[Ficlet-Mix] Kalanchoe

Standard

kalanchoe

Kalanchoe

story by Rosé Blanche

 Min Yoongi [BTS] & Yoo Jiae [Lovelyz]

Fluff, Marriage-Life

PG

Ficlet-Mix

Previous :
A | B | C | D | E | F | G | H | I | J

.

Be patient and understanding.

.

Yoo Jiae

Bagi kebanyakan wanita, salah satu hal paling membahagiakan dalam hidup adalah ketika menemukan yang namanya cinta sejati. Menjadi pengantin pria tersebut, tinggal di bawah atap yang sama, kemudian memulai perjalanan panjang sembari menggenggam tangan satu sama lain.

Namun, kebahagiaan tersebut pastilah akan bertambah berlipat ganda, jikalau ada satu sosok lagi yang menemani keseharian mereka.

Karena selain menikah, kehamilan juga merupakan salah satu hal terindah lainnya, bukan?

Aku pun menganggap begitu.

Namun, ada kalanya juga segala hal tak berjalan sesuai dengan keinginan hati.

Tak ada yang menganggap gampang perkara mengandung sang bayi. Harus menghadapi perubahan hormon yang menyusahkan semua orang, belum lagi rusaknya bentuk tubuh serta rasa mual setiap saat.

Sudah lima bulan terakhir pula, aku tak pernah absen untuk terus meminta lebih dan lebih pada Min Yoongi. Bukan, bukan perkara berbelanja ataupun barang bermerek hingga membuatku dicap sebagai kaum hedonis, namun cuma satu hal sederhana yang kenyataannya selalu menjadi kebutuhan sehari-hari manusia.

“Yoongi.”

Baru saja terduduk di ujung kasur, lantas ia menoleh.

“Aku ingin makan puding roti.”

Serius, aku tidak mengada-ada kalau perutku keroncongan kendati petanglah yang kini sedang menyelimuti angkasa. Kuakui, daya pantang laparku sangat payah akhir-akhir ini.

Satu helaan napas panjang lolos dari bibir Yoongi. Pemuda tersebut memaku pandang sejemang ke arahku …

“Apa? Puding roti lagi, huh?”

… dan aku tahu betul apalah arti dibalik tatapan serta nada bicara tersebut.

Lagi pula, kemampuan Yoongi bersandiwara memanglah selalu berada di level nol. Rautnya tak akan bisa berbohong, terlebih bila suasana hatinya sedang tak baik. Aku pun tak akan heran bila Yoongi memang sudah jengkel setengah mati akan permintaan sebukitku.

Sebenarnya karena hal-hal tersebut sangatlah wajar bagi ibu mengandung, maka aku tidak akan menyalahkan siapa pun di sini.

Namun, andai saja aku mendapat kesempatan untuk bertukar posisi dengannya, aku pun yakin diriku sendiri tak akan sanggup. Harus kerepotan bekerja tiap hari sekaligus memenuhi kebutuhan ibu hamil yang super banyak (dan seringkali juga super tidak masuk akal sebagai efek dari mengidam), bagaimana mungkin rasa kesal sama sekali tak menghampiri?

Terlebih, Yoongi juga bukan tipikal orang yang tahan emosi bila memang sudah keterlaluan.

Kalau sudah begini, aku pun tak dapat berbuat apa-apa lagi—

“Tidak usah deh, tidak jadi.”

—selain mengalah.

Selalu menuntut dan mengutamakan kepuasan mengidam seorang ibu hamil tentunya berpeluang membuat keadaan semakin buruk, meskipun presentase pastilah tak mencapai seratus persen juga.

Jadi, ketimbang memasang banyak harap namun berujung kekecewaan, kurasa lebih baik apabila aku yang menahan diri sebisa mungkin.

“Selamat malam, Yoongi. Aku tidur duluan.”

Karena tak ada gunanya menyandang status sebagai istri, bila diri sendiri tak dapat menanamkan rasa sabar dan pengertian.

-oOo-

Min Yoongi

Aku membuka pintu dengan sebelah tangan, kemudian menapakkan kaki masuk.

Kesunyian apartemenlah yang menyambutku, lantaran ini memang sudah pukul sebelas malam lebih. Sembari menanggalkan sepatu, aku pun mengedar pandang berkeliling.

Berdasarkan apa yang tertangkap sudut mataku, sepertinya bersyukur satu kali kepada Tuhan tak akan cukup. Salah satu hal terindah dalam hidup seorang pria adalah mendapatkan seorang istri yang hebat, dan Tuhan baru saja memberikannya padaku sepuluh bulan lalu.

Aku tak habis pikir, bagaimana bisa ia merawat tempat tinggal kami dengan begitu baik, sementara perutnya kian membesar hari demi hari?

Ah, mungkin aku akan menyuruhnya untuk rehat sejenak mulai besok.

Alih-alih meletakkan barang bawaanku terlebih dulu, tungkaiku berjalan menyusuri ruang tamu yang berlanjut pada lorong pendek. Di ujungnya terdapat sebuah pintu putih, dan aku yakin istriku sedang tertidur begitu pulas di baliknya.

