[Oneshot] Forget Me Not

Standard

forgetmenot

Forget Me Not

story by  Rosé Blanche

 Jeon Jungkook [BTS] & Jung Yein [Lovelyz]

Drama, Hurt/Comfort, Romance

PG

Oneshot

Previous :
A | B | C | D | E

.

I hope that you won’t forget me twice.

.

16 Maret 2017

Dear Diary,

Ini Jung Yein lagi, dan ini adalah kali pertama aku kembali menulis buku harian setelah beberapa pekan terlewat. Rasanya agak aneh bila harus menulis di kumpulan lembaran yang baru, secara buku lamaku ikut lenyap terbakar saat kecelakaan mobil itu.

Ah, kecelakaan.

Hari ini, entah mengapa ada banyak sekali hal yang merasuk ke dalam pikiranku karenanya. Maksudku, pasca-insiden itu, banyak kejadian aneh secara beruntun terus kualami. Katanya, aku koma selama berminggu-minggu. Katanya, aku hampir saja mengalami gegar otak hingga amnesia.

Benarkah itu? Aku bahkan tak yakin sampai sekarang, secara sejauh ini—lebih tepatnya setelah aku siuman—masih ada berbagai memori yang tersimpan. Aku ingat keluargaku, aku ingat tempat kuliahku di mana, bahkan sampai jurusan dan setiap mata pelajaran yang kuambil. Sumpah, aku mengingat semuanya.

Baiklah, lupakan saja tentang hal-hal yang cenderung lebih mirip omong kosong dari pada fakta itu. Sejujurnya, yang ingin kubahas hari ini adalah seorang lelaki. Namanya Jeon Jungkook, seorang mahasiswa kedokteran di kampus yang sama denganku.

Sudah beberapa hari terakhir, aku memergoki tatapan sembunyi-sembunyinya ke arahku. Awalnya aku berpikir, mungkinkah ia ingin berkenalan? Kuakui kalau ia punya fisik yang sangat cocok untuk menjadi idola kampus (secara ada banyak gadis seangkatanku yang menggilainya juga), tapi … apa seseorang sepertinya harus berpura-pura menyenggol tumpukan kamus yang kubawa sampai terjatuh semua? Hanya demi mengobrol denganku, begitu?

Haha, ia sama sekali tidak berbakat menjadi aktor rupanya.

.

.

.

28 Maret 2017

Dear Diary,

Semakin hari, ia menjadi semakin aneh.

Contohnya saja, tadi pagi ia berpura-pura terpeleset di depanku sampai-sampai aku juga hampir ikutan terjungkal. Astaga, memangnya ia mau membuatku gegar otak sungguhan atau apa? Untung saja aku sempat berpegangan pada seorang asing yang kebetulan lewat.

Ya ampun, itu memalukan sekali, terlebih orang itu kuketahui sebagai seorang senior di klub fotografi.

Belum lagi kejadian di kantin, di mana ia (terlihat sekali) sengaja lewat di depanku sambil membawa sebuah nampan. Di atasnya terdapat sebuah minuman, yang tahu-tahu saja tumpah akibat tangan Jungkook yang (sengaja lagi) ia senggolkan ke salah seorang petugas kantin. Ia tertawa kikuk saat minuman itu membasahi kemejanya, di saat aku hanya bisa menganga syok saat kain putih bersih itu terkena noda kekuningan bekas jus jeruk.

Serius, dia itu kenapa sih?

.

.

.

23 April 2017

Dear Diary,

Hari ini adalah hari Minggu, namun tetap saja aku berjumpa dengannya.

Kami berpapasan saat aku sedang lari pagi di taman, dan pada akhirnya kami memutuskan untuk lari bersama. Mengitari kawasan sungai Han adalah kebiasaanku tiap Minggu pagi, yang tak kuduga ternyata merupakan rutinitas Jungkook juga.

Banyak hal yang jadi kuketahui tentang Jungkook. Mulai dari kebiasaannya dulu yang malas berolahraga kendati ia memahami betul seperti apa itu cara hidup sehat (secara ia adalah calon dokter), sampai ketakutannya pada pekerjaan dokter yang berpotensi membuatnya menjadi lajang sampai tua.

Oh, ada satu hal lagi yang membuatku bertanya-tanya.

Selama ini aku menjalankan rutinitas mingguan secara rajin, namun selalu ada satu hal penting yang kulupakan tiap kali pergi berlari. Sejak rambutku dipotong usai operasi kecelakaan, aku selalu merasa risih dengan poniku yang terus berjatuhan. Well, karet rambut juga tak akan mampu mengangkat semua rambutku.

