Treasure [Chapter 10]

Treasure

Art by Irish posterfanfictiondesign.wordpress.com

Treasure

By Fanita

Main Cast : Lovelyz’ Mijoo & Infinite Woohyun – OC’s Lee Goseul

Cast : Bestie’s Haeryung – Lovelyz’ Jisoo – etc

Genre : Family – Sad – Hurt/Comfort || Rating : PG-15 || Type : Chapter

“Where your treasure is, there will your heart be also”

.

..

.

          Sepanjang hari ini Nam Woohyun menyambut tamu yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Na Haeryung.  Dia sedih mengetahui bahwa sosok Haeryung harus pergi setelah bertengkar hebat dengannya. Jujur saja Woohyun dihantui oleh rasa bersalah.

Oppa...”

.

        Mendengar seseorang memanggilnya oppa membuat Nam Woohyun menegakan kepalanya. Lee Mijoo, ternyata wanita itu yang datang kepadanya. Mijoo hanya bisa menghela napas saat melihat Woohyun terlihat seperti kehilangan separuh jiwanya.

“Aku turut berduka,” lirih Mijoo.

Ia berjalan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Haeryung walaupun wanita itu sempat mencelakakan kehidupan anaknya.  Bagaimana pun mendendam itu tidaklah baik.

.

          Mijoo duduk di meja yang telah disediakan. Ia memakan santapan serta soju yang dihidangkan oleh pihak Woohyun.  Namun tetap saja atensi Mijoo terpusatkan kepada Woohyun yang memaksakan diri untuk tersenyum saat menyambut para tamu berdatangan. Itu pasti berat, batin Mijoo.

“Aku tidak menyangka kalau Haeryung semudah itu membunuh dirinya padahal dia hidup bergelimang harta dari suaminya,”

“Kaya si kaya tapi kalau tidak punya anak untuk apa? 8 tahun menikah tapi masih juga belum dikaruniai anak,”

“Iya juga sih. Kekayaan Nam Corp akan diwariskan pada siapa kalau mereka tidak punya keturunan. Mungkin itu sebabnya Haeryung bunuh diri,”

“Ya bisa jadi. Menyedihkan sekali,”

Mijoo meminum soju yang ada di gelas dalam sekali teguk. Kuping Mijoo panas mendengar wanita-wanita itu menggosip Haeryung yang telah tenang di alam lain. Bukankah itu tidak sopan? Untung saja tidak ada pihak keluarga yang mendengar ucapan ringan mereka.

.

          Karena kondisi Goseul yang sudah membaik, dokter memperbolehkannya untuk pulang ke rumah. Hari ini Mijoo ditemani oleh sang sahabat Jisoo serta kekasihnya akan mengantar Goseul pulang dengan mobil Kim Myungsoo tentunya.

“Bu, ayah di mana?” Celetuk Goseul yang sudah beberapa hari tidak melihat Woohyun.

Mijoo dan Jisoo saling pandang satu sama lain setelah itu berusaha menjelaskan pada Goseul apa yang terjadi.

“Ayahmu sedang ada urusan sibuk jadi tidak bisa ikut mengantar pulang,”

“Yah.. padahal ayah sudah berjanji. Ayah tidak kaburkan bu? Jangan bilang ayah mau meninggalkanku lagi,” kata Goseul curiga.

Jisoo buru-buru menggelengkan kepalanya, “Bukan begitu Goseul. Ada hal yang penting harus dilakukan ayahmu. Ayahmu tidak mungkin meninggalkanmu lagi, iya kan Mijoo?”

Mijoo mengangguk, “Betul kata bibi Jisoo. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ayahmu akan menemuimu kalau urusannya sudah selesai,” balas Mijoo.

Goseul mengangguk paham lalu dibantu oleh ibunya ia berjalan untuk segera pulang ke rumah.

.

           Nam Woohyun membereskan segala barang milik Haeryung yang ada di dalam kamarnya. Ia menghela napas karena frustasi memikirkan segala takdir buruk ini. Di kamar ini juga Na Haeryung menghabisi nyawanya sendiri, bukankah wajar bila Woohyun merasa gundah?

.

           Tak sengaja Woohyun melihat ponsel Haeryung yang tergeletak di bawah tempat tidur. Ia mengambil ponsel tersebut lalu mengisi baterainya. Mana tahu saja ada teman Haeryung yang belum mendengar kabar kematiannya, alangkah baiknya Woohyun memberitahukan kepada mereka.

.

