[Graduation Party] Next.

Standard

images.png

Next.
misshin017 present
Jeong Yein / Detective, crime / PG-15
Tidak ada pesta. Tidak ada dansa.

Continue reading

[1st Teaser] Apple 397.

Standard

BLACK.jpg

Hallo, selamat malam…

  • ••

Processed with VSCO with c5 preset

Kembali lagi dengan aku, Kim Yeri, bersama seribu cerita kita yang menegangkan.

  • ••

2016-05-15 06.22.35 2.jpg

Kau bisa duduk santai sembari meniup kopi, dan ada aku, yang menemani malammu kali ini.

  • ••

2016-05-15 06.21.47 1.jpg

Pernah dengar cerita Putri Salju?

  • ••

Dia cantik dan baik hati.

  • ••

Kulitnya seputih salju.

  • ••

Bibirnya semerah apel.

  • ••

Dan…

  • ••

Dia selalu ditemani tujuh kurcaci.

  • ••

2016-05-15 06.20.53 1.jpg

Suatu hari dia bertemu dengan seorang pangeran.

  • ••

Processed with VSCO with t1 preset

Pangeran yang tampan.

  • ••

Clik.

  • ••

2016-05-13 06.29.06 1.jpg

7.

  • ••

2016-05-15 06.22.35 1.jpg

9.

  • ••

2016-05-13 06.31.34 1.jpg

3.

  • ••

“Aku akan membunuhmu.”

  • ••

TBC

…………..

INTANNNN ISSSS KAMBEKKKKK!

Thanks for amazing poster ladyoong @PosterChannel

{Sinister with Lovelyz} TEASER.

Standard

PicsArt_12-22-01.42.43

{Sinister with Lovelyz} TEASER.

CAST:
ALL MEMBERS LOVELYZ

GENRE:
HORROR,MYSTERY,THRILLER

RATING:
PG-15

LEGHT:
SERIES (mudah2an bisa wkwkwk)

DISCLAMER:
Ini percobaan ff series horror pertamaku*cihuyyy. Jadi bakal ada 8 chapter dengan cerita yang berbeda-beda,yang aku bawain kali ini cuma kedepalan teasernya,entah ini bagus atau enggak aku juga enggak tahu,yahh biasalah masih amatiran kalau bikin yang horror kek gini hohohoho. Dan aku bakal bikin ffnya secara acak,jadi enggak berurut sesuai teasernya oke? yukk scroll ke bawah yuhuu–

“Ada yang aneh di bawah 700 meter–“

“Huh?”

“Ada gadis pincang memanggilku.”

***
“Akhir-akhir ini ada penguntit yang berkeliaran.”

“Benarkah?”

“Iya,kunci apartemenmu baik-baik.”

***
“Kau sudah dengar berita terbaru?”

“Apa?”

“Ada buronan lepas dari penjara.”

***
“Malam ini menginap di rumahku,ya?”

“Memangnya ada apa?”

“Tetangga sebelah sangat ribut,aku tak bisa tidur.”

***
“Anak itu menjijikkan.”

“Mana?”

“Yang itu,yang makan bersama anjing.”

***
“Besok aku akan ke rumah bibiku.”

“Dimana?”

“Di kaki bukit.”

***
“Kakakku membawa anaknya.”

“Yang mana?”

“Yang jelek itu.”

***
“Pernah operasi plastik di klinik itu?”

“Tidak,kenapa?”

“Ada mitos mengerikan dari masyarakat tentang klinik tersebut.”

[Oneshoot] But, Hahahaha.

Standard

PicsArt_12-17-08.56.02.jpg

But,Hahahaha.

***

Cast:

Jeong Yein

Jeon Jungkook

 

Genre:

Fluff

 

Rating:
Teen

 

Leght:
1.548 (Oneshoot)

 

Disclamer:
Hati-hati mual,ini ff ter-ter-norak yang pernah ada. Ah,aku juga ngepost di wp pribadi jdi jangan bilang ini ff copas atau plagiat oke^^

 

Hari itu Yein baru saja patah hati. Dia harus mencari sesuatu yang baru untuk menggantikan segalanya.