Pelan-pelan aku membuka daun pintu, dan ternyata dugaanku tepat betul.

Aku melangkah semakin mendekat ke arahnya, kemudian memerhatikan setiap lekuk dari paras cantik tersebut. Lagi-lagi aku tersenyum sendiri, lantaran wajah Jiae benar-benar lucu tiap kali ia tidur pulas seperti bayi.

Tubuhku beringsut mendekat, kemudian kuputuskan untuk duduk di sampingnya sejenak. Aku mengusap rambutnya perlahan, berharap agar tidurnya tak akan terganggu dengan ini.

Sejujurnya, ada satu hal yang kukhawatirkan tentang Jiae.

Aku tahu, wanita yang sedang mengandung itu sensitif betul. Aku pun tahu, keinginan Jiae akhir-akhir ini telah melampaui daftar belanja bulanan kami. Tetapi, justru beberapa hal seperti itulah yang menandakan bahwa kandungannya normal, bukan?

Namun, entah mengapa aku punya firasat bila Jiae tak sudi melepaskan satu kepribadian ini kendati perubahan hormon sedang melandanya.

Sedari dulu, seorang Yoo Jiae selalu mengutamakan kepentingan orang lain ketimbang dirinya sendiri.

Itulah yang membuatku sempat berpikir, apakah ia masih segan untuk meminta apa pun dariku?

Memang kuakui, aku bukan orang yang ekstra tahan sabar sepertinya. Kuakui juga, terkadang aku bisa jadi menyeramkan bila sudah marah. Semua bawahanku di kantor mengetahui hal tersebut, omong-omong.

Tapi kalau sudah menyangkut wanita satu ini, mana bisa aku marah?

Seringkali aku juga berpikir, apakah ia takut aku membencinya?

Terus terang, aku tidak pernah merasa kesal. Aku hanya sedikit lelah.

Aku tak pernah bermaksud untuk marah. Aku hanya mengkhawatirkannya.

Aku juga tak pernah sedikit pun merasa benci pada Jiae. Aku hanya terlalu mencintainya.

Namun, bohong juga kalau aku tidak repot habis-habisan dalam menghadapi semua ini. Belum kalau ada tugas kantor yang tak kunjung rampung, kemudian harus ditambah lagi dengan mengurus segala kebutuhan sang istri.

Tetapi, namanya juga calon ayah. Siapa bilang kalau belajar jadi seorang ayah itu mudah?

Jadi, tak mengapa.

Mengingat sebungkus puding roti yang masih ada dalam genggamanku, aku pun tertawa kecil tanpa suara. Meskipun tadi aku sedikit berharap kalau Jiae belum tidur saat aku kembali, tetapi biarlah saja aku menaruh kudapan ini ke dalam kulkas. Dengan begitu, Jiae masih bisa menyantapnya besok pagi.

“Yoongi ….”

Tahu-tahu saja Jiae mengigau. Tubuhnya menggeliat, kemudian menghadap ke samping membelakangiku.

Sembari mendaratkan sebuah kecupan ringan di keningnya, aku pun mulai teringat satu hal yang sejatinya sudah kumengerti semenjak kami saling menjalin hubungan.

Sungguh, gadis ini terkadang bisa jadi sangat merepotkan, meskipun ia sebenarnya juga tidak bermaksud. Tetapi, di satu sisi aku juga senang bila ia bergantung padaku. Mengandalkanku sepenuhnya, hingga tak heran bila perasaanku kian bertumbuh hari demi hari.

Jadi, kurasa lebih baik untuk terus hidup seperti ini ketimbang terlalu banyak menyatakan komplain atas hal-hal yang tidak sepatutnya menjadi masalah.

Love you, Ji. Good night.”

Karena tak ada gunanya menjadi kepala keluarga, bila diri sendiri tak dapat menanamkan rasa sabar dan pengertian.

fin.
-oOo-

Kalanchoe means endurance and lasting affection.

 

2 thoughts on “[Ficlet-Mix] Kalanchoe

  1. “Love you, Ji. Good night.” =. Plis katakan padaku ini untuk Jiae atau Jiyo? Mana aku mau tidur pula -_- #krik

    Aih sosweetnya min yoongi mantan aku yg paling (sok) jutek :3 Resiko jadi suami klo istrinya lagi hamil ya gitu bang, untung si josh sabar ya jam 2 subuh kusuruh beli ayam goreng langsung nurut /korban iklan/ #krik (2)

    As always chel, fic mu mengalihkan duniaku ❤ Keep writting & keep smile ya ^0^ /LALU JOGET MBUKAK TITIK JOS/

    Liked by 1 person

    • Itu Jiyo kokk Jiyooooo, biar kamu seneng deh:3 #krik (3)

      Meski aku gatau kamu korban iklan apa /efek kudet/ tapi fic ini benernya terinspirasi dari iklan yg ada ibu ngidamya:”)

      As always juga komenmu bikin aku senengg^^ makasih udah mampir ya Jiii💕💞 /senyum mringis/

      Like

Lovelinus, leave a comment pls ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s