           Goseul berusaha menghubungi nomor sang ayah tetapi tidak ada jawaban dari seberang sana. Jujur saja, Lee Goseul memiliki kecemasan tersendiri karena ayahnya tidak bisa dihubungi. Saat Goseul menanyakan kebenarannya kepada Lee Mijoo, sang ibu hanya mengatakan bahwa Woohyun sedang sibuk.

“Huft ayah tidak meninggalkanku lagi kan?” Gumam Goseul.

.

          Di sisi lain Lee Mijoo memiliki  kekhawatirannya tersendiri. Di bertanya-tanya dalam benaknya, apa Woohyun sudah makan? Sedang apa Woohyun sekarang? Setelah dari makam Haeryung tempo hari Mijoo belum mendapatkan informasi tentang Nam Woohyun. Dia khawatir kalau Woohyun sakit karena memikirkan kematian sang istri.

Oppa himnaera,” lirih Mijoo,

.

         Keesokan harinya Mijoo terbangun saat mendengar suara bell rumahnya berbunyi. Dengan mata yang masih sipit, Mijoo melihat jam yang ada di dinding kamarnya. Pukul menunjukan pukul setengah 6 pagi dan Mijoo heran siapa yang bertamu di jam segini?

.

         Mijoo membuka pintu pintu rumahnya, setelah pintu terbuka alangkah kagetnya Mijoo saat melihat sosok Woohyun ada di depan mukanya. Woohyun tersenyum manis seperti biasanya dan kemudian menyapa Mijoo yang masih kaget karena kehadirannya.

“Selamat pagi!” Sapa Woohyun.

Oppa?” Ucap Mijoo tanpa sadar.

“Tentu saja ini aku. Kamu pikir hantu?” Ledek Woohyun.

“Ma..maksudku oppa.. oppa tidak bisa dihubungi tapi malah muncul di sini,” bingung Mijoo.

“Tidak bisakah kamu mempersilakan aku masuk dulu?” Tanya Woohyun yang tidak menggubris ucapan Mijoo barusan.

Mijoo otomatis menggeser posisi tegaknya agar tidak menghalangi Woohyun yang mau masuk ke rumahnya. Setelah berada di dalam rumah barulah Woohyun mengungkit masalah yang dipertanyakan Mijoo barusan.

“Aku harus hidup Mijoo,” celetuk Woohyun.

“Eh? Maksudnya?” Heran Mijoo.

“Yaa intinya aku harus hidup. Aku tidak boleh larut dalam kesedihan,” ucap Woohyun.

Mijoo cukup senang karena Woohyun bisa memulai kehidupan yang barunya. Dengan begitu Mijoo harap Woohyun tidak akan sedih bahkan sulit lagi untuk dihubungi.

.

          “Ibuuuuuuu di mana pembalutku?” Goseul yang ada di dalam kamar berteriak saat dia bangun dari tidurnya. Dia mendapatkan jatah bulannya hari ini tapi pembalut di dalam kamarnya telah habis.

“Ibu-“

“Inikah Goseul?”

Tiba-tiba saja pintu terbuka dan Goseul dikagetkan dengan sosok sang ayah yang datang sambil membawa pembalut. Heol, Goseul tidak bermimpikan? Dia sudah bangun dari tidurnya kan?

“A…ayah?” Ucap Goseul terbata-bata.

“Jangan berteriak seperti itu ya! Kan bisa datang menghampiri ibumu,” ucap Woohyun menasihati.

Goseul menganggukan kepalanya dengan pandangan mata yang kosong. Setelah itu Woohyun pun meletakan pembalut yang dia bawa di lantai dan berpesan kepada Goseul.

“Sudah mandi nanti kita sarapan, setelah itu ayah akan mengantarkanmu ke sekolah,”

“Su..sungguh? Serius kan ayah mau mengantarkan aku pulang?” Teriak Goseul bahagia.

Woohyun mengangguk lalu tersenyum tipis kepada sang anak, “Tentu saja. Ayah tunggu ya!”

“Ya ayah!”

Pintu kamar Goseul kembali tertutup. Alangkah bahagianya Goseul karena pada akhirnya dia pergi sekolah diantar oleh ayahnya seperti anak-anak yang lainnya.

“Akhirnya sekolah diantar ayah!” Teriak Goseul.

Tanpa Goseul ketahui Woohyun yang masih berada di luar kamarnya hanya bisa tersenyum mendengar teriakan sang buah hati yang bahagia karena akan diantar oleh dirinya ke sekolah.

.