 

***

Continue reading

[Oneshoot] Just a Date.

Standard

PicsArt_12-12-08.23.10.jpg

 

[Oneshoot] Just a Date.

***

Cast:

Ryu Sujeong

Kim Taehyung

 

Genre:

Fluff

 

Rating:

PG-13

 

Leght:

1.709 words

 

Disclamer : Silahkan di nikmati,di makan,di gigit dan lain-lain ff gaje ini. Aku juga post ini di wp pribadiku^^

 

 

Mari berkencan.

 

Huh?

 

***

 

“Mari berkencan.”

 

“Huh?”

 

Kucing mahal peliharaan sujeong menyelinap masuk di antara obrolan ringannya dengan taehyung yang memakai kaus putih serta jaket coklat. Bulu halus binatang itu menyadarkan sujeong kepada satu hal.

 

“Kau benar-benar kim taehyung kan?”

 

“Iya,memangnya kau kira siapa lagi.”

 

Tidak,ini salah. Yang di depannya itu pasti adalah seorang laki-laki dari tempat yang jauh lalu mengakui dirinya sebagai kim taehyung yang merupakan sahabat karibnya.

 

“Sepertinya aku masih mengantuk—”

 

“Tidak,tidak,kau tidak mengantuk.”

 

“Kalau begitu aku pasti kelelahan karena begadang semalam.”

 

“Tidak ryu sujeong,kau tidak kelelahan karena kau tidak begadang semalam.”

 

“Benarkah? Oh,aku pasti gila.”

 

Taehyung menghela nafas jengkel. Dia rela bangun pagi lalu mandi air yang suhunya di atas rata-rata serta membiarkan jemari lentiknya terkena panas dari setrika karena asal menyetrika. Lalu setelah semua perjuangan penuh pengorbanan itu,ryu sujeong tidak memberikan balasan apapun untuknya? Barangkali sekedar memuji betapa bagusnya rambut taehyung yang menggunakan gel sesendok makan misalnya.

 

“Dengar ryu sujeong,aku tidak peduli kau gila atau sejenis gila atau yang lainnya. Yang penting sekarang kau pergi masuk ke kamar mandi dan bersihkan ketombe pujaanmu itu lalu berdandan yang manis dan kita jalan-jalan.”

 

“Jalan-jalan apanya? Siapa yang mau jalan-jalan denganmu,hari ini aku mau bermalas-malasan di ruang nonton sambil makan roti selai dan setumpuk sosis bakar. Maka dari itu buang jauh-jauh keinginanmu mengajakku berkencan,paham?”

 

Satu gelengan dari taehyung.

 

“Masa bodoh,yang pasti aku mau kita kencan.”

 

“Kau apa-apaan?”

 

Gadis itu menunjukkan reaksi tak terima. Dia sudah mengatur jadwal akhir pekan dengan serapi mungkin,lalu bagaimana bisa taehyung datang dan mengacau balaukan semuanya. Sujeong tak terima.

 

“Lebih baik kau pergi saja tae,aku seratus persen malas meladenimu.”

 

“Aku akan pergi dari sini bersamamu.”

 

“Dan aku tidak mau pergi bersamamu.”

 

“Kalau begitu aku akan tetap di sini.”

 

Dada sujeong terasa membuncah. Berbicara dengan orang seidiot taehyung memang harus memiliki kalori yang melimpah dalam tubuh. Sedangkan dari detik awal dia membuka mata,satu-satunya yang masuk dalam lambung gadis itu hanya segelas kecil air putih.

 

“Jadi sebenarnya apa maumu?”

 

“Aku mau kita kencan sujeong,serius.”

 

Tuh,kan. Ini pasti bukan taehyung,dalam kamus laki-laki itu tak pernah ada kata-kata ‘serius’.

 

“Kenapa aku harus menuruti kemauanmu?”

 

“Ya,pokoknya kita wajib kencan dan kau tak di perbolehkan menolak.”

 

“Apa hakmu?”