Yang kubutuhkan adalah sebuah jepit, dan ajaibnya … Jungkook punya. Ia langsung meminjamkannya padaku, dan repotnya benda itu terbawa olehku sampai pulang ke rumah.

Tetapi yang kumaksud di sini … apakah laki-laki juga membutuhkan barang macam begitu?

.

.

.

13 Mei 2017

Dear Diary,

Ya ampun, sejak kapan seluruh buku harianku penuh dengan segala ocehan tentang Jungkook?

Jujur saja, hari ini pun aku ingin menceritakan laki-laki satu itu—well, untuk yang kesekian kalinya. Coba tebak, kami berpapasan di kawasan perbelanjaan Myeongdong. Ia memanggil namaku saat aku sedang sibuk-sibuknya memilih sepatu di sebuah toko pakaian wanita.

Herannya, untuk apa ia memasuki gedung yang sudah jelas-jelas hanya menjual barang wanita? Astaga, aku tak pernah habis pikir dengan lelaki satu itu.

Tapi, itu tidak penting. Karena kedatangannya, aku tak jadi membeli sepatu yang kutaksir (lagi pula harganya juga selangit) dan langsung mengiakan ajakan Jungkook untuk menikmati beberapa kudapan di kafe langganannya.

Nah, dia bilang kalau itu kafe langganannya, namun kenapa tempat itu adalah tempat yang sama dengan kafe yang paling sering kukunjungi selama ini? Aku bahkan hampir hafal seluruh menunya. Menakjubkannya lagi, ia memesan dua green tea latte!

Gosh, apakah selera kami benar-benar semirip itu?

.

.

.

4 Juni 2017

Dear Diary,

Aku tidak menyangka, bila ulang tahunku bisa menjadi semenakjubkan ini. Awalnya, aku berpikir kalau kali ini akan menjadi ulang tahun yang terburuk, secara Jungkook dan teman-temanku sama sekali tidak mengingatnya.

Kupikir begitu.

Tapi, kurasa aku terlalu bodoh untuk melupakan soal adat ‘memberi kejutan’ di saat seseorang berulang tahun. Karena malam harinya, mereka datang.

Mereka benar-benar datang ke rumahku sambil membawakan kue, lalu menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku! Omong-omong, ingat sepatu yang kutaksir tempo hari itu? Jungkook memberikannya padaku sebagai hadiah! Bukan hanya itu saja, ia bahkan memberiku seikat bunga kecil berwarna kebiruan, cantik sekali! Jungkook benar-benar luar biasa ….

Ini bahkan belum tiga bulan sejak aku mengenalnya. Tapi, mengapa aku seakan sudah mengenalnya seumur hidup? Astaga, sejak kapan aku menjadi seperti ini hanya karena seorang lelaki?

.

.

.

27 Juni 2017

Dear Diary,

Hari ini, Jungkook absen. Entah apa yang terjadi dengannya, tapi aku berharap dia baik-baik saja. Well, secara tidak ada Jungkook hari ini, tidak banyak yang bisa kuceritakan.

Hari-hariku berjalan seperti biasa, dan tugas-tugasku semakin menumpuk saja. Aku harus tetap semangat, Jungkook juga! Pokoknya, anak itu tidak boleh terlalu lama membolos!

.

.

.

10 Juli 2017

Dear Diary,

Serius, Jungkook di mana sih? Mungkin aku memang kelewat bodoh karena menanyakan hal itu pada sebuah lembaran kertas buku harianku, tapi sungguh, kenapa ponselnya tidak aktif? Bahkan teman sekelasnya pun tidak tahu sama sekali tentang dia. Yang benar saja ….

Aku tidak mau tahu, yang jelas aku harus menemukan Jungkook bagaimanapun caranya! Harus ….

.

.

.

“Hei, setidaknya kau harus minum sedikit, Jung. Ada apa dengan semangatmu yang biasanya, huh?”

Mingyu menghela napas kasar, meletakkan kembali segelas air dalam genggamannya. Ia kesal, amat kesal malah. Tapi, ia pun tak dapat berbuat apa-apa selain terduduk di samping pembaringan, menemani salah seorang kawannya yang kini bersandar pada tumpukan bantal. Bibir pemuda itu pucat, terlihat semakin lengkap dengan kedua manik yang sayu.

Ia sekarat.

“Jujur saja, aku tidak menyangka jika kau akan benar-benar pergi menemui wanita itu. Ternyata di zaman yang sudah serba canggih ini, masih ada pekerjaan begituan ya?”

Kendati terlihat lemah, sebuah kurva masih dapat terpatri di raut Jungkook. Susah payah ia membenahi posisi duduknya, kemudian berkata, “Hebat, kan? Aku juga tidak menyangka jika aku bakal membuat sebuah perjanjian dengan seorang penyihir.”

