, dunia orang dewasa sangat tidak bisa dimengerti olehnya.

.

“Goseul-ah paman balik dulu. Jaga ibumu ya!” Setelah keluar dari kamar Mijoo, Nam Woohyun langsung menghampiri Goseul yang duduk di ruang tamu. Gadis kecil itu hanya mengangguk pelan lalu menemani Woohyun sampai ke depan.

“Paman terima kasih telah menolongku,”

Goseul menundukan tubuhnya sembari berterimakasih kepada Woohyun karena menolongnya untuk menjemput Mijoo yang mabuk di warung itu. Mendengar ucapan terima kasih dari Goseul membuat Woohyun tersenyum sumringah lalu ia mengacak rambut Goseul penuh kasih sayang.

“Tidak masalah kok, demi Goseul paman akan melakukan apapun,” ujar Woohyun.

“Hati-hati di jalan paman,” kata Goseul.

“Ya sampai jumpa lagi Lee Goseul,”

.

Setelah mengunci rapat pintu rumahnya Goseul langsung masuk ke dalam kamar ibunya. Kembali dia memikirkan kejadian yang disaksikan olehnya tadi. Woohyun yang dia tahu sudah memiliki istri tetapi kenapa ciuman tadi bisa terjadi?

Oppa.. Jangan pergi!” Igau Mijoo.

Goseul menghampiri ibunya dan menggenggam erat tangan mulus milik wanita cantik itu. Apa yang membuat ibunya minum sampai seperti ini? Seumur hidupnya Mijoo tidak pernah pulang dalam keadaan mabuk parah, biasanya juga ibunya yang akan menggendong Jisoo pulang setelah pergi dari minum-minum. Apa ibunya memiliki masalah besar saat ini?

.

Oppa good morning..” Na Haeryung menyapa Nam Woohyun penuh dengan senyuman saat Woohyun datang menghampiri meja makan. Woohyun membalas senyum Haeryung kemudian duduk di tempatnya.

“Semalam oppa pergi ke mana?” Tanya Haeryung.

“Ye? Ah.. ada urusan mendadak,” balas Woohyun kikuk.

“Tengah malam? Tidak biasanya,” gumam Haeryung.

Woohyun hanya bisa tersenyum kikuk. Tak mungkin dia mengatakan yang sejujurnya pada sang istri, kan? Apalagi semalam itu ada momentum yang tidak bisa membuatnya tidur semalaman. Ya, apalagi kalau bukan merasakan bibir ranum milik Mijoo setelah sekian lama.

.

“Aa..au kepalaku..” Mijoo terbangun dari tidurnya. Dia merasakan kepalanya sangat sakit dan terasa besar. Begitu Mijoo membuka matanya dia melihat ke sekelilingnya dan manik matanya menangkap semangkok sup di nakas tempat tidurnya.

“Eh?”

Mijoo mengambil note yang tertempel di sana lalu membacanya.

Bu jangan lupa di makan♥

Bibir Mijoo membentuk senyum indah. Dia tak menyangka kalau Goseul sudah bisa bersikap dewasa. Tetapi, omong-omong Mijoo bingung bagaimana bisa dia sampai rumah, seingatnya dia  masih di sana semalam. Apa Goseul yang mengantarnya pulang? Mustahil. Apa mungkin Jisoo? Ah, entahlah Mijoo tak mau pusing memikirkannya.

.

“Jisoo-ya apa aku boleh bertanya padamu?” Pada akhirnya Mijoo kembali penasaran bagaimana bisa dia pulang. Begitu Jisoo datang ke tokonya dia pun bertanya kepadanya masalah bagaimana bisa dia sampai ke rumah.

“Apa semalam kamu yang mengantarkan aku pulang?”

“Ha? maksudnya?”

“Eh bukan kamu?”

Jisoo menggelengkan kepalanya. Ia tak tahu apa yang sedang Mijoo katakan. Semalam? Yang Jisoo lakukan semalam bertemu dengan orangtua kekasihnya.

“Tunggu Mijoo aku tidak mengerti apa yang kamu katakan”

“Lupakan Jisoo.. Aku hanya asal bicara..”

“Huh? Aneh sekali..”

Ternyata bukan Jisoo. Lalu bagaimana bisa dia sampai ke rumah? Lebih baik Mijoo tanyakan saja secara langsung kepada anaknya, mungkin Goseul lebih tahu kapan dan bagaimana bisa dia sampai ke rumah.

.

Saat di sekolah Goseul masih memikirkan kejadian yang dia lihat semalam. Ibunya bersama dengan orang yang begitu dia kagumi bermesraan. Tentunya kejadian itu membuat Goseul syok karena yang Goseul tahu Woohyun sudah memiliki istri. Goseul tak ingin kalau suatu saat ibunya mendapatkan masalah karena kejadian tersebut.

“Hei cewek awasss!!!!”

Brug!

Tubuh Goseul terdorong ke depan sampai akhirnya dia terjatuh. Badan Goseul berguling ke bawah dan membuat orang-orang berteriak histeris melihatnya apalagi darah bercucuran dari kepala Lee Goseul. Itu semua karena seorang anak laki-laki bermain-main di dekat tangga hingga akhirnya ia menyenggol Goseul dan membuat gadis cantik itu menjadi korban.

“Cepat panggil songsaengnim!!” Teriak seorang siswa.

.

Mijoo menghitung jumlah penjualannya selama 1 minggu ini. Walaupun kepalanya masih terasa berat tapi Mijoo harus bekerja demi membiayai kehidupannya bersama Goseul.

Ddrrttt…

Di saat Mijoo sedang mencatat sesuatu di bukunya, ponsel miliknya berbunyi. Mijoo meraih ponsel itu dan melihat siapa yang menghubunginya. Begitu Mijoo lihat yang menelponnya berasal dari sekolah Goseul iapun langsung mengangkatnya.

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo Goseul eomma?”

“Ya saya ibunya Goseul”

“Maafkan kami bu tapi kami harus memberitahu sesuatu”

“Apa Goseul membuat kesalahan di sekolah?”

“Bukan bu tapi Goseul mengalami kecelakaan”

“Ye?!!!”

“Saat ini Goseul sudah dilarikan ke Rumah Sakit Asan”

“Go..goseul-ah..”

“Kami mohon agar ibu tenang-“

Prang! Ponsel Mijoo terjatuh beserta air mata Mijoo setelah mendengar apa yang dikatakan oleh pihak sekolah Goseul. Jisoo yang terkejut karena Mijoo menjatuhkan handphonenya ke lantai langsung menghampiri sahabatnya yang saat ini sudah terisak sambil memanggil nama buah hatinya.

“Goseul-ah hiks..”

“Mijoo-ya ada apa?”

“Go..goseul.. uri Goseul…” isak Lee Mijoo.

.

Entah sudah berapa kali Woohyun menghembuskan napasnya secara kasar. Dia merasa resah setiap kali mencoba untuk berkonsentrasi dalam pekerjaannya. Ada yang mengganjal di dalam hati Woohyun tapi dia tak tahu apa penyebabnya.

.

“Apa ibu wali dari nona Lee Goseul?” Mijoo langsung menggenggam tangan sang dokter begitu ia bertanya kepadanya. Ia menganggukan kepalanya berulang kali sambil memohon kepada dokter untuk menyelamatkan anaknya.

“Saya ibunya saya mohon selamatkan anak saya songsaengnim..” isak Mijoo.

“Mijoo-ya tenanglah…” bisik Jisoo.

Uri Goseul tidak boleh terluka..” lirih Mijoo.

“Ibu tenanglah. Kami berusaha untuk menyelamatkan anak ibu tapi ada satu hal yang harus kami katakan”

“Apa songsaengnim? Katakan saja?” ucap Jisoo.

“Saat ini Goseul membutuhkan stok darah yang banyak tapi sayangnya persediaan golongan darah B negatif sedang kosong baik di rumah sakit maupun di PMI. Apa bisa pihak ibu mencari orang yang memiliki golongan darah yang sama dengan Lee Goseul?”

Lee Mijoo terdiam karena golongan darahnya berbeda dengan Goseul. Ia memiliki golongan darah O sementara yang memiliki golongan darah B adalah ayahnya, Nam Woohyun. Jisoo juga menghela napasnya karena tak bisa membantu. Golongan darahnya juga O, sama seperti Lee Mijoo. Mijoo pusing dan tidak tahu harus bagaimana saat ini.

“Mijoo-ya apa kamu memikirkan seseorang yang bisa menolong Goseul?” Tanya Jisoo.

“Aku….”

.

Ddrrrttttt…

Woohyun yang sedang memejamkan matanya mendengar ponselnya yang ada di atas meja berbunyi. Ia membuka kedua matanya lalu mengambil ponsel itu. Begitu Woohyun melihat nama yang menghubungi ia mengerutkan keningnya heran. Goseul menghubunginya di jam sekolah?

“Yeoboseyo Goseul-“

“Oppa..”

“Mijoo?”

“Oppa..”

“Ada apa Mijoo? Kenapa suaramu terdengar seperti-“

“Goseul membutuhkanmu…”

.

Woohyun tidak peduli tatapan orang-orang yang memandangnya penuh keheranan karena dia berlari dengan keringat yang bercucuran di sekujur tubuhnya. Karena jalanan macet Woohyun memutuskan berlari untuk sampai ke rumah sakit yang sebetulnya masih berjarak 1 km dari tempat di mana mobilnya terparkir.

.

Begitu mendengar penjelasan dari Mijoo ditelepon tadi Woohyun langsung beranjak untuk pergi melihat buah hatinya saat ini dalam keadaan kritis. Semalam dia masih melihat Goseulnya dengan keadaan sehat tetapi siang ini dia mendapatkan kabar yang tak enak. Wajar saja bila sejak tadi Woohyun merasa ada yang aneh dengan perasaannya.

“Mijoo bagaimana keadaan Goseul?” Tanya Woohyun setelah berhasil sampai menghampiri cinta pertamanya.

Grap~ Mijoo langsung memeluk Woohyun dan menangis di dada bidangnya. Ia menangis sekencang mungkin karena hatinya terasa sesak memikirkan Lee Goseul yang saat ini berada dalam penanganan dokter. Jisoo sendiri hanya bisa diam dan menatap lirih sahabatnya. Tak dia sangka kalau pertemuannya bersama ayah kandung Goseul terjadi di saat menyedihkan seperti ini.

“Kamu bilang Goseul butuh donor darah bukan? Di mana aku harus melakukannya?” Tanya Woohyun.

Mijoo melepaskan pelukannya dari Woohyun dan mengusap air matanya. Ia menunjuk ke sebuah ruangan di mana suster telah menunggu kehadiran Woohyun sejak tadi. Woohyun mengusap air mata Mijoo sebelum akhirnya pergi meninggalkan wanita yang diam-diam masih saja hinggap di hatinya.

“Berdoalah untuk anak kita, Mijoo-ya..” ucap Woohyun.

.

Sudah lebih dari 4 jam ketiga orang ini menunggu Goseul yang saat ini sedang berada di ruang operasi. Mijoo tak henti-hentinya menangis sementara Jisoo berusaha keras untuk menghibur saudaranya. Woohyun sendiri merasakan sesak di dadanya. Ia berharap anak semata wayangnya baik-baik saja dan segera pulih kembali.

Tit..

Lampu merah telah padam, menandakan bahwa operasi telah selesai. Woohyun, Mijoo dan Jisoo langsung berdiri dan menanti sang dokter keluar dengan memberikan kabar gembira untuk mereka.

Krek..

Pintu pun terbuka. Dokter yang masih berpakaian operasi datang menghampiri mereka lalu menyampaikan hasil operasi yang telah dijalankan selama 4 jam itu.

“Ibu, bapak, operasi berjalan dengan lancar hanya saja-“

“Ha..hanya saja apa dok? Goeul baik-baik saja kan?” Potong Mijoo.

Woohyun merangkul Lee Mijoo dan menyuruhnya untuk tenang dan memberikan kesempatan kepada dokter untuk menjelaskannya secara rinci.

“Sampai detik ini Goseul belum juga sadar jadi kami memutuskan untuk membawa Goseul ke ruang ICU”

“Terima kasih songsaengnim..”

Woohyun mengucapkan hal tersebut dengan tulus dan memberikan hormat kepada dokternya. Dokter itu membalas hormat Nam Woohyun lalu pamit untuk segera melakukan pekerjaannya yang lain.

“Mijoo operasi berjalan lancar jadi aku harap kamu bisa tenang sekarang”

Oppa tapi..”

“Goseul anak yang kuat sama seperti ibunya, aku yakin dia bisa melewati masa krisis dan kembali sehat seperti biasanya”

Mijoo menatap lirih Nam Woohyun yang saat ini hanya memfokuskan dirinya kepada Mijoo. Entah kenapa perasaan Mijoo yang awalnya dingin kepada Woohyun jadi mencair begitu saja. Saat Woohyun memeluknya dan berusaha menenangkan dirinya yang kacau, Mijoo merasa tenang berada di dalam pelukan Woohyun.

Oppa.. terima kasih banyak” lirih Mijoo.

“Bukan masalah. Sebaiknya kamu tunggu di sini bersama Seo Jisoo-ssi. Aku harus mengurus biaya administrasi untuk Goseul..”

Ia menganggukkan kepalanya setelah itu Woohyun pun pergi meninggalkan Mijoo untuk melakukan apa yang ia katakan tadi.

.

Woohyun telah membayar biaya operasi yang harus dilunaskannya di awal. Uang bukanlah hal yang sulit bagi Nam Woohyun karena dia tergolong laki-laki yang sukses. Bagi Woohyun berapapun uangnya asalkan Goseul segera sembuh akan dia bayar. Sekalipun segala harta benda yang dia miliki bakalan lenyap, itu tak mengapa baginya, “Goseul-ah bangun sayang, kamu harus tahu kalau paman adalah ayah kandungmu” lirih Woohyun.

.

Haeryung menatap jam di dinding yang telah menunjukkan pukul 9 malam. Tapi sang suami tak kunjung pulang. Ia sudah berusaha menghubungi Woohyun tapi ponselnya tak aktif. Haeryung juga sudah menghubungi kantornya dan yang Haeryung dapatkan hanya jawaban kalau suaminya pergi tergesa-gesa tanpa mengatakan ke mana ia akan pergi, “Oppa.. Aku merindukanmu” lirih Haeryung.

.

“Woohyun-ssi.. Ini..” Seo Jisoo menyerahkan secangkir kopi panas kepada Woohyun yang duduk termenung seorang diri. Woohyun mengangkat kepalanya lalu tersenyum tipis kepada Jisoo dan ia juga menerima kopi yang diberikan oleh sahabatnya Lee Mijoo.

“Terima kasih Jisoo-ssi” ucap Woohyun.

“Tak masalah kok..”

Keadaan kembali tenang. Jisoo jadi teringat kalau saat ini jam sudah bertengger di angka 11 malam namun Woohyun masih setia menunggu Goseul dan Mijoo di rumah sakit ini.

“Sebaiknya kamu pulang..” saran Jisoo.

“Aku harus menemani mereka” jawab Woohyun.

“Tapi kamu harus ingat istri sahmu, Woohyun-ssi..”

Jisoo sudah mendengar cerita dari Mijoo kalau Woohyun telah menjadi suami orang lain. Menurut Jisoo tak seharusnya Woohyun berada di tempat ini karena dia memiliki istri yang menanti kepulangannya di rumah. Dia memang ayah Goseul tapi keluarganya di rumah harus diutamakan.

“Tak masalah aku bisa mencari alasan untuk itu. Aku harus memastikan kalau Goseul telah sadar” balas Woohyun.

Tak Jisoo duga kalau Woohyun memiliki watak yang keras kepala seperti ini. Dia menghela napas secara perlahan lalu meneguk kopi miliknya sendiri.

“Aku hanya menyarankan saja hm..”

•tbc•

Advertisements

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s