 

Sujeong mencibir dengan menjulurkan lidahnya.

 

“Aku berhak melakukan ini karena kau terus mencontek tugas matematikaku kemudian aku juga berhak memaksamu karena kau sudah melenyapkan satu loyang cake kesukaanku. Puas?”

 

Baiklah,sujeong mengaku kalah. Dia tak habis fikir kenapa taehyung bisa mengerjakan seratus soal matematika dalam kurun dua jam limabelas menit. Dia juga tak bisa mengelak kalau insiden hilangnya satu loyang cake milik taehyung adalah kerjaannya. Cake itu ada di kulkas saat taehyung sedang latihan basket di komplek sebelah,sujeong tak bisa menahan dirinya. Bukankah manusia punya hawa nafsu?

 

“Tsk,dasar tidak tahu diri. Tunggu di sini,aku mau mandi untuk menghilangkan ketombe dan berdandan agar semua laki-laki bersiul ke arahku saat kita kencan nanti.”

 

“Banyak omong,cepat mandi!”

 

Seandainya sujeong tak membuka pintunya dan menemukan taehyung di balik sana. Seandainya dia menutup pintu saja dan pura-pura tak tahu apapun. Seandainya semua bisa di ulang,sujeong tak perlu merasakan dinginnya kujuran air shower di jam enam pagi minggu.

 

***

 

Sujeong mengunci pintu rumahnya dengan tergesa-gesa. Bisa tidak taehyung jangan meneriakinya seperti itu? Para ibu-ibu tetangga kini memusatkan perhatian padanya.

 

Sepuluh menit dan taehyung sudah mengamuk bagai orang yang penerbangannya di undur lima jam. Sujeong bahkan tidak pakai parfum serta lupa melepas label bajunya,taehyung yang sudah berdiri di ambang pagar rumah terus merecokinya.

 

“Bisakah kau diam idiot?”

 

“Kau benar-benar siput yang lelet,kita bisa ketinggalan bus jika begini.”

 

Mata sujeong membulat sempurna. Telinganya baik-baik saja kan?

 

“Bus? Kita akan pergi kencan dengan naik bus? Taehyung kau keterlaluan sekali.”

 

“Memangnya kenapa? Mobilku sedang rusak.”

 

“Kau mengajakku kencan tanpa mobil?”

 

“Iya,kenapa lagi?”

 

“Taehyung aku akan membunuhmu.”

 

Tawa taehyung membuat perasaan sujeong semakin tak karuan. Siapa gadis yang mau di ajak kencan naik bus? Kalaupun itu ada,sujeong bukan salah satunya. Kencan adalah kencan,semua harus di persiapkan.

 

“Kau tenang saja,busnya hanya untuk kita berdua.”

 

“Maksudmu?”

 

Tangan taehyung menarik pergelangan sujeong,menyentak gadis itu untuk mengekorinya dari belakang. Seharusnya taehyung sadar kalau langkah kakinya lebih panjang dari meteran dalam kelas sujeong.

 

“Tae,aku sedang pakai higheels.”

 

“Terus?”

 

“Bisakan kau memperlambat kakimu itu? Atau kau ingin membuatku terjatuh di jalanan berdebu ini?”

 

“Oke,oke maaf.”

 

Kini langkah kaki mereka berdua sudah seirama. Sujeong rasa higheels 4 centinya tidak ada bandingan ketimbang tingginya badan taehyung. Semua umat laki-laki memang di karuniai tubuh tinggi,sujeong iri akan hal itu.

 

Dari sudut matanya sujeong menatap tangannya yang masih enggan di lepas oleh taehyung. Mereka hanya sebatas teman,jadi perlakuan dari taehyung tak perlu harus di hiraukan. Siapa tahu dia gadis keberapa yang di gandeng taehyung,itu terdengar cukup menyedihkan.

 

“Tae?”

 

“Apa lagi?”

 

“Aku kan cuma ingin bertanya.”

 

“Hm,tanya saja.”