Sekali lagi, Mingyu mengembuskan napas panjang. “Ingat saat pertama kali kita menemuinya saat festival kembang api? Kau bahkan menertawakan tawarannya yang tak masuk akal itu.”

“Memang. Siapa yang tidak akan tertawa kalau tahu-tahu didekati oleh seorang wanita bertudung, yang mengatakan bahwa ia bisa mengabulkan apa pun permintaanmu secara instan?”

“Ya, dan mungkin kau masih akan menertawainya sampai sekarang, jika saja kecelakaan Yein tidak terjadi tepat satu hari setelah festival itu.”

Serentak, senyum keduanya memudar. Dalam sekejap Mingyu merasa tidak enak karena telah mengungkit kembali masalah, sehingga ia berujar, “Maaf, aku tidak bermaksud—”

“Tidak apa-apa, lagi pula semua ini memang salahku yang tidak berhati-hati.”

“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Jung. Saat itu emosimu sedang tidak stabil, secara kau baru saja bertengkar dengan—”

“Tetap saja itu tidak akan mengurangi fakta kalau akulah penyebab kecelakaan Yein.” Sinar mata Mingyu tahu-tahu saja meredup, kemudian diikuti dengan sepasang kelopak yang perlahan terpejam. Ia tersadar, kata-kata Jungkook ada benarnya. “Akulah yang menabrak Yein. Akulah yang membuat Yein gegar otak dan koma. Akulah yang membuat adik Yein hampir kehilangan satu-satunya kakak. Kau tahu sendiri kan kalau mereka hanya hidup berdua?”

Mingyu pun bungkam. Sekon berlalu, dan keheningan melanda. Sedikit Mingyu beringsut mendekat ke arah Jungkook, kemudian kembali bertanya, “Lalu menurutmu, apakah harga yang kaubayar itu bisa membuat Yein bahagia? Sama sekali tidak terbesit di pikiranku, kalau bayaran untuk gegar otak Yein adalah ingatannya terhadapmu, Jung. Itu sama sekali tidak masuk a—”

“Sudah kubilang, aku juga tidak menyangka kalau aku akan melakukannya. Apalagi soal membayar nyawa Yein pada wanita penyihir itu, yang didasarkan pada hukum nyawa ganti nyawa. Sempat aku berpikir seperti … sialan, apa sih yang kulakukan? Tapi ketika aku sadar kalau ini semua demi kebaikan Yein dan adiknya, maka aku pun akan baik-baik saja.”

“Berhenti mengoceh, demi apa pun itu! Jangan percaya kalau memberikan nyawamu itu jalan terbaik, Jung!” Suara Mingyu meninggi, terdengar tercekat. Napasnya berubah tak beraturan, terlebih ketika menatap raut lemah sang kawan. “Seperti dirimu yang tidak percaya kalau memori Yein tentangmu tidak benar-benar terhapus, kau terus berusaha mengingatkannya pada—”

“Tunggu dulu. Apa?” potong Jungkook tiba-tiba, melempar sebuah lirikan heran pada Mingyu. “Maksudmu? Aku berusaha … mengingatkan Yein?”

Alis Mingyu ikut berkerut, diikuti dengan kepala yang ditelengkan. Terlihat dari wajahnya bahwa ia berusaha menerka, meskipun kebingungan itu masih melanda. “Lewat semua kelakuan konyol yang kaulakukan di hadapan Yein pasca-kecelakaan … kau berusaha mengingatkannya pada kejadian-kejadian yang pernah ada di antara kalian, kan? Seperti menyenggolnya yang sedang membawa tumpukan buku, tersandung, memberikannya barang-barang kesukaan—”

“Aku tidak pernah berusaha untuk membuatnya ingat, Mingyu.”

Jawaban sekonyong-konyong itu membuat si jangkung membelalak, lantas ganti menyahut, “A—Apa?”

Perlahan, senyum itu kembali terukir di bibir Jungkook. Tatapannya beralih pada langit biru di balik jendela putih kamar rawatnya, pada gumpalan awan bergoreskan cahaya matahari senja. Ia pun berkata, “Aku tidak berusaha mengingatkannya, karena bagaimanapun juga penyihir itu berkata kalau memori Yein tidak akan pernah kembali. Aku melakukan semua itu, karena aku ingin … well, istilahnya seperti ‘mengukir kisah kembali’. Semua peristiwa yang terjadi di antara kami, dari yang paling konyol sampai menyedihkan, semuanya kulakukan ulang seperti film yang diputar lagi. Aku hanya ingin melakukannya semampuku di sisa-sisa waktu hidupku. Itu saja, Gyu.”