Lee Mijoo sudah memasakan sarapan nasi goreng untuk sang anak dan juga Nam Woohyun. Makan bertiga seperti ini membuat Mijoo membayangkan sebuah keluarga sederhana yang selama ini dia idam-idamkan. Tapi sayang status Woohyun bukanlah suaminya, ia hanya ayah dari anak yang telah dilahirkan olehnya.

“Makan yang banyak Goseul. Ini makan telur ayah,”

Woohyun memberikan telur mata sapi yang ada di piringnya ke piring Goseul. Mendapatkan tambahan lauk dari ayahnya membuat Goseul senang. Dia semakin lahap memakan sarapannya.

Oppa apa oppa sudah mulai kerja hari ini?” Tanya Mijoo.

“Ya, begitu banyak hal yang aku tinggalkan di kantor selama aku izin,” jawab Woohyun.

“Ayah.. ayah tidak sibuk kan? Ayah masih bisa menghabiskan waktu denganku kan?” Tanya Goseul tiba-tiba.

“Lee Goseul!” Tegur Mijoo.

“Tidak kok. Nanti malam kita dinner di restauran bagaimana?” Usul Woohyun.

Joha!!!!” Seru Goseul.

“Astaga anak ini!” Gerutu Mijoo.

“Ibu jangan sewot!” Ledek Goseul.

Woohyun hanya bisa terkekeh melihat pertikaian kecil ibu dan anak di pagi hari.

“Sudah.. sudah.. Cepat makannya, nanti kamu malah telat sayang,” lerai Woohyun.

.

          Woohyun menginjak rem mobilnya setelah mereka sampai mengantarkan Goseul ke sekolah. Goseul sangat senang karena impiannya telah terwujud yaitu pergi ke sekolah bersama seorang ayah. Akhirnya dia tidak perlu iri dengan anak-anak lain setiap kali Goseul pergi ke sekolah!

“Ayah terima kasih sudah mengantarkanku ke sekolah!” Seru Goseul.

Nam Woohyun mencubit gemas hidung sang anak yang sama mancung seperti dirinya.

“Tidak perlu berterimakasih sayang. Ayah akan terus mengantarkanmu ke sekolah mulai hari ini,” ucap Woohyun.

“Ayah janji?”

“Janji!”

Chu~ Goseul mengecup pipi ayahnya karena terlampau bahagia dikarenakan janji Woohyun. Goseul yakin kalau ayahnya tidak akan mengingkari janji tersebut.

“Sampai jumpa malam nanti yah!” Pamit Goseul sebelum keluar dari mobil.
“Ya sampai jumpa! Belajar yang rajin ya!”

.

        Ketika Woohyun duduk di meja kerjanya, ia melihat dengan jelas sebuah foto pernikahannya dengan Haeryung beberapa tahun silam. Woohyun tersenyum lirih mengingat momen itu. Dahulu betapa beratnya hati Woohyun untuk mengucap janji sakral sehidup semati dengan mendiang sang istrinya, “Aku janji menjalankan apa yang telah kamu pesan Haeryung-ah,” lirih Woohyun.

.

        Malam harinya sesuai janji Woohyun tadi pagi, ia mengajak Goseul dan Mijoo untuk makan malam di restauran mewah. Goseul berdecak kagum karena ini pertama kalinya untuk Goseul makan di tempat elit seperti ini. Sementara Mijoo sempat menyuruh Woohyun untuk makan di tempat biasa saja karena merasa canggung harus makan di restauran mewah pilihan Nam Woohyun.

“Ayah aku boleh pesan apapun?” Tanya Goseul.

“Tentu!” Jawab Woohyun.

“Asiik!!”

Goseul memilih menu yang ada di sana. Tanpa melihat harganya lagi Goseul langsung menunjuk makanan apa yang ingin dia makan.

“Ya ampun Lee Goseul,” desis Mijoo.

“Biarkan saja Mijoo,” tegur Woohyun.

Huft Mijoo hanya tidak ingin anaknya menjadi sosok yang manja serta boros. Dia mendidik Lee Goseul untuk hidup sederhana sedari kedil.

.

          Setelah makan malam Goseul mengajak ayah dan ibunya untuk jalan-jalan ke sebuah mall. Tidak direncanakan, ada idol group yang ternyata sedang melakukan fansign di sana. Goseul berdecak kagum melihat kedelapan member girl group yang terlihat cantik. Sejak dulu Goseul ingin menjadi seorang idol. Namun karena Goseul tidak ingin membiarkan ibunya kesepian dia membuang jauh-jauh pikiran menjadi selebriti.

“Whoaa aku juga mau jadi idol!”  Celetuk Goseul tiba-tiba.

“Goseul-ah apa kamu tahu kalau ibumu dulu hampirㅡAw!!”

Tiba-tiba saja Mijoo mencubit pinggang Woohyun agar dia tidak mengatakan kepada Goseul kalau dia hampir debut menjadi idol. Mijoo tidak ingin Goseul tahu masa lalunya apalagi sampai bertanya kenapa dia malah gagal meraih impiannya. Apalagi alasannya kalau bukan karena mengandung Goseul mimpinya harus ia buang jauh-jauh.

“Ibu kenapa?” Tanya Goseul.

“Bukan apa-apa Goseul. Kalau kamu mau jadi idol kamu bisa audisi, kan?” Sahut Mijoo.

“Boleh bu?” Seru Goseul.

Mijoo mengangguk, begitu pula Woohyun. Dia mendukung apa yang dicita-citakan oleh anaknya selagi itu baik untuknya.

“Asiik kalau begitu aku harus latihan agar bisa ikut audisi!” Pekik Goseul riang yang membuat Mijoo maupun Woohyun terpingkal karenanya.

.

          Tidak terasa hari sudah malam. Jam telah menunjukan pukul 11 malam. Goseul yang capek bahkan telah masuk ke dalam rumah karena tidak sabaran menemui kasur tersayang.

Oppa terima kasih untuk hari ini. Oppa juga memberikan keperluan kami sebanyak ini,” ucap Mijoo tidak enakan.

“Itu sudah tanggung jawabku Mijoo,” balas Woohyun.

“Oppa sebenarnya apa oppa sudah baikan? Maksudku Haeㅡ”

“Sudah membaik. Haeryung bilang tidak boleh larut dalam kesedihan,” celetuk Woohyun.

“Ye?!”

Woohyun hanya tersenyum tanpa berniat meluruskan perkataannya barusan.

“Masuklah ini sudah malam. Kau pasti capek seharian bekerja dan menemani Goseul jalan,”

Oppa juga,” balas Mijoo.

“Sampai jumpa. Besok pagi aku akan menjemput Goseul ke sekolah,”

Mijoo mengangguk kecil lalu melambaikan tangannya kepada Woohyun, “Hati-hati oppa,”

“Ya.. selamat malam,”

.

           Sembari mengendarai mobil mewahnya dengan kecepatan tinggi Woohyun mendengarkan rekaman suara di ponselnya. Suara tak lain adalah milik Na Haeryung terdengar jelas di ponsel pintar miliknya.

“Oppa.. Annyeong… Aku tidak tahu apa kau bisa mendengar rekaman ini atau tidak, tapi aku berharap kau mendengarnya. Maaf karena perbuatanku yang melukai darah dagingmu tempo hari. Aku kehilangan akal sehatku, aku… aku.. aku hanya takut. Oppa maafkan aku,”

“Aku tidak bisa hidup lebih lama lagi. Aku tidak ingin hidup dalam kesendirian, saat aku kehilangan orangtuaku, ayah yang memberi aku harapan untuk hidup. Namun beberapa tahun kemudian ayah juga pergi menyusul orangtuaku. Yang aku miliki di dunia ini hanya oppa.  Tapi sekarang oppa juga pergi dari kehidupanku,  aku tidak punya lagi harapan untuk hidup,”

“Aku wanita yang tidak berguna bahkan memiliki anak saja tidak bisa. Haha…hahaha.. aku tidak bisa memiliki seorang anak tapi malah berniat untuk membunuh anak dari wanita lain, perempuan keji macam apa aku?”

“Hiks.. oppa.. sekali lagi aku minta maaf. Berbahagialah karena aku pergi. Aku tahu kamu terkekang hidup bersama wanita sepertiku. Bahagia lah secepatnya, raih kebahagiaanmu yang sudah ada di depan mata,”

“Mijoo dan Goseul, namanya Goseul kan? Mereka membutuhkan oppa. Hiduplah bersama-sama untuk kebahagiaanku juga. Kelak kalau aku sudah mati, aku akan memperhatikanmu dari surga bersama ayah dan tentunya orangtuaku. Oppa kamu paham kan? Jaga kesehatanmu. Aku mencintaimu,”

Air mata sudah membanjiri pipi Woohyun. Dia kembali menangis setelah mendengarkan pesan Haeryung kepadanya. Harusnya dia yang meminta maaf, bukannya Haeryung yang menjadi korban dari ketidaksetiaan hatinya.

“Maafkan aku Haeryung-ah. Aku akan mendengarkan segala perkataanmu. Maaf Haeryung maar,” lirih Woohyun.

.tbc.

Advertisements

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s