 

Halte bus sudah ada di depan mereka dengan jarak lima puluh kaki. Bus kuning itu sudah terparkir di sana.

 

“Kita mau kemana?”

 

“Lihat saja nanti.”

 

“Memangnya kenapa kau mengajakku berkencan?”

 

“Lihat saja nanti.”

 

Senyum masam tercetak di wajah sujeong. Ini bukan saat yang tepat untuk main tunggu-menunggu,taehyung terus mengatakan hal ini itu dan membuat rasa penasaran sujeong naik ke atas.

 

“Hati-hati.”

 

Secara pelan-pelan sujeong menaiki bus sepi itu. Dia akui taehyung memang kaya hanya untuk menyewa satu bus. Tapi untuk apa? Kalau laki-laki itu hanya ingin berkencan dengannya sampai-sampai melakukan hal ini,yah sujeong sedikit terharu. Menemukan sahabat sebodoh taehyung memang luar biasa.

 

“Kau membuang uang demi bus ini?”

 

“Suka tidak?”

 

“Suka,tapi aku lebih suka mobilmu.”

 

Taehyung memutar matanya.

 

“Kan mobilku rusak,kalau sudah di perbaiki kau bisa duduk di dalamnya sampai kau bosan.”

 

“Aku pegang janjimu.”

 

Bus mulai berjalan. Udara segar khas musim semi menyambut sujeong dari jendela tipis sebelah kanannya. Ternyata jalan-jalan di pagi hari tidak seburuk dugaannya. Banyak anak-anak bermain di tepi jalan dengan cerianya,lalu ada juga segerombolan lansia yang saling duduk manis meminum kopi hangat di kursi taman.

 

Ngomong-ngomong sujeong jadi rindu ketika masa-masa dia kecil. Taman di depan toko buku bekas itu menyimpan banyak memori yang ia ukir bersama taehyung. Mulai dari belajar sepeda roda tiga,makan ice cream satu piring jumbo,dan beristirahat di bawah pohon oak sehabis kabur dari sekolah. Tempat itu berisi kenangan indah bersama taehyung,andai laki-laki itu tidak berlainan sekolahnya dengan sujeong sekarang.

 

“Apa yang kau lihat?”

 

“Masa lalu.”

 

“Waw.”

 

Sujeong meletakkan kepalanya di bahu taehyung. Dulu bahu ini juga tempatnya lari dari kerumitan dunia.

 

“Bahumu masih tidak berubah ya.”

 

“Untuk apa berubah? Aku tidak masalah dengan bahu ini.”

 

“Kau benar,bahumu tak boleh berubah.”

 

“Itu perintah?”

 

“Kewajiban.”

 

Aroma taehyung menyerobos masuk dalam indera pembau sujeong. Seharum bunga tulip yang bermekaran,ini aroma yang paling sujeong butuhkan di saat suka maupun duka.

 

Ketika kedua orangtua sujeong di kebumikan,hanya aroma taehyung yang ada di sekitarnya. Hanya ada bahu taehyung yang menopangnya. Hanya taehyung yang ada untuknya. Sujeong tak ingin banyak hal,dia cuma berharap hubungannya dengan taehyung selalu mengalir. Sesederhana itu.

 

“Tae?”

 

“Apa?”

 

“Ingat tidak saat aku di tolak seokjin yang tampan itu?”

 

“Yang kau menangis meraung-raung seperti pengemis itu kan?”

 

“Kau ingat yang itu ternyata.”

 

“Yang itu tak boleh di lupakan.”

 

Tentu taehyung tak akan melupakan betapa memalukannya sujeong saat itu. Di tolak seokjin dan menangis. Semua gadis memang cengeng,namun taehyung tak menyangka kalau sujeong lebih cengeng lagi.

 

“Waktu itu kau terus-menerus datang ke rumahku kan? Kau bilang jika kau khawatir.”

 

“Aku hanya kasihan padamu.”

 

“Eits,kau jelas-jelas khawatir padaku.”

 

“Memangnya kenapa? Sebagai sesama sahabat tidak salah kan?”

 

“Sangat tidak salah.”