Enggan untuk menunjukkan air mata yang hampir saja mengucur, Mingyu menutupinya dengan sebuah dengus senyum. “Astaga, sejak kapan kau jadi melankolis begini?”

Jungkook pun ikut terkekeh pelan, tanpa mengalihkan pandangannya pada taman rumah sakit dibalik kaca jendela. “Tidak tahu. Mungkin sejak jatuh cinta pada Yein saat awal sekolah menengah dulu?”

Terjadi jeda sejenak, di mana sang kedua lelaki sama-sama terdiam. Perlahan Mingyu mengulurkan tangannya, kemudian menggenggam lengan Jungkook erat. Sahabat sejak kecilnya yang satu ini benar-benar luar biasa rupanya. “Kau yakin bila Yein tak perlu mengetahui semua ini?”

“Kenapa?”

“Ayolah, ia mencintaimu! Tiga tahun lebih kalian menjalin hubungan—”

“Itu dulu, sebelum ingatannya terhapus. Lebih baik ia menyimpan cintanya untuk pria lain sekarang ini, karena toh sebentar lagi aku akan pergi juga.”

“Kau ….” Kini, Mingyu tak dapat lagi berkata. Lidahnya terlalu kelu, tenggorokannya seakan terganjal sebuah batu. Air mata yang berjatuhan pun kini tak tertahankan lagi, membuatnya harus menelungkupkan wajah tepat di samping Jungkook. Membuat sang sahabat yang sudah tak berdaya terpaksa harus menepuk-nepuk kepalanya perlahan.

“Aku minta maaf, tapi serius, aku tidak apa-apa,” ucapnya. Karena Mingyu sama sekali tak memberikan respons, maka ia melanjutkan, “Aku juga minta maaf kalau nanti aku harus meninggalkanmu, Gyu. Tapi ketahuilah, aku akan baik-baik saja. Awalnya memang aku sempat mengamuk dengan keadaan, tapi setelah kupikir berulang kali, aku sadar kalau semua ini tidak akan mengapa, karena aku mencintainya. Tidak apa-apa kalau aku tidak bisa bertemu dengannya lagi. Tidak apa-apa kalau aku tidak bisa berbicara dengannya lagi, bahkan tidak apa-apa juga kalau ia tidak mencintaiku. Aku hanya berharap, bahwa dia tidak akan melupakanku untuk yang kedua kali.”

Sekarang, Mingyu mengerti.

Ia benar-benar mengerti. Tidak berani meminta lebih setelah melakukan sebuah kesalahan, tipikal Jungkook sekali. Karena tidak ingin dilupakan, maka Jungkook melakukan hal-hal konyol itu. Karena tidak ingin dilupakan, maka Jungkook memberi lebih dari sekedar kisah, yaitu memori yang berharga.

Perasaan tidak terbalas tidak masalah, yang terpenting setiap ukiran kenangan itu tidak akan terhapus.

“Aku juga akan selalu mengingatmu, Jung ….”

.

.

.

20 Juli 2017

Dear Diary,

Pemakaman Jungkook telah berakhir. Ini hanyalah acara pemakaman, tapi kenapa aku merasa seakan duniaku juga berakhir ya? Haha, entah aku yang benar-benar kelewat bodoh atau apa, tapi bagaimana bisa perkenalan selama empat bulan meninggalkan efek sebesar ini dalam hidupku?

Jujur, mungkin ia tahu banyak hal tentang diriku, tapi aku tidak. Aku tidak begitu tahu menahu soal Jungkook, hingga kini aku penasaran setengah mati. Aku tidak tahu kenapa ia melakukan banyak hal-hal (disengaja) yang terlampau konyol bahkan sampai mempermalukan dirinya sendiri. Aku tidak tahu kenapa selera kami bisa begitu persis, secara ia selalu memberiku sesuatu yang kusukai. Serius, dia itu cenayang atau bukan sih?

Yang jelas, seiring dengan berjalannya waktu, aku tahu kalau ia sosok yang hangat. Ia orang yang bisa membuatku tertawa sampai rahangku pegal, tapi juga bisa serius saat diperlukan. Sudah kubilang, Jungkook itu keren.

Kuakui empat bulan itu cepat. Sangat cepat malah, bila diukur dari awal perkenalan sampai pada akhirnya harus benar-benar berpisah. Tetapi meskipun hanya empat bulan, aku berjanji kalau aku tidak akan pernah melupakannya.

Sampai kapan pun.

Aku tahu ini gila, tapi serius … sejak kapan aku semudah ini jatuh cinta pada seseorang?

.

.

.

fin.
-oOo-


Forget me not means don’t forget me.

Advertisements

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s