Treasure [Chapter 8]

Treasure

Art by Irish posterfanfictiondesign.wordpress.com

Treasure

By Fanita

Main Cast : Lovelyz’ Mijoo & Infinite Woohyun – OC’s Lee Goseul

Cast : Bestie’s Haeryung – Lovelyz’ Jisoo – etc

Genre : Family – Sad – Hurt/Comfort || Rating : PG-15 || Type : Chapter

“Where your treasure is, there will your heart be also”

.

..

.

Mobil hitam yang harganya selangit itu melaju dengan sangat kencang. Sang empunya tak peduli bila bisa saja dia terlibat kecelakaan lalu lintas atas perbuatannya. Ya, orang itu adalah Woohyun yang memilih untuk pergi dari rumah setelah bertengkar dengan istrinya.

.

Cerai?

Sebenarnya Woohyun tidak pernah memikirkan hal itu setelah menikahi Na Haeryung. Woohyun ingat betul janjinya dengan sang ayah yang akan terus mematuhi perintahnya agar Mijoo dan sang baby tidak diganggu olehnya. Saat ayahnya masih hidup, Tuan Nam pernah mengancam Woohyun kalau dia tidak segan-segan untuk mencelakakannya hidup Mijoo dan anaknya bila dia tidak kembali ke rumah. Tidak mau melihat kedua orang yang begitu dia sayangi terluka atas perbuatan keji yang bisa saja dilakukan oleh ayahnya, Woohyun memilih pergi agar keselamatan mereka terjaga. Setelah itu juga Woohyun dengan penuh keterpaksaan bersumpah di depan makam sang ibu kalau dia akan menuruti apa yang diperintahkan oleh ayahnya sebab hanya dialah penerus keluarga Nam yang pantas mewarisi perusahaan yang dibangun oleh keringat ayahnya.

.

Ketaatan Woohyun pada sang ayah yang akhirnya membuat dia harus menikahi Na Haeryung. Wanita yang merupakan anak dari sahabat ayahnya hidup sebatang kara setelah nyawa orangtuanya harus diambil oleh Yang Maha Kuasa dalam kecelakaan maut yang menimpa keluarganya. Kehidupan Haeryung lalu menjadi tanggung jawab Tuan Nam dan pada akhirnya beliau memutuskan untuk menikahkan Woohyun dengan wanita cantik bermarga Na tersebut.

.

Perjodohan itu sebetulnya ditentang oleh kata hati Woohyun. Akan tetapi seorang Nam Woohyun tak berniat untuk merasakan kembali apa namanya cinta setelah berpisah dari pujaan hatinya. Jadi Woohyun pun bersedia untuk memperistri Haeryung dan berjanji untuk membina rumah tangga yang baik bersamanya. Namun sayang, setelah 8 tahun berjalan sepertinya inilah keputusan terakhir Nam Woohyun untuk berpisah dengannya dan memperjuangkan cinta serta anaknya yang amat sangat disayangi olehnya.

.

Pembantu rumah tangga di kediaman keluarga Nam tidak tahu harus berbuat apa saat melihat isi rumah telah berantakan karena sang nyonya besar mengamuk usai bertengkar dengan suaminya. Lukisan, keramik, foto atau apapun yang dia lihat tidak luput dari amarahnya. Mendengar Woohyun dengan mudahnya menyetujui ucapannya untuk bercerai membuat Haeryung terluka. Perkataannya tadi hanyalah sebuah omong kosong dan diucapkannya tanpa mengontrol lagi amarahnya. Lagipula tidak pernah dibayangkan olehnya seorang Nam Woohyun akan menceraikan.

“Aku benci semuanya aarrghh!!!!” Teriak Haeryung dengan air mata mengalir dari pelupuk matanya.

.

Langkah kaki Woohyun terhenti saat melihat wanita yang dia cinta sedang menangis di dalam pelukan sahabatnya. Hati Woohyun ikut merasakan sakit itu. Dia menyesal karena kejadian seperti ini bisa terjadi di luar dugaannya. Woohyun tidak peduli dengan kenyataan bahwa Haeryung diam-diam mengetahui rahasianya, yang menjadi beban pikirannya adalah bagaimana bisa seorang Na Haeryung melakukan percobaan pembunuhan kepada Lee Goseul hanya karena keegoisannya?

.

“Mijoo.. Ada Woohyun-ssi di sini..” Jisoo membisikan informasi itu kepada Mijoo yang berada di pelukannya. Saat tahu bahwa di tempat ini ada pria itu, Mijoo melepaskan pelukannya dari Jisoo lalu menghampiri Woohyun yang dia mematung 5 meter di hadapannya.

“Mijoo-“

Plak! Mijoo menampar keras pipi Nam Woohyun dengan tangan kanannya yang bergetar. Woohyun diam seolah-olah dia pantas mendapatkan tamparan itu dari Lee Mijoo. Belum puas memberikan sebuah tamparan kepada mantan kekasih, Mijoo memukul dada bidang Woohyun dan mengumpat kasar di depan mukanya.

“Brengsek! Ini semua karenamu! Kalau kamu tidak datang kembali ke dalam kehidupanku dan Goseul semua ini tidak akan terjadi padanya!”

“Mijoo..”

“Hiks.. Kamu selalu membuatku tersiksa. Goseul yang malang hiks..”

Woohyun tanpa mengucapkan sepatah kata pun langsung membawa Mijoo ke dalam pelukannya. Tak peduli kalau Mijoo memberontak, Woohyun terus saja memeluknya dan berusaha untuk menenangkan sang pemilik hatinya.

“Goseul akan baik-baik saja Mijoo-ya, kamu boleh membunuhku kalau sesuatu sampai terjadi kepada anak kita,” lirih Nam Woohyun.

.

“Ibu Lee Mijoo?” Dokter yang baru saja selesai menangani Goseul di ruang operasi datang menghampirinya. Melihat dokter telah keluar dari tempat tersebut, Mijoo langsung berdiri dan menanyakan kondisi anaknya.

“Go…Goseul bagaimana keadaan anak saya dok?” Tanya Mijoo.

“Keadaan Goseul memang sempat kritis, bu. Tapi kita harus bersyukur karena Tuhan telah memberikan kekuatan untuk Goseul dapat bertahan. Cekikan yang dilakukan oleh pelaku begitu keras dan menyumbat pernafasannya Goseul, tapi syukurlah saat itu ibu datang tepat waktu sehingga kemungkinan yang buruk tidak terjadi..”

Mijoo menghela napasnya lalu bersyukur karena Goseul berhasil diselamatkan. Begitu pula dengan Woohyun dan Jisoo yang mendengar penjelasan dari dokter barusan. Woohyun telah bersumpah pada dirinya sendiri bila sesuatu yang buruk menimpa Lee Goseul, ia tak akan memaafkan Na Haeryung atau bahkan memenjarakannya.

.

Woohyun mengintip Mijoo yang sedang menemui Goseul di ruang HCU dari kaca luar. Dia ingin masuk ke dalam dan meminta maaf kepada Goseulnya tapi Woohyun sadar kalau saat ini Mijoo tak bisa menerima kehadirannya.

.

Jisoo sendiri sudah pulang karena Mijoo memaksanya untuk tidak menemaninya lebih lama di rumah sakit. Sementara Woohyun, ia dibiarkan begitu saja oleh Mijoo karena Mijoo enggan untuk menatap apalagi berbicara padanya. Dia masih sangat marah karena istri Woohyun yang telah menyebabkan terjadinya kejadian mengerikan yang menimpa Lee Goseul tercinta.

.

Mijoo yang saat ini setengah sadar terus mengenggam tangan Lee Goseul dengan sangat erat. Dia harus ada di saat Goseul sadarkan diri. Mijoo mau dia selalu hadir dan siap bila Goseul membutuhkannya.

“Ayah…”

Mendengar seseorang samar-samar menyebutkan kata ayah, Mijoo membuka kedua matanya lebar-lebar. Mijoo melihat dengan jelas bahwa mulut Goseul bergerak dan mengucapkan kata ayah.

“Ayah.. ayah..” igau Goseul.

Tangan kiri Mijoo menggenggam erat tangan Goseul dan tangan kanannya mengusap pipi Goseul yang sudah membasah karena gadis itu menangis. Melihat Goseul seperti ini membuat Mijoo tak bisa menahan air matanya. Ia menangis sama seperti Goseul yang saat ini merindukan sang ayah.

“Cepat sembuh sayang, ibu janji akan memberitahukan siapa ayahmu yang sebenarnya..” isak Mijoo.

.

“Maaf mengganggu pagi sekali Pengacara Park..”

“Oh tidak masalah Tuan. Apa yang bisa saya bantu?”

“Tolong urus surat gugatan cerai untukku”

“Ye? Cerai? Saya tidak salah dengar?”

‘Tidak.. Saya berniat menceraikan istri saya”

“Oh.. saya mengerti Tuan, secepatnya akan saya urus gugatan Anda”

“Terima kasih Pengarahan Park..”

“Bukan apa-apa Tuan Nam..”

Setelah panggilan terputus Woohyun menghela napasnya secara perlahan. Keputusannya sudah bulat dan dia harus melakukan hal ini secepat mungkin. Woohyun sadar kalau dia egois dan tidak memikirkan perasaan sang istri, tapi mau bagaimana lagi, Woohyun tidak sanggup melihat sisi liar istrinya yang nekad untuk membunuh Lee Goseul.

Mianhae Haeryung-ah…” lirih Woohyun.

.

Niat Mijoo untuk menghampiri Woohyun ia urungkan saat dirinya mendengar Woohyun sedang bercakap dengan seseorang melalui telepon. Mijoo berdiri di belakang pria itu tanpa Woohyun sadari dan dapat menguping dengan jelas apa yang sedang dibicarakan olehnya.

Perceraian.

Ya, Woohyun dengan jelas mengatakan kalau dia mengatakan kepada pengacaranya bahwa dia mau mengajukan permohonan cerai kepada Na Haeryung.

.

Haruskan Mijoo senang dan bahagia mendengarnya? Fakta bahwa ayah dari anak yang dilahirkannya 14 tahun silam akan menyandang status duda membuat Mijoo merasa legah tetapi juga merasakan perasaan bersalah. Sudah pasti bahwa alasan Woohyun menceraikan Haeryung dikarenakan kejadian semalam. Mijoo bukan wanita yang sekejam itu untuk berbahagia di atas penderitaan orang.

“Mijoo sejak kapan kamu berdiri di sana?”

Tiba-tiba saja Woohyun menoleh ke belakang dan melihat bahwa Mijoo ada di belakangnya. Mijoo berdehem karena ketahuan tegak di belakang Woohyun sejak tadi. Kini Mijoo pun memilih untuk duduk di sebelahnya Woohyun, membicarakan apa yang ingin dia katakan.

“Oppa..”

“Ya?”

“Setelah Goseul sepenuhnya pulih aku akan memberitahukan kepadanya kalau ayahnya saat ini masih ada dan bahkan dekat dengannya”

“Su..sungguh?!”

Woohyun tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya begitu Mijoo datang dan membawakan informasi tersebut. Jadi Mijoo akan jujur pada Goseul bahwa dia adalah ayah kandungnya, bukan hanya sekadar paman baik hati yang dia kenal?

“Ya.. Cepat atau lambat Goseul harus mengetahuinya,” jawab Mijoo.

“Apa menurutmu Goseul bisa menerimaku sebagai ayahnya?” Tanya Woohyun.

Ada rasa kekhawatiran di dalam dirinya. Dia takut kalau kejujuran malah akan menyakiti Goseul. Woohyun merasa gundah apabila Goseul malah menjauh darinya karena benci dengan kenyataan yang ada.

“Entahlah.. Goseul begitu mendambakanmu, aku rasa dia akan suka kalau tahu ayahnya adalah kamu, oppa.”

.

“There was a time when I thought I knew love until you came into this world. Time keeps on flying but you’re always gonna be my baby girl”

Goseul perlahan membuka kedua matanya yang terpejam. Sayup-sayup dia mendengar suara seseorang bernyanyi di dekatnya. Saat tahu siapa yang menyanyi Goseul pun tersenyum dan memanggil nama orang tersebut.

“Paman Woohyun..” lirih Goseul.

“Go..Goseul sudah sadar?”

“Paman.. ibu mana?”

“Ibumu sedang pergi ke mini market, sayang..” jawab Woohyun.

Ia begitu bersyukur karena Goseul pada akhirnya bisa sadarkan diri. Tangan Woohyun kini telah mengusap lembut pipi Goseul dan tanpa dia sadari air mata yang sudah ditahannya sejak semalam pun keluar membasahi pipinya.

“Paman kenapa menangis?” Tanya Goseul.

Woohyun hanya diam dan terus mengeluarkan air matanya. Dia tak bisa menahan perasaannya saat ini karena Woohyun bahagia sekaligus sesak melihat sang anak terbaring di rumah sakit.

“Paman jangan menangis..”

Goseul mengusap air mata Woohyun dengan ibu jarinya. Mendapatkan perlakuan seperti ini dari Lee Goseul membuat Woohyun tersenyum lirih dan mengusap tangan mungil gadis itu.

“Goseul-ah maafkan paman..”

Gwenchana paman… gwenchana…” lirih Goseul.

Ia jadi teringat kejadian seram yang menimpanya. Itu semua disebabkan oleh istri dari pria yang sedang menangis dihadapannya ini.

“Paman?” Panggil Goseul.

“Y..ya Goseul?”

“Bolehkah aku memeluk paman?” Tanyanya.

Tanpa berpikir panjang Woohyun langsung menganggukan kepalanya. Ia merentangkan tangannya menandakan bahwa dia welcome kepada Goseul yang mau memeluknya. Mendapatkan lampu hijau dari si paman, Goseul langsung memeluknya dengan erat dan diam-diam menangis di dalam pelukan Nam Woohyun.

“Anakku.. Sudah lama ayah ingin memelukmu sayang” batin Nam Woohyun.

.

Mijoo menyaksikan drama yang terjadi di dalam sana dengan senyuman di bibirnya. Melihat Goseul yang bisa merasakan pelukan dari sang ayah membuat hati Mijoo terasa legah. Ia memiliki dorongan untuk bergabung dan ikut memeluk mereka namun semua keinginan itu ditahan oleh Lee Mijoo.

“Bukan saatnya, Mijoo…”

.

Keadaan Goseul sudah semakin membaik setiap harinya. Woohyun selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan Goseul sepulang bekerja. Omong-omong sejak pertengkarannya dengan Na Haeryung, hingga kini Woohyun belum pulang ke rumah, Woohyun memilih untuk tidur di hotel dibandingkan harus pulang ke rumahnya. Telepon masuk dari Haeryung juga tidak pernah dia angkat. Hanya sesekali Woohyun membaca pesan yang dikirimkan Haeryung dan isi pesan tersebut adalah pertanyaan apakah dia bersungguh-sungguh untuk menceraikannya.

.

Ya dia bersungguh-sungguh, hari ini semuanya telah siap. Pengacara Woohyun bahkan telah diperintahkan oleh Woohyun untuk memberikan surat yang harus ditandatangani oleh Na Haeryung. Alasan yang dibuat Woohyun untuk permohonan cerainya adalah masalah Haeryung yang tidak bisa memberikan keturunan dan juga percobaan pembunuhan yang dilakukannya. Woohyun tidak sepenuhnya turun tangan untuk mengurus masalah ini karena pengacaranya lah yang dia tunjuk untuk mengurus segalanya termasuk pertemuan di pengadilan. Yang Woohyun inginkan hanyalah segera terbebas dari status “suaminya Nyonya Na Haeryung”.

.

“Goseul-ah..” Mijoo yang sedang mengupas kulit apel memanggil nama anaknya. Lee Goseul hanya bergumam sambil menonton siaran di televisi yang tergantung dari dari sana.

“Hmm?” Gumam Goseul.

“Apa kamu mau bertemu dengan ayahmu?” Tanya Mijoo,

Goseul melihat kepada ibunya sambil memberikan tatapan bingung. Untuk pertama kalinya Goseul mendengar sang ibu mengungkit masalah ayahnya. Kenapa tiba-tiba?

“Bu.. ibu tidak sakit kan?” Tanya Goseul heran.

“Ibu serius Goseul. Apa kamu mau bertemu dengan ayahmu?”

Seketika perasaan aneh datang menghampiri Goseul. Bertemu dengan ayahnya? Semenjak Goseul kelas 4 SD dirinya tidak pernah lagi merengek untuk berjumpa dengan ayahnya. Pertanyaan ibunya begitu membuat Goseul kelimpungan.

“Untuk apa bu? Toh selama ini hanya ibu yang merawatku jadi aku hanya butuh ibu di dalam hidupku,”

.

Deg! Woohyun merasakan nyeri saat mendengar Lee Goseul mengatakan hal seperti itu. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan Goseul saat mendengar Mijoo tengah mengungkit cerita ayah atau dirinya kepada sang anak.

.

Jawaban Goseul membuat Woohyun tersenyum perih. Goseul benar kalau selama ini cuma Mijoo yang ada di sampingnya dan selalu melindungi dirinya. Woohyun hanyalah sosok laki-laki yang tidak bertanggung jawab kepada anak kandungnya dan wanita yang sudah dia hamili bahkan masa depannya hancur karena perbuatan bejatnya, “Hah… ini semua karma untukmu Woohyun,” lirihnya.

.

Oppa sejak tadi di luar?” Mijoo yang keluar dari kamar Goseul melihat Nam Woohyun duduk di luar seorang diri. Biasanya Woohyun akan langsung masuk dan menemui Lee Goseul tetapi dia malah ada di luar.

Oppa kenapa?” Tanya Mijoo.

“Goseul.. tidak membutuhkan ayahnya ya?” Lirih Woohyun.

Tak Mijoo duga kalau Woohyun tahu tentang perkataan anaknya. Jadi ini yang menyebabkan Woohyun berada di luar ketimbang masuk ke dalam?

“Dia hanya asal bicara oppa,”

“Kalau memang iya aku tidak mempermasalahkannya kok, karena aku tahu bahwa aku ayah yang buruk untuk Lee Goseul,”

Mijoo mengusap punggung Nam Woohyun untuk menenangkannya. Tanpa bertanya pun Mijoo menyadari bahwa saat ini Woohyun sangat sedih karena sejujurnya Mijoo masih mengingat dengan jelas kebiasaan serta sifat pria yang membuatnya tak mampu mencari pengganti untuk mengisi kekosongan hatinya.

“Oppa..” Panggil Mijoo, setelah itu dia melanjutkan lagi ucapannya. “Goseul mencarimu..”

“Ada apa?” Tanya Woohyun heran. Tak biasanya.

“Dia ingin berbicara denganmu..”

“Apa?”

.

Woohyun masuk ke dalam kamar Lee Goseul dan mendapati anak gadis itu sedang menatap lurus ke depan. Biasanya Goseul akan berteriak menyambut kehadirannya namun saat ini terasa begitu sunyi. Woohyun jadi kikuk sendiri dan mau tak mau melangkahkan kakinya mendekati Goseul.

“Goseul-ah paman dengar Goseul mau bicara dengan paman-“

Grap! Woohyun terkejut saat Goseul menariknya untuk mendekat dan malah langsung memeluknya erat. Tidak biasanya Goseul seperti ini-

“Ayah.. hiks,” isak Goseul.

“Go..goseul-ah…”

.tbc.

Advertisements

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s