 

“Lalu kenapa bertanya?”

 

Sujeong mengulum senyumnya.

 

“Terimakasih untuk itu.”

 

Taehyung mengangguk pelan.

 

“Sama-sama.”

 

Bus itu akhirnya berhenti memberikan efek kepada sujeong yang tak sabar lagi untuk keluar melihat dimanakah tempat kencan mereka. Gadis-gadis muda memang selalu bersemangat.

 

Obsidan sujeong berkedip-kedip ketika sudah keluar dari dalam bus. Sebuah perasaan kesal terlintas dalam dirinya. Taehyung yang idiot itu selalu saja bertindak dan berfikir idiot.

 

Menyadari taehyung sudah turun dari bus tadi,sujeong langsung membalikkan badannya dengan tatapan berapi-api untuk taehyung. Ada yang salahkah dari gadis ini? Bukannya dia kelihatan antusias beberapa saat lalu?

 

“Apa arti ini?”

 

“Arti apa?”

 

Sujeong frustasi,kelewat frustasi.

 

“Ini pasar pagi kim taehyung!”

 

Pasar pagi. Yeah,tidak ada tempat kencan sebaik ini dalam hidup sujeong. Dia sia-sia memakai baju baru demi ke sebuah pasar pagi.

 

“Di sini ada ayam bumbu favoritemu.”

 

“Memangnya aku peduli?!”

 

“Sujeong–”

 

“Lebih baik aku pulang.”

 

Dengan rasa geram yang sudah tak terelakkan sujeong berjalan dengan kecepatan tak main-main. Salahkah dia kalau marah pada taehyung? Dia tahu jika taehyung memang berotak alien,tapi tidak perlu seautis ini kan? Ke pasar pagi. Sujeong benci pada laki-laki itu.

 

Uh,lihatlah! Taehyung bahkan tidak repot-repot memanggil namanya supaya gadis itu berhenti. Taehyung juga tak berlari lalu menarik sujeong agar bisa menjelaskan semua ini. Kadang kali persahabatan tidak sekonyol ini. Mau mengerjainya jangan separah ini.

 

“Taehyung jelek!”

 

“Taehyung gendut!”

 

“Taehyung bodoh!”

 

“Taehyung—”

 

Brukk…

 

Sujeong meringis dalam hatinya.

 

“Siapa yang membuat lubang ini hah?!”

 

Higheels 4 centinya menempel rapat dengan sebuah lubang kecil. Coba dia tadi tidak pakai higheels. Ini gara-gara taehyung! Kalau laki-laki itu tak bilang akan mengajaknya berkencan di pasar pagi,sujeong tak akan memakai benda itu.

 

“Kau baik-baik saja?”

 

Akhirnya.

 

“Baik-baik saja? Kemana matamu? Kakiku terkilir! Sepatuku tersangkut! Aku benci padamu.”

 

Dahi taehyung berkerut. Gadis itu terlalu cepat berbicara atau otak taehyung yang terlalu lama memprosesnya dalam sebuah pengertian.

 

“Apa kau hobi menyalahkanku? Aku tidak pernah memintamu terkilir dan aku juga tak meminta higheelsmu itu menyangkutkan dirinya ke lubang kecil di jalan raya.”

 

“Tapi–tapi–”

 

“Cih.”

 

Taehyung mensejajarkan badannya dengan sujeong yang terduduk di atas panasnya jalanan.

 

“Jangan menangis.”

 

Sekuat tenaga sujeong menahan isak tangisnya. Dia bersumpah akan menikam perut taehyung kalau ada waktu senggang,laki-laki itu membuat emosionalitasnya berantakan.

 

“Aku benci padamu kim taehyung.”

 

“Aku suka padamu ryu sujeong.”

 

Dan,tangis sujeong pecah di pinggiran ilalang jalan.

 

“Ku bilang jangan menangis kan?”

 

“Diam kau!”

 

Manik taehyung menatap sujeong tak tega. Ia menarik kedua pinggang gadis itu untuk berdiri. Sekujur lutut sujeong di sirami warna merah.

 

“Maaf,aku tak tahu kakimu terluka.”

 

“Kau kan buta.”

 

Di usapnya air mata sujeong. Taehyung belum pernah selembut ini pada seorang gadis. Sujeong jadi urutan pertama.

 

“Kau bisa jalan?”

 

“Kau fikir?”

 

Sujeong kembali menangis dengan suara yang lebih kuat.

 

Taehyung mengangkatnya.

 

“Aku memang jelek,gendut,bodoh,dan lainnya. Aku minta maaf.”

 

“Seharusnya kau sudah minta maaf dari dulu.”

 

“Tapi aku serius kali ini.”

 

Surai taehyung terkena kibasan angin pagi.

 

“Aku serius tentang kencan ini,aku serius tentang perasaan ini.”

 

“Tae–”

 

“Aku suka padamu sujeong.”

 

Gadis itu diam membisu.

 

Membiarkan tepian jalan menjadi saksi dimana sujeong menangis seharian dengan kaki terkilir penuh luka dan dengan taehyung yang mendekapnya.

 

***

END

 

 

[Ficlet] God always fair,right?

Standard

PicsArt_12-11-12.15.16

[Fictlet]

God always fair,right?

***

Author : misshin017

Cast :

Lee Mijoo (Lovelyz)

Kim Mingyu (Seventeen)

Genre :

Fluff,school-life,bit sad

Rating:

PG-13

Leght :

891 words

Disclamer :

Hello~ Yohoooo~~

Ini post pertama aku di sini,makasih banyak atas puji tuhan*tampar! Keburu beberapa hari terakhir aku kena insomnia dan merasa di hantui oleh belajar,entah bagaimana malah dapat ide untuk buat ff. Yah,cuma ficlet murahan sihXD . Tapi,enggak apa-apa. Untuk castnya,aku pakai mijoo dan mingyu. Biasanya mingyu di pasangin sama sujeong,nah karena suatu hidayah aku akhirnya masangin cowok aduhai ini sama mijoo. Ini enggak ada campur tangan masalah pribadi,tenang aja. Daripada kebanyakan ngomong,lebih baik kita mulai drama puitisnya— syalala…

DON’T COPAS AND BASH! YOUR COMMENT IS A SUPPORT FOR ME^•^

***

‘Tuhan memang selalu adil untuk mijoo.’

***

Koridor sekolah menyapa mijoo menyambut istirahat pertama di pagi senin oktober. Barisan kelas memenuhi jalannya menuju kantin sekolah. Kaki mijoo melangkah ringan melewati lantai marmer itu,kegiatan yang sulit untuk di lewatkan oleh kakak-kakak kelasnya.

Gadis itu tak mau bersikap sombong atau sebagainya,semua orang mengakui satu hal tentang seseorang bernama lee mijoo. Dia populer dengan ukuran siswi kelas dua sekolah menengah. Di sini kita tak perlu berbohong tentang fakta kalau mijoo pakai operasi plastik maupun dia menyogok guru demi sebuah nilai cemerlang. Membuang waktu melakukan hal bodoh seperti itu bukanlah mijoo.

Keriuhan selalu terjadi ketika dirinya menyampaikan kotak porselen terakhir sebelum memasuki daerah tempat penyedia makanan di sekolah. Beberapa teman seangkatan membisikkan kalimat cemooh ke arahnya. Itu sudah basi. Sekali pun mereka menghina mijoo dari belakang,gadis itu juga tak akan peduli.

Memangnya siapa yang mau menghiraukam omongan orang pengiri? Mijoo punya ratusan pengawal yang mau menjaganya kapanpun.

Pemilik kantin tersenyum ramah ke arah mijoo,sungguh hanya mijoo yang tahu arti tersembunyi di balik senyumnya. Berfikiran negatif melebihi batas adalah hal buruk.

“Jus mangga.”

Suara mijoo melayang di udara.

“Tunggu sebentar,mijoo-sshi.”

Anggukan dari mijoo membuat perempuan paruh baya itu segera mengerjakan tugasnya dengan berkutat bersama potongan buah mangga dan sekotak es batu.

Lama menunggu,mijoo membalikkan badannya. Netranya menangkap beberapa pengunjung kantin mengernyit tak senang akan keberadaannya. Haruskah mijoo teriak lalu mengatakan jika ayahnya punya saham tiga puluh tujuh persen di sini? Akalnya mijoo menahan melakukan itu.

Ketimbang berdiri seperti orang jahat yang terus-menerus mendapat tatapan menusuk dari sekumpulan manusia yang menyebut namanya teman,mijoo lebih memilih mencari bangku kosong untuknya bersandar. Setidaknya,berdiam cukup banyak membantu.

“Hei,gyu! Mau coba latihan besok?”

Sepuluh langkah dari mijoo ada segerombolan anak laki-laki. Hidung mijoo terasa sakit mencium aroma tubuh mereka. Anak basket memang seperti ini,kan?

“Nanti aku beri tahu.”

Laki-laki menjulang dengan handuk putih di tangannya melirik mijoo barang sedetik. Matanya bertabrakan dengan retina gadis itu. Seulas senyum di berikan secara cuma-cuma untuk mijoo.

“Ini minumannya mijoo-sshi.”

Jus mangga itu datang membawa secuil rasa bahagia. Tenggorokan mijoo dari tadi selalu berteriak,kata lainnya dia kehausan.

Angin sejuk menerba surai mijoo,membebaskan rambut gadis itu terbawa arusnya. Mijoo tak tahu-menahu lagi berapa banyak orang di sana yang mengucapkan ‘wow’ pada dirinya. Menjadi cantik bukanlah alasan untuk berbangga. Mulut-mulut lain tetap menyindirnya lewat sumpahan kecil.

Manik mijoo tersentak. Laki-laki yang lalu masih memfokuskan dirinya pada mijoo. Ayolah,dia bosan kalau di pandang lama-lama. Kalau mijoo mau mendatangi laki-laki itu dan mengebrak mejanya dia pasti sudah berbuat itu dari tadi. Sayangnya,laki-laki itu kelewat tampan untuk di gebrak mejanya. Lagipula punya pengagum tampan bukan masalah.

Ponsel mijoo memecah keheningan antara dia dan laki-laki asing itu. Di raihnya benda persegi panjang tipis tersebut dengan malas. Pesan dari seorang pengawal ayahnya tentang jadwal bimbingan belajar merupakan sebab mijoo selalu mematikan alat elektronik tersebut. Dia sudah besar demi mendengarkan rentetan aturan kolot ayahnya. Mijoo bukan anak pembangkang tapi anak yang susah di atur.

Lonceng sekolah berbunyi nyaring,memanggil mijoo untuk segera menjauh dari tempat neraka itu. Mijoo menyebutnya neraka karena banyak orang berbuat dosa melalui kata-kata di sana.

Tubuh rampingnya berjalan enggan. Bisa tidak jangan melewati meja yang di pintu masuk itu? Anak laki-laki tadi masih memandangnya. Perasaan canggung mijoo berkumpul di rongga dada. Sebelumnya dia tak pernah sekikuk ini kepada lawan jenis. Atau ini efek hormon?

Mau tak mau mijoo terpaksa menopang badannya melewati meja tersebut dengan hati berat. Kalau saja dia bisa berteleportasi,mungkin semuanya akan lebih mudah.

“Nunna?”

Bariton lembut menusuk ke indera pendengaran mijoo. Anak laki-laki itu berdiri dari duduknya saat mijoo hampir menyelesaikan gerakannya keluar dari kantin.

“Ya?”

“Siapa namamu?”

Ini akan terjadi. Mijoo dapat memperkirakannya dari tadi.

“Lee mijoo. Kenapa?”

“Aku mingyu,kim mingyu.”

Uluran tangan itu membuat tawa mijoo hampir pecah. Semua laki-laki mengawali nya dengan kejadian norak ini.

“Salam kenal mingyu.”

Maka mijoo menyambutnya dengan suka cita. Menolak perkenalan dari laki-laki tampan itu tindakan bodoh. Mijoo tak mau menyia-nyiakannya.

“Nunna kelas 11-a kan?”

“Iya,ada apa?”

Mingyu mengulum senyumnya.

“Aku kelas 10-a,yang waktu itu satu jam olahraga dengan nunna.”

Oh,ternyata begitu. Mijoo merasa dunia memag sangat adil dengannya. Cantik,pintar,anakk orang kaya,dan kini incaran laki-laki. Buang saja orang-orang yang membencinya ke tempat sampah,mijoo tak memerlukan mereka.

“Lalu?”

“Bisa minta nomor nunna?”

“Untuk?”

Gengsi masih tersimpan rapat di hati mijoo. Murahan bukanlah arti dari nama mijoo.

“Bertukar pesan.”

Jawaban yang manis dari seorang adik kelas.

Buru-buru mijoo mengeluarkam ponselnya. Hei,ponsel mijoo tak pernah sepenting ini waktu dulu. Tentu,karena mingyu yang membuatnya jadi penting.

“Ini nomorku.”

“Oke,ku simpan.”

Jam dinding kantin membuat mijoo kembali ke alam bawah sadarnya. Bersama mingyu rupanya berbahaya. Dua puluh menit menjadi secepat ini. Bisakah mijoo mendefinisikan jantungnya? Katakan apa maksud ini.

“Aku masuk kelas dulu.”

Raut kecewa mingyu menghantarkan sensasi menggelitik di perut mijoo. Gurunya akan marah kalau mijoo terlambat masuk kelas. Namun mijoo harus apa? Pesona kim mingyu sedikit gawat.

“Kalau begitu,sampai jumpa.”

Mingyu melambaikan tangannya kepada mijoo yang berjalan menjauh.

“Telfon aku malam ini,nunna!”

Pipi mijoo memerah sekon itu juga.

Namun rasa berdebar itu padam di tengah jalan.

Malam ini jadwal lesnya akan berantakan,seberantakan hati mijoo ketika mendengar kalimat menyakitkan dari mingyu di belakangnya.

Laki-laki memang sama semua,mijoo lupa itu.

“Mijoo nunna sebangku dengan sujeong nunna,kan? Yes!”

Mingyu hanya memanfaatkannya.

Tuhan memang selalu adil untuk mijoo.

***

END

Bagimana? Bagaimana? Untuk pembaca sekalian,terimasih sudah meluangkan waktu demi melihat ff kamseupay ini T,,T Dan,oh ya! Untuk yang mau lihat-lihat ff aku yang alay lainnya mari jelajahi wp pribadiku*eakkk. Promosi sih,enggak apalah sekali-kali.>>http://misshin017.wordpress.com/

Kalau gitu—-Bye,sampai jumpaaa~~~ *kiss*tebar tisu.

INTRO_misshin017

Standard

images (6).jpg

Hallo^^

Di saat-saat uas yang menegangkan,aku malah di terima jadi author di sini. Apalah daya misshin yang hanya anak gadis berumur 14 tahun ini,buat ff yang hasilnya cuma di simpan dalam data laptop.

Makasih banget untuk admin yang udah nerima aku,janji deh bakal ikut mengembangkan blog manis ini. Oh ya,ngomong-ngomong nama originalku adalah Intan Lovianti dan nama palsunya misshin017. Jauh banget.

Aku lahir di dunia tanggal 17 februari 2001. Punya bakat ngegombal dan menghancurkan kamar orang. Well,aku juga punya blog pribadi yang seumur jagung. Kalau ada waktu kosong silahkan mampir.

Ah ya,bias aku di lovelyz adalah babyoul,sujeong,mijoo,jiae,kei,yein, jisoo dan jin*oke itu semunya. Couple kesukaanku banyak,saking banyaknya engga bakalan habis di tulis dalam 10 lembar halaman. Warna kesukaanku merah*enggak penting.

Sekian dari intro pendek dan nyampah ini,salam gula misshin